10/20/2021

Bimtek manajemen Pemberdayaan Fungsi Masjid

Dalam rangka menyambut pelaksanaan lomba Kebersihan Keindahan dan Kemakmuran Masjid (K3M) ke-12 tingkat Kabupaten Wonosobo, Dewan Masjid Indonesia bersama dengan pemerintah Kabupaten Wonosobo menyelenggarakan kegiatan bimbingan teknis manajemen pemberdayaan fungsi masjid. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 19, 21, 25, 27 Oktober 2021 bertempat di 15 kecamatan se- Kabupaten Wonosobo dengan narasumber para pengurus DMI Kabupaten Wonosobo dan para aktivis masjid. Dari merekalah akan dapat memberikan ilmu pengetahuan, model pengelolaan dan pengembangan fungsi masjid, agar masjid yang menjadi simbol kebanggaan bagi umat Islam, bangunan monumental, pusat peribadatan, pendidikan dan dakwah Islamiyah bisa dilaksanakan secara maksimal.
Bmtek manajemen pemberdayaan Kecamatan Kalikajar
Bimtek pemberdayaan fungsi masjid pada masing-masing kecamatan diikuti 30 peserta yang terdiri dari unsur kecamatan, KUA, enam takmir masjid yang akan menjadi peserta lomba K3M dan 22 takmir masjid se-kecamatan. Kegiatan ini sebagai kesiapan dan pembekalan pada takmir masjid, sehingga dengan pelaksanaan Bimtek ini, pada tahun 2021 itu akan menghasilkan 420 takmir masjid yang sudah terbimtek. Dari itu diharapkan para takmir masjid akan berkreasi dan berinovasinya untuk melakukan kegiatan pemberdayaan fungsi masjid. Disamping itu akan terwujud jaringan shilaturahmi antara takmir masjid dengan Dewan Masjid Indonesia, Pemerintah Daerah.
Bimtek manajemen pemberdayaan fungsi masjid Kecamatan Kertek
Ketua DMI Kabupaten Wonosobo H. Tarjo menyampaikan bahwa fungsi masjid yang yang sangat besar, hendaknya jangan dikerdilkan hanya sebagai tempat shalat saja. Pemberdayaan fungsi masjid akan menjadi lebih besar, karena masjid bisa menjadi media pendidikan, pelayanan, musyawarah, penyampaian informasi, menampung dan memberdayakan dana umat. Karena itu Dewan Masjid Indonesia salah satu organisasi yang berhidmat pada kepentingan umat dengan berbasiskan pada masjid untuk kepengurusan persifat berjenjang. DMI pusat adalah Dewan Masjid Indonesia, ketuanya adalah HM. Jusuf Kalla mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, DMI di provinsi adalah Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia, ketuanya adalah H. Ahmad mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah, DMI kabupaten adalah Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia yang semula ketuanya adalah H. Bedjo Taruno, namun belum habis masa jabatannya beliau wafat, lalu digantikan H. Tarjo.
Bimtek manajemen pemberdayaan fungsi masjid Kecamatan Sapuran
Untuk selanjutnya DMI kecamatan adalah Pimpinan Cabang Dewan Masjid Indonesia Kecamatan, DMI Desa/ Kelurahan adalah Pimpinan Ranting Dewan Masjid Indonesia. Kabupaten wonosobo seluruh kecamatan sudah terbentuk dewan pimpinan cabang. Demikian pula masjid sebagai basis kegiatan DMI juga berjenjang, masjid negara atau nasional adalah masjid Istiqlal, masjid tingkat provinsi adalah Masjid Raya, masjid tingkat kabupaten adalah Masjid Agung, masjid tingkat kecamatan adalah Masjid Besar, masjid tingkat desa/ kelurahan adalah Masjid Jami.
Bimtek manajemen pemberdayaan fungsi masjid Kecamatan Garung
Adapun narasumber Bimtek manajemen takmir masjid adalah H. Tarjo, S. Sos, M. Si, Drs. H. Mahbub, M. Ag, H. Imron Awaludin, S. Ag, Drs. H. Toharotun, H. Fakih Khusni, S. Ag, MM, M. Si, H. Syarif Hidayat, S. Ag, H. Ahmad Fuadi, S. Ag, M. Pd. I, Untaji Affan, S. Ag, Hj. Munjiyatun, S. Ag, Drs. H. Ahmad Zuhdi, M. Ag, Dra. Amiroh Zaetun, Drs. H. Ambyah, Irna Fitroyah, S. Ag , H. Fakih Al Azis, S. Ag, H. Wajihudin, Alh, S. Ag, M. Pd. I, Hj. Istiqomah, S. Ag, Mustofa Al Kifli, SHI, Achmad Fauzi, S. Pd. I, M. Ag, Adim Safiin, M. Ag.
Bimtek manajemen pemberdayaan fungsi masjid Kecamatan Kalibawang

10/12/2021

Keajaiban dan Dahsyatnya Shalat Berjamaah-Pahala Berlipat-lipat

Ibadah shalat adalah merupakan rukun Islam yang kedua, shalat menjadi ukuran keislaman seseorang, shalat akan menentukan baik dan buruknya perilaku setiap muslim, shalat merupakan wujud hablum minallah, hubungan langsung kepada Allah. Shalat adalah ibadah yang pertama kali akan ditanyakan besok di yaumil qiyamah. Karena begitu pentingnya shalat, maka kita diwajibkan untuk selalu menegakkan shalat lima waktu, ditambah dengan melaksanakan ibadah shalat sunah. Ibadah shalat akan mempunyai nilai tambah bila dilakukan secara berjamaah yaitu berada di tempat ibadah di dalam hadis Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah menyampaikan tentang keutamaan dan pentingnya menegakkan shalat berjamaah. Keutamaan melaksanakan shalat disampaikan dalam beberapa hadis, ada 21 hadis yang menyampaikan tentang keutamaan shalat berjamaah, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

 

 صَلَاةُ الْجَمِيعِ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَصَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وَأَتَى الْمَسْجِدَ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْهُ خَطِيئَةً حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ وَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَتْ تَحْبِسُهُ وَتُصَلِّي يَعْنِي عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ 

 

"Shalat berjamaah lebih utama dari shalatnya sendirian di rumah atau di pasarnya sebanyak dua puluh lima derajat. Jika salah seorang dari kalian berwudhu lalu membaguskan wudhunya kemudian mendatangi masjid dengan tidak ada tujuan lain kecuali shalat, maka tidak ada langkah yang dilakukannya kecuali Allah akan mengangkatnya dengan langkah itu setinggi satu derajat, dan mengahapus darinya satu kesalahan hingga dia memasuki masjid. Dan jika dia telah memasuki masjid, maka dia akan dihitung dalam keadaan shalat selagi dia meniatkannya, dan para malaikat akan mendoakannya selama dia masih berada di tempat yang ia gunakan untuk shalat, 'Ya Allah ampunkanlah dia. Ya Allah rahmatilah dia'. Selama dia belum berhadats." (HR. Buchari, 457) 

 

 Dari hadis tersebut dapat diambil pelajaran: 

 

1. Shalat berjamaah itu lebih utama dilaksanakan daripada ada di shalat secara sendirian, baik itu berada di rumah atau di pasar. Karena itu ibadah shalat yang dilakukan secara berjamaah, maka Allah akan melipatgandakan pahalanya menjadi 25 derajat. Untuk kelipatan pahala orang yang melaksanakan shalat dalam beberapa hadits juga menyebutkan ada yang dilipatgandakan menjadi 20 derajat , 27 derajat:

 

 صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ وَحْدَهُ سَبْعًا وَعِشْرِينَ 

 

"Shalatnya seseorang dengan berjamaah melebihi shalatnya yang dikerjakan secara sendiri sebanyak dua puluh tujuh derajat.

 

" قَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ و قَالَ أَبُو بَكْرٍ فِي رِوَايَتِهِ سَبْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً 

 

“Ibnu Numair berkata dari ayahnya dengan redaksi "Sebanyak dua puluh tujuh derajat." Abu Bakr berkata dalam priwayatannya, "Kurang lebih dua puluh derajat." (HR. Muslim: 1039) 

 

 Karena itu yang utama, bahwa ketika seseorang melaksanakan shalat berjamaah maka Allah akan melipatgandakan pahalanya. Dan menjadi kewenangan Allah untuk melipatgandakan pahala bagi hambanya. Yang artinya bahwa nilai kelipatan pahala bagi setiap muslim berbeda-beda. 

 

2. Jika seseorang melaksanakan wudhu, kemudian membaguskannya wudhunya. Membaguskan disini bermakna menyempurnakan wudhunya, dimulai dengan cara memilih air, yang suci dan mensucikan, serta dihindari dari air yang musta'mal. Kemudian kaifiyah dilakukan secara berurutan, demikian pula dengan melaksanakan sunnah wudhu. Bila demikian, berarti orang tersebut telah menyempurnakan wudhunya. 

 

3. Setelah menyempurnakan wudhu, kemudian mendatangi masjid dengan tujuan untuk melaksanakan shalat, maka niat berwudhu untuk mendatangi masjid, maka setiap langkahnya Allah akan mengangkat derajatnya dan satu langkah yang lain akan menghapuskan dosa dan kesalahan yang telah dilakukannya. 

 

4. Dengan terhapusnya dosa dan kesalahannya, akan semakin banyak pahala untuk menjadi wasilah ketika seseorang bermunajat kepada Allah, sebagaimana kisah tiga orang pemuda yang terjebak di dalam gua, tertutup batu yang sangat besar dengan kekuatan fisik, mereka tidak akan kuat untuk mendorongnya, namun dengan wasilah amal ibadah yang dilakukan dia bisa keluar dari dalam gua. 

 

5. Dengan terhapusnya dosa dan kesalahannya, maka akan ditempatkan pada tempat yang mulia yaitu surga. 

 

6. Ketika memasuki masjid dan mempunyai niat yang murni karena Allah untuk melaksanakan shalat, maka walaupun itu dalam kondisi duduk akan dicatat oleh Allah seperti orang yang sedang melaksanakan shalat. 

 

7. Orang yang melaksanakan shalat berjaaah di masjid, mereka akan didoakan oleh para malaikat. Malaikat akan memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosanya dan memberi Rahmat kepadanya selagi dia belum berhadas. Karena itu ketika berada di masjid hendaknya dalam kondisi suci tidak terkena hadas. 

 

Rasulullah begitu cinta kepada umatnya, sehingga memberikan harapan agar lebih giat di dalam melaksanakan perintah-Nya. Termasuk dengan bersemangat untuk melaksanakan ibadah sunnah sebagai sarana untuk menggapai rahmat dan maghfirah dari Allah.

9/23/2021

Syarat-Syarat Terkabulnya Do’a, Perkuat Amal Ibadah– Khutbah Jum’at Bahasa Indonesia

Masa tenang dalam kondisi pandemi Covid-19, adalah masa yang dinanti-nantikan. Namun bila telah sampai hendaknya selalu hati-hati dan waspada. Musibah dan bencana datang secara tiba-tiba, mausia tidak berkehendak namun kadang terjadi. Karena itu tolaklah dengan doa dan dengan meningkatkan amal ibadah semata-mata karena Allah.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَخْلاَقَ مِنَ الدِّيْنِ، وأَعْلَى بِهَا شَأْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن وَقالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah. 

 

Pertama dan yang paling utama khatib berwasiat khususnya pada diri sendiri dan umumnya pada jamaah sekalian, marilah bersama-sama kita meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan sekaligus kita berupaya untuk menjauhi segala yang dilarang Allah. Mudah-mudahan kita sekalian senantiasa diberikan taufik, hidayah, inayah untuk bisa mengikuti jejak, langkah dan keteladanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya sehingga kita menjadi orang yang beruntung sejak hidup di dunia sampai besok di yaumil qiyamah, amin. 

 

Kaum muslimin jamaah shalat Jum’at Rahimakumullah. 

 

Sudah dua tahun lebih kita sekalian bangsa Indonesia dan khususnya umat Islam hidup dalam suasana pandemi Covid-19, suatu wabah penyakit yang mengglobal hingga seluruh dunia, tidak ada dunia yang bebas dari pandemi Covid-19. Karena walaupun masih dalam Suasana PPKM namun sudah mendapatkan kelonggaran dalam beraktivitas dan beribadah. Bahkan para pelajar dan mahasiswa sudah dapat melakukan pembelajaran melalui tatap muka. 

 

Selama dua tahun lebih anak anak-anak atau adik-adik kita yang sedang mengenyam pendidikan di tingkat PAUD, sekolah dasar, menengah, sekolah atas hingga perguruan tinggi proses belajar mengajar diselenggarakan dengan daring atau secara online. Proses pendidikan dan pengajaran ini banyak sekali mengalami kekurangan, kendala baik teknis pada jaringan atau karena belum terbiasa. 

 

Karena itu transfer ilmu pengetahuan dari para pendidik kepada para pelajar banyak sedikitnya mengalami penurunan. Kini sejak tanggal 8 September 2021 telah dilakukan pembelajaran secara tatap muka walaupun belum secara penuh, karena harus tetap menerapkan protokol kesehatan. Walaupun belum penuh tentunya sudah bisa mengobati kerinduan, memberikan harapan dan rasa bangga para siswa dapat menerima materi secara langsung demikian pula dapat berinteraksi dengan teman-temannya. 

 

Walaupun penyebaran Covid-19 sudah mengalami penurunan, hendaknya kita tetap hati-hati dan waspada, jangan sampai lengah, kejadian pada bulan Juli tahun 2021 hendaknya dijadikan pembelajaran. Dimana pada saat itu banyak orang yang terpapar hingga bangsal rumah sakit penuh, demikian juga tempat karantina. Sehingga orang yang terpapar kemudian melakukan Isoman dan akhirnya bisa sembuh. Namun pada bulan Juli kemarin juga banyak orang yang tidak bisa tertolong. Bila di antara kita ada sudah terpapar dan sekarang sudah sehat hendaknya tetap waspada dan selalu meningkatkan rasa syukur kepada Allah. Dan bagi jamaah yang selamat dari Pandemi Covid- 19 hendaknya lebih meningkatkan rasa syukurnya. Karena sungguh menderitanya orang yang terpapar, rasa sakit dari beberapa organ tubuh, dan terpapar Covid-19 menjadi orang yang terasing dan diasingkan oleh masyarakat. 

 

Karena itu pulau Jawa dan Bali yang semula berada pada level 3 atau 4 sekarang dalam kondisi membaik berada pada level 2 atau 3. Ingatlah bahwa manusia ingin sehat, selamat dan sejahtera. Manusia ingin terhindar dari balak, musibah dan bencana. Namun semuanya ini hanyalah upaya dan harapan manusia, ketentuan akhir ada di tangan Allah. Oleh karena itu agar harapan-harapan yang kita memohonkan kepada Allah bisa dikabulkan hendaknya kita sekalian senantiasa memanjatkan doa kepada-Nya, sebagaimana firman Allah:

 

 وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ 

 

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al Baqarah: 186) 

 

Dalam ayat terbut Allah SWT memberikan khabar, bahwa bila mempunyai keinginan dan harapan, mintalah kepada Allah, maka Allah akan mengabulkan. Tetapi jangan sampai lengah bahwa Allah memberikan syariat pada manusia untuk dijadikan pedoman hidup. Karena itu laksanakan syari’at, adanya perintah agar dilaksanakan dan larangan ditinggalkan. Dengan demikian Allah akan mudah mengabulkan doa hamba-Nya. Rasulullah SAW menyampaikan bahwa ada tiga golongan yang doanya akan dikabulkan:

 

 ثَلاَثَـةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: اَلإِمَامُ الْعَاِدلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ (رواه مسلم) 

 

“Tiga macam orang doanya tidak ditolak, yaitu Imam yang adil, orang yang sedang berpuasa hingga ia berbuka dan doa seorang yang teraniaya. (Riwayat Muslim).

 

 لاَ يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَالَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ مَالَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا اْلاِسْتِعْجَالُ؟ قَالَ: يَقُوْلُ قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يُسْتَجَابُ لِي فَيَحْسِرُ عِنْدَ ذٰلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ (رواه أحمد والترمذي والنسائي وابن ماجه) 

 

“Senantiasa diterima permohonan setiap hamba, selama ia tidak mendoakan hal-hal yang menimbulkan dosa atau memutuskan hubungan silaturrahim (dan) selama tidak meminta agar segera dikabulkan. Rasulullah ditanya, Apakah maksud segera dikabulkan ya Rasulullah? Beliau menjawab, Maksudnya ialah seorang hamba yang berkata, Saya sesungguhnya telah berdoa, tetapi saya lihat belum diperkenankan, karena itu ia merasa kecewa lalu tidak berdoa lagi . (Riwayat Aḥmad, at-Tirmiżī, an-Nasā′ī dan Ibnu Mājah). 

 

Apabila ternyata doanya belum dikabulkan, hendaknya jangan putus asa, dalam Tafsir Alquranul Karim menyebutkan mengapa doa belum dikabulkan, hal ini karena: 

 

  1. Syarat-syarat berdoa belum dipenuhi.
  2. Terkabulnya doa kadang tidak sama dengan yang diminta, karena kadang akan digantikan atau dialihkan dengan yang lain, akan ditunda hingga waktu yang lama bahkan bisa saja akan dikabiulkan kelak di hari qiyamat. 
  3. Tidak khusuk atau tidak bersungguh-sungguh dalam berdoa. Allah berkuasa karena telah menciptakan, dan akan terus mengatur, menjaga dan melindungi alam semesta seisinya. Karena itu jagalah keseimbangan kebutuhan jasmani dan rohani, agar kita selamat selama hidup di dunia hingga besok di hari qiyamat, amin. 
 
  1.  أَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ , اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ ١ وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ ٢ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا ࣖ ٣وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Tansah Ngati-ati lan Waspada, Usaha, Ikhtiar lan Dunga – Khutbah Jum’at Bahasa Jawa

Alhamdulilah pagebluk Covid-19 melai kirang, hingga pemerintah sampun marengaken kelonggaran kangge ngibadah lan makarya. Masjid, pasar, sekolah dipun bikak, nanging kita ketah tansah ngantos-atos lan waspada, mila kedah tansah usaha lan ikhtiyar, ampun pedhot anggenipun manuwun dhateng Allah SWT.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَخْلاَقَ مِنَ الدِّيْنِ، وأَعْلَى بِهَا شَأْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن وَقالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ 

 

Para jemaah shalat Jum’at ingkang kawula hormati. 

 

Pertama lan ingkang paling utami, kawula tansah wasiat khususipun dhateng pribadi kawula piyambak, sumrambah dhumateng panjenengan sedaya, mangga kita tingkataken iman dan taqwa dhumateng Allah SWT, inggih punika kanthi nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan nilar sedaya awisanipun. Mugi-mugi kita sedaya tansah dipun paringi kesarasan, kawilujengan lan kabekjan wiwit dunya dumugi benjang ing dinten qiamat, amin. 

 

Kaum Muslimin jemaah salat Jum’at Rahimakumullah. 

 

Wekdal punika, sak dangunipun kawontenan pagebluk Covid-19, sak punika wonten kabar ingkang ngremenaken khususipun dhateng para pelajar, mahasiswa, wali murid lan para dewan guru, amargi melai tanggal 8 September 2021 pemerintah sampun maringi kelonggaran dhateng kita, khususipun wonten ing lembaga pendidikan ngawontenaken sinau kanthi pepanggihan. Artosipun para pelajar lan mahasiswa saget mlebet ing sekolah utawi kampus. Sampun kalih tahun langkung sami sinau wonten ing dalem kanthi online. Mila ing wekdal punika para pelajar saget pinanggih kalian guru lan rencang-rencangipun. 

 

Kawontenen punika amargi ing dunya punika saweg ketaman pagebluk Covid-19, mila kanthi usaha lan ikhtiar, sekedhik-mawi sekedhik badhe mlebet ing kawontenan ingkang normal malih. Mila kita kedah tansah ningkataen raos syukur lan ampun kendat anggenipun nyuwun dhateng Allah supados gesang kita dipun tebihaken saking bendhu, balak , musibah lan bencana. 

 

Sinaosa kados mekaten tentu kita kedah tansah ngatos-atos lan paspada, ampun banget anggenipun ajrih lan kuwatos nanging ugi ampun sembrana lan kumalungkung. Margi sajatosipun manungsa punika makhluk ingkang boten angghadahi daya kejawi peparingipun Gusti Allah. Mila namung dhateng Gusti Allah kita manembah lan nyuwun pitulungan. Gusti Allah badhe paring pitilungan dhateng tiyang ingkang nyuwun, mila kanthi nindakaken ibadah Allah badhe paring pitulungan dhateng kita sedaya. Allah SWT sampun ngendika:

 

 وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ 

 

“Lan nalikane, kawula Ingsun takon marang sira (Muhammad) perkara Aku, satuhune Aku perek, Aku bakal ngabulake panyuwune wong kang nyuwun marang Ingsun, mula dheweke netepi (dhawuh) lan iman marang Ingsun, supaya dheweke tansah manggon ing kabeneran”. (QS. Al Baqarah: 186). 

 

Kaum Muslimin jemaah salat Jum’at Rahimakumullah. 

 

Ing ayat punika Gusti Allah sampun mretelakaken bilih do’a lan panyuwun badhe dipun kabulaken kanthi lantaran inggih punika tansah nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan nilar awisanipun Allah. Mekaten punika supados tansah pinaringan pitedah saking Ngarsa Dalem Allah SWT. Rasulullah SAW sampun ngendika:

 

 ثَلَا ثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: اَلْأِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ (رواه مسلم) 

 

“Telung golongan kang dongane ora ditolak, yaiku pemimpin kang adil, wong kang lagi puasa nganti buka lan dongane wong kang dianiaya. (HR. Muslim)

 

 لَايَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَالَمْ يَدْعُ بِاِثْمٍ أَوْقَطِيْعَةِ رَحِمٍ مَالَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا الْاِسْتِعْجَالُ؟ قَالَ يَقُوْمُ قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ اَرَ يُسْتَجَابُ لِي فَيَحْسِرُ عِنْدَ ذَالِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ (رواه أحمد والترمذي والنسائي وابن ماجه) 

 

“Bakal ditampa panyuwun saben kawula, selagi ora dongakake perkara kang dadekake dosa utawa medhot paseduluran (lan) selagi ora jaluk enggal-eggal dikabulake. (Sahabat) matur dhateng Rasulullah, “Punapa ingkang dipun wastani enggal-enggal dipun kabulaken duh rasul? Rasul ngendika, maksude kawula kang ngucap, satuhune aku wis dunga, nanging kok durung dikabulake, nuli kuciwa lan ora ndunga maneh”. (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Annasa’i, Ibnu Majah). 

 

Gusti Allah Maha Welas lan Asih, nanging Gusti Allah ugi paring dhawuh dhateng manungsa. Mila Welas Asihipun Gusti Allah kedah dipun kanteni kalian ibadah, nganthi ngibadah wonten ingkang dipun sembah lan wonten ingkang nyembah. Ingkang dipun sembah inggih punika ingkang dadosaken alam semesta, lan ingkang nyembah ingkang dipun ciptakaken. Mila nalika dedunga dhateng Allah kedah rumaos ashor, Allah ngendika wonten surat Al Mukmin ayat 60:

 

 وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ 

 

“Lan Gusti Allah ngendika: dongaha marang Ingsun, yekti bakal Ingsun kabulake kanggo sira (apa penjangkanira). Satuhune wong-wong kang gimedhe ora gelem ngibadah marang Ingsun bakal mlebu (neraka) Jahannam kelawan ina".

 

Kaum Muslimin jemaah salat Jum’at Rahimakumullah. 

 

Kanthi kawontenan ingkang tambah sekeca ampun ngantos lajeng, pandemi Covid-19 melai kirang nanging kedah ngantos-atos lan waspada, kita pingin sehat lan slamet, mila kita kedah tansah usaha lan ikhtiar. Mila kita tansah eling tiniling lan wasiat-winasiyatan ing dalem nindakaken dhawuh lan nilar awisanipun Allah.

 

 أَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ , اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ ١ وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ ٢ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا ࣖ ٣وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

9/14/2021

Dampak dan Keprihatinan Terpapar Pandemi Covid-19- Takut, Terasing

Ketika ada orang yang terpapar Covid- 19, bisa jadi orang lain mengetahui, namun bisa jadi orang lain tidak mengetahui, baik sebagai penderita tanpa gejala atau dengan gejala. Jika orang terpapar Covid-19 dengan gejala, dia menutupi bahwa dirinya itu terkena Covid-19. Sehingga ketika dirinya sudah mengetahui positif terkena Covid-19 tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Namun ada juga yang secara terus terang, bahwa setelah mengetahui hasil cek laboratorium dirinya positif terkena Covid-19 kemudian menyampaikan informasi kepada grup WA meminta dukungan moril kepada anggota WA agar dirinya diberikan kekuatan, keselamatan, kesehatan dan segera disingkirkan dari pandemi Covid- 19.

Ketika dia menyampaikan informasi, kemudian muncul dukungan moril dari para anggota. Semoga dia segera diberikan keselamatan, kesehatan dan disingkirkan dari pandemi. Dukungan atau doa diawali dengan semoga, semoga, semoga dan semoga. Ini adalah sikap yang di sampaikan oleh anggota grup, karena ketika orang yang sudah terpapar Covid- 19, maka orang lain tidak mau mendekat, karena takut tertular. Karena itu sangat memprihatinkan sekali bagi orang yang terpapar Covid-19, merasa sebagai orang yang terasing, bahkan bukan hanya teman, bukan hanya saudara, tetapi keluarga sendiripun juga menjaga jarak, berhati-hati agar tidak tertular Covid-19. 

 

Dengan kejadian tersebut, ternyata sikap masing-masing anggota masyarakat berbeda, ada yang menyikapi dengan penuh kehati-hatian, sehingga kemanapun selalu memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas. Namun tak sedikit bahwa anggota masyarakat yang bersikap seperti tidak ada pandemi, tidak memakai masker, tidak menjaga jarak, tidak menjauhi kerumunan dan bebas bepergian, tetap terbiasa melakukan aktivitas tanpa menghiraukan himbauan dari pemerintahan untuk melakukan langkah-langkah pencegahan Covid-19. 

 

Akibat virus corona yang membjuat hidup manusia menjadi resah, sehingga ketika terpapar Covid- 19 pada umumnya mentalitas menjadi menurun, karena ada ketakutan dan keakhawatiran yang berdampak pada menurunnya imunitas sehingga menimbulkan efek munculnya penyakit lain yang akan menambah parah terhadap serangan Covid- 19. Berdasar protocol kesehatan, bahwa virus corona akan semakin berbahaya bila mempunyai penyakit bawaan. Walaupun tidak terlalu menghawatirkan namun kemudian memicu munculnya penyakit baru yang hinggap pada seseorang yang berakibat suatu penyakit tidak kunjung sembuh. 

 

Sebab-sebab mentalitas menurun. 

 

Suatu penyakit disamping sumbernya dari makanan, juga karena pemikiran dan hati yang tidak bisa tenang. Adanya rasa khawatir, ketakutan dan lainnya, karena itu ada beberapa hal yang menyebabkan, mengapa orang yang terpapar virus corona mentalitasnya menjadi menurun: 

 

  1. Banyak orang yang terpapar Covid- 19 itu berakhir dengan kematian. Karena itu ketika dirinya sedang terpapar Covid-19, yang ada dalam fikiran adalah bayang-bayang kematian, hatinya menjadi gundah, tidak tenang, gelisah. Dengan demikian pemikiran dan hati yang tidak tenang akan memperparah kondisi psikis orang, mentalitasnya semakin menurun. Sehingga alih-alih akan segera sehat kembali, justru imunitas tubuh semakin menurun dan berderet-deret penyakit akan menghinggapinya. 
  2. Mendengar informasi di pengeras suara atau di media sosial melalui WA, ada orang yang meninggal yang menurut informasi adalah terkena Covid-19. Demikian pula di grup WA ada informasi bahwa si A, B atau C meninggal dunia karena terpapar Covid- 19, karena itu informasi-informasi yang demikian ini semakin memperparah konsisi sakitnya ketika sedang terpapar Covid-19. 
  3. Seringnya lalu-lalang mobil ambulans dengan suara sirine yang mengaung-ngaung sehingga menakutkan, karena yang terbayang pada dirinya bahwa mobil ambulan membawa orang sakit atau orang yang sudah meninggal. Hal demikian akan menjadi pukulan bagi orang yang sedang mengalami serangan atau terpapar virus corona. 
  4. Merasa menjadi orang yang sendirian, karena ketika sakit orang yang sehat akan menjaga jarak. Hal ini berlawanan dengan sunnah rasul dan kebiasaan, bahwa bila mendengar atau melihat orang yang sakit agar menengoknya. Bila ada orang yang meninggal agar bertakziyah. Prokes mengarahkan agar orang yang sakit untuk dijauhi, bila ada orang meninggal tidak perlu bertakziyah. 

 

Solusi ketika terpapar 

 

Setiap kesulitan pasti ada kemudahan, semua penyakit ada obatnya. Takut yang berlebihan akan memperparah kondisi demikian pula khawatir yang berlebihan. Namun juga agar tidak sembarangan, dengan menuruti hawa nafsu. Banyak orang yang mengatakan, jangan takut pada virus, takutlah kepada Allah, hidup dan mati Allah yang memutuskan. Kadang tanpa disadari bahwa pernyataan demikian ini akan menimbulkan konflik dan disharmoni dalam kehidupan manusia. Telah banyak orang yang terpapar, ada yang sembuh, ada yang terus sakit dan akhirnya meninggal, ada yang dirawat di rumah sakit atau melakukan Isoman. 

 

 Orang yang terpapar dan sehat kembali menyampaikan testimoninya tentang sakit dan menderitanya, sehingga berpesan agar kita semua untuk berhati-hati dan menjaga diri untuk mewujudkan rasa cinta dan sayangnya kepada keluarga, sahabat dan orang lain. Karena itu untuk menguatkan mental spiritual untuk meneguhkan diri dengan: 

 

  1. Selalu meningkatkan amal ibadah kepada Allah sebagai indikator peningkatan iman dan takwa kepada Allah. Iman perlu bukti yaitu dengan amal ibadah, sehingga dengan peningkatan amal ibadah itulah seorang hamba bisa mengabadikan diri mencurahkan perhatiannya untuk melaksanakan perintah-perintahnya Allah. Amal ibadah itu bisa menjadi wasilah ketika bermunajat kepada Allah. Sebagaimana kisah seorang tiga orang pemuda yang terjebak di dalam gua, pintu gua tertutup oleh batu yang besar sehingga tidak ada daya kekuatan untuk bisa menyingkirkan batu tersebut. Tiga pemuda itu masing-masing menyebutkan amal ibadah yang pernah dilakukan, dari itulah kemudian batu tersebut bergeser, sehingga tiga pemuda itu bisa keluar dari dalam gua. 
  2. Meningkatkan atau memperbanyak dzikir kepada Allah, (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. (QS, 13, Arra’du: 28). Munculnya suatu penyakit, apalagi dengan pandemi Covid-19 agar bila selalu ingat kepada Allah maka Allah pun akan memberikan ketenangan hati. Dengan hati yang tenang insya- Allah bisa melawan pandemi Covid-19 agar kehidupan bisa menjadi normal kembali. 
  3. Memperbanyak atau merutinkan untuk membaca Alquran, “Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.(QS, 17: Al Isra’: 18) 
  4. Berpikir positif, bahwa setiap orang hidup pasti mempunyai atau diberi ujian dan Allah memberikan ujian kepada hamba-Nya sesuai dengan kesanggupannya. 
  5. Hindarilah berita-berita yang dapat meresahkan. 

 

Tiap orang hidup diberikan kemulian dan kesengsaraan, kebahagiaan dan kesusahan, sehat dan sakit, dua sifat dan keadaan yang selalu melekat pada manusia. Allah memberikan kebebasan pada manusia untuk menjadi yang terbaik dengan selalu berusaha, ihtiar dan tawakal.

9/06/2021

Etika Ber-Medsos pada Grup WhatsApp – Sopan dan Berempati

WhatsApp adalah salah satu media komunikasi yang paling efektif dan sampai hari ini banyak orang yang memanfaatkannya sebagai sarana berkomunikasi, berkoordinasi, menjalin silaturahmi dan ada pula yang menggunakan sebagai media untuk berbisnis yaitu untuk mendapatkan penghasilan. Karena itu di dalam WhatsApp di samping secara personil ada WhatsApp group di mana keanggotaannya terdapat kelompok-kelompok tertentu, seperti grup bani, kantor, usaha atau bisnis, alumni, hoby dan kelompok-kelompok lainnya.

Anggota grup mempunyai kebiasaan dan sikap yang berbeda-beda, ada anggota yang aktif memberikan pesan, informasi dan lainnya. Ada yang sekadar memberikan jawaban, ada yang hanya sekali-kali saja kalau dipandang perlu atau ada yang sama sekali tidak pernah memberikan komen. Dia dimasukkan dalam anggota grup karena permintaan atau karena oleh admin dipandang mempunyai pemikiran, perasaan, latar belakang dan kepentingan yang sama. 

 

Dalam grup WA masing-masing orang mempunyai latar belakang, pemahaman dan pengetahuan serta kebiasaan berbeda-beda, sehingga kadangkala dalam melakukan komunikasi atau memberikan informasi, kadang kurang memperhatikan terhadap kepentingan orang lain. Yang penting Informasinya disampaikan, tidak menghiraukan Informasi yang disampaikan oleh teman-teman di dalam grup itu. Tak jarang kadang ditemukan informasi yang disampaikan tidak nyambung, tumpang tindih. Karena di dalam grup WA ini ada etika bagaimana agar masing-masing anggota grup bisa menghargai terhadap anggota grup. 

 

  1. Menggunakan bahasa yang santun, sopan, tidak menyakiti terhadap anggota kelompok yang lainnya. Bagaimanakah standar bahwa apa yang disampaikan itu tidak menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain? Hal ini perlunya empati, jadi bagaimanakah seandainya dirinya di beri ucapan atau kata-kata yang demikian itu. Kira-kira dirinya merasa tersinggung atau tersakiti atau tidak? Jadi sebelum membuat statement atau mengirimkan pesan moral di dalam grup WA perlu memperhatikan orang lain. 
  2. Dalam grup WA biasanya terdapat anggota yang menyampaikan informasi penting yang berkaitan dengan masalah kesehatan, sakit atau berita lelayu. Karena itu ketika ada anggota grup yang menyampaikan berita tentang orang yang sakit, misalnya minta doa agar yang sakit segera sembuh, dirinya atau keluarganya segera diberikan kesehatan disingkirkan dari penyakit. Bila masih ada anggota grup yang memberikan komentar tentang berita yang disampaikan, masih ada ucapan, support, dorongan moril mudah-mudahan segera diberikan kesehatan. Atau tentang berita lelayu, mudah-mudahan diampuni dosa dan kesalahannya oleh Allah, diterima amal ibadahnya . Ketika masih ada anggota grup yang memberikan informasi seperti itu, maka grup yang lain hendaknya tahan dulu untuk menyampaikan informasi yang lainnya. Misalnya ada berita lelayu atau duka. Anggota grup yang lain justru menyampaikan informasi bahwa anaknya diterima sebagai pegawai misalnya, kemudian menshare foto-foto tentang acara wisuda atau acara serah terima jabatan atau menyampaikan informasi bahwa dirinya telah memperoleh penghargaan. 
  3. Tidak men-share tentang kejadian-kejadian yang mengandung kekerasan penganiayaan, karena kejadian yang singkat kadang akan menimbulkan kebencian, menyalahkan salah satu pihak. Padahal tidak mengetahuai latar belakang yang sesungguhnya.
  4. Jangan terburu-buru men-share gambar berita, informasi yang diterima sebelum dicek kebenarannya. Segala informasi yang diterima hendaknya disaring dulu, diteliti mana yang layak untuk diteruskan atau mana yang untuk pengetahuan bagi dirinyanya. 

 

Begitulah beberapa etika atau cara kita menggunakan media sosial terutama WhatsApp, agar media komunikasi tersebut bisa memberikan manfaat bagi dirinya, orang lain dan juga bisa mendatangkan kedamaian dan ketenangan bagi semua orang. Media sosial itu ibarat pisau belati yang mempunyai dua sisi, dari sisi manapun bisa digunakan, karena itu media sosial khususnya WhatsApp, bagaimana bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk melakukan perbuatan yang mendatangkan kebaikan.

9/01/2021

Njagi, Ngrimat lan Ngiyataken Hidayah Iman - Khutbah Bahasa Jawa

Iman punika hidayah saking Ngarsa Dalem Allah, hidayah iman lan Islam kedah dipun syukuri kanthi nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah. Bukti saking iman inggih punika kanthi tumindak amal shalih, kanthi punika tiyang Islam kedah dhemen nindakaken amal shalih. 

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَخْلاَقَ مِنَ الدِّيْنِ، وأَعْلَى بِهَا شَأْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن وَقالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِيْنَ. اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ 

 

Para jemaah shalat Jum’at ingkang kawula hormati. 

 

Pertama lan ingkang paling utami, kawula tansah wasiat khususipun dhateng pribadi kawula piyambak, sumrambah dhumateng panjenengan sedaya, mangga kita tingkataken iman dan taqwa dhumateng Allah SWT, inggih punika kanthi nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan nilar sedaya awisanipun. Mugi-mugi kanthi istiqomah, ikhlas lan sabar anggenipun nindakaken dhawuhipun Gusti Allah. Ing salebetipun gesang kita tansah pinaringan kabegjan wiwit dunya dumugi benjang wonten ing alam akhirat, amin. 

 

Para sedherek ingkang kawula hormati. 

 

Allah subhanahu wa ta'ala sampun paring pengendikan wonten ing salebeting Alquran:

 

 وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ 

 

“ Sapa wong manut agama sak liyane Islam, mula babar pisan ora bakal tinarima (agama iku) saka dheweke, lan dheweke ing akhirat kalebu golongane wong- wong kang padha rugi”. (QS. Ali Imran: 85) 

 

Ayat punika nedahaken bilih kanthi ngugemi syariat agami Islam, mila sedaya amal saenipun badhe dipun tampi dening Allah. Kosok wangsulipun sinaosa tiyang punika nindakaken amal kesaenan, ananging boten iman dhumateng Allah lan utusanipun, mila amal ibadahipun boten badhe dipun tampi dening Allah. Mila iman ingkang sampun tinancep wonten ing sak lebetipun manah kedah tansah dipun kiyataken. Amargi iman punika badhe goyah kanthi mapinten-pinten pangridu, saget kanthi bandha dunya, pangkat lan jabatan, pakaryan lan gesang bebrayan. 

 

Mila supados hidayah iman lan Islam punika tansah tinancep ing kalbu lan ngrembaka ing amal kesahenan, wonten mapinten-pinten cara: 

 

1. Kita kedah tansah ngudi kaweruh, kanthi nindakaken pengaosan, maos buku-buku lan kitab. Mila kanthi tansah ngudi ilmu punika badhe dados tiyang ingkang wicaksana, boten gampil anggenipun nyacat, nyalahaken tiyang sanes, duka, sungkawa. Tiyang ingkang dhemen ngudi ilmu ing dalem akhlaq lan solah bawanipun badhe andhap ashor, tiyang Jawi mastani kados pantun ingkang sampun mratak. Pantun ingkang sak waunipun dangak, tambah dangu dados tumungkul amargi pantunipun aos. Nanging menawi pantunipun gabuk utawi boten wonten isinipun inggih tansah dangak. Mila Rasulullah Muhammad SAW tansah paring gati dhumateng tiyang Islam supados tansah ngudi kaweruh melai lahir dumugi seda, ninaosa tebih kedah dipun padosi. 

 

2. Tansah nindakaken amal shaleh, mergi iman punika kedah dipun kanteni kalian amal shalih. Amal shalih punika kangge mujudaken raos syukur dhumateng Allah. Amal shalih punika mujudaken saenipun hablun minannas. Kanthi hablun minannas punika mental lan spiritual tiyang Islam badhe dipun uji. Amargi tumindak sae asring boten dipun sunggati kanthi sae, punapa malih tumindak awon. Damel kesahenan boten masthi dipun wales kanthi kesaenan. Mekaten punika amargi Gusti Allah dadosaken manungsa angghadhahi watek lan akhlaq ingkang mawarni-warni. 

 

3. Dipun rutinaken maos Alquran, mergi Alquran sinaosa namung dipun waos, badhe nuwuhaken raos ayem lan tentrem:

 

 وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا 

 

“Lan Ingsun (Allah) turunake saka Alquran sawiji-wiji kang hiya iku tamba (lara sasar) lan hiya rupa rahmat tumrap wong-wong kang padha iman lan Alquran iku ora isa nambahi marang wong-wong dzalim kajaba mung karugen”. (QS. Al Isra’: 82) 

 

Kejawi saking punika maos utawi mirengaken Alquran ugi badhe dipun paring ganjaran dening Allah, dipun etang saking saben hurufipun malah badhe dipun tikelaken. 

 

4. Dipun kathah-kathahaken anggenipun nindakaken ibadah sunnah sak sampunipun ibadah fardhu dipun tindakaken. Contonipun shalat sunnah, puasa sunnah ingkang kathah warninipun, infaq lan shadaqah ingkang kathah marginipun, shilaturahmi lan senesipun. Kalebet ibadah maghdhah lan ghairu maghdhaipun tansah dipun tindakaken kanthi sesarengan. 

 

5. Dhemen nindaki majelis dzikir, jalaran ing saben wekdal para malaikat keliling ing lumahing bumi madosi tiyang-tiyang ingkang sami ninfakaken majis dzikir: 

 

 إنَّ لِلَّهِ تَعَالَى مَلَائِكَةً يَطُوْفُوْنَ فِي الطُّرُقِ يلْتَمِسُوْنَ أَهْلَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوْا قَوْماً يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ تَنَادَوْا: هَلُمُّواْ إلَى حَاجَتِكُمْ 

 

“Satuhune Allah Ta’ala dhuweni malaikat kang tansah mubeng-mubeng ing dalan-dalan goleki majlis dzikir, lamun wis nemu mula undang-undang marang kancane, mreneha mula bakal teka hajatira”. (HR. Buchari Muslim) 

 

6. Mikir lan gatosaken saking ayat-ayat Allah arupi alam semesta punika:

 

 اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ مَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا شَفِيْعٍۗ اَفَلَا تَتَذَكَّرُوْنَ 

 

“Gusti Allah kang nitahake langit lan bumi lan apa kang ana ing antarane langit lan bumi, ana ing sajrone nem dina, tumuli Panjenengane nguwasani ngarasy. Ora ana tumrap sira kabeh sak liyane Panjenengane sawijiene pawongan kang dadi kekasih, lan (uga) ora ana sawijine pawongan kang maringi syapangat. Mula apatoh sira kabeh ora padha migatekake ?” (QS. Assajdah: 4) 

 

7. Dhemen kumpul lan srawung kalian tiyang shalih, mila tiyang shalih punika badhe paring gati lan piwulang dhateng margi ingkang sae lan leres. Dhemen nindakaken kabecikan lan nilar dhateng perkawis ingkang awon lan sasar. 

 

8. Ngathah-ngathahaken maos tahlil:

 

 جَدِّدُواْ اِيْمَانَكُمْ, قِيْلَ يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُواْ اِيْمَانَنَا قَالَ اَكْثِرُواْ مِنْ قَوْلِ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ 

 

“Anyar-anyarna iman sira kabeh, sahabat matur kados pundi anggen kita dandosi iman kita? Rasul ngendika akeh-akena pada maca la ilaha illallah”. (HR. Ahmad lan Hakim) 

 

 Para sedherek, kaum muslimin ingkang kawula hormati. 

 

Iman punika ing salah satunggaling wekdal kraos kiyat lan ing wekdal sanes kraos kendor, mekaten punika ketingal saking amal ibadahipun. Pramila supados tansah kiyat kedah dipun uri-uri kanthi ikhlas, sabar lan istiqomah nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah SWT. Mugi-mugi Allah tansah paring kekiatan lan kesempatan dhateng kita sedaya, amin.

 

 أَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ , وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

8/22/2021

Muslim itu, Selalu Perbaiki Pemahaman dan Pengamalan Ajaran Islam

Islam adalah agama yang paling sempurna, karena Islam disampaikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad dan beliau adalah sebagai rasul yang terakhir. Salah satu fungsi rasul yang terakhir adalah menyempurnakan syariat agama sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Islam sebagai agama mengatur seluruh tata kehidupan manusia, dalam bidang aqidah, Syariah, ibadah, muamalah.

Ketika melaksakan haji wada’, nabi Muhammad menerima wahyu terakhir:

 

 اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ 

 

”Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu”. (QS. Al Maidah: 3) 

 

Wahyu yang terakhir menandakan bahwa Islam mempunyai sumber hokum, kitab suci yang sudah sempurna, akan tetapi dengan kesempurnaan agama Islam ini tidak menjamin bahwa pemeluk agama Islam atau muslim itu telah melaksanakan ajaran Islam sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mengapa demikian, karena agama Islam diwahyukan di tanah suci Mekkah, Islam datang ke Mekah, dimana orang Mekah sudah mempunyai keyakinan dan kepercayaan menyembah kepada Tuhan selain Allah. Demikian pula perilaku kehidupan sehari-harinya, suka mabuk-mabukan, berjudi, minum-minuman keras, berzina, saling membunuh dan perilaku buruk lainnya. Dan ketika Islam masuk ke Indonesia, masyarakatnya sudah mempunyai keyakinan dan kepercayaan pada benda-benda, roh nenek moyang dan telah beragama selain Islam. 

 

Islam datang untuk menyampaikan rahmat bagi sekalian alam, Islam datang membawa kedamaian bagi seluruh umat manusia, akan tetapi dalam prakteknya, pemahaman dan pengamalan masing-masing orang tentang Islam mempunyai tingkatan yang berbeda-beda. Ada orang yang menganut agama Islam sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan utusannya, ada yang masih mencampurbaurkan dengan keyakinan-keyakinan yang lain. Demikian pula dalam perilaku akhlaknya, ada yang selaras dengan apa yang diyakini dan diucapkan, sehingga terwujud suatu integritas antara ucapan dan perbuatan seiring sejalan. Tetapi ada juga yang mempunyai keyakinan tetapi perbuatannya melenceng dari apa diyakini dan dikatakan. 

 

Yang demikian ini sudah terjadi pada masa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga di dalam Alquran sudah disebutkan kriteria masing-masing orang. Ada mukmin, muslim, muttaqin, muhlashin, muhshinin, fasiqun, kafirun. Karena itu berkaitan dengan momen tahun baru hijriyah, sahabat Umar bin Khatab pernah berkata: 

 

حاسبوا انفسكم قبل ان تحاسبوا 

 

“Koreksilah dirimu, sebelum dikoreksi (dihisab)”. 

 

Mengoreksi diri sendiri, bermuhasabah, sejauhmana pemahaman dan pelaksanaan Islamnya, tentu saja dengan mengkaji kitab suci dan sunnah rasul. Oleh karena itu orang Islam Islam harus gemar dengan ilmu dan senang mencari ilmu, karena ilmu adalah nur yang akan menerangi dan mengarahkan kehidupan manusia. Dalam beberapa hadis rasul juga menyampaikan bahwa, mencari ilmu wajib bagi setiap muslim, mencari ilmu tidak ada batas usia, karena sejak buian hinggal masuk ke liang lahad, mencari ilmu tidak memandang jauh atau dekat, karena walaupun di negeri Cina ilmu harus dicari. Terkadang kesalihan bukan terletak pada kedalaman ilmu, karena lihatlah apa yang dikatakan jangan siapa yang berkata. Semua itu dilakukan agar pemahaman dan pengamalan ajaran Islam sesuai dengan kehendak syari’at. 

 

Benarnya keyakinan dengan meneguhkan kalimat Tauhid dan mengamalkannya, sempurnanya ibadah bila terus memperbaharuinya dengan melaksanakan yang fardhu dan memperbanyak ibadah sunnah, memperbaharui budi pekerti dengan memahami diri sendiri dan berempati pada orang lain. Sempurnanya ilmu pengetahuan dengan terus belajar dan mengamalkan ilmunya. Karena sesungguhnya tidak ada manusia yang sempurna kecuali selalu berupaya untuk mencari kesempurnaan, tidak ada manusia yang paling baik kecuali terus memperbaiki diri dan amal perbuatannya.

 

 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا 

 

“Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seorang dari kalian memperbaiki ke-Islamannya maka dari setiap kebaikan akan ditulis baginya sepuluh (kebaikan) yang serupa hingga tujuh ratus tingkatan, dan setiap satu kejelekan yang dikerjakan akan ditulis satu kejelekan saja yang serupa dengannya". (HR. Buchari) 

 

 وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ 

 

“Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika salah seorang dari kalian memberbaiki ke-Islamannya, maka setiap amal shalih yang ia lakukan akan ditulis dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan setiap kesalahan yang ia lakukan akan ditulis apa adanya sehingga ia berjumpa dengan Allah 'Azza wa Jalla." (HR. Ahmad) 

 

Hadits yang diriwayatkan Imam Buchari dan Ahmad bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan informasi kepada umatnya, bahwa ke-Islaman yang dianut hendaknya diperbaiki sejauh mana pemahaman dan pengamalan ajaran Islam. Prinsip-prinsip aqidahnya, karena aqidah yang lurus akan menuntun pada perilaku yang baik dan benar, sebaliknya aqidah yang melenceng maka perilaku dan perbuatannya cenderung akan melenceng dari kaidah syar'i, sehingga dikhawatirkan amal perbuatannya, yang seakan-akan adalah perbuatan yang baik, namun ternyata ditolak. Bahkan aqidah yang tidak lurus bisa menghapuskan amal ibadah yang lainnya. 

 

Rasulullah disamping menyampaikan informasi untuk memperbaiki amal ibadahnya, ternyata rasul juga memberikan janji, bahwa siapapun yang mau memperbaiki ke-Islamannya, bila itu merupakan perbuatan baik, maka pahalanya akan dilipatgandakan mulai dari 10 kebaikan sampai 700 tingkatan. Namun bila itu kejelekan maka tidak akan dilipatgandakan, tetapi setaraf dengan kejelekan yang sudah dilakukannya. Kenikmatan dari Allah apa lagi yang kamu dustakan, setiap kebaikan yang kita lakukan akan dilipatgandakan pahalanya, namun bila itu kejelekan akan dibalas setara. Tetapi jangan kemudian kita memandang bahwa amalan dan ibadah kita sudah cukup, pahala sudah cukup, karena manusia diberi nafsu yang cenderung melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Karena hendaknya kita selalu berupaya untuk senantiasa memperbaiki ke-Islaman, agar ibadah yang dilakukan benar-benar menjadi ibadah yang diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

8/19/2021

Aktualisasi Peringatan Tahun Baru Hijrah, HUT RI Ke-76 Dan Peristiwa 10 Muharram- Khutbah Jum'at

Tahun Baru Hijriyah, HUT RI adalah peristiwa yang terjadi secara berulang-ulang, walaupun dalam setiap tahun masyarakat dan umat Islam mempunyai cara yang berbeda dalam mengungkapkan kegembiraan dan rasa syukurnya. Mungkin ada yang mengatakan bahwa kegiatan tersebut adalah rutinitas kegiatan, namun pada tahun ini tentu berbeda, karena negara dan umat manusia sedang berhadapan dengan pandemi Covid-19.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ اَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهُ عِوَجًا,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِءُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاءُالْحُسْنَى, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: اَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنُ رَحِمَكُمُ اللهُ, اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ رَبُّكُمْ فِى الْقُرْانِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوا اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُوااللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah 

Pertama dan yang paling utama khatib senantiasa berwasiat khususnya pada diri sendiri dan umumnya pada jamaah sekalian, marilah bersama-sama kita berupaya untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala yaitu dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan kasih sayangnya, sehingga kita selamat di dunia dam akhirat , amin. 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah 

 

Tidak terasa bahwa pada bulan ini kita sekalian baru saja memperingati tahun baru hijriyah 1 Muharram 1443 H, kemudian dilanjutkan dengan peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-76. Dan pada bulan ini pula kita diingatkan dengan peristiwa-peristiwa besar yang telah terjadi yaitu khususnya pada tanggal 10 Muharram. 

 

Peristiwa tahun baru Hijriyah adalah merupakan tonggak perjuangan perjalanan hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam melaksanakan syiar agama Islam dari Mekah yang merupakan tanah kelahiran Rasulullah. Tapi beliau berdakwah selama 13 tahun nyaris tidak membuahkan hasil, kemudian Allah memerintahkan kepada Rasulullah untuk berhijrah ke Yatsrib atau ke Madinah. Disanalah Rasulullah disambut oleh masyarakat Yatsrib atau Madinah sehingga disana Rasulullah meletakkan sendi-sendi ajaran agama Islam yang berkaitan dengan habluminannas. 

 

Kemudian peristiwa nasional bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah momen bersejarah bagi bangsa Indonesia untuk menapaki kehidupan baru, setelah selama 3,5 abad negara Indonesia dijajah oleh Belanda, Jepang, Perancis, Inggris, Portugis, Portugal. Mereka senang menjajah negara Indonesia karena Indonesia adalah negara yang gemah ripah loh jinawi, negara yang makmur, kaya dengan sumber daya alam. Dan negara Indonesia adalah negara kepulauan, dengan budaya, etnis, suku dan bahasa yang unik sehingga memungkinkan bagi para penjajah untuk melakukan politik adu domba. Mereka dapat mengalahkan musuh dengan kekuatan musuh. 

 

Karena itu dengan momen tahun baru Hijriyah dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-76 marilah kita teguhkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa, sebagaimana firman Allah:

 

 وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ 

 

“ Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran: 103) 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah 

 

Pada saat Indonesia berada dalam suasana kemerdekaan, dimana-mana terlaksana pembangunan, namun ditengah kemerdekaan negara Indonesia kembali dijajah oleh makhluk Allah yang teramat kecil yang membahayakan, dan mengancam kehidupan manusia. Pandemi Covid-19 telah merusak sendi-sendi kehidupan manusia, karena itu marilah bersama-sama kita berupaya untuk melepaskan pandemi. Kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah disertai dengan melaksanakan amal shalih.

 

 مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ 

 

“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS. Annahl: 97). 

 

Setelah melewati tanggal 10 Muharram 1443 marilah kita tingkatkan kualiatas amal ibadah kepada Allah, marilah kita kuatkan tekad dan semangat untuk bersama-sama memenangkan pertarungan melawan pandemi Covid-19. Dengan peringatan tahun baru hijriyah, kita aktualisasikan nilai-nilai 10 Muharram menjadi amaliyah setiap saat. Pada tanggal 10 Muharram Allah menunjukkan keajaiban kepada hambanya, pada tanggal tersebut Allah menciptakan nabi Adam, dan menerima tobatnya, Nabi Yunus selamat dari perut ikan, Nabi Ibrahim selamat dari kobaran api, nabi Ayub sembuh dari penyakit kudis, Allah mengembalikan penglihatan nabi Ya’qub, Allah menyelamatkan nabi Musa dari kejaran Fir’aun, nabi Sulaiman mendapat kerajaan dari ratu Bilqis, nabi Daud diterima dosa-dosanya, nabi Yusuf dikeluarkan dari penjara dan keajaiban-keajaiban lainnya. 

 

Mengapa terjadi keajaiban, Allah yang Maha Tahu, namun tentu kita ingin meraih keajaiban, riyadhah dan amal shalih akan membuka pintu makrifat. Maka dalam menghadapi pandemic Covid-19 setelah melakukan upaya lahir, yaitu dengan melaksanakan gerakan 5 M, marilah kita ikuti dengan berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan.

 

 وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 

 

“Bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap ke arahnya. Maka, berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al Baqarah: 148)

 

 اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ 

 

“Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri”. (QS. Al Isra’: 7) 

 

Semoga ikhtiar lahir dengan mengikuti himbauan pemerintah dan ikhtiar batin dengan mengikuti perintah agama, akan semakin mempermudah terkabulnya doa, amin.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ .وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

8/17/2021

Perjuangan Melawan Penjajah di Zaman Merdeka, Covid-19 Pandemi Dunia

Dari judul yang saya buat mungkin terasa aneh dan janggal, karena apa? Perjuangan melawan penjajah di zaman merdeka. Padahal penjajahan itu terjadi pada zaman sebelum kemerdekaan. Jadi kalau membaca sejarah, bahwa negara Indonesia adalah negara yang diidolakan oleh negara lain untuk dijajah. Negara Indonesia adalah negara yang kaya raya dengan sumber daya alam yang sangat banyak dan potensi terjadi disintegrasi karena fanatisme kelompok dan golongan yang begitu kuat, sehingga negara Indonesia mudah dipecah belah. Ini adalah siasat dari kaum penjajah, sehingga Indonesia menjadi sasaran empuk untuk dijajah tetapi kenyataan berbeda ketika pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka, yang diproklamirkan oleh Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta.

Sejak saat itulah Indonesia menjadi negara yang berdaulat, negara yang sudah merdeka, sehingga dengan kemerdekaan itu para penjajah harus pergi dari negara Indonesia. Portugis Spanyol, Belanda, Perancis, Inggris dan Jepang, perjuangan untuk mengusir kaum penjajah, baik itu Jepang atau Belanda adalah perjuangan yang sangat berat. Pada masa penjajahan Belanda rakyat Indonesia benar-benar dikebiri, rakyatnya dimiskinkan, dibodohkan, dipecah-belah, dihancurkan. Bahkan dalam penghancuran negara Indonesia, rakyat Indonesia diadu domba, sehingga sesama warga negara Indonesia saling bermusuhan. Kemudian pada masa penjajahan Jepang juga sama kejamnya, tetapi kalau pada masa penjajahan Jepang, rakyat Indonesia diberi pendidikan dan belajar militer, teknik-teknik untuk memegang senjata dan sebagainya. Namun yang namanya penjajah tetap merugikan negara yang dijajah, karena itu, sekarang kita hidup di negara merdeka. Kalau dahulu para pahlawan, syuhada berjuang melawan penjajah dengan wujud yang nyata, dengan senjata yang nampak, tetapi sekarang kita menghadapi penjajah dari makhluk yang tidak nampak dan persenjataannya pun juga tidak nampak, mereka itu adalah Covid-19. 

 

Pandemi Covid-19 merupakan penjajah yang akan menguasai manusia dan terbukti Covid-19 sudah mengglobal ke tingkat dunia, tidak ada negara yang bebas dari pandemi Covid-19. Di negara Indonesia sejak bulan Februari 2020 mulai terjadi gejala-gejala penyebaran Covid- 19, Kemudian pada bulan Maret baru lah Covid-19 benar-benar menggejala dan menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Pata tahun pertama rakyat Indonesia mengadakan proteksi sendiri terhadap penyebaran Covid-19, terbukti pada waktu itu, setiap jalan masuk kampung diberi portal, jika akhirnya memasuki, maka harus disemprot dengan disinfectan. Hal yang demikian ini dilakukan secara sukarela dan secara swadaya, namun hal yang demikian ini tidak terlaksana dengan secara terus-menerus, karena ternyata kegiatan yang seperti itu juga memerlukan anggaran, tenaga yang tidak sedikit. Karena itu pada tahun 2021 terbukti bahwa Covid-19 semakin merebak di tanah air, sehingga kemudian pemerintah menetapkan adanya PPKM yang terus diperpanjang hingga 16 Agusus 2021. 

 

Covid-19 sesungguhnya merupakan penjajah, karena itu senjata yang digunakan di dalam menyebarkan virus nya adalah dengan melalui droplet yaitu cairan yang keluar dari mulut ketika batuk, bersin, berbicara, menangis, menyanyi, kontak fisik kepada orang yang sudah terkontaminasi, permukaan yang terkontaminasi, ruangan dengan ventilasi yang buruk, tempat yang ramai. Covid-19 menjadi musuh yang nyata bagi manusia, tetapi keberadaannya sulit untuk dideteksi, karena itu berdasarkan penelitian secara ilmiah ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh manusia untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yang pertama adalah memakai masker, kedua mencuci tangan, ketiga menjaga jarak, keempat menjauhi kerumunan dan kelima adalah mengurangi mobilitas dan ditambah 1 lagi itu adalah doa, yaitu kita memohon kepada Allah agar dibebaskan dari pandemic Covid-19. Karena Covid-19 adalah makhluk ciptaan Allah yang membahayakan bagi kehidupan manusia. Manusia sebagai makhluk yang lemah maka dia meminta kepada Allah agar diberikan benteng agar tidak terkena virus corona. 

 

Memang berbeda dengan perjuangan melawan penjajah dengan wujud yang nyata, yaitu pada zaman pra kemerdekaan rakyat Indonesia secara nyata menghadapi musuh. Tetapi walaupun di sana, ada musuh yang nyata, tapi ternyata juga ada musuh yang tidak nyata, karena perilaku-perilaku orang munafik. Di depan membela tapi di belakang ternyata menghianati. Perilaku ini sungguh menjadi perilaku atau menjadi sifat daripada Covid- 19. Kita tidak mengetahui keberadaannya, namun yakin bahwa Covid-19 ada dimana-mana, jika menghinggapi manusia bisa menular dengan cepat. Karena itu perjuangan yang terus-menerus untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, kita hendaknya saling bahu-membahu saling mengingatkan untuk bisa menerapkan protokol kesehatan. Pengorbanan dalam menghadapi penjajahan Covid-19. 

 

Mengusir penjajah bukan tanpa syarat dan usaha tetapi juga diikuti dengan pengorbanan, yaitu dengan menunda atau menghentikan aktifitas rutin yang sudah dilaksanakan bahkan secara reflek, bahkan kebiasaan itu merupakan perintah agama. Dan ada juga pengormaban untuk melaksanakan suatu perbuatan yang tidak pernah dilaksanakan agar dibiasakan. 

 

  1. Memakai masker. Masker adalah merupakan alat pelindung dari bakteri dari virus yang akan masuk ke dalam tubuh manusia, namun disisi lain, bahwa dengan memakai masker, di sana akan terjadi perputaran karbondioksida dan dan kekurangan oksigen karena apa nafas yang kita yang keluar itu adalah merupakan CO2, yang seharusnya kita buang dan kita menghirup udara segar yaitu oksigen tapi ternyata ketika kita mengeluarkan karbon dioksida dan karbon dioksida itu dihirup kembali dengan kadar oksigen yang mungkin tidak sesuai kebutuhan. Masker itu juga merupakan suatu pengorbanan karena dari aspek kebebasan itu menjadi berkurang, demikian juga dengan memakai masker semakin sulit untuk membedakan atau untuk mengetahui atau mengenali seseorang karena mukanya tertutup oleh masker dan masih ditambah lagi adalah dengan menggunakan facial. Dengan memakai masker wong bagus ilang baguse, wong ayu ilang ayune karena facenya susah untuk dibedakan. 
  2. Mencuci tangan, mencuci tangan adalah merupakan perintah agama karena di dalam agama disebutkan bahwa kebersihan sebagian dari iman. Karena itu dalam setiap apapun itu hendaknya membiasakan untuk mencuci tangan. Mencuci tangan tidak terlalu banyak pengorbanan yang dikeluarkan, bahkan dengan mencuci tangan itu virus corona memberikan pendidikan kepada kita agar selalu membiasakan untuk mencuci tangan. 
  3. Menjaga jarak adalah merupakan pengorbanan, karena menjaga jarak yang artinya adalah antara satu orang dengan yang lainnya agar jaraknya dijauhkan, termasuk ketika kita berjabat tangan itu juga tidak diperkenankan. Berjabat tangan dapat menghapuskan dosa yang sudah dilakukan. Maka dengan berjabat tangan menjadi simbol persahabatan, persaudaraan, saling memaafkan. Dengan adanya pandemi Covid-19, ketika bertemu bertemu dengan saudara, teman, bahkan dengan guru tidak melakukan jabat tangan. Ini adalah merupakan pengorbanan yang sangat besar, demikian juga menjaga jarak di dalam melaksanakan ibadah shalat. Di dalam perintah agama disebutkan bahwa ketika melaksanakan shalat maka barisannya diluruskan dan di rapatkan.
  4. Menghindari kerumunan, seperti rapat- rapat, majelis taklim, jenjang pendidikan formal, jamaah shalat ini juga tidak dilakukan. Ini pengorbanan yang luar biasa, majelis taklim yang sudah menjadi kebiasaan tidak dilakukan bahkan salat jamaah pun itu yang juga sempat untuk tidak dilakukan di tempat ibadah, ini adalah pengorbanan yang luar biasa. Bagi umat Islam shalat berjamaah itu pahalanya besar, 27 derajat dibanding dengan shalat sendiri. Proses pendidikan formal tidak diselenggarakan secara tatap muka dan dilakukan secara daring atau luring karena ini menjadi kendala bagi kita sekalian . Bahkan sudah 2 tahun Indonesia tidak mengirimkan jamaah haji, karena pemerintah Arab Saudi hanya memberikan kesempatan kepada penduduk yang sudah bermukim di tanah suci. 
  5. Mengurangi mobilitas, banyak aspek yang harus dikorbankan oleh umat manusia, jasa transportasi dan pariwisata nyaris lumpuh, sehingga hal yang demikian ini menambah beban bagi umat manusia untuk menanggung kebutuhan hidupnya. Karena itu Covid-19 adalah merupakan masalah bangsa maka seluruh warga negeri agar berpartisipasi untuk mengatasi secara bersama-sama. 
Kita hanya berharap mudah-mudahan dengan kerelaan dan kesungguhan kita dalam berjuang dan berkorban guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dapat dilaksanakan dengan kesadaran, agar pandemi akan segera berlalu. Umat manusia khususnya masyarakat Indonesia dapat beraktivitas secara normal, sehingga segala aspek kehidupan manusia, baik ekonomi, politik, social, budaya, pendidikan dapat berjalan dengan baik sehingga bisa terwujud masyarakat Indonesia yang adil makmur sejahtera lahir dan batin di bawah naungan ridho dan ampunan Allah subhanahu wa ta'ala, amin.

8/14/2021

Murnikan Niat Karena Allah Karena Setiap Ibadah Dilihat Dari Niatnya

Hari Jumat adalah Sayyidul ayyam yaitu penghulunya hari. Hari Jumat, hari yang lebih utama karena itu, pada hari Jum’at umat Islam banyak memanfaatkan kesempatan untuk memperbanyak ibadah kepada Allah. Dimulai dari kegiatan pada sore hari, pada umumnya orang-orang setelah melaksanakan shalat magrib kemudian dilanjutkan dengan pembacaan dzikir, tahlil untuk mendoakan kepada para leluhur yang sudah mendahuluinya, memohon kepada Allah agar diberikan kemuliaan, kebahagiaan di alam kubur. Kemudian setelah melaksanakan shalat Isya biasanya dilanjutkan dengan kegiatan majelis taklim, baik yang dilaksanakan di masjid, musholla, langar, surau atau dilaksanakan dari rumah penduduk. Karena umat Islam juga banyak yang mengikuti kegiatan majelis taklim secara bergilir dari rumah angota jemaah ke anggota yang lain.

Kegiatan majelis taklim diselenggarakan secara sukarela, tanpa ada paksaan, tetapi setiap orang biasanya bergabung pada jamaah tertentu, karena merasa ada suatu kecocokan dengan pimpinan, keanggotaan, metode dan materi dalam majelis taklim. Majlis taklim merupakan kegiatan pendidikan agama pada masyarakat yang diselenggarakan secara swadaya, dari Jemaah, oleh Jemaah dan untuk Jemaah, disamping kadang karena inisiatif dari tokoh agama untuk menyebarkan syariat Islam di tengah-tengah masyarakat. Pada majelis taklim tertentu, kadangkala ada yang bersifat statis dan ada yang dinamis, tergantung dari SDM pengurusnya, pada dasarnya jemaah mengikuti apa yang menjadi inisiatif pengurusnya. Pada malam hari banyak pula umat Islam yang menggunakan waktunya untuk menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Pada pagi hari pun biasanya banyak orang Islam yang memanfaatkan hari Jumat juga untuk memperbanyak ibadah kepada Allah dengan mengikuti kegiatan kuliah subuh, tadarus Alquran kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke makam, untuk membersihkan pemakaman, menabur bunga dan mendoakan arwah yang telah bersemayam. 

 

Pada siang hari, pada waktu pelaksanaan shalat Jum’at, ada orang Islam mempunyai kepentingan sendiri-sendiri untuk meningkatkan amal ibadahnya. Sebagian orang menyebut sebagai Jum’at berkah, karena itu pada hari Jum’at banyak orang yang mengalokasikan pemikiran, harta, kesempatannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga dengan Jum’at berkah, banyak masjid yang sudah menyediakan kepada para jamaah, hidangan makan siang. Takmir masjid berinisiatif untuk mengumpulkan konsumsi dari para dermawan atas dasar sukarela. Ada Jemaah yang memberikan kesanggupan dan disampaikan kepada takmir masjid dan ada yang langsung dikirim ke masjid. Karena itu untuk mengantisipasi terjadinya kekosongan kadangkala takmir masjid yang menggunakan dana infaq kotak amal untuk kepentingan para jemaah. 

 

Bagaimana agar jamaah yang tidak mampu merasa tertolong dengan keberadaan masjid, paradigma memakmurkan masjid pada zaman sekarang yang lebih fleksibel, dinamis, kreatif. Bagaimana orang yang tidak mampu, akan muncul rasa suka ke masjid. Mereka menggunakan fasilitas masjid seperti listrik, halaman, teras, serambi, tempat wudhu, MCK, bahkan kadang digunakan untuk kepentingan pribadi. Pengurus masjid tetap memberikan kebebasan untuk menggunakan fasilitas masjid. Secara materi masjid akan kekurangan dana, akibat dari penggunaan air, listrik dan alat kebersihan, biaya tenaga kebersihan. Tetapi justru yang demikian ini bisa menyadarkan orang-orang yang tidak mampu, muncul dorongan untuk memberikan sesuatu guna kepentingan masjid. 

 

Ada satu kisah bahwa pada suatu saat ada seorang yang melaksanakan salat Jumat di Masjid, orang tersebut berupaya ingin mengetahui kondisi masjid, bagaimana kegiatan shalat Jum’atnya, bagaimana khatibnya, bagaimana imamnya dan bagaimana jamaahnya. Orang tersebut ingin menambah ilmu, bershilaturahmi, dan dia telah menyiapkan sejumlah uang untuk dimasukkan ke dalam kotak infaq. Dia merasa menjadi orang yang mampu, walaupun bila dibandingkan dengan pelaksanaan ibadahnya sudah lebih baik atau masih kurang. Karena sesungguhnya seluruh kegiatan di masjid memerlukan biaya. 

 

Kadang tanpa disadari bahwa masjid yang megah, indah, bersih, tersedianya air yang melimpah, penerangan yang cukup, sound system yang bagus, petugas khatib, imam, muadzin yang kadang juga perlu dana. Banyak orang yang tidak peduli, misalnya ketika masuk masjid ada sampah berserakan hanya bilang masjid kok banyak sampahnya, lantai masjid kotor hanya bilang masjid kok kotor, masuk tempat wudhu, hanya bilang tempat wudhu kok kotor, berlumut, airnya kecil, masuk ke thoilet hanya berkata, kok kok kotor, pesing dan licin. Harusnya kita bertanya, masjid itu punya siapa? Siapa yang bertugas merawat masjid? Dari mana sumber dana untuk perawatan masjid? Dan hal yang ringan namun belum banyak melakukan, ketika melihat sampah berserakan untuk diambil dan dimasukkan ke tempat sampah, bila lantai kotor ikut menyampu, bila tempat wudhu kotor turut membersihkan, bila thoilet berbau pesing, kotor agar turut membersihkan. Bila merasa bukan tugasnya dan merasa tidak pantas, maka perkontribusilah dengan hartanya. Bukankah Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk, sehingga manusia bisa berpartisipasi dan berkontribusi dengan ucapan, perbuatan, pemikiran dan harta. 

 

Amal dilihat dari niatnya. 

Ada hal yang menarik dermawan yang datang ke masjid telah merasa mampu dan merasa puas terlayani dengan kegiatan- kegiatan ibadahnya. Ketika keluar dari masjid, disana dia menyaksikan sebagaimana di masjid yang lain menyediakan makanan, minuman. Ada makanan besar, ada makanan kecil. Semua itu disediakan bagi para jamaah secara bebas, kemudian dia melihat beraneka macam makanan, baik makanan yang berat dan makanan ringan. Namun pada dirinya tidak ada daya tarik untuk mengambil makanan tersebut, karena dia merasa sebagai orang yang mampu, sehingga dia merasa tidak berhak untuk ikut menikmati hidangan yang telah disediakan. 

 

Namun ternyata dia melihat makanan tertentu, yang nampak sangat menarik dan enak, walaupan makanan tersebut tidaklah terlalu mahal namun dalam hatinya ada rasa penasaran. Dia melihat orang sedang antri untuk mengambil namun dia tetap berlalu, ternyata dalam hatinya muncul keinginan untuk kembali, setelah berbalik arah menuju pada tumpukan makanan dia berbalik lagi, tetap merasa tidak enak dan malu. Dia melihat ada jamaah yang mengambil lebih dari satu, dan itu juga tidak dilarang, sambil menunjukkan pada temannya dia berkata lapar, dia belum sarapan dan lain sebagainya. 

 

Ternyata orang yang tertarik dengan makanan tertentu, di dalam hatinya muncul keinginan Jum’at besok akan Jumatan lagi di masjid ini, kemudian muncul lagi di dalam hatinya, bisikan di dalam hatinya saya besok mungkin ada kesempatan untuk mengambil hidangan itu. Seandainya terlaksana Jum’at berikutnya ke masjid tersebut, akan berjuang untuk melawan niat yang rendah dan tidak baik agar dapat memurnikan niat ibadah karena Allah. Janganlah niat mulia bercampur dengan niat selain untuk Allah, karena bisa jadi nilai ibadah akan mengikuti pada niatnya, sebagimana sabda rasul:

 

 إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ 

 

"Sesungguhnya amalan itu hanyalah tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang (berniat) hijrah kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa (berniat) hijrah karena dunia yang bakal diraihnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang diniatkannya itu." (HR. Buchari: 6195) 

 

Lalu Bagaimanakah orang yang mempunyai niat untuk beribadah, tetapi juga berniat untuk mencari yang lain, di sinilah bahwa kemurnian hati itu hendaknya kita jaga, kita murnikan niat mudah-mudahan dengan niat yang baik Itulah, maka akan menjadi amal yang baik. Karena itu kalau dalam satu perbuatan tapi ternyata mempunyai dua niat otomatis antara niat yang baik dengan niat yang kurang baik itu adalah akan berimbang, maka orang yang beribadah dikhawatirkan nilai ibadahnya akan hilang, atau akan impas dengan niat dari ibadah Lillah. 

 

Lain halnya ketika orang beribadah karena Allah, beribadah tidak ada tendensi lain kecuali untuk Allah, namun ternyata mendapatkan sesuatu, maka disinilah yang disebut sebagai ziyadah bil khoir, bahwa setiap amal perbuatan kalau diniati dengan ibadah Insya-Allah akan membuahkan hasil lain sebagi tambahan. Niat ibadahnya lurus, kemudian mendapatkan nilai yang lain yang baik. Mudah-mudahan dengan niat yang lurus akan dapat meningkatkan kualitas iman dan taqwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala, amin.

8/13/2021

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan, Menyambut HUT RI ke-76 Dalam Pandemi Covid-19

Bangsa Indonesia sebentar lagi akan memperingati hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-76. Kemerdekaan adalah merupakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada bangsa Indonesia, kemerdekaan merupakan anugerah Allah subhanahu wa ta'ala, karena dengan kemerdekaan bangsa Indonesia terbebas dari cengkraman para penjajah. Kita feedback pada masa penjajahan, bahwa rakyat Indonesia hidup di negara sendiri, tetapi dia seperti hidup di negara lain. Negara Indonesia mempunyai sumber kekayaan yang banyak, tetapi kekayaan semuanya dikeruk uleh para penjajah. Bangsa Indonesia yang mempunyai penduduk yang cukup banyak, tetapi dari setiap penduduk diadu domba oleh para penjajah, sehingga dengan bangsanya sendiri rakyat Indonesia malah tidak Bersatu, tetapi dengan penjajah mereka berpihak sehingga mereka dicap pe*njilat, yang bahagia diatas penderitaan bangsanya sendiri.

 

Itu adalah sekelumit dari sejarah rakyat Indonesia pada masa penjajahan, semua itu terhapus ketika pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta Ir. Soekarno dengan Muhammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan negara Republik Indonesia. Sejak saat itulah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat, bangsa yang mempunyai kebebasan berkarya, berpendapat, mengolah dan mempergunakan sumber daya alam untuk mewujudkan kesejahteraan hidup. 

 

Kini kemerdekaan Indonesia sudah melampaui 75 tahun, dan sebentar lagi kita akan memasuki 76 tahun kemerdekaan. Dengan bebagai macam cara bangsa Indonesia mengungkapkan rasa kegembiraannya, yaitu dengan mengadakan pembangunan, meliputi pembangunan fisik mental dan spiritual. Karena itu bangsa Indonesia dibeberapa sektor menunjukkan kemajuan, dalam sektor pendidikan, sosial, politik, ekonomi, budaya, semuanya menunjukkan kemajuan. 

 

Sejak tahun 2020 bangsa Indonesia tidak bisa mengadakan kegiatan kegiatan untuk menyambut hari ulang tahun kemerdekaan, demikian juga pada tahun 2021 yang masih dalam kondisi PPKM darurat. Maka untuk kegiatan-kegiatan guna memeriahkan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia tidak bisa dilaksanakan. Kita tahu bahwa dengan peringatan hari ulang tahun kemerdekaan di mana-mana diselenggarakan kegiatan perlombaan yang sifatnya swadaya dari masing-masing masyarakat. Tetapi pada tahun ini dimungkinkan untuk tidak dilaksanakan, bahkan upacara benderapun, sebagai puncak hari ulang tahun kemerdekaan itu dimungkinkan diselenggarakan dengan peserta yang sangat terbatas. 

 

Karena itu dengan kondisi pandemi Covid-19 pemerintah menerapka PPKM darurat. Bagaimanakan rakyat Indonesia mengungkapkan sabar dan syukur, diantaranya: 

 

  1. Menyelenggarakan kegiatan bersih-bersih lingkungan dan dilanjutkan dengan kegiatan pemasangan bendera, umbul-umbul, rontek dan juga lampu hias, ini adalah merupakan ungkapan rasa syukur dengan nikmat kemerdekaan. 
  2. Menyelenggarakan kegiatan sosial, dimana pada waktu tahun yang lalu kita menyelenggarakan kegiatan menyambut hari ulang tahun kemerdekaan RI. Diantaranya berupa jalan sehat, beraneka macam perlombaan, pentas musik, dan kegiatan lainnya. Dari kegiatan itu semuanya tentu saja membutuhkan biaya yang cukup besar, karena itu dengan adanya PPKM maka pada tahun ini tetap diadakan pendanaan yang penggunaannya dialihkan untuk kegiatan sosial. Untuk memberikan bantuan paket sembako, masker, hand sanitizer dan lainnya. 
  3. Sebagai wujud rasa cinta kita kepada negara, adalah mengikuti himbaun dari pemerintah tentang penerapan Prokes, himbauan-himbauan tersebut yang telah dikeluarkan oleh Menteri Dalam Negeri, Meteri Agama, Gubernur, Bupati, Lembaga Keagamaan. Himbauan tersebut adalah untuk melindungi masyarakat Indonesia, agar setiap warga negara tetap aman dan sehat, penerapan Prokes 5 M untuk tetap dilaksanakan, termasuk mengikuti program vaksinasi. 
  4. Ikut mensosialisasikan program penerapan protocol kesehatan dan memberika keteladanan. Hal ini karena masyarakat Indonesia yang majemuk, dengan tingkat kemampuan sumber daya manusia yang berbeda-beda, sehingga menimbulkan persepsi dan sikap yag berbeda-beda pula. Karena itu bagi orang yang mempunyai kapabilitas keilmuan jangan henti-henti untuk bisa mensosialisasikan , apa yang di telah ditetapkan. Kembangkan sikap saling asah-asih dan asuh, tahan pernyataan prokvokatif yang bisa menimbulkan konflik. 
  5. Wujudkan semangat Bhinneka Tunggal Ika , kita tahu bahawa negara Idonesia terdiri dari ribuan pulau dengan suku bangsa, bahasa, adat istiadat yeng berbeda-beda namun sesungguhnya kita satu, yaitu Indonesia. 
  6. Wujudkan tholeransi antar umat beragama, kita tahu bahwa setiap agama mempunyai prinsip keyakinan yang paling esensi, sensitive. Karena itu pemeluk agama yang berbeda pahami keyakinan agamanya, laksanakan perintah agamanya dan jangan mengular keyakinan agama yang orang lain pada forum. 
  7. Wujudkan dengan rasa syukur dengan mengadakan perenungan, muhasabah, meningkatkan ibadah, memperbanyak dzikir kepada Allah subhanahu wa ta'ala, dengan harapan Indonesia akan terbebas dari pandemi Covid 19. Kalau duhulu bangsa Indonesia pada masa penjajahan berjuang dan berkorban dengan jiwa dan raga untuk mengusir penjajah bersifat fisik dan kelihatan, tetapi sekarang bangsa Indonesia sedang menghadapi musuh yang nyata ada, tetapi tidak kelihatan dan ini membahayakan kehidupan manusia. 
Karena itu nampak dengan jelas, manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dalam wujud yang paling sempurna namun tetap menjadi makhluk yang lemah, Allah yang Maha kuasa menciptakan segala yang ada karena itu hanya kepada Allah kita berlindung, berserah diri dan memohon kepadanya. Karena itu dengan keterbatasan masyarakat Indonesia untuk memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia, bukan berarti bahwa kita kemudian menjadi pasif tidak ada kegiatan. Banyak kegiatan yang bisa kita terapkan di tengah-tengah masyarakat mudah-mudahan dengan kebersamaan kita saling membantu kita saling menolong bisa terwujud masyarakat Indonesia yang aman, damai sejahtera dibawah lindungan Allah SWT.

8/12/2021

Pasrah lan Ihtiyar Ngadhepi Gerah , Saras lan Pati – Khutbah Jum’at Basa Jawa

Kathah tiyang sami gerah, saras lan pati amargi pagebluk Covid-19, mila mangga sami netepi dhawuh saking Allah, rasul lan ulil amri. Ampun sembrana lan kumalungkung. Manungsa punika boten gadhah daya lan kekiyatan kejawi saking Ngarsa Dalem Allah SWT.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَتِ وَالنُّوْرِ ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِءُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاءُالْحُسْنَى, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: اَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنُ رَحِمَكُمُ اللهُ, اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ رَبُّكُمْ فِى الْقُرْانِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوا اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُوااللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah 

Pertama lan ingkang paling utami kawula wasiat khususipun dhateng pribadi kula piyambak lan sumrambah dhumateng panjenengan sedaya, mangga kita sami ningkataken iman lan taqwa dhumateng Allah subhanahu wa ta'ala, inggih punika kanthi nindakaken dhawuh- dhawuhipun Allah lan nilar awisanipun Gusti Allah, mugi-mugi kita tansah linuberan welas asih saking Gusti Allah, sehingga kita tansah saras lan wilujeng sangking pagebluk Covid-19. 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’ah Rahimakumullah 

Zaman sak punika kita tasih wonten ing kawontenan pagebluk Covid-19 ingkang nggegirisi tumrap gesangipun manungsa. Amargi wonten ing pundi papan panggenan, kita mirsani gendera pethak lan wonten tanda belasungkawa, tandanipun wonten tiyang ingkang seda. Lan prasasat saben wekdal kita mireng pawartos tiyang ingkang seda. Kejawi saking punika, kathah tiyang ingkang nandang gerah, leres ingkang gerah mertamba wonten griya sakit, wonten ingkang nindakaken karantina wonten panggenan ingkang dipun cawisaken dening pamerintah lan wonten ingkang isoman. 

 

Kanthi mekaten kathah ingkang sehat lan wonten ingkang tambah gerah akhiripun seda. Kanthi kawontenen punika, ngemutaken dhumateng kita sedaya, bilih gesang lan pejah punika sampun dipun tentukaken dening Allah subhanahu wa ta'ala:

 

 كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ ثُمَّ اِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ 

 

“Saben-saben awak-awakan iku mesthi bakal ngicipi pati, tumuli marang panggonan kang Ingsun kersakake sira kabeh bakal dibalekake”. (QS. Al Ankabut: 57) 

 

Lan wonten ing ayat sanesipun Allah ngendika:

 

 وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ 

 

 “Saben-saben umat nduweni wates wektu, mula yen wis teka wektune, dheweke ora bisa ngundurake sedhela wae lan (uga) ora bisa ngajokake”. (QS. Al A’rof: 34)

 

 قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ لِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ ۚاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ 

 

“Dhawuha sira! Ingsun ora kuwasa nekakake kemelaratan lan (uga) ora kemanfangatan marang awak ingsun, kejaba kang dikersakake Gusti Allah, saben-saben umat duweni ajal. Nalikane wis teka ajale dheweke kabeh, mula dheweke kabeh ora bisa ngundurake sethithik wae lan (uga) ora bisa ndhisikake”. (QS. Yunus: 49) 

 

Kanthi kawontenan pagebluk lan saking pangandikanipun Gusti Allah, boten ateges kita tumuli namung pasrah dhumateng Gusti Allah, nanging kita sampun dipun paringi akal dening Gusti Allah, supados dipun ginakaken kagem mikiraken saking sedaya kedadosan ing alam dunya. Kita kedah usaha dan ikhtiar, supados tansah dipun paringi kesarasan, kawilujengan, tebih saking balak lan billahi. Allah sampun ngendika wonten Alquran:

 

 اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ 

 

“Sak temene Gusti Allah ora ngowahi kahanane sawijine kaum, nganti kaum iku dhewe kang ngowahi marang kahanane kang ana ing awake dhewe. Lan nalikane Gusti Allah ngersakake kecingkrangan ing atase sawiijine kaum, mula ora ana kang bisa nulak, lan babar pisan ora ana pangayom tumrap dheweke kabeh kejaba mung Panjenengane”. (QS. Arro’du: 11) 

 

Kanthi makaten gesang lan pejah punika sampun dados qodratipun Allah, nanging sehat punika kedah dipun usahakaken. Kita nyuwun dipun paring panjang yuswa, lan sehat punika langkung utami, tinimbang dipun paring panjang yuswa nanging tansah nandang gerah. Saras lan sakit punika dados pilihanipun manungsa, kanthi punika supados tansah sehat dipun jagi saking dhahar lan ngunjukipun, dhaharan lan unjukan ingkang eca boten mesthi sae kagem badan, eca punika namun ing tutuk lan namung sak wetawis. Mila saget ugi eca ing tutuk nanging ing padharan lan ing badan boten sae. Semanten ugi jaga badan supados tansah sehat dipun kulinakaken olah raga, kathah gerak lan aktifitas lan rohaninipun ugi dipun siram kanthi ngathah-ngathah-ngathahaken ngibadah dhumateng Allah, shalat, dzikir, maos Alquran sak terasipun. 

 

Selami wonten pagebluk punika, mangga kita manut dhateng dhawuhipun pamerintah, supados nindakaken protokol kesehatan, 5 M 1 D. 

 

  1. Memakai masker, tansah ngagem masker menawi medal sangking qriya. 
  2. Mencuci tangan, tansah biasakaken nyuci asta ngagem sabun mawi toya ingkang mili. 
  3.  Menjaga jarak, inggih punika nalika kempal kalian tiyang sanes, atur pengandikan kedah ngedoh ing antawis setunggal meter. 
  4.  Menjauhi kerumunan, ngedohi saking pakempalan. 
  5.  Mengurangi mobilitas, inggih punika ngirangi lelungan ingkang kirang penting, kejawi wonten perkawis ingkang banget pentingipun lan boten saged dipun tunda. 
  6.  Doa, kita tingkaten anggenipun ngibadah dhumateng Allah, manuwun dhateng Allah, nyuwun welas asihipun Gusti Allah. Lan langkung sae menawi anggenipun donga lan nyuwun dhateng Allah mawi wasilah amal shalih. Mila antawis iman lan amal shalih punika kedah dipun tindakaken sesarengan.  

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah. 

 

Kanthi mekaten, wontenipun pagebluk punika, ampun ngantos banget kuwatosipun, nanging ugi sampun ngantos kita sembrana, kumalungkung lajeng boten nindakaken dhawuhipun saking pemerintah. Mila kita kedah muhasabah, bilih taat dhateng Allah lan rasulipun kita kedah taat dhateng pamerintah.

 

 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ ٥٩ 

 

“He wong-wong kang padha iman, anuta marang marang Allah, anuta marang rasul lan pemimpin sangka sira . Tumuli yen sira beda panemu tumrap sijineng perkara, mangka balekna masalah kuwi marang Allah (Alquran) lan rasul (sunnahe), yen sira bener-bener iman marang Allah lan dina akhir. Kang kaya mengkana kuwi luwih utama (tumrap sira) lan luwih becik pungkasane”. (QS. Annisa’: 59) 

 

Manungsa punika makhluk ingkang boten gadhah daya kejawi peparingipun Allah, mila mangga kita makarya lan tansah budidaya amrih tansah pinaringan welas ashipun Allah SWT, dipun singkiraken saking balak, bilahi lan pagebluk, amin ya Robbal ‘alamin.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ .وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.