Tampilkan postingan dengan label Khutbah Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

10/20/2022

Kadar Cobaan Hamba Allah-Khutbah Jum'at

Setiap manusia hidup di dunia tidak bisa lepas dari musibah dan cobaan. Tidak ada musibah dan cobaan kecuali telah ditentukan kadarnya oleh Allah. Semakin kuat kadar iman dan taqwanya akan semakin banyak cobaannya. Karena itu orang yang bijak akan semakin bijaksana dalam menghadapi musibah. Musibah bukan untuk dihindari, tetapi berupaya untuk dicarikan solusinya. Semakin cepat dan tanggap untuk mencari solusi maka akan menjadi ringan.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بنِعْمَةَ اْلِإيْمَانِ وَاْلإِسْلَامِ، وَأَفْهَمَنَا مِنْ عُلُوْمِ الدِّيْنِ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ , اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. 

 

Nabi Muhammad adalah Rasulullah yang dilahirkan di Mekah, tumbuh berkembang hingga dewasa bahkan sampai beliau diangkat menjadi rasul. Kota Mekah sebagai tanah kelahiran merupakan masyarakat jahiliyah, penduduknya menyembah berhala, suka mabuk-mabukan, berjudi bahkan pada zaman itu ada tradisi bila ada bayi perempuan yang lahir maka harus dibunuh atau dikubur hidup-hidup. Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi sekalian alam. 

 

 وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ 

 

“Kami tidak mengutus Engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam”. (QS. Al Anbiya’: 107) 

 

Nabi Muhammad berdakwah di kota Mekah selama 13 tahun nyaris tidak mendapatkan pengikut, kecuali hanya beberapa orang saja. Karena itu Nabi Muhammad SAW diperintahkan oleh Allah untuk hijrah ke Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan Madinah. Dalam suatu riwayat ada sekelompok orang Islam yang menulis surat kepada sekelompok lainnya bahwa “ikrar Islam kalian tidak akan diterima sampai kalian mau berhijrah”. Kemudian banyak sahabat yang melakukan perjalanan hijrah ke Madinah, dalam hijrahnya diikuti oleh orang-orang musyrik, sehingga sebagian dari mereka ada yang dibunuh dan ada yang selamat kemudian turunlah ayat Surat Al Ankabut ayat 2.

 

 اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ 

 

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji? 

 

Ayat tersebut menjelaskan bahwa setiap manusia yang beriman akan selalu diberikan ujian oleh Allah, baik berupa kemiskinan, kehilangan harta, kehilangan orang-orang yang dicintai dan disayangi dan banyak lagi cobaan yang diberikan oleh Allah. Apalagi pada musim penghujan, di beberapa wilayah terjadi musibah dan bencana, berupa banjir dan tanah longsor karena itu setiap musibah dan bencana, hendaknya bisa dihadapi dengan rasa sabar. 

 

Ujian dari Allah bermacam-macam bentuknya ada yang ringan, ada yang sederhana, ada yang berat, bahkan sangat berat dan komplek, nyaris tidak kuat dengan cobaan Allah. Ujian selalu datang silih berganti, satu masalah belum selesai kemudian muncul lagi permasalahan. Ujian dari Allah yang diberikan kepada hamba-Nya, menurut Rasulullah SAW menurut kadar dan kemampuan hamba-Nya:

 

 عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ. 

 

“Dari Mush'ab bin Sa'ad dari ayahnya berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya? Beliau menjawab: "Para nabi, kemudian yang sepertinya, kemudian yang sepertinya, sungguh seseorang itu diuji berdasarkan agamanya, bila agamanya kuat, ujiannya pun berat, sebaliknya bila agamanya lemah, ia diuji berdasarkan agamanya, ujian tidak akan berhenti menimpa seorang hamba hingga ia berjalan dimuka bumi dengan tidak mempunyai kesalahan”.(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). 

 

Sedangkan bagi orang-orang yang beriman pada hari qiyamat akan diberikan kasih sayang oleh Allah sebagaimana sabda Rasul:

 

 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّتِي هَذِهِ أُمَّةٌ مَرْحُومَةٌ لَيْسَ عَلَيْهَا عَذَابٌ فِي الْآخِرَةِ عَذَابُهَا فِي الدُّنْيَا الْفِتَنُ وَالزَّلَازِلُ وَالْقَتْلُ 

 

"Rasulullah SAW bersabda: "Umatku adalah umat yang terhormat, di akhirat tidak akan mendapatkan siksa, siksa mereka adalah di dunia; yakni dengan adanya fitnah, gempa bumi dan peperangan." (HR. Ahmad dan Turmudzi). 

 

Dalam kitab Fathul Bari dijelaskan bahwa umat Nabi Muhammad merupakan umat yang dikhususkan, karena dipenuhi kasih sayang Allah dan nikmat dari-Nya. Yang dimaksud dari kalimat umat ini tidak mendapat siksa di akhirat adalah umat Nabi Muhammad tidak akan mendapatkan siksa di akhirat yang sama dengan siksa orang-orang kafir. An-Nawawi berpendapat bahwa anggota badan umat Islam tidak akan disiksa, tubuh dari umat Islam yang berwudhu selalu mendapatkan ampunan dari Allah, sehingga tidak bisa disentuh oleh api neraka. Namun umat Islam selalu mendapatkan ujian serta cobaan di dunia berupa bencana alam wabah penyakit dan perselisihan antara sesama umat Islam sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Anfal ayat 25:

 

 وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ 

 

“Peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah Mahakeras hukuman-Nya.” 

 

Menurut Quraish Shihab bahwa ujian dan cobaan erat kaitannya dengan musibah. Musibah dalam bahasa Indonesia diartikan bencana kemalangan dan cobaan. Musibah pada mulanya berarti sesuatu yang menimpa atau mengenai. Sebenarnya sesuatu yang menimpa tidak selalu buruk, hujan bisa menimpa kita dan itu dapat merupakan suatu yang baik. Memang kata musibah konotasinya selalu buruk. Tetapi boleh jadi apa yang kita anggap buruk itu sebenarnya baikn, Alquran telah menggunakan kata ini untuk sesuatu yang baik dan buruk sebagaimana firman Allah dalam surat al-baqarah ayat 216 

 

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ 

 

“Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. 

 

Hidup adalah ujian ujian bisa berupa sesuatu yang disenangi dan bisa sesuatu yang tidak senangi. Anugerah Allah yang berupa kekayaan, kesehatan, bagusnya bentuk tubuh, anak turun bisa merupakan kenikmatan tapi bisa menjadi ujian. Sejauhmana kemuliaan tersebut bisa meningkatkan kualitas iman dan taqwanya kepada Allah. Atau bisa jadi kemiskinan, kesusakan, musibah dan bencana dapatkan menjadi media bermuhasabah atau juastru akan menjadikan dirinya jauh darihidayah Allah. Sesungguhnya Allah dapat memberikan apapun yang diminta hambanya dan Allah juga maha kuasa untuk menangguhkan. Karena ikhlas dan sabar adalah kunci untuk melepaskan diri dari musibah dan bencana menuju pada ampunan dan ridha Allah.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

6/10/2022

Ibadah Haji dan Qurban Media Meneguhkan Imtaq -khutbah Jum'at

Haji adalah ibadah tahunan bagi umat Islam yang diwajibkan sekali selama hidup. Namun banyak orang yang merasa ketagihan setelah pulang dari tanah suci dan ingin mengulang pengalaman spiritual berhaji. Semoga kita akan segera dipanggil oleh Allah untuk menyempurnakan ibadah yaitu dengan melaksanakan rukun Islam yang kelima.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بنِعْمَةَ اْلِإيْمَانِ وَاْلإِسْلَامِ وَاْلِاسْتِقْلَالِ أَوِاْلحُرِّيَّةِ، وَأَفْهَمَنَا مِنْ عُلُوْمِ الدِّيْنِ وَاْلعَقِيْدَةِ، وَبَيَّنَ لَنَا وَأَرْشَدَنَا اْلأَخْلَاقَ الْكَرِيْمَةَ وَاْلأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ أَهْوَالِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَافِعُ اْلأُمَّةِ وَخَيْرُ اْلبَرِيَّةِ, اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ وَيَجْتَنِبُوْنَ اْلَمنْهِيَّاتِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ ۙلِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖثُمَّ لْيَقْضُوْا تَفَثَهُمْ وَلْيُوْفُوْا نُذُوْرَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوْا بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ 

 

 Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah 

 Pertama dan yang paling utama khatib senantiasa berwasiat khususnya pada diri sendiri dan umumnya jemaah sekalian, marilah bersama-sama kita berupaya untuk meningkatkan iman dan takwa kepada Allah yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah SWT. Mudah-mudahan kita sekalian termasuk golongan orang-orang yang senantiasa mendapat petunjuk dari Allah, sehingga akan menjadi orang yang beruntung sejak hidup di dunia sampai besok hidup di alam akhirat, amin. 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah 

Pada tahun ini kita sekalian kaum muslimin, sebentar lagi akan masuk pada bulan Dzulhijjah, yaitu bulan di mana umat Islam diberikan kewajiban untuk melaksanakan ibadah haji sebagai upaya untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW:

 

 بُنِيَ الإسْلامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهادَةِ أَنْ لا إله إلا اللَّه وأَنَّ مُحَمَّداً رسولُ اللَّهِ ، وإقَامِ الصَّلاةِ وإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وحَجِّ البيْتِ ، وصَوْمِ رَمَضَانَ " متفقٌ عليهِ . 

 

"Islam didirikan atas lima perkara, yaitu menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah dan berpuasa dalam bulan Ramadhan." (Muttafaq ‘alaih) 

 

Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang lima, haji merupakan perintah Allah SWT, sebagimana sabda rasul:

 

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ إنَّ اللَّه قَدْ فَرضَ عَلَيْكُمُ الحَجَّ فحُجُّوا 

 

"Hai sekalian manusia, sesungguhnya Allah mewajibkan atasmu semua akan beribadah haji, maka kerjakanlah ibadah haji itu." (HR. Muslim) 

 

Ibadah haji adalah perintah Allah hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang sudah memenuhi syarat yaitu istitha'ah. Karena itu kabar yang sangat menggembirakan bahwa pada tahun 2022 kaum muslimin yang sudah mempunyai kemampuan atau istitha'ah dan telah mendaftar untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun ini bisa melaksanakan ibadah haji. Hal ini merupakan kabar yang menggembirakan, karena selama dua tahun umat Islam Indonesia tidak ada kesempatan untuk bisa melaksanakan rukun Islam yang kelima yaitu melaksanakan ibadah haji. Hal ini karena kondisi pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk di tanah suci Mekkah, sehingga pelaksanaan ibadah haji selama dua tahun ditiadakan kecuali bagi kaum muslimin yang sudah bermukim di tanah suci. 

 

Karena itu kabar yang menggembirakan, bahwa pada tahun 2022 ini pemerintah Arab Saudi telah membuka kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji dan pemerintah Indonesia juga diberikan kesempatan untuk mengirimkan calon Jemaah haji. Dari perasaan gembira tentu ada kekecewaan: 

  • Pertama kaum muslimin yang sudah mendaftar, akan tetapi ada regulasi baru yang ditetapkan oleh pemerintah, diantaranya pertama jamaah haji hanya diperuntukkan bagi jamaah yang berusia kurang dari 65 tahun. Hal ini artinya bahwa jamaah haji yang berumur lebih dari 65 tahun tertunda, padahal pada tahun sebelumnya justru jamaah haji yang usianya lebih tua itu didahulukan, tetapi pada tahun ini, usia jemaah haji ternyata dibatasi. 
  • Kedua bahwa pada tahun 2022 ini kuota jemaah haji Indonesia dikurangi, termasuk jemaah haji dari Kabupaten Wonosobo berjumlah 353 orang, hanya separuh dari jamaah haji pada tahun sebelumnya. Hal ini tentu saja juga menimbulkan kekecewaan bagi jamaah haji yang sudah mendaftar dan koatannya nyaris akan bisa ikut berangkat pada tahun ini. 
  • Ketiga bahwa pada tahun 2022 ini calon jamaah haji tidak bisa digabungkan dan tidak ada mutasi. Artinya bahwa ketika suami atau istri yang sudah masuk dalam kuota pada tahun 2022 ini tidak bisa menyertakan pada muhrimnya sehingga tetap berangkat secara pribadi, hal ini tentu saja menimbulkan suatu kekecewaan.  
Dengan kondisi demikian hendaknnya kita menyadari bahwa haji adalah merupakan panggilan Allah, haji adalah merupakan anugerah Allah, karena itu dengan kondisi apapun dalam hal ibadah haji hendaknya bisa berlapang dada. Manusia hanya bisa berusaha dan meminta namun Allah yang menentukan. Karena itu jagalah diri sendiri agar memperoleh predikat haji mabrur. Karena itu seluruh proses dan rangkaian ibadah haji agar selalu disandarkan pada Allah, berhaji untuk memenuhi panggilan Allah, kapan waktunya sesungguhnya Allah telah menentukan kita tinggal menjalankan. Dan ingatlah bahwa tujuan melaksanakan haji adalah semata-mata untuk beribadah. Allah SWT telah berfirman:
 

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ


“(Musim) haji itu (berlangsung pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi), siapa yang mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, janganlah berbuat rafaṡ, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan (pasti) Allah mengetahuinya. Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. Bertaqwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat”. (QS. Al Baqarah: 197). 
 
Dalam ayat tersebut ada tiga hal yang harus dihindari ketika melaksanakan ibadah haji: 
 
1. Rafats yaitu mengucapkan kata-kata yang mendatangkan birahi, perbiatan tidak senonoh atau berhubungan seks. 
 
وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ ࣖ 
 
“ Berlakulah wajar dalam berjalan600) dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 19) 
 
 2. Fasiq yaitu melakukan perbuatan yang melanggar norma.
 

3. Bertengkar.

 لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ 

 

“Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” (HR. Buchari Muslim) 

 

Kapan perbuatan tersebut harus dihindari? Apakah ketika sebelum berangkat haji? Apakah ketika sedang melaksanakan melaksanakan ibadah haji? Atau apakah sesudah melaksanakan ibadah haji? Tiga hal ini berkaitan dengan kondisi manusia. Sesungguhnya Allah sudah menentukan jalan, bahwa Rasulullah Muhammad itu diutus oleh Allah adalah untuk menyempurnakan akhlak bagi sekalian alam. Karena itu setiap hamba Allah yang mengikuti petunjuk Allah maka akan diberi pahala dan kelak di hari qiamat akan dimasukkan ke dalam surge. Sebaliknya hamba Allah yang tidak mengikuti petunjuk Allah bahkan melawan perintah Allah maka akan mendapatkan dosa dan kelak di hari qiamat akan dimasukkan ke dalam neraka. 

 

Karena itu semua perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Karena itu sebelum melaksanakan ibadah haji atau ketika sedang melaksanakan ibadah haji bahkan sesudah melaksanakan ibadah haji hendaknya selalu membudayakan perbuatan yang baik dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangannya. Sehingga ketika sebelum berhaji sudah terbiasa berakhlaqul karimah maka kelak di tanah suci akan diberikan kemudahan dan kelancaran dalam melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji. Baik itu rukun, wajib dan sunnah-sunnahnya. Sehingga dengan wajah bersinar kembali pulang ke tanah air dengan membawa predikat haji mabrur. 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah 

Pada bulan Dzulhijjah, disamping ibadah haji, Allah juga memerintahkan ibadah untuk memotong hewan qurban. Antara haji dan qurban adalah syari’at nabi Ibrahim yang tetap dilestarikan pada syari’at nabi Muhammad. Kedua-duanya sangat kental dengan nuansa untuk menguji iman dan taqwa serta meningkatkan amal shalih. Allah SWT berfirman:

 

 اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ 

 

“Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak. Maka, laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah! Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah). (QS. Al Kautsat: 1-3)

 

 لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ 

 

“ Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. (QS. Al Hajj: 37) 

 

 Semoga Allah senantiasa membimbing dan mengarahkan kita pada jalan yang diridhai-Nya, amin.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

4/26/2022

Menjaga Kualitas Ibadah

Manusia diciptakan Allah dengan tujuan adalah untuk menjadi 'abdullah dan khalifatullah. Abdullah adalah manusia sebagai hamba Allah yang mempunyai kewajiban untuk bersujud dan menyembah kepada-Nya yang diimplementasikan dengan melaksanakan ibadah dan amaliyahnya. Sedangkan khlaifatullah adalah sebagai wakil Allah di muka bumi. dalam hal ini manusia diberi mandat untuk, mengatur, menjaga, melestarikan dan memanfaatkan sumber daya alam sesuai dengan petunjuk Allah yang disampaikan kepada para rasul dengan kitab suci-Nya.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بنِعْمَةَ اْلِإيْمَانِ وَاْلإِسْلَامِ، وَأَفْهَمَنَا مِنْ عُلُوْمِ الدِّيْنِ وَاْلعَقِيْدَةِ، وَبَيَّنَ لَنَا وَأَرْشَدَنَا اْلأَخْلَاقَ الْكَرِيْمَةَ وَاْلأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ أَهْوَالِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَافِعُ اْلأُمَّةِ وَخَيْرُ اْلبَرِيَّةِ, اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ وَيَجْتَنِبُوْنَ اْلَمنْهِيَّاتِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ 

 

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah 

 

Pertama dan yang paling utama khatib senantiasa berwasiat khususnya pada diri sendiri dan umumnya pada jamaah sekalian, marilah kita bersama-sama berupaya untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT, yaitu dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan sekaligus kita berupaya untuk menjauhi, menghindari apa yang dilarang oleh Allah SWT. Sesungguhnya melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah adalah merupakan salah satu tugas manusia dalam rangka untuk meningkatkan ibadah kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah:

 

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ 

 

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat: 45) 

 

 Dan di dalam Surat Attaubah ayat 31 Allah berfirman: 

 

 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوْٓا اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ 

 

“Padahal, mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan”. 

 

Dari dua ayat tersebut Allah SWT menegaskan bahwa tujuan menciptakan jin dan manusia adalah untuk menyembah atau beribadah kepada-Nya. Dengan beribadah atau menyembah kepada Allah maka manusia akan memiliki kedekatan kepada Allah. Rasa ketergantungan kepada Allah akan menyadarkan bahwa seluruh daya upaya adalah atas kehendak Allah. Demikian pula di dalam melakukan peribadatan murni, semata-mata karena Allah sehingga manusia akan tetap dalam statusnya sebagai ahsani takwim yaitu manusia yang dalam sebaik-baik bentuk. 

 

 Karena itu di dalam melakukan peribadatan, bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah, dimana keduanya saling berkaitan. Bagaimana ibadah-ibadah yang sudah diperintahkan Allah dan telah dituntunkan oleh Rasulullah Muhammmad SAW dijalankan, baik itu berkaitan dengan ibadah yang fardhu atau ibadah yang sunnah. Dengan ketekunan dan kedisiplinan hamba Allah, dalam melaksanakan ibadah yang fardhu kemudian ditambah dengan meningkatkan kuantitas ibadah yang sunnah maka ibadah-ibadah yang fardhu akan terasa ringan dan mempunyai bobot yang lebih baik, ibadah yang akan bisa mencapai pada kualitas ibadah. 

 

Karena ibadah sesungguhnya adalah merupakan upaya hamba Allah untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka setelah tercapai rasa pendekatan diri kepada Allah, pada setiap ibadah akan menuai hasil. Ibadah shalat yang berkualitas akan dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah:

 

 اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ 

 

“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Alqur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar”. (QS. Al Ankabut: 45) 

 

Ibadah puasa sempurna, puasa yang berkualitas dan menghasilkan pribadi yang sukses akan dapat meningkatkan derajat muttaqien, sebagaimana firman Allah SWT:

 

 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ 

 

”Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al Baqarah: 183). 

 

Untuk bisa mewujudkan pribadi yang taqwa bukan hanya sekedar menahan diri untuk tidak makan dan minum sejak imsyak hingga terbenam matahari, tetapi harus bisa menghindarkan segala hal yang dapat membatalkan bahkan yang merusak ibadah puasa. Karena itu harus bisa menjaga hati dan perasaan negatif, menjaga akal dari pemikiran yang negatif, dapat menjaga mata dari penglihatan yang dapat mendatangkan syahwat, kebencian dan pemikiran, menjaga telinga dari pendangan yang tidak baik, menjaga lisan dari ucapan-ucapan negatif. Rasulullah SAW pernah bersabda:

 

 إِذا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحدِكُمْ ، فَلا يَرْفُثْ وَلا يَصْخَبْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ ، أَوْ قاتَلَهُ ، فَلْيَقُلْ : إِنِّي صائمٌ" متفقٌ عليه . 

 

"Rasulullah SAW bersabda: "Apabila pada hari seseorang di antara engkau semua itu berpuasa, maka janganlah ia bercakap-cakap yang kotor dan jangan pula bertengkar. Apabila ia dimaki-maki oleh seseorang atau dilawan bermusuhan, maka hendaklah ia berkata: "Sesungguhnya saya adalah berpuasa." (Muttafaq 'alaih) 

 

 مَنْ لَمْ يَدعْ قَوْلَ الزُّورِ والعمَلَ بِهِ فلَيْسَ للَّهِ حَاجةٌ في أَنْ يَدَعَ طَعامَهُ وشَرَابهُ " رواه البخاري

 

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan tidak pula meninggalkan berkelakuan dengan dasar dusta, maka tidak ada keperluannya bagi Allah dalam ia meninggalkan makan dan minumnya." Maksudnya: Di waktu berpuasa itu hendaknya meninggalkan hal-hal di atas, agar berpahala puasanya tadi. (Riwayat Bukhari) 

 

Kemudian zakat, sebagai ibadah sosial, akan bisa membentuk pribadi muslim yang senantiasa bersyukur dan bersabar. Bersyukur ketika diberikan rizki berupa harta benda, bahwa sesungguhnya harta benda yang dimiliki adalah merupakan titipan Allah, karena itu hendaknya, dari sebagian kecil harta yang dimiliki dikeluarkan haknya berupa zakat, infaq dan shadaqah yang diberikan kepada orang-orang yang memerlukan. Dan dalam mengeluarkan hak-haknya tersebut merasakan bahagia bisa berbagi dan mempunyai energi bahwa dengan berderma tidaklah akan mengurangi hartanya. Bahkan Allah akan menambah dengan cara yang tidak diketahui oleh makhluknya. 

 

Demikian pula ketika diberikan cobaan, berkurangnya harta benda senantiasa bersabar, bahwa rizki adalah pemberian Allah dan sebagai hamba Allah hanya mempunyai kewajiban untuk berusaha dan berikhtiar. Sehingga bila menyaksikan orang-orang yang sedang mendapatkan ujian dan cobaan akan mempunyai rasa empati. 

 

Ibadah haji sebagai rukun Islam kelima, merupakan perjalanan ke tanah suci, ketika mendapat predikat haji mabrur, maka semangat spiritual dan sosialnya akan semakin meningkat. Karena haji mabrur tidak lain balasannya adalah surga. Karena itu predikat haji mabrur untuk bisa dipertahankan yaitu dengan meningkatkan amal ibadah dan kegiatan sosial. Dan sebagai muslim marilah kita berupaya untuk melaksanakan ibadah baik yang fardhu atau yang sunnah. Agar Ibadah akan terasa mudah dan ringan sehingga akan memperoleh hasil yang maksimal dan menjadi ibadah yang berkualitas, amin.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

1/14/2022

Tanda-Tanda Orang Beriman - Khubah Jum'at

Mendengar kata jihad, kebanyakan orang merasa miris, takut dan khawatir. Mereka beranggapan jihad adalah p*rang, sehingga kata itu banyak orang yang menjadi sinis dan menjauh.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بنِعْمَةَ اْلِإيْمَانِ وَاْلإِسْلَامِ، وَأَفْهَمَنَا مِنْ عُلُوْمِ الدِّيْنِ وَاْلعَقِيْدَةِ، وَبَيَّنَ لَنَا وَأَرْشَدَنَا اْلأَخْلَاقَ الْكَرِيْمَةَ وَاْلأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ أَهْوَالِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَافِعُ اْلأُمَّةِ وَخَيْرُ اْلبَرِيَّةِ, اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ وَيَجْتَنِبُوْنَ اْلَمنْهِيَّاتِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنٰفِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْۗ وَمَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ. فَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَجَاهِدْهُمْ بِهٖ جِهَادًا كَبِيْرًا. وَمَنْ جَاهَدَ فَاِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهٖ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ 

 

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah 

 

Pertama dan yang paling utama khatib senantiasa berwasiat khususnya pada diri sendiri dan umumnya pada jamaah sekalian, marilah kita bersama-sama berupaya untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala, yaitu dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan sekaligus kita berupaya untuk menjauhi, menghindari apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Mudah-mudahan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang senantiasa mendapat petunjuk dari Allah sehingga kita akan menjadi orang yang selamat fiddini waddunya wal akhirat, amin Allahumma amin. 

 

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah 

 

Dalam buku Ensiklopedia Pengetahuan Alquran dan Hadist, merangkum ayat-ayat dalam Alquran yang menerangkan tentang ciri-ciri orang yang beriman ada lima . 1) taat, 2) jihad, 3 hijrah, 4) memberi pertolonga dan kedamaian, 5) mengakui kebenaran Alquran. Pada kesempatan khutbah ini, khatib akan menyampaikan tentang jihad. Kata jihad disebutkan di dalam Alquran surat Al Anfal ayat 74:

 وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْٓا اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ 

 

“ Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, serta orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang mukmin yang sebenarnya. Bagi mereka ampunan (yang besar) dan rezeki yang mulia. 

 

Kata jihad merupakan salah satu dari sekian banyak kata dalam bahasa Arab yang kadang disalahartikan atau disalahpahami. Jihad berasal dari jahada yang berarti bersungguh-sungguh atau usaha keras. Dari kata ini selanjutnya ada tiga kata jadian yang maknanya sering dipisahkan dan seakan tidak memiliki kaitan. Tiga kata tersebut adalah 1) jihad, 2) mujahadah, 3) ijtihad

 

Kata jihad sering dipahami secara terburu-buru sebagai sungguh-sungguh dengan otot, sehingga sering diartikan dengan perang fisik. Mujahadah berarti sungguh-sungguh dengan hati sehingga sering dipakai oleh para sufi . Adapun ijtihad diartikan sungguh-sungguh dengan pikiran. Orang yang melakukan ijtihad disebut mujahid. Orang yang melakukan mujahadah disebut salik atau sufi yaitu orang yang menempuh jalan. Orang yang melakukan ijtihad disebut mujtahid

 

Dari kata jahada, jihad, mujahadah dan ijtihad memang dapat dibedakan, tetapi ketiganya memiliki makna integral dan tidak dapat dipisahkan. Sebab otot hati dan pikiran adalah tiga hal yang membentuk kepribadian manusia secara sempurna, karena itu mendifinisikan jihad dengan perang fisik semata sangatlah tidak tepat; Kekurangtepatan jihad diartikan dengan p*rang fisik tampak jelas ketika nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pulang dari P*rang Badar dan bersabda: 

 رجعت من الجهاد الأصغار الى الجهاد الأكبار فقيل وما جهاد الأكبار يارسول الله؟ فقال الجهاد النفس 

“Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar. Lalu sahabat bertanya, “Apakah jihad akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab, “jihad (memerangi) hawa nafsu.”. (HR, hadis riwayat Baihaqi. 

 

Yang dimaksud dengan perang kecil dalam sabdanya itu adalah P*rang Badar, yang untuk ukuran perang fisik pada waktu itu sangat besar. Sedangkan yang dimaksud p*rang besar adalah memerangi hawa nafsu. Memerangi hawa nafsu jelas bukan p*rang fisik tetapi memerangi nafsu itu sendiri. Memerangi nafsu sendiri bukan berarti bunuh diri misalnya dengan menembak atau menggantung diri. Memerangi diri justru dengan membangun kesadaran diri melalui proses mujahadah. Dalam Alquran kata jahada yang derivasinya disebut sebanyak 41 kali dari penyebutan sebanyak itu pengungkapan jihad sebagai perang melawan orang kafir QS At Tahrim 9, Al-Furqon 52 lebih sedikit dibanding dengan jihad dalam pengertian seperti jihad dengan pikiran dan jihad melawan hawa nafsu. 

 

Seperti disebutkan arti jihad pada hakekatnya adalah memerangi diri sendiri seperti yang tersebut dalam Al Quran surat Al Ankabut ayat 6. Alquran menegaskan demikian karena tidak sedikit di antara kita yang kalah dan tidak berhasil dalam membentuk nafsu kedirian kita. Jihad karenanya menjadi sebuah kewajiban. Kewajiban jihad itu meliputi pembelaan terhadap kebebasan beragama, Alquran surat Al Hajj ayat 39-41, membela diri Alquran surat Albaqarah ayat 190 dan membela orang-orang yang tertindas yang membutuhkan pertolongan surat Annisa’ ayat 75. 

 

Selain itu jihad juga dapat menjadi tolak ukur untuk menguji tinggi rendahnya keimanan dan komitmen seseorang Alquran surat Muhammad ayat 31, Ali Imran ayat 142, dengan jihad bisa dibedakan mana yang benar-benar sabar dan beriman dan mana yang tidak. Alquran berkali-kali menegaskan bahwa jihad bisa dilakukan dengan berbagai cara namun Intinya bisa dengan jiwa dan harta surat Al Imron ayat 142 Al Anfal ayat 72 Taubat 88 dan lainnya karenanya kedudukannya yang penting itu Alquran juga menjelaskan posisi jihad sejajar dengan iman kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan sebagainya jelas bahwa jihad tidak identik dengan perang yang karenanya pula jihad tidak dapat berarti menghalalkan segala bentuk perilakunya memiliki kelebihan dibanding mereka yang tidak melakukannya.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

12/11/2021

Musibah dan Perenungan - Khutbah Jum'at

Pandemi Covid-19 belum tuntas, pada bulan ini dibeberapa daerah terjadi musibah bencana alam. Banjir dan tanah longsor, pohon tumbang dan luapan lahar panas gunung Semeru di Jawa Timur. Sungguh hal ini menambah derita dan malapetaka.

 

 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَخْلاَقَ مِنَ الدِّيْنِ، وأَعْلَى بِهَا شَأْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن وَقالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah. 

 

Pertama dan yang paling utama khatib berwasiat khususnya pada diri sendiri dan umumnya pada jamaah sekalian, marilah bersama-sama kita meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan sekaligus kita berupaya untuk menjauhi semua larangan Allah. Mudah-mudahan kita sekalian senantiasa diberikan taufik, hidayah, inayah untuk bisa mengikuti jejak, langkah dan keteladanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya sehingga kita menjadi orang yang beruntung sejak hidup di dunia sampai besok di yaumil qiyamah, amin. 

 

Kaum muslimin jamaah shalat Jum’at Rahimakumullah. 

 

Akhir-akhir ini ada berita yang menyedihkan, yaitu dengan adanya perstiwa alam, gunung Semeru di wilayah Jawa Timur yang mengalami erupsi dengan memuntahkan awan panas pada Sabtu 4 Desember 2021 aliran panas itu mengarah ke Kabupaten Lumajang dan sekitarnya menerjang pemukiman warga. Setiap musibah pasti membawa derita dan malapetaka bagi manusia. Berdasarkan laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai hari yang ke-5, Kamis 9 Desember 2021 korban yang meninggal sebanyak 43 orang, luka-luka 104 orang, 32 orang mengalami luka berat dan 82 orang lainnya luka sedang. 

 

Sementara data perkembangan Covid 19 di Indonesia menurut Kantor Berita Antara sampai saat ini yang terkonfirmasi sebanyak 4.258.780, sembuh 4.109.364 meninggal 143.918 orang. Jawa Tengah yang dirawat 1.303 terkonfirmasi 486.567 sembuh 455.027 orang meninggal 30. 237 orang. Dimana Covid-19 yang menjalar ke Indonesia pada bulan Februari 2020, mencapai puncak pada bulan Juli 2021 karena ada varian baru virus delta dan akhir-akhir ini di negara tetangga sudah ada varian baru omicron, karena itu sekalipun Wonosobo sudah pada level 2 namun hendaknya tetap waspada dan berhati-hati. 

 

Dengan musibah dan bencana yang melanda dunia termasuk negara Indonesia, hal ini menunjukkan kekuasaan Allah yang tidak bisa dilawan oleh manusia. Sekuat apapun, sepintar apapun manusia tidak ada bandingannya dengan kekuasaan dan ilmu Allah. Oleh karena itu dengan kondisi musibah yang datang silih berganti semuanya adalah merupakan Sunatullah karena itu sebaik-baik orang yang beriman adalah untuk selalu menyiapkan diri dengan iman dan takwa kepada Allah. 

 

Iman meyakini keberadaan Allah dengan sepenuh hati, bahwa Allah yang telah menciptakan manusia, Allah memberikan perlindungan kepada manusia, Allah yang memberikan kecukupan kepada manusia, Allah yang menyediakan segala yang dibutuhkan manusia, Allah tempat kita bergantung, maka kepada siapa manusia harus menyembah kalau bukan kepada Allah. 

 

Maka bulatkanlah keimanan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, bila manusia masih mengingkari terhadap kekuasaan Allah maka dia termasuk orang yang tidak bersyukur. Orang yang tidak syukur akan mendekatkan diri kepada kekufuran. Dosa apa lagi yang akan dilakukan, musibah apa pula yang akan didatangkan Allah. 

 

Karena itu dengan berbagai macam ujian dan bencana yang telah Allah tunjukkan, marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah. Kita bersiap-siap, karena ajal selalu mengintai kehidupan manusia, bila ajal menemui orang yang dalam kondisi sedang melaksanakan ibadah kepada Allah maka dia akan termasuk dalam kategori husnul khotimah. Sebaliknya ketika dia manusia menemukan ajalnya ketika sedang melaksanakan perbuatan maksiat, apalagi sampai melakukan perbuatan kekufuran maka akhir hayatnya itu adalah suul khotimah. 

 

Karena itu hendaknya setiap diri senantiasa ingat kepada Allah, sehingga bila musibah datang sewaktu-waktu, manusia akan selalu dalam kondisi iman dan taqwa kepada Allah. Ingatlah bahwa Allah pernah merasa berfirman:

 

 وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ ٣٤ 

 

“Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan. (QS.Al A’rof: 34) 

 

Dalam KBBI V ajal berarti batas hidup yang telah ditentukan Allah, saat mati, batas waktu tertentu berlakunya sesuatu. Maka ketika ajal telah tiba maka berakhirlah hidup di alam dunia dan akan berganti masuk ke alam barzah. Entah sampai berapa tahun berada di alam barzah sampai datangnya hari qiayamat, yaitu hari hancur leburnya alam semesta dan berganti dengan alam yang baru. 

 

Di alam baru atau yang dikenal dengan alam akhirat manusia akan mendapatkan pangadilan Allah. Tidak ada kebaikan yang terlupakan untuk mendapatkan balasan, walaupun sebesar atom seberat kapas yang berterbangan. Demikian pula tidak ada setiap keburukan yang dilakukan juga akan mendapatkan balasan, berupa siksa. Di alam barzah manusia masih bisa mengharapkan bantuan, untuk mendapat keringanan dari siksa kubur sebagimana sabda rasul:

 

 إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثَةِ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ 

 

“Apabila manusia meninggal, maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali 3 perkara, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak yang salih yang mendoakan kepada kedua orang tuanya. (HR. Muslim) 

 

Di alam akhirat orang hanya mengandalkan perbuatan selama hidup di dunia, tidak ada teman dan saudara kecuali amalnya. Maka di alam akhirat anak akan lupa kepada orang tua dan orang tua lupa kepada anaknya.

 

 فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ ۖ ٣٣ يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ ٣٤ وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ ٣٥ وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ ٣٦ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِۗ ٣٧ 

 

 “Maka, apabila datang suara yang memekakkan (dari tiupan sangkakala), pada hari itu manusia lari dari saudaranya, (dari) ibu dan bapaknya serta (dari) istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. (QS. Abasa: 33-37)

 

 مَنِ اهْتَدٰى فَاِنَّمَا يَهْتَدِيْ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَاۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا ١٥ 

 

“Siapa yang mendapat petunjuk, sesungguhnya ia mendapat petunjuk itu hanya untuk dirinya. Siapa yang tersesat, sesungguhnya (akibat) kesesatannya itu hanya akan menimpa dirinya. Seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kami tidak akan menyiksa (seseorang) hingga Kami mengutus seorang rasul”. (QS. Al Isro’: 15)

 

 وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى ۗوَاِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ اِلٰى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَّلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰىۗ اِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ ۗوَمَنْ تَزَكّٰى فَاِنَّمَا يَتَزَكّٰى لِنَفْسِهٖ ۗوَاِلَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ ١٨

 

 “Orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Jika seseorang yang (dibebani dengan) dosa yang berat (lalu) memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu tidak akan dipikulkan sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat engkau beri peringatan632) hanya orang-orang yang takut kepada Tuhannya (sekalipun) tidak melihat-Nya dan mereka yang menegakkan salat. Siapa yang menyucikan dirinya sesungguhnya menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Hanya kepada Allah tempat kembali. (QS. Al Fathir: 18)

 

 وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا 

 

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya”. (QS. Al Isro’: 36)

 

 

أَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ , اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ ١ وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ ٢ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا ࣖ ٣وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ