Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

4/14/2021

Harapan Raih Keutamaan Bulan Ramadhan Dalam Masa Pandemi Covid-19

 

Marilah bersama-sama kita mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita sekalian karena pada tahun ini, bulan ini dan pada hari ini kita dapat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Kerinduan umat Islam dengan datangnya bulan suci Ramadhan dan harapan ingin melaksanakan amaliah pada bulan suci Ramadhan. Berbeda dengan pada tahun 2020 atau tahun 1441 Hijriyah, pemerintah memberikan himbauan kepada umat Islam agar puasa Ramadhan yang dilaksanakan tetapi amaliyah puasa Ramadhan agar dilaksanakan di rumahnya masing-masing. 

 

Amaliyah Ramadhan diantaranya adalah melaksanakan salat tarawih dan witir secara berjamaah, tadarus Alquran, kegiatan pesantren kilat untuk anak-anak, kegiatan TPQ, buka puasa, majelis taklim, kuliah subuh semuanya dilaksanakan di keluarga masing-masing. Hal ini dilakukan karena pada tahun tersebut pemerintah atau negara Indonesia sedang dilanda Covid-19, suatu wabah penyakit yang belum pernah dijumpai, sehingga harus dilakukan kewaspadaan, karena Covid-19 adalah suatu makhluk yang tidak kelihatan tetapi mengancam kehidupan manusia. 

 

Virus corona berada dimana-mana dan keberadaannya tidak ada yang mengetahui kecuali dari tanda-tanda, bahwa di tempat tertentu ada orang yang terpapar virus corona dengan gejala-gejala seperti panas yang selalu naik, tenggorokan terasa kering dan untuk menelan sakit, hilangnya rasa, batuk pilek tidak sembuh-sembuh dan lainnya. Untuk kepastiannya dengan cek rapid reaktif dan sweb. Adapun orang yang terkena virus corona kadang ada yang dengan gejala dan ada yang tanpa gejala. Sudah banyak orang yang terpapar bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Karena itu ibadah puasa Ramadhan pada tahun 2021 M/ 1442 H pemerintah menerapkan adaptasi kebiasaan baru, sehingga pelaksanaan amaliah puasa Ramadhan pada tahun ini bisa dilaksanakan, dengan menerapkan protokol kesehatan hal ini dimaksudkan agar Amaliyah ibadah puasa Ramadhan umat Islam dapat meraih keutamaan pada bulan Ramadhan tetapi umat Islam juga bisa terjaga kesehatan dan keselamatannya. 

 

Kerinduan umat Islam untuk melaksanakan puasa Ramadhan, karena ingin meraih derajat sebagai orang yang bertaqwa Allah telah berfirman di dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 183:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al Baqarah: 183) 

 

Puasa Ramadhan itu sebagai wasilah untuk meraih derajat orang yang bertaqwa, namun hendaknya ibadah puasa Ramadhan dengan diikuti dengan amaliah dan ibadah sunnah. Karena puasa Ramadhan adalah ibadah yang diperuntukkan khusus bagi Allah subhanahu wa ta'ala sebagaimana dalam hadits qutsi:

 

 كُلُّ عَمَلِ بْنِ اَدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا اِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفِ, قَال اللهُ تَعَالَى اِلَّا الصَّوْمَ فَاِنَّهُ لِى وَاَنَا أَجْزِى بِهِ (رواه مسلم) 

"Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya. Satu macam kebaikan diberi pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali. Allah 'azza wajalla berfirman; 'Selain puasa, karena puasa itu adalah bagi-Ku dan Akulah yang akan memberinya pahala”. (HR. Muslim) 

 

Pada bulan suci Ramadhan Allah akan memberikan rahmat, maghfirah dan dilepaskan dari neraka, Rasulullah SAW bersabda:

 

 اوله رحمة واو سطه مغفرة واخره عتق من النار 

“Puasa Ramadhan yang pertama adalah rahmat yang pertengahan adalah maghfirah dan yang terakhir adalah dihindarkan dari siksa neraka”. 

 

Awal dari bulan Ramadhan itu adalah merupakan rahmat, yang pertengahan adalah maghfirah dan yang terakhir adalah akan dijauhkan dari api neraka. Karena itu ada tiga tahapan yang hendaknya bisa bisa ditempuh oleh umat Islam untuk meraih rahmat dan ampunan. Pertama pada sepuluh hari yang pertama Allah memberikan rahmatnya bagi orang-orang yang beriman, kemudian sepuluh hari yang kedua Allah mencurahkan maghfirah-Nya dan yang ketiga itu Allah memberikan jaminan kepada orang yang beriman dijauhkan dari api neraka. 

 

Mengapa sepuluh hari yang pertama disebut sebagai rahmat? Kalau melihat usaha dari para ahlussufah ada tiga hal yaitu takhalli, tahalli dan tajalli. Takhalli merupakan upaya untuk melepaskan segala perilaku yang tidak baik, maka sepuluh hari yang pertama kita sedang melepaskan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik, suka marah-marah, berbuat onar, memfitnah, adu-domba, mengunjing, menggibah, sifat riya’, iri, dengki dan lain sebagainya. Sepuluh hari yang pertama adalah merupakan perjuangan upaya untuk meraih rahmat dan ampunan. Kemudian dilanjutkan dengan sepuluh hari yang kedua bahwa setelah melepaskan perilaku-perilaku yang tidak baik kemudian digantinya dengan perilaku yang baik, perilaku yang diridhai oleh Allah. Perilaku dengan meneladani Rasulullah Muhammad SAW. Perilaku menghibah diganti dengan perbuatan menghiasi diri dengan membaca Alquran yang setiap huruf akan dilipatgandakan pahalanya. Karena itu dengan semakin banyaknya perbuatan baik yang dilakukan, kelak akan menjadi kebiasaan baik yang akan menghiasi seluruh amal perbuatannya. 

 

Dari ayat Alquran dan hadis nabi Muhammad shallallahu a’alaihi wa sallam ada beberapa harapan yang diinginkan: 

 

1. Bisa meraih derajat sebagai orang yang bertaqwa. 

2. Bisa meraih rahmat dan ampunan Allah SWT 

3. Dosa dan kesalahannya akan dihapuskan, sebagaimana sabda rasul:

 

 مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 

 

"Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu" (HR. Buchari Muslim) 

 

4. Pada bulan suci Ramadhan dapat meraih Fadhilah/ keutamaannya dan terjaga kesehatan dan keselamatannya. 

Kita berharap agar himbauan yang telah diberikan pemerintah tentang penanggulangan virus corona bisa kita laksanakan. Bisa meraih keutamaan bulan suci Ramadhan tetapi juga bisa mematuhi aturan pemerintah yaitu dengan menerapkan protokol kesehatan. Hal-hal yang pada awalnya tidak mungkin dilakukan, seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak ketika salat ini adalah hal yang sulit untuk bisa diterima, tapi ini adalah merupakan adaptasi kebiasaan baru dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus corona, kemudian menjauhi kerumunan dan juga menghindari mobilitas adalah sebagai upaya ikhtiar dari kita sekalian umat Islam bersama dengan pemerintah agar virus corona segera sirna. 

 

5. Bulan suci Ramadhan akan tertanam rasa ukhuwah, rasa saling membantu, empati para aghniya kepada para fuqara’ dan masakin. 

Karena dengan berpuasa setiap orang pasti akan merasakan lapar haus dan dahaga. Lapar dan dahaga ini adalah merupakan fitrah insaniyah. Kalau manusia tidak makan, maka menjadi lapar, manusia tidak minum maka menjadi dahaga. Sedangkan ketika lapar harus ditahan ketika haus harus ditaha. Karena ketika sedang berpuasa kemudian makan dan minum maka puasanya menjadi batal dan tidak sah. Menahan dari makan dan minum yang mengakibatkan lapar dan dahaga dirasakan oleh semua orang, baik dari kalangan orang-orang yang kaya, atauorang-orang miskin. Padahal lapar dan dahaga adalah kondisi riil yang dirasakan dalam setiap hari. Oleh karena itu dengan puasa diharapkan akan menambah kepedulian para aghniya’ sehingga dari sebagian harta dan penghasilan dikeluarkan baik dalam bentuk zakat, infaq dan shadaqah. Mudah-mudahan puasa Ramadhan pada tahun ini benar-benar bisa meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah subhana wa ta’ala, amin.

4/08/2021

Persiapan Ngadhemi Shiyam Ramadhan 1442 H Ing Wekdal Pandemi Covid-19

 

Shiyam Ramadhan punika ibadah tahunan ingkang dipun tindakaken sewulan nutuk ing sak lebetipun setunggal tahun. Kanthi shiyam Ramadhan saget mujudaken tiyang ingkang taqwa.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ جَعَلَ أَيَّامَ الْأَعْيَادِ ضِيَافَةً لِعِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَسُرُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ َأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىسَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اأَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَاالنَّاسُ, فَأُوِصْيكُمْ وَاِيَّاىَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ . يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا 

 

Kaum muslimin Jemaah jum’ah Rahimakumullah 

 

Pertama lan ingkang paling utami khatib tansah wasiat khususipun dhateng pribadi kula piyambak lan sumrambah dhumateng panjenengan sedaya, mangga kita tingkataken iman dan taqwa dhumateng Allah inggih punika kanthi nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan nilar sedaya awisanipun. Kanthi pangajab mugi-mugi Allah tansah paring taufik, hidayah dan inayah dhumateng kita sedaya sahingga saget slamet, wilujeng wiwit dunya dumugi alam akhirat samangke. 

 

 Kaum muslimin Jemaah jum’ah Rahimakumullah 

Sekedhap malih kita badhe mlebet ing bulan suci Ramadhan, Allah paring dhawuh supados nindakaken shiyam Ramadhan:

“He wong-wong kang padha iman, diwajibake marang sira kabeh supaya padha nindakake puasa, kaya dene kang wus diwajibake marang wong-wong sak durunge sira kabeh supaya sira dadi wong-wong kang taqwa”. (QS. Al Baqarah: 183) 

 

Puasa Ramadhan inggih punika kewajiban kagem tiang Islam, kewajiban shiyam Ramadhan salami setunggal wulan ing sak lebeting setunggal tahun. Ing wulan punika Allah paring kesempatan kagem tiyang-tiyang Islam kangge nglebur dosa-dosa ingkang sampun dipun tindakaken, wulan punika ugi dados kesempatan kagem merkoleh rahmat lan maghfirah saking ngarsa dalem Allah SWT. Amargi ing wulan suci Ramadhan amalan-amalan ingkang sae badhe dipun tikelaken ganjaranipun dening Allah. Rasulullah SAW nate ngendika:

 

 كُلُّ عَمَلِ بْنِ اَدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا اِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفِ, قَال اللهُ تَعَالَى اِلَّا الصَّوْمَ فَاِنَّهُ لِى وَاَنَا أَجْزِى بِهِ (رواه مسلم) 

Kabeh amale bani Adam bakal ditikelake ganjarane wiwit sepuluh nganti tikel pitungatus, kejaba puasa, mangka satuhune puasa iku dadi duwek-Ku lan Aku kang bakal paring ganjaran miturut karep-Ku”. (HR. Muslim) ". 

 

 Sahingga sedaya amal ibadah ingkang dipun dhawuhaken dening Allah badhe dipun tikelaken ganjaranipun, kados shalat tarowih, tadarus Alquran, infaq lan shadaqah, pados ilmu, shilaturrahmi. Rasulullah Muhammad SAW ngendika:

 

 اِذَاجَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ اَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ اَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ (رواه البخارى و مسلم) 

 

" Nalika wus teka wulan Ramadhan mangka dibukak lawange suwarga, ditutup lawange neraka lan para syetan dikrangkeng ". (HR. Buchari Muslim) 

 

 Kanthi hadits punika saget dipendhet pangertosanipun: 

1. Lawange suwarga dibuka, maksudipun bilih puasa punika saget ngrubah nafsu syaithaniyah dados sifat malakut. Saget murnikaken niat, saget nuwuhaken raos ikhlas, tindak lampahipun dhatengaken maslahat. Mila lawangipun suwarga dipun bikak lan tiyang Islam bebas anggenipun mlebet ing suwarga. 

2. Lawange neraka dipun tutup, sedaya tiyang Islam ingkang saget nindakaken shiyam kanthi dasar iman lan taqwa dhateng Allah, sahinga saget ngleremakan hawa nafsunipun saterasipun saget nylametaken saking geninipun neraka. Neraka nolak dhateng para ahli ibadah. 

3. Syetan-syetan dikrangkeng, bilih tiyang Islam ingkang saget nindakaken shiyam kanthi tekun, nindakaken amalaan-amalan sae ing wulan punika, sedaya ibadah namung dipun tujukaken kagem nindakaken ibadah, sehingga daya rohaninipun saget ngalahaken pangriduning syetan. Mekaten punika ingkang dipun wastani syetan dipun krangkeng. 

 

Kaum muslimin Jemaah jum’ah Rahimakumullah 

Ing tahun punika ibadah shiyam Ramadhan ing wekdal pandemi Covid-19, Alhamdulillah pamerintah sampun paring pitedah caranipun mujudaken syiar Ramadhan. Benten kalian tahun ingkang sampun kapengker inggih punika tahun 1441 H/ 2020 M. Nalika ing tahun 2020, pamerintah paring dhawuh supados shalat tarowih, tadarus Alquran dipun tindakaken wonten ing dalemipun piyambak-piyambak. Shalat tarowih inggih kalian keluarganipun piyambak. Malah nate shalat Jum’at dipun gantos kalaian shalat dhuhur. Ing tahun punika pamerintah ngedalaken wewaler kanthi pedoman Surat Edaran Menteri Agama RI nomor 3 tahun 2021. 

 

Anggenipun ginakaken masjid lan musholla boten kenging usel-uselan, kedah tansah matrapaken protokel kesehatan inggih punika, jamaah beto sajadah lan mukena piyambak, cuci asta, jaga jarak, sahingga panggenan ibadah namung saget dipun lebeti 50% saking jumlah sedayanipun. Semanten ugi ceramah agama, kultum lan pengaosan dipun watesi 15 menit. Makaten punika amargi pamerintah tansah prihatos lan gatosaken kabetahanipun umat Islam. Prihatos amargi virus corona dereng ical satus persen, tasih ngancam dhateng gesangipun manungsa sahingg kedah tansah ngatos-atos lan waspada. Pamerintah gatosaken dhateng kabetahanipun umat Islam kepingin makmuraken masjid lan musholla, ngalab berkah wulan suci Ramadhan ing wekdal pandemi. Sahingga marengaken nindakaken shalat jamaah ing masjid lan mushola nanging dipun watesi kalian aturan. 

 

Pramila mangga shiyam Ramadhan dipun tindakaken, dipun kanteni kalian nindakaken ibadah sunnah, dipun tingkataken anggenipun ibadah, manembah lan sujud dhateng Allah, dipun tingkataken khusukipun manuwun dhateng Allah. Mugi-mugi ibadah dipun tampi dening Allah lan virus corona saget sirna saking jagat raya punika, amin.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

3/11/2021

Pengetan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad, Mujudaken Shalat Ingkang Khusuk

Shalat sak jatosipun boten namung kagem guguraken kuwajiban lan shalat ugi boten namung owah-owahing awak, nanging kejawi mekaten kedah dipun kantheni kalian manunggaling manah lan penggalih. Nalika shalat sak jatosipun nembe ngadhep wonten Ngarsa Dalem Allah, mila ibadah shalat prayoginipun tansah dipun sempurnakaken, supados ngasilaken pribadi muslim ingkang iman, taqwa, taat, sumeleh lan mituhu dhateng dhawuh-dhawuhipun Allah.
اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَتِ وَالنُّوْرِ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِءُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاءُالْحُسْنَى, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ: اَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنُ رَحِمَكُمُ اللهُ, اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ رَبُّكُمْ فِى الْقُرْانِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah 

 

Pertama lan ingkang paling utama khatib tansah wasiat khususipun dhateng pribadi kula piyambak lan sumrambah dhumateng panjenengan sedaya, mangga kita sami ningkataken iman dan taqwa dhumateng Allah, inggih punika kanthi nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan nilar punapa ingkang dados awisanipun Allah, kanthi pangajab mugi-mugi tansah pinaringan taufiq, hidayah lan inayahipun Allah sehingga saget slamet, wilujeng sadangunipun gesang ing alam dunya lan dumugi benjang wonten ing alam akhirat, amin. 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah 

 

Ing wulan punika kaum muslimin dipun imutaken malih kalian pengetan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Isra’ tegesipun tindakipun Rasulullah ing wekdal dalu saking Masjidil Haram dumugi Masjidil Aqsa ing Palestina. Mi’raj tegesipun inggih punika minggah, wonten ing sidrotul muntaha ngadhep wonten Ngarsanipun Gusti Allah kangge nampi dhawuh nindakaken ibadah shalat gangsal wekdal. 

 

Ibadah shalat punika dados ibadah ingkang istimewa, jalaran shalat punika dipun dhawuhaken Allah dhumateng Nabi Muhammad SAW kanthi langsung. Nabi Muhammad ngadhep wonten Ngarso Dalem Allah. Benten kalian dhawuh-dhawuh sanesipun ingkang boten kanthi ngadep wonten Ngarsa Dalem Allah. Mungguhipun tiyang Islam, shalat punika dados kuwajiban, ing pundi papan panggenan lan ing kawontenan punapa kemawon. Shalat gangsal wekdal banget pentingipun, jalaran shalat punika dados pokokipun ibadah, menawi tiyang Islam sampun nindakaken shalat kanthi saestu, mila badhe dipun paringi margi ingkang sae dening Allah. Semanten ugi shalat punika dados pondasi, shalat ingkang sampun sae badhe mujudaken pribadi nipun tiyang Islam ingkang tansah taat mituhu dhateng dhawuhipun Gusti Allah, sahingga badhe katebihaken saking sedaya tumindak ingkang boten sae, Allah SAW sampun ngendika: 

 

“Wacananen apa kang wis kawahyokake slira-Mu (Muhammad), yaiku Al Kitab (Alquran), lan jumenengake shalat. Sak temene shalat iku bisa nyegah saka (panggawe-panggawe) ala lan (lelakon) kang disengiti. Lan satemene ngelingi Allah (shalat) iku luwih agung (kautamane ketimbang ibadah-ibadah liyane). Lan Allah iku ngudaneni apa kang sira kabeh pada ngelakoni”. (QS. Al Ankabuut: 45) 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah 

Kejawi shalat punika migunani kagem gesangipun manusia wonten ing alam donya, shalat punika dados dasaripun sedaya amal ibadah, menawi shalatipun sae insya-Allah ibadah sanesipun badhe dados sae. Mekaten punika tentunipun shalat ingkang dipun tindakaken kanthi saestu utawi shalat ingkang sampun khusuk. Nalika nindakaken shalat saestu nembe ngadhep wonten Ngarsa Dalem Allah, sedaya pedamelan dipun tinggalaken, raga lan jiwanipun saestu nembe ngadhep dhateng Allah. Penggalihipun dipun selehaken, sedaya perkawis dipun tujukaken dhateng Allah. Ampun ngantos wekdal nindakaken shalat ingkang namung sekedhap namung kagem guguraken kuwajiban mawon, nanging kedah dipun niati lan dipun tindakaken kanthi saestu. 

 

Kathah tiyang ingkang nindakaken shalat namung penggalihipun boten shalat, kathah ugi ingkang nindakaken shalat namung pados wekdal sela ing sak lebetipun ningali sinetron lan sak terasipun, nenggo nalika nembe iklan. Kanthi mekaten yektos boten wonten bentenipun antawis sak saderingupun shalat kalian sak sampunipun shalat. Kanthi mekaten wekdal ingkang namung sekedhap kagem indakaken shalat punika dipun ginakaken kanthi saestu supados ngasilaken shalat ingkang khusuk. Amargi shalat ingkang khusuk saged bentuk pribadinipun tiyang ingkang iman dan taqwa dhumateng Gusti Allah, wonten ing pundi papan panggenan rumaos tansah dipun awasi dening Allah, sinaosa boten saget mirsani Gusti Allah, nanging tansah yakin bilih Allah tansah pirsa dhateng sedaya tindak lampahipun. 

 

Semanten ugi shalat ingkang khusuk punika saged kagem lantaran nyuwun dhumateng Gusti Allah. Amargi sak jatosipun wekdal shalat punika wekdal kagem ngadhep wonten Ngarsa Dalem Allah, tundhuk, patuh, pasrah lan semeleh wonten Ngarsa Dalem Allah. Lahiripun ngadhep kanthi nindakaken kaifiyah shalat lan batosipun saestu nembe manunggal ngadhep wonten Ngarsa Dalem Allah. Kathah tiyang ingkang nindakaken shalat namung dereng khusuk, mila khusuk punika kedah dipun usahakaken. 

 

Sepindhah kedah dipun lurusaken niatipun, niat shalat namung kagem nindakaken dhawuhipun Allah lan pados ridhanipun Allah. 

 

Kaping kalih dipun sempurnakaken wudhunipun, wudhu punika minangka dados syarat syahipun nindakaken shalat, wudhu kagem ngicalalen hadats ingkang alit. Mila kaifiyah shalat dipun tindakaken kanthi saestu, kados pundi caranipun kemu, cuci wajah, nyuci asta, ngusap ritma, nyuci telingan lan nyuci samparan kedah netepi tata caranipun wudhu. 

 

Kaping tiga dipun kathah-kathahakan anggenipun tindakan shalat sunnah, ampun ngantos tiyang Islam bahil anggenipun ngibadah. Allah paring kuwajiban shalat gangsal wekdal, sahingga namung shalat gangsal wekdal mawon ingkang dipun tindakaken. Nanging kedahipun shalat sunnah ugi dipun tindakaken. Sahingga kanthi ngulinakaken nindakaken shalat sunnah, mila shalat fardhunipun badhe dados ringan. 

 

Kaping sekawan dipun kathah-kathahekn nindakaken dzikir. Dzikir tegesipun enget dhateng Allah. Dzikir punika boten sak ikhlasipun, nanging dzikir ingkang kathah badhe mujudaken pribadi ingkang ikhlas. Allah SWT sampun ngendika: 

 

“He wong wong kang padha iman, pada dzikira sira kabeh (kanthi nyebut asma) Allah, kelawan dzikir kang se-akeh-akehe. Lan padha macaha tasbih sira kabeh marang Panjenengane ana ing mangsa isuk lan sore”. (QS. Al Ahzab: 41-42) Kanthi punika menawi kita tansah emut dhateng Allah, mila Allah badhe gampilaken panuwunipun kawulane Allah: 

 

“Lamun kawula-kawula Ingsun pada takon marang Sira (Muhammad) babakan Ingsun, mangka dhawuha yen satuhune Ingsun iku parek. Ingsun nyembadani panyuwune wong-wong kang donga marang Ingsun, sangka iku, dheweke supaya nyembadani (sekabehe perintah) Ingsun lan dheweke supaya pada iman marang Ingsun, supaya padha oleh pituduh”. (QS. Al Baqarah: 186) 

 

Kaping gangsal shalat dipun tindakaken kanthi berjamaah, amargi shalat berjamaah punika ganjaranipun badhe dipun tikelaken dening Allah ngantos pitulikur derajat. Fadhilah lan kautamanipun saking shalat berjamaah punika saget nambahi ganjaran ingkang badhe dipun paringaken Allah. Kanthi ganjaran punika badhe nambah bobotipun amal ibadah, bobotipun amal kesahenan wonten Ngarsa Dalem Allah. Sehingga menawi tiyang Islam punika sampun kathah ganjaranipun, sampun kata ibadahipun. Yektos badhe dipun gampilaken urusanipun dening Allah. Rasulullah SAW ngendika:

 

 أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً 

 Aku manut marang panyanane kawula Ingsun, lan Ingsun nyertani lamun dheweke eling marang Ingsun. Lamun dheweke eling marang Ingsun, mangka Ingsun bakal eling marang dheweke. Lan lamun dheweke eling marang Ingsun sak jroning wong akih, mangka aku bakal eling marang dheweke ing sajroning wong akih kang luwih bagus tinimbang dheweke. Lamun dheweke mareki Ingsun sak kilan mangka Aku bakal mareki dheweke sak lengen, lan lamun kawula Ingsun mareki Ingsun sak lengen Ingsun bakal mareki dheweke sak dhepa. Lan lamun dheweke mareki Ingsun karo mlaku, mangka Ingsun bakal mareki dheweke kelawan mlayu”. (HR. Buchari) 

 

Nindakaken shalat punika minangka wujud kita mareke Gusti Allah, mugi-mugi ibadah shalat ingkang tansah dipun sempurnakaken punika badhe dadosaken kita tansah rumaos caket dhateng Allah. Sahingga Allah tansah paring kasembadan dhateng sedaya panuwun kita, amin.

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

10/30/2020

Rahmate Allah Kanggo Sak Kabehane Alam, Khutbah Maulid Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW lahir ing tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah, nabi Muhammad lahir ing zaman jahiliyah. Zaman nalika para manungsa sampun dodosaken makhlukipun Allah dados sesembahan, semanten ugi pedamelan keji lan mungkar sampun dados pakulinan.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَتِ وَالنُّوْرِ, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِءُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاءُالْحُسْنَى, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ: اَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنُ رَحِمَكُمُ اللهُ, اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ رَبُّكُمْ فِى الْقُرْانِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum'ah Rahimakumullah Pertama lan ingkang paling utami khatib tansah wasiat khususipun dhateng pribadi piyambak lan sumrambah dhumateng para jemaah sekalian, mangga kita sami ningkataken iman lan taqwa dhateng Allah, inggih punika kanthi nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan nebihi sarta nilar sedaya awisanipun Allah, kanthi pangajab mugi-mugi kalebet golonganipun tiyang muttaqin, amin ya Rabbal ‘alamin. 

 

Boten supe mangga kita nuladhani punapa ingkang sampun dipun ngendikakaken lan dipun tindakaken dening nabi Muhammad, shalawat lan salam mugi tansah linuberaken dhateng nabi Muhammad SAW. Kaum muslimin jemaah shalat Jum'ah Rahimakumullah Ing dinten punika kita sampun mlebet ing wulan Rabiul Awal utawi wulan Maulud. Ing wulan punika kita dipun engetaken malih kaliyan wiyosanipun kanjeng nabi Agung Muhammad SAW ingkang dipun utus dening Gusti Allah kangge paring rahmat dhateng sedaya alam:

“Ingsun ora ngutus marang sira (Muhammad) kejaba dadi rahmat tumrap sekabehane wong ngalam kabeh”. (QS. Al Anbiya’: 107) 

 

Rahmatipun Allah punika kagem sedaya alam, arupi raos aman, tenang, raos welas asih, lan sanesipun. Rahmatipun Allah linuber dhateng sedaya manungsa, leres ingkang iman utawi kafir, malah kagem bangsa kewan lan wit-witan. Mekaten punika amargi wonten ing dalem Alquran sampun dipun sebataken tugasipun manungsa minangka ‘abdullah lan khalifatul ard, semanten ugi marginipun ugi sampun dipun terangaken wonten Alquran. Sak terasipun bilih kautusipun nabi Muhammad minangka paring kabar lan pepenget dhateng sadaya manungsa:

“Lan Ingsun ora ngutus seliramu (Muhammad) kejaba marang sekabehe umat manungsa, minangka (utusan) kang gawa kabar bebungah, kang aweh pepenget, ananging akeh-akehe manungsa ora padha mangerti”. (QS. Saba’: 28) 

 

Kanthi ayat punika Allah nedahaken bilih kautusipun nabi Muhammad minangka paring kabar ingkang ngremenaken khususipin dhateng tiyang-tiyang ingkang tansah pitados lan ngamalaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan utusanipun. Tiyang punika badhe dipun paringi kamulyan lan kabegjan utaminipun benjang wonten ing dinten qiyamat, badhe dipun lebetaken wonten ing suwarga. Kosok wangsulipun Allah paring pepenget dhateng para manungsa ingkang nulayani lan nolak dhateng dhawuh-dhawuhipun Allah lan utusanipun. Tiyang ingkang bangkang, dhawuhipun Allah dipun tilar malah awisanipun dipun tindakaken. Tiyang punika badhe dipun ganjar kanthi siksa ing salebetipun neraka, na’udhubillahi min zhalik. 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum'ah Rahimakumullah 

Mila supados manungga saget lumaku ing marginipun Allah, sahingga Allah ngutus nabi Muhammad SAW, saperlu kangge nyempurnakaken akhlaqipun para manungsa.

 

 إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ 

 

"Satuhune ingsun diutus supaya nyempunakake akhlaq kang becik” HR. Ahmad: 8595 

 

Nabi Muhammad lahir ing tannggal 12 Rabiul Awal tahun gajah, dipun utus dening Gusti Allah kangge nyempurnakaken akhlaqipun para manungsa. Amargi para manungsa ingkang sampun dipun paringi syariat agami sak derengipun nabi Muhammad, ananging syariat punika sampun dipun tilar, zaman punika dipun wastani zaman jahiliyah utawi zaman kebodohan. Ing zaman punika tiyang-tiyang boten sami manembah dhateng Gusti Allah. Mestinipun Allah ingkang dadosaken alam semesta dipun sembah ananging sami nyembah dhumateng brahala, damelanipun manungsa. 

 

Ing zaman jahiliyah, saderengipun nabi Muhammad lahir, menawi wonten bayi estri lahir langsung dipun pejahi kanthi cara dipun pendhem nalika bayi tasih gesang gesang. Masyarakat jahiliyah ugi dhemen mabuk-mabukan, main, remen memengsahan lan damel rusaking bumi. Sahingga Allah ngutus nabi Muhammad. Syariat nabi Muhammad sampun sampurna, mekaten punika kasebat ing dalem Alquran surat Al Maidah ayat 3:

“Ana ing dina iki Ingsun wis nyempurnakake agamaira kabeh, lan wis nyempurnakake nikmat Ingsun kanggo sira kabeh lan uga Ingsun wis ridha Islam minangka agama ira kabeh”. 

 

 Sampurnaning agama Islam, kangge nuntun dhateng manungsa ing margi ingkang leres supados saget slamet ing dunya dumugi akhirat samangke. Mila kejawi Alquran, kita ugi saget ngugemi sunnah-sunah rasul, leres saking ngendikanipun rasul lan tindak lampahipun.

 

 تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ 

 

 " Aku tinggalake kanggo sira, perkara loro kang ora dadekake sasar, selagine sira gegondhelan marang lorone yaiku Kitabullah lan Sunnah Rasul”. (HR. Malik)

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

10/23/2020

Usaha Wujudkan Anak Shalih, Identifikasi Kebutuhan -Khutbah Jum'at Bahasa Indonesia

 Setiap orang hidup tentu menginginkan mempunyai keturunan, sebagai aset dirinya untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Keturunan yang berupa anak shalih selalu menjadi idaman bagi setiap orang, sehingga setelah setelah membangun rumah tangga ingin segera mendapatkan momongan sehingga dalam doanya selalu meminta agar diberikan keturunan yang shalih dan shalihah. Sejak bayi dalam kandungan selalu diajari untuk mengenal Tuhannya dengan membiasakan berperilaku yang baik dan juga makan minum yang khalal dan thayyib. Demikian setelah lahir dijaga, dibimbing, didik, dilindungi agar menjadi generasi Qur'ani.



اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ تَعَالَى مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللهُ لَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْرٍ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَةً ضِعَافًا.اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ. وَأَحْيِنَا اَللّٰهُمَّ عَلَى سُنَّتِهِ وَأَمِتْنَا عَلَى مِلَّتِهِ. وَبَعْدُ

 

 Marilah kita bertakwa kepada Allah kapanpun dan di manapun kita berada. Yaitu, senantiasa mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah. Sebab, hanya dengan taqwa manusia memiliki derajat nilai di sisi Allah. Ketahuilah, sesungguhnya budi pekerti mulia merupakan buah taqwa dan sumber kebaikan ummat manusia. Anak adalah buah hati bagi kedua orang tuanya yang sangat disayangi dan dicintainya. Sewaktu bahtera rumah tangga pertama kali diarungi, maka pikiran pertama yang terlintas dalam benak suami istri adalah berapa jumlah anaknya kelak akan mereka miliki, serta kearah mana anak tersebut akan dibawa. 

 

Namun yang menjadi masalah adalah kemana anak akan kita arahkan setelah mereka terlahir. Umumnya orang tua menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi anak yang shalih, agar setelah dewasa mereka dapat membalas jasa kedua orang tuanya. Namun obsesi orang tua kadang tidak sejalan dengan usaha yang dilakukannya. Padahal usaha merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan bagi terbentuknya watak dan karakter anak. Obsesi tanpa usaha adalah hayalan semu yang tak akan mungkin dapat menjadi kenyataan. 

 

Bahkan sebagian orang tua akibat pandangan yang keliru menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi bintang film (artis), bintang iklan, fotomodel dan lain-lain. Mereka beranggapan dengan itu semua kelak anak-anak mereka dapat hidup makmur seperti kaum selebritis yang terkenal itu. Padahal dibalik itu semua mereka kering akan informasi tentang perihal kehidupan kaum selebritis yang mereka puja-puja. Hal ini terjadi akibat orang tua yang sering mengkonsumsi berbagai macam acara-acara hiburan diberbagai media cetak dan elektronik, karena itu opininya terbangun atas apa yang mereka lihat selama ini. Apakah kita menginginkan anak-anak kita menjadi orang yang jauh dari agamanya, yang kelihatannya bahagia di dunia namun menderita di akhirat? Tentu tidak. Allah Subhannahu wa ta'ala berfirman:

“ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. Annisa: 9). 

 

Pengertian lemah dalam ayat ini adalah lemah iman, lemah fisik, lemah intelektual dan lemah ekonomi. Oleh karena itu selaku orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, maka mereka harus memperhatikan keempat hal ini. Pengabaian salah satu dari empat hal ini adalah ketimpangan yang dapat menyebabkan ketidak seimbangan pada anak. Imam Ibnu Katsir dalam mengomentari pengertian lemah pada ayat ini memfokuskan pada masalah ekonomi. Beliau mengatakan selaku orang tua hendaknya tidak meninggalkan keadaan anak-anak mereka dalam keadaan miskin. Dan terbukti berapa banyak kaum muslimin yang rela meninggalkan aqidahnya (murtad) di era ini akibat keadaan ekonomi mereka yang dibawah garis kemiskinan. 

 

Banyak orang tua yang mementingkan perkembangan anak dari segi intelektual, fisik dan ekonomi semata dan mengabaikan perkembangan iman. Orang tua terkadang berani melakukan hal apapun, yang penting kebutuhan pendidikan anak-anaknya dapat terpenuhi, sementara untuk memasukkan anak-anak mereka pada TK-TPQ terasa begitu enggan. Padahal aspek iman merupakan kebutuhan pokok yang bersifat mendasar bagi anak. 

 

Ada juga orang tua yang menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan bagi anak-anak mereka dari keempat masalah pokok di atas, namun usaha yang dilakukannya kearah tersebut sangat diskriminatif dan tidak seimbang. Sebagai contoh: Ada orang tua yang dalam usaha mencerdaskan anaknya dari segi intelektual telah melaksanakan usahanya yang cukup maksimal, segala sarana dan prasarana kearah tercapainya tujuan tersebut dipenuhinya dengan sungguh-sungguh namun dalam usahanya memenuhi kebutuhan anak dari hal keimanan, orang tua terlihat setengah hati, padahal mereka telah memperhatikan anaknya secara bersungguh-sungguh dalam segi pemenuhan otaknya. 

 

Jemaah Jum’at Rahimakumullah. 

Karena itu sebagian orang tua yang bijaksana, mesti mampu memperhatikan langkah-langkah yang harus di tempuh dalam merealisasikan obsesinya dalam melahirkan anak yang shalih. Di bawah ini akan kami ketengahkan beberapa langkah yang cukup representatif dan membantu mewujudkan obsesi tersebut: 

 

1. Opini atau persepsi orang tua atau anak yang shalih tersebut harus benar-benar sesuai dengan kehendak Islam berdasarkan Alqur’an dan sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam, bersabda:

 

 إِذَا مَاتَ بْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

 

“Jika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: sadaqah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim) 

 

Dalam hadits ini sangat jelas disebutkan ciri anak yang shalih adalah anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Sementara kita telah mengetahui, bahwa anak yang senang mendoakan orang tuanya adalah anak sedari kecil telah terbiasa terdidik dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan, melaksanakan perintah-perintah Allah Subhannahu wa ta'ala , dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Anak yang shalih adalah anak yang tumbuh dalam naungan dien-Nya, maka mustahil ada anak dapat bisa mendoakan orang tuanya jika anak tersebut jauh dari perintah-perintah Allah SWT dan senang bermaksiat kepada-Nya. Anak yang senang bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala, jelas akan jauh dari perintah Allah dan kemungkinan besar senang pula bermaksiat kepada kedua orang tuanya sekaligus. 

 

Dalam hadits ini dijelaskan tentang keuntungan memiliki anak yang shalih yaitu, amalan-amalan mereka senantiasa berkorelasi dengan kedua orang tuanya walaupun sang orang tua telah wafat. Jika sang anak melakukan kebaikan atau mendoakan orang tuanya maka amal dari kebaikannya juga merupakan amal orang tuanya dan doanya akan segera terkabul oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala . Jadi jelaslah bagi kita akan gambaran anak yang shalih yaitu anak yang taat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala , menjauhi larangan-larangan-Nya, selalu mendoakan orang tuanya dan selalu melaksanakan kebaikan-kebaikan. 

 

2. Menciptakan lingkungan yang kondusif ke arah tercipta-nya anak yang shalih. 

Lingkungan merupakan tempat di mana manusia melaksana-kan aktifitas-aktifitasnya. Secara mikro lingkungan dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu: 

a. Lingkungan keluarga. 

Keluarga merupakan sebuah institusi kecil dimana anak mengawali masa-masa pertumbuhannya. Keluarga juga merupakan madrasah bagi sang anak. Pendidikan yang didapatkan merupakan pondasi baginya dalam pembangunan watak, kepribadian dan karakternya. Jika anak dalam keluarga senantiasa terdidik dalam warna ke-Islaman, maka kepribadiannya akan terbentuk dengan warna ke-Islaman tersebut. Namun sebaliknya jika anak tumbuh dalam suasana yang jauh dari nilai-nilai ke-Islaman, maka jelas kelak dia akan tumbuh menjadi anak yang tidak bermoral. Seorang anak yang terlahir dalam keadaan fitrah, kemudian orang tuanyalah yang mewarnainya, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

 

 كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ. (رواه البخاري)

 

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan yang fitrah (Islam), maka orang tuanya yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari) 

 

 Untuk itu orang tua harus dapat memanfaatkan saat-saat awal dimana anak kita mengalami pertumbuhannya dengan cara menanamkan dalam jiwa anak kita kecintaan terhadap diennya, cinta terhadap ajaran Allah Subhannahu wa ta'ala dan rasul-Nya Shallallaahu alaihi wa salam, sehingga ketika anak tersebut berhadapan dengan lingkungan lain anak tersebut memiliki daya resistensi yang dapat menangkal setiap saat pengaruh negatif yang akan merusak dirinya. Agar dapat memudahkan jalan bagi pembentukan kepribadian bagi anak yang shalih, maka keteladanan orang tua merupakan faktor yang sangat menentukan. 

 

Oleh karena itu, selaku orang tua yang bijaksana dalam berinteraksi dengan anak pasti memperlihatkan sikap yang baik, yaitu sikap yang sesuai dengan kepribadian yang shalih sehingga anak dapat dengan mudah meniru dan mempraktekkan sifat-sifat orang tuanya 

 

b. Lingkungan Sekolah. Sekolah merupakan lingkungan di mana anak-anak berkumpul bersama teman-temannya yang sebaya dengannya. Belajar, bermain dan bercanda adalah kegiatan rutin mereka di sekolah. Sekolah juga merupakan sarana yang cukup efektif dalam membentuk watak dan karakter anak. Di sekolah anak-anak akan saling mempengaruhi sesuai dengan watak dan karakter yang diperolehnya dalam keluarga mereka masing-masing. 

 

Anak yang terdidik secara baik di rumah tentu akan memberi pengaruh yang positif terhadap teman-temanya. Sebaliknya anak yang di rumahnya kurang mendapat pendidikan yang baik tentu akan memberi pengaruh yang negatif menurut karakter dan watak sang anak. Oleh sebab itu orang tua seharusnya mampu melihat secara cermat dan jeli sekolah yang pantas bagi anak-anak mereka. Orang tua tidak harus memasukkan anak mereka di sekolah-sekolah favorit semata dalam hal intelektual dan mengabaikan faktor perkembangan akhlaq bagi sang anak, karena sekolah tersebut akan memberi warna baru bagi setiap anak didiknya. Keseimbangan pelajaran yang diperoleh murid di sekolah akan lebih mampu menyeimbangkan keadaan mental dan intelektualnya. 

 

Karena itu sekolah yang memiliki keseimbangan kurikulum antara pelajaran umum dan agama akan lebih mampu memberi jaminan bagi seorang anak didik. 

 

c. Lingkungan Masyarakat. 

Masyarakat adalah komunitas yang terbesar dibandingkan dengan lingkungan yang kita sebutkan sebelumnya. Karena itu pengaruh yang ditimbulkannya dalam merubah watak dan karakter anak jauh lebih besar. Masyarakat yang mayoritas anggotanya hidup dalam kemaksiatan akan sangat mempengaruhi perubahan watak anak kearah yang negatif. Dalam masyarakat seperti ini akan tumbuh berbagai masalah yang merusak ketenangan, kedamaian, dan ketentraman. Anak yang telah di didik secara baik oleh orang tuanya untuk selalu taat dan patuh pada perintah Allah Subhannahu wa Ta'ala dan RasulNya, dapat saja tercemari oleh limbah kemaksiatan yang merajalela disekitarnya. 

 

Oleh karena itu untuk dapat mempertahankan kwalitas yang telah terdidik secara baik dalam institusi keluarga dan sekolah, maka kita perlu bersama-sama menciptakan lingkungan masyarakat yang baik, yang kondusif bagi anak. Jika setiap orang merasa tidak memiliki tanggung jawab dalam hal beramar ma’ruf nahi munkar, maka segala kemunkaran bermunculan dan merajalela di tengah masyarakat kita dan lambat atau cepat pasti akan menimpa putra dan putri kita. Padahal kedudukan kita sebagai umat yang terbaik yang dapat memberikan ketentraman bagi masyarakat kita hanya dapat tercapai jika setiap individu muslim secara konsisten menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, karena Allah Subhannahu wa ta'ala berfirman:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah...” (QS. Ali Imran: 110). 

 

 Untuk itu di akhir khutbah ini marilah kita bersama-sama merasa peduli terhadap kelangsungan hidup generasi kita, semoga dengan kepedulian kita itulah Allah Subhannahu wa Ta'ala akan senantiasa menurunkan pertolonganNya kepada kita dan memenangkan Islam di atas agama-agama lainnya. Marilah kita berdo’a kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala .

 

 رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ.

10/13/2020

Sabar Ngadhepi Pandemi Virus Corona Kanthi Nindakaken Protokol Keagamaan lan Kesehatan, Khutbah Bahasa Jawa

Usaha, ikhtiyar lan tawakal ngadhepi lan nanggulangi nyebaripun virus corona, ampun nglokro nanging kedah yakin. Bilih balak, musibah lan bencana badhe sirna. Kanthi punika kedah nindakaken protokol keagamaan lan protokol kesehatan. Mugi slamat, sehat lan bagas waras.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَتِ وَالنُّوْرِ ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِءُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاءُالْحُسْنَى, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ,اَلْمَبْعُوْثُ بِالْحَقِّ وَالْوَفَى. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ: اَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنُ رَحِمَكُمُ اللهُ, اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ رَبُّكُمْ فِى الْقُرْانِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوا اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُوااللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Sedaya puji namung kagunganipun Allah, Gusti ingkang tansah nyempurnakaken nikmatipun kagem kita sedaya, nikmatipun kaluberaken boten enten watesipun, rahmanipun lan barakahipun wiyar kanthi boten winates. Shalawat lan salam mugi kanjuk dhateng uswah hasanah, junjungan kita nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat lan sedaya tiyang ingkang tansah dherekaken lan nggesangaken sunnahipun. 

 

Mangga anugerah Allah ingkang sampun dipun paringaken dhateng kita, arupi, iman lan Islam ingkang tansah tinancep ing manah, tansah kita tingkataken supados dados taqwa sak leresipun, kanthi nindakaken nindakaken dhawuhipun Allah lan rasulipun selaras kalian usaha ingkang maksimal nalika ninggalaken sedaya ingkang dipun awisi Allah lan rasul. Mekaten punika ingkang dipun wastani taqwa ingkang sak leresipun, selaras kalian janjinipun. Kanthi panuwun mugi-mugi kita kalebet golonganipun tiyang ingkang badhe dipun paringi kamulyan wonten ngarsanipun Allah SWT.

“Satuhune wong kang paling mulya ing antarane sira ana ngarsane Allah yaiku wong kang paling taqwa. Satuhune Allah Maha Pirsa lan Maha Waspada”. (QS. Al Hujurat: 13) 

 

Kaum muslimin Jemaah Jum’ah Rahimakumullah 

Menawi kita gatosaken, bilih dumugi wekdal sapunika virus corona/ Covid-19 dereng sirna saking bumi, kanthi punika kita ampun ngentengaken utawi nyepelekaken wontenipan pandemi. Namung kita kedah yakin bilih musibah punika mesthi wonten akhiripun, kanthi rahmatipun Allah dhateng kita sedaya. 

 

Kanthi punika kangge ngadhepi pandemi punika kita nindakaken protokol keagamaan lan protokol kesehatan. Nindakaken protokol keagamaan kita mraktekaken kandungan surat Al Ashr, ingkang ngandung sekawan perkawis ingkang kedah kita tindakaken. 

 

Sepindhah kita kiyataken iman dhumateng Allah, Tauhidullah, lan ugi dipun tebihi sedaya bentuk kemaksiatan. Perlu kita mangertosi bilih, musibah lan bencana boten badhe tumurun wonten ing bumi, kejawi nalika saperangan penduduk bumi sampun nindakaken kedhaliman kaleres dhateng Allah lan ugi dhateng pribadinipun piyambak. Allah sampun paring pimut wonten Alquran:

“lan ora tau (uga) Ingsun nyirnakake kota-kota, kejaba penduduke padha nglakoni tumindak aniyaya” (QS. Al Qhashas: 59) 

 

Dados nalika Gusti Allah nurunaken balak lan musibah, amargi penduduk bumi sampun nindakaken pedamelan aniyaya. 

 

Kaping kalih, wa’amilus shalihah, mangga kita tebaraken amal shalih punapa kemawon, shalat gangsal wekdal mangga dipun tingkataken kualitasipun lan tepatipun, syukur kanthi nindakaken shalat-shalat sunnah ingkang dipun tuntunaken dening Rasulullah SAW. Puasa sunnahipun mangga dipun tindakaken. Punapa malih shadaqahipun, amargi salah setunggal saking shadaqah saged nutup murkanipun Allah dhateng makhluqipun lan saget ngangkat bencana ing bumi. Mila wonten surat Munafiqun benjang ing dinten akhir, wonten tiyang ingkang pingin dipun konduraken ing dunya saperlu kangge nindakaken shadaqah.

"Duh Gusti, kenging punapa Panjenengan boten batalaken (pejah) kula dumugi wekdal ingkang caket, kang nyebabaken kula saget shadaqah lan kawula kelebet tiyang-tiyang ingkang shalih?" (QS. Munafiqun: 10) 

 

Lan ugi, mangga kita tingkataken akhlaq pribadi, keluarga lan akhlak sosial, kanthi nindakaken kesaenan lan nindakaken amal saleh, ampun supe wonten ing amliyah kanthi leres, nalika nindakaken dol-tinuku ampun ngantos wonten tumindak goroh lan palsu. Mugi-mugi kanthi mekaten Allah badhe paring pangapunten dhumateng kita. 

 

Kaping tiga, dipun kulinakaken paring wasiat ingkang haq “watawashaubil haq”, leres lan sae tindakan napa malih wonten hal-hal ingkang penting. Kita dipun dhawuhi tansah tumindah leres lan jujur dan bergaul kalian tiyang- tiyang ingkang leres lan jujur. Allah SWT paring dhawuh wonten Alquran surat Attaubah ayat 119.

“Hai wong-wong kang padha iman, taqwaha maring Allah, lan becike sira bareng-bareng karo wong kang bener”. (QS. Attaubah: 119) 

 

Kaping sekawan kita budayakaken kesabaran,” (watawa shaubis-shabri), sabar nalika nampi musibah lan bencana, kelebat pagebluk/ virus corona. Mila ampun nglokro, kita kedah yakin kanthi usaha lan ikhtiyar midherek dhawuhipun Allah kita badhe dipun tebihakaen saking balak, musibah lan bencana. Allah sampun dhawuh wonten Alquran:

“Hai wong-wong kang padha iman sabara sira lan kuwatna kesabaran-ira lan tetep waspada (ing watesing negara) lan taqwaha marang Allah, supaya sira beja”. (QS. Ali Imran: 200) 

 

Usaha lan ikhtiyar kita tindakaken, protokol keagamaan lan protokol kesehatan. Nindakaken protokol kesehatan kanthi tansah ngagem masker, ngulinakaken nyuci astanipun, jagi jarak lan ampun kempal-kempal ingkang boten wonten manfaatipun. Nutup kemadharatan kangge merkoleh kemaslahatan ingkang langkung ageng. Rasulullah SAW ngemutaken dhateng kita:

 الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ 

“Wong mukmin kang kuat lwih becik timimbang wong mukmin kang loyo, kang ing loro-lorone tetep ana apike”. (HR. Muslim) 

 

Mugi-mugi Allah ngijabahi panuwun kita, sahingga balak, musibah lan bencana arupi virus corona unika enggal sirna. Amin, amin ya Robbal ‘alamin.

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ