4/01/2014

Allah Mengetahui Segala Yang Lahir dan Batin



Alhamdulilah, dengan memuji asma Allah pada  hari ini marilah senantiasa memanjatkan rasa syukur kita kepada Allah, karena:
1. Masih diberikan kesehatan oleh Allah, ingatlah bahwa sakit itu mahal harganya sebaliknya sakit banyak duitnya.
2. Masih diberikan kesempatan, karena hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mengikuti kegiatan ini. Sudah digaji dan masih berpahala.
3. Masih diberikan kesempatan untuk menghabiskan sisa umur yang diberikan oleh Allah, karena umur adalah rahasia Allah.
4. Masih menyandang gelar sebagai manusia.

Yang terakhir inilah, gelar manusia adalah sebagai makhluk ciptaan Allah yang berdimensi materiil dan spirituil. Karena itu dimensi materiil hal-hal yang dapat ditangkap oleh panca indra, demikian pula perilaku lahir manusia dapat ditangkap oleh panca indra. Namun manusia dengan dimensi sprirituil yang tahu hanyalah dirinya sendiri. Andaikan pada suatu perusahaan, dimana sedang diselnggarakan meeting, akan segera diketahui siapa yang hadir dan siapa yang absen dengan melihat absensi yang telah disediakan. Demikian pula bila berada dalam komunitas ruang kelas di suatu sekolah akan dapat diketahui dengan absensinya, demikian pula di komunitas mahasiswa. Sebaliknya manusia dengan dimensi spirituil adalah berkaitan dengan nilai, apakah tujuannya mengikuti meeting atu mengikuti kegiatan belajar mengajar apakah tuntutan, kebiasaan atau keikhlasan.
Bila manusia hanya mengetahui sisi lahir, Allah SWT Maha Mengetahui dua sisi:


Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui". Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Imran: 29)

Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan mengetahui yang tersembunyi di dalam hati dan apa saja yang dilahirkan. Tidak seperti makhluknya yang lebih mengedepankan penampilan luar, sehingga kadangkala keputusan yang diambil mendatangkan kemadaratan. Karena yang dilihat seperti ini ternyata kok begitu dan sebagainya. Hal ini berbeda karena Allah mempunyai sifat mukholafatuhu lil hawadisi, bahwa Allah tidak sama dengan makhluknya.

Demikian pula memandang manusia dalam satu sisi, karena tidak ada yang melihat maka bisa semaunya. Ingatlah bahwa Allah mengetahui yang nampak dan yang dirahasiakan, bahkan seluruh amal perbuatan manusia tidak ada yang lepas dari pengamatan Allah.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Amal yang baik akan dilipatgandakan oleh Allah dan amal yang buruk akan dibalas dengan yang setimpal dengan perbuatannya. Kenapa bisa demikian, karena bila manusia, hanya mengandalkan amal salih yeng telah dilakukan niscaya belum setimpal dengan karunia Allah. Namun sayangnya kenikmatan Allah lebih sering dilupakan daripada disyukuri. Ingat arti pentingnya sehat justru ketika sedang sakit, menyadari pentingnya waktu ketika sedang menghadapi ujian, sedang ditungggu laporan (SPJ), dan seterusnya.
Karena itu Rasulullah SAW bersabda:

اِتَّÙ‚ِ اللهَ Ø­َÙŠْØ«ُÙ…َا ÙƒُÙ†ْتَ Ùˆَاَتِبِع السَّÙŠِّئَØ©َ الْØ­َسَÙ†َØ©َ تَÙ…ْØ­ُÙ‡َا ÙˆَØ®َالِÙ‚ِ النَّاسَ بِØ®ُÙ„ُÙ‚ٍ Ø­َسَÙ†ٍ (رواه الترمذى
• Bertaqwalah kepada Allah dimana saja berada.
• Balaslah perbuatan buruk dengan kebaikan, keburukan dibalas dengan keburukan akan muncul balas dendam, yang tidak lain adalah perbuatan syetan. Namun keburukan dibalas dengan kebaikan akan memutus rantai syetan. Karena prilaku syetan minnanuri ilazulumaat. Bahwa syetan itu akan mengarahkan jalan petunjuk menuju pada kesesatan.
• Berperilaku terhadap manusia dengan dengan perilaku yang baik.

Maka bila keyakinan terhadap Allah telah benar-benar tertancam didalam hati, menjadi keyakinan yang teguh dan menjadi fondasi yang kokoh terhadap segala perilaku. Niscaya seluruh perilaku akan berjalan sebagaimana orang-orang yang bertaqwa. Kayakinan yang telah bersemanyam didalam hati sesungguhnya merupakan hidayah Allah, hidayah yang tak ternilai harganya. Dan menjadi tugas insan untuk meneguhkan aqidah dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah.