BREAKING NEWS
Loading...

11/21/2020

Shalat Sebagai Media Komunikasi Kepada Allah

Shalat adalah ibadah yang paling utama, indikator ke-Islaman seorang muslim ditentukan dalam hal melaksanakan shalat yang utuh, dalam kuantitas lima waktu dalam sehari semalam dan secara kualitas adalah kondisi shalat yang dilaksanakan dengan khusu’. Shalat yang khusu’ dilaksankaan benar-benar sedang menghadapkan jasad dan ruh kepada Allah. Ketika jasad dan ruh menyatu sedang menghadap Allah disanalah sedang terjadi komunikasi hamba kepada Allah.

Karena itu ketika hendak menghadap Allah maka tubuh, pakaian dan tempatnya harus dalam keadaan suci. Yang sering menjadi persoalan adalah bahwa ketika shalat, jasadnya sedang shalat namun hati dan pikirannya sedang pergi entah kemana. Bisa jadi ketika sedang melaksanakan shalat dapat mengingat sesuatu hal yang tadinya lupa. Sangat aneh ketika shalat menjadi ingat. Bahkan kadang ide-ide kreatif muncul ketika sedang shalat. Padahal ketika sedang shalat hendaknya tubuh, hati pikiran menyatu sedang menghadap Allah. Sadar dengan bacaan shalat dan kaifiyahnya. 

 

Ketika dapat mewujudkan shalat yang khusu’ maka akan terjadi komunikasi kepada Allah, kita memohon Allah mendengarkan. Ketika hamba Allah telah dengan sungguh-sungguh memohon siang dan malam tiada henti, tekun, sabar ikhlas maka tiada halangan bagi Allah untuk mengabulkan doa dan permohonan hamba-Nya.

 وَقاَلَ رَبُّكُمْ ادْعُوْنِى أَسْتَجِبْ لَكُمْ 

 

"dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu". ) QS. Mu’min: 60) 

 

Sering terjadi hamba Allah meminta kepada-Nya, hambanya meminta untuk segera dikabulkan, namun terkadang banyak yang menjadi putus asa. Ibadah sudah dilakukan berdoapun tidak pernah henti namun seakan Allah tidak mendengar doanya. Bila demikian, tidak ada salahnya untuk bermuhasabah, Allah SWT berfirman:

 وَاِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَاِنِّى قَرِيْبٌ, أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ, فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِى وَلْيُؤْمِنُوْا بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ 

 

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku (Allah) mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al Baqarah: 86) 

 

Hikmah dari ayat tersebut: 

1. Allah akan mengabulkan doa hambanya bila mau memohon. 

2. Yakin dengan penuh keimanan kepada Allah, bahwa Allah menciptakan manusia dan telah menyediakan segala yang diperlukan hamba-Nya. 

3. Permohonan akan dikabulkan bukan dengan tanpa syarat, maka penuhilah syarat-syaratnya yaitu dengan menjalankan perintah-perintahnya dan menjauhi larangannya. 

4. Selalu berupaya untuk menegakkan kebenaran, bahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, suka menolong dan berwasiat dalam kebaikan dan kesabaran.

11/16/2020

Sebab-sebab Kecewa, Akibat dan Solusinya

Kecewa adalah merupakan ungkapan hati, kekesalan hati karena ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan. Dalam kamus umum bahasa Indonesia, kecewa bermakna merasa atau perasaan tidak senang atau tidak puas (karena tidak sampai harapannya, keinginannya, dugaannya, dan sebagainya). Setiap orang pasti pernah mengalami kekecewaan, hal ini karena manusia mempunyai harapan dan cita-cita. Cita-cita akan diraih bukan dengan serta merta, namun harus melalui perencanaan usaha ikhtiar dan kerja keras. Untuk merealisasikan suatu rencana selalu dihadapkan dengan waktu, uang, tenaga dan pikiran. Tujuan bisa dicapai secara sendiri, namun banyak rencana yang akan terealisasi memerlukan keterlibatan orang lain. 

 

Bicara tentang manusia adalah suatu pembahasan yang tidak akan pernah berhenti, baik dari jasmani atau rohaninya. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna, berbudaya dan diberikan amanah untuk mengelola sumber daya alam. Karena begitu kompleksnya urusan manusia maka dalam setiap mengimplementasikan suatu rencana kadang berbenturan dengan kepentingan orang lain, sehingga antara harapan dan kenyataan menjadi tidak sinkron. 

 

 Sebab-sebab kecewa 

Mengapa terjadi kekecewaan, hal ini berkaitan dengan rencana dan kenyataan. Rencana adalah suatu nilai yang ideal, perencanaan yang baik akan menentukan keberhasilan suatu kegiatan. Kenyataan adalah sesuatu kepastian, bila kenyataan sesuai dengan rencana maka akan menimbulkan rasa puas, percaya diri dan siap untuk menghadapi tantangan berikutnya. Tidak semua kenyataan terjadi sesuai dengan harapan. Karena itu bila tidak sesuai dengan harapan maka akan terjadi kekecewaan. 

 

Kecewa karena cinta, pekerjaan, kecewa karena telah membeli barang ternyata tidak sesuai dengan speknya, kecewa terhadap perilaku anak-anaknya, kecewa terhadap hasil pekerjaan, kecewa karena dikhianati teman atau saudara dan masih banyak kekecewaan- kekecewaan yang lain. 

 

Ada seorang laki-laki yang berkonsultasi kepada Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) dengan terus terang, bahwa dirinya kecewa telah menikahi wanita pilihannya. Ketika ditanya, mengapa kecewa, bukankah istrinya cantik, muda, cerdas, terampil, anak orang yang terpandang dan religious. Ternyata yang dikatakan secara fisik dibenarkan, bahkan banyak orang yang mengatakan demikian. Namun dia tetap kecewa, yang menurut dirinya semua adalah tampilan luar atau casing, orang tidak mengetahui sifat dan karakter asli dari istrinya. Kemudian konsultan bertanya lagi, sifat dan karakter yang aslinya seperti apa? Kami akan berupaya membantu mencarikan solusi bila anda bersedia untuk mengatakan yang sesungguhnya. 

 

Kemudian laki-laki tersebut mengatakan yang dimulai dengan menceritakan latar belakang dirinya sendiri yang dilahirkan dari keluarga yang biasa saja, tidak berpendidikan tinggi, bukan anak birokrat atau pejabat pemerintah. Dirinya sudah terbiasa dengan hidup sederhana, namun selalu giat bekerja dan semangat dalam berusaha. Dengan pendidikan agama dalam keluarga, setiap hari dirinya bangun pagi bahkan sebelum adzan Subuh sudah bangun, lalu dilanjutkan dengan shalat Subuh di masjid, mengikuti dengan kuliah subuh dan tadarus Alquran. Setelah itu dilanjutkan dengan membersihkan rumah dan sekitarnya. Kebiasaan ini ternyata tidak diikuti oleh istrinya, bahkan setiap dirinya pulang dari masjid istrinya masih tidur dan setiap kali disuruh untuk bangun pagi selalu beralasan, bahkan kadang terjadi cekcok. 

 

Akibat dari suatu kekecewaan

Setiap sebab pasti akan mendatangkan akibat, bila orang kecewa pasti akan mendatangkan akibat baik bagi dirinya sendiri dan bisa jadi akan berdampak pada orang lain. Beberapa dampak dari kekecewaan: 

  1. Dari aspek psikologis bahwa orang yang sering mengalami kekecewaan akan bersikap pesimis dan apatis bahkan kadang tidak akan menaruh respek, simpati pada orang lain.
  2. Akan menjadi sebab timbulnya berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh kekecewaan dan menimbulkan berbagai macam penyakit hati. 
  3. Orang akan merasa masa bodoh, karena sikap yang dilakukan selalu mendatangkan kekecewaan, bila bekerja sering dicacat, diolok-olok, bahkan dirinya diberi stigma negativ.
  4. Akan terjadi tindakan kejahatan sebagai wujud dari kekecewaan, baik dengan kata-kata sampai menjadi kekerasan fisik yang menimbulakan kerugian, baik bagi dirinya maupun orang lain.
  5. Akan kehilangan teman, sahabat akibat ulah dan perilaku yang diluar control.
  6. Akan mencari pelampiasan atas kekecewaan itu bukan dengan membalas untuk mengecewakan tetapi untuk membuktikan bahwa dirinya bisa dan mampu. Menumbuhkan keyakinan diri untuk mengevaluasi dengan introspeksi dan ekstrospeksi. Untuk selanjutnya tumbuh suatu keyakinan, bila dia bisa, mengapa saya tidak bisa. Bukankah Allah telah menciptakan manusia dalam wujud yang paling sempurna, dirinyapun juga manusia yang sempurna.

 

Upaya mengatasi kekecewaan. 

Puas dan kecewa dua hal yang berlawanan, manusia ingin sukses, tetapi tidak semua kesuksesan akan mendatangkan rasa puas. Karena puas lebih dominan pada urusan hati, Bagaimana agar kesuksesan bisa mendatangkan rasa puas? Manusia bisa puas dan bisa kecewa. Kepuasan adalah suatu keinginan kekecewaan adalah suatu musibah. 

 

Ada beberapa upaya untuk menghindari kemungkinan terburuk dari kekecewaan: 

 

  1. Hentikan dari semua aktivitas, tenagkan hati dan pikiran, atur nafas dengan melakukan dzikir, minta pertolongan kepada Allah. Rasa kecewa yang berkecamuk, bergemuruh didalam hati, lalu muncul hawa nafsu yang berupaya untuk mewarnai kekecewaan maka akan mendatangkan musibah dan bencana yang lebih besar. 
  2. Identifikasi persoalan, mengapa terjadi kekecewaan, karena diri sendiri atau orang lain? Bila berkaitan dengan dirinya sendiri, maka harus menyadari bahwa dirinya harus lebih banyak melakukan introspeksi. Bila berkaitan dengan orang lain maka hendaklah mengembangkan sikap, jangan terlalu menggantungkan kepada orang lain. 
  3. Bila kekecewaan karena terjadinya miskomunikasi, maka perbaikilah cara berkomunikasi, pahami dan cermati setiap informasi, jangan sungkan untuk selalu mengingatkan dan mengklarifikasi. 
  4. Berpikir besar, bahwa kegagalan terhadap suatu urusan bukan berarti bencana, namun di sana masih banyak peluang dan kesempatan yang lebih besar lagi. 
  5. Jangan terlalu dipikirkan apa yang sudah terjadi, karena sesungguhnya dipikirkan atau tidak difikirkan toh semuanya sudah terjadi, fokuskan untuk melakukan hal-hal yang baru, fokus pada tujuan yang utama. 
  6. Kendalikan emosi dan hawa nafsu, biasanya ketika sedang kecewa akan menumpahkan kekesalan dengan berkata-kata yang kotor dan kasar. Rasul memberikan pedoman ketika sedang berdiri maka duduklah, ketika sedang duduk maka berbaringlah, bila sudah berbaring masih merasakan kesal, marah, maka segera bangun mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat. 

 

Kecewa bisa menimbulkan berbagai macam ekspresi, setiap orang mempunyai cara sendiri untuk mengatasi kekecewaan. Dengan kecewa, mengingatkan disitulah cara Allah mengingatkan kepada hamba-Nya, untuk mendewasakan hamba-Nya. Karena itu rasa kecewa terhadap sesuatu kegiatan dan kenyataan maka janganlah dibesar-besarkan, tetapi pahamilah bahwa setiap manusia yang hidup pasti mengalami kekecewaan dan carilah cara yang terbaik untuk mengatasi kekecewaan. Bila berkaitan dengan dirinya sendiri maka perbaikilah diri dengan banyak mengingat Allah, berpikir positif, beristighfar kemudian melaksanakan salat. Jangan memikirkan kekecewaan untuk dibesar-besarkan yang akhirnya akan membuat sikapnya menjadi apatis, pesimis dan tidak mempunyai rasa percaya diri.

11/15/2020

Berbuat Baik Atau Buruk Adalah Pilihan, Masuk Surga Atau Neraka Adalah Suatu Kepastian

Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dalam sebaik-baik bentuk, namun dengan kebaikan itu ternyata manusia mudah tergiur untuk melakukan kejahatan sehingga ditempatkan dalam serendah-rendah tempat, Allah SWT telah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. (QS. Ath-Thin: 4-6) Kesempurnaan atas penciptaan terhadap manusia, akan tetap terjaga, bila manusia berupaya menegakkan dan mendirikan perintah-perintah Allah. Mereka itu orang-orang yang beriman dan mengerjalan amal shalih. Sebaliknya bila manusia terdorong pada perbuatan yang tidak baik maka manusia kelak akan dimasukkan ke dalam neraka. Rasulullah SAW bersabda:

 إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا 

"Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga, sesungguhnya jika seseorang yang senantiasa berlaku jujur hingga ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Dan sesungguhnya jika seseorang yang selalu berdusta sehingga akan dicatat baginya sebagai seorang pendusta." (HR. Buchari Muslim). 

 

Manusia diberikan kebebasan untuk menentukan perbuatan bagi dirinya sendiri, baik atau buruk, benar atau salah. Dibalik itu manusia diberikan kebebasan untuk menentukan pilihannya. Karena akal memang diberikan kemampuan untuk memilih dan memilah suatu perbuatan. Bisakah akal menentukan perbuatan baik atau buruk, benar atau salah. Untuk mencapai kesempurnaan maka akal harus disandingkan dengan wahyu yang tertulis dalam kitab suci Alquran. Dalam haditsnya Rasululah SAW bersabda mengatakan bahwa rasul meninggalkan Alquran dan Assunnah, kepada siapa yang berpegang pada keduanya maka tidak akan sesat untuk selamanya.

 

 إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ 

"Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka akan tunggulah kehancurannya" HR. Buchari Muslim) 

 

Meninggalkan Alquran dan sunnah rasul, akan menjadi orang yang rugi, bisa jadi akan terjerumus pada perbuatan salah. Menentang kebenaran dan membela kejahatan, maka di akhirat Allah akan menentukan sebagai ahli jannah atau ahlinnar. Karena itu dialam akhirat setiap orang akan menanggung dosa dan kesalahaannya sendiri. Bila lebih banyak amal shalihnya maka akan langsung dimasukkan ke dalam surga, akan tetapi bila banyak perbuatan salah dan dosa maka kelak akan masuk neraka.

11/10/2020

Bimtek Manajemen Pemberdayaan Fungsi Masjid Sebagai Media Sosialisasi Adaptasi New Normal Life

Pemerintah Kabupaten Wonosobo bekerjasamana dengan Kantor Kementerian Agama dan Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Wonosobo menyelenggarakan Bimbingan Teknis pemberdayaan manajemen fungsi masjid. Kegiatan tersebut dilaksanakan selama tiga hari tanggal 9, 10, 12 November 2020 jam 08.30-11.30 dan 12.30-15.30 yang dilaksanakan oleh 3 tim. Tim pertama Drs. H. Toharotun dan Irna Firoyah, S. Ag, tim kedua Untaji Affan, S. Ag dan Hj. Munjiyatun, S. Ag, tim ketiga KH. Ahmad Zuhdi, M. Ag dan Dra. Amiroh Zaitun, dan masing-masing didampingi oleh personil Bagian Kesra Setda Wonosobo Pak Tarmin, Nasrudin dan Bu Erna. Kagiatan Bimtek dilaksanakan sebagai upaya sosialisasi penerapan adaptasi baru dan untuk memberikan pembekalan dan sekaligus motivasi pada segenap takmir masjid yang akan mengikuti lomba Kebersihan Keindahan dan Kemakmuran Masjid (K3M) ke-11 Tingkat Kabupaten Wonosobo. Kegiatan Bimtek pada setiap kecamatan diikuti 30 orang peserta yang terdiri dari unsur pemerintah dan takmir masjid.
Bimtek di Kecamatan Kertek dibuka oleh Camat Kertek Muhammad Said, S. Sos, MM, dalam sambutannya menyampaiakan agar takmir masjid lebih berinovasi dalam memajukan dan meningkatkan fungsi masjid, bahwa fungsi masjid bukan hanya untuk kegiatan shalat saja namun agar ditingkatkan pada fungsi yang lain, sebagaimana fungsi masjid pada masa Rasulullah sebagai tempat bermusyawarah, mengatur siasat perang, membagi harta rampasan, untuk pelayanan dan peningkatan ekonomi umat.
Hal senada juga disampaikan oleh Kabag. Kesra Setda Wonosobo H. Isnanto, S. Pd, MM yang juga sebagai tim gugus tugas penanggulan pandemic Covid-19 dalam melakukan monitoring kegiatan Bimtek manajemen pemberdayaan fungsi masjid pada setiap kecamatan. Diharapkan bahwa dengan manajeman masjid yang meliputi bidang idaroh, imaroh dan riayah, fungsi masjid akan lebih maksimal dan akan besar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Karena fungsi masjid yang sangat banyak, fungsi utama sebagi tempat sujud dan bisa dikembangkan untuk menjadi pusat kegiatan pendidikan, pelayanan, kesehatan, pembinan kader, peningkatan ekonomi dan lainnya. Karena itu perlu dikelola secara bersama-sama, melalui manajemen takmir masjid.

10/30/2020

Rahmate Allah Kanggo Sak Kabehane Alam, Khutbah Maulid Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW lahir ing tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah, nabi Muhammad lahir ing zaman jahiliyah. Zaman nalika para manungsa sampun dodosaken makhlukipun Allah dados sesembahan, semanten ugi pedamelan keji lan mungkar sampun dados pakulinan.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَتِ وَالنُّوْرِ, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِءُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاءُالْحُسْنَى, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ: اَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنُ رَحِمَكُمُ اللهُ, اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ رَبُّكُمْ فِى الْقُرْانِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum'ah Rahimakumullah Pertama lan ingkang paling utami khatib tansah wasiat khususipun dhateng pribadi piyambak lan sumrambah dhumateng para jemaah sekalian, mangga kita sami ningkataken iman lan taqwa dhateng Allah, inggih punika kanthi nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan nebihi sarta nilar sedaya awisanipun Allah, kanthi pangajab mugi-mugi kalebet golonganipun tiyang muttaqin, amin ya Rabbal ‘alamin. 

 

Boten supe mangga kita nuladhani punapa ingkang sampun dipun ngendikakaken lan dipun tindakaken dening nabi Muhammad, shalawat lan salam mugi tansah linuberaken dhateng nabi Muhammad SAW. Kaum muslimin jemaah shalat Jum'ah Rahimakumullah Ing dinten punika kita sampun mlebet ing wulan Rabiul Awal utawi wulan Maulud. Ing wulan punika kita dipun engetaken malih kaliyan wiyosanipun kanjeng nabi Agung Muhammad SAW ingkang dipun utus dening Gusti Allah kangge paring rahmat dhateng sedaya alam:

“Ingsun ora ngutus marang sira (Muhammad) kejaba dadi rahmat tumrap sekabehane wong ngalam kabeh”. (QS. Al Anbiya’: 107) 

 

Rahmatipun Allah punika kagem sedaya alam, arupi raos aman, tenang, raos welas asih, lan sanesipun. Rahmatipun Allah linuber dhateng sedaya manungsa, leres ingkang iman utawi kafir, malah kagem bangsa kewan lan wit-witan. Mekaten punika amargi wonten ing dalem Alquran sampun dipun sebataken tugasipun manungsa minangka ‘abdullah lan khalifatul ard, semanten ugi marginipun ugi sampun dipun terangaken wonten Alquran. Sak terasipun bilih kautusipun nabi Muhammad minangka paring kabar lan pepenget dhateng sadaya manungsa:

“Lan Ingsun ora ngutus seliramu (Muhammad) kejaba marang sekabehe umat manungsa, minangka (utusan) kang gawa kabar bebungah, kang aweh pepenget, ananging akeh-akehe manungsa ora padha mangerti”. (QS. Saba’: 28) 

 

Kanthi ayat punika Allah nedahaken bilih kautusipun nabi Muhammad minangka paring kabar ingkang ngremenaken khususipin dhateng tiyang-tiyang ingkang tansah pitados lan ngamalaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan utusanipun. Tiyang punika badhe dipun paringi kamulyan lan kabegjan utaminipun benjang wonten ing dinten qiyamat, badhe dipun lebetaken wonten ing suwarga. Kosok wangsulipun Allah paring pepenget dhateng para manungsa ingkang nulayani lan nolak dhateng dhawuh-dhawuhipun Allah lan utusanipun. Tiyang ingkang bangkang, dhawuhipun Allah dipun tilar malah awisanipun dipun tindakaken. Tiyang punika badhe dipun ganjar kanthi siksa ing salebetipun neraka, na’udhubillahi min zhalik. 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum'ah Rahimakumullah 

Mila supados manungga saget lumaku ing marginipun Allah, sahingga Allah ngutus nabi Muhammad SAW, saperlu kangge nyempurnakaken akhlaqipun para manungsa.

 

 إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ 

 

"Satuhune ingsun diutus supaya nyempunakake akhlaq kang becik” HR. Ahmad: 8595 

 

Nabi Muhammad lahir ing tannggal 12 Rabiul Awal tahun gajah, dipun utus dening Gusti Allah kangge nyempurnakaken akhlaqipun para manungsa. Amargi para manungsa ingkang sampun dipun paringi syariat agami sak derengipun nabi Muhammad, ananging syariat punika sampun dipun tilar, zaman punika dipun wastani zaman jahiliyah utawi zaman kebodohan. Ing zaman punika tiyang-tiyang boten sami manembah dhateng Gusti Allah. Mestinipun Allah ingkang dadosaken alam semesta dipun sembah ananging sami nyembah dhumateng brahala, damelanipun manungsa. 

 

Ing zaman jahiliyah, saderengipun nabi Muhammad lahir, menawi wonten bayi estri lahir langsung dipun pejahi kanthi cara dipun pendhem nalika bayi tasih gesang gesang. Masyarakat jahiliyah ugi dhemen mabuk-mabukan, main, remen memengsahan lan damel rusaking bumi. Sahingga Allah ngutus nabi Muhammad. Syariat nabi Muhammad sampun sampurna, mekaten punika kasebat ing dalem Alquran surat Al Maidah ayat 3:

“Ana ing dina iki Ingsun wis nyempurnakake agamaira kabeh, lan wis nyempurnakake nikmat Ingsun kanggo sira kabeh lan uga Ingsun wis ridha Islam minangka agama ira kabeh”. 

 

 Sampurnaning agama Islam, kangge nuntun dhateng manungsa ing margi ingkang leres supados saget slamet ing dunya dumugi akhirat samangke. Mila kejawi Alquran, kita ugi saget ngugemi sunnah-sunah rasul, leres saking ngendikanipun rasul lan tindak lampahipun.

 

 تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ 

 

 " Aku tinggalake kanggo sira, perkara loro kang ora dadekake sasar, selagine sira gegondhelan marang lorone yaiku Kitabullah lan Sunnah Rasul”. (HR. Malik)

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

10/23/2020

Usaha Wujudkan Anak Shalih, Identifikasi Kebutuhan -Khutbah Jum'at Bahasa Indonesia

 Setiap orang hidup tentu menginginkan mempunyai keturunan, sebagai aset dirinya untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Keturunan yang berupa anak shalih selalu menjadi idaman bagi setiap orang, sehingga setelah setelah membangun rumah tangga ingin segera mendapatkan momongan sehingga dalam doanya selalu meminta agar diberikan keturunan yang shalih dan shalihah. Sejak bayi dalam kandungan selalu diajari untuk mengenal Tuhannya dengan membiasakan berperilaku yang baik dan juga makan minum yang khalal dan thayyib. Demikian setelah lahir dijaga, dibimbing, didik, dilindungi agar menjadi generasi Qur'ani.



اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ تَعَالَى مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللهُ لَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْرٍ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَةً ضِعَافًا.اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ. وَأَحْيِنَا اَللّٰهُمَّ عَلَى سُنَّتِهِ وَأَمِتْنَا عَلَى مِلَّتِهِ. وَبَعْدُ

 

 Marilah kita bertakwa kepada Allah kapanpun dan di manapun kita berada. Yaitu, senantiasa mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah. Sebab, hanya dengan taqwa manusia memiliki derajat nilai di sisi Allah. Ketahuilah, sesungguhnya budi pekerti mulia merupakan buah taqwa dan sumber kebaikan ummat manusia. Anak adalah buah hati bagi kedua orang tuanya yang sangat disayangi dan dicintainya. Sewaktu bahtera rumah tangga pertama kali diarungi, maka pikiran pertama yang terlintas dalam benak suami istri adalah berapa jumlah anaknya kelak akan mereka miliki, serta kearah mana anak tersebut akan dibawa. 

 

Namun yang menjadi masalah adalah kemana anak akan kita arahkan setelah mereka terlahir. Umumnya orang tua menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi anak yang shalih, agar setelah dewasa mereka dapat membalas jasa kedua orang tuanya. Namun obsesi orang tua kadang tidak sejalan dengan usaha yang dilakukannya. Padahal usaha merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan bagi terbentuknya watak dan karakter anak. Obsesi tanpa usaha adalah hayalan semu yang tak akan mungkin dapat menjadi kenyataan. 

 

Bahkan sebagian orang tua akibat pandangan yang keliru menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi bintang film (artis), bintang iklan, fotomodel dan lain-lain. Mereka beranggapan dengan itu semua kelak anak-anak mereka dapat hidup makmur seperti kaum selebritis yang terkenal itu. Padahal dibalik itu semua mereka kering akan informasi tentang perihal kehidupan kaum selebritis yang mereka puja-puja. Hal ini terjadi akibat orang tua yang sering mengkonsumsi berbagai macam acara-acara hiburan diberbagai media cetak dan elektronik, karena itu opininya terbangun atas apa yang mereka lihat selama ini. Apakah kita menginginkan anak-anak kita menjadi orang yang jauh dari agamanya, yang kelihatannya bahagia di dunia namun menderita di akhirat? Tentu tidak. Allah Subhannahu wa ta'ala berfirman:

“ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. Annisa: 9). 

 

Pengertian lemah dalam ayat ini adalah lemah iman, lemah fisik, lemah intelektual dan lemah ekonomi. Oleh karena itu selaku orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, maka mereka harus memperhatikan keempat hal ini. Pengabaian salah satu dari empat hal ini adalah ketimpangan yang dapat menyebabkan ketidak seimbangan pada anak. Imam Ibnu Katsir dalam mengomentari pengertian lemah pada ayat ini memfokuskan pada masalah ekonomi. Beliau mengatakan selaku orang tua hendaknya tidak meninggalkan keadaan anak-anak mereka dalam keadaan miskin. Dan terbukti berapa banyak kaum muslimin yang rela meninggalkan aqidahnya (murtad) di era ini akibat keadaan ekonomi mereka yang dibawah garis kemiskinan. 

 

Banyak orang tua yang mementingkan perkembangan anak dari segi intelektual, fisik dan ekonomi semata dan mengabaikan perkembangan iman. Orang tua terkadang berani melakukan hal apapun, yang penting kebutuhan pendidikan anak-anaknya dapat terpenuhi, sementara untuk memasukkan anak-anak mereka pada TK-TPQ terasa begitu enggan. Padahal aspek iman merupakan kebutuhan pokok yang bersifat mendasar bagi anak. 

 

Ada juga orang tua yang menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan bagi anak-anak mereka dari keempat masalah pokok di atas, namun usaha yang dilakukannya kearah tersebut sangat diskriminatif dan tidak seimbang. Sebagai contoh: Ada orang tua yang dalam usaha mencerdaskan anaknya dari segi intelektual telah melaksanakan usahanya yang cukup maksimal, segala sarana dan prasarana kearah tercapainya tujuan tersebut dipenuhinya dengan sungguh-sungguh namun dalam usahanya memenuhi kebutuhan anak dari hal keimanan, orang tua terlihat setengah hati, padahal mereka telah memperhatikan anaknya secara bersungguh-sungguh dalam segi pemenuhan otaknya. 

 

Jemaah Jum’at Rahimakumullah. 

Karena itu sebagian orang tua yang bijaksana, mesti mampu memperhatikan langkah-langkah yang harus di tempuh dalam merealisasikan obsesinya dalam melahirkan anak yang shalih. Di bawah ini akan kami ketengahkan beberapa langkah yang cukup representatif dan membantu mewujudkan obsesi tersebut: 

 

1. Opini atau persepsi orang tua atau anak yang shalih tersebut harus benar-benar sesuai dengan kehendak Islam berdasarkan Alqur’an dan sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam, bersabda:

 

 إِذَا مَاتَ بْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

 

“Jika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: sadaqah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim) 

 

Dalam hadits ini sangat jelas disebutkan ciri anak yang shalih adalah anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Sementara kita telah mengetahui, bahwa anak yang senang mendoakan orang tuanya adalah anak sedari kecil telah terbiasa terdidik dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan, melaksanakan perintah-perintah Allah Subhannahu wa ta'ala , dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Anak yang shalih adalah anak yang tumbuh dalam naungan dien-Nya, maka mustahil ada anak dapat bisa mendoakan orang tuanya jika anak tersebut jauh dari perintah-perintah Allah SWT dan senang bermaksiat kepada-Nya. Anak yang senang bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala, jelas akan jauh dari perintah Allah dan kemungkinan besar senang pula bermaksiat kepada kedua orang tuanya sekaligus. 

 

Dalam hadits ini dijelaskan tentang keuntungan memiliki anak yang shalih yaitu, amalan-amalan mereka senantiasa berkorelasi dengan kedua orang tuanya walaupun sang orang tua telah wafat. Jika sang anak melakukan kebaikan atau mendoakan orang tuanya maka amal dari kebaikannya juga merupakan amal orang tuanya dan doanya akan segera terkabul oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala . Jadi jelaslah bagi kita akan gambaran anak yang shalih yaitu anak yang taat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala , menjauhi larangan-larangan-Nya, selalu mendoakan orang tuanya dan selalu melaksanakan kebaikan-kebaikan. 

 

2. Menciptakan lingkungan yang kondusif ke arah tercipta-nya anak yang shalih. 

Lingkungan merupakan tempat di mana manusia melaksana-kan aktifitas-aktifitasnya. Secara mikro lingkungan dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu: 

a. Lingkungan keluarga. 

Keluarga merupakan sebuah institusi kecil dimana anak mengawali masa-masa pertumbuhannya. Keluarga juga merupakan madrasah bagi sang anak. Pendidikan yang didapatkan merupakan pondasi baginya dalam pembangunan watak, kepribadian dan karakternya. Jika anak dalam keluarga senantiasa terdidik dalam warna ke-Islaman, maka kepribadiannya akan terbentuk dengan warna ke-Islaman tersebut. Namun sebaliknya jika anak tumbuh dalam suasana yang jauh dari nilai-nilai ke-Islaman, maka jelas kelak dia akan tumbuh menjadi anak yang tidak bermoral. Seorang anak yang terlahir dalam keadaan fitrah, kemudian orang tuanyalah yang mewarnainya, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

 

 كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ. (رواه البخاري)

 

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan yang fitrah (Islam), maka orang tuanya yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari) 

 

 Untuk itu orang tua harus dapat memanfaatkan saat-saat awal dimana anak kita mengalami pertumbuhannya dengan cara menanamkan dalam jiwa anak kita kecintaan terhadap diennya, cinta terhadap ajaran Allah Subhannahu wa ta'ala dan rasul-Nya Shallallaahu alaihi wa salam, sehingga ketika anak tersebut berhadapan dengan lingkungan lain anak tersebut memiliki daya resistensi yang dapat menangkal setiap saat pengaruh negatif yang akan merusak dirinya. Agar dapat memudahkan jalan bagi pembentukan kepribadian bagi anak yang shalih, maka keteladanan orang tua merupakan faktor yang sangat menentukan. 

 

Oleh karena itu, selaku orang tua yang bijaksana dalam berinteraksi dengan anak pasti memperlihatkan sikap yang baik, yaitu sikap yang sesuai dengan kepribadian yang shalih sehingga anak dapat dengan mudah meniru dan mempraktekkan sifat-sifat orang tuanya 

 

b. Lingkungan Sekolah. Sekolah merupakan lingkungan di mana anak-anak berkumpul bersama teman-temannya yang sebaya dengannya. Belajar, bermain dan bercanda adalah kegiatan rutin mereka di sekolah. Sekolah juga merupakan sarana yang cukup efektif dalam membentuk watak dan karakter anak. Di sekolah anak-anak akan saling mempengaruhi sesuai dengan watak dan karakter yang diperolehnya dalam keluarga mereka masing-masing. 

 

Anak yang terdidik secara baik di rumah tentu akan memberi pengaruh yang positif terhadap teman-temanya. Sebaliknya anak yang di rumahnya kurang mendapat pendidikan yang baik tentu akan memberi pengaruh yang negatif menurut karakter dan watak sang anak. Oleh sebab itu orang tua seharusnya mampu melihat secara cermat dan jeli sekolah yang pantas bagi anak-anak mereka. Orang tua tidak harus memasukkan anak mereka di sekolah-sekolah favorit semata dalam hal intelektual dan mengabaikan faktor perkembangan akhlaq bagi sang anak, karena sekolah tersebut akan memberi warna baru bagi setiap anak didiknya. Keseimbangan pelajaran yang diperoleh murid di sekolah akan lebih mampu menyeimbangkan keadaan mental dan intelektualnya. 

 

Karena itu sekolah yang memiliki keseimbangan kurikulum antara pelajaran umum dan agama akan lebih mampu memberi jaminan bagi seorang anak didik. 

 

c. Lingkungan Masyarakat. 

Masyarakat adalah komunitas yang terbesar dibandingkan dengan lingkungan yang kita sebutkan sebelumnya. Karena itu pengaruh yang ditimbulkannya dalam merubah watak dan karakter anak jauh lebih besar. Masyarakat yang mayoritas anggotanya hidup dalam kemaksiatan akan sangat mempengaruhi perubahan watak anak kearah yang negatif. Dalam masyarakat seperti ini akan tumbuh berbagai masalah yang merusak ketenangan, kedamaian, dan ketentraman. Anak yang telah di didik secara baik oleh orang tuanya untuk selalu taat dan patuh pada perintah Allah Subhannahu wa Ta'ala dan RasulNya, dapat saja tercemari oleh limbah kemaksiatan yang merajalela disekitarnya. 

 

Oleh karena itu untuk dapat mempertahankan kwalitas yang telah terdidik secara baik dalam institusi keluarga dan sekolah, maka kita perlu bersama-sama menciptakan lingkungan masyarakat yang baik, yang kondusif bagi anak. Jika setiap orang merasa tidak memiliki tanggung jawab dalam hal beramar ma’ruf nahi munkar, maka segala kemunkaran bermunculan dan merajalela di tengah masyarakat kita dan lambat atau cepat pasti akan menimpa putra dan putri kita. Padahal kedudukan kita sebagai umat yang terbaik yang dapat memberikan ketentraman bagi masyarakat kita hanya dapat tercapai jika setiap individu muslim secara konsisten menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, karena Allah Subhannahu wa ta'ala berfirman:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah...” (QS. Ali Imran: 110). 

 

 Untuk itu di akhir khutbah ini marilah kita bersama-sama merasa peduli terhadap kelangsungan hidup generasi kita, semoga dengan kepedulian kita itulah Allah Subhannahu wa Ta'ala akan senantiasa menurunkan pertolonganNya kepada kita dan memenangkan Islam di atas agama-agama lainnya. Marilah kita berdo’a kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala .

 

 رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ.

10/13/2020

Sabar Ngadhepi Pandemi Virus Corona Kanthi Nindakaken Protokol Keagamaan lan Kesehatan, Khutbah Bahasa Jawa

Usaha, ikhtiyar lan tawakal ngadhepi lan nanggulangi nyebaripun virus corona, ampun nglokro nanging kedah yakin. Bilih balak, musibah lan bencana badhe sirna. Kanthi punika kedah nindakaken protokol keagamaan lan protokol kesehatan. Mugi slamat, sehat lan bagas waras.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَتِ وَالنُّوْرِ ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِءُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاءُالْحُسْنَى, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ,اَلْمَبْعُوْثُ بِالْحَقِّ وَالْوَفَى. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ: اَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنُ رَحِمَكُمُ اللهُ, اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ رَبُّكُمْ فِى الْقُرْانِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوا اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُوااللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Sedaya puji namung kagunganipun Allah, Gusti ingkang tansah nyempurnakaken nikmatipun kagem kita sedaya, nikmatipun kaluberaken boten enten watesipun, rahmanipun lan barakahipun wiyar kanthi boten winates. Shalawat lan salam mugi kanjuk dhateng uswah hasanah, junjungan kita nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat lan sedaya tiyang ingkang tansah dherekaken lan nggesangaken sunnahipun. 

 

Mangga anugerah Allah ingkang sampun dipun paringaken dhateng kita, arupi, iman lan Islam ingkang tansah tinancep ing manah, tansah kita tingkataken supados dados taqwa sak leresipun, kanthi nindakaken nindakaken dhawuhipun Allah lan rasulipun selaras kalian usaha ingkang maksimal nalika ninggalaken sedaya ingkang dipun awisi Allah lan rasul. Mekaten punika ingkang dipun wastani taqwa ingkang sak leresipun, selaras kalian janjinipun. Kanthi panuwun mugi-mugi kita kalebet golonganipun tiyang ingkang badhe dipun paringi kamulyan wonten ngarsanipun Allah SWT.

“Satuhune wong kang paling mulya ing antarane sira ana ngarsane Allah yaiku wong kang paling taqwa. Satuhune Allah Maha Pirsa lan Maha Waspada”. (QS. Al Hujurat: 13) 

 

Kaum muslimin Jemaah Jum’ah Rahimakumullah 

Menawi kita gatosaken, bilih dumugi wekdal sapunika virus corona/ Covid-19 dereng sirna saking bumi, kanthi punika kita ampun ngentengaken utawi nyepelekaken wontenipan pandemi. Namung kita kedah yakin bilih musibah punika mesthi wonten akhiripun, kanthi rahmatipun Allah dhateng kita sedaya. 

 

Kanthi punika kangge ngadhepi pandemi punika kita nindakaken protokol keagamaan lan protokol kesehatan. Nindakaken protokol keagamaan kita mraktekaken kandungan surat Al Ashr, ingkang ngandung sekawan perkawis ingkang kedah kita tindakaken. 

 

Sepindhah kita kiyataken iman dhumateng Allah, Tauhidullah, lan ugi dipun tebihi sedaya bentuk kemaksiatan. Perlu kita mangertosi bilih, musibah lan bencana boten badhe tumurun wonten ing bumi, kejawi nalika saperangan penduduk bumi sampun nindakaken kedhaliman kaleres dhateng Allah lan ugi dhateng pribadinipun piyambak. Allah sampun paring pimut wonten Alquran:

“lan ora tau (uga) Ingsun nyirnakake kota-kota, kejaba penduduke padha nglakoni tumindak aniyaya” (QS. Al Qhashas: 59) 

 

Dados nalika Gusti Allah nurunaken balak lan musibah, amargi penduduk bumi sampun nindakaken pedamelan aniyaya. 

 

Kaping kalih, wa’amilus shalihah, mangga kita tebaraken amal shalih punapa kemawon, shalat gangsal wekdal mangga dipun tingkataken kualitasipun lan tepatipun, syukur kanthi nindakaken shalat-shalat sunnah ingkang dipun tuntunaken dening Rasulullah SAW. Puasa sunnahipun mangga dipun tindakaken. Punapa malih shadaqahipun, amargi salah setunggal saking shadaqah saged nutup murkanipun Allah dhateng makhluqipun lan saget ngangkat bencana ing bumi. Mila wonten surat Munafiqun benjang ing dinten akhir, wonten tiyang ingkang pingin dipun konduraken ing dunya saperlu kangge nindakaken shadaqah.

"Duh Gusti, kenging punapa Panjenengan boten batalaken (pejah) kula dumugi wekdal ingkang caket, kang nyebabaken kula saget shadaqah lan kawula kelebet tiyang-tiyang ingkang shalih?" (QS. Munafiqun: 10) 

 

Lan ugi, mangga kita tingkataken akhlaq pribadi, keluarga lan akhlak sosial, kanthi nindakaken kesaenan lan nindakaken amal saleh, ampun supe wonten ing amliyah kanthi leres, nalika nindakaken dol-tinuku ampun ngantos wonten tumindak goroh lan palsu. Mugi-mugi kanthi mekaten Allah badhe paring pangapunten dhumateng kita. 

 

Kaping tiga, dipun kulinakaken paring wasiat ingkang haq “watawashaubil haq”, leres lan sae tindakan napa malih wonten hal-hal ingkang penting. Kita dipun dhawuhi tansah tumindah leres lan jujur dan bergaul kalian tiyang- tiyang ingkang leres lan jujur. Allah SWT paring dhawuh wonten Alquran surat Attaubah ayat 119.

“Hai wong-wong kang padha iman, taqwaha maring Allah, lan becike sira bareng-bareng karo wong kang bener”. (QS. Attaubah: 119) 

 

Kaping sekawan kita budayakaken kesabaran,” (watawa shaubis-shabri), sabar nalika nampi musibah lan bencana, kelebat pagebluk/ virus corona. Mila ampun nglokro, kita kedah yakin kanthi usaha lan ikhtiyar midherek dhawuhipun Allah kita badhe dipun tebihakaen saking balak, musibah lan bencana. Allah sampun dhawuh wonten Alquran:

“Hai wong-wong kang padha iman sabara sira lan kuwatna kesabaran-ira lan tetep waspada (ing watesing negara) lan taqwaha marang Allah, supaya sira beja”. (QS. Ali Imran: 200) 

 

Usaha lan ikhtiyar kita tindakaken, protokol keagamaan lan protokol kesehatan. Nindakaken protokol kesehatan kanthi tansah ngagem masker, ngulinakaken nyuci astanipun, jagi jarak lan ampun kempal-kempal ingkang boten wonten manfaatipun. Nutup kemadharatan kangge merkoleh kemaslahatan ingkang langkung ageng. Rasulullah SAW ngemutaken dhateng kita:

 الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ 

“Wong mukmin kang kuat lwih becik timimbang wong mukmin kang loyo, kang ing loro-lorone tetep ana apike”. (HR. Muslim) 

 

Mugi-mugi Allah ngijabahi panuwun kita, sahingga balak, musibah lan bencana arupi virus corona unika enggal sirna. Amin, amin ya Robbal ‘alamin.

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

10/07/2020

Protokol Keagamaan dan Protokol Kesehatan, Usaha dan Ikhtiar Atasi Covid-19, Khutbah Bahasa Indonesia

Covid-19 masih belum reda, oleh karena itu jangan menyepelekan dengan menganggap enteng. Namun kita harus yakin bahwa musibah pandemi ini insya-Allah akan berakhir atas kekuasaan Allah dan rahmat dan rahim Allah kepada kita sekalian. Karena itu marilah kita melaksanakan dua protokol sekaligus yang pertama adalah protokol keagamaan yang kedua protokol kesehatan.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَتِ وَالنُّوْرِ ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِءُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاءُالْحُسْنَى, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ,اَلْمَبْعُوْثُ بِالْحَقِّ وَالْوَفَى. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ: اَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنُ رَحِمَكُمُ اللهُ, اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ رَبُّكُمْ فِى الْقُرْانِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا 

 

Segala puji hanya bagi Allah, milik Allah, Tuhan yang senantiasa menyempurnakan nikmatnya kepada kita sekalian, nikmatnya tercurah tiada henti rahmat dan barokah nya terbentang luas tiada tepi. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada uswah hasanah kita, junjungan kita nabi Muhammad SAW, para keluarga para sahabat dan semua orang yang senantiasa mengikuti dan menghidupi sunnah-sunnahnya. 

 

Kaum muslimin yang berbahagia. 

Marilah iman dan Islam yang sampai detik ini masih tertancap di hati kita, terus kita pelihara dan kita tingkatkan menjadi taqwa yang sebenarnya. Dengan melaksanakan perintah-perinah Allah dan rasulnya seiring dengan usaha kita di dalam meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah dan rasul itulah takwa yang sebenarnya. Dan kita yakin, bagaimana Allah janjikan kepada kita, semoga kita semuanya akan masuk di antara hamba-hambanya yang dimuliakan di sisi-nya karena ketakwaan kita .

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al Hujurat: 13)

 

 Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah. 

Marilah kita sadari bersama-sama, bahwa sampai dengan hari ini Covid-19 masih belum reda, oleh karena itu jangan sekali-kali kita menyepelekan dengan menganggap enteng dalam masalah covid ini. Namun kita harus yakin bahwa musibah pandemi ini insya-Allah akan berakhir atas kekuasaan Allah dan rahmat dan rahim Allah kepada kita sekalian. Oleh karena itu jemaah Jum’ah Rahimakumullah marilah kita bersama-sama melaksanakan dua protokol sekaligus yang pertama adalah protokol keagamaan yang kedua protokol kesehatan. 

 

Melaksanakan protokol keagamaan kita mempraktekkan kandungan surah yang pendek yaitu surat Al ‘Asr di sana ada empat perkara yang sangat mendasar yang harus kita laksanakan: 

 

Pertama: Kuatkan iman, Tauhidullah dan sekaligus jauhilah, hindari segala bentuk kemaksiatan. Suatu bencana suatu musibah tidak akan diturunkan oleh Allah ke bumi kecuali karena sebagian penduduk bumi melakukan kezaliman baik terhadap Allah maupun terhadap dirinya Allah mengingatkan kepada kita dalam surat Al Qashas ayat 59:

“Dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” 

 

Jadi sekarang pandemi Covid-19 sudah melanda seluruh dunia, ini menandakan bahwa seluruh penduduk dunia ini sudah melakukan perbuatan kezaliman, baik terhadap Allah maupun terhadap dirinya sendiri. 

 

Kedua, pesan surat Al “Asr “wa ‘amilus shalihat”. Mari kita tegakkan amal shalih, berupa apa saja, ibadah fardhu kita kita tingkatkan kualitasnya dan ketepatan waktunya, syukur dengan menambah salat-salat sunnah yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW, shaum sunnahnya marilah kita pelihara, shadaqahnya apalagi, karena shadaqah itu satu diantara hikmahnya adalah bisa menghindarkan dari kemurkaan Allah kepada hamba-Nya dan bisa mengangkat bencana yang menimpa. Oleh karena ada orang yang menyesal karena sedikit shadaqahnya, sehingga ingin dikembalikan lagi hidup di dunia:

"Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku Termasuk orang-orang yang saleh?" (QS. Munafiqun: 10)

 

Demikian pula marilah kita tingkatkan akhlak pribadi, keluarga dan akhlak sosial kita dengan berbuat baik atau dengan amal shalih, jangan lupa muamalahnya yang benar dalam transaksi, jual-beli jangan ada tipuan, jangan ada kecurangan, jangan ada kepalsuan. Mudah-mudahan dengan itu Allah memberikan ampunan kepada kita. 

 

Ketiga, budayakan kebenaran “tawa shaubil haq” baik benar didalam niat, apapun yang akan dikerjakan, benar di dalam ucapan kepada siapapun, jangan ada ketidakjujuran, apalagi dalam hal-hal yang yang sangat penting.

 

Kaum muslimin yang dirahmati Allah. 

Kita memang diperintahkan untuk terus berbuat benar, jujur dan terus bergaul dengan orang-orang yang benar dan orang-orang yang jujur,

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (QS. Attaubah: 119) 

 

Keempat: budayakan kesabaran “watawa shaubis shabr”, sabar dalam menghadapi apapun, cobaan yang sedang menimpa kepada kita sekalian termasuk pandemi saat ini. Oleh karena itu jangan putus asa, yakinlah bahwa suatu saat, dengan usaha dan ikhtiar kita sesuai dengan tuntunan Allah dan rasulnya insya- Allah, Allah akan mengangkatnya:

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”. (QS. Ali Imran: 200) 

 

Yang kedua protokol kesehatan sebagaimana, keputusan pemerintah agar membiasakan memakai masker setiap keluar rumah, biasakan cuci tangan setelah melakukan semua kegiatan, biasakan jaga jarak, seperti yang sedang kita laksanakan sekarang ini, shaf yang mestinya rapat, namun karena pandemi ini kita renggangkan, untuk menjaga jangan ada penyebaran virus yang berbahaya ini, dan dalilnya jelas “sadduddara’i” yaitu menutup pintu kemadharatan untuk meraih kemanfaatan ini besar. 

 

Kaum muslimin Jemaah Jum’ah Rahimakumullah. 

Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita sekalian:

 الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ 

'Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta 'ala daripada orang mukmin yang lemah. Pada masing-masing memang terdapat kebaikan. (HR. Muslim) 

 

Hadits tersebut mengingatkan kepada kita sekalian, bahwa mukmin yang kuat, sehat lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah dalam segala urusan. Di tengah hati situ diperingatkan kepada kita, supaya kita jangan berbuat lemah, jangan putus asa, kita terus berikhtiar dan kita terus berdoa kepada Allah, agar pandemi yang sedang kita hadapi ini mudah-mudahan segera berakhir, amin ya Rabbal ‘alamin.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

10/03/2020

Kesaktian Pancasila dan Kesaktian Manusia, Khutbah Jum’at Bahasa Indonesia

Pancasila adalah idiologi dasar negara Indonesia, telah beberapa kali mengalami ujian, namun karena kandungan Pancasila sesuai dengan keyakinan dan budaya bangsa Indonesia sehingga Pancasila tetap sakti. Sila-sila Pancasila sesuai dengan syari’at Islam.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بنِعْمَةَ اْلِإيْمَانِ وَاْلإِسْلَامِ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ أَهْوَالِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَافِعُ اْلأُمَّةِ وَخَيْرُ اْلبَرِيَّةِ, اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ وَيَجْتَنِبُوْنَ اْلَمنْهِيَّاتِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah 

Pertama dan yang paling utama khatib senantiasa berwasiat, marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah yaitu dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah. Marilah kita kuatkan usaha, ikhtiar dan tawakal kita kepada Allah untuk memutus penyebaran pandemi Covid-19, yang mana kita berharap Covid segera berlalu namun yang terjadi penularan covid semakin meningkat. 

 

Karena itu marilah kita selalu berupaya untuk menerapkan protokol kesehatan, yaitu dengan membiasakan untuk mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan. Disamping kita menerapkan protokol kesehatan kita juga berupaya untuk menerapkan protokol keagamaan yaitu dengan meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah memperbanyak dzikir memohon ampunan kepada Allah dan meningkatkan Amaliyah ibadah baik ibadah mahdhah maupun ibadah ghairu mahdhah. 

 

Negara Indonesia mengalami pergolakan, rakyatnya mengalami penderitaan, siksaan akibat dari perbuatan manusia. Selama tiga setengah abad Bangsa Indonesia hidup dalam tekanan siksaan kaum penjajah, rakyat Indonesia hidup di negeri sendiri tapi laksana hidup di negeri orang lain, karena yang menguasai adalah orang lain. Kemudian atas perjuangan dan pengorbanan para pahlawan pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaan. Setelah proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia masih mengalami siksaan dan penderitaan yang disebabkan oleh saudaranya sendiri yaitu sesama warga negara Indonesia. 

 

Pada tanggal 30 September 1965 terjadi pemberontakan G30S PKI, mereka akan mengganti ideologi negara Indonesia yaitu Pancasila diganti dengan ideologi komunis karena itu pada tanggal 30 September 1965 ada 10 pahlawan revolusi yang disiksa, dibantai, dibunuh dan dimasukkan dalam sumur tua atau lubang buaya. PKI tidak menyetujui berdirinya negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, sehingga akan diganti dengan faham komunis. Karena komunis tidak sesuai dengan idiologi bangsa Indonesia yang religious maka akhirnya dapat dilumpuhkan dan pada tanggal 1 Oktober 1965 dinyatakan sebagai hari Kesaktian Pancasila dan pada tahun ini baru saja diperingati. 

 

Pancasila adalah dasar negara merupakan sumber dari segala sumber hukum bangsa Indonesia, Pancasila bisa mengeratkan bangsa Indonesia yang mempunyai agama yang berbeda, keyakinan yang berbeda, suku bangsa dan bahasa yang berbeda, bisa disatukan dalam satu ideologi yaitu Pancasila. Pada khutbah ini akan disampaiakan tentang Pancasila dalam perspektif Islam. 

 

Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa adalah menyatakan tentang ketauhidan dan hablum minallah. Allah berfirman dalam Alquran:

Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS. Al Ihlas: 1-4) 

 

Islam mengajarkan tentang prinsip Ketauhidan, Allah itu Maha Esa dan disebutkan didalam Pancasila sila pertama bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa. 

 

Sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab mencerminkan hablum minannas atau hubungan sesama manusia. Hablum minallah peran manusia sebagai hamba Allah dan habluminannas peran manusia sebagai khalifatul fil ard atau wakil Allah di muka bumi. Allah SWT berfirman:

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat: 13) 

 

Sikap saling mengenal pada ayat tersebut adalah jika sesama manusia sudah saling mengenal, maka akan timbul sikap saling menghormati. Salah satunya adalah melakukan dialog, karena dengan dialog akan memunculkan keterbukaan berbagai pihak yang pada akhirnya akan timbul sikap saling menghargai satu sama lain dan juga melakukan sikap saling menghormati. 

 

Sila ke-3 Persatuan Indonesia, adalah mencerminkan ideologi insaniyah yaitu persaudaraan sesama manusia dan ukhuwah Islamiyah yaitu persaudaraan sesama umat Islam. Allah SWT berfirman:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran: 103)

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”, (QS. Ali Imran: 105) 

 

Sikap toleransi, saling menghargai dan saling menghormati, dalam persatuan juga harus ditarik garis persamaan bukan garis perbedaan yang akan memunculkan perpecahan dan permusuhan. 

 

Sila keempat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Kerakyatan sejalan dengan prinsip Islam yaitu mudzakarah atau perbedaan pendapat dan as-syura yaitu musyawarah. Firman Allah dalam Alquran.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 159) 

 

Sila ke-5 keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila ini sejalan dengan prinsip keadilan dalam Islam keadilan sosial berkaitan dengan maqashid al syari’ah (sasaran-sasaran syari’at) yang terdiri dari tiga hal: 

 

Pertama dharuriyah perlindungan terhadap hak-hak yang bersifat esensial bagi kehidupan seperti agama atau addin, jiwa atau nafs, keturunan atau nasab, akal atau aql, harta atau mall

 

Kedua hajiyah yaitu menemukan hal-hal yang diperlukan dalam hidup manusia, tetapi bobotnya di bawah dharuriyah. 

 

Ketiga tahsiniyah perwujudan hal yang menjamin peningkatan kondisi individu dan masyarakat. Dalam prinsip keseimbangan kehidupan ekonomi, Alquran mencela orang yang sibuk memupuk harta hingga melupakan kematian:

“ Kecelakaanlah bagi Setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya Dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah”. (QS. Al Humazah: 1-4) 

 

Demikianlah bahwa seluruh sila dalam Pancasila selaras dengan ajaran Islam. Karena itu setiap muslim yang telah memahami dan melangamalkan ajaran Islam pada dasarnya telah mengamalkan Pancasila. Oleh karena itu sebagai muslim sudah semestinya untuk mempertahankan Pancasila sebagai idiologi bangsa dan Negara Indonesia.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

9/30/2020

Awisan Damel Kapitunan Kangge Ngedoh Seka Bilahi, Khutbah Bahasa Jawa

Manungsa punika salah setunggaling makhlukipun Allah SWT ingkang dipun paringi amanah dados khalifah ing bumi. Kanthi punika gesang ing alam dunya manungsa punika sampun dipun paringi pitedah kasebat ing dalem kitab suci lan assunnah. Ing alam dunya kedah saget damel kesahenan, ampun damel risak ingkang saget nuwuhaken kapitunan lan cilaka ing gesang.


اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بنِعْمَةَ اْلِإيْمَانِ وَاْلإِسْلَامِ وَاْلِاسْتِقْلَالِ أَوِاْلحُرِّيَّةِ، وَأَفْهَمَنَا مِنْ عُلُوْمِ الدِّيْنِ وَاْلعَقِيْدَةِ، وَبَيَّنَ لَنَا وَأَرْشَدَنَا اْلأَخْلَاقَ الْكَرِيْمَةَ وَاْلأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ أَهْوَالِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَافِعُ اْلأُمَّةِ وَخَيْرُ اْلبَرِيَّةِ, اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ وَيَجْتَنِبُوْنَ اْلَمنْهِيَّاتِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ 

 

Kaum muslimin Jemaah Jum’ah Rahimakumullah 

Boten wonten wasiat ingkang langkung utami, kejawi wasiat ningkataken iman lan taqwa dhumateng Allah SWT, amargi kanthi iman lan taqwa punika, insya-Allah gesang kita tansah pinaringan pitedah, dipun gampilaken sedaya perkawis ing dunya lan benjang wonten ing akhirat. Kanthi mekaten ing sak dangunipun gesang sumangga kita tansah nindakaken kemaslahatan, kesahenan lan nilar sedaya tumindak ingkang dhatengaken kerusakan, musibah lan bencana kagem pribadinipun piyambak, tiyang sanes, masyarakat, bangsa lan negari. Rasululah SAW sampun dhawuh:

 لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ (رواه مالك وابن ماجة) 

“Aja gawe kapitunan lan aja dadekake kapitunan (HR. Malik lan Ibnu Majah) 

Tumindak kapitunan utawi tumindak ingkang dhatengaken bahaya punika salah satunggalipun pedamelan ingkang dipun awisi dening agami. Menawi ing basa Internasionalipun dipun wastani teroris, inggih punika satunggaling tumindak ingkang dhatengaken raos ajrih lan khawatir dhateng tiyang sanes malah bahayani dhateng tiyang sanes. Tumindak punika saget nuwuhaken lara, papa lan cintraka malah dados pesating nyawa, rusaking griya, gedung-gedung kantor, panggenan bisnis lan saterasipun. 

 

Kaum muslimin Jemaah Jum’ah Rahimakumullah 

Mapinten-pinten tumindak ingkang dhatengaken kapitunan, ing antawisipun: 

1. Mejahi manungsa. Mejahi manungsa punika kalebet dosa ageng, sahingga menawi ing negari Islam ukumanipun inggih dipun pejahi lan ing negari Indonesia dipun atur dening hukum pidana, gumatung kalian marginipun mejahi. Sahingga nalika hukum ing dunya boten sami nanging hukum wonten akhirat yektos sami. 

“Lan sing sapa wonge mateni wong mukmin kanthi sengaja, mangka piwalese yaiku Jahannam, dheweke langgeng ing jerone lan Allah bendhu marang dheweke , lan nglaknati sarta nyediakake azab kang gedhe tumrap dheweke”. (QS. Annisa’: 93) 

 

2. Ngrisak alam, kados ngawontenaken penebangan maneka taneman, sahingga dhatengaken siti gugruk lan banjir. Kita kedah enget kalian mandatipun ingkang dipun paringaken dhateng manungsa supados tansah njagi lan ngrawat.

“ Lan namung Panjenengane kang nitahake sira minangka penguasa-penguasa ana ing bumi lan Panjenengane kang ngluhurake saperangan ira ngungkuli saperangan (kang liya) pirang-pirang derajat, supaya nguji ing sira marang apa kang wus diparengake marang sira”. (QS. Al An’am: 165) 

 

 3. Bucal sampah ing margi, kali lan selokan sahingga dhatengaken banjir. 

Kanthi punika ing perkawis kadunyan Rasulullah sampun ngendika:

 أَنْتُمْ اَعْلَمُ بِاُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ 

“ Kowe kang luwih ngerti kelawan urusan dunyamu”. (HR. Muslim) 

Sahingga para para ulama’ ngaturaken dhawuhipun rasul:

 أَنَّظَافَةُ مِنَ الْاِيْمَانِ 

“Satuhune reresik iku setengah saka iman”. (HR. Tirmidzi) 

 Lan para umara’ paring dhawuh supados bucal sampah wonten ing panggenan ingkang sampun dipun sediakaken. Dipun pisah antawis sampah organik kalian anorganik. Lan nindakaken M tiga, inggih punika membakar, mengubur, memanfaatkan (mbakar, mendhem, gunakake). Tumindak punika kangge upaya nyegah bibit lemut supados katebihaken saking penyakit malaria, demam berdarah, cikungunya. 

 

4. Numpak kendaraan kanthi ngebut lan boten netepi aturan lalu lintas, nerjang rambu-rambu lalu lintas, boten ngagem helm, boten ngurubaken lampu, lan kagem ingkang ngasta mobil boten ngagem sabuk pengaman. Tumindak punika ugi damel kapitunan, awakipun piyambak lan tiyang sanes kalebet keluarganipun. Sampun kathah korban Laka (lalu lintas lan jaan raya) sahingga dhatengaken duka keluarganipun. Kanthi punika margi ingkang dipun wiyaraken tasih kirang wiyar, amargi kendaraanipun tambah kathah, kanthi punika nalika nembe ngasta kendaraan kedah ngantos-antos, saperlu ngedohi saking bilahi. 

 

 5. Ngunjuk minuman keras, napa malih miras oplosan, main lan colong jupuk mekaten punika banget anggenipun damel kapitunan dhateng pribadi lan tiyang sanes. Tumindak punika asring sami gandheng ceneng. Ngunjuk minuman keras menawi sampun ketagihan kedah ngunjuk, menawi boten wonten kedah tumbas, menawi boten wonten jatah kagem tumbas sahingga mendhet jalan pintas kanthi colong jupuk. Utawi menawi main nembe untung badhe dipun ginakaken kangge ngunjuk minuman keras, menawi boten untung ugi badhe nindakaken colong jupuk. Kanthi mekaten tumindak punika dipun awisi dening Allah.

“He wong-wong kang padha iman, satemene (ngombe) khomr, totohan, (nyembelih qurban kanggo) brahala, mbedhek nasib nganggo panah, kuwi lelakon ala kalebu lelakone syetan, mula saka kuwi tinggalna lelakon kuwi supaya sira entuk kauntungan”. (QS. Al Maidah: 90) 

 

 6. Ngendika kulina goroh, cidra ing janji, tumindak lacut, iri, dengki, tamak, dados tumindak kejawi damel kapitunan dhateng tiyang sanes ugi pribadinipun piyambak. Amargi tumindak mekaten punika saget damel kotoring qalbu, ati ingkang buthek sahingga badhe rumaos tebih kalian Gusti Allah.

“Lan ingsun ora ngumbarake awak ingsun (saka kesalahan), jalaran satemene nepsu iku tansah ngajak marang duraka, kejaba nepsu kang kaparingan rahmat dening Pengeran ingsun. Satemene Pangeran ingsun iku Maha Pangapura tur Maha Welas Asih” (QS. Yusuf: 33) 

 

Kaum muslimin Jemaah Jum’ah Rahimakumullah 

Tumindak amel kapitunan satemah dados tumindak ingkang nglanggar dhateng awisanipun Allah, amargi kanthi agami lan kitab suci ingkang dipun wahyuhaken dhateng para Rasulipun, Allah paring pitedah supados manungsa punika saget tumindhak wonten margi ingkang dipun ridhani dening Allah, damel kemaslahatan. Kanthi punika tumindak nglanggar dhateng awisanipun Allah punika badhe dipun paringi piwales arupi musibah bencana lan siksa keleres ing dunya lan ing akhirat samangke. Allah SWT sampun ngendika:

“Sak temene piwalese wong-wong kang merangi Allah lan rasule serta gawe rusak ana ing bumi, dheweke naming dipateni, disalib utawa dipotong tangan lan sikile kanthi selang-seling, utawa dibuang saka negara (asale). Kang kaya mengkono mau ana ing dunya, la ana ing akhirat mengko dheweke bakal intuk siksa kang banget larane”. (QS. Al Maidah: 33).

 

Akhiripun kanthi nyuwun pitedah dhateng Allah, mugi dipun tebihaken saking margi ingkang sasar, lan dipun paring pitedah dhateng margi ingkang leres, amin.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

9/29/2020

Problematika Kehidupan, Atasi Dengan Istiqomah Dan Sabar

Setiap orang hidup pasti mempunyai tugas, tanggung jawab dan masalah. Setiap tugas dan tanggung jawab bila dilakukan dengan baik dan berdisiplin maka akan menuai kebaikan dan kelancaran. Namun ternyata tidak semua tugas dan tanggung jawab dapat diselesaikan dengan baik, hal ini karena kemampuan dan dan kurangnya perhatian, maka bila tugas dan tanggung jawab tidak dapat diselesaikan maka akan menjadi masalah. 

Setiap masalah harus dicari solusinya, karena hidup adalah masalah, tanpa ada masalah maka tidak akan ada kehidupan. Jadikan masalah sebagai mitra, sebagai upaya untuk berpikir lebih maju, sehingga setiap masalah akan dicarikan solusinya. Sesungguhnya dari berbagai masalah maka kehidupan akan semakin dinamis. 

Para pelajar yang akan menyelesaikan tugas akhir harus membuat karya tulis ilmiah, demikian juga para mahasiswa yang akan menyusun skripsi, tesis atau disertasi bahwa setiap tema yang diajukan akan mempunyai permasalahan. Tanpa adanya permasalahan maka tidak akan terwujud karya tulis ilmiah. Karena itu harus pintar dalam merumuskan permasalahan dan mencari solusinya, semakin kompleks permasalahan maka solusinya semakin pelik dan karya tulis akan semakin berbobot.

Tetap istiqomah dan sabar mengumpulkan mengambil dan mengumpulkan pasir.
 
Mencari solusi 
Peribahasa Indonesia mengatakan sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, yang mengandung maksud bahwa setiap pekerjaan bila dilakukan sedikit demi sedikit maka akan dapat diselesaikan. Demikian pula dalam pepatah Jawa mengatakan “alon-alon waton kelakon” pelan-pelan asal tercapai. Melihat peribahasa dan pepatah Jawa ini mungkinkah pada zaman millennial dapat diterapkan. Bukankah sekarang zaman serba instan, siapa cepat maka akan dapat. Tentulah hal ini tergantung pada situasi dan kondisi. 
 
Suatu pekerjaan mudah dan ringan bila segera diselesaikan dan tidak menjadi beban. Tetapi pada kenyataannya sering ditunda-tunda, sehingga menjadi pekerjaan yang menumpuk. Sebenarnya telah sadar bahwa menumpuk- numpuk pekerjaan, menganggap enteng suatu pekerjaan akan menjadikan pekerjaan yang ringan menjadi berat, karena akan menjadi tumpukan pekerjaan yang harus diselesaikan pada waktu yang sama. 
 
Setiap orang pada dasarnya telah sadar dengan kebiasaan buruk dan kesalahan dirinya, namun ternyata terus diulang-ulang. Sehingga kesalahan akan selalu terulang, kekurangan tidak disiasati menjadi kesempatan. Sebaliknya bila kesadaran diri menjadi sikap untuk berubah, tentu akan menjadi kebaikan. Jika dapat menerapkan perilaku dan tindakan, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, bahkan pepatah Jawa alon-alon waton kelakon. Ternyata bukan hanya pekerjaan ringan yang dapat diselesaikan namun pekerjaan yang berat pun akan dapat diatasi. 
 
Dalam konteks agama dengan menerapkan konsep istiqomah yaitu tetap dalam pendirian, keteguhan hati untuk melakukan dan suatu pekerjaan. Pekerjaan yang baik atau berketetapan hati, tekun dan terus menerus untuk melakukan suatu pekerjaan. Niscaya pekerjaan yang berat dan sulit karena itu perintah dan kewajiban maka berusaha untuk tetap dilaksanakan. Cepat atau lambat haraus diselesaikan, semakin cepat makin baik, sebaliknya semakin menunda-nunda maka akan menjadi beban dan tanggung jawab yang menumpuk. Bisa jadi akan berkumpul dengan tugas dan tanggung jawab yang lain, jadilah problem dan kesulitan yang harus diselesaikan. 
 
Suatu saat sahabat nabi meminta pelajaran, wahai rasul berilah petunjuk kepadaku suatu perbuatan baik, yang karenanya akau tidak akan bertanya kepada yang lain, rasul menjawab beriman kepada Allah lalu beristiqomah. Iman bukan hanya ucapan dan kata-kata indah. Iman adalah suatu keyakinan didalam hati yang diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan. Jadi iman adalah sinkronisasi antara hati, lisan dan perbuatan yang baik. Karena itu amal perbuatan yang dilaksanakan secara terus-menerus walaupun sedikit demi sedikit akan menjadi perbuatan yang mulia dan akan mendorong untuk melakukan perbuatan besar dengan ikhlas. 
 
Banyak orang yang dapat melaksanakan shalat lima waktu dengan ringan dan tenang, bila belum melaksanakan merasakan ada sesuatu yang hilang dan kurang sempurna, merasakan gelisah, mengapa demikian? Karena ibadah shalat telah dilaksanakan dengan istiqomah, bahkan shalat sunah pun dilakukan secara terus-menerus. Sehingga dari ibadah sunnah ini akan membuat ringan, mudah dan tenang dalam menegakkan shalat fardhu. 
 
Istiqomah dan sabar 
Ketika berupaya untuk tetap teguh dan konsekwen dalam melaksanakan perintah Allah, ternyata disana juga terdapat tantangan, gangguan dan rintangan baik yang disebabkan oleh diri sendiri atau atas perilaku orang lain dan lingkungan. Istiqomah dan sabar adalah dua hal yang saling melengkapi. Istiqomah akan diperoleh bila dapat mengelola setiap masalah sehingga dihadapi dengan kesabaran. Dan bila bisa meraih kesabaran maka setiap tugas dan tanggung jawab akan dilaksanakan dengan istiqomah. Tidak akan mudah menyerah dengan situasi dan kondisi. Karena antara sabar dan istiqomah teah menjadi ruh dalam bertindak. 
 
Bahwa untuk tetap teguh dan konsekwen melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya hendaknya selalu istiqomah dan sabar menjalankannya. Karena sesungguhnya sikap sabar dapat dilakukan ketika menjalankan perintah Allah, sabar meninggalkan larangan Allah, sabar dalam menghadapi musibah, bencana dan malapetaka, sabar atas perilaku dan perbuatan orang lain. 
 
Seorang mukmin sangat berhajat dengan sifat sabar, terutama ketika menghadapi balak dan bencana, kesulitan dan kesusahan dan segala macam penganiayaan. Ketika ditimpa suatu musibah bahkan tidak boleh berputus-asa. Malah harus tenang dan berlapang dada, tidak merasa kesempitan dan bosan, mengadu kesana-kemari, tetapi harus selalu berusaha, ikhtiar dan memohon kepada Allah dengan khusu’ dan khudhu’, memohon dengan merendahkan diri kepadanya serta menjauhkan dari persangkaan yang buruk kepada Allah. 
 
Seorang mukmin butuh banyak kesabaran di dalam mengerjakan ketaatan yakni hendaklah tidak bermalas-malasan di dalam menunaikan dan menyempurnakannya dengan menghadirkan hati ketika menghadap Allah. Dengan keikhlasan yang penuh, tidak ria’, tidak berpura-pura atau mengada-adakannya dihadapan orang. Memang sudah menjadi tabiat seseorang bila bermalas-malasan dan merasa berat hati untuk mengerjakan amal ibadah lantaran ia harus memaksakan dirinya untuk melawan segala hambatan ini dengan perasaan penuh sabar dan hati yang teguh. 
 
Seorang mukmin senantiasa butuh kesabaran yang banyak dalam upaya merintangi diri dari melakukan maksiat dan melanggar larangan-larangan Allah, sebab hawa nafsu sering mengajak melakukan dosa dan mengangan-angankan maksiat. Karena itu hendaklah kita menahan diri dengan penuh kesabaran dari melakukan maksiat secara lahir dan batin dan menggambarkan secara batin. 
 
Seorang mukmin juga butuh kesabaran yang banyak dalam mengekang diri dari keinginan hawa nafsu terhadap perkara-perkara yang diperbolehkan yang kebanyakan manusia amat menggemarinya, seperti bermewah-mewahan dengan kelezatan dan perhiasan dunia sebab mengikuti secara berlebihan akan menjerumuskan manusia ke dalam perkara-perkara yang syubhat dan seterusnya kepada haram pula. Demikian secara berlebihan hingga akhirnya akan mengutamakan dunia di atas segalanya ia tidak lagi memperhatikan urusan akhiratnya juga segala usaha yang mengarahkan diri kepadanya. 
 
Karena itu tugas dan tanggung jawab akan menjadi lebih baik bila segera dilaksanakan, namun tidaklah demikian, karena usia, keilmuan, ketrampilan dan keahlian menjadi penyebab manusia mempunyai aktifitas yang banyak. Sehingga tugas dan tanggung jawab tertindih dengan aktifitas dan kegiatan. Karena itu dalam setiap aktifitas dan kesibukan dapat meluangkan waktu guna meniti tugas dan tanggung jawab secara pelan namun pasti. Sekalipun hanya sedikit akan menjadi kebaikan, bila yang sedikit terus dilakukan dalam melakukan aktifitas kehidupan yang lain. Insya-Allah hati dan fikiran dan bekerja secara sinkron, demikian pula kondisi fisik, mental spiritual dapat terjadi keseimbangan.

9/24/2020

Cobaning Mujudaken Keluarga Sakinah, Dambaan Pengantin kakung lan Estri

Seluarga sakinah punika pangajeng-ajeng sedaya tiyang, napa malih kagem piningantin kekalih. Ananging margi saben-saben tiyang punika gadhahi tumindak ingkang boten sae, sahingga pinengantin kekalih kedah salah setunggalipun ngalah. Perkawis pacoban mujudaken keluarga sakinah punika dipun serat dening Kasi Bimas Islam, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Bapak Drs. H. Mahbub, M. Ag

 

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْاِنْسَانَ وَعَلَّمَهُ الْبَيَانِ, اَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ 

 

Kaum muslimin Jema’ah Jum’ah Rahimakumullah 

Langkung rumiyin sumangga kita tansah ngunjukaken raos syukur wonten ngarsanipun Allah SWT ingkang sampun paring mapinten-pinten kenikmatan dhumateng kita sedaya, shalawat lan salam mugi katur dhumateng junjungan kita nabi agung Muhammad SAW, para keluarga, shahabat tabi’in, tabiit-tabi’in ila yaumiddin. Sak lajengipun minangka khatib kawula wasiyat dhumateng awak kula piyambak khususipun lan umummipun dhateng panjenengan sedaya, sumangga kita sesarengan tansah ningkataken taqwa dhumateng Allah SWT kanthi nindakaken sedaya dhawuh-dhawuhipun Allah lan nebihi sedaya awisanipun Allah SWT, sahingga menawi kita saget nindakaken perkawis kasebat fa insya-Allah kita badhe slamet wonten ing dunya ngantos dumugi akherat amin ya rabbal ‘alamin. 

 

 Kaum muslimin Jema’ah Jum’ah Rahimakumullah 

Wonten ing pundi panggenan pasangan suami isteri tentu kemawon dambakaken setunggalipun kelanggengan wonten ing mahligai rumah tangga, kasebat wonten setunggaling rangkaian do’a pernikahan inggih punika, mugi mugi dadosnaha keluarga ingkang Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah. Ananging perkawis punika boten saged kelampahan, menawi ing antawis setunggalipun pasangan nyidrani wonten ing sikap, sifat utawi pakaryanipun. Temtu kemawon wonten fihak ingkang kuciwa lan penggalipun sakit, kawontenan punika saterasipun kadospundi kelajenganipun balai griya punika. Mila piyambakipun kuciwa ing sadangunipun gesang, atinipun sampun keblinger, kehormatan lan katrisnanipun sampun ical kagantos dados mrina lan sengsara. Pramila supados balai griya tansah kajagi saking sikap lan prilaku sasar, mila saben-saben anggota keluarga kedah mahami dhateng tugas lan tanggung jawabipun kasebat ing Alqur’an:

“Kaum pria kuwi minangka pemimpin tumprap kaum wanita, mula sangka kuwi Allah wus paring keluwihan marang saperangan (kaum wanita), lan sebab dheweke (kaum pria) wus menehi nafkah saperangan bandhane. Marga kuwi kaum wanita kang saleh, hiya iku kang ta’at marang Allah tur njaga kehormatane, nalika bojone lagi lunga, amarga Allah wus njaga (dheweke)”. (QS. An-nisa’: 34) 

 

Wonten ayat Alqur’an kasebat sampun jelas bilih wonten bale griya, garwa kakung dados pemimpin ingkang gadhah jejibahan maringi nafkah lahir lan batin. Salah setunggalipun bentuk nafkah inggih punika kanthi nyambut damel kangge njangkepi kabetahanipun pagesangan saben dintenipun, kanthi ikhlasing manah. Perkawis punika boten gampil kagem garwa kakung, pramila dipun betahaken jiwa ingkang tanggel jawab sarta keimanan saking ketetapan Allah SWT. 

 

Ananging kasunyatanipun wonten ing pagesangan tasih kathah kanca estri ingkang tebih saking kasunyatan, kathah ingkang dadosaken garwo kakungipun kangge mesin ngudi arto lan pelayan ing keluarga. Minangka mesin pados arto garwo kakung dipun tuntut kangge nyambut damel tekuk kringkel, meras keringat boten kenal lelah, ugi meksa garwo kakung kangge pados arto ingkang haram. Minangka pelayan ing bale griya piyambak kanca estri ugi nuntut garwo kakung nyambut damel sedaya perkawis bale griya, leres ing perkawis dapur, reresik griya, ngasuh putra-putri. Cekak aos garwa kakung ibarat pembantu wonten dalemipun piyambak. 

 

Dereng malih menawi kanca estri boten marem kalian pedamelan garwa kakung, piyambakipun badhe ngolok-olok, mbentak lan milara badanipun, kanca estri badhe cuwa lan boten rila menawi setunggaling wekdal garwa kakung nilarekan tanggel jawab utawi bagi katresnan dhumateng wanita sanes, keranten awonipun tingkah laku kanca estri. 

 

Kaum muslimin Jema’ah Jum’ah Rahimakumullah 

Mapinten-pinten perkawis ingkang damel para kanca estri kagungan perilaku ingkang boten sae antawisipun : 

  1.  Kirang raos syukur. Perkawis punika saged kabukten amargi piyambakipun tansah rumaos boten marem dhateng tindakanipun garwa kakung, khususipun perkawis materi. Pribadinipun tansah ningali ingkang wonten nginggil sehingga tansah rumaos kirang punapa ingkang sampun dipun paringaken saking garwa kakung. 
  2. Garwa kakung boten saget dados tulang punggung keluarga. Perkawis punika panci dados sebab kisruhipun bale griya, menawi garwo kakung boten gadhah pendamelan (nganggur), milo kanca estri kedah siap boten nuntut punapa ingkang boten dipun miliki saking garwa kakung, khususipun materi dumugi garwa kakung saget maring dhumateng kanca estri. Semanten ugi menawi ingkang nyambut damel namung kanca estri. Menawi kanca esteri sampun turah bandanipun lan sampun nyekapi kabetahan gesang tanpa boten wonten tambahan saking garwa kakung, boten prayogi garwa kakung mendel kanthi boten usaha kagem nyambut damel, kranten sinaosa sekedik ingkang saget dipun parengaken garwa kakung dhumateng kanca estri tetep dipun cathet minangka nafkah ingkang dipun wajibaken Allah SWT, lan kanca estri boten pareng ngremehaken, kranten banda garwa kakung boten sebanding kaliyan banda kanca estri. 

 

Ananging anehipun ngadhepi perkawis punika boten sekedik para garwa kakung ingkang boten waget tumindak kanthi tegas dhumateng durakanipun para kanca esteri. Lan dhumateng para kanca estri kedahipun boten bingah kalian tumindakipun dhateng garwa kakung, keranten menawi setungaling wekdal garwo kakung leres-leres nilaraken kanca estri, boten namung kanca estri kemawon ingkang rugi, ananging putra-putri ugi badhe rugi. 

 

Wondene akibat saking tiyang estri dipun tilar dening garwo kakung inggih punika: 

  1. Boten terpenuhipun kabetahan kangge pangupajiwa khususipun menawi kanca estri boten makarya. 
  2. Para putra badhe kleleran. Kanjeng nabi Muhammad SAW nate ngendika: 

 “Sak bagus baguse wong wadon yaiku wong wadon kang nyenengaken nalika di sawang kang garwa, lan taat nalika diperintah, lan bisa jaga awak lan bandane nalika kang garwa ora ana” (HR. Thabrani). 

 

Kaum muslimin Jema’ah Jum’ah Rahimakumullah 

Kanthi punika tugas lan kewajiban tiyang sepuh kagem didik lan ngrawat putra-putrinipun, ngantos, dumugi ageng, semanten ugi kanca estri minangka guru ingkang pawitan lan garwa kakung minangka kepala sekolah wonten ing tlatah pendidikan ing setunggalipun institusi “Keluarga”. Sehingga menawi garwa kakung maringi keputusan talaq karanten durakanipun kanca estri mila badhe kados pundi nasib putra- putrinipun. Saget ugi putra-putrinipun badhe matur menawi piyambakipun boten kepingin dipun lahiraken wonten ing keluarga broken home. Piyambakipun boten mangertos kedadosan napa-napa dhateng tiyang sepuh kekalihipun, ananging margi egoisanipun tiyang sepuh kolo wau. Mekaten ingkang saget kula aturaken mugi mugi adosaken manfaat dhumateng samudayanipun, amin, amin ya Robbal ‘alamiin.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.