Tampilkan postingan dengan label Hidup Sehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidup Sehat. Tampilkan semua postingan

4/14/2021

Harapan Raih Keutamaan Bulan Ramadhan Dalam Masa Pandemi Covid-19

 

Marilah bersama-sama kita mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita sekalian karena pada tahun ini, bulan ini dan pada hari ini kita dapat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Kerinduan umat Islam dengan datangnya bulan suci Ramadhan dan harapan ingin melaksanakan amaliah pada bulan suci Ramadhan. Berbeda dengan pada tahun 2020 atau tahun 1441 Hijriyah, pemerintah memberikan himbauan kepada umat Islam agar puasa Ramadhan yang dilaksanakan tetapi amaliyah puasa Ramadhan agar dilaksanakan di rumahnya masing-masing. 

 

Amaliyah Ramadhan diantaranya adalah melaksanakan salat tarawih dan witir secara berjamaah, tadarus Alquran, kegiatan pesantren kilat untuk anak-anak, kegiatan TPQ, buka puasa, majelis taklim, kuliah subuh semuanya dilaksanakan di keluarga masing-masing. Hal ini dilakukan karena pada tahun tersebut pemerintah atau negara Indonesia sedang dilanda Covid-19, suatu wabah penyakit yang belum pernah dijumpai, sehingga harus dilakukan kewaspadaan, karena Covid-19 adalah suatu makhluk yang tidak kelihatan tetapi mengancam kehidupan manusia. 

 

Virus corona berada dimana-mana dan keberadaannya tidak ada yang mengetahui kecuali dari tanda-tanda, bahwa di tempat tertentu ada orang yang terpapar virus corona dengan gejala-gejala seperti panas yang selalu naik, tenggorokan terasa kering dan untuk menelan sakit, hilangnya rasa, batuk pilek tidak sembuh-sembuh dan lainnya. Untuk kepastiannya dengan cek rapid reaktif dan sweb. Adapun orang yang terkena virus corona kadang ada yang dengan gejala dan ada yang tanpa gejala. Sudah banyak orang yang terpapar bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Karena itu ibadah puasa Ramadhan pada tahun 2021 M/ 1442 H pemerintah menerapkan adaptasi kebiasaan baru, sehingga pelaksanaan amaliah puasa Ramadhan pada tahun ini bisa dilaksanakan, dengan menerapkan protokol kesehatan hal ini dimaksudkan agar Amaliyah ibadah puasa Ramadhan umat Islam dapat meraih keutamaan pada bulan Ramadhan tetapi umat Islam juga bisa terjaga kesehatan dan keselamatannya. 

 

Kerinduan umat Islam untuk melaksanakan puasa Ramadhan, karena ingin meraih derajat sebagai orang yang bertaqwa Allah telah berfirman di dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 183:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al Baqarah: 183) 

 

Puasa Ramadhan itu sebagai wasilah untuk meraih derajat orang yang bertaqwa, namun hendaknya ibadah puasa Ramadhan dengan diikuti dengan amaliah dan ibadah sunnah. Karena puasa Ramadhan adalah ibadah yang diperuntukkan khusus bagi Allah subhanahu wa ta'ala sebagaimana dalam hadits qutsi:

 

 كُلُّ عَمَلِ بْنِ اَدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا اِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفِ, قَال اللهُ تَعَالَى اِلَّا الصَّوْمَ فَاِنَّهُ لِى وَاَنَا أَجْزِى بِهِ (رواه مسلم) 

"Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya. Satu macam kebaikan diberi pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali. Allah 'azza wajalla berfirman; 'Selain puasa, karena puasa itu adalah bagi-Ku dan Akulah yang akan memberinya pahala”. (HR. Muslim) 

 

Pada bulan suci Ramadhan Allah akan memberikan rahmat, maghfirah dan dilepaskan dari neraka, Rasulullah SAW bersabda:

 

 اوله رحمة واو سطه مغفرة واخره عتق من النار 

“Puasa Ramadhan yang pertama adalah rahmat yang pertengahan adalah maghfirah dan yang terakhir adalah dihindarkan dari siksa neraka”. 

 

Awal dari bulan Ramadhan itu adalah merupakan rahmat, yang pertengahan adalah maghfirah dan yang terakhir adalah akan dijauhkan dari api neraka. Karena itu ada tiga tahapan yang hendaknya bisa bisa ditempuh oleh umat Islam untuk meraih rahmat dan ampunan. Pertama pada sepuluh hari yang pertama Allah memberikan rahmatnya bagi orang-orang yang beriman, kemudian sepuluh hari yang kedua Allah mencurahkan maghfirah-Nya dan yang ketiga itu Allah memberikan jaminan kepada orang yang beriman dijauhkan dari api neraka. 

 

Mengapa sepuluh hari yang pertama disebut sebagai rahmat? Kalau melihat usaha dari para ahlussufah ada tiga hal yaitu takhalli, tahalli dan tajalli. Takhalli merupakan upaya untuk melepaskan segala perilaku yang tidak baik, maka sepuluh hari yang pertama kita sedang melepaskan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik, suka marah-marah, berbuat onar, memfitnah, adu-domba, mengunjing, menggibah, sifat riya’, iri, dengki dan lain sebagainya. Sepuluh hari yang pertama adalah merupakan perjuangan upaya untuk meraih rahmat dan ampunan. Kemudian dilanjutkan dengan sepuluh hari yang kedua bahwa setelah melepaskan perilaku-perilaku yang tidak baik kemudian digantinya dengan perilaku yang baik, perilaku yang diridhai oleh Allah. Perilaku dengan meneladani Rasulullah Muhammad SAW. Perilaku menghibah diganti dengan perbuatan menghiasi diri dengan membaca Alquran yang setiap huruf akan dilipatgandakan pahalanya. Karena itu dengan semakin banyaknya perbuatan baik yang dilakukan, kelak akan menjadi kebiasaan baik yang akan menghiasi seluruh amal perbuatannya. 

 

Dari ayat Alquran dan hadis nabi Muhammad shallallahu a’alaihi wa sallam ada beberapa harapan yang diinginkan: 

 

1. Bisa meraih derajat sebagai orang yang bertaqwa. 

2. Bisa meraih rahmat dan ampunan Allah SWT 

3. Dosa dan kesalahannya akan dihapuskan, sebagaimana sabda rasul:

 

 مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 

 

"Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu" (HR. Buchari Muslim) 

 

4. Pada bulan suci Ramadhan dapat meraih Fadhilah/ keutamaannya dan terjaga kesehatan dan keselamatannya. 

Kita berharap agar himbauan yang telah diberikan pemerintah tentang penanggulangan virus corona bisa kita laksanakan. Bisa meraih keutamaan bulan suci Ramadhan tetapi juga bisa mematuhi aturan pemerintah yaitu dengan menerapkan protokol kesehatan. Hal-hal yang pada awalnya tidak mungkin dilakukan, seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak ketika salat ini adalah hal yang sulit untuk bisa diterima, tapi ini adalah merupakan adaptasi kebiasaan baru dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus corona, kemudian menjauhi kerumunan dan juga menghindari mobilitas adalah sebagai upaya ikhtiar dari kita sekalian umat Islam bersama dengan pemerintah agar virus corona segera sirna. 

 

5. Bulan suci Ramadhan akan tertanam rasa ukhuwah, rasa saling membantu, empati para aghniya kepada para fuqara’ dan masakin. 

Karena dengan berpuasa setiap orang pasti akan merasakan lapar haus dan dahaga. Lapar dan dahaga ini adalah merupakan fitrah insaniyah. Kalau manusia tidak makan, maka menjadi lapar, manusia tidak minum maka menjadi dahaga. Sedangkan ketika lapar harus ditahan ketika haus harus ditaha. Karena ketika sedang berpuasa kemudian makan dan minum maka puasanya menjadi batal dan tidak sah. Menahan dari makan dan minum yang mengakibatkan lapar dan dahaga dirasakan oleh semua orang, baik dari kalangan orang-orang yang kaya, atauorang-orang miskin. Padahal lapar dan dahaga adalah kondisi riil yang dirasakan dalam setiap hari. Oleh karena itu dengan puasa diharapkan akan menambah kepedulian para aghniya’ sehingga dari sebagian harta dan penghasilan dikeluarkan baik dalam bentuk zakat, infaq dan shadaqah. Mudah-mudahan puasa Ramadhan pada tahun ini benar-benar bisa meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah subhana wa ta’ala, amin.

1/06/2021

Menjadi Orang Terbaik Agar Hidup Bermakna

Tahun baru 1 Januari 2021 sudah berlalu dan sekarang hampir satu pekan, ketika kita melihat kesibukan dan hingar-bingar menyambut tahun baru. Mari sejenak kita merenung, apakah sebenarnya yang baru khusunya pada diri sendiri. Tahun baru biasanya diikuti dengan ucapan “tahun baru semangat baru”. Sudahkah terwujud dalam tingkah laku dan perbuatan? Sudahkan hidup kita semakin bermakna, semakin produktif dan bermanfaat bagi orang lain? 

 


Pada zaman Rasulullah Muhammad SAW masih hidup, ada seorang Arab Badui yang bertanya pada beliau:

 يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ 

"Wahai Rasulullah, siapa orang terbaik itu? Rasulullah Shallallahu 'alahi wa Salam menjawab: "Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya." (HR. Tirmidzi) 

 

Dalam hadits yang lain meriwayatkan ada seorang laki-laki yang bertanya pada rasul:

 يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ قَالَ فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ 

"Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik?" Beliau menjawab: "Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya." Tanyanya lagi; "Siapakah manusia yang paling buruk?" Jawab beliau: "Orang yang panjang umurnya dan buruk pula amalannya." (HR. Ahmad) 

 

Dalam hadits yang pertama riwayat Imam Tirmidzi menyebutkan bahwa orang yang terbaik adalah Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Dalam hadits kedua riwayat Imam Ahmad bahwa Orang terbaik adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sebaliknya orang yang paling buruk adalah Orang yang panjang umurnya dan buruk pula amalannya. Menjadi orang yang baik apalagi yang terbaik adalah menjadi harapan kita. Namun bagaimanakah kita bisa mengukur bahwa hidup kita telah beramal yang baik. Tentunya ada alat ukurnya, karena ternyata banyak orang yang telah melakukan amal perbuatan baik, namun amal tersebut tertolak, amal tersebut tidak berdampak pada kemudahan berwasilah kepada Allah dalam berdoa. 

 

Kita ingat bahwa ada tiga orang pemuda yang terjebak didalam gua. Tiga pemuda tersebut bermaksud mau berlindung di dalamnya tetapi tiba-tiba gua tersebut runtuh, sehingga pintu gua tertutup oleh batu yang sangat besar. Secara nalar pemuda tersebut akan mati karena terjebak di dalamnya. Segala daya dan kekuatan telah dikerahkan untuk mendorong batu besar tersebut namun sedikitpun batu tidak bergeser. Tiga pemuda memadukan kekuatan untuk mendorong batu, ternyata tetap tidak bergeser sedikitpun. Lalu tiga pemuda tersebut, masih-masing berdoa dengan wasilah amal perbuatan baik yang pernah dilakukan. Bila amal perbuatan yang menurut dirinya baik dan diterima oleh Allah maka bukakanlah pintu gua. Ternyata amal baik yang telah dilakukan memang benar, baik dan diterima Allah. Dengan bukti batu besar bisa bergeser dan pintu gua terbuka. 

 

Dari itu jelaslah bahwa bila ingin amal baik yang dilakukan diterima Allah dasarnya adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul. Rasulullah Muhammad SAW wafat tidak meninggalkan harta benda, namun beliau meninggalkan Kitabullah dan Sunnaty (hadits rasul). Barang siapa yang berpegang teguh pada keduanya maka akan selamat dan tidak akan sesat untuk selamanya. Selamat berakifitas semoga hidup kita lebih bermakna, produktif dan bermanfaat, amin.

11/16/2020

Sebab-sebab Kecewa, Akibat dan Solusinya

Kecewa adalah merupakan ungkapan hati, kekesalan hati karena ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan. Dalam kamus umum bahasa Indonesia, kecewa bermakna merasa atau perasaan tidak senang atau tidak puas (karena tidak sampai harapannya, keinginannya, dugaannya, dan sebagainya). Setiap orang pasti pernah mengalami kekecewaan, hal ini karena manusia mempunyai harapan dan cita-cita. Cita-cita akan diraih bukan dengan serta merta, namun harus melalui perencanaan usaha ikhtiar dan kerja keras. Untuk merealisasikan suatu rencana selalu dihadapkan dengan waktu, uang, tenaga dan pikiran. Tujuan bisa dicapai secara sendiri, namun banyak rencana yang akan terealisasi memerlukan keterlibatan orang lain. 

 

Bicara tentang manusia adalah suatu pembahasan yang tidak akan pernah berhenti, baik dari jasmani atau rohaninya. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna, berbudaya dan diberikan amanah untuk mengelola sumber daya alam. Karena begitu kompleksnya urusan manusia maka dalam setiap mengimplementasikan suatu rencana kadang berbenturan dengan kepentingan orang lain, sehingga antara harapan dan kenyataan menjadi tidak sinkron. 

 

 Sebab-sebab kecewa 

Mengapa terjadi kekecewaan, hal ini berkaitan dengan rencana dan kenyataan. Rencana adalah suatu nilai yang ideal, perencanaan yang baik akan menentukan keberhasilan suatu kegiatan. Kenyataan adalah sesuatu kepastian, bila kenyataan sesuai dengan rencana maka akan menimbulkan rasa puas, percaya diri dan siap untuk menghadapi tantangan berikutnya. Tidak semua kenyataan terjadi sesuai dengan harapan. Karena itu bila tidak sesuai dengan harapan maka akan terjadi kekecewaan. 

 

Kecewa karena cinta, pekerjaan, kecewa karena telah membeli barang ternyata tidak sesuai dengan speknya, kecewa terhadap perilaku anak-anaknya, kecewa terhadap hasil pekerjaan, kecewa karena dikhianati teman atau saudara dan masih banyak kekecewaan- kekecewaan yang lain. 

 

Ada seorang laki-laki yang berkonsultasi kepada Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) dengan terus terang, bahwa dirinya kecewa telah menikahi wanita pilihannya. Ketika ditanya, mengapa kecewa, bukankah istrinya cantik, muda, cerdas, terampil, anak orang yang terpandang dan religious. Ternyata yang dikatakan secara fisik dibenarkan, bahkan banyak orang yang mengatakan demikian. Namun dia tetap kecewa, yang menurut dirinya semua adalah tampilan luar atau casing, orang tidak mengetahui sifat dan karakter asli dari istrinya. Kemudian konsultan bertanya lagi, sifat dan karakter yang aslinya seperti apa? Kami akan berupaya membantu mencarikan solusi bila anda bersedia untuk mengatakan yang sesungguhnya. 

 

Kemudian laki-laki tersebut mengatakan yang dimulai dengan menceritakan latar belakang dirinya sendiri yang dilahirkan dari keluarga yang biasa saja, tidak berpendidikan tinggi, bukan anak birokrat atau pejabat pemerintah. Dirinya sudah terbiasa dengan hidup sederhana, namun selalu giat bekerja dan semangat dalam berusaha. Dengan pendidikan agama dalam keluarga, setiap hari dirinya bangun pagi bahkan sebelum adzan Subuh sudah bangun, lalu dilanjutkan dengan shalat Subuh di masjid, mengikuti dengan kuliah subuh dan tadarus Alquran. Setelah itu dilanjutkan dengan membersihkan rumah dan sekitarnya. Kebiasaan ini ternyata tidak diikuti oleh istrinya, bahkan setiap dirinya pulang dari masjid istrinya masih tidur dan setiap kali disuruh untuk bangun pagi selalu beralasan, bahkan kadang terjadi cekcok. 

 

Akibat dari suatu kekecewaan

Setiap sebab pasti akan mendatangkan akibat, bila orang kecewa pasti akan mendatangkan akibat baik bagi dirinya sendiri dan bisa jadi akan berdampak pada orang lain. Beberapa dampak dari kekecewaan: 

  1. Dari aspek psikologis bahwa orang yang sering mengalami kekecewaan akan bersikap pesimis dan apatis bahkan kadang tidak akan menaruh respek, simpati pada orang lain.
  2. Akan menjadi sebab timbulnya berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh kekecewaan dan menimbulkan berbagai macam penyakit hati. 
  3. Orang akan merasa masa bodoh, karena sikap yang dilakukan selalu mendatangkan kekecewaan, bila bekerja sering dicacat, diolok-olok, bahkan dirinya diberi stigma negativ.
  4. Akan terjadi tindakan kejahatan sebagai wujud dari kekecewaan, baik dengan kata-kata sampai menjadi kekerasan fisik yang menimbulakan kerugian, baik bagi dirinya maupun orang lain.
  5. Akan kehilangan teman, sahabat akibat ulah dan perilaku yang diluar control.
  6. Akan mencari pelampiasan atas kekecewaan itu bukan dengan membalas untuk mengecewakan tetapi untuk membuktikan bahwa dirinya bisa dan mampu. Menumbuhkan keyakinan diri untuk mengevaluasi dengan introspeksi dan ekstrospeksi. Untuk selanjutnya tumbuh suatu keyakinan, bila dia bisa, mengapa saya tidak bisa. Bukankah Allah telah menciptakan manusia dalam wujud yang paling sempurna, dirinyapun juga manusia yang sempurna.

 

Upaya mengatasi kekecewaan. 

Puas dan kecewa dua hal yang berlawanan, manusia ingin sukses, tetapi tidak semua kesuksesan akan mendatangkan rasa puas. Karena puas lebih dominan pada urusan hati, Bagaimana agar kesuksesan bisa mendatangkan rasa puas? Manusia bisa puas dan bisa kecewa. Kepuasan adalah suatu keinginan kekecewaan adalah suatu musibah. 

 

Ada beberapa upaya untuk menghindari kemungkinan terburuk dari kekecewaan: 

 

  1. Hentikan dari semua aktivitas, tenagkan hati dan pikiran, atur nafas dengan melakukan dzikir, minta pertolongan kepada Allah. Rasa kecewa yang berkecamuk, bergemuruh didalam hati, lalu muncul hawa nafsu yang berupaya untuk mewarnai kekecewaan maka akan mendatangkan musibah dan bencana yang lebih besar. 
  2. Identifikasi persoalan, mengapa terjadi kekecewaan, karena diri sendiri atau orang lain? Bila berkaitan dengan dirinya sendiri, maka harus menyadari bahwa dirinya harus lebih banyak melakukan introspeksi. Bila berkaitan dengan orang lain maka hendaklah mengembangkan sikap, jangan terlalu menggantungkan kepada orang lain. 
  3. Bila kekecewaan karena terjadinya miskomunikasi, maka perbaikilah cara berkomunikasi, pahami dan cermati setiap informasi, jangan sungkan untuk selalu mengingatkan dan mengklarifikasi. 
  4. Berpikir besar, bahwa kegagalan terhadap suatu urusan bukan berarti bencana, namun di sana masih banyak peluang dan kesempatan yang lebih besar lagi. 
  5. Jangan terlalu dipikirkan apa yang sudah terjadi, karena sesungguhnya dipikirkan atau tidak difikirkan toh semuanya sudah terjadi, fokuskan untuk melakukan hal-hal yang baru, fokus pada tujuan yang utama. 
  6. Kendalikan emosi dan hawa nafsu, biasanya ketika sedang kecewa akan menumpahkan kekesalan dengan berkata-kata yang kotor dan kasar. Rasul memberikan pedoman ketika sedang berdiri maka duduklah, ketika sedang duduk maka berbaringlah, bila sudah berbaring masih merasakan kesal, marah, maka segera bangun mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat. 

 

Kecewa bisa menimbulkan berbagai macam ekspresi, setiap orang mempunyai cara sendiri untuk mengatasi kekecewaan. Dengan kecewa, mengingatkan disitulah cara Allah mengingatkan kepada hamba-Nya, untuk mendewasakan hamba-Nya. Karena itu rasa kecewa terhadap sesuatu kegiatan dan kenyataan maka janganlah dibesar-besarkan, tetapi pahamilah bahwa setiap manusia yang hidup pasti mengalami kekecewaan dan carilah cara yang terbaik untuk mengatasi kekecewaan. Bila berkaitan dengan dirinya sendiri maka perbaikilah diri dengan banyak mengingat Allah, berpikir positif, beristighfar kemudian melaksanakan salat. Jangan memikirkan kekecewaan untuk dibesar-besarkan yang akhirnya akan membuat sikapnya menjadi apatis, pesimis dan tidak mempunyai rasa percaya diri.

9/10/2020

Mujudaken Kesehatan Keluarga- Sehat Jasmani, Rohani, Ekonomi, Lingkungan. Khutbah Bahasa Jawa

Kesehatan punika dados kabetahan paling utami kagem manungsa, amargi kanthi sehat manusngsa badhe saget ngraosaken nikmat lan bahagia saking sedaya peparingipun Allah. Manusia kedah tansah ngudi supados dados pribadi ingkang sehat, kalerse sehat jasmani lan rohani, ekonomi lan lingkunganipun. Perkawis punika badhe kita aturaken mawi khutbah Jum’at.


اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَتِ وَالنُّوْرِ ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِءُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاءُالْحُسْنَى, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ,اَلْمَبْعُوْثُ بِالْحَقِّ وَالْوَفَى. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا  مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ: اَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنُ رَحِمَكُمُ اللهُ, اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ رَبُّكُمْ فِى الْقُرْانِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَااَيُّهَالنَّاسُ كُلُواْمِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلَالً طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانَ اِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّمُبِيْنٌ

Kaum Muslimin Rahimakumullah,

Mangga kita sesarengan muji syukur dhumateng Gusti Allah Ta’ala, ingkang tansah paring nikmat tanpa kendhat, sarta anggelar rahmat ing saendhunging jagat. Shalawat lan salam, mugi katur dhumateng uswah hasanah kita, kanjeng Nabi Muhammad SAW, para keluwarga, shahabat, sarta sedaya ummat ingkang tansah tha’at, ngantos ing dinten kiyamat.

Jemaah Jum’at ingkang  minulya,

Boten wonteng wasiyat ingkang langkung sahe, kejawi wasiyat Taqwallah, inggih punika nindakaken sedaya dhawuhipun Allah Azza Wajalla, selaras kaliyan anggenipun nilar sedaya awisanipun. Inggih kanthi lampah taqwa punika, Gusti Allah Subhanahu Wata’ala, badhe paring kamulyan dhumateng kita, kados ingkang kawedhar wonten ing Aluran surat Al Hujuraat: 13

“Saktemene wong kang paling mulya ing antarane sliramu ana ing ngarsane Allah, yaiku kang paling taqwa, saktemene Allah iku Dzat kang Maha Uninga, Maha Paring Pekabaran.”

Salah satunggalipun perkawis penting ingkang kita adhepi jroning masyarakat, inggih punika babagan kesehatan. Sakdongipun punika kita sampun ngraosaken pambudi dayanipun Pemerintah ing babagan kesehatan fisik, kanthi sedaya masyarakat, khususipun kaum dhu’afa saged berobat gratis wonten Rumah Sakit Rujukan. Temtu kita kedah muji syukur dhumateng Allah Subhanahu Wata’ala, sarta matur nuwun dhumateng Pemerintah. Perlu kita wuningani bilih masalah kesehatan punika, boten namung kesehatan phisik utawi jasmani kemawon, ananging ugi nyakep :

< Sehat Jasmani < Sehat rohani < Sehat ekonomi <Sehat lingkungan

Jema’ah Jum’at Rahimakumullah

Nomer setunggal sehat jasmani

Tiyang dipun sebat sehat, arikala boten wonten gangguan fisik, hingga saged nindakaken sedaya kegiatan ingkang dipun betahaken. Rasulullah SAW nate ngendika : jaganen limang perkara, sakdurunge teka limang perkara liyane, salah satunggalipun inggih punika,

صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ

Jaganen sehatmu, sakdurunge tumika penyakitmu.”

Kangge jagi kesehatan punika, kedah dipun taati pola makan, utawi pranataning dhahar, inggih punika :

1.        Dhaharan ingkang halal

2.        Dhaharan ingkang thayyib, ingkang bermanfaat tumrap kesehatan, kasebat ing surat Al abaqarah : 168

3.        Dhahar lan ngunjuk boten kliwat watis QS. Al A’rof : 131, wondene menawi sakit, engggal-enggal berobat.

Rasulullah SAW dhawuh:

تَدَاوَوْا عِبَادَ اللهِ فَاِنَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يَضَعْ دَاءً اِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءٌ غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ اَلْهَرَمُ  (روه احمد)

“Pada berobata sira kabeh kawulane Allah mengka saktemene Allah Ta’ala iku, ora pering penyakit, kejaba Allah uga paring obate, sak liyane penyakit siji yo kuwi tuwa.” HR. Ahmad

 

Nomer kalih inggih punika midherek bahasa agamanipun sehat rohani

Prof. dr. H. Dadang Hawari Psikiater paring penjelasan bilih midherek WHO (Badan Kesehatan Dunia) ciri-ciri tiyang ingkang sehat rohani utawi jiwanipun inggih punika:

1)        Saged nampi kasunyataning gesang/ saged mahami lan nampi takdiripun Allah.


 “Kang (dadi) kangungane Panjenengane Allah keraton langit lan bumi, lan Panjenengane (Gusti Allah) ora kagungan putra, lan ora ana sekuthon tumrap Panjenengane ing sajrone kratone, lan Panjenengane nitahake sekabehe perkara, lan Panjenengane netepake ukuran-ukurane kanthi sak apik-apike”( QS. Al Furqan: 2)

 

1)        Rumaos marem saking hasil usahanipun piyambak. ( HR. Bukhari)

2)        Rumaos marem menawi saged tetulung dhumateng tiyang sanes ( Sha’ibul iman).

3)        Langka sanget ngalami stress

4)        Remen tulung tinulungan.

“lan becik padha tulung-tinulunga sira (kanggo ngelakoni)kabecikan lan taqwa lan aja padha tulung tinulung kanggo (ngelakoni) dosa lan sesatron”. (QS. Al Maidah: 2)

 

1)        Gadhah raos teresno dhumateng dok sintena. (HR. Buchari Muslim)

Pranyata bilih sedaya punika selaras kaliyan tuntunaning agami Islam.

Kaum muslimin a’azzakumullahu wa iyyaa ya

Ingkang nomer tiga inggih punika sehat ekonomi

Sok sintena ingkang sampun saged nyekapi kabetahanipun piyambak, awit saking penghasilanipun, tanpa kabantu dining tiyang sanes, punapa dene utang mrika-mriki, ateges sampun sehat ekonominipun.  


“Dhawuha sira-sirahe kaumku, makarya sira kabeh sakuwatmu, saktemene aku uga makarya, suk sira bakal ngerti, endi ing antarane kita kang bakal entuk hasil kang becik ing donya iki, saktemene wong-wong kang dlalim ora bakal entuk keuntungan.” QS. Al An’am : 135

Ingkang nomer sekawan inggih punika sehat lingkungan

Kita pahami sarta yakini, bilih lingkungan ingkang sehat insya-Allah badhe muwuhaken masyarakat ingkang sehat ugi. Lingkungan ingkang sehat punika nyakep kalih perkawis:

1.      Masyarakatipun bebas saking :

<Nark0ba <Minuman keras<Perjudian, sarta <Perzinaan

Dhawuhipun Allah Ta’ala ing bab punika wonten ing QS. Al A’raf : 33

“Dhawuha sira: sayekti (Allah) Pangeranku wus ngaramake (sekabehane) kejahatan kang cetho lank angora ceto, uga kabeh laku dosa lan memungsuhan kang tanpa bebener.” QS. Al A’raf : 33

1.      Lingkunganipun ketingal :

·           Tenata rapi lang indah

·           Nuansa ijo royo-royo awit kathahing tetaneman

·           Margi lan plataran ingkang resik saking maneka warnining sampah.

Dhawuhipun Allah Ta’ala wonten QS. Hud : 61

“Panjenengane Allah kang wus nyipta sira kabeh saka lemah, lan dadekake sira kabeh kang gawe makmur”.

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ



 

 

8/25/2020

Renungan Tahun Baru Hijriyah, Manfaatkan Waktu, Jangan Sia-Siakan Waktu.

Setiap pergantian tahun sering kita menerima ucapan selamat tahun baru, semangat baru. Kata ucapan itu begitu melekat ditelinga sehingga dirinya pun juga ikut-ikutan mengucapkan selamat tahun baru, semangat baru. Kata semangat menunjukkan sikap yang optimis untuk menyongsong masa depan, dimulai dari bulan pertama pada suatu tahun. Memang orang hidup harus selalu optimis, berpikir positif dan berperasaan yang positif, dengan kata lain kita optimis, positif thingking dan positif feeling. Ungkapan ini yang akan menunjukkan berhasil atau tidaknya pada masa yang akan datang.
Taushiyah menjadi media muhasabah.

Sebenarnya tidak hanya pada tahun baru, tetapi di setiap mengawali langkah, atau mengawali beraktifitas harus optimis dan dengan semangat yang baru, karena itu awali upaya dengan meluruskan niat dengan senantiasa memohon petunjuk pada Allah, dengan memanjatkan doa. Pada umumnya orang mengawali aktifitas pada pagi hari, maka awalilah semangat bekerja dengan upaya untuk meraih ibadah yang lebih, dengan menegakkan shalat sunnah fajar dan melaksanaka shalat subuh dengan berjamaah. Maka disananalah muslim telah memiliki kekuatan spiritual untuk mendapatkan kenikmatan, kemuliaan, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.

Seandainya pada malam hari telah melaksanakan shalat tahajud, maka berapa waktu untuk bermunajat, bukan untuk mengerdilkan keutamaan shalat lail, namun pahala shalat subuh dengan berjamaah seperti orang yang beribadah semalam suntuk. Dan ditambah dengan shalat sunnah dua rekaat sebelum subuh seperti menggapai kebahagiaan dunia seisinya. Di sinilah bahwa ketika seorang muslim telah mengawali bangun pagi sebelum shalat subuh, maka Allah akan semakin lebar dalam membukakan pintu rahmatnya. Ternyata tidak sampai di situ, karena setiap muslim akan membiasakan untuk meraih rizqi yang berlimpah dengan melaksanakan shalat dhuha. Namun hendaknya harus pintar-pintar dalam mengatur waktu. Siapa dirinya dan sedang apa?

Ibadah shalat adalah kepentingan dan kebutuhan pribadi, sebagai wujud penghambaan diri kepada Allah, dan dirinya tidak bisa melepaskan tugas sebagai khalifatul ardhi. Bekerja dan beraktifitas adalah suatu kewajiban, apalagi bagi pegawai atau karyawan yang bekerja pada proses produksi dan layanan publik. Tidak bisa meninggalkan pekerjaan/ kewajiban lalu mengejar sunnah. Memang ini dua hal yang berbeda, yang satu pelaksanaan tugas manusia sebagai abdulah dan kedua sebagai khalifatul ard.

Berbeda tapi saling berkaiatan, hablun minallah akan berefek pada hablun minannas, dalam ayat Alquran disebutkan bahwa setiap bentuk penghambaan akan berdampak pada sikap dan perbuatan. Orang menegakkan shalat dalam setiap gerak-gerik atau kaifiyah shalat mengajarkan, bagaimanakah posisi takbirarul ikhram, ketika berdiri sambil menunduk melihat tempat sujud, ketika rukuk dan sujud kepala yang biasa berada diatas dengan ikhlas untuk sejajar bahkan lebih rendah dari pantat. Inilah simbol ketakdhiman dan ketawadhuan.

Demikian pula hablun minnanas akan berdampak pada kedalaman spiritual, adanya religious experience sehingga kebiasaan orang berbuat baik, suka menolong, membantu, mendoakan ternyata akan kembali pada dirinya atau kepada keluarganya. Maka kebiasaan-kebiasaan baik yang kadang tidak mungkin dilakukan orang lain dirinya justru semakin bergairah dan tertantang untuk melaksanakannya.

Menyia-nyiakan umur.
Umur manusia tidak akan ada yang mengetahui, sampai umur berapa, dan apakah ketika diberikan umur yang panjang hingga ajal menjemput tetap dalam kondisi sehat? Atau justru umurnya yang pendek, sakit-sakitan hingga ajal menjemput, atau umur yang panjang namun sakit-sakitan hingga ajal menjemput. Kita tidak ingin yang menurut dirinya buruk, umur panjang, selalu sakit-sakitan hingga ajal menjemput. Kita ingin umur yang panjang, selalu sehat, bisa bermanfaat, bahagia, sejahtera, meninggal dalam kondisi khusnul khatimah. Karena itu hendaknya membiasakan diri untuk selalu berfikir yang positif. Jangan biasakan bayang-bayang kegagalan menutupi mata hati dan fikiran.

Bahwa setiap manusia hidup pasti mempunyai masalah, dan masalah akan selalu datang silih berganti, namun hendaknya selalu yakin bahwa Allah telah menciptakan masalah, Allah memberikan masalah dengan memberikan cobaan kepada hamba-hambanya. Allah sayang pada hambanya, bahwa Allah telah mengukur kemampuan hambanya. Bahwa tidaklah Allah memberikan cobaan kecuali menurut kesanggupannya. Namun kadang seringnya masalah datang, terkadang lalai untuk segera mengatasinya. Sehingga dari masalah-masalah yang kecil akan menumpuk sehingga menjadi beban yang sangat berat.

Ada keluh kesah hamba Allah yang merasa resah karena hutang-hutangnya tak kunjung lunas. Sehingga setiap berangkat kerja dan ketika beraktifitas selalu mengharapkan untuk segera mendapat gaji. Waktu dilalui hanya menghitung jumlah gaji dan menghitung jumlah pengeluaran rutin keluarga dan kemampuan membayar hutang-hutang. Tidak disadari bahwa orang yang demikian ini sesungguhnya telah menyia-nyiakan waktu. Bagaimanakah waktu yang lalu hendaknya waktu yang dilalui dengan kekuatan, kemampuan, akal, fikir dan tenaga yang masih prima, tidak pernah merasa sakit, pemampilan perlente. Sebenarnya waktu-waktu itu akan lebih bermakna bila dapat mengeluarkan potensi dan kekuatan untuk merubah kondisinya. Namun menjadi sia-sia, ketika waktu yang masih produktif hanya digunakan untuk mengkalkulasi income dan outcame. Ketika telah sampai waktu penerimaan gaji mendapat kebahagiaan walau hanya sementara. Ternyata hutang-hutanya akan lunas hingga beberapa tahun lagi. Tidak sadar bahwa pada masa yang akan datang, adalah masa yang masih rahasia, apakah akan tetap sehat? Harapan tetapa sehat namun sesunggunhya waktu yang terus berjalan, usia semakin tua yang akan mempengaruhi fungsi metabiolisme tubuh dan produktifitas kinerja.

Karena itu tahun baru, dengan semangat baru hendaknya menjadi spirit untuk selalu mengembangkan diri, selalu mengolah dan mengasah fikr dan kalbu. Kadang kenyamanan akan menyebabkan orang cenderung pasif dan kurang produktif. Contoh seorang pegawai yang telah menjadi pegawai pemerintah, telah merasa nyaman dengan posisi dan kedudukannya. Gajinya tidak terlalu besar namun dipandang sudah cukup untuk kebutuhan keluarga. Kondisi kenyamanan ini akan melakukan rutininitas, pekerjaan dan aktifitas dilaksanakan menurut komando secara rutin. Tidak ada upaya untuk mengembangankan diri dalam ilmu, ketrampilan dan spiritual. Dirinya berfikir untuk apa belajar, mencari ilmu lagi toh dirinya telah mendapatkan gaji, dan temannya yang berpendidikan tinggi juga gajinya tidak terlalu berbeda dengan dirinya. Demikian pula dalam beribadah hanya melaksanakan ibadah-ibadah yang bersifat fardhu, karena merasa telah cukup melaksankaan kewajiban.

Masa yang akan datang tida ada yang tahu, ketika dua anaknya sakit. Dirinya dan istrinya berusaha untuk merawat dan menjaga anak-anaknya. Yang biasanya hidup telah merasa nyaman, berubah ketika harus datang pulang dari rumah ke rumah sakit, ke tempat kerja. Tidak lama pun tubuhnya merasa lelah demikian pula istrinya. Akhirnya karena kurangnya pengetahuan, dan ketrampilan dalam mengelola problem maka masalah semakin komplek. Ibadah yang minimalis belum bisa menjadi sarana untuk mengatasi masalah. Hal ini jauh berbeda dengan orang-orang yang selalu mengasah hati, fikir dan dzikir bisa mengatasi masalah dengan sistematism, tenang dan terencana.

Maka jangan sia-siakan waktu, banyak orang merugi karena waktu. Allah telah bersumpah dengan waktu, bahwa manusia benar-benar dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling berwasiat dalam untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran. (lih. QS. Al Ashr: 1-3). Andai Allah tidak sayang pada hambanya maka tidak akan mengingatkan kepada hambanya. Allah akan membiarkan hambanya dalam kehendak dan perbuatannya. Karena itu penghargaan terhadap waktu sangatlah penting, waktu yang telah berlalu tidak akan kembali dan akan terus pergi semakin menjauh. Waktu yang akan datangpun terasa begitu cepatnya akan datang. Maka merugilah bila tidak dapat memenej terhadap waktu. Waktu menunggu diganti menjadi waktu untuk berbuat dan berkarya.

Begitu berarti dan bermaknanya waktu, setiap orang mempunyai waktu yang sama 24 jam dalam sehari semalam. Berapa banyak orang telah memanfaatkan waktu dengan produktif, berapa waktu telah disia-siakan. Sungguh bernilaianya waktu bagi orang yang akan menjalani operasi, berapa bermaknanya waktu bagi orang yang membutuhkan pertolongan rumah saki karena kekurangan oksigen. Betapa bermaknanya waktu, maka calon pegawai yang akan menghadapi ujian, sungguh bermaknanya waktu bagi petani yang menanti waktu panen dan sebagainya. Karena itu dengan waktu ada orang yang menjadi pintar, bodoh, kaya, miskin. Dengan waktu manusia akan menjadapatkan hasil. Karena agar masa yang akan datang menjadi lebih baik Allah telah berpesan.


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hasy: 18)


8/19/2020

Renungan Tahun Baru Hijriyah, Evaluasi Tahun 1441 H Menuju 1442 H

Pada hari Rabu 19 Agustus 2020 umat Islam  meninggalkan kalender hijriyah 1441 menuju pada tahun baru 1442 H. Pergantian tahun yang tidak pernah dilakukan dengan kegiatan pesta, uvoria dan bersenang-senang. Pergantian tahun yang selalu diselenggarakan dengan kegiatan perenungan, muhasabah atas apa yang telah dilakukan, berapa banyak dan berapa besar dosa-dosa yang telah dilakukan. Terasa kecil dan hina manusia dihadapan Allah yang Maha Suci, Maha Sempurna, Maha Besar dan tiada sekutu bagi Allah.
Matahari tenggelam, menandakan pergantian masa.
Allah telah menciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna, diberi kelengkapan panca indra, hati, akal, agama sehingga menambah kesempurnaannya. Bahkan Allah telah menyediakan segala hal yang diperlukan manusia, alam semesta telah diamanatkan kepada manusia untuk menjaga, melestarikan, mengelola dan memanfaatkannya. Manusia tersungkur dihadapan Allah, apa yang telah dilakukan, sudahkah beramal, berkarya sesuai dengan petunjuknya, sudahkah manusia memberikan manfaat bagi yang lain. Atau justru dosa yang telah dilakukan, tanpa disadari atau dengan kesadaran menentang perintah Allah dan dengan bangganya melaksanakan larangan Allah.

Inilah tahun baru hijriyah, umat Islam bermuhasabah, sehingga pada tahun baru berusaha memikirkan terhadap amal ibadah yang telah dilakukan. Tiada kesempatan untuk berhura-hura, bersenang-senang dan melakukan aktifitas yang tidak bermanfaat. Tahun 1441 H telah berlalu, segala yang telah terjadi tidak akan kembali lagi, susah senang tidak akan kembali, bahkan usiapun semakin meninggalkan, tubuh yang molek wajah yang cantik termakan usia sehingga tak cantik lagi, tubuh yang tegak, tampan, gagah pun juga termakan usia. Bahkan tubuh yang sehat terasa semakin rapuh, terkena air hujan sedikit saja meriang, dingin sedikit-pun jugamenjadi kurang sehat.

Aroma tubuh yang harum karena besutan minyak wangi berubah menjadi aroma minyak angin yang selalu membalur tubuhnya. Menghangatkan, mengilangkan pening, perut kembung dan sakit-sakit lainnya. Rambut yang hitam pun juga lambat laun memutih, rambut kepala, hidung, kumis, jambang, alis dan bulu mata, bertambah hari berganti bulan dan tahun berubah putih. Gigi-gigipun juga ikut rapuh, satu persatu tanggal. Pandangan mata yang tajam menjadi buram, kaca mata yang dipakai kadang harus berganti, minus, plus, silindris dan sebagainya. Pendengaranpun juga semakin berkurang, dahulu waktu muda ada bisikan suara terdengar dengan jelas, namun tahun berganti, untuk mendengar harus mencari sumber suara. Kulit yang dahulu halus, kencang menjadi keriput. Kaki yang dahulu kuat untuk menopang tubuh, kini menjadi gemetar dan sering kesemutan, untuk berjalan apalagi berlari nafas terengah-engah.

Proses perjalanan hidup manusia, terus berjalan, mausia tidak akan bisa menolak Sunnatullah. Karena itu kecantikan, ketampanan, kekayaan, harta, tahta adalah suatu yang fana dan suatu saat akan sirna. Tidak ada yang dapat dibanggakan dihadapan Ilahi, kecuali iman, taqwa dan amal ibadah. Segal hal yang dilakukan manusia tertata rapi dalam buku catatan amal Malaikat Raqib dan Atid. Baik buruk, besar kecil tidak akan pernah tertinggal dari catatan amal perbuatan manusia.

Tahun 1441 H telah berlalu, entah kapan akan kembali, ketika Rasulullah ditanyakan tentang ruh dan hari qiyamat, rasul hanya bisa menjawab, itu urusan Tuhan-mu. Hari qiyamat adalah suatu yang pasti, alam akhirat suatu yang pasti dan terjadi untuk selamanya. Bisa saja orang merasakaan kehidupan yang bahagia dengan kebahagiaan yang belum pernah dirasakan di dunia. Di akhirat juga banyak orang yang hidup dalam penderitaan, siksaan yang tidak akan pernah berhenti. Disanalah manusia akan merasakan buah dari amal ibadaah selama hidup didunia. Dunia yang fana seakan akan selamanya, akhirat yang dijanjikan untuk selamnya namun banyak ditinggalkan.

Tahun 1441 H sudah berlalu, kini kita masuk di tahun 1442 H, tahun yang hendaknya dihadapi dengan rasa optimis, namun ternyata manusia tidak bisa menolak takdir bahwa tahun baru hijriyah dihadapi dengan peningkatan perenungan dan muhasabah, dengan wabah pandemi Covid-19. Mengapa Allah menimpakan wabah itu, apakah ini ujian, cobaan atau azab Allah. Dosa apakah yang telah dilakukan, sampai kapan wabah itu akan berakhir.

Banyak ditemukan bahwa new normal dipahami bahwa manusia bebas untuk beraktifitas. Ketika dahulu orang berdisiplin memakai masker, sekarang sering ditemukan aktifitas manusia yang tanpa masker. Sosialisasi pelaksanaan protokol kesehatan terus dilaksanakan, namun di beberapa daerah ODP, PDP dan yang positif terkena Covid-19 meningkat. Siapa yang salah dan siapa yang benar? Semua mempunyai dalih yang berbeda-beda. Desakan ekonomi sehingga menuntut untuk kembali beraktifitas, rasa risih, ingin bebas maka tidak lagi memaki masker, jaga jarak, membiasakan cuci tangan. Tuntutan pendidikan putra-putri, rasa jenuh putra-putri dalam keluarga ingin kembali berkumpul dengan teman-teman-temannya.

Karena itu bagaimana menyikapi pandemi Covid-19, tahun 1442 kita harus optimis dapat kembali menjalani kehidupan yang normal. Usaha lahir dan batin, saling bahu membahu, saling mengingatkan, saling menolong, saling menghormati, agar suasana hati tetap tenang. Jauhi fitnah, kebencian, permusuhaan, pertikaian dan perbuatan buruk lainnya yang akan menambah noktah pada hati hamba Allah. Bersihkanlah hati dengan beristighfar, memohon ampun kepada Allah, bertobat, memperbanyak dzikir.

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِيْ لَا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وأَتُوْبُ إِلَيْهِ, رَبِّ اغْفِرْ لِيْ ، وتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَابُ الرَّحِيْمُ, سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, خَلَقْتَنِي, وَأَنَا عَبْدُكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ, أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ, أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ, وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي, فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ