Tampilkan postingan dengan label Kisah hayati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah hayati. Tampilkan semua postingan

9/14/2021

Dampak dan Keprihatinan Terpapar Pandemi Covid-19- Takut, Terasing

Ketika ada orang yang terpapar Covid- 19, bisa jadi orang lain mengetahui, namun bisa jadi orang lain tidak mengetahui, baik sebagai penderita tanpa gejala atau dengan gejala. Jika orang terpapar Covid-19 dengan gejala, dia menutupi bahwa dirinya itu terkena Covid-19. Sehingga ketika dirinya sudah mengetahui positif terkena Covid-19 tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Namun ada juga yang secara terus terang, bahwa setelah mengetahui hasil cek laboratorium dirinya positif terkena Covid-19 kemudian menyampaikan informasi kepada grup WA meminta dukungan moril kepada anggota WA agar dirinya diberikan kekuatan, keselamatan, kesehatan dan segera disingkirkan dari pandemi Covid- 19.

Ketika dia menyampaikan informasi, kemudian muncul dukungan moril dari para anggota. Semoga dia segera diberikan keselamatan, kesehatan dan disingkirkan dari pandemi. Dukungan atau doa diawali dengan semoga, semoga, semoga dan semoga. Ini adalah sikap yang di sampaikan oleh anggota grup, karena ketika orang yang sudah terpapar Covid- 19, maka orang lain tidak mau mendekat, karena takut tertular. Karena itu sangat memprihatinkan sekali bagi orang yang terpapar Covid-19, merasa sebagai orang yang terasing, bahkan bukan hanya teman, bukan hanya saudara, tetapi keluarga sendiripun juga menjaga jarak, berhati-hati agar tidak tertular Covid-19. 

 

Dengan kejadian tersebut, ternyata sikap masing-masing anggota masyarakat berbeda, ada yang menyikapi dengan penuh kehati-hatian, sehingga kemanapun selalu memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas. Namun tak sedikit bahwa anggota masyarakat yang bersikap seperti tidak ada pandemi, tidak memakai masker, tidak menjaga jarak, tidak menjauhi kerumunan dan bebas bepergian, tetap terbiasa melakukan aktivitas tanpa menghiraukan himbauan dari pemerintahan untuk melakukan langkah-langkah pencegahan Covid-19. 

 

Akibat virus corona yang membjuat hidup manusia menjadi resah, sehingga ketika terpapar Covid- 19 pada umumnya mentalitas menjadi menurun, karena ada ketakutan dan keakhawatiran yang berdampak pada menurunnya imunitas sehingga menimbulkan efek munculnya penyakit lain yang akan menambah parah terhadap serangan Covid- 19. Berdasar protocol kesehatan, bahwa virus corona akan semakin berbahaya bila mempunyai penyakit bawaan. Walaupun tidak terlalu menghawatirkan namun kemudian memicu munculnya penyakit baru yang hinggap pada seseorang yang berakibat suatu penyakit tidak kunjung sembuh. 

 

Sebab-sebab mentalitas menurun. 

 

Suatu penyakit disamping sumbernya dari makanan, juga karena pemikiran dan hati yang tidak bisa tenang. Adanya rasa khawatir, ketakutan dan lainnya, karena itu ada beberapa hal yang menyebabkan, mengapa orang yang terpapar virus corona mentalitasnya menjadi menurun: 

 

  1. Banyak orang yang terpapar Covid- 19 itu berakhir dengan kematian. Karena itu ketika dirinya sedang terpapar Covid-19, yang ada dalam fikiran adalah bayang-bayang kematian, hatinya menjadi gundah, tidak tenang, gelisah. Dengan demikian pemikiran dan hati yang tidak tenang akan memperparah kondisi psikis orang, mentalitasnya semakin menurun. Sehingga alih-alih akan segera sehat kembali, justru imunitas tubuh semakin menurun dan berderet-deret penyakit akan menghinggapinya. 
  2. Mendengar informasi di pengeras suara atau di media sosial melalui WA, ada orang yang meninggal yang menurut informasi adalah terkena Covid-19. Demikian pula di grup WA ada informasi bahwa si A, B atau C meninggal dunia karena terpapar Covid- 19, karena itu informasi-informasi yang demikian ini semakin memperparah konsisi sakitnya ketika sedang terpapar Covid-19. 
  3. Seringnya lalu-lalang mobil ambulans dengan suara sirine yang mengaung-ngaung sehingga menakutkan, karena yang terbayang pada dirinya bahwa mobil ambulan membawa orang sakit atau orang yang sudah meninggal. Hal demikian akan menjadi pukulan bagi orang yang sedang mengalami serangan atau terpapar virus corona. 
  4. Merasa menjadi orang yang sendirian, karena ketika sakit orang yang sehat akan menjaga jarak. Hal ini berlawanan dengan sunnah rasul dan kebiasaan, bahwa bila mendengar atau melihat orang yang sakit agar menengoknya. Bila ada orang yang meninggal agar bertakziyah. Prokes mengarahkan agar orang yang sakit untuk dijauhi, bila ada orang meninggal tidak perlu bertakziyah. 

 

Solusi ketika terpapar 

 

Setiap kesulitan pasti ada kemudahan, semua penyakit ada obatnya. Takut yang berlebihan akan memperparah kondisi demikian pula khawatir yang berlebihan. Namun juga agar tidak sembarangan, dengan menuruti hawa nafsu. Banyak orang yang mengatakan, jangan takut pada virus, takutlah kepada Allah, hidup dan mati Allah yang memutuskan. Kadang tanpa disadari bahwa pernyataan demikian ini akan menimbulkan konflik dan disharmoni dalam kehidupan manusia. Telah banyak orang yang terpapar, ada yang sembuh, ada yang terus sakit dan akhirnya meninggal, ada yang dirawat di rumah sakit atau melakukan Isoman. 

 

 Orang yang terpapar dan sehat kembali menyampaikan testimoninya tentang sakit dan menderitanya, sehingga berpesan agar kita semua untuk berhati-hati dan menjaga diri untuk mewujudkan rasa cinta dan sayangnya kepada keluarga, sahabat dan orang lain. Karena itu untuk menguatkan mental spiritual untuk meneguhkan diri dengan: 

 

  1. Selalu meningkatkan amal ibadah kepada Allah sebagai indikator peningkatan iman dan takwa kepada Allah. Iman perlu bukti yaitu dengan amal ibadah, sehingga dengan peningkatan amal ibadah itulah seorang hamba bisa mengabadikan diri mencurahkan perhatiannya untuk melaksanakan perintah-perintahnya Allah. Amal ibadah itu bisa menjadi wasilah ketika bermunajat kepada Allah. Sebagaimana kisah seorang tiga orang pemuda yang terjebak di dalam gua, pintu gua tertutup oleh batu yang besar sehingga tidak ada daya kekuatan untuk bisa menyingkirkan batu tersebut. Tiga pemuda itu masing-masing menyebutkan amal ibadah yang pernah dilakukan, dari itulah kemudian batu tersebut bergeser, sehingga tiga pemuda itu bisa keluar dari dalam gua. 
  2. Meningkatkan atau memperbanyak dzikir kepada Allah, (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. (QS, 13, Arra’du: 28). Munculnya suatu penyakit, apalagi dengan pandemi Covid-19 agar bila selalu ingat kepada Allah maka Allah pun akan memberikan ketenangan hati. Dengan hati yang tenang insya- Allah bisa melawan pandemi Covid-19 agar kehidupan bisa menjadi normal kembali. 
  3. Memperbanyak atau merutinkan untuk membaca Alquran, “Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.(QS, 17: Al Isra’: 18) 
  4. Berpikir positif, bahwa setiap orang hidup pasti mempunyai atau diberi ujian dan Allah memberikan ujian kepada hamba-Nya sesuai dengan kesanggupannya. 
  5. Hindarilah berita-berita yang dapat meresahkan. 

 

Tiap orang hidup diberikan kemulian dan kesengsaraan, kebahagiaan dan kesusahan, sehat dan sakit, dua sifat dan keadaan yang selalu melekat pada manusia. Allah memberikan kebebasan pada manusia untuk menjadi yang terbaik dengan selalu berusaha, ihtiar dan tawakal.

9/06/2021

Etika Ber-Medsos pada Grup WhatsApp – Sopan dan Berempati

WhatsApp adalah salah satu media komunikasi yang paling efektif dan sampai hari ini banyak orang yang memanfaatkannya sebagai sarana berkomunikasi, berkoordinasi, menjalin silaturahmi dan ada pula yang menggunakan sebagai media untuk berbisnis yaitu untuk mendapatkan penghasilan. Karena itu di dalam WhatsApp di samping secara personil ada WhatsApp group di mana keanggotaannya terdapat kelompok-kelompok tertentu, seperti grup bani, kantor, usaha atau bisnis, alumni, hoby dan kelompok-kelompok lainnya.

Anggota grup mempunyai kebiasaan dan sikap yang berbeda-beda, ada anggota yang aktif memberikan pesan, informasi dan lainnya. Ada yang sekadar memberikan jawaban, ada yang hanya sekali-kali saja kalau dipandang perlu atau ada yang sama sekali tidak pernah memberikan komen. Dia dimasukkan dalam anggota grup karena permintaan atau karena oleh admin dipandang mempunyai pemikiran, perasaan, latar belakang dan kepentingan yang sama. 

 

Dalam grup WA masing-masing orang mempunyai latar belakang, pemahaman dan pengetahuan serta kebiasaan berbeda-beda, sehingga kadangkala dalam melakukan komunikasi atau memberikan informasi, kadang kurang memperhatikan terhadap kepentingan orang lain. Yang penting Informasinya disampaikan, tidak menghiraukan Informasi yang disampaikan oleh teman-teman di dalam grup itu. Tak jarang kadang ditemukan informasi yang disampaikan tidak nyambung, tumpang tindih. Karena di dalam grup WA ini ada etika bagaimana agar masing-masing anggota grup bisa menghargai terhadap anggota grup. 

 

  1. Menggunakan bahasa yang santun, sopan, tidak menyakiti terhadap anggota kelompok yang lainnya. Bagaimanakah standar bahwa apa yang disampaikan itu tidak menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain? Hal ini perlunya empati, jadi bagaimanakah seandainya dirinya di beri ucapan atau kata-kata yang demikian itu. Kira-kira dirinya merasa tersinggung atau tersakiti atau tidak? Jadi sebelum membuat statement atau mengirimkan pesan moral di dalam grup WA perlu memperhatikan orang lain. 
  2. Dalam grup WA biasanya terdapat anggota yang menyampaikan informasi penting yang berkaitan dengan masalah kesehatan, sakit atau berita lelayu. Karena itu ketika ada anggota grup yang menyampaikan berita tentang orang yang sakit, misalnya minta doa agar yang sakit segera sembuh, dirinya atau keluarganya segera diberikan kesehatan disingkirkan dari penyakit. Bila masih ada anggota grup yang memberikan komentar tentang berita yang disampaikan, masih ada ucapan, support, dorongan moril mudah-mudahan segera diberikan kesehatan. Atau tentang berita lelayu, mudah-mudahan diampuni dosa dan kesalahannya oleh Allah, diterima amal ibadahnya . Ketika masih ada anggota grup yang memberikan informasi seperti itu, maka grup yang lain hendaknya tahan dulu untuk menyampaikan informasi yang lainnya. Misalnya ada berita lelayu atau duka. Anggota grup yang lain justru menyampaikan informasi bahwa anaknya diterima sebagai pegawai misalnya, kemudian menshare foto-foto tentang acara wisuda atau acara serah terima jabatan atau menyampaikan informasi bahwa dirinya telah memperoleh penghargaan. 
  3. Tidak men-share tentang kejadian-kejadian yang mengandung kekerasan penganiayaan, karena kejadian yang singkat kadang akan menimbulkan kebencian, menyalahkan salah satu pihak. Padahal tidak mengetahuai latar belakang yang sesungguhnya.
  4. Jangan terburu-buru men-share gambar berita, informasi yang diterima sebelum dicek kebenarannya. Segala informasi yang diterima hendaknya disaring dulu, diteliti mana yang layak untuk diteruskan atau mana yang untuk pengetahuan bagi dirinyanya. 

 

Begitulah beberapa etika atau cara kita menggunakan media sosial terutama WhatsApp, agar media komunikasi tersebut bisa memberikan manfaat bagi dirinya, orang lain dan juga bisa mendatangkan kedamaian dan ketenangan bagi semua orang. Media sosial itu ibarat pisau belati yang mempunyai dua sisi, dari sisi manapun bisa digunakan, karena itu media sosial khususnya WhatsApp, bagaimana bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk melakukan perbuatan yang mendatangkan kebaikan.

8/22/2021

Muslim itu, Selalu Perbaiki Pemahaman dan Pengamalan Ajaran Islam

Islam adalah agama yang paling sempurna, karena Islam disampaikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad dan beliau adalah sebagai rasul yang terakhir. Salah satu fungsi rasul yang terakhir adalah menyempurnakan syariat agama sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Islam sebagai agama mengatur seluruh tata kehidupan manusia, dalam bidang aqidah, Syariah, ibadah, muamalah.

Ketika melaksakan haji wada’, nabi Muhammad menerima wahyu terakhir:

 

 اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ 

 

”Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu”. (QS. Al Maidah: 3) 

 

Wahyu yang terakhir menandakan bahwa Islam mempunyai sumber hokum, kitab suci yang sudah sempurna, akan tetapi dengan kesempurnaan agama Islam ini tidak menjamin bahwa pemeluk agama Islam atau muslim itu telah melaksanakan ajaran Islam sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mengapa demikian, karena agama Islam diwahyukan di tanah suci Mekkah, Islam datang ke Mekah, dimana orang Mekah sudah mempunyai keyakinan dan kepercayaan menyembah kepada Tuhan selain Allah. Demikian pula perilaku kehidupan sehari-harinya, suka mabuk-mabukan, berjudi, minum-minuman keras, berzina, saling membunuh dan perilaku buruk lainnya. Dan ketika Islam masuk ke Indonesia, masyarakatnya sudah mempunyai keyakinan dan kepercayaan pada benda-benda, roh nenek moyang dan telah beragama selain Islam. 

 

Islam datang untuk menyampaikan rahmat bagi sekalian alam, Islam datang membawa kedamaian bagi seluruh umat manusia, akan tetapi dalam prakteknya, pemahaman dan pengamalan masing-masing orang tentang Islam mempunyai tingkatan yang berbeda-beda. Ada orang yang menganut agama Islam sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan utusannya, ada yang masih mencampurbaurkan dengan keyakinan-keyakinan yang lain. Demikian pula dalam perilaku akhlaknya, ada yang selaras dengan apa yang diyakini dan diucapkan, sehingga terwujud suatu integritas antara ucapan dan perbuatan seiring sejalan. Tetapi ada juga yang mempunyai keyakinan tetapi perbuatannya melenceng dari apa diyakini dan dikatakan. 

 

Yang demikian ini sudah terjadi pada masa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga di dalam Alquran sudah disebutkan kriteria masing-masing orang. Ada mukmin, muslim, muttaqin, muhlashin, muhshinin, fasiqun, kafirun. Karena itu berkaitan dengan momen tahun baru hijriyah, sahabat Umar bin Khatab pernah berkata: 

 

حاسبوا انفسكم قبل ان تحاسبوا 

 

“Koreksilah dirimu, sebelum dikoreksi (dihisab)”. 

 

Mengoreksi diri sendiri, bermuhasabah, sejauhmana pemahaman dan pelaksanaan Islamnya, tentu saja dengan mengkaji kitab suci dan sunnah rasul. Oleh karena itu orang Islam Islam harus gemar dengan ilmu dan senang mencari ilmu, karena ilmu adalah nur yang akan menerangi dan mengarahkan kehidupan manusia. Dalam beberapa hadis rasul juga menyampaikan bahwa, mencari ilmu wajib bagi setiap muslim, mencari ilmu tidak ada batas usia, karena sejak buian hinggal masuk ke liang lahad, mencari ilmu tidak memandang jauh atau dekat, karena walaupun di negeri Cina ilmu harus dicari. Terkadang kesalihan bukan terletak pada kedalaman ilmu, karena lihatlah apa yang dikatakan jangan siapa yang berkata. Semua itu dilakukan agar pemahaman dan pengamalan ajaran Islam sesuai dengan kehendak syari’at. 

 

Benarnya keyakinan dengan meneguhkan kalimat Tauhid dan mengamalkannya, sempurnanya ibadah bila terus memperbaharuinya dengan melaksanakan yang fardhu dan memperbanyak ibadah sunnah, memperbaharui budi pekerti dengan memahami diri sendiri dan berempati pada orang lain. Sempurnanya ilmu pengetahuan dengan terus belajar dan mengamalkan ilmunya. Karena sesungguhnya tidak ada manusia yang sempurna kecuali selalu berupaya untuk mencari kesempurnaan, tidak ada manusia yang paling baik kecuali terus memperbaiki diri dan amal perbuatannya.

 

 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا 

 

“Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seorang dari kalian memperbaiki ke-Islamannya maka dari setiap kebaikan akan ditulis baginya sepuluh (kebaikan) yang serupa hingga tujuh ratus tingkatan, dan setiap satu kejelekan yang dikerjakan akan ditulis satu kejelekan saja yang serupa dengannya". (HR. Buchari) 

 

 وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ 

 

“Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika salah seorang dari kalian memberbaiki ke-Islamannya, maka setiap amal shalih yang ia lakukan akan ditulis dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan setiap kesalahan yang ia lakukan akan ditulis apa adanya sehingga ia berjumpa dengan Allah 'Azza wa Jalla." (HR. Ahmad) 

 

Hadits yang diriwayatkan Imam Buchari dan Ahmad bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan informasi kepada umatnya, bahwa ke-Islaman yang dianut hendaknya diperbaiki sejauh mana pemahaman dan pengamalan ajaran Islam. Prinsip-prinsip aqidahnya, karena aqidah yang lurus akan menuntun pada perilaku yang baik dan benar, sebaliknya aqidah yang melenceng maka perilaku dan perbuatannya cenderung akan melenceng dari kaidah syar'i, sehingga dikhawatirkan amal perbuatannya, yang seakan-akan adalah perbuatan yang baik, namun ternyata ditolak. Bahkan aqidah yang tidak lurus bisa menghapuskan amal ibadah yang lainnya. 

 

Rasulullah disamping menyampaikan informasi untuk memperbaiki amal ibadahnya, ternyata rasul juga memberikan janji, bahwa siapapun yang mau memperbaiki ke-Islamannya, bila itu merupakan perbuatan baik, maka pahalanya akan dilipatgandakan mulai dari 10 kebaikan sampai 700 tingkatan. Namun bila itu kejelekan maka tidak akan dilipatgandakan, tetapi setaraf dengan kejelekan yang sudah dilakukannya. Kenikmatan dari Allah apa lagi yang kamu dustakan, setiap kebaikan yang kita lakukan akan dilipatgandakan pahalanya, namun bila itu kejelekan akan dibalas setara. Tetapi jangan kemudian kita memandang bahwa amalan dan ibadah kita sudah cukup, pahala sudah cukup, karena manusia diberi nafsu yang cenderung melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Karena hendaknya kita selalu berupaya untuk senantiasa memperbaiki ke-Islaman, agar ibadah yang dilakukan benar-benar menjadi ibadah yang diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

8/19/2021

Aktualisasi Peringatan Tahun Baru Hijrah, HUT RI Ke-76 Dan Peristiwa 10 Muharram- Khutbah Jum'at

Tahun Baru Hijriyah, HUT RI adalah peristiwa yang terjadi secara berulang-ulang, walaupun dalam setiap tahun masyarakat dan umat Islam mempunyai cara yang berbeda dalam mengungkapkan kegembiraan dan rasa syukurnya. Mungkin ada yang mengatakan bahwa kegiatan tersebut adalah rutinitas kegiatan, namun pada tahun ini tentu berbeda, karena negara dan umat manusia sedang berhadapan dengan pandemi Covid-19.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ اَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهُ عِوَجًا,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِءُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاءُالْحُسْنَى, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: اَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنُ رَحِمَكُمُ اللهُ, اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ رَبُّكُمْ فِى الْقُرْانِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوا اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُوااللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah 

Pertama dan yang paling utama khatib senantiasa berwasiat khususnya pada diri sendiri dan umumnya pada jamaah sekalian, marilah bersama-sama kita berupaya untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala yaitu dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan kasih sayangnya, sehingga kita selamat di dunia dam akhirat , amin. 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah 

 

Tidak terasa bahwa pada bulan ini kita sekalian baru saja memperingati tahun baru hijriyah 1 Muharram 1443 H, kemudian dilanjutkan dengan peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-76. Dan pada bulan ini pula kita diingatkan dengan peristiwa-peristiwa besar yang telah terjadi yaitu khususnya pada tanggal 10 Muharram. 

 

Peristiwa tahun baru Hijriyah adalah merupakan tonggak perjuangan perjalanan hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam melaksanakan syiar agama Islam dari Mekah yang merupakan tanah kelahiran Rasulullah. Tapi beliau berdakwah selama 13 tahun nyaris tidak membuahkan hasil, kemudian Allah memerintahkan kepada Rasulullah untuk berhijrah ke Yatsrib atau ke Madinah. Disanalah Rasulullah disambut oleh masyarakat Yatsrib atau Madinah sehingga disana Rasulullah meletakkan sendi-sendi ajaran agama Islam yang berkaitan dengan habluminannas. 

 

Kemudian peristiwa nasional bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah momen bersejarah bagi bangsa Indonesia untuk menapaki kehidupan baru, setelah selama 3,5 abad negara Indonesia dijajah oleh Belanda, Jepang, Perancis, Inggris, Portugis, Portugal. Mereka senang menjajah negara Indonesia karena Indonesia adalah negara yang gemah ripah loh jinawi, negara yang makmur, kaya dengan sumber daya alam. Dan negara Indonesia adalah negara kepulauan, dengan budaya, etnis, suku dan bahasa yang unik sehingga memungkinkan bagi para penjajah untuk melakukan politik adu domba. Mereka dapat mengalahkan musuh dengan kekuatan musuh. 

 

Karena itu dengan momen tahun baru Hijriyah dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-76 marilah kita teguhkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa, sebagaimana firman Allah:

 

 وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ 

 

“ Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran: 103) 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah 

 

Pada saat Indonesia berada dalam suasana kemerdekaan, dimana-mana terlaksana pembangunan, namun ditengah kemerdekaan negara Indonesia kembali dijajah oleh makhluk Allah yang teramat kecil yang membahayakan, dan mengancam kehidupan manusia. Pandemi Covid-19 telah merusak sendi-sendi kehidupan manusia, karena itu marilah bersama-sama kita berupaya untuk melepaskan pandemi. Kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah disertai dengan melaksanakan amal shalih.

 

 مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ 

 

“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS. Annahl: 97). 

 

Setelah melewati tanggal 10 Muharram 1443 marilah kita tingkatkan kualiatas amal ibadah kepada Allah, marilah kita kuatkan tekad dan semangat untuk bersama-sama memenangkan pertarungan melawan pandemi Covid-19. Dengan peringatan tahun baru hijriyah, kita aktualisasikan nilai-nilai 10 Muharram menjadi amaliyah setiap saat. Pada tanggal 10 Muharram Allah menunjukkan keajaiban kepada hambanya, pada tanggal tersebut Allah menciptakan nabi Adam, dan menerima tobatnya, Nabi Yunus selamat dari perut ikan, Nabi Ibrahim selamat dari kobaran api, nabi Ayub sembuh dari penyakit kudis, Allah mengembalikan penglihatan nabi Ya’qub, Allah menyelamatkan nabi Musa dari kejaran Fir’aun, nabi Sulaiman mendapat kerajaan dari ratu Bilqis, nabi Daud diterima dosa-dosanya, nabi Yusuf dikeluarkan dari penjara dan keajaiban-keajaiban lainnya. 

 

Mengapa terjadi keajaiban, Allah yang Maha Tahu, namun tentu kita ingin meraih keajaiban, riyadhah dan amal shalih akan membuka pintu makrifat. Maka dalam menghadapi pandemic Covid-19 setelah melakukan upaya lahir, yaitu dengan melaksanakan gerakan 5 M, marilah kita ikuti dengan berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan.

 

 وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 

 

“Bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap ke arahnya. Maka, berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al Baqarah: 148)

 

 اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ 

 

“Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri”. (QS. Al Isra’: 7) 

 

Semoga ikhtiar lahir dengan mengikuti himbauan pemerintah dan ikhtiar batin dengan mengikuti perintah agama, akan semakin mempermudah terkabulnya doa, amin.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ .وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

8/17/2021

Perjuangan Melawan Penjajah di Zaman Merdeka, Covid-19 Pandemi Dunia

Dari judul yang saya buat mungkin terasa aneh dan janggal, karena apa? Perjuangan melawan penjajah di zaman merdeka. Padahal penjajahan itu terjadi pada zaman sebelum kemerdekaan. Jadi kalau membaca sejarah, bahwa negara Indonesia adalah negara yang diidolakan oleh negara lain untuk dijajah. Negara Indonesia adalah negara yang kaya raya dengan sumber daya alam yang sangat banyak dan potensi terjadi disintegrasi karena fanatisme kelompok dan golongan yang begitu kuat, sehingga negara Indonesia mudah dipecah belah. Ini adalah siasat dari kaum penjajah, sehingga Indonesia menjadi sasaran empuk untuk dijajah tetapi kenyataan berbeda ketika pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka, yang diproklamirkan oleh Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta.

Sejak saat itulah Indonesia menjadi negara yang berdaulat, negara yang sudah merdeka, sehingga dengan kemerdekaan itu para penjajah harus pergi dari negara Indonesia. Portugis Spanyol, Belanda, Perancis, Inggris dan Jepang, perjuangan untuk mengusir kaum penjajah, baik itu Jepang atau Belanda adalah perjuangan yang sangat berat. Pada masa penjajahan Belanda rakyat Indonesia benar-benar dikebiri, rakyatnya dimiskinkan, dibodohkan, dipecah-belah, dihancurkan. Bahkan dalam penghancuran negara Indonesia, rakyat Indonesia diadu domba, sehingga sesama warga negara Indonesia saling bermusuhan. Kemudian pada masa penjajahan Jepang juga sama kejamnya, tetapi kalau pada masa penjajahan Jepang, rakyat Indonesia diberi pendidikan dan belajar militer, teknik-teknik untuk memegang senjata dan sebagainya. Namun yang namanya penjajah tetap merugikan negara yang dijajah, karena itu, sekarang kita hidup di negara merdeka. Kalau dahulu para pahlawan, syuhada berjuang melawan penjajah dengan wujud yang nyata, dengan senjata yang nampak, tetapi sekarang kita menghadapi penjajah dari makhluk yang tidak nampak dan persenjataannya pun juga tidak nampak, mereka itu adalah Covid-19. 

 

Pandemi Covid-19 merupakan penjajah yang akan menguasai manusia dan terbukti Covid-19 sudah mengglobal ke tingkat dunia, tidak ada negara yang bebas dari pandemi Covid-19. Di negara Indonesia sejak bulan Februari 2020 mulai terjadi gejala-gejala penyebaran Covid- 19, Kemudian pada bulan Maret baru lah Covid-19 benar-benar menggejala dan menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Pata tahun pertama rakyat Indonesia mengadakan proteksi sendiri terhadap penyebaran Covid-19, terbukti pada waktu itu, setiap jalan masuk kampung diberi portal, jika akhirnya memasuki, maka harus disemprot dengan disinfectan. Hal yang demikian ini dilakukan secara sukarela dan secara swadaya, namun hal yang demikian ini tidak terlaksana dengan secara terus-menerus, karena ternyata kegiatan yang seperti itu juga memerlukan anggaran, tenaga yang tidak sedikit. Karena itu pada tahun 2021 terbukti bahwa Covid-19 semakin merebak di tanah air, sehingga kemudian pemerintah menetapkan adanya PPKM yang terus diperpanjang hingga 16 Agusus 2021. 

 

Covid-19 sesungguhnya merupakan penjajah, karena itu senjata yang digunakan di dalam menyebarkan virus nya adalah dengan melalui droplet yaitu cairan yang keluar dari mulut ketika batuk, bersin, berbicara, menangis, menyanyi, kontak fisik kepada orang yang sudah terkontaminasi, permukaan yang terkontaminasi, ruangan dengan ventilasi yang buruk, tempat yang ramai. Covid-19 menjadi musuh yang nyata bagi manusia, tetapi keberadaannya sulit untuk dideteksi, karena itu berdasarkan penelitian secara ilmiah ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh manusia untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yang pertama adalah memakai masker, kedua mencuci tangan, ketiga menjaga jarak, keempat menjauhi kerumunan dan kelima adalah mengurangi mobilitas dan ditambah 1 lagi itu adalah doa, yaitu kita memohon kepada Allah agar dibebaskan dari pandemic Covid-19. Karena Covid-19 adalah makhluk ciptaan Allah yang membahayakan bagi kehidupan manusia. Manusia sebagai makhluk yang lemah maka dia meminta kepada Allah agar diberikan benteng agar tidak terkena virus corona. 

 

Memang berbeda dengan perjuangan melawan penjajah dengan wujud yang nyata, yaitu pada zaman pra kemerdekaan rakyat Indonesia secara nyata menghadapi musuh. Tetapi walaupun di sana, ada musuh yang nyata, tapi ternyata juga ada musuh yang tidak nyata, karena perilaku-perilaku orang munafik. Di depan membela tapi di belakang ternyata menghianati. Perilaku ini sungguh menjadi perilaku atau menjadi sifat daripada Covid- 19. Kita tidak mengetahui keberadaannya, namun yakin bahwa Covid-19 ada dimana-mana, jika menghinggapi manusia bisa menular dengan cepat. Karena itu perjuangan yang terus-menerus untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, kita hendaknya saling bahu-membahu saling mengingatkan untuk bisa menerapkan protokol kesehatan. Pengorbanan dalam menghadapi penjajahan Covid-19. 

 

Mengusir penjajah bukan tanpa syarat dan usaha tetapi juga diikuti dengan pengorbanan, yaitu dengan menunda atau menghentikan aktifitas rutin yang sudah dilaksanakan bahkan secara reflek, bahkan kebiasaan itu merupakan perintah agama. Dan ada juga pengormaban untuk melaksanakan suatu perbuatan yang tidak pernah dilaksanakan agar dibiasakan. 

 

  1. Memakai masker. Masker adalah merupakan alat pelindung dari bakteri dari virus yang akan masuk ke dalam tubuh manusia, namun disisi lain, bahwa dengan memakai masker, di sana akan terjadi perputaran karbondioksida dan dan kekurangan oksigen karena apa nafas yang kita yang keluar itu adalah merupakan CO2, yang seharusnya kita buang dan kita menghirup udara segar yaitu oksigen tapi ternyata ketika kita mengeluarkan karbon dioksida dan karbon dioksida itu dihirup kembali dengan kadar oksigen yang mungkin tidak sesuai kebutuhan. Masker itu juga merupakan suatu pengorbanan karena dari aspek kebebasan itu menjadi berkurang, demikian juga dengan memakai masker semakin sulit untuk membedakan atau untuk mengetahui atau mengenali seseorang karena mukanya tertutup oleh masker dan masih ditambah lagi adalah dengan menggunakan facial. Dengan memakai masker wong bagus ilang baguse, wong ayu ilang ayune karena facenya susah untuk dibedakan. 
  2. Mencuci tangan, mencuci tangan adalah merupakan perintah agama karena di dalam agama disebutkan bahwa kebersihan sebagian dari iman. Karena itu dalam setiap apapun itu hendaknya membiasakan untuk mencuci tangan. Mencuci tangan tidak terlalu banyak pengorbanan yang dikeluarkan, bahkan dengan mencuci tangan itu virus corona memberikan pendidikan kepada kita agar selalu membiasakan untuk mencuci tangan. 
  3. Menjaga jarak adalah merupakan pengorbanan, karena menjaga jarak yang artinya adalah antara satu orang dengan yang lainnya agar jaraknya dijauhkan, termasuk ketika kita berjabat tangan itu juga tidak diperkenankan. Berjabat tangan dapat menghapuskan dosa yang sudah dilakukan. Maka dengan berjabat tangan menjadi simbol persahabatan, persaudaraan, saling memaafkan. Dengan adanya pandemi Covid-19, ketika bertemu bertemu dengan saudara, teman, bahkan dengan guru tidak melakukan jabat tangan. Ini adalah merupakan pengorbanan yang sangat besar, demikian juga menjaga jarak di dalam melaksanakan ibadah shalat. Di dalam perintah agama disebutkan bahwa ketika melaksanakan shalat maka barisannya diluruskan dan di rapatkan.
  4. Menghindari kerumunan, seperti rapat- rapat, majelis taklim, jenjang pendidikan formal, jamaah shalat ini juga tidak dilakukan. Ini pengorbanan yang luar biasa, majelis taklim yang sudah menjadi kebiasaan tidak dilakukan bahkan salat jamaah pun itu yang juga sempat untuk tidak dilakukan di tempat ibadah, ini adalah pengorbanan yang luar biasa. Bagi umat Islam shalat berjamaah itu pahalanya besar, 27 derajat dibanding dengan shalat sendiri. Proses pendidikan formal tidak diselenggarakan secara tatap muka dan dilakukan secara daring atau luring karena ini menjadi kendala bagi kita sekalian . Bahkan sudah 2 tahun Indonesia tidak mengirimkan jamaah haji, karena pemerintah Arab Saudi hanya memberikan kesempatan kepada penduduk yang sudah bermukim di tanah suci. 
  5. Mengurangi mobilitas, banyak aspek yang harus dikorbankan oleh umat manusia, jasa transportasi dan pariwisata nyaris lumpuh, sehingga hal yang demikian ini menambah beban bagi umat manusia untuk menanggung kebutuhan hidupnya. Karena itu Covid-19 adalah merupakan masalah bangsa maka seluruh warga negeri agar berpartisipasi untuk mengatasi secara bersama-sama. 
Kita hanya berharap mudah-mudahan dengan kerelaan dan kesungguhan kita dalam berjuang dan berkorban guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dapat dilaksanakan dengan kesadaran, agar pandemi akan segera berlalu. Umat manusia khususnya masyarakat Indonesia dapat beraktivitas secara normal, sehingga segala aspek kehidupan manusia, baik ekonomi, politik, social, budaya, pendidikan dapat berjalan dengan baik sehingga bisa terwujud masyarakat Indonesia yang adil makmur sejahtera lahir dan batin di bawah naungan ridho dan ampunan Allah subhanahu wa ta'ala, amin.

8/14/2021

Murnikan Niat Karena Allah Karena Setiap Ibadah Dilihat Dari Niatnya

Hari Jumat adalah Sayyidul ayyam yaitu penghulunya hari. Hari Jumat, hari yang lebih utama karena itu, pada hari Jum’at umat Islam banyak memanfaatkan kesempatan untuk memperbanyak ibadah kepada Allah. Dimulai dari kegiatan pada sore hari, pada umumnya orang-orang setelah melaksanakan shalat magrib kemudian dilanjutkan dengan pembacaan dzikir, tahlil untuk mendoakan kepada para leluhur yang sudah mendahuluinya, memohon kepada Allah agar diberikan kemuliaan, kebahagiaan di alam kubur. Kemudian setelah melaksanakan shalat Isya biasanya dilanjutkan dengan kegiatan majelis taklim, baik yang dilaksanakan di masjid, musholla, langar, surau atau dilaksanakan dari rumah penduduk. Karena umat Islam juga banyak yang mengikuti kegiatan majelis taklim secara bergilir dari rumah angota jemaah ke anggota yang lain.

Kegiatan majelis taklim diselenggarakan secara sukarela, tanpa ada paksaan, tetapi setiap orang biasanya bergabung pada jamaah tertentu, karena merasa ada suatu kecocokan dengan pimpinan, keanggotaan, metode dan materi dalam majelis taklim. Majlis taklim merupakan kegiatan pendidikan agama pada masyarakat yang diselenggarakan secara swadaya, dari Jemaah, oleh Jemaah dan untuk Jemaah, disamping kadang karena inisiatif dari tokoh agama untuk menyebarkan syariat Islam di tengah-tengah masyarakat. Pada majelis taklim tertentu, kadangkala ada yang bersifat statis dan ada yang dinamis, tergantung dari SDM pengurusnya, pada dasarnya jemaah mengikuti apa yang menjadi inisiatif pengurusnya. Pada malam hari banyak pula umat Islam yang menggunakan waktunya untuk menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Pada pagi hari pun biasanya banyak orang Islam yang memanfaatkan hari Jumat juga untuk memperbanyak ibadah kepada Allah dengan mengikuti kegiatan kuliah subuh, tadarus Alquran kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke makam, untuk membersihkan pemakaman, menabur bunga dan mendoakan arwah yang telah bersemayam. 

 

Pada siang hari, pada waktu pelaksanaan shalat Jum’at, ada orang Islam mempunyai kepentingan sendiri-sendiri untuk meningkatkan amal ibadahnya. Sebagian orang menyebut sebagai Jum’at berkah, karena itu pada hari Jum’at banyak orang yang mengalokasikan pemikiran, harta, kesempatannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga dengan Jum’at berkah, banyak masjid yang sudah menyediakan kepada para jamaah, hidangan makan siang. Takmir masjid berinisiatif untuk mengumpulkan konsumsi dari para dermawan atas dasar sukarela. Ada Jemaah yang memberikan kesanggupan dan disampaikan kepada takmir masjid dan ada yang langsung dikirim ke masjid. Karena itu untuk mengantisipasi terjadinya kekosongan kadangkala takmir masjid yang menggunakan dana infaq kotak amal untuk kepentingan para jemaah. 

 

Bagaimana agar jamaah yang tidak mampu merasa tertolong dengan keberadaan masjid, paradigma memakmurkan masjid pada zaman sekarang yang lebih fleksibel, dinamis, kreatif. Bagaimana orang yang tidak mampu, akan muncul rasa suka ke masjid. Mereka menggunakan fasilitas masjid seperti listrik, halaman, teras, serambi, tempat wudhu, MCK, bahkan kadang digunakan untuk kepentingan pribadi. Pengurus masjid tetap memberikan kebebasan untuk menggunakan fasilitas masjid. Secara materi masjid akan kekurangan dana, akibat dari penggunaan air, listrik dan alat kebersihan, biaya tenaga kebersihan. Tetapi justru yang demikian ini bisa menyadarkan orang-orang yang tidak mampu, muncul dorongan untuk memberikan sesuatu guna kepentingan masjid. 

 

Ada satu kisah bahwa pada suatu saat ada seorang yang melaksanakan salat Jumat di Masjid, orang tersebut berupaya ingin mengetahui kondisi masjid, bagaimana kegiatan shalat Jum’atnya, bagaimana khatibnya, bagaimana imamnya dan bagaimana jamaahnya. Orang tersebut ingin menambah ilmu, bershilaturahmi, dan dia telah menyiapkan sejumlah uang untuk dimasukkan ke dalam kotak infaq. Dia merasa menjadi orang yang mampu, walaupun bila dibandingkan dengan pelaksanaan ibadahnya sudah lebih baik atau masih kurang. Karena sesungguhnya seluruh kegiatan di masjid memerlukan biaya. 

 

Kadang tanpa disadari bahwa masjid yang megah, indah, bersih, tersedianya air yang melimpah, penerangan yang cukup, sound system yang bagus, petugas khatib, imam, muadzin yang kadang juga perlu dana. Banyak orang yang tidak peduli, misalnya ketika masuk masjid ada sampah berserakan hanya bilang masjid kok banyak sampahnya, lantai masjid kotor hanya bilang masjid kok kotor, masuk tempat wudhu, hanya bilang tempat wudhu kok kotor, berlumut, airnya kecil, masuk ke thoilet hanya berkata, kok kok kotor, pesing dan licin. Harusnya kita bertanya, masjid itu punya siapa? Siapa yang bertugas merawat masjid? Dari mana sumber dana untuk perawatan masjid? Dan hal yang ringan namun belum banyak melakukan, ketika melihat sampah berserakan untuk diambil dan dimasukkan ke tempat sampah, bila lantai kotor ikut menyampu, bila tempat wudhu kotor turut membersihkan, bila thoilet berbau pesing, kotor agar turut membersihkan. Bila merasa bukan tugasnya dan merasa tidak pantas, maka perkontribusilah dengan hartanya. Bukankah Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk, sehingga manusia bisa berpartisipasi dan berkontribusi dengan ucapan, perbuatan, pemikiran dan harta. 

 

Amal dilihat dari niatnya. 

Ada hal yang menarik dermawan yang datang ke masjid telah merasa mampu dan merasa puas terlayani dengan kegiatan- kegiatan ibadahnya. Ketika keluar dari masjid, disana dia menyaksikan sebagaimana di masjid yang lain menyediakan makanan, minuman. Ada makanan besar, ada makanan kecil. Semua itu disediakan bagi para jamaah secara bebas, kemudian dia melihat beraneka macam makanan, baik makanan yang berat dan makanan ringan. Namun pada dirinya tidak ada daya tarik untuk mengambil makanan tersebut, karena dia merasa sebagai orang yang mampu, sehingga dia merasa tidak berhak untuk ikut menikmati hidangan yang telah disediakan. 

 

Namun ternyata dia melihat makanan tertentu, yang nampak sangat menarik dan enak, walaupan makanan tersebut tidaklah terlalu mahal namun dalam hatinya ada rasa penasaran. Dia melihat orang sedang antri untuk mengambil namun dia tetap berlalu, ternyata dalam hatinya muncul keinginan untuk kembali, setelah berbalik arah menuju pada tumpukan makanan dia berbalik lagi, tetap merasa tidak enak dan malu. Dia melihat ada jamaah yang mengambil lebih dari satu, dan itu juga tidak dilarang, sambil menunjukkan pada temannya dia berkata lapar, dia belum sarapan dan lain sebagainya. 

 

Ternyata orang yang tertarik dengan makanan tertentu, di dalam hatinya muncul keinginan Jum’at besok akan Jumatan lagi di masjid ini, kemudian muncul lagi di dalam hatinya, bisikan di dalam hatinya saya besok mungkin ada kesempatan untuk mengambil hidangan itu. Seandainya terlaksana Jum’at berikutnya ke masjid tersebut, akan berjuang untuk melawan niat yang rendah dan tidak baik agar dapat memurnikan niat ibadah karena Allah. Janganlah niat mulia bercampur dengan niat selain untuk Allah, karena bisa jadi nilai ibadah akan mengikuti pada niatnya, sebagimana sabda rasul:

 

 إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ 

 

"Sesungguhnya amalan itu hanyalah tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang (berniat) hijrah kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa (berniat) hijrah karena dunia yang bakal diraihnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang diniatkannya itu." (HR. Buchari: 6195) 

 

Lalu Bagaimanakah orang yang mempunyai niat untuk beribadah, tetapi juga berniat untuk mencari yang lain, di sinilah bahwa kemurnian hati itu hendaknya kita jaga, kita murnikan niat mudah-mudahan dengan niat yang baik Itulah, maka akan menjadi amal yang baik. Karena itu kalau dalam satu perbuatan tapi ternyata mempunyai dua niat otomatis antara niat yang baik dengan niat yang kurang baik itu adalah akan berimbang, maka orang yang beribadah dikhawatirkan nilai ibadahnya akan hilang, atau akan impas dengan niat dari ibadah Lillah. 

 

Lain halnya ketika orang beribadah karena Allah, beribadah tidak ada tendensi lain kecuali untuk Allah, namun ternyata mendapatkan sesuatu, maka disinilah yang disebut sebagai ziyadah bil khoir, bahwa setiap amal perbuatan kalau diniati dengan ibadah Insya-Allah akan membuahkan hasil lain sebagi tambahan. Niat ibadahnya lurus, kemudian mendapatkan nilai yang lain yang baik. Mudah-mudahan dengan niat yang lurus akan dapat meningkatkan kualitas iman dan taqwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala, amin.