Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

10/23/2020

Usaha Wujudkan Anak Shalih, Identifikasi Kebutuhan -Khutbah Jum'at Bahasa Indonesia

 Setiap orang hidup tentu menginginkan mempunyai keturunan, sebagai aset dirinya untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Keturunan yang berupa anak shalih selalu menjadi idaman bagi setiap orang, sehingga setelah setelah membangun rumah tangga ingin segera mendapatkan momongan sehingga dalam doanya selalu meminta agar diberikan keturunan yang shalih dan shalihah. Sejak bayi dalam kandungan selalu diajari untuk mengenal Tuhannya dengan membiasakan berperilaku yang baik dan juga makan minum yang khalal dan thayyib. Demikian setelah lahir dijaga, dibimbing, didik, dilindungi agar menjadi generasi Qur'ani.



اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ تَعَالَى مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللهُ لَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْرٍ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَةً ضِعَافًا.اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ. وَأَحْيِنَا اَللّٰهُمَّ عَلَى سُنَّتِهِ وَأَمِتْنَا عَلَى مِلَّتِهِ. وَبَعْدُ

 

 Marilah kita bertakwa kepada Allah kapanpun dan di manapun kita berada. Yaitu, senantiasa mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah. Sebab, hanya dengan taqwa manusia memiliki derajat nilai di sisi Allah. Ketahuilah, sesungguhnya budi pekerti mulia merupakan buah taqwa dan sumber kebaikan ummat manusia. Anak adalah buah hati bagi kedua orang tuanya yang sangat disayangi dan dicintainya. Sewaktu bahtera rumah tangga pertama kali diarungi, maka pikiran pertama yang terlintas dalam benak suami istri adalah berapa jumlah anaknya kelak akan mereka miliki, serta kearah mana anak tersebut akan dibawa. 

 

Namun yang menjadi masalah adalah kemana anak akan kita arahkan setelah mereka terlahir. Umumnya orang tua menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi anak yang shalih, agar setelah dewasa mereka dapat membalas jasa kedua orang tuanya. Namun obsesi orang tua kadang tidak sejalan dengan usaha yang dilakukannya. Padahal usaha merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan bagi terbentuknya watak dan karakter anak. Obsesi tanpa usaha adalah hayalan semu yang tak akan mungkin dapat menjadi kenyataan. 

 

Bahkan sebagian orang tua akibat pandangan yang keliru menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi bintang film (artis), bintang iklan, fotomodel dan lain-lain. Mereka beranggapan dengan itu semua kelak anak-anak mereka dapat hidup makmur seperti kaum selebritis yang terkenal itu. Padahal dibalik itu semua mereka kering akan informasi tentang perihal kehidupan kaum selebritis yang mereka puja-puja. Hal ini terjadi akibat orang tua yang sering mengkonsumsi berbagai macam acara-acara hiburan diberbagai media cetak dan elektronik, karena itu opininya terbangun atas apa yang mereka lihat selama ini. Apakah kita menginginkan anak-anak kita menjadi orang yang jauh dari agamanya, yang kelihatannya bahagia di dunia namun menderita di akhirat? Tentu tidak. Allah Subhannahu wa ta'ala berfirman:

“ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. Annisa: 9). 

 

Pengertian lemah dalam ayat ini adalah lemah iman, lemah fisik, lemah intelektual dan lemah ekonomi. Oleh karena itu selaku orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, maka mereka harus memperhatikan keempat hal ini. Pengabaian salah satu dari empat hal ini adalah ketimpangan yang dapat menyebabkan ketidak seimbangan pada anak. Imam Ibnu Katsir dalam mengomentari pengertian lemah pada ayat ini memfokuskan pada masalah ekonomi. Beliau mengatakan selaku orang tua hendaknya tidak meninggalkan keadaan anak-anak mereka dalam keadaan miskin. Dan terbukti berapa banyak kaum muslimin yang rela meninggalkan aqidahnya (murtad) di era ini akibat keadaan ekonomi mereka yang dibawah garis kemiskinan. 

 

Banyak orang tua yang mementingkan perkembangan anak dari segi intelektual, fisik dan ekonomi semata dan mengabaikan perkembangan iman. Orang tua terkadang berani melakukan hal apapun, yang penting kebutuhan pendidikan anak-anaknya dapat terpenuhi, sementara untuk memasukkan anak-anak mereka pada TK-TPQ terasa begitu enggan. Padahal aspek iman merupakan kebutuhan pokok yang bersifat mendasar bagi anak. 

 

Ada juga orang tua yang menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan bagi anak-anak mereka dari keempat masalah pokok di atas, namun usaha yang dilakukannya kearah tersebut sangat diskriminatif dan tidak seimbang. Sebagai contoh: Ada orang tua yang dalam usaha mencerdaskan anaknya dari segi intelektual telah melaksanakan usahanya yang cukup maksimal, segala sarana dan prasarana kearah tercapainya tujuan tersebut dipenuhinya dengan sungguh-sungguh namun dalam usahanya memenuhi kebutuhan anak dari hal keimanan, orang tua terlihat setengah hati, padahal mereka telah memperhatikan anaknya secara bersungguh-sungguh dalam segi pemenuhan otaknya. 

 

Jemaah Jum’at Rahimakumullah. 

Karena itu sebagian orang tua yang bijaksana, mesti mampu memperhatikan langkah-langkah yang harus di tempuh dalam merealisasikan obsesinya dalam melahirkan anak yang shalih. Di bawah ini akan kami ketengahkan beberapa langkah yang cukup representatif dan membantu mewujudkan obsesi tersebut: 

 

1. Opini atau persepsi orang tua atau anak yang shalih tersebut harus benar-benar sesuai dengan kehendak Islam berdasarkan Alqur’an dan sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam, bersabda:

 

 إِذَا مَاتَ بْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

 

“Jika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: sadaqah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim) 

 

Dalam hadits ini sangat jelas disebutkan ciri anak yang shalih adalah anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Sementara kita telah mengetahui, bahwa anak yang senang mendoakan orang tuanya adalah anak sedari kecil telah terbiasa terdidik dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan, melaksanakan perintah-perintah Allah Subhannahu wa ta'ala , dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Anak yang shalih adalah anak yang tumbuh dalam naungan dien-Nya, maka mustahil ada anak dapat bisa mendoakan orang tuanya jika anak tersebut jauh dari perintah-perintah Allah SWT dan senang bermaksiat kepada-Nya. Anak yang senang bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala, jelas akan jauh dari perintah Allah dan kemungkinan besar senang pula bermaksiat kepada kedua orang tuanya sekaligus. 

 

Dalam hadits ini dijelaskan tentang keuntungan memiliki anak yang shalih yaitu, amalan-amalan mereka senantiasa berkorelasi dengan kedua orang tuanya walaupun sang orang tua telah wafat. Jika sang anak melakukan kebaikan atau mendoakan orang tuanya maka amal dari kebaikannya juga merupakan amal orang tuanya dan doanya akan segera terkabul oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala . Jadi jelaslah bagi kita akan gambaran anak yang shalih yaitu anak yang taat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala , menjauhi larangan-larangan-Nya, selalu mendoakan orang tuanya dan selalu melaksanakan kebaikan-kebaikan. 

 

2. Menciptakan lingkungan yang kondusif ke arah tercipta-nya anak yang shalih. 

Lingkungan merupakan tempat di mana manusia melaksana-kan aktifitas-aktifitasnya. Secara mikro lingkungan dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu: 

a. Lingkungan keluarga. 

Keluarga merupakan sebuah institusi kecil dimana anak mengawali masa-masa pertumbuhannya. Keluarga juga merupakan madrasah bagi sang anak. Pendidikan yang didapatkan merupakan pondasi baginya dalam pembangunan watak, kepribadian dan karakternya. Jika anak dalam keluarga senantiasa terdidik dalam warna ke-Islaman, maka kepribadiannya akan terbentuk dengan warna ke-Islaman tersebut. Namun sebaliknya jika anak tumbuh dalam suasana yang jauh dari nilai-nilai ke-Islaman, maka jelas kelak dia akan tumbuh menjadi anak yang tidak bermoral. Seorang anak yang terlahir dalam keadaan fitrah, kemudian orang tuanyalah yang mewarnainya, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

 

 كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ. (رواه البخاري)

 

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan yang fitrah (Islam), maka orang tuanya yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari) 

 

 Untuk itu orang tua harus dapat memanfaatkan saat-saat awal dimana anak kita mengalami pertumbuhannya dengan cara menanamkan dalam jiwa anak kita kecintaan terhadap diennya, cinta terhadap ajaran Allah Subhannahu wa ta'ala dan rasul-Nya Shallallaahu alaihi wa salam, sehingga ketika anak tersebut berhadapan dengan lingkungan lain anak tersebut memiliki daya resistensi yang dapat menangkal setiap saat pengaruh negatif yang akan merusak dirinya. Agar dapat memudahkan jalan bagi pembentukan kepribadian bagi anak yang shalih, maka keteladanan orang tua merupakan faktor yang sangat menentukan. 

 

Oleh karena itu, selaku orang tua yang bijaksana dalam berinteraksi dengan anak pasti memperlihatkan sikap yang baik, yaitu sikap yang sesuai dengan kepribadian yang shalih sehingga anak dapat dengan mudah meniru dan mempraktekkan sifat-sifat orang tuanya 

 

b. Lingkungan Sekolah. Sekolah merupakan lingkungan di mana anak-anak berkumpul bersama teman-temannya yang sebaya dengannya. Belajar, bermain dan bercanda adalah kegiatan rutin mereka di sekolah. Sekolah juga merupakan sarana yang cukup efektif dalam membentuk watak dan karakter anak. Di sekolah anak-anak akan saling mempengaruhi sesuai dengan watak dan karakter yang diperolehnya dalam keluarga mereka masing-masing. 

 

Anak yang terdidik secara baik di rumah tentu akan memberi pengaruh yang positif terhadap teman-temanya. Sebaliknya anak yang di rumahnya kurang mendapat pendidikan yang baik tentu akan memberi pengaruh yang negatif menurut karakter dan watak sang anak. Oleh sebab itu orang tua seharusnya mampu melihat secara cermat dan jeli sekolah yang pantas bagi anak-anak mereka. Orang tua tidak harus memasukkan anak mereka di sekolah-sekolah favorit semata dalam hal intelektual dan mengabaikan faktor perkembangan akhlaq bagi sang anak, karena sekolah tersebut akan memberi warna baru bagi setiap anak didiknya. Keseimbangan pelajaran yang diperoleh murid di sekolah akan lebih mampu menyeimbangkan keadaan mental dan intelektualnya. 

 

Karena itu sekolah yang memiliki keseimbangan kurikulum antara pelajaran umum dan agama akan lebih mampu memberi jaminan bagi seorang anak didik. 

 

c. Lingkungan Masyarakat. 

Masyarakat adalah komunitas yang terbesar dibandingkan dengan lingkungan yang kita sebutkan sebelumnya. Karena itu pengaruh yang ditimbulkannya dalam merubah watak dan karakter anak jauh lebih besar. Masyarakat yang mayoritas anggotanya hidup dalam kemaksiatan akan sangat mempengaruhi perubahan watak anak kearah yang negatif. Dalam masyarakat seperti ini akan tumbuh berbagai masalah yang merusak ketenangan, kedamaian, dan ketentraman. Anak yang telah di didik secara baik oleh orang tuanya untuk selalu taat dan patuh pada perintah Allah Subhannahu wa Ta'ala dan RasulNya, dapat saja tercemari oleh limbah kemaksiatan yang merajalela disekitarnya. 

 

Oleh karena itu untuk dapat mempertahankan kwalitas yang telah terdidik secara baik dalam institusi keluarga dan sekolah, maka kita perlu bersama-sama menciptakan lingkungan masyarakat yang baik, yang kondusif bagi anak. Jika setiap orang merasa tidak memiliki tanggung jawab dalam hal beramar ma’ruf nahi munkar, maka segala kemunkaran bermunculan dan merajalela di tengah masyarakat kita dan lambat atau cepat pasti akan menimpa putra dan putri kita. Padahal kedudukan kita sebagai umat yang terbaik yang dapat memberikan ketentraman bagi masyarakat kita hanya dapat tercapai jika setiap individu muslim secara konsisten menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, karena Allah Subhannahu wa ta'ala berfirman:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah...” (QS. Ali Imran: 110). 

 

 Untuk itu di akhir khutbah ini marilah kita bersama-sama merasa peduli terhadap kelangsungan hidup generasi kita, semoga dengan kepedulian kita itulah Allah Subhannahu wa Ta'ala akan senantiasa menurunkan pertolonganNya kepada kita dan memenangkan Islam di atas agama-agama lainnya. Marilah kita berdo’a kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala .

 

 رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ.

10/13/2020

Sabar Ngadhepi Pandemi Virus Corona Kanthi Nindakaken Protokol Keagamaan lan Kesehatan, Khutbah Bahasa Jawa

Usaha, ikhtiyar lan tawakal ngadhepi lan nanggulangi nyebaripun virus corona, ampun nglokro nanging kedah yakin. Bilih balak, musibah lan bencana badhe sirna. Kanthi punika kedah nindakaken protokol keagamaan lan protokol kesehatan. Mugi slamat, sehat lan bagas waras.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَتِ وَالنُّوْرِ ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِءُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاءُالْحُسْنَى, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ,اَلْمَبْعُوْثُ بِالْحَقِّ وَالْوَفَى. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ: اَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنُ رَحِمَكُمُ اللهُ, اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ رَبُّكُمْ فِى الْقُرْانِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوا اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُوااللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Sedaya puji namung kagunganipun Allah, Gusti ingkang tansah nyempurnakaken nikmatipun kagem kita sedaya, nikmatipun kaluberaken boten enten watesipun, rahmanipun lan barakahipun wiyar kanthi boten winates. Shalawat lan salam mugi kanjuk dhateng uswah hasanah, junjungan kita nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat lan sedaya tiyang ingkang tansah dherekaken lan nggesangaken sunnahipun. 

 

Mangga anugerah Allah ingkang sampun dipun paringaken dhateng kita, arupi, iman lan Islam ingkang tansah tinancep ing manah, tansah kita tingkataken supados dados taqwa sak leresipun, kanthi nindakaken nindakaken dhawuhipun Allah lan rasulipun selaras kalian usaha ingkang maksimal nalika ninggalaken sedaya ingkang dipun awisi Allah lan rasul. Mekaten punika ingkang dipun wastani taqwa ingkang sak leresipun, selaras kalian janjinipun. Kanthi panuwun mugi-mugi kita kalebet golonganipun tiyang ingkang badhe dipun paringi kamulyan wonten ngarsanipun Allah SWT.

“Satuhune wong kang paling mulya ing antarane sira ana ngarsane Allah yaiku wong kang paling taqwa. Satuhune Allah Maha Pirsa lan Maha Waspada”. (QS. Al Hujurat: 13) 

 

Kaum muslimin Jemaah Jum’ah Rahimakumullah 

Menawi kita gatosaken, bilih dumugi wekdal sapunika virus corona/ Covid-19 dereng sirna saking bumi, kanthi punika kita ampun ngentengaken utawi nyepelekaken wontenipan pandemi. Namung kita kedah yakin bilih musibah punika mesthi wonten akhiripun, kanthi rahmatipun Allah dhateng kita sedaya. 

 

Kanthi punika kangge ngadhepi pandemi punika kita nindakaken protokol keagamaan lan protokol kesehatan. Nindakaken protokol keagamaan kita mraktekaken kandungan surat Al Ashr, ingkang ngandung sekawan perkawis ingkang kedah kita tindakaken. 

 

Sepindhah kita kiyataken iman dhumateng Allah, Tauhidullah, lan ugi dipun tebihi sedaya bentuk kemaksiatan. Perlu kita mangertosi bilih, musibah lan bencana boten badhe tumurun wonten ing bumi, kejawi nalika saperangan penduduk bumi sampun nindakaken kedhaliman kaleres dhateng Allah lan ugi dhateng pribadinipun piyambak. Allah sampun paring pimut wonten Alquran:

“lan ora tau (uga) Ingsun nyirnakake kota-kota, kejaba penduduke padha nglakoni tumindak aniyaya” (QS. Al Qhashas: 59) 

 

Dados nalika Gusti Allah nurunaken balak lan musibah, amargi penduduk bumi sampun nindakaken pedamelan aniyaya. 

 

Kaping kalih, wa’amilus shalihah, mangga kita tebaraken amal shalih punapa kemawon, shalat gangsal wekdal mangga dipun tingkataken kualitasipun lan tepatipun, syukur kanthi nindakaken shalat-shalat sunnah ingkang dipun tuntunaken dening Rasulullah SAW. Puasa sunnahipun mangga dipun tindakaken. Punapa malih shadaqahipun, amargi salah setunggal saking shadaqah saged nutup murkanipun Allah dhateng makhluqipun lan saget ngangkat bencana ing bumi. Mila wonten surat Munafiqun benjang ing dinten akhir, wonten tiyang ingkang pingin dipun konduraken ing dunya saperlu kangge nindakaken shadaqah.

"Duh Gusti, kenging punapa Panjenengan boten batalaken (pejah) kula dumugi wekdal ingkang caket, kang nyebabaken kula saget shadaqah lan kawula kelebet tiyang-tiyang ingkang shalih?" (QS. Munafiqun: 10) 

 

Lan ugi, mangga kita tingkataken akhlaq pribadi, keluarga lan akhlak sosial, kanthi nindakaken kesaenan lan nindakaken amal saleh, ampun supe wonten ing amliyah kanthi leres, nalika nindakaken dol-tinuku ampun ngantos wonten tumindak goroh lan palsu. Mugi-mugi kanthi mekaten Allah badhe paring pangapunten dhumateng kita. 

 

Kaping tiga, dipun kulinakaken paring wasiat ingkang haq “watawashaubil haq”, leres lan sae tindakan napa malih wonten hal-hal ingkang penting. Kita dipun dhawuhi tansah tumindah leres lan jujur dan bergaul kalian tiyang- tiyang ingkang leres lan jujur. Allah SWT paring dhawuh wonten Alquran surat Attaubah ayat 119.

“Hai wong-wong kang padha iman, taqwaha maring Allah, lan becike sira bareng-bareng karo wong kang bener”. (QS. Attaubah: 119) 

 

Kaping sekawan kita budayakaken kesabaran,” (watawa shaubis-shabri), sabar nalika nampi musibah lan bencana, kelebat pagebluk/ virus corona. Mila ampun nglokro, kita kedah yakin kanthi usaha lan ikhtiyar midherek dhawuhipun Allah kita badhe dipun tebihakaen saking balak, musibah lan bencana. Allah sampun dhawuh wonten Alquran:

“Hai wong-wong kang padha iman sabara sira lan kuwatna kesabaran-ira lan tetep waspada (ing watesing negara) lan taqwaha marang Allah, supaya sira beja”. (QS. Ali Imran: 200) 

 

Usaha lan ikhtiyar kita tindakaken, protokol keagamaan lan protokol kesehatan. Nindakaken protokol kesehatan kanthi tansah ngagem masker, ngulinakaken nyuci astanipun, jagi jarak lan ampun kempal-kempal ingkang boten wonten manfaatipun. Nutup kemadharatan kangge merkoleh kemaslahatan ingkang langkung ageng. Rasulullah SAW ngemutaken dhateng kita:

 الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ 

“Wong mukmin kang kuat lwih becik timimbang wong mukmin kang loyo, kang ing loro-lorone tetep ana apike”. (HR. Muslim) 

 

Mugi-mugi Allah ngijabahi panuwun kita, sahingga balak, musibah lan bencana arupi virus corona unika enggal sirna. Amin, amin ya Robbal ‘alamin.

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

10/07/2020

Protokol Keagamaan dan Protokol Kesehatan, Usaha dan Ikhtiar Atasi Covid-19, Khutbah Bahasa Indonesia

Covid-19 masih belum reda, oleh karena itu jangan menyepelekan dengan menganggap enteng. Namun kita harus yakin bahwa musibah pandemi ini insya-Allah akan berakhir atas kekuasaan Allah dan rahmat dan rahim Allah kepada kita sekalian. Karena itu marilah kita melaksanakan dua protokol sekaligus yang pertama adalah protokol keagamaan yang kedua protokol kesehatan.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَتِ وَالنُّوْرِ ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِءُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاءُالْحُسْنَى, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ,اَلْمَبْعُوْثُ بِالْحَقِّ وَالْوَفَى. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ: اَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنُ رَحِمَكُمُ اللهُ, اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ رَبُّكُمْ فِى الْقُرْانِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا 

 

Segala puji hanya bagi Allah, milik Allah, Tuhan yang senantiasa menyempurnakan nikmatnya kepada kita sekalian, nikmatnya tercurah tiada henti rahmat dan barokah nya terbentang luas tiada tepi. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada uswah hasanah kita, junjungan kita nabi Muhammad SAW, para keluarga para sahabat dan semua orang yang senantiasa mengikuti dan menghidupi sunnah-sunnahnya. 

 

Kaum muslimin yang berbahagia. 

Marilah iman dan Islam yang sampai detik ini masih tertancap di hati kita, terus kita pelihara dan kita tingkatkan menjadi taqwa yang sebenarnya. Dengan melaksanakan perintah-perinah Allah dan rasulnya seiring dengan usaha kita di dalam meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah dan rasul itulah takwa yang sebenarnya. Dan kita yakin, bagaimana Allah janjikan kepada kita, semoga kita semuanya akan masuk di antara hamba-hambanya yang dimuliakan di sisi-nya karena ketakwaan kita .

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al Hujurat: 13)

 

 Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah. 

Marilah kita sadari bersama-sama, bahwa sampai dengan hari ini Covid-19 masih belum reda, oleh karena itu jangan sekali-kali kita menyepelekan dengan menganggap enteng dalam masalah covid ini. Namun kita harus yakin bahwa musibah pandemi ini insya-Allah akan berakhir atas kekuasaan Allah dan rahmat dan rahim Allah kepada kita sekalian. Oleh karena itu jemaah Jum’ah Rahimakumullah marilah kita bersama-sama melaksanakan dua protokol sekaligus yang pertama adalah protokol keagamaan yang kedua protokol kesehatan. 

 

Melaksanakan protokol keagamaan kita mempraktekkan kandungan surah yang pendek yaitu surat Al ‘Asr di sana ada empat perkara yang sangat mendasar yang harus kita laksanakan: 

 

Pertama: Kuatkan iman, Tauhidullah dan sekaligus jauhilah, hindari segala bentuk kemaksiatan. Suatu bencana suatu musibah tidak akan diturunkan oleh Allah ke bumi kecuali karena sebagian penduduk bumi melakukan kezaliman baik terhadap Allah maupun terhadap dirinya Allah mengingatkan kepada kita dalam surat Al Qashas ayat 59:

“Dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” 

 

Jadi sekarang pandemi Covid-19 sudah melanda seluruh dunia, ini menandakan bahwa seluruh penduduk dunia ini sudah melakukan perbuatan kezaliman, baik terhadap Allah maupun terhadap dirinya sendiri. 

 

Kedua, pesan surat Al “Asr “wa ‘amilus shalihat”. Mari kita tegakkan amal shalih, berupa apa saja, ibadah fardhu kita kita tingkatkan kualitasnya dan ketepatan waktunya, syukur dengan menambah salat-salat sunnah yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW, shaum sunnahnya marilah kita pelihara, shadaqahnya apalagi, karena shadaqah itu satu diantara hikmahnya adalah bisa menghindarkan dari kemurkaan Allah kepada hamba-Nya dan bisa mengangkat bencana yang menimpa. Oleh karena ada orang yang menyesal karena sedikit shadaqahnya, sehingga ingin dikembalikan lagi hidup di dunia:

"Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku Termasuk orang-orang yang saleh?" (QS. Munafiqun: 10)

 

Demikian pula marilah kita tingkatkan akhlak pribadi, keluarga dan akhlak sosial kita dengan berbuat baik atau dengan amal shalih, jangan lupa muamalahnya yang benar dalam transaksi, jual-beli jangan ada tipuan, jangan ada kecurangan, jangan ada kepalsuan. Mudah-mudahan dengan itu Allah memberikan ampunan kepada kita. 

 

Ketiga, budayakan kebenaran “tawa shaubil haq” baik benar didalam niat, apapun yang akan dikerjakan, benar di dalam ucapan kepada siapapun, jangan ada ketidakjujuran, apalagi dalam hal-hal yang yang sangat penting.

 

Kaum muslimin yang dirahmati Allah. 

Kita memang diperintahkan untuk terus berbuat benar, jujur dan terus bergaul dengan orang-orang yang benar dan orang-orang yang jujur,

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (QS. Attaubah: 119) 

 

Keempat: budayakan kesabaran “watawa shaubis shabr”, sabar dalam menghadapi apapun, cobaan yang sedang menimpa kepada kita sekalian termasuk pandemi saat ini. Oleh karena itu jangan putus asa, yakinlah bahwa suatu saat, dengan usaha dan ikhtiar kita sesuai dengan tuntunan Allah dan rasulnya insya- Allah, Allah akan mengangkatnya:

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”. (QS. Ali Imran: 200) 

 

Yang kedua protokol kesehatan sebagaimana, keputusan pemerintah agar membiasakan memakai masker setiap keluar rumah, biasakan cuci tangan setelah melakukan semua kegiatan, biasakan jaga jarak, seperti yang sedang kita laksanakan sekarang ini, shaf yang mestinya rapat, namun karena pandemi ini kita renggangkan, untuk menjaga jangan ada penyebaran virus yang berbahaya ini, dan dalilnya jelas “sadduddara’i” yaitu menutup pintu kemadharatan untuk meraih kemanfaatan ini besar. 

 

Kaum muslimin Jemaah Jum’ah Rahimakumullah. 

Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita sekalian:

 الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ 

'Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta 'ala daripada orang mukmin yang lemah. Pada masing-masing memang terdapat kebaikan. (HR. Muslim) 

 

Hadits tersebut mengingatkan kepada kita sekalian, bahwa mukmin yang kuat, sehat lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah dalam segala urusan. Di tengah hati situ diperingatkan kepada kita, supaya kita jangan berbuat lemah, jangan putus asa, kita terus berikhtiar dan kita terus berdoa kepada Allah, agar pandemi yang sedang kita hadapi ini mudah-mudahan segera berakhir, amin ya Rabbal ‘alamin.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

10/03/2020

Kesaktian Pancasila dan Kesaktian Manusia, Khutbah Jum’at Bahasa Indonesia

Pancasila adalah idiologi dasar negara Indonesia, telah beberapa kali mengalami ujian, namun karena kandungan Pancasila sesuai dengan keyakinan dan budaya bangsa Indonesia sehingga Pancasila tetap sakti. Sila-sila Pancasila sesuai dengan syari’at Islam.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بنِعْمَةَ اْلِإيْمَانِ وَاْلإِسْلَامِ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ أَهْوَالِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَافِعُ اْلأُمَّةِ وَخَيْرُ اْلبَرِيَّةِ, اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ وَيَجْتَنِبُوْنَ اْلَمنْهِيَّاتِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah 

Pertama dan yang paling utama khatib senantiasa berwasiat, marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah yaitu dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah. Marilah kita kuatkan usaha, ikhtiar dan tawakal kita kepada Allah untuk memutus penyebaran pandemi Covid-19, yang mana kita berharap Covid segera berlalu namun yang terjadi penularan covid semakin meningkat. 

 

Karena itu marilah kita selalu berupaya untuk menerapkan protokol kesehatan, yaitu dengan membiasakan untuk mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan. Disamping kita menerapkan protokol kesehatan kita juga berupaya untuk menerapkan protokol keagamaan yaitu dengan meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah memperbanyak dzikir memohon ampunan kepada Allah dan meningkatkan Amaliyah ibadah baik ibadah mahdhah maupun ibadah ghairu mahdhah. 

 

Negara Indonesia mengalami pergolakan, rakyatnya mengalami penderitaan, siksaan akibat dari perbuatan manusia. Selama tiga setengah abad Bangsa Indonesia hidup dalam tekanan siksaan kaum penjajah, rakyat Indonesia hidup di negeri sendiri tapi laksana hidup di negeri orang lain, karena yang menguasai adalah orang lain. Kemudian atas perjuangan dan pengorbanan para pahlawan pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaan. Setelah proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia masih mengalami siksaan dan penderitaan yang disebabkan oleh saudaranya sendiri yaitu sesama warga negara Indonesia. 

 

Pada tanggal 30 September 1965 terjadi pemberontakan G30S PKI, mereka akan mengganti ideologi negara Indonesia yaitu Pancasila diganti dengan ideologi komunis karena itu pada tanggal 30 September 1965 ada 10 pahlawan revolusi yang disiksa, dibantai, dibunuh dan dimasukkan dalam sumur tua atau lubang buaya. PKI tidak menyetujui berdirinya negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, sehingga akan diganti dengan faham komunis. Karena komunis tidak sesuai dengan idiologi bangsa Indonesia yang religious maka akhirnya dapat dilumpuhkan dan pada tanggal 1 Oktober 1965 dinyatakan sebagai hari Kesaktian Pancasila dan pada tahun ini baru saja diperingati. 

 

Pancasila adalah dasar negara merupakan sumber dari segala sumber hukum bangsa Indonesia, Pancasila bisa mengeratkan bangsa Indonesia yang mempunyai agama yang berbeda, keyakinan yang berbeda, suku bangsa dan bahasa yang berbeda, bisa disatukan dalam satu ideologi yaitu Pancasila. Pada khutbah ini akan disampaiakan tentang Pancasila dalam perspektif Islam. 

 

Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa adalah menyatakan tentang ketauhidan dan hablum minallah. Allah berfirman dalam Alquran:

Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS. Al Ihlas: 1-4) 

 

Islam mengajarkan tentang prinsip Ketauhidan, Allah itu Maha Esa dan disebutkan didalam Pancasila sila pertama bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa. 

 

Sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab mencerminkan hablum minannas atau hubungan sesama manusia. Hablum minallah peran manusia sebagai hamba Allah dan habluminannas peran manusia sebagai khalifatul fil ard atau wakil Allah di muka bumi. Allah SWT berfirman:

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat: 13) 

 

Sikap saling mengenal pada ayat tersebut adalah jika sesama manusia sudah saling mengenal, maka akan timbul sikap saling menghormati. Salah satunya adalah melakukan dialog, karena dengan dialog akan memunculkan keterbukaan berbagai pihak yang pada akhirnya akan timbul sikap saling menghargai satu sama lain dan juga melakukan sikap saling menghormati. 

 

Sila ke-3 Persatuan Indonesia, adalah mencerminkan ideologi insaniyah yaitu persaudaraan sesama manusia dan ukhuwah Islamiyah yaitu persaudaraan sesama umat Islam. Allah SWT berfirman:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran: 103)

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”, (QS. Ali Imran: 105) 

 

Sikap toleransi, saling menghargai dan saling menghormati, dalam persatuan juga harus ditarik garis persamaan bukan garis perbedaan yang akan memunculkan perpecahan dan permusuhan. 

 

Sila keempat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Kerakyatan sejalan dengan prinsip Islam yaitu mudzakarah atau perbedaan pendapat dan as-syura yaitu musyawarah. Firman Allah dalam Alquran.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 159) 

 

Sila ke-5 keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila ini sejalan dengan prinsip keadilan dalam Islam keadilan sosial berkaitan dengan maqashid al syari’ah (sasaran-sasaran syari’at) yang terdiri dari tiga hal: 

 

Pertama dharuriyah perlindungan terhadap hak-hak yang bersifat esensial bagi kehidupan seperti agama atau addin, jiwa atau nafs, keturunan atau nasab, akal atau aql, harta atau mall

 

Kedua hajiyah yaitu menemukan hal-hal yang diperlukan dalam hidup manusia, tetapi bobotnya di bawah dharuriyah. 

 

Ketiga tahsiniyah perwujudan hal yang menjamin peningkatan kondisi individu dan masyarakat. Dalam prinsip keseimbangan kehidupan ekonomi, Alquran mencela orang yang sibuk memupuk harta hingga melupakan kematian:

“ Kecelakaanlah bagi Setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya Dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah”. (QS. Al Humazah: 1-4) 

 

Demikianlah bahwa seluruh sila dalam Pancasila selaras dengan ajaran Islam. Karena itu setiap muslim yang telah memahami dan melangamalkan ajaran Islam pada dasarnya telah mengamalkan Pancasila. Oleh karena itu sebagai muslim sudah semestinya untuk mempertahankan Pancasila sebagai idiologi bangsa dan Negara Indonesia.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

9/30/2020

Awisan Damel Kapitunan Kangge Ngedoh Seka Bilahi, Khutbah Bahasa Jawa

Manungsa punika salah setunggaling makhlukipun Allah SWT ingkang dipun paringi amanah dados khalifah ing bumi. Kanthi punika gesang ing alam dunya manungsa punika sampun dipun paringi pitedah kasebat ing dalem kitab suci lan assunnah. Ing alam dunya kedah saget damel kesahenan, ampun damel risak ingkang saget nuwuhaken kapitunan lan cilaka ing gesang.


اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بنِعْمَةَ اْلِإيْمَانِ وَاْلإِسْلَامِ وَاْلِاسْتِقْلَالِ أَوِاْلحُرِّيَّةِ، وَأَفْهَمَنَا مِنْ عُلُوْمِ الدِّيْنِ وَاْلعَقِيْدَةِ، وَبَيَّنَ لَنَا وَأَرْشَدَنَا اْلأَخْلَاقَ الْكَرِيْمَةَ وَاْلأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ أَهْوَالِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَافِعُ اْلأُمَّةِ وَخَيْرُ اْلبَرِيَّةِ, اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ وَيَجْتَنِبُوْنَ اْلَمنْهِيَّاتِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ 

 

Kaum muslimin Jemaah Jum’ah Rahimakumullah 

Boten wonten wasiat ingkang langkung utami, kejawi wasiat ningkataken iman lan taqwa dhumateng Allah SWT, amargi kanthi iman lan taqwa punika, insya-Allah gesang kita tansah pinaringan pitedah, dipun gampilaken sedaya perkawis ing dunya lan benjang wonten ing akhirat. Kanthi mekaten ing sak dangunipun gesang sumangga kita tansah nindakaken kemaslahatan, kesahenan lan nilar sedaya tumindak ingkang dhatengaken kerusakan, musibah lan bencana kagem pribadinipun piyambak, tiyang sanes, masyarakat, bangsa lan negari. Rasululah SAW sampun dhawuh:

 لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ (رواه مالك وابن ماجة) 

“Aja gawe kapitunan lan aja dadekake kapitunan (HR. Malik lan Ibnu Majah) 

Tumindak kapitunan utawi tumindak ingkang dhatengaken bahaya punika salah satunggalipun pedamelan ingkang dipun awisi dening agami. Menawi ing basa Internasionalipun dipun wastani teroris, inggih punika satunggaling tumindak ingkang dhatengaken raos ajrih lan khawatir dhateng tiyang sanes malah bahayani dhateng tiyang sanes. Tumindak punika saget nuwuhaken lara, papa lan cintraka malah dados pesating nyawa, rusaking griya, gedung-gedung kantor, panggenan bisnis lan saterasipun. 

 

Kaum muslimin Jemaah Jum’ah Rahimakumullah 

Mapinten-pinten tumindak ingkang dhatengaken kapitunan, ing antawisipun: 

1. Mejahi manungsa. Mejahi manungsa punika kalebet dosa ageng, sahingga menawi ing negari Islam ukumanipun inggih dipun pejahi lan ing negari Indonesia dipun atur dening hukum pidana, gumatung kalian marginipun mejahi. Sahingga nalika hukum ing dunya boten sami nanging hukum wonten akhirat yektos sami. 

“Lan sing sapa wonge mateni wong mukmin kanthi sengaja, mangka piwalese yaiku Jahannam, dheweke langgeng ing jerone lan Allah bendhu marang dheweke , lan nglaknati sarta nyediakake azab kang gedhe tumrap dheweke”. (QS. Annisa’: 93) 

 

2. Ngrisak alam, kados ngawontenaken penebangan maneka taneman, sahingga dhatengaken siti gugruk lan banjir. Kita kedah enget kalian mandatipun ingkang dipun paringaken dhateng manungsa supados tansah njagi lan ngrawat.

“ Lan namung Panjenengane kang nitahake sira minangka penguasa-penguasa ana ing bumi lan Panjenengane kang ngluhurake saperangan ira ngungkuli saperangan (kang liya) pirang-pirang derajat, supaya nguji ing sira marang apa kang wus diparengake marang sira”. (QS. Al An’am: 165) 

 

 3. Bucal sampah ing margi, kali lan selokan sahingga dhatengaken banjir. 

Kanthi punika ing perkawis kadunyan Rasulullah sampun ngendika:

 أَنْتُمْ اَعْلَمُ بِاُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ 

“ Kowe kang luwih ngerti kelawan urusan dunyamu”. (HR. Muslim) 

Sahingga para para ulama’ ngaturaken dhawuhipun rasul:

 أَنَّظَافَةُ مِنَ الْاِيْمَانِ 

“Satuhune reresik iku setengah saka iman”. (HR. Tirmidzi) 

 Lan para umara’ paring dhawuh supados bucal sampah wonten ing panggenan ingkang sampun dipun sediakaken. Dipun pisah antawis sampah organik kalian anorganik. Lan nindakaken M tiga, inggih punika membakar, mengubur, memanfaatkan (mbakar, mendhem, gunakake). Tumindak punika kangge upaya nyegah bibit lemut supados katebihaken saking penyakit malaria, demam berdarah, cikungunya. 

 

4. Numpak kendaraan kanthi ngebut lan boten netepi aturan lalu lintas, nerjang rambu-rambu lalu lintas, boten ngagem helm, boten ngurubaken lampu, lan kagem ingkang ngasta mobil boten ngagem sabuk pengaman. Tumindak punika ugi damel kapitunan, awakipun piyambak lan tiyang sanes kalebet keluarganipun. Sampun kathah korban Laka (lalu lintas lan jaan raya) sahingga dhatengaken duka keluarganipun. Kanthi punika margi ingkang dipun wiyaraken tasih kirang wiyar, amargi kendaraanipun tambah kathah, kanthi punika nalika nembe ngasta kendaraan kedah ngantos-antos, saperlu ngedohi saking bilahi. 

 

 5. Ngunjuk minuman keras, napa malih miras oplosan, main lan colong jupuk mekaten punika banget anggenipun damel kapitunan dhateng pribadi lan tiyang sanes. Tumindak punika asring sami gandheng ceneng. Ngunjuk minuman keras menawi sampun ketagihan kedah ngunjuk, menawi boten wonten kedah tumbas, menawi boten wonten jatah kagem tumbas sahingga mendhet jalan pintas kanthi colong jupuk. Utawi menawi main nembe untung badhe dipun ginakaken kangge ngunjuk minuman keras, menawi boten untung ugi badhe nindakaken colong jupuk. Kanthi mekaten tumindak punika dipun awisi dening Allah.

“He wong-wong kang padha iman, satemene (ngombe) khomr, totohan, (nyembelih qurban kanggo) brahala, mbedhek nasib nganggo panah, kuwi lelakon ala kalebu lelakone syetan, mula saka kuwi tinggalna lelakon kuwi supaya sira entuk kauntungan”. (QS. Al Maidah: 90) 

 

 6. Ngendika kulina goroh, cidra ing janji, tumindak lacut, iri, dengki, tamak, dados tumindak kejawi damel kapitunan dhateng tiyang sanes ugi pribadinipun piyambak. Amargi tumindak mekaten punika saget damel kotoring qalbu, ati ingkang buthek sahingga badhe rumaos tebih kalian Gusti Allah.

“Lan ingsun ora ngumbarake awak ingsun (saka kesalahan), jalaran satemene nepsu iku tansah ngajak marang duraka, kejaba nepsu kang kaparingan rahmat dening Pengeran ingsun. Satemene Pangeran ingsun iku Maha Pangapura tur Maha Welas Asih” (QS. Yusuf: 33) 

 

Kaum muslimin Jemaah Jum’ah Rahimakumullah 

Tumindak amel kapitunan satemah dados tumindak ingkang nglanggar dhateng awisanipun Allah, amargi kanthi agami lan kitab suci ingkang dipun wahyuhaken dhateng para Rasulipun, Allah paring pitedah supados manungsa punika saget tumindhak wonten margi ingkang dipun ridhani dening Allah, damel kemaslahatan. Kanthi punika tumindak nglanggar dhateng awisanipun Allah punika badhe dipun paringi piwales arupi musibah bencana lan siksa keleres ing dunya lan ing akhirat samangke. Allah SWT sampun ngendika:

“Sak temene piwalese wong-wong kang merangi Allah lan rasule serta gawe rusak ana ing bumi, dheweke naming dipateni, disalib utawa dipotong tangan lan sikile kanthi selang-seling, utawa dibuang saka negara (asale). Kang kaya mengkono mau ana ing dunya, la ana ing akhirat mengko dheweke bakal intuk siksa kang banget larane”. (QS. Al Maidah: 33).

 

Akhiripun kanthi nyuwun pitedah dhateng Allah, mugi dipun tebihaken saking margi ingkang sasar, lan dipun paring pitedah dhateng margi ingkang leres, amin.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

9/24/2020

Cobaning Mujudaken Keluarga Sakinah, Dambaan Pengantin kakung lan Estri

Seluarga sakinah punika pangajeng-ajeng sedaya tiyang, napa malih kagem piningantin kekalih. Ananging margi saben-saben tiyang punika gadhahi tumindak ingkang boten sae, sahingga pinengantin kekalih kedah salah setunggalipun ngalah. Perkawis pacoban mujudaken keluarga sakinah punika dipun serat dening Kasi Bimas Islam, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Bapak Drs. H. Mahbub, M. Ag

 

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْاِنْسَانَ وَعَلَّمَهُ الْبَيَانِ, اَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ 

 

Kaum muslimin Jema’ah Jum’ah Rahimakumullah 

Langkung rumiyin sumangga kita tansah ngunjukaken raos syukur wonten ngarsanipun Allah SWT ingkang sampun paring mapinten-pinten kenikmatan dhumateng kita sedaya, shalawat lan salam mugi katur dhumateng junjungan kita nabi agung Muhammad SAW, para keluarga, shahabat tabi’in, tabiit-tabi’in ila yaumiddin. Sak lajengipun minangka khatib kawula wasiyat dhumateng awak kula piyambak khususipun lan umummipun dhateng panjenengan sedaya, sumangga kita sesarengan tansah ningkataken taqwa dhumateng Allah SWT kanthi nindakaken sedaya dhawuh-dhawuhipun Allah lan nebihi sedaya awisanipun Allah SWT, sahingga menawi kita saget nindakaken perkawis kasebat fa insya-Allah kita badhe slamet wonten ing dunya ngantos dumugi akherat amin ya rabbal ‘alamin. 

 

 Kaum muslimin Jema’ah Jum’ah Rahimakumullah 

Wonten ing pundi panggenan pasangan suami isteri tentu kemawon dambakaken setunggalipun kelanggengan wonten ing mahligai rumah tangga, kasebat wonten setunggaling rangkaian do’a pernikahan inggih punika, mugi mugi dadosnaha keluarga ingkang Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah. Ananging perkawis punika boten saged kelampahan, menawi ing antawis setunggalipun pasangan nyidrani wonten ing sikap, sifat utawi pakaryanipun. Temtu kemawon wonten fihak ingkang kuciwa lan penggalipun sakit, kawontenan punika saterasipun kadospundi kelajenganipun balai griya punika. Mila piyambakipun kuciwa ing sadangunipun gesang, atinipun sampun keblinger, kehormatan lan katrisnanipun sampun ical kagantos dados mrina lan sengsara. Pramila supados balai griya tansah kajagi saking sikap lan prilaku sasar, mila saben-saben anggota keluarga kedah mahami dhateng tugas lan tanggung jawabipun kasebat ing Alqur’an:

“Kaum pria kuwi minangka pemimpin tumprap kaum wanita, mula sangka kuwi Allah wus paring keluwihan marang saperangan (kaum wanita), lan sebab dheweke (kaum pria) wus menehi nafkah saperangan bandhane. Marga kuwi kaum wanita kang saleh, hiya iku kang ta’at marang Allah tur njaga kehormatane, nalika bojone lagi lunga, amarga Allah wus njaga (dheweke)”. (QS. An-nisa’: 34) 

 

Wonten ayat Alqur’an kasebat sampun jelas bilih wonten bale griya, garwa kakung dados pemimpin ingkang gadhah jejibahan maringi nafkah lahir lan batin. Salah setunggalipun bentuk nafkah inggih punika kanthi nyambut damel kangge njangkepi kabetahanipun pagesangan saben dintenipun, kanthi ikhlasing manah. Perkawis punika boten gampil kagem garwa kakung, pramila dipun betahaken jiwa ingkang tanggel jawab sarta keimanan saking ketetapan Allah SWT. 

 

Ananging kasunyatanipun wonten ing pagesangan tasih kathah kanca estri ingkang tebih saking kasunyatan, kathah ingkang dadosaken garwo kakungipun kangge mesin ngudi arto lan pelayan ing keluarga. Minangka mesin pados arto garwo kakung dipun tuntut kangge nyambut damel tekuk kringkel, meras keringat boten kenal lelah, ugi meksa garwo kakung kangge pados arto ingkang haram. Minangka pelayan ing bale griya piyambak kanca estri ugi nuntut garwo kakung nyambut damel sedaya perkawis bale griya, leres ing perkawis dapur, reresik griya, ngasuh putra-putri. Cekak aos garwa kakung ibarat pembantu wonten dalemipun piyambak. 

 

Dereng malih menawi kanca estri boten marem kalian pedamelan garwa kakung, piyambakipun badhe ngolok-olok, mbentak lan milara badanipun, kanca estri badhe cuwa lan boten rila menawi setunggaling wekdal garwa kakung nilarekan tanggel jawab utawi bagi katresnan dhumateng wanita sanes, keranten awonipun tingkah laku kanca estri. 

 

Kaum muslimin Jema’ah Jum’ah Rahimakumullah 

Mapinten-pinten perkawis ingkang damel para kanca estri kagungan perilaku ingkang boten sae antawisipun : 

  1.  Kirang raos syukur. Perkawis punika saged kabukten amargi piyambakipun tansah rumaos boten marem dhateng tindakanipun garwa kakung, khususipun perkawis materi. Pribadinipun tansah ningali ingkang wonten nginggil sehingga tansah rumaos kirang punapa ingkang sampun dipun paringaken saking garwa kakung. 
  2. Garwa kakung boten saget dados tulang punggung keluarga. Perkawis punika panci dados sebab kisruhipun bale griya, menawi garwo kakung boten gadhah pendamelan (nganggur), milo kanca estri kedah siap boten nuntut punapa ingkang boten dipun miliki saking garwa kakung, khususipun materi dumugi garwa kakung saget maring dhumateng kanca estri. Semanten ugi menawi ingkang nyambut damel namung kanca estri. Menawi kanca esteri sampun turah bandanipun lan sampun nyekapi kabetahan gesang tanpa boten wonten tambahan saking garwa kakung, boten prayogi garwa kakung mendel kanthi boten usaha kagem nyambut damel, kranten sinaosa sekedik ingkang saget dipun parengaken garwa kakung dhumateng kanca estri tetep dipun cathet minangka nafkah ingkang dipun wajibaken Allah SWT, lan kanca estri boten pareng ngremehaken, kranten banda garwa kakung boten sebanding kaliyan banda kanca estri. 

 

Ananging anehipun ngadhepi perkawis punika boten sekedik para garwa kakung ingkang boten waget tumindak kanthi tegas dhumateng durakanipun para kanca esteri. Lan dhumateng para kanca estri kedahipun boten bingah kalian tumindakipun dhateng garwa kakung, keranten menawi setungaling wekdal garwo kakung leres-leres nilaraken kanca estri, boten namung kanca estri kemawon ingkang rugi, ananging putra-putri ugi badhe rugi. 

 

Wondene akibat saking tiyang estri dipun tilar dening garwo kakung inggih punika: 

  1. Boten terpenuhipun kabetahan kangge pangupajiwa khususipun menawi kanca estri boten makarya. 
  2. Para putra badhe kleleran. Kanjeng nabi Muhammad SAW nate ngendika: 

 “Sak bagus baguse wong wadon yaiku wong wadon kang nyenengaken nalika di sawang kang garwa, lan taat nalika diperintah, lan bisa jaga awak lan bandane nalika kang garwa ora ana” (HR. Thabrani). 

 

Kaum muslimin Jema’ah Jum’ah Rahimakumullah 

Kanthi punika tugas lan kewajiban tiyang sepuh kagem didik lan ngrawat putra-putrinipun, ngantos, dumugi ageng, semanten ugi kanca estri minangka guru ingkang pawitan lan garwa kakung minangka kepala sekolah wonten ing tlatah pendidikan ing setunggalipun institusi “Keluarga”. Sehingga menawi garwa kakung maringi keputusan talaq karanten durakanipun kanca estri mila badhe kados pundi nasib putra- putrinipun. Saget ugi putra-putrinipun badhe matur menawi piyambakipun boten kepingin dipun lahiraken wonten ing keluarga broken home. Piyambakipun boten mangertos kedadosan napa-napa dhateng tiyang sepuh kekalihipun, ananging margi egoisanipun tiyang sepuh kolo wau. Mekaten ingkang saget kula aturaken mugi mugi adosaken manfaat dhumateng samudayanipun, amin, amin ya Robbal ‘alamiin.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

9/17/2020

Mujudaken Shalat Ingkang Khusuk, Saget Nyegah Pakerti Awon Lan Mungkar

 

Tiyang-tiyang mukmin sami beja kemayangan,  ingkang khusuk shalatipun. Shalat minangka sarana pendidikan ingkang tumuju dhateng kesahenan lan nyegah dhumateng perkawis ingkang awon lan mungkar, mila punika kita tingkataken kualitas shalat kita, khususipun shalat gangsal wekdal, lan ugi ngathah-ngathahaken shalat sunat supados kita dados tiyang ingkang beja, amargi tiyang ingkang sregep nindakaken shalat punika badhe dipun lebetaken golonganipun tiyang-tiyang ingakang bagus utawi sae amanahipun.

اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ فَرَضَ الصَّلَاةِ عَلَى عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاَسْأَلُهُ الْمَزِيْدُ مِنْ فَضْلِهِ فِى جَمِيْع الْاَوْقَاتِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ,اَلْمَبْعُوْثُ بِالْحَقِّ وَالْوَفَى. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ: اَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنُ رَحِمَكُمُ اللهُ, اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ رَبُّكُمْ فِى الْقُرْانِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَااَيُّهَالنَّاسُ كُلُواْمِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلَالً طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانَ اِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّمُبِيْنٌ. 

Jama'ah Jum'ah Rahimakumullah. 
Mangga sareng-sareng ningkataken anggen kita taqwa, anggen kita nglampahi dhawuh-dhawuhipun Allah, tuwin nebihi awisan-awisanipun, samiya mangertosi bilih shalat ingkang dipun fardhukaken Allah dhumateng kita punika angghadhahi sifat lahir lan batos. Perlu kita kawuningani bilih shalat ingkang kita lampahi saben dinten punika kirang bobot, makna lan manfaatipun, menawi kita boten kersa ngupadi hakikatipun shalat midherek punapa samestinipun. Tandhanipun menawi shalat kita nggadhahi bobot, makna lan manfaat ingkang inggil punika wontenipun perubahan ingkang meningkat wonten ing pribadi kita utawi tiyang ingkang nindakaken shalat. Kados tiyang ingkang medhit dados loma lan seneng sedekah. Ingang aslinipun jirihan dados kendel, ingkang kala waunipun kirang sae pergaulanipun berubah lan meningkat dados sae. Jama'ah Jum'ah Rahimakumullah. Wonten ing surat Al Ankabut ayat 45 Allah SWT ngendika:
" Satemene shalat iku bisa nyegah saka perkara kang ala lan perkara kang mungkar"(Al Ankabut: 4) Kanthi ayat punika mangga kita teliti, analisa lan mendhet kesimpulan saking faedahipun shalat. Mangga kita tingkataken amal ibadah shalat kita kanthi khudhu', khusu', tawadhu' lan sujud dhateng ngarsanipun Allah SWT. Kejawi nindakaken shalat gangsal wekdal, mangga kita ngathah-ngathahaken shalat sunat, kados shalat rawatib, salat hajat, salat tasbih lan ugi shalat lail. Sedaya kalawau kita tindakaken namung ngupadi karidhanipun Allah SWT, dzat ingkang Maha Suci lan Maha Ngudanani, nanging kita kedah ngatos-ngatos ing dalem nindakaken shalat punika, sampun ngantos kalebet golonganipun tiyang-tiyang ingkang rugi lan getun ing tembe wingking, kados pangandikanipun Allah wonten Surat Al Mu'minun ayat: 1-3
" Temen beja wong-wong kang padha mu'min, yaiku wong-wong kang ing dalem nindakake shalat iku padha khusu'. Wong-wong akeh padha mlengos saka perkara ala" 

Jama'ah Jum'ah Rahimakumullah. 
Midherek keterangan ayat kasebat bilih tiyang-tiyang mukmin punika sami beja kemayangan, inggih punika tiyang-tiyang mukmin ingkang khusuk shalatipun. Shalat minangka sarana pendidikan ingkang tumuju dhateng kesahenan lan nyegah dhumateng perkawis ingkang awon lan mungkar, mila punika kita tingkataken kualitas shalat kita, khususipun shalat gangsal wekdal, lan ugi ngathah-ngathahaken shalat sunat supados kita dados tiyang ingkang beja, amargi tiyang ingkang sregep nindakaken shalat punika badhe dipun lebetaken golonganipun tiyang-tiyang ingakang bagus utawi sae amanahipun. Lan shalat punika mujudaken rahmat lan pitedah saking Alah SWT, Allah dhawuh mekaten:
" Alif lam mim, mengkana iku ayat kitab "Quranul Hakim" kang dadi pituduh lan rahmat marang-wong-wong kang becik (amaliahe). Wong-wong akeh kang padha gelem nindakake shalat, bayar zakat lan wong-wong iku padha yakin marang perkara akhirat. Wong-wong mengkana mau pada netepi pituduh ing Pangerane, mulane wong kang mengkana iku padha beja. (QS. Luqman: 1-5). 

Jama'ah Jum'ah Rahimakumullah. 
 Shalat punika mujudaken panggenan utawi maqam panyuwunan kita dhateng Allah minangka kawulanipun, shalat ugi mujudaken margi ingkang haq lan leres Pramila mekaten mangga kita giyataken lan kita tingkataken shalat berjama'ah, amargi kanthi jama'ah kita badhe pikantuk ganjaran 27 derajat. Ugi kanthi shalat berjama'ah kita badhe pikantuk manfaat, faedah lan hikmahipun ingkang boten sekedhik tumrap pribadi, bale griya, masyarakat lan negari. Kanthi nindakaken shalat berjama'ah, keluarga utawi rumah tangga kita badhe disiplin, teratur lan saget dados wasilah kangge nggayuh keluarga ingkang sakinah, mawaddah warohmah, ingkang dipun ridhani dening Allah SWT. Shalat ugi saget dados wasilah minangka dipun kabulaken do'a utawi panyuwunan kita, punapa malih menawi iman kita sampun kiyat lan kandel lan badhe tambah kiyat nalika kita tansah maos lan midangetaken ayat-ayatipun Allah, Allah ngendika mekaten:
" Satuhune wong-wong mukmin nalika den elingake (den sebut) asamane Allah mangka padha gumregah atine wong-won mukmin kabeh, lan nalika den wacakake ayat-ayate Allah marang-wong-wong mkmin, mangga padha tambah imane lan marang Allah wong-wong mau padha tawakal. Yaiku wong-wong akeh kang pada nindakake shalat lan padha gelem nafkahake rizkine. Kabeh iku wong kang padha iman kelawan haq, kanggo wong mu'min mau diangkat derajate ana ing Ngarsane Allah, uga oleh pangapura saka Allah lan rizki kang mulya". (QS: Al Anfal: 2)

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

8/25/2020

Renungan Tahun Baru Hijriyah, Manfaatkan Waktu, Jangan Sia-Siakan Waktu.

Setiap pergantian tahun sering kita menerima ucapan selamat tahun baru, semangat baru. Kata ucapan itu begitu melekat ditelinga sehingga dirinya pun juga ikut-ikutan mengucapkan selamat tahun baru, semangat baru. Kata semangat menunjukkan sikap yang optimis untuk menyongsong masa depan, dimulai dari bulan pertama pada suatu tahun. Memang orang hidup harus selalu optimis, berpikir positif dan berperasaan yang positif, dengan kata lain kita optimis, positif thingking dan positif feeling. Ungkapan ini yang akan menunjukkan berhasil atau tidaknya pada masa yang akan datang.
Taushiyah menjadi media muhasabah.

Sebenarnya tidak hanya pada tahun baru, tetapi di setiap mengawali langkah, atau mengawali beraktifitas harus optimis dan dengan semangat yang baru, karena itu awali upaya dengan meluruskan niat dengan senantiasa memohon petunjuk pada Allah, dengan memanjatkan doa. Pada umumnya orang mengawali aktifitas pada pagi hari, maka awalilah semangat bekerja dengan upaya untuk meraih ibadah yang lebih, dengan menegakkan shalat sunnah fajar dan melaksanaka shalat subuh dengan berjamaah. Maka disananalah muslim telah memiliki kekuatan spiritual untuk mendapatkan kenikmatan, kemuliaan, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.

Seandainya pada malam hari telah melaksanakan shalat tahajud, maka berapa waktu untuk bermunajat, bukan untuk mengerdilkan keutamaan shalat lail, namun pahala shalat subuh dengan berjamaah seperti orang yang beribadah semalam suntuk. Dan ditambah dengan shalat sunnah dua rekaat sebelum subuh seperti menggapai kebahagiaan dunia seisinya. Di sinilah bahwa ketika seorang muslim telah mengawali bangun pagi sebelum shalat subuh, maka Allah akan semakin lebar dalam membukakan pintu rahmatnya. Ternyata tidak sampai di situ, karena setiap muslim akan membiasakan untuk meraih rizqi yang berlimpah dengan melaksanakan shalat dhuha. Namun hendaknya harus pintar-pintar dalam mengatur waktu. Siapa dirinya dan sedang apa?

Ibadah shalat adalah kepentingan dan kebutuhan pribadi, sebagai wujud penghambaan diri kepada Allah, dan dirinya tidak bisa melepaskan tugas sebagai khalifatul ardhi. Bekerja dan beraktifitas adalah suatu kewajiban, apalagi bagi pegawai atau karyawan yang bekerja pada proses produksi dan layanan publik. Tidak bisa meninggalkan pekerjaan/ kewajiban lalu mengejar sunnah. Memang ini dua hal yang berbeda, yang satu pelaksanaan tugas manusia sebagai abdulah dan kedua sebagai khalifatul ard.

Berbeda tapi saling berkaiatan, hablun minallah akan berefek pada hablun minannas, dalam ayat Alquran disebutkan bahwa setiap bentuk penghambaan akan berdampak pada sikap dan perbuatan. Orang menegakkan shalat dalam setiap gerak-gerik atau kaifiyah shalat mengajarkan, bagaimanakah posisi takbirarul ikhram, ketika berdiri sambil menunduk melihat tempat sujud, ketika rukuk dan sujud kepala yang biasa berada diatas dengan ikhlas untuk sejajar bahkan lebih rendah dari pantat. Inilah simbol ketakdhiman dan ketawadhuan.

Demikian pula hablun minnanas akan berdampak pada kedalaman spiritual, adanya religious experience sehingga kebiasaan orang berbuat baik, suka menolong, membantu, mendoakan ternyata akan kembali pada dirinya atau kepada keluarganya. Maka kebiasaan-kebiasaan baik yang kadang tidak mungkin dilakukan orang lain dirinya justru semakin bergairah dan tertantang untuk melaksanakannya.

Menyia-nyiakan umur.
Umur manusia tidak akan ada yang mengetahui, sampai umur berapa, dan apakah ketika diberikan umur yang panjang hingga ajal menjemput tetap dalam kondisi sehat? Atau justru umurnya yang pendek, sakit-sakitan hingga ajal menjemput, atau umur yang panjang namun sakit-sakitan hingga ajal menjemput. Kita tidak ingin yang menurut dirinya buruk, umur panjang, selalu sakit-sakitan hingga ajal menjemput. Kita ingin umur yang panjang, selalu sehat, bisa bermanfaat, bahagia, sejahtera, meninggal dalam kondisi khusnul khatimah. Karena itu hendaknya membiasakan diri untuk selalu berfikir yang positif. Jangan biasakan bayang-bayang kegagalan menutupi mata hati dan fikiran.

Bahwa setiap manusia hidup pasti mempunyai masalah, dan masalah akan selalu datang silih berganti, namun hendaknya selalu yakin bahwa Allah telah menciptakan masalah, Allah memberikan masalah dengan memberikan cobaan kepada hamba-hambanya. Allah sayang pada hambanya, bahwa Allah telah mengukur kemampuan hambanya. Bahwa tidaklah Allah memberikan cobaan kecuali menurut kesanggupannya. Namun kadang seringnya masalah datang, terkadang lalai untuk segera mengatasinya. Sehingga dari masalah-masalah yang kecil akan menumpuk sehingga menjadi beban yang sangat berat.

Ada keluh kesah hamba Allah yang merasa resah karena hutang-hutangnya tak kunjung lunas. Sehingga setiap berangkat kerja dan ketika beraktifitas selalu mengharapkan untuk segera mendapat gaji. Waktu dilalui hanya menghitung jumlah gaji dan menghitung jumlah pengeluaran rutin keluarga dan kemampuan membayar hutang-hutang. Tidak disadari bahwa orang yang demikian ini sesungguhnya telah menyia-nyiakan waktu. Bagaimanakah waktu yang lalu hendaknya waktu yang dilalui dengan kekuatan, kemampuan, akal, fikir dan tenaga yang masih prima, tidak pernah merasa sakit, pemampilan perlente. Sebenarnya waktu-waktu itu akan lebih bermakna bila dapat mengeluarkan potensi dan kekuatan untuk merubah kondisinya. Namun menjadi sia-sia, ketika waktu yang masih produktif hanya digunakan untuk mengkalkulasi income dan outcame. Ketika telah sampai waktu penerimaan gaji mendapat kebahagiaan walau hanya sementara. Ternyata hutang-hutanya akan lunas hingga beberapa tahun lagi. Tidak sadar bahwa pada masa yang akan datang, adalah masa yang masih rahasia, apakah akan tetap sehat? Harapan tetapa sehat namun sesunggunhya waktu yang terus berjalan, usia semakin tua yang akan mempengaruhi fungsi metabiolisme tubuh dan produktifitas kinerja.

Karena itu tahun baru, dengan semangat baru hendaknya menjadi spirit untuk selalu mengembangkan diri, selalu mengolah dan mengasah fikr dan kalbu. Kadang kenyamanan akan menyebabkan orang cenderung pasif dan kurang produktif. Contoh seorang pegawai yang telah menjadi pegawai pemerintah, telah merasa nyaman dengan posisi dan kedudukannya. Gajinya tidak terlalu besar namun dipandang sudah cukup untuk kebutuhan keluarga. Kondisi kenyamanan ini akan melakukan rutininitas, pekerjaan dan aktifitas dilaksanakan menurut komando secara rutin. Tidak ada upaya untuk mengembangankan diri dalam ilmu, ketrampilan dan spiritual. Dirinya berfikir untuk apa belajar, mencari ilmu lagi toh dirinya telah mendapatkan gaji, dan temannya yang berpendidikan tinggi juga gajinya tidak terlalu berbeda dengan dirinya. Demikian pula dalam beribadah hanya melaksanakan ibadah-ibadah yang bersifat fardhu, karena merasa telah cukup melaksankaan kewajiban.

Masa yang akan datang tida ada yang tahu, ketika dua anaknya sakit. Dirinya dan istrinya berusaha untuk merawat dan menjaga anak-anaknya. Yang biasanya hidup telah merasa nyaman, berubah ketika harus datang pulang dari rumah ke rumah sakit, ke tempat kerja. Tidak lama pun tubuhnya merasa lelah demikian pula istrinya. Akhirnya karena kurangnya pengetahuan, dan ketrampilan dalam mengelola problem maka masalah semakin komplek. Ibadah yang minimalis belum bisa menjadi sarana untuk mengatasi masalah. Hal ini jauh berbeda dengan orang-orang yang selalu mengasah hati, fikir dan dzikir bisa mengatasi masalah dengan sistematism, tenang dan terencana.

Maka jangan sia-siakan waktu, banyak orang merugi karena waktu. Allah telah bersumpah dengan waktu, bahwa manusia benar-benar dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling berwasiat dalam untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran. (lih. QS. Al Ashr: 1-3). Andai Allah tidak sayang pada hambanya maka tidak akan mengingatkan kepada hambanya. Allah akan membiarkan hambanya dalam kehendak dan perbuatannya. Karena itu penghargaan terhadap waktu sangatlah penting, waktu yang telah berlalu tidak akan kembali dan akan terus pergi semakin menjauh. Waktu yang akan datangpun terasa begitu cepatnya akan datang. Maka merugilah bila tidak dapat memenej terhadap waktu. Waktu menunggu diganti menjadi waktu untuk berbuat dan berkarya.

Begitu berarti dan bermaknanya waktu, setiap orang mempunyai waktu yang sama 24 jam dalam sehari semalam. Berapa banyak orang telah memanfaatkan waktu dengan produktif, berapa waktu telah disia-siakan. Sungguh bernilaianya waktu bagi orang yang akan menjalani operasi, berapa bermaknanya waktu bagi orang yang membutuhkan pertolongan rumah saki karena kekurangan oksigen. Betapa bermaknanya waktu, maka calon pegawai yang akan menghadapi ujian, sungguh bermaknanya waktu bagi petani yang menanti waktu panen dan sebagainya. Karena itu dengan waktu ada orang yang menjadi pintar, bodoh, kaya, miskin. Dengan waktu manusia akan menjadapatkan hasil. Karena agar masa yang akan datang menjadi lebih baik Allah telah berpesan.


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hasy: 18)


8/04/2020

Raih Kedudukan dan Kenikmatan Abadi Dengan Shadaqah

Siapa yang tidak ingin kedudukan dan siapa yang tidak menginginkan kenikmatan yang abadi? Dengan kedudukan yang tinggi maka orang akan mendapatkan penghargaan dan penghormatan, bahkan kadang dengan kedudukan akan bisa mendapatkan sesuatu harapan yang sulit untuk diraihnya. Sehingga antara kedudukan dan kenikmatan biasanya saling berhubungan. Dengan kedudukan akan mendapatkan kenikmatan.

Kenikmatan dunia adalah fana, karena manusia bersifat dinamis, sesuatu yang pada awalnya nikmat namun karena dilakukan secara terus menerus maka akan berkurang atau bisa hilang kenikmatannya, baik karena obyek atau karena subyeknya. Rasululah Muhammad menjajikan kenikmatan yang abadi. Sekalipun sifat manusia yang dinamis namun kenikmatannya akan bervariasi dan tidak membosankan. Rasulullah Muhammad SAW memberikan tips untuk meraih kedudukan dan kenikmatan abadi dengan bershadaqah.

Ketika mendengar kata shadaqah maka yang terbersit dalam benak adalah dengan harta benda, karena itu kadang banyak orang yang sudah merasa jenuh dengan kata-kata shadaqah. Karena pemikirannya jangankan untuk memberikan orang lain untuk dirinya sendiri masih kekurangan. Atau ada yang berfikir, telah bersusah payah bekerja mencari dan mengumpulkan harta, malam jadi siang dan siang tak pernah berhenti bekerja, memeras otak, pikiran, membanting tulang memeras keringat. Mengapa setelah terkumpul harus dikeluarkan untuk infaq dan shadaqah? Sehingga pada suatu saat Rasulullah SAW kedatangan tamu orang-orang miskin yang mengadu kepada Rasulullah:

ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ مِنْ الْأَمْوَالِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَا وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَلَهُمْ فَضْلٌ مِنْ أَمْوَالٍ يَحُجُّونَ بِهَا وَيَعْتَمِرُونَ وَيُجَاهِدُونَ وَيَتَصَدَّقُونَ

“Orang-orang kaya, dengan harta benda mereka itu, mereka mendapatkan kedudukan yang tinggi, juga kenikmatan yang abadi. Karena mereka melaksanakan shalat seperti juga kami melaksanakan shalat. Mereka puasa sebagaimana kami juga puasa. Namun mereka memiliki kelebihan disebabkan harta mereka, sehingga mereka dapat menunaikan 'ibadah haji dengan harta tersebut, juga dapat melaksnakan 'umrah bahkan dapat berjihad dan bersedekah."

Dari hadits tersebut, jelas kalimat pengaduan dari para fuqara’, karena kewajiban maghdhah seperti shalat, puasa yang telah dijalankan, tetapi juga dilaksanakan oleh para aghniya’. Maka derajat dan kemuliaan para fuqara’ jelas lebih rendah dan tidak mempunyai kelebihan amal dibanding yang dilakukan orang-orang kaya. Bila melihat amaliyah ibadah para aghniya’ semakin jelas kelemahan dan kekurangan para fuqara’, semakin terpuruk ketika dirinya tidak bisa berinfaq dan shadaqah, padahal hal ini telah dilakukan oleh para aghniya’ melalui zakat, infaq dan shadaqah. Dan tidak sampai disitu bahwa para aghniya’ dapat melaksanakan haji, umrah dan berjihad dengan hartanya.

Dari hadits tersebut jelas begitu sulitnya bagi para fuqara’ untuk mendapatkan kedudukan dan kemuliaan, karena semua telah diambil oleh orang-orang kaya. Namun demikian Rasululah memberikan jalan kemudahan untuk meraih kedudukan dan kemuliaan. Suatu amalan bila dilakukan maka orang-orang faqir dapat meraih keutamaan sebagaimana yang didapatkan oleh orang-orang yang kaya. Karena itu Rasululah melanjutkan sabdanya:

أَلَا أُحَدِّثُكُمْ إِنْ أَخَذْتُمْ أَدْرَكْتُمْ مَنْ سَبَقَكُمْ وَلَمْ يُدْرِكْكُمْ أَحَدٌ بَعْدَكُمْ وَكُنْتُمْ خَيْرَ مَنْ أَنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِ إِلَّا مَنْ عَمِلَ مِثْلَهُ تُسَبِّحُونَ وَتَحْمَدُونَ وَتُكَبِّرُونَ خَلْفَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ

"Maukah aku sampaikan kepada kalian sesuatu yang apabila kalian ambil (sebagai amal ibadah) kalian akan dapat melampaui (derajat) orang-orang yang sudah mengalahkan kalian tersebut, dan tidak akan ada yang dapat mengalahkan kalian dengan amal ini sehingga kalian menjadi yang terbaik di antara kalian dan di tengah-tengah mereka kecuali bila ada orang yang mengerjakan seperti yang kalian amalkan ini. Yaitu kalian membaca tasbih (Subhaanallah), membaca tahmid (Alhamdulillah) dan membaca takbir (Allahu Akbar) setiap selesai dari shalat sebanyak tiga puluh tiga kali." (HR. Buchari: 798)


Hadits tentang keutamaan berzikir dengan membaca tasbih, tahmid, takbir sesudah shalat dengan redaksi yang hamper sama juga terdapat dalam Shahih Buchari nomor 5854,Shahih Muslim nomor 936,1674, 2050 dan Musnad Ahmad nomor 20508)

Demikian cintanya Allah kepada hamba-Nya dan begitu cintanya Rasulullah terhadap umatnya memberikan kemudahan untuk beribadah, guna meraih derajad dan kemuliaan yang lebih tinggi. Bahwa shadaqah menjadi kunci untuk meraihnya. Dan shadaqah tidak harus menggunakan uang dan harta benda. Allah telah memberikan potensi, kekuatan dan kemampuan untuk bershadaqah. Allah telah menyampaikan bahwa perkataan yang bagus adalah shadaqah dari pada memberikan tetapi dengan menyakiti,

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”. (QS. Al Baqarah: 263)

Perkataan yang baik yang dimaksud bila menolak dengan cara yang baik, tidak menghina atau mencela, demikian pula bila orang meminta kurang sopan juga dengan lapang dada untuk memaafkannya. Hal ini sering dialami ketika sedang berkendaraan ada orang yang meminta-minta, sedang dia nampak sehat dan masih muda, tidak ada yang menghalangi untuk bekerja dan berusaha secara wajar, biasanya akan muncul kata-kata yang tidak enak. Karena itu bila berkenaan diberi dengan ikhlas dan bila tidak berkenan ditolak dengan cara yang halus.

Shadaqah tidak harus menggunakan uang dan harta, senyumpun menjadi ibadah. Senyuman yang tulus dari lubuk hati terdalam, senyuman bukan cibiran dan sinis. Ada bebarapa pedoman yangteramsuk shadaqah tetapi tidak dengan uang dan harta. Rasulullah SAW dalam hadit yang diriwayatkan At Tirmidzi hadits nomor 1679 menyebutkan:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُكَ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلَالِ لَكَ صَدَقَةٌ وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنْ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ.

Rasulullah SAW bersabda: "Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau berbuat ma'ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan merupakan sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah."

Begitu luas cakupan tentang shadaqah, beberapa kegiatan yang dilakukan berkaitan dengan orang . Dimana manusia selain sebagai makhluk pribadi, sosial dan makhluk Tuhan.

7/20/2020

Fungsi Masjid Di Masyarakat Dan Manajemennya Menuju Masjid Paripurna

Masjid merupakan salah satu bangunan monumental bagi umat Islam, kebanggaan dan menjadi simbol kekuatan bagi umat Islam. Masyarakat sangat berantusias untuk mendirikan tempat ibadah, sehingga karena bersemangatnya dalam satu desa kadang terdapat masjid lebih dari satu, bahkan kadang pada setiap RT juga terdapat tempat ibadah yang berupa musholla/ langgar.
Masjid dengan aktifitas pelayanan umat
Perkembangan tempat ibadah banyak yang belum diimbangi dengan upaya pengelolaan masjid. Bagaimanakah masjid dapat dijaga dan dipergunakan bukan hanya sebagai tempat shalat saja, namun masjid dapat dikembangkan pada fungsi-fungsi yang lain sehingga keberadaan masjid dapat menjadi pusat kegiatan bagi umat Islam. Bahkan muncul suatu upaya untuk memberdayakan masjid menjadi masjid yang paripurna.

Karena itu dalam perjalanan sejarah, masjid telah mengalami perkembangan yang pesat, baik dalam bentuk bangunan maupun fungsi dan perannya. Hampir bisa dikatakan, dimana ada komunitas muslim, pasti disitu ada masjid. Di samping menjadi salah satu tempat yang suci untuk beribadah bagi umat Islam, masjid juga menjadi sarana berkumpul, menuntut ilmu, bertukar pengalaman, pusat dakwah, kepentingan sosial dan kegiatan lainnya.

Meskipun demikian, tidak berarti bahwa setiap masjid di tanah air sudah dikelola dan dimanfaatkan dengan maksimal oleh para pengurus. Masih terdapat beberapa masjid yang pengelolaannya masih memprihatinkan bahkan sepi dan ditinggalkan oleh para jemaahnya. Tugas siapakah untuk mengembangkan fungsi masjid dan bagaimana cara mengelola masjid agar bisa makmur dalam manajemen kepengurusannya. Karena itu dalam makalah ini akan disampaikan, bagaimanakah memenej masjid agar lebih berdaya guna sehingga menuju pada masjid paripurna.