8/15/2022

Doa Upacara Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-77 Tahun 2022

Kemerdekaan adalah anugerah Allah, kemerdekaan diperoleh dengan perjuangan panjang. Perang melawan para penjajah dan kadang juga bermusuhan dengan bangsanya sendiri. Dominasi kepentingan pribadi dan golongan sehingga mengorbankan kepentingan nasional. Bahkan kadang agama hanya sebagai legalitas formal untuk mencapai tujuan. Agama belum menjadi media perekat bangsa, agama belum menjadi way of life. Karena itu kemerdekaan menjadi perjuangan yang Panjang. 

 

Kini Indonesia telah merdeka, maka kewajiban anak bangsa adalah untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan. Membangun bidang fisik dan mental spiritual, keduanya harus seimbang, tidak bisa hanya salah satu bidang saja sehingga melalaikan bidang yang lain. Ingat, bahwa manusia adalah makhluk ber-Tuhan, karena itu dalam setiap upaya tidak bisa lepas dari Tuhan. Manusia juga makhluk pribadi sehingga selalu berupaya untuk menjadi insan yang bermanfaat. Manusia juga makhluk sosial sehingga harus selalu menjaga kebersamaan, kerukunan, persaudaraan saling menolong, membantu dan saling menghormati.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًايُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ, اللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍوَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. 

 

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. 

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat-Mu, atas limpahan nikmat dan karunia-Mu sehingga pada hari ini kami dapat mengikuti kegiatan upacara bendera Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-77, dalam suasana yang aman, damai dan sejahtera. Engkaulah pencipta dan pengatur alam semesta, karena itu sembah sujud kami panjatkan kehadirat-Mu. 

 

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Jadikanlah peringatan hari ulang tahun kemerdekaan negara Republik Indonesia ini menjadi media untuk mengenang semangat dan perjuangan para pahlawan Kusuma bangsa, mereka dengan ikhlas mengorbankan jiwa dan raga untuk meraih kemerdekaan. Bangkitkan semangat nasionalisme bangsa kami, agar negara kami tetap teguh sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bangkitkan semangat patriotisme agar bangsa kami bisa berbakti dan berkontribusi bagi negeri pertiwi. Jauhkan segala bentuk percekcokan, permusuhan yang dapat meluluhkan semangat persatuan dan kesatuan serta persaudaraan. 

 

Ya Allah, ya Aziz. 

Satukankanlah bangsa kami dalam perbedaan, kuatkanlah semangat Bhineka Tunggal Ika. Karena kami satu bangsa, satu bahasa, berbeda dalam keyakinan, adat dan budaya. Namun kami tetap Indonesia, kami cinta Indonesia dan kami bangga menjadi bagian dari rakyat Indonesia. 

 

Ya Allah, ya haady, bimbinglah kami, terangilah hati dan fikiran kami dengan nur hidayah-Mu agar kami dapat menjadi pribadi yang ikhlas beramal. Jadikanlah kami, sebagai aparatur negara yang bisa bekerja dengan jiwa integritas, professional, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan. Jadikanlah kami rakyat Indonesia yang selalu menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa, suka membangun, selalu berkarya dan berinovasi untuk kemajuan bangsa dan negara kami. 

 

Ya Allah ya ghoffar, ampunilah dosa kami, orang tua kami, para pemimpin kami, kabulkanlah permohonan kami, amin.

 

 رَبَّناَ تَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيناَ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الا خرة حسنة وقنا عذاب النار, والحمد لله رب العالمين.

8/09/2022

Meninggalkan Tugas dan Kewajiban, Hidup Akan Semakin Susah

Setiap setiap orang hidup pasti mempunyai permasalahan yang berbeda-beda antara satu orang dengan orang yang lain. Besar kecilnya problema hidup antara satu orang dengan orang yang lain berbeda, demikian pula cara untuk menghadapi masalahnya antara satu orang dengan orang yang lain itu juga berbeda. Ternyata tingkat pengetahuan, kesadaran spiritual, pengamalan ajaran Islam, setiap orang mempunyai cara yang berbeda-beda. Karena itu berkaitan berkaitan dengan problema kehidupan, bagaimanakah sikap kita yang seharusnya?

Perlu disadari bahwa problema kehidupan adalah merupakan Sunnatullah. Selagi bumi masih berputar, manusia masih diberikan nafas, maka permasalahan hidup pasti akan selalu datang silih berganti. Permasalahan itu bersumber dari diri sendiri, permasalahan dengan orang lain, permasalahan dengan pasangan, permasalahan dengan keluarga. Problematika keuangan, sosial, ekonomi, politik budaya dan lain sebagainya. Semua ini merupakan permasalahan-permasalahan hidup manusia. Sesunguhnya kedewasaan seseorang bukan dilihat dari berapa banyak usianya, sejauh mana tingkat pendidikannya, keturunan siapa, tetapi kedewasaan seseorang adalah yang mampu menghadapi dan mampu menyelesaikan permasalahan. 

 

Masalah harus dihadapi, bukan ditinggalkan, karena itu ketika orang tertimpa suatu masalah, kemudian lari dari tugas, kewajiban dan tanggung jawab. Dapatkah menjadi solusi? Sejauh manakah dia akan mempunyai tujuan hidup akan bisa dicapai, tentunya hal ini akan semakin membuat runyam kehidupannya. 

 

Tugas tugas dan kewajiban. 

 

Manusia adalah merupakan makhluk yang mempunyai dua dimensi, sebagai makhluk Tuhan dan sebagai khalifatullah. Manusia sebagai makhluk Tuhan diberikan tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah. Maka ketika hamba Allah di dalam hidupnya selalu taat kepada perintah Allah dan menjauhi larangan Allah maka orang ini akan diberikan hati yang jernih, pikiran yang terang, sehingga perbuatan akan selaras dengan Sunnatullah. Karena itu, hendaknya ketika mendapatkan masalah, dia tetap berpegang teguh pada perintah Allah, maka dia akan diberikan kecerahan pemikiran, akan diberikan jalan keluar atas permasalahan hidup yang dihadapi. 

 

Idealnya, setiap orang yang sedang menghadapi masalah tetaplah berpikir secara integral. Namun biasanya orang akan kehilangan akal dan nuraninya, sehingga yang mendominasi pada dirinya adalah hawa nafsu. Dengan demikian maka rasa takut, malu, khawatir akan menjadi hilang. Sehingga akal dan Nurani berani meninggalkan kewajiban, tugas dan tanggung jawabnya sebagai makhluk pribadi, sosial dan makhluk Tuhan, maka di sinilah akan terjadi pemutusan wasilah ketika bermunajat kepada Allah. Permasalahan bukan akan semakin kelar tetapi justru permasalahan akan semakin rumit. 

 

Salah satu contoh keluarga yang telah membangun suatu rumah tangga, suatu saat dia sebagai keluarga muda hidup masih serba pas-pasan, hidup masih menggantungkan kepada kedua orang tuanya untuk mencukupi keperluan hidupnya. Bahkan ketika sudah mempunyai anak dia belum mempunyai suatu pekerjaan yang mapan dan penghasilan yang memadai untuk keperluan keluarganya. Namun pasangan ini tetap optimis, bahwa suatu saat dia akan mendapatkan suatu anugerah, akan memperoleh kemudahan untuk memperoleh anugerah Allah. Karena itu pasangan suami istri saling bahu-membahu untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Baik itu dengan cara mencari informasi kepada teman-temannya atau dia juga menjalin relasi dengan sahabat-sahabatnya dan juga tak lupa senantiasa bermunajat kepada Allah agar diberikan jalan yang terbaik untuk bisa memperoleh kesejahteraan hidup. 

 

Ternyata dari usaha pasangan muda ini Allah memberikan jalan, memberikan anugerah berupa suatu pekerjaan yang layak, pekerjaan yang dapat memberikan kebahagiaan bagi keluarganya. Pekerjaan yang layak dan mempunyai penghasilan yang cukup untuk kebutuhan keluarga. Akan tetapi dengan kondisi yang demikian ini apakah kemudian cobaan itu akan berhenti? Ternyata tidak, salah satu pasangan tersebut semakin lama terpisah dengan istrinya karena pekerjaan, ternyata kemudian terlena, terlalu nyaman hidup tanpa beban untuk mengurus kepada anak-anaknya. Pulang untuk menjenguk isrei dan anak-anaknya hanya sesekali dalam satu bulan. Padahal istri dan anak-anaknya masih sangat merindukannya. Mengapa dia tidak merasa betah di rumah, berkumpul dengan keluarganya. Ternyata di sanalah ada suatu hal yang memancing dirinya tidak kuat imannya sehingga dia bergaul dengan teman-teman yang tidak sewajarnya, hadir wanita sebagai tambatan hati. Karena itu setiap kesuksesan pasti akan diberikan ujian, baik ujian berupa pangkat, jabatan dan wanita. 

 

Ujian hidup manusia ketika sedang berjaya dalam bidang karir dan pekerjaannya tidak kuat untuk mendapatkan rezeki tersebut sehingga rezekinya diselewengkan untuk hal-hal yang jauh dari tuntunan syariat. Dengan demikian maka terjadilah suatu hal yang di luar dugaannya, suatu yang disembunyikan dengan rapi, tetapi lama-kelamaan ada anggota keluarga yang mengetahui, kecurigaan istri muncul, saudara-saudaranya akhirnya terbukalah aibnya. Ada pepatah yang mengatakan bahwa sepandai-pandai tupai meloncat suatu saat akan jatuh, ada lagi yang mengatakan, bahwa di manapun bangkai itu disimpan maka akan tercium pula baunya. Dua peribahasa tersebut terjadi pada pasangan tersebut, sehingga akhirnya kedua pasangan ini dalam kehidupan keluarganya terjadi disharmoni. 

 

Ketidakharmonisan antara suami dan istri, merambat kepada orang tuanya. Dalam pekerjaan dan karir orang tuan tentu akan menilai dari hasil yang dapat diperlihatkan, misalnya rumah, kendaraan, perhiasan dan lainnya. Tetapi yang terjadi pekerjaan dan karir yang ditekuninya juga belum bisa menampakan hasil yang memadai, sehingga dengan demikian dari pihak orang tua atau mertua akan timbul suatu kecurigaan. Ada apa dengan pekerjaan nya? 

 

Ketika terjadi ketidakharmonisan dalam keluarga, artinya permasalahan dalam keluarga muncul, satu masalah kemudian berturut-turut dengan masalah yang lain. Dengan demikian sang suami yang tadinya mempunyai perhatian kepada istri dan anaknya beralih dengan sikap seperti orang asing. Dia meninggalkan istri dan anak-anaknya, tidak pernah menengoknya apalagi sampai memberikan nafkah pada anak-anaknya. Hal yang demikian itu terjadi sampai beberapa saat, sehingga sampai terjadi anaknya tidak mengenal pada orang tuanya, ketika bertemu orang tuanya, ternyata anak-anaknya tidak menghiraukan, bahkan ketika mau diajak pada orang tuanya. Hal ini mnnjukkan semakin rapuhnya bangunan rumah tangga. 

 

Perbuatan suami meninggalkan istri dan anak-anaknya dan juga tidak memenuhi kebutuhan hidup bagi keluarganya, hal ini berarti telah meninggalkan tugas, kewajiban dan tanggung jawabnya. Padahal untuk memenuhi kebutuhan keluarga adalah merupakan perintah Allah dan Rasulullah Muhammad SAW. Maka sangat ironis ketika orang menegakkan salat tetapi meninggalkan kewajibannya, padahal di dalam shalat sudah ada suatu teladan bagaimana orang itu merasa ketergantungan kepada Allah, bahwa ketika ada masalah maka selesaikanlah dengan shalat. Tetapi setelah melaksanakan shalat ternyata masalah hidupnya juga belum bisa diatasinya. Demikian pula bahwa shalat belum bisa membentuk perilaku belum bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Shalat hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban sehingga tidak mempunyai nilai-nilai spiritual yang bisa menjadi perantara, bagaimana seseorang itu untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah? 

 

Harus bangkit dan berani 

 

Ketika orang terpuruk dalam kesedihan, penderitaan dan masalah, maka hendaknya harus segera bangkit dan berani untuk mendobraknya. Bukankah setiap permasalahan ada jalan keluarnya, bahkan Allah tidak membebani suatu hambanya kecuali menurut kesanggupannya. Pada dasarnya setiap ujian cobaan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya, sudah sesuai dengan takaran kemampuan hambanya, karena itu ketika Allah memberikan cobaan, maka Allah juga memberikan jalan keluar. Allah memberikan kesulitan, Allah juga memberikan jalannya untuk menyelesaikannya. Kunci utama untuk bangkit adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah. Sadarilah bahwa manusia melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah bukan hanya shalat semata. Tetapi ketika Allah memberikan sunnah kepada hamba-Nya maka dengan sunnah itulah maka Allah memberikan kewajiban. 

 

Nikah adalah merupakan Sunnatullah, dan ketika telah menjalin pernikahan maka disana akan muncul tugas, kewajiban dan tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan. Bagaimanakah tugas, kewajiban dan tanggung jawab seorang istri pada suami? Bagaimana kewajiban, tugas kewajiban dan tanggung jawab suami kepada istri dan anak-anaknya? Semuanya sudah diatur di dalam ketentuan syariat agama. Salah satu kewajiban istri adalah untuk menjaga harta suaminya, mengasuh dan membimbing pada anak-anaknya. Adapun tugas dari suami adalah untuk mencukupi kebutuhan hidup bagi keluarganya, istri dan anak-anaknya, memberikan cinta kasih, melindungi dan menjaganya. 

 

Selami, hayati dan laksanakan tugas, kewajiban dan tanggung jawabnya, maka segala permasalahan akan segera bisa diatasi. Karena bagaimana kita akan meminta kepada Allah agar diberikan jalan keluar atas permasalahan yang dihadapi, ketika kita melalaikan atau membangkang kewajiban yang telah ditetapkan Allah. Yakinlah dan teguhkan hati bahwa Allah akan mengabulkan doa-doa hambanya selagi hamba tersebut melaksanakan perintah-perintahnya dan menajuhi larangannya. Allah tidak tidur, dan Allah Maha Mendengar.