Bersyukur dan Menghitung Nikmat Allah


Bersyukur adalah suatu kata yang mudah diucapkan, namun dalam prakteknya sangat sulit untuk dilakukan secara istiqomah, ketika suatu kaum menerima nikmat dari Allah suatu saat bersyukur namun ketika melihat besarnya nikmat yang diberikan kepada hamba Allah yang lain, yang menurut ukuran Allah adalah telah disesuaikan dengan takarannya, namun menurut kadar kemampuan manusia lebih kecil atau lebih sedikit kenikmatan yang di berikan kepadanya. Maka ungkapan syukur yang pernah dikatakan akan lenyap, sehingga menjadi ungkapan keluh kesah, sebagaimana pernah disindir oleh Allah didalam Alquran surat Al Ma'arij ayat 19-21:

" Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir",
Padahal ingatlah bahwa ketika mendapatkan kenikmatan dari Allah, apabila selalu berterimakasih dengan mengucapkan rasa syukur maka Allah akan menambah kenikmatan itu disebutkan dalam Alquran surat Ibrahim ayat 7:

" Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Kenikmatan yang kita syukuri dalam hubungannya imbalan dari aktifitas yang kita lakukan, katakanlah seorang buruh tani yang rajin dan tekun, dia selalu bekerja untuk memberikan hasil karya pekerjaan yang sebaik-baiknya kepada tuannya. Dia bekerja selalu ingin memberikan hasil garapan yang terbaik dan menerima imbalan dengan ikhlas, ketika diberi imbalan yang banyak sangat berterimakasih, namun bila diberi imbalan yang sedikit juga berterimakasih seraya malakukan muhasabah, mengoreksi kekurangan dirinya sendiri. Mungkin ada yang salah ketika bekerja atau mungkin hasilnya kurang memuaskan, tidak pernah menduga-duga bahwa majikannnya pelit, kurang perhatian, apalagi dengan membanding-bandingkan dengan imbalan yang diberikan oleh orang lain. Namun dirinya selalu berupaya untuk bekerja dengan sebaik-baiknya, waktunya bekerja- ya bekerja, waktu istirahat ya istirahat, waktu shalat-ya shalat. Senantiasa dirinya mengontrol dan mengevaluasi dirinya sendiri. Maka pasti Allah akan menambah kenikmatannya, bisa dengan bonus, atau ketika banyak orang bingung mencari pekerjaan dirinya banyak yang membutuhkan tenaganya. Demikian pula dalam segala aktifitas yang lain, orang jawa mengatakan "enthengan" maka dimana-mana dia akan diperhatikan, baik oleh teman maupun atasannya.
Apa sajakah kenikmatan yang diberikan oleh Allah dan dirasakan oleh manusia:
1. Nikmat karena normalnya panca indra, panca indra dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Mata dapat melihat adalah kenikmatan yang tiada tara, ketika penglihatan berkurang atau yang dikenal dengan minus berapa banyak uang yang digunakan untuk memeriksakan ke dokter dan selanjutnya harus mengenakan kaca mata. Ternyata kaca mata yang harus dipakai disamping karena menganut azas manfaat juga memenuhi standar estetika/ keindahan, yang dapat menambah daya pikat, kewibawaan dan prestise. Sehingga untuk membeli kaca mata juga membutuhkan uang yang cukup banyak, ini baru kenikmatan yang diberikan oleh Allah, dikurangi sedikit kenikmatannya dengan mengurangi penglihatan sudah harus menukar kenikmatan itu dengan beberapa jumlah rupiah. Bagaimanakan jika matanya sakit misalnya katarak, maka untuk mengembalikan kenikmatan yang diberikan oleh Allah harus dengan operasi yang menghabiskan uang jutaan rupiah. Ini baru sakit mata, bagaimanakah jika kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh Allah baik itu telinga, hidung, kulit, lidah sakit sehingga kenikmatan itu menjadi kurang, sungguh manusia untuk mengembalikan kenikmatan itu membutuhkan banyak rupiah. Maka pantas sekali bila kita menghitung nikmat yang diberikan oleh Allah kepada manusia niscaya tidak akan dapat menghitungnya. Hal ini diwartakan oleh Allah dalam Alquran surat Ibrahim ayat 34:
" Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni`mat Allah)".
Maka bagaimanakah kita mensyukuri nikmat Allah yang berupa panca indra itu, tidak lain adalah menggunakan untuk hal-hal yang positif, sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah, hal ini dilakukan dengan melihat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT.

2. Akal, adalah kenikmatan yang diberikan oleh Allah melebihi atas makhluk-makhluk yang lain. Karena hanya manusia yang diberi kelebihan akal, sehingga dengan akalnya itu manusia dapat menguasai dunia, segala senjata dan kekuatan makhluk yang lain untuk mempertahankan hidupnya dapat ditaklukkan oleh manusia. Harimau binatang yang buas, dengan cakar dan taringnya yang tajam dapat melumpuhkan binatang yang lain, namun dapat ditundukkan oleh manusia dengan senjata dan obat bius dapat melemahkannya. Kecepatan binatang kijang yang amat dahsyat dapat dikalahkan dengan kecepatan pesawat, pandangan yang tajam dari burung elang dapat dikalahkan dengan alat mikroskop, teleskop dan lainnya. Demikian pula pandangan yang tajam dari seekor kucing, anjing dan binatang malam lainnnya dapat dikalahkan dengan listrik yang dapat merubah kegelapan menjadi terang.
Inilah kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada manusia, maka benar sekali ungkapan ahli hikmah bahwa dengan akal urusan akan menjadi mudah. Maka ketika diberikan akal yang sehat sehingga dapat melakukan aktifitas berfikir, gunakan untuk bertafakkur, memikirkan tanda-tanda dan bukti kekuasaan dan keagungan Allah. Maka ketika manusia telah mencapai pada puncak kemajuan, dan menganggap dirnya sebagai makhluk yang paling sempurna, sesungguhnya pengetahuan dan ilmu manusia baru sebesar tetes air dari sebuah jarum yang dimasukkan kedalam samudra. Karena itu ilmu Allah amatlah luas tidak terbatas dan tidak akan habis untuk dipelajari, hal ini diwartakan oleh Allah dalam Alquran surat Al Kahfi 109:

" Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)".

3. Hati, hati adalah yang merasakan, sesuatu yang benar dan baik menurut akal belum pasti sesuai dengan isyarat kemauan hati nurani, karena hati nurani berasal dari yang fitrah, menghendaki sesuatu yang benar, hati mempunyai sifat-sifat ketuhanan karenanya hati yang bersih mudah berkomunikasi kepada Allah. Dengan hati akan memunculkan nafsu lawwamah, nafsu mutmainnah, yang karenanya ketika akal dan panca indra sudah menyatu untuk melakukan perbuatan yang tidak benar maka dalam diri muncul penyesalan, dengan penyesalan maka akan menimbulkan perasaan berdosa dan keinginan untuk bertobat. Ketika keinginan untuk tobatpun selalu dibisiki dua kekuatan baik dan buruk, maka ketika kebaikan yang muncul maka nafsu manusia akan mengarah pada nafsu mutmainnah. Maka bersyukulah ketika hati sudah mengarahkan pada akhlak Rabbani, sehingga dalam setiap perbuatannya akan meninggalkan kebaikan bagi makhluk yang lain. Maka agar hati menjadi jernih, peka terhadap penderitaan dan kesengsaraan orang lain, belajarlah untuk memahami keadaan orang lain. Bagaimana orang bisa bersabar ketika sedang menerima musibah dan diri bisa tergugah rasa empatinya. Disamping itu hendaklah selalu memperbanyak zikir kepada Allah, karena zikir adalah makanan hati yang hendaknya selalu diberikan setiap hari.

4. Agama, kita hidup dalam beragama ini adalah merupakan kenikmatan, apalagi beragama Islam adalah kenikmatan yang tiada terhingga. Karena baik dan buruk, benar dan salah yang hakiki bila bersumber dari Alquran dan hadits nabi. Bagaimana ketika kita diperintahkan oleh Allah untuk mencari rizki, setelah melaksanakan shalat Jum'at agar segera bertebaran di muka bumi mencari rizki. Rizki adalah hak pribadi manusia, dengan rizki kehidupan manusia akan semakin bahagia. Dan dengan rizki yang diperoleh bebas dikumpulkan sebanyak-banyaknya. Sehingga di Negara Barat menimbulkan faham materialisme, individualisme, faham kapitalisme, sosialisme. Maka Alquran berada dalam dua pendapat yang berbeda. Islam mengajarkan umatnya untuk mencari rizki tetapi tidak boleh melalaikan orang lain. Sehingga dari sebagian rizki itu harus dikeluarkan haknya sebesar 2,5% dari harta yang dimiliki yang disebut dengan kewajiban berzakat.

5. Alam semesta beserta isinya adalah untuk keperluan manusia:

" Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu". (QS. Al Baqarah: 29)
Didunia ini ada tanah, air, udara, surya, bulan dan bintang bintang yang tak terhitung jumlahnya. Satu hal bila didunia ini tidak ada sinar tentu tidak akan ada kehidupan, karena tidak akan ada air, udara, sinar, panas dan dingin. Semua diciptakan bagi kesejahteraan manusia. Berapa banyak dalam setiap hari kita mengirup udara (o2) secara gratis, namun berapa rupiah oksigen yang sudah dimasukkan kedalam tabung, bisa dirasakan ketika diantara kita pernah menggunakan tabung oksigen untuk bantuan pernafasan, satu tabung bisa digunakan untuk berapa hari dan berapa rupiah yang harus dibayarkan. Sungguh ketika kita berada dalam kondisi sehat tidak pernah merasakan betapa berharganya oksigen bagi pernafasan, karena dalam waktu 10 menit tidak ada udara niscaya kita akan mati. Ini baru kenikmatan dari Allah yang berupa udara. Bagaimanakan dengan air, pada suatu waktu pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Azis, dalam lawatannya beliau singgah di rumah Imam Malik, didalam rumah disuguhi dengan segelas air putih. Dari itu lalu timbul perbincangan yang hangat. Imam Malik bertanya kepada khalifah, bagaimanakah sekiranya kita sedang berada ditengah padang pasir yang tandus, gersang, panas dan tidak ada kehidupan, kita berdua sudah kehabisan bekal, kecuali saya mempunyai satu gelas air putih. Saya sangat membutuhkan dan anda juga sangat membutuhkan, kiranya berapa banyak anda mau membeli air putih tersebut? Begitu pertanyaan Imam malik kepada Khalifah Umar bin Abdul Azis. Dan di jawab oleh khalifah " saya mau membayar dengan separuh dari harta yang saya miliki". Demikianlah segelas air putih bisa bernilai sampai triyunan rupiah. Belum lagi kenikmatan dari Allah yang berupa tanah dengan segala macam kehidupan dan penghidupan didalamnya merupakan sumber kenikmatan dari Allah.
Begitu banyak kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada manusia, sehingga begitu banyaknya nikmat yang diberikan oleh Allah, bila menghitungnya niscaya manusia tidak akan mampu. Maka ketika menerima kenikmatan itu bersyukurlah kepada Allah, dengan bersyukur Allah akan menambah kenikmatannya. Karena ketika kita banyak menyukuri atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah maka Allah akan menambah kenikmatan itu kepadanya.

Anda sedang membaca artikel dari untajiaffan Terbaru hari ini. Mohon untuk membagikan artikel ini ke teman anda melalui sosial media dibawah ini.

Artikel Untajiaffan Lainnya:



Kotak Komentar