9/14/2021

Dampak dan Keprihatinan Terpapar Pandemi Covid-19- Takut, Terasing

Ketika ada orang yang terpapar Covid- 19, bisa jadi orang lain mengetahui, namun bisa jadi orang lain tidak mengetahui, baik sebagai penderita tanpa gejala atau dengan gejala. Jika orang terpapar Covid-19 dengan gejala, dia menutupi bahwa dirinya itu terkena Covid-19. Sehingga ketika dirinya sudah mengetahui positif terkena Covid-19 tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Namun ada juga yang secara terus terang, bahwa setelah mengetahui hasil cek laboratorium dirinya positif terkena Covid-19 kemudian menyampaikan informasi kepada grup WA meminta dukungan moril kepada anggota WA agar dirinya diberikan kekuatan, keselamatan, kesehatan dan segera disingkirkan dari pandemi Covid- 19.

Ketika dia menyampaikan informasi, kemudian muncul dukungan moril dari para anggota. Semoga dia segera diberikan keselamatan, kesehatan dan disingkirkan dari pandemi. Dukungan atau doa diawali dengan semoga, semoga, semoga dan semoga. Ini adalah sikap yang di sampaikan oleh anggota grup, karena ketika orang yang sudah terpapar Covid- 19, maka orang lain tidak mau mendekat, karena takut tertular. Karena itu sangat memprihatinkan sekali bagi orang yang terpapar Covid-19, merasa sebagai orang yang terasing, bahkan bukan hanya teman, bukan hanya saudara, tetapi keluarga sendiripun juga menjaga jarak, berhati-hati agar tidak tertular Covid-19. 

 

Dengan kejadian tersebut, ternyata sikap masing-masing anggota masyarakat berbeda, ada yang menyikapi dengan penuh kehati-hatian, sehingga kemanapun selalu memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas. Namun tak sedikit bahwa anggota masyarakat yang bersikap seperti tidak ada pandemi, tidak memakai masker, tidak menjaga jarak, tidak menjauhi kerumunan dan bebas bepergian, tetap terbiasa melakukan aktivitas tanpa menghiraukan himbauan dari pemerintahan untuk melakukan langkah-langkah pencegahan Covid-19. 

 

Akibat virus corona yang membjuat hidup manusia menjadi resah, sehingga ketika terpapar Covid- 19 pada umumnya mentalitas menjadi menurun, karena ada ketakutan dan keakhawatiran yang berdampak pada menurunnya imunitas sehingga menimbulkan efek munculnya penyakit lain yang akan menambah parah terhadap serangan Covid- 19. Berdasar protocol kesehatan, bahwa virus corona akan semakin berbahaya bila mempunyai penyakit bawaan. Walaupun tidak terlalu menghawatirkan namun kemudian memicu munculnya penyakit baru yang hinggap pada seseorang yang berakibat suatu penyakit tidak kunjung sembuh. 

 

Sebab-sebab mentalitas menurun. 

 

Suatu penyakit disamping sumbernya dari makanan, juga karena pemikiran dan hati yang tidak bisa tenang. Adanya rasa khawatir, ketakutan dan lainnya, karena itu ada beberapa hal yang menyebabkan, mengapa orang yang terpapar virus corona mentalitasnya menjadi menurun: 

 

  1. Banyak orang yang terpapar Covid- 19 itu berakhir dengan kematian. Karena itu ketika dirinya sedang terpapar Covid-19, yang ada dalam fikiran adalah bayang-bayang kematian, hatinya menjadi gundah, tidak tenang, gelisah. Dengan demikian pemikiran dan hati yang tidak tenang akan memperparah kondisi psikis orang, mentalitasnya semakin menurun. Sehingga alih-alih akan segera sehat kembali, justru imunitas tubuh semakin menurun dan berderet-deret penyakit akan menghinggapinya. 
  2. Mendengar informasi di pengeras suara atau di media sosial melalui WA, ada orang yang meninggal yang menurut informasi adalah terkena Covid-19. Demikian pula di grup WA ada informasi bahwa si A, B atau C meninggal dunia karena terpapar Covid- 19, karena itu informasi-informasi yang demikian ini semakin memperparah konsisi sakitnya ketika sedang terpapar Covid-19. 
  3. Seringnya lalu-lalang mobil ambulans dengan suara sirine yang mengaung-ngaung sehingga menakutkan, karena yang terbayang pada dirinya bahwa mobil ambulan membawa orang sakit atau orang yang sudah meninggal. Hal demikian akan menjadi pukulan bagi orang yang sedang mengalami serangan atau terpapar virus corona. 
  4. Merasa menjadi orang yang sendirian, karena ketika sakit orang yang sehat akan menjaga jarak. Hal ini berlawanan dengan sunnah rasul dan kebiasaan, bahwa bila mendengar atau melihat orang yang sakit agar menengoknya. Bila ada orang yang meninggal agar bertakziyah. Prokes mengarahkan agar orang yang sakit untuk dijauhi, bila ada orang meninggal tidak perlu bertakziyah. 

 

Solusi ketika terpapar 

 

Setiap kesulitan pasti ada kemudahan, semua penyakit ada obatnya. Takut yang berlebihan akan memperparah kondisi demikian pula khawatir yang berlebihan. Namun juga agar tidak sembarangan, dengan menuruti hawa nafsu. Banyak orang yang mengatakan, jangan takut pada virus, takutlah kepada Allah, hidup dan mati Allah yang memutuskan. Kadang tanpa disadari bahwa pernyataan demikian ini akan menimbulkan konflik dan disharmoni dalam kehidupan manusia. Telah banyak orang yang terpapar, ada yang sembuh, ada yang terus sakit dan akhirnya meninggal, ada yang dirawat di rumah sakit atau melakukan Isoman. 

 

 Orang yang terpapar dan sehat kembali menyampaikan testimoninya tentang sakit dan menderitanya, sehingga berpesan agar kita semua untuk berhati-hati dan menjaga diri untuk mewujudkan rasa cinta dan sayangnya kepada keluarga, sahabat dan orang lain. Karena itu untuk menguatkan mental spiritual untuk meneguhkan diri dengan: 

 

  1. Selalu meningkatkan amal ibadah kepada Allah sebagai indikator peningkatan iman dan takwa kepada Allah. Iman perlu bukti yaitu dengan amal ibadah, sehingga dengan peningkatan amal ibadah itulah seorang hamba bisa mengabadikan diri mencurahkan perhatiannya untuk melaksanakan perintah-perintahnya Allah. Amal ibadah itu bisa menjadi wasilah ketika bermunajat kepada Allah. Sebagaimana kisah seorang tiga orang pemuda yang terjebak di dalam gua, pintu gua tertutup oleh batu yang besar sehingga tidak ada daya kekuatan untuk bisa menyingkirkan batu tersebut. Tiga pemuda itu masing-masing menyebutkan amal ibadah yang pernah dilakukan, dari itulah kemudian batu tersebut bergeser, sehingga tiga pemuda itu bisa keluar dari dalam gua. 
  2. Meningkatkan atau memperbanyak dzikir kepada Allah, (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. (QS, 13, Arra’du: 28). Munculnya suatu penyakit, apalagi dengan pandemi Covid-19 agar bila selalu ingat kepada Allah maka Allah pun akan memberikan ketenangan hati. Dengan hati yang tenang insya- Allah bisa melawan pandemi Covid-19 agar kehidupan bisa menjadi normal kembali. 
  3. Memperbanyak atau merutinkan untuk membaca Alquran, “Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.(QS, 17: Al Isra’: 18) 
  4. Berpikir positif, bahwa setiap orang hidup pasti mempunyai atau diberi ujian dan Allah memberikan ujian kepada hamba-Nya sesuai dengan kesanggupannya. 
  5. Hindarilah berita-berita yang dapat meresahkan. 

 

Tiap orang hidup diberikan kemulian dan kesengsaraan, kebahagiaan dan kesusahan, sehat dan sakit, dua sifat dan keadaan yang selalu melekat pada manusia. Allah memberikan kebebasan pada manusia untuk menjadi yang terbaik dengan selalu berusaha, ihtiar dan tawakal.

9/06/2021

Etika Ber-Medsos pada Grup WhatsApp – Sopan dan Berempati

WhatsApp adalah salah satu media komunikasi yang paling efektif dan sampai hari ini banyak orang yang memanfaatkannya sebagai sarana berkomunikasi, berkoordinasi, menjalin silaturahmi dan ada pula yang menggunakan sebagai media untuk berbisnis yaitu untuk mendapatkan penghasilan. Karena itu di dalam WhatsApp di samping secara personil ada WhatsApp group di mana keanggotaannya terdapat kelompok-kelompok tertentu, seperti grup bani, kantor, usaha atau bisnis, alumni, hoby dan kelompok-kelompok lainnya.

Anggota grup mempunyai kebiasaan dan sikap yang berbeda-beda, ada anggota yang aktif memberikan pesan, informasi dan lainnya. Ada yang sekadar memberikan jawaban, ada yang hanya sekali-kali saja kalau dipandang perlu atau ada yang sama sekali tidak pernah memberikan komen. Dia dimasukkan dalam anggota grup karena permintaan atau karena oleh admin dipandang mempunyai pemikiran, perasaan, latar belakang dan kepentingan yang sama. 

 

Dalam grup WA masing-masing orang mempunyai latar belakang, pemahaman dan pengetahuan serta kebiasaan berbeda-beda, sehingga kadangkala dalam melakukan komunikasi atau memberikan informasi, kadang kurang memperhatikan terhadap kepentingan orang lain. Yang penting Informasinya disampaikan, tidak menghiraukan Informasi yang disampaikan oleh teman-teman di dalam grup itu. Tak jarang kadang ditemukan informasi yang disampaikan tidak nyambung, tumpang tindih. Karena di dalam grup WA ini ada etika bagaimana agar masing-masing anggota grup bisa menghargai terhadap anggota grup. 

 

  1. Menggunakan bahasa yang santun, sopan, tidak menyakiti terhadap anggota kelompok yang lainnya. Bagaimanakah standar bahwa apa yang disampaikan itu tidak menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain? Hal ini perlunya empati, jadi bagaimanakah seandainya dirinya di beri ucapan atau kata-kata yang demikian itu. Kira-kira dirinya merasa tersinggung atau tersakiti atau tidak? Jadi sebelum membuat statement atau mengirimkan pesan moral di dalam grup WA perlu memperhatikan orang lain. 
  2. Dalam grup WA biasanya terdapat anggota yang menyampaikan informasi penting yang berkaitan dengan masalah kesehatan, sakit atau berita lelayu. Karena itu ketika ada anggota grup yang menyampaikan berita tentang orang yang sakit, misalnya minta doa agar yang sakit segera sembuh, dirinya atau keluarganya segera diberikan kesehatan disingkirkan dari penyakit. Bila masih ada anggota grup yang memberikan komentar tentang berita yang disampaikan, masih ada ucapan, support, dorongan moril mudah-mudahan segera diberikan kesehatan. Atau tentang berita lelayu, mudah-mudahan diampuni dosa dan kesalahannya oleh Allah, diterima amal ibadahnya . Ketika masih ada anggota grup yang memberikan informasi seperti itu, maka grup yang lain hendaknya tahan dulu untuk menyampaikan informasi yang lainnya. Misalnya ada berita lelayu atau duka. Anggota grup yang lain justru menyampaikan informasi bahwa anaknya diterima sebagai pegawai misalnya, kemudian menshare foto-foto tentang acara wisuda atau acara serah terima jabatan atau menyampaikan informasi bahwa dirinya telah memperoleh penghargaan. 
  3. Tidak men-share tentang kejadian-kejadian yang mengandung kekerasan penganiayaan, karena kejadian yang singkat kadang akan menimbulkan kebencian, menyalahkan salah satu pihak. Padahal tidak mengetahuai latar belakang yang sesungguhnya.
  4. Jangan terburu-buru men-share gambar berita, informasi yang diterima sebelum dicek kebenarannya. Segala informasi yang diterima hendaknya disaring dulu, diteliti mana yang layak untuk diteruskan atau mana yang untuk pengetahuan bagi dirinyanya. 

 

Begitulah beberapa etika atau cara kita menggunakan media sosial terutama WhatsApp, agar media komunikasi tersebut bisa memberikan manfaat bagi dirinya, orang lain dan juga bisa mendatangkan kedamaian dan ketenangan bagi semua orang. Media sosial itu ibarat pisau belati yang mempunyai dua sisi, dari sisi manapun bisa digunakan, karena itu media sosial khususnya WhatsApp, bagaimana bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk melakukan perbuatan yang mendatangkan kebaikan.

9/01/2021

Njagi, Ngrimat lan Ngiyataken Hidayah Iman - Khutbah Bahasa Jawa

Iman punika hidayah saking Ngarsa Dalem Allah, hidayah iman lan Islam kedah dipun syukuri kanthi nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah. Bukti saking iman inggih punika kanthi tumindak amal shalih, kanthi punika tiyang Islam kedah dhemen nindakaken amal shalih. 

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَخْلاَقَ مِنَ الدِّيْنِ، وأَعْلَى بِهَا شَأْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن وَقالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِيْنَ. اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ 

 

Para jemaah shalat Jum’at ingkang kawula hormati. 

 

Pertama lan ingkang paling utami, kawula tansah wasiat khususipun dhateng pribadi kawula piyambak, sumrambah dhumateng panjenengan sedaya, mangga kita tingkataken iman dan taqwa dhumateng Allah SWT, inggih punika kanthi nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan nilar sedaya awisanipun. Mugi-mugi kanthi istiqomah, ikhlas lan sabar anggenipun nindakaken dhawuhipun Gusti Allah. Ing salebetipun gesang kita tansah pinaringan kabegjan wiwit dunya dumugi benjang wonten ing alam akhirat, amin. 

 

Para sedherek ingkang kawula hormati. 

 

Allah subhanahu wa ta'ala sampun paring pengendikan wonten ing salebeting Alquran:

 

 وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ 

 

“ Sapa wong manut agama sak liyane Islam, mula babar pisan ora bakal tinarima (agama iku) saka dheweke, lan dheweke ing akhirat kalebu golongane wong- wong kang padha rugi”. (QS. Ali Imran: 85) 

 

Ayat punika nedahaken bilih kanthi ngugemi syariat agami Islam, mila sedaya amal saenipun badhe dipun tampi dening Allah. Kosok wangsulipun sinaosa tiyang punika nindakaken amal kesaenan, ananging boten iman dhumateng Allah lan utusanipun, mila amal ibadahipun boten badhe dipun tampi dening Allah. Mila iman ingkang sampun tinancep wonten ing sak lebetipun manah kedah tansah dipun kiyataken. Amargi iman punika badhe goyah kanthi mapinten-pinten pangridu, saget kanthi bandha dunya, pangkat lan jabatan, pakaryan lan gesang bebrayan. 

 

Mila supados hidayah iman lan Islam punika tansah tinancep ing kalbu lan ngrembaka ing amal kesahenan, wonten mapinten-pinten cara: 

 

1. Kita kedah tansah ngudi kaweruh, kanthi nindakaken pengaosan, maos buku-buku lan kitab. Mila kanthi tansah ngudi ilmu punika badhe dados tiyang ingkang wicaksana, boten gampil anggenipun nyacat, nyalahaken tiyang sanes, duka, sungkawa. Tiyang ingkang dhemen ngudi ilmu ing dalem akhlaq lan solah bawanipun badhe andhap ashor, tiyang Jawi mastani kados pantun ingkang sampun mratak. Pantun ingkang sak waunipun dangak, tambah dangu dados tumungkul amargi pantunipun aos. Nanging menawi pantunipun gabuk utawi boten wonten isinipun inggih tansah dangak. Mila Rasulullah Muhammad SAW tansah paring gati dhumateng tiyang Islam supados tansah ngudi kaweruh melai lahir dumugi seda, ninaosa tebih kedah dipun padosi. 

 

2. Tansah nindakaken amal shaleh, mergi iman punika kedah dipun kanteni kalian amal shalih. Amal shalih punika kangge mujudaken raos syukur dhumateng Allah. Amal shalih punika mujudaken saenipun hablun minannas. Kanthi hablun minannas punika mental lan spiritual tiyang Islam badhe dipun uji. Amargi tumindak sae asring boten dipun sunggati kanthi sae, punapa malih tumindak awon. Damel kesahenan boten masthi dipun wales kanthi kesaenan. Mekaten punika amargi Gusti Allah dadosaken manungsa angghadhahi watek lan akhlaq ingkang mawarni-warni. 

 

3. Dipun rutinaken maos Alquran, mergi Alquran sinaosa namung dipun waos, badhe nuwuhaken raos ayem lan tentrem:

 

 وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا 

 

“Lan Ingsun (Allah) turunake saka Alquran sawiji-wiji kang hiya iku tamba (lara sasar) lan hiya rupa rahmat tumrap wong-wong kang padha iman lan Alquran iku ora isa nambahi marang wong-wong dzalim kajaba mung karugen”. (QS. Al Isra’: 82) 

 

Kejawi saking punika maos utawi mirengaken Alquran ugi badhe dipun paring ganjaran dening Allah, dipun etang saking saben hurufipun malah badhe dipun tikelaken. 

 

4. Dipun kathah-kathahaken anggenipun nindakaken ibadah sunnah sak sampunipun ibadah fardhu dipun tindakaken. Contonipun shalat sunnah, puasa sunnah ingkang kathah warninipun, infaq lan shadaqah ingkang kathah marginipun, shilaturahmi lan senesipun. Kalebet ibadah maghdhah lan ghairu maghdhaipun tansah dipun tindakaken kanthi sesarengan. 

 

5. Dhemen nindaki majelis dzikir, jalaran ing saben wekdal para malaikat keliling ing lumahing bumi madosi tiyang-tiyang ingkang sami ninfakaken majis dzikir: 

 

 إنَّ لِلَّهِ تَعَالَى مَلَائِكَةً يَطُوْفُوْنَ فِي الطُّرُقِ يلْتَمِسُوْنَ أَهْلَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوْا قَوْماً يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ تَنَادَوْا: هَلُمُّواْ إلَى حَاجَتِكُمْ 

 

“Satuhune Allah Ta’ala dhuweni malaikat kang tansah mubeng-mubeng ing dalan-dalan goleki majlis dzikir, lamun wis nemu mula undang-undang marang kancane, mreneha mula bakal teka hajatira”. (HR. Buchari Muslim) 

 

6. Mikir lan gatosaken saking ayat-ayat Allah arupi alam semesta punika:

 

 اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ مَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا شَفِيْعٍۗ اَفَلَا تَتَذَكَّرُوْنَ 

 

“Gusti Allah kang nitahake langit lan bumi lan apa kang ana ing antarane langit lan bumi, ana ing sajrone nem dina, tumuli Panjenengane nguwasani ngarasy. Ora ana tumrap sira kabeh sak liyane Panjenengane sawijiene pawongan kang dadi kekasih, lan (uga) ora ana sawijine pawongan kang maringi syapangat. Mula apatoh sira kabeh ora padha migatekake ?” (QS. Assajdah: 4) 

 

7. Dhemen kumpul lan srawung kalian tiyang shalih, mila tiyang shalih punika badhe paring gati lan piwulang dhateng margi ingkang sae lan leres. Dhemen nindakaken kabecikan lan nilar dhateng perkawis ingkang awon lan sasar. 

 

8. Ngathah-ngathahaken maos tahlil:

 

 جَدِّدُواْ اِيْمَانَكُمْ, قِيْلَ يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُواْ اِيْمَانَنَا قَالَ اَكْثِرُواْ مِنْ قَوْلِ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ 

 

“Anyar-anyarna iman sira kabeh, sahabat matur kados pundi anggen kita dandosi iman kita? Rasul ngendika akeh-akena pada maca la ilaha illallah”. (HR. Ahmad lan Hakim) 

 

 Para sedherek, kaum muslimin ingkang kawula hormati. 

 

Iman punika ing salah satunggaling wekdal kraos kiyat lan ing wekdal sanes kraos kendor, mekaten punika ketingal saking amal ibadahipun. Pramila supados tansah kiyat kedah dipun uri-uri kanthi ikhlas, sabar lan istiqomah nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah SWT. Mugi-mugi Allah tansah paring kekiatan lan kesempatan dhateng kita sedaya, amin.

 

 أَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ , وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ