11/26/2021

Efektifitas Pemberdayaan Fungsi Masjid dengan kegiatan Lomba K3M

Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Wonosobo bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten, Kantor Kementerian Agama dan Lembaga Keagamaan yaitu IPHI, MUI, ICMI secara terpadu menyelenggarakan kegiatan pembinaan manajemen masjid yang dikemas dengan kegiatan lomba Kebersihan Keindahan dan Kemakmuran Masjid (K3M) ke-12 tahun 2021.
Kegiatan lomba dilaksanakan pada tanggal 22 sampai 30 November 2021 yang diikuti oleh masjid di 15 kecamatan se-kabupaten Wonosobo. Namun karena terjadi kendala teknis maka hanya diikuti 14 masjid.

Kegiatan lomba merupakan media yang efektif untuk melaksanakan kegiatan pembinaan manajemen takmir masjid. Ada beberapa alasan yang menjadikan kegiatan ini efektif : 

 

  1. Takmir masjid akan mempelajari dan mempraktekkan kegiatan pembinaan masjid secara langsung yang meliputi bidang idaroh, imaroh dan riayah. 
  2. Kegiatan lomba dilaksanakan secara terpadu oleh pemerintah kecamatan, KUA, desa/ kelurahan, takmir masjid dan lembaga keagamaan yang terkait seperti DMI, MUI, ICMI, IPHI. 
  3. Dengan pembelajaran langsung kepada masyarakat atau jamaah masjid, maka masyarakat akan semakin paham tentang fungsi masjid, di mana masjid yang sudah dibangun dengan mengerahkan daya upaya sehingga menjadi bangunan yang megah dan indah. Ternyata membutuhkan perawatan dan juga upaya untuk mengisi kegiatan sebagai upaya untuk memakmurkan masjid dengan berbagai macam kegiatan. 

 

Masjid  merupakan salah satu bangunan tempat ibadah bagi umat Islam, sehingga umat Islam sangat berkepentingan terhadap keberadaan masjid. Karena itu dengan keberadaan masjid, jamaah akan merasa bangga tenang dan aman dalam melaksanakan ibadah di masjid. Dengan pelayanan dari takmir masjid kepada jamaah akan menjadikan jamaah semakin senang untuk memakmurkan masjid. Dengan rasa senang itulah, akhirnya masyarakat pun tidak segan-segan untuk memberikan kontribusi guna memakmurkan masjid. 

 

Dalam perjalanan kegiatan lomba K3M terdapat berbagai macam evaluasi yang telah dilakukan oleh para anggota tim juri di antaranya: 

 

Bidang idaroh: 

 

  1. Pada umumnya kegiatan dokumentasi tidak dilaksanakan, sehingga kegiatan yang sudah terlaksana tidak dapat didokumentasikan sehingga tidak dapat memberikan pembelajaran kepada generasi selanjutnya. 
  2. Masjid yang sudah dibangun dengan pengerahan daya upaya ternyata tidak ada ada perencanaan untuk kegiatan masjid baik itu jangka pendek, sedang, menengah dan jangka Panjang. 
  3.  Kegiatan masjid hanya mengikuti naluri dari beberapa pengurus, sehingga keberadaan masjid tidak terdokumentasi, tidak ada arsip, catatan kegiatan yang sudah dilaksanakan. 
  4. Status bangunan yang belum bersertifikat, kadang menggunakan tanah bengkok, tidak ada IMB. 
  5. Fungsi masjid yang sangat banyak, sehingga tidak mungkin dikelola oleh satu atau dua orang saja, karena bila pengelolaan terfokus pada satu atau beberapa orang, maka fungsi masjid akan menjadi sempit bahkan hanya digunakan sebagai tempat shalat. 

 

Bidang riayah yaitu perawatan masjid. 

 

Masjid akan tertap indah, gagah, megah bila selalu diadakan perawatan, meliputi ruang utama masjid dan sarana penunjang lainnya. Perawatan meliputi kebersihan, kerapian, keindahan. Bila terjadi kebocoran maka agar segera diperbaiki, bila catnya sudah kusam agar segera di adakan pengecatan, bila pada beberapa tempat rusak dan tidak sesuai dengan kebutuhan jamaah, maka kemudian diadakan perbaikan. Seperti tempat wudhu yang tidak ada ada pembatas antara laki-laki dan perempuan agar diberi pembatas. Bila tempat berwudhu bagi wanita dan toilet yang tidak ada pintunya agar diberi pintu. Kemudian aspek untuk menjaga kebersihan seperti penyediaan tempat sampah, sekaligus diadakan pemilahan antara sampah yang organik dan yang non organic dan pembuangan limbah, kotoran tidak dibuang ke sungai tetapi di masukkan ke dalam sapiteng. 

 

Bidang imaroh 

 

Bagaimana masjid yang sudah dibangun dengan megah itu diisi dengan kegiatan-kegiatan keagamaan. Kegiatan yang paling utama adalah kegiatan shalat berjamaah, sebagaimana bahwa masjid sebagai tempat untuk bersujud. Ketika masjid dibangun untuk tempat bersujud, maka bagaimana agar diselenggarakan gerakan salat berjamaah sehingga dengan kegiatan shalat berjamaah menambah kesemarakan dan kemakmuran masjid. Gerakan shalat berjamaah, khususnya pada shalat subuh dilanjutkan dengan kegiatan kuliah subuh dan setelah kegiatan kuliah subuh diikuti dengan kegiatan pelayanan, misalnya mengadakan cek kesehatan, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan silaturahmi yaitu dengan kegiatan makan minum Bersama. 

 

Itulah mengapa bawa kegiatan lomba K3M menjadi media yang efektif untuk melaksanakan kegiatan pembinaan manajemen masjid. 

 


 

10/28/2021

Dengan Bimbingan Perkawinan Fahamkan Fondasi Keluarga Sakinah

Untuk memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan kepada para calon pengantin guna memasuki kehidupan yang baru, yaitu membentuk rumah tangga menuju pada keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah. Kementerian Agama melalui Subdit Bina Keluarga Sakinah Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI telah menerbitkan buku panduan bagi calon pengantin yaitu Fondasi Keluarga Sakinah, bacaan mandiri calon pengantin. Buku tersebut merupakan buku yang monumental karena berisi panduan untuk membentuk suatu keluarga idaman. Buku tersebut sangat padat, dan memerlukan metode untuk memahaminya.
Fasilitator memperkenalkan diri, kontrak belajar dan materi.

Pada umumnya untuk memahami harus dibaca secara berulang-ulang, namun tentu saja tidak cukup karena SDM yang berbeda-beda. Demikian pula minat untuk membaca yang rendah dan juga adanya kesibukan yang nyaris tidak ada kesempatan untuk membaca dan memahaminya. Untuk mengatasi hal tersebut maka diadakan bimbingan perkawinan bagi calon pengantin. 

 

Para fasilitator yang telah mempunyai sertifikat Bimtek, akan menggunakan metode yang mudah dipahami dan menyenangkan. Fasilitator bisa mencairkan suasana, diantara peserta bisa saling mengenal, terjadi interaksi, komunikasi yang sinergis dan harmonis. Suasana senang dan komunikatif sehingga bisa membangkitkan semangat bagi calon pengantin untuk berimprovisasi, menyampaikan gagasan dan pikiran secara terbuka. Banyak peserta yang pada awalnya malu-malu berubah menjadi berani, tidak takut salah. Ada juga yang merasa rendah diri berubah menjadi percaya diri. Terjalin keakraban terhadap sesama peserta dan terhadap fasilitator.

Fasilitator membuka dialog untuk saling mengenal.
Karena itu kegiatan bimbingan perkawinan dilaksanakan dengan berbagai macam metode, misalnya role playing, game, visualisasi, simulasi, diskusi kelompok, pemaparan hasil diskusi oleh calon pengantin. Dalam kegiatan ini peserta diajak untuk bersikap aktif dan komunikatif dan fasilitator mengurangi kegiatan ceramah. Keaktifan peserta untuk menyampaikan gagasan, pendapat dan berani tampil didepan umum sebagai bekal calon pengantin akan memasuki kehidupan yang baru.
Peserta Bimwin mamaparkan hasil diskusi kelompok.
Kegiatan Bimwin tidaklah diikuti oleh semua calon pengantin hal ini karena keterbatasan anggaran yang disediakan pemerintah. Dengan kondisi ini maka pada masing-masing Kantor Urusan Agama menyelenggarakan Bimwin secara mandiri. Salah satu yang dilaksanakan dalam wujud tandan. Kegiatan ini pada asalnya adalah pemeriksaan administrasi persayaratan pendaftaran nikah, namun pada sela-sela pemeriksaan juga diberikan bekal ilmu dan ketrampilan guna mamasuki kehidupan baru yaitu rumah tangga. Karena itu setiap pengantin yang telah memasuki kehidupan rumah tangga agar selalu menerapkan empat pilar perkawinan yaitu zawwaj, mistaqon ghalidhan, muasarah bil makruf dan musyawarah.

10/23/2021

Berlomba Berbenah untuk Memajukan dan Mengembangkan Fungsi Masjid, Menuju Masjid yang Paripurna

Kegiatan pembinaan manajemen takmir masjid yang dikemas dengan lomba kegiatan K3M (Kebersihan, Keindahan dan Kemakmuran Masjid) akan diselenggarakan pada tanggal 22-30 November 2021. Kegiatan ini menjadi agenda rutin Pemerintah Daerah Kabupaten Wonosobo dalam melaksanakan pembangunan  melalui kegiatan kemasjidan. Kegiatan ini didukung oleh Kantor Kementerian Agama, Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Wonosobo, MUI, IPHI, ICMI Orda Wonosobo. Geliat dan semangat dari peserta lomba mulai berbenah, untuk menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan perlengkapan atau sarana lomba yang meliputi bidang idaroh, riayah dan imaroh.
Takmir Masjid Al Huda Sudagaran Wonosobo sedang rapat koordinasi
Kegiatan lomba K3M ke-12 tingkat kabupaten adalah merupakan media pendidikan dan pelatihan bagi takmir masjid untuk mengelola masjid secara profesional. Selama ini pengelolaan masjid hanya berjalan apa adanya, mengalir nyaris tidak ada program kerja dan progress setiap takmir. Pelaksanaan shalat lima waktu sudah terlaksana namun belum ada gerakan shalat berjamaah, hal ini berakibat masjid-masjid yang berdiri masih sepi dengan kegiatan terutama kegiatan shalat lima waktu secara berjamaah, sehingga masjid-masjid hanya dominan ramai ketika masuk moment puasa Ramadhan dan itu pun banyak masjid yang ramai pada hari-hari yang pertama.
Takmir Masjid Al Huda Simbang Kalikajar sedang rapat koordinasi.
Demikian pula dengan kegiatan pendidikan atau majelis taklim juga masih banyak yang hanya mengandalkan Majelis Taklim selapanan. Dari kegiatan-kegiatan yang sudah berjalan pada umumnya masjid tidak mempunyai dokumentasi sehingga kegiatan-kegiatan yang sudah berjalan berlalu begitu saja, sehingga tidak bisa memberikan pelajaran bagi generasi selanjutnya. Karena itu dengan kegiatan lomba K3M adalah menjadi media pembelajaran, pelatihan dan pendidikan bagi takmir masjid tentang arti pentingnya dokumentasi kegiatan.
Camat Kalikajar Drs. H. Suratman, M. Si memberikan bantuan alat kebersihan
Kemudian banyak pula jamaah masjid yang kurang memperhatikan terhadap perawatan masjid, sehingga bangunan yang sudah dibangun, pada awalnya merupakan bangunan yang megah, namun kemudian menjadi bangunan yang kusam karena kurang terawat. Dengan lomba K3M ini menjadi media pemahaman kepada jamaah untuk meningkatkan kepedulian terhadap masjid dalam perawatannya. Karena perawatan bangunan ada yang bersifat tahunan sepertti pengecatan, ada yang bulanan seperti perlengkapan pengajian selapanan, ada yang mingguan seperti pengajian mingguan, shalat Jum’at dan yang paling berat adalah harian yang berkaitan dengan menjaga dan memelihara kebersihan lingkungan.
Takmir Masjid Baiturohman Menjer Garung sedang kerja bakti.
Lomba K3M meningkatkan kepedulian takmir masjid dan jamaah untuk berperan serta dalam memajukan dan mengembangkan fungsi masjid. Berangkat dari diri sendiri dan keluarga untuk berkontribusi untuk kepentingan masjid, sehingga masjid yang dibanggakan akan menjadi tempat yang dicintai oleh jamaah. Sehingga dari masjid masyarakat akan merasa mendapatkan ketenangan, kedamaian, merasa mempunyai banyak saudara. Dari itu banyak masjid yang telah memberikan pelayanan pada jamaah dari keutuhannya, seperti tersedianya tempat ibadah yang nyaman, tempat wudhu dan MCK yang memadai, tersedia tempat parkir yang aman. Dan Jum’at berkah dengan wujud pemberian makan minum pada jamaah shalat Jum’at.
Anggota TNI Kecamatan Wonosobo sedang bersih-besih masjid
Aneka macam tanaman untuk kesejukan masjid.
Takmir masjid  Al Muttaqin Gataksari Serang Kejajar sedang rapat koordinasi

10/20/2021

Bimtek manajemen Pemberdayaan Fungsi Masjid

Dalam rangka menyambut pelaksanaan lomba Kebersihan Keindahan dan Kemakmuran Masjid (K3M) ke-12 tingkat Kabupaten Wonosobo, Dewan Masjid Indonesia bersama dengan pemerintah Kabupaten Wonosobo menyelenggarakan kegiatan bimbingan teknis manajemen pemberdayaan fungsi masjid. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 19, 21, 25, 27 Oktober 2021 bertempat di 15 kecamatan se- Kabupaten Wonosobo dengan narasumber para pengurus DMI Kabupaten Wonosobo dan para aktivis masjid. Dari merekalah akan dapat memberikan ilmu pengetahuan, model pengelolaan dan pengembangan fungsi masjid, agar masjid yang menjadi simbol kebanggaan bagi umat Islam, bangunan monumental, pusat peribadatan, pendidikan dan dakwah Islamiyah bisa dilaksanakan secara maksimal.
Bmtek manajemen pemberdayaan Kecamatan Kalikajar
Bimtek pemberdayaan fungsi masjid pada masing-masing kecamatan diikuti 30 peserta yang terdiri dari unsur kecamatan, KUA, enam takmir masjid yang akan menjadi peserta lomba K3M dan 22 takmir masjid se-kecamatan. Kegiatan ini sebagai kesiapan dan pembekalan pada takmir masjid, sehingga dengan pelaksanaan Bimtek ini, pada tahun 2021 itu akan menghasilkan 420 takmir masjid yang sudah terbimtek. Dari itu diharapkan para takmir masjid akan berkreasi dan berinovasinya untuk melakukan kegiatan pemberdayaan fungsi masjid. Disamping itu akan terwujud jaringan shilaturahmi antara takmir masjid dengan Dewan Masjid Indonesia, Pemerintah Daerah.
Bimtek manajemen pemberdayaan fungsi masjid Kecamatan Kertek
Ketua DMI Kabupaten Wonosobo H. Tarjo menyampaikan bahwa fungsi masjid yang yang sangat besar, hendaknya jangan dikerdilkan hanya sebagai tempat shalat saja. Pemberdayaan fungsi masjid akan menjadi lebih besar, karena masjid bisa menjadi media pendidikan, pelayanan, musyawarah, penyampaian informasi, menampung dan memberdayakan dana umat. Karena itu Dewan Masjid Indonesia salah satu organisasi yang berhidmat pada kepentingan umat dengan berbasiskan pada masjid untuk kepengurusan persifat berjenjang. DMI pusat adalah Dewan Masjid Indonesia, ketuanya adalah HM. Jusuf Kalla mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, DMI di provinsi adalah Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia, ketuanya adalah H. Ahmad mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah, DMI kabupaten adalah Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia yang semula ketuanya adalah H. Bedjo Taruno, namun belum habis masa jabatannya beliau wafat, lalu digantikan H. Tarjo.
Bimtek manajemen pemberdayaan fungsi masjid Kecamatan Sapuran
Untuk selanjutnya DMI kecamatan adalah Pimpinan Cabang Dewan Masjid Indonesia Kecamatan, DMI Desa/ Kelurahan adalah Pimpinan Ranting Dewan Masjid Indonesia. Kabupaten wonosobo seluruh kecamatan sudah terbentuk dewan pimpinan cabang. Demikian pula masjid sebagai basis kegiatan DMI juga berjenjang, masjid negara atau nasional adalah masjid Istiqlal, masjid tingkat provinsi adalah Masjid Raya, masjid tingkat kabupaten adalah Masjid Agung, masjid tingkat kecamatan adalah Masjid Besar, masjid tingkat desa/ kelurahan adalah Masjid Jami.
Bimtek manajemen pemberdayaan fungsi masjid Kecamatan Garung
Adapun narasumber Bimtek manajemen takmir masjid adalah H. Tarjo, S. Sos, M. Si, Drs. H. Mahbub, M. Ag, H. Imron Awaludin, S. Ag, Drs. H. Toharotun, H. Fakih Khusni, S. Ag, MM, M. Si, H. Syarif Hidayat, S. Ag, H. Ahmad Fuadi, S. Ag, M. Pd. I, Untaji Affan, S. Ag, Hj. Munjiyatun, S. Ag, Drs. H. Ahmad Zuhdi, M. Ag, Dra. Amiroh Zaetun, Drs. H. Ambyah, Irna Fitroyah, S. Ag , H. Fakih Al Azis, S. Ag, H. Wajihudin, Alh, S. Ag, M. Pd. I, Hj. Istiqomah, S. Ag, Mustofa Al Kifli, SHI, Achmad Fauzi, S. Pd. I, M. Ag, Adim Safiin, M. Ag.
Bimtek manajemen pemberdayaan fungsi masjid Kecamatan Kalibawang

10/12/2021

Keajaiban dan Dahsyatnya Shalat Berjamaah-Pahala Berlipat-lipat

Ibadah shalat adalah merupakan rukun Islam yang kedua, shalat menjadi ukuran keislaman seseorang, shalat akan menentukan baik dan buruknya perilaku setiap muslim, shalat merupakan wujud hablum minallah, hubungan langsung kepada Allah. Shalat adalah ibadah yang pertama kali akan ditanyakan besok di yaumil qiyamah. Karena begitu pentingnya shalat, maka kita diwajibkan untuk selalu menegakkan shalat lima waktu, ditambah dengan melaksanakan ibadah shalat sunah. Ibadah shalat akan mempunyai nilai tambah bila dilakukan secara berjamaah yaitu berada di tempat ibadah di dalam hadis Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah menyampaikan tentang keutamaan dan pentingnya menegakkan shalat berjamaah. Keutamaan melaksanakan shalat disampaikan dalam beberapa hadis, ada 21 hadis yang menyampaikan tentang keutamaan shalat berjamaah, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

 

 صَلَاةُ الْجَمِيعِ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَصَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وَأَتَى الْمَسْجِدَ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْهُ خَطِيئَةً حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ وَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَتْ تَحْبِسُهُ وَتُصَلِّي يَعْنِي عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ 

 

"Shalat berjamaah lebih utama dari shalatnya sendirian di rumah atau di pasarnya sebanyak dua puluh lima derajat. Jika salah seorang dari kalian berwudhu lalu membaguskan wudhunya kemudian mendatangi masjid dengan tidak ada tujuan lain kecuali shalat, maka tidak ada langkah yang dilakukannya kecuali Allah akan mengangkatnya dengan langkah itu setinggi satu derajat, dan mengahapus darinya satu kesalahan hingga dia memasuki masjid. Dan jika dia telah memasuki masjid, maka dia akan dihitung dalam keadaan shalat selagi dia meniatkannya, dan para malaikat akan mendoakannya selama dia masih berada di tempat yang ia gunakan untuk shalat, 'Ya Allah ampunkanlah dia. Ya Allah rahmatilah dia'. Selama dia belum berhadats." (HR. Buchari, 457) 

 

 Dari hadis tersebut dapat diambil pelajaran: 

 

1. Shalat berjamaah itu lebih utama dilaksanakan daripada ada di shalat secara sendirian, baik itu berada di rumah atau di pasar. Karena itu ibadah shalat yang dilakukan secara berjamaah, maka Allah akan melipatgandakan pahalanya menjadi 25 derajat. Untuk kelipatan pahala orang yang melaksanakan shalat dalam beberapa hadits juga menyebutkan ada yang dilipatgandakan menjadi 20 derajat , 27 derajat:

 

 صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ وَحْدَهُ سَبْعًا وَعِشْرِينَ 

 

"Shalatnya seseorang dengan berjamaah melebihi shalatnya yang dikerjakan secara sendiri sebanyak dua puluh tujuh derajat.

 

" قَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ و قَالَ أَبُو بَكْرٍ فِي رِوَايَتِهِ سَبْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً 

 

“Ibnu Numair berkata dari ayahnya dengan redaksi "Sebanyak dua puluh tujuh derajat." Abu Bakr berkata dalam priwayatannya, "Kurang lebih dua puluh derajat." (HR. Muslim: 1039) 

 

 Karena itu yang utama, bahwa ketika seseorang melaksanakan shalat berjamaah maka Allah akan melipatgandakan pahalanya. Dan menjadi kewenangan Allah untuk melipatgandakan pahala bagi hambanya. Yang artinya bahwa nilai kelipatan pahala bagi setiap muslim berbeda-beda. 

 

2. Jika seseorang melaksanakan wudhu, kemudian membaguskannya wudhunya. Membaguskan disini bermakna menyempurnakan wudhunya, dimulai dengan cara memilih air, yang suci dan mensucikan, serta dihindari dari air yang musta'mal. Kemudian kaifiyah dilakukan secara berurutan, demikian pula dengan melaksanakan sunnah wudhu. Bila demikian, berarti orang tersebut telah menyempurnakan wudhunya. 

 

3. Setelah menyempurnakan wudhu, kemudian mendatangi masjid dengan tujuan untuk melaksanakan shalat, maka niat berwudhu untuk mendatangi masjid, maka setiap langkahnya Allah akan mengangkat derajatnya dan satu langkah yang lain akan menghapuskan dosa dan kesalahan yang telah dilakukannya. 

 

4. Dengan terhapusnya dosa dan kesalahannya, akan semakin banyak pahala untuk menjadi wasilah ketika seseorang bermunajat kepada Allah, sebagaimana kisah tiga orang pemuda yang terjebak di dalam gua, tertutup batu yang sangat besar dengan kekuatan fisik, mereka tidak akan kuat untuk mendorongnya, namun dengan wasilah amal ibadah yang dilakukan dia bisa keluar dari dalam gua. 

 

5. Dengan terhapusnya dosa dan kesalahannya, maka akan ditempatkan pada tempat yang mulia yaitu surga. 

 

6. Ketika memasuki masjid dan mempunyai niat yang murni karena Allah untuk melaksanakan shalat, maka walaupun itu dalam kondisi duduk akan dicatat oleh Allah seperti orang yang sedang melaksanakan shalat. 

 

7. Orang yang melaksanakan shalat berjaaah di masjid, mereka akan didoakan oleh para malaikat. Malaikat akan memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosanya dan memberi Rahmat kepadanya selagi dia belum berhadas. Karena itu ketika berada di masjid hendaknya dalam kondisi suci tidak terkena hadas. 

 

Rasulullah begitu cinta kepada umatnya, sehingga memberikan harapan agar lebih giat di dalam melaksanakan perintah-Nya. Termasuk dengan bersemangat untuk melaksanakan ibadah sunnah sebagai sarana untuk menggapai rahmat dan maghfirah dari Allah.

9/23/2021

Syarat-Syarat Terkabulnya Do’a, Perkuat Amal Ibadah– Khutbah Jum’at Bahasa Indonesia

Masa tenang dalam kondisi pandemi Covid-19, adalah masa yang dinanti-nantikan. Namun bila telah sampai hendaknya selalu hati-hati dan waspada. Musibah dan bencana datang secara tiba-tiba, mausia tidak berkehendak namun kadang terjadi. Karena itu tolaklah dengan doa dan dengan meningkatkan amal ibadah semata-mata karena Allah.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَخْلاَقَ مِنَ الدِّيْنِ، وأَعْلَى بِهَا شَأْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن وَقالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah. 

 

Pertama dan yang paling utama khatib berwasiat khususnya pada diri sendiri dan umumnya pada jamaah sekalian, marilah bersama-sama kita meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan sekaligus kita berupaya untuk menjauhi segala yang dilarang Allah. Mudah-mudahan kita sekalian senantiasa diberikan taufik, hidayah, inayah untuk bisa mengikuti jejak, langkah dan keteladanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya sehingga kita menjadi orang yang beruntung sejak hidup di dunia sampai besok di yaumil qiyamah, amin. 

 

Kaum muslimin jamaah shalat Jum’at Rahimakumullah. 

 

Sudah dua tahun lebih kita sekalian bangsa Indonesia dan khususnya umat Islam hidup dalam suasana pandemi Covid-19, suatu wabah penyakit yang mengglobal hingga seluruh dunia, tidak ada dunia yang bebas dari pandemi Covid-19. Karena walaupun masih dalam Suasana PPKM namun sudah mendapatkan kelonggaran dalam beraktivitas dan beribadah. Bahkan para pelajar dan mahasiswa sudah dapat melakukan pembelajaran melalui tatap muka. 

 

Selama dua tahun lebih anak anak-anak atau adik-adik kita yang sedang mengenyam pendidikan di tingkat PAUD, sekolah dasar, menengah, sekolah atas hingga perguruan tinggi proses belajar mengajar diselenggarakan dengan daring atau secara online. Proses pendidikan dan pengajaran ini banyak sekali mengalami kekurangan, kendala baik teknis pada jaringan atau karena belum terbiasa. 

 

Karena itu transfer ilmu pengetahuan dari para pendidik kepada para pelajar banyak sedikitnya mengalami penurunan. Kini sejak tanggal 8 September 2021 telah dilakukan pembelajaran secara tatap muka walaupun belum secara penuh, karena harus tetap menerapkan protokol kesehatan. Walaupun belum penuh tentunya sudah bisa mengobati kerinduan, memberikan harapan dan rasa bangga para siswa dapat menerima materi secara langsung demikian pula dapat berinteraksi dengan teman-temannya. 

 

Walaupun penyebaran Covid-19 sudah mengalami penurunan, hendaknya kita tetap hati-hati dan waspada, jangan sampai lengah, kejadian pada bulan Juli tahun 2021 hendaknya dijadikan pembelajaran. Dimana pada saat itu banyak orang yang terpapar hingga bangsal rumah sakit penuh, demikian juga tempat karantina. Sehingga orang yang terpapar kemudian melakukan Isoman dan akhirnya bisa sembuh. Namun pada bulan Juli kemarin juga banyak orang yang tidak bisa tertolong. Bila di antara kita ada sudah terpapar dan sekarang sudah sehat hendaknya tetap waspada dan selalu meningkatkan rasa syukur kepada Allah. Dan bagi jamaah yang selamat dari Pandemi Covid- 19 hendaknya lebih meningkatkan rasa syukurnya. Karena sungguh menderitanya orang yang terpapar, rasa sakit dari beberapa organ tubuh, dan terpapar Covid-19 menjadi orang yang terasing dan diasingkan oleh masyarakat. 

 

Karena itu pulau Jawa dan Bali yang semula berada pada level 3 atau 4 sekarang dalam kondisi membaik berada pada level 2 atau 3. Ingatlah bahwa manusia ingin sehat, selamat dan sejahtera. Manusia ingin terhindar dari balak, musibah dan bencana. Namun semuanya ini hanyalah upaya dan harapan manusia, ketentuan akhir ada di tangan Allah. Oleh karena itu agar harapan-harapan yang kita memohonkan kepada Allah bisa dikabulkan hendaknya kita sekalian senantiasa memanjatkan doa kepada-Nya, sebagaimana firman Allah:

 

 وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ 

 

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al Baqarah: 186) 

 

Dalam ayat terbut Allah SWT memberikan khabar, bahwa bila mempunyai keinginan dan harapan, mintalah kepada Allah, maka Allah akan mengabulkan. Tetapi jangan sampai lengah bahwa Allah memberikan syariat pada manusia untuk dijadikan pedoman hidup. Karena itu laksanakan syari’at, adanya perintah agar dilaksanakan dan larangan ditinggalkan. Dengan demikian Allah akan mudah mengabulkan doa hamba-Nya. Rasulullah SAW menyampaikan bahwa ada tiga golongan yang doanya akan dikabulkan:

 

 ثَلاَثَـةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: اَلإِمَامُ الْعَاِدلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ (رواه مسلم) 

 

“Tiga macam orang doanya tidak ditolak, yaitu Imam yang adil, orang yang sedang berpuasa hingga ia berbuka dan doa seorang yang teraniaya. (Riwayat Muslim).

 

 لاَ يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَالَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ مَالَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا اْلاِسْتِعْجَالُ؟ قَالَ: يَقُوْلُ قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يُسْتَجَابُ لِي فَيَحْسِرُ عِنْدَ ذٰلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ (رواه أحمد والترمذي والنسائي وابن ماجه) 

 

“Senantiasa diterima permohonan setiap hamba, selama ia tidak mendoakan hal-hal yang menimbulkan dosa atau memutuskan hubungan silaturrahim (dan) selama tidak meminta agar segera dikabulkan. Rasulullah ditanya, Apakah maksud segera dikabulkan ya Rasulullah? Beliau menjawab, Maksudnya ialah seorang hamba yang berkata, Saya sesungguhnya telah berdoa, tetapi saya lihat belum diperkenankan, karena itu ia merasa kecewa lalu tidak berdoa lagi . (Riwayat Aḥmad, at-Tirmiżī, an-Nasā′ī dan Ibnu Mājah). 

 

Apabila ternyata doanya belum dikabulkan, hendaknya jangan putus asa, dalam Tafsir Alquranul Karim menyebutkan mengapa doa belum dikabulkan, hal ini karena: 

 

  1. Syarat-syarat berdoa belum dipenuhi.
  2. Terkabulnya doa kadang tidak sama dengan yang diminta, karena kadang akan digantikan atau dialihkan dengan yang lain, akan ditunda hingga waktu yang lama bahkan bisa saja akan dikabiulkan kelak di hari qiyamat. 
  3. Tidak khusuk atau tidak bersungguh-sungguh dalam berdoa. Allah berkuasa karena telah menciptakan, dan akan terus mengatur, menjaga dan melindungi alam semesta seisinya. Karena itu jagalah keseimbangan kebutuhan jasmani dan rohani, agar kita selamat selama hidup di dunia hingga besok di hari qiyamat, amin. 
 
  1.  أَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ , اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ ١ وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ ٢ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا ࣖ ٣وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Tansah Ngati-ati lan Waspada, Usaha, Ikhtiar lan Dunga – Khutbah Jum’at Bahasa Jawa

Alhamdulilah pagebluk Covid-19 melai kirang, hingga pemerintah sampun marengaken kelonggaran kangge ngibadah lan makarya. Masjid, pasar, sekolah dipun bikak, nanging kita ketah tansah ngantos-atos lan waspada, mila kedah tansah usaha lan ikhtiyar, ampun pedhot anggenipun manuwun dhateng Allah SWT.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَخْلاَقَ مِنَ الدِّيْنِ، وأَعْلَى بِهَا شَأْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن وَقالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ 

 

Para jemaah shalat Jum’at ingkang kawula hormati. 

 

Pertama lan ingkang paling utami, kawula tansah wasiat khususipun dhateng pribadi kawula piyambak, sumrambah dhumateng panjenengan sedaya, mangga kita tingkataken iman dan taqwa dhumateng Allah SWT, inggih punika kanthi nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan nilar sedaya awisanipun. Mugi-mugi kita sedaya tansah dipun paringi kesarasan, kawilujengan lan kabekjan wiwit dunya dumugi benjang ing dinten qiamat, amin. 

 

Kaum Muslimin jemaah salat Jum’at Rahimakumullah. 

 

Wekdal punika, sak dangunipun kawontenan pagebluk Covid-19, sak punika wonten kabar ingkang ngremenaken khususipun dhateng para pelajar, mahasiswa, wali murid lan para dewan guru, amargi melai tanggal 8 September 2021 pemerintah sampun maringi kelonggaran dhateng kita, khususipun wonten ing lembaga pendidikan ngawontenaken sinau kanthi pepanggihan. Artosipun para pelajar lan mahasiswa saget mlebet ing sekolah utawi kampus. Sampun kalih tahun langkung sami sinau wonten ing dalem kanthi online. Mila ing wekdal punika para pelajar saget pinanggih kalian guru lan rencang-rencangipun. 

 

Kawontenen punika amargi ing dunya punika saweg ketaman pagebluk Covid-19, mila kanthi usaha lan ikhtiar, sekedhik-mawi sekedhik badhe mlebet ing kawontenan ingkang normal malih. Mila kita kedah tansah ningkataen raos syukur lan ampun kendat anggenipun nyuwun dhateng Allah supados gesang kita dipun tebihaken saking bendhu, balak , musibah lan bencana. 

 

Sinaosa kados mekaten tentu kita kedah tansah ngatos-atos lan paspada, ampun banget anggenipun ajrih lan kuwatos nanging ugi ampun sembrana lan kumalungkung. Margi sajatosipun manungsa punika makhluk ingkang boten angghadahi daya kejawi peparingipun Gusti Allah. Mila namung dhateng Gusti Allah kita manembah lan nyuwun pitulungan. Gusti Allah badhe paring pitilungan dhateng tiyang ingkang nyuwun, mila kanthi nindakaken ibadah Allah badhe paring pitulungan dhateng kita sedaya. Allah SWT sampun ngendika:

 

 وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ 

 

“Lan nalikane, kawula Ingsun takon marang sira (Muhammad) perkara Aku, satuhune Aku perek, Aku bakal ngabulake panyuwune wong kang nyuwun marang Ingsun, mula dheweke netepi (dhawuh) lan iman marang Ingsun, supaya dheweke tansah manggon ing kabeneran”. (QS. Al Baqarah: 186). 

 

Kaum Muslimin jemaah salat Jum’at Rahimakumullah. 

 

Ing ayat punika Gusti Allah sampun mretelakaken bilih do’a lan panyuwun badhe dipun kabulaken kanthi lantaran inggih punika tansah nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan nilar awisanipun Allah. Mekaten punika supados tansah pinaringan pitedah saking Ngarsa Dalem Allah SWT. Rasulullah SAW sampun ngendika:

 

 ثَلَا ثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: اَلْأِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ (رواه مسلم) 

 

“Telung golongan kang dongane ora ditolak, yaiku pemimpin kang adil, wong kang lagi puasa nganti buka lan dongane wong kang dianiaya. (HR. Muslim)

 

 لَايَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَالَمْ يَدْعُ بِاِثْمٍ أَوْقَطِيْعَةِ رَحِمٍ مَالَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا الْاِسْتِعْجَالُ؟ قَالَ يَقُوْمُ قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ اَرَ يُسْتَجَابُ لِي فَيَحْسِرُ عِنْدَ ذَالِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ (رواه أحمد والترمذي والنسائي وابن ماجه) 

 

“Bakal ditampa panyuwun saben kawula, selagi ora dongakake perkara kang dadekake dosa utawa medhot paseduluran (lan) selagi ora jaluk enggal-eggal dikabulake. (Sahabat) matur dhateng Rasulullah, “Punapa ingkang dipun wastani enggal-enggal dipun kabulaken duh rasul? Rasul ngendika, maksude kawula kang ngucap, satuhune aku wis dunga, nanging kok durung dikabulake, nuli kuciwa lan ora ndunga maneh”. (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Annasa’i, Ibnu Majah). 

 

Gusti Allah Maha Welas lan Asih, nanging Gusti Allah ugi paring dhawuh dhateng manungsa. Mila Welas Asihipun Gusti Allah kedah dipun kanteni kalian ibadah, nganthi ngibadah wonten ingkang dipun sembah lan wonten ingkang nyembah. Ingkang dipun sembah inggih punika ingkang dadosaken alam semesta, lan ingkang nyembah ingkang dipun ciptakaken. Mila nalika dedunga dhateng Allah kedah rumaos ashor, Allah ngendika wonten surat Al Mukmin ayat 60:

 

 وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ 

 

“Lan Gusti Allah ngendika: dongaha marang Ingsun, yekti bakal Ingsun kabulake kanggo sira (apa penjangkanira). Satuhune wong-wong kang gimedhe ora gelem ngibadah marang Ingsun bakal mlebu (neraka) Jahannam kelawan ina".

 

Kaum Muslimin jemaah salat Jum’at Rahimakumullah. 

 

Kanthi kawontenan ingkang tambah sekeca ampun ngantos lajeng, pandemi Covid-19 melai kirang nanging kedah ngantos-atos lan waspada, kita pingin sehat lan slamet, mila kita kedah tansah usaha lan ikhtiar. Mila kita tansah eling tiniling lan wasiat-winasiyatan ing dalem nindakaken dhawuh lan nilar awisanipun Allah.

 

 أَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ , اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ ١ وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ ٢ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا ࣖ ٣وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

9/14/2021

Dampak dan Keprihatinan Terpapar Pandemi Covid-19- Takut, Terasing

Ketika ada orang yang terpapar Covid- 19, bisa jadi orang lain mengetahui, namun bisa jadi orang lain tidak mengetahui, baik sebagai penderita tanpa gejala atau dengan gejala. Jika orang terpapar Covid-19 dengan gejala, dia menutupi bahwa dirinya itu terkena Covid-19. Sehingga ketika dirinya sudah mengetahui positif terkena Covid-19 tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Namun ada juga yang secara terus terang, bahwa setelah mengetahui hasil cek laboratorium dirinya positif terkena Covid-19 kemudian menyampaikan informasi kepada grup WA meminta dukungan moril kepada anggota WA agar dirinya diberikan kekuatan, keselamatan, kesehatan dan segera disingkirkan dari pandemi Covid- 19.

Ketika dia menyampaikan informasi, kemudian muncul dukungan moril dari para anggota. Semoga dia segera diberikan keselamatan, kesehatan dan disingkirkan dari pandemi. Dukungan atau doa diawali dengan semoga, semoga, semoga dan semoga. Ini adalah sikap yang di sampaikan oleh anggota grup, karena ketika orang yang sudah terpapar Covid- 19, maka orang lain tidak mau mendekat, karena takut tertular. Karena itu sangat memprihatinkan sekali bagi orang yang terpapar Covid-19, merasa sebagai orang yang terasing, bahkan bukan hanya teman, bukan hanya saudara, tetapi keluarga sendiripun juga menjaga jarak, berhati-hati agar tidak tertular Covid-19. 

 

Dengan kejadian tersebut, ternyata sikap masing-masing anggota masyarakat berbeda, ada yang menyikapi dengan penuh kehati-hatian, sehingga kemanapun selalu memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas. Namun tak sedikit bahwa anggota masyarakat yang bersikap seperti tidak ada pandemi, tidak memakai masker, tidak menjaga jarak, tidak menjauhi kerumunan dan bebas bepergian, tetap terbiasa melakukan aktivitas tanpa menghiraukan himbauan dari pemerintahan untuk melakukan langkah-langkah pencegahan Covid-19. 

 

Akibat virus corona yang membjuat hidup manusia menjadi resah, sehingga ketika terpapar Covid- 19 pada umumnya mentalitas menjadi menurun, karena ada ketakutan dan keakhawatiran yang berdampak pada menurunnya imunitas sehingga menimbulkan efek munculnya penyakit lain yang akan menambah parah terhadap serangan Covid- 19. Berdasar protocol kesehatan, bahwa virus corona akan semakin berbahaya bila mempunyai penyakit bawaan. Walaupun tidak terlalu menghawatirkan namun kemudian memicu munculnya penyakit baru yang hinggap pada seseorang yang berakibat suatu penyakit tidak kunjung sembuh. 

 

Sebab-sebab mentalitas menurun. 

 

Suatu penyakit disamping sumbernya dari makanan, juga karena pemikiran dan hati yang tidak bisa tenang. Adanya rasa khawatir, ketakutan dan lainnya, karena itu ada beberapa hal yang menyebabkan, mengapa orang yang terpapar virus corona mentalitasnya menjadi menurun: 

 

  1. Banyak orang yang terpapar Covid- 19 itu berakhir dengan kematian. Karena itu ketika dirinya sedang terpapar Covid-19, yang ada dalam fikiran adalah bayang-bayang kematian, hatinya menjadi gundah, tidak tenang, gelisah. Dengan demikian pemikiran dan hati yang tidak tenang akan memperparah kondisi psikis orang, mentalitasnya semakin menurun. Sehingga alih-alih akan segera sehat kembali, justru imunitas tubuh semakin menurun dan berderet-deret penyakit akan menghinggapinya. 
  2. Mendengar informasi di pengeras suara atau di media sosial melalui WA, ada orang yang meninggal yang menurut informasi adalah terkena Covid-19. Demikian pula di grup WA ada informasi bahwa si A, B atau C meninggal dunia karena terpapar Covid- 19, karena itu informasi-informasi yang demikian ini semakin memperparah konsisi sakitnya ketika sedang terpapar Covid-19. 
  3. Seringnya lalu-lalang mobil ambulans dengan suara sirine yang mengaung-ngaung sehingga menakutkan, karena yang terbayang pada dirinya bahwa mobil ambulan membawa orang sakit atau orang yang sudah meninggal. Hal demikian akan menjadi pukulan bagi orang yang sedang mengalami serangan atau terpapar virus corona. 
  4. Merasa menjadi orang yang sendirian, karena ketika sakit orang yang sehat akan menjaga jarak. Hal ini berlawanan dengan sunnah rasul dan kebiasaan, bahwa bila mendengar atau melihat orang yang sakit agar menengoknya. Bila ada orang yang meninggal agar bertakziyah. Prokes mengarahkan agar orang yang sakit untuk dijauhi, bila ada orang meninggal tidak perlu bertakziyah. 

 

Solusi ketika terpapar 

 

Setiap kesulitan pasti ada kemudahan, semua penyakit ada obatnya. Takut yang berlebihan akan memperparah kondisi demikian pula khawatir yang berlebihan. Namun juga agar tidak sembarangan, dengan menuruti hawa nafsu. Banyak orang yang mengatakan, jangan takut pada virus, takutlah kepada Allah, hidup dan mati Allah yang memutuskan. Kadang tanpa disadari bahwa pernyataan demikian ini akan menimbulkan konflik dan disharmoni dalam kehidupan manusia. Telah banyak orang yang terpapar, ada yang sembuh, ada yang terus sakit dan akhirnya meninggal, ada yang dirawat di rumah sakit atau melakukan Isoman. 

 

 Orang yang terpapar dan sehat kembali menyampaikan testimoninya tentang sakit dan menderitanya, sehingga berpesan agar kita semua untuk berhati-hati dan menjaga diri untuk mewujudkan rasa cinta dan sayangnya kepada keluarga, sahabat dan orang lain. Karena itu untuk menguatkan mental spiritual untuk meneguhkan diri dengan: 

 

  1. Selalu meningkatkan amal ibadah kepada Allah sebagai indikator peningkatan iman dan takwa kepada Allah. Iman perlu bukti yaitu dengan amal ibadah, sehingga dengan peningkatan amal ibadah itulah seorang hamba bisa mengabadikan diri mencurahkan perhatiannya untuk melaksanakan perintah-perintahnya Allah. Amal ibadah itu bisa menjadi wasilah ketika bermunajat kepada Allah. Sebagaimana kisah seorang tiga orang pemuda yang terjebak di dalam gua, pintu gua tertutup oleh batu yang besar sehingga tidak ada daya kekuatan untuk bisa menyingkirkan batu tersebut. Tiga pemuda itu masing-masing menyebutkan amal ibadah yang pernah dilakukan, dari itulah kemudian batu tersebut bergeser, sehingga tiga pemuda itu bisa keluar dari dalam gua. 
  2. Meningkatkan atau memperbanyak dzikir kepada Allah, (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. (QS, 13, Arra’du: 28). Munculnya suatu penyakit, apalagi dengan pandemi Covid-19 agar bila selalu ingat kepada Allah maka Allah pun akan memberikan ketenangan hati. Dengan hati yang tenang insya- Allah bisa melawan pandemi Covid-19 agar kehidupan bisa menjadi normal kembali. 
  3. Memperbanyak atau merutinkan untuk membaca Alquran, “Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.(QS, 17: Al Isra’: 18) 
  4. Berpikir positif, bahwa setiap orang hidup pasti mempunyai atau diberi ujian dan Allah memberikan ujian kepada hamba-Nya sesuai dengan kesanggupannya. 
  5. Hindarilah berita-berita yang dapat meresahkan. 

 

Tiap orang hidup diberikan kemulian dan kesengsaraan, kebahagiaan dan kesusahan, sehat dan sakit, dua sifat dan keadaan yang selalu melekat pada manusia. Allah memberikan kebebasan pada manusia untuk menjadi yang terbaik dengan selalu berusaha, ihtiar dan tawakal.

9/06/2021

Etika Ber-Medsos pada Grup WhatsApp – Sopan dan Berempati

WhatsApp adalah salah satu media komunikasi yang paling efektif dan sampai hari ini banyak orang yang memanfaatkannya sebagai sarana berkomunikasi, berkoordinasi, menjalin silaturahmi dan ada pula yang menggunakan sebagai media untuk berbisnis yaitu untuk mendapatkan penghasilan. Karena itu di dalam WhatsApp di samping secara personil ada WhatsApp group di mana keanggotaannya terdapat kelompok-kelompok tertentu, seperti grup bani, kantor, usaha atau bisnis, alumni, hoby dan kelompok-kelompok lainnya.

Anggota grup mempunyai kebiasaan dan sikap yang berbeda-beda, ada anggota yang aktif memberikan pesan, informasi dan lainnya. Ada yang sekadar memberikan jawaban, ada yang hanya sekali-kali saja kalau dipandang perlu atau ada yang sama sekali tidak pernah memberikan komen. Dia dimasukkan dalam anggota grup karena permintaan atau karena oleh admin dipandang mempunyai pemikiran, perasaan, latar belakang dan kepentingan yang sama. 

 

Dalam grup WA masing-masing orang mempunyai latar belakang, pemahaman dan pengetahuan serta kebiasaan berbeda-beda, sehingga kadangkala dalam melakukan komunikasi atau memberikan informasi, kadang kurang memperhatikan terhadap kepentingan orang lain. Yang penting Informasinya disampaikan, tidak menghiraukan Informasi yang disampaikan oleh teman-teman di dalam grup itu. Tak jarang kadang ditemukan informasi yang disampaikan tidak nyambung, tumpang tindih. Karena di dalam grup WA ini ada etika bagaimana agar masing-masing anggota grup bisa menghargai terhadap anggota grup. 

 

  1. Menggunakan bahasa yang santun, sopan, tidak menyakiti terhadap anggota kelompok yang lainnya. Bagaimanakah standar bahwa apa yang disampaikan itu tidak menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain? Hal ini perlunya empati, jadi bagaimanakah seandainya dirinya di beri ucapan atau kata-kata yang demikian itu. Kira-kira dirinya merasa tersinggung atau tersakiti atau tidak? Jadi sebelum membuat statement atau mengirimkan pesan moral di dalam grup WA perlu memperhatikan orang lain. 
  2. Dalam grup WA biasanya terdapat anggota yang menyampaikan informasi penting yang berkaitan dengan masalah kesehatan, sakit atau berita lelayu. Karena itu ketika ada anggota grup yang menyampaikan berita tentang orang yang sakit, misalnya minta doa agar yang sakit segera sembuh, dirinya atau keluarganya segera diberikan kesehatan disingkirkan dari penyakit. Bila masih ada anggota grup yang memberikan komentar tentang berita yang disampaikan, masih ada ucapan, support, dorongan moril mudah-mudahan segera diberikan kesehatan. Atau tentang berita lelayu, mudah-mudahan diampuni dosa dan kesalahannya oleh Allah, diterima amal ibadahnya . Ketika masih ada anggota grup yang memberikan informasi seperti itu, maka grup yang lain hendaknya tahan dulu untuk menyampaikan informasi yang lainnya. Misalnya ada berita lelayu atau duka. Anggota grup yang lain justru menyampaikan informasi bahwa anaknya diterima sebagai pegawai misalnya, kemudian menshare foto-foto tentang acara wisuda atau acara serah terima jabatan atau menyampaikan informasi bahwa dirinya telah memperoleh penghargaan. 
  3. Tidak men-share tentang kejadian-kejadian yang mengandung kekerasan penganiayaan, karena kejadian yang singkat kadang akan menimbulkan kebencian, menyalahkan salah satu pihak. Padahal tidak mengetahuai latar belakang yang sesungguhnya.
  4. Jangan terburu-buru men-share gambar berita, informasi yang diterima sebelum dicek kebenarannya. Segala informasi yang diterima hendaknya disaring dulu, diteliti mana yang layak untuk diteruskan atau mana yang untuk pengetahuan bagi dirinyanya. 

 

Begitulah beberapa etika atau cara kita menggunakan media sosial terutama WhatsApp, agar media komunikasi tersebut bisa memberikan manfaat bagi dirinya, orang lain dan juga bisa mendatangkan kedamaian dan ketenangan bagi semua orang. Media sosial itu ibarat pisau belati yang mempunyai dua sisi, dari sisi manapun bisa digunakan, karena itu media sosial khususnya WhatsApp, bagaimana bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk melakukan perbuatan yang mendatangkan kebaikan.

9/01/2021

Njagi, Ngrimat lan Ngiyataken Hidayah Iman - Khutbah Bahasa Jawa

Iman punika hidayah saking Ngarsa Dalem Allah, hidayah iman lan Islam kedah dipun syukuri kanthi nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah. Bukti saking iman inggih punika kanthi tumindak amal shalih, kanthi punika tiyang Islam kedah dhemen nindakaken amal shalih. 

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَخْلاَقَ مِنَ الدِّيْنِ، وأَعْلَى بِهَا شَأْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن وَقالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِيْنَ. اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ 

 

Para jemaah shalat Jum’at ingkang kawula hormati. 

 

Pertama lan ingkang paling utami, kawula tansah wasiat khususipun dhateng pribadi kawula piyambak, sumrambah dhumateng panjenengan sedaya, mangga kita tingkataken iman dan taqwa dhumateng Allah SWT, inggih punika kanthi nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan nilar sedaya awisanipun. Mugi-mugi kanthi istiqomah, ikhlas lan sabar anggenipun nindakaken dhawuhipun Gusti Allah. Ing salebetipun gesang kita tansah pinaringan kabegjan wiwit dunya dumugi benjang wonten ing alam akhirat, amin. 

 

Para sedherek ingkang kawula hormati. 

 

Allah subhanahu wa ta'ala sampun paring pengendikan wonten ing salebeting Alquran:

 

 وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ 

 

“ Sapa wong manut agama sak liyane Islam, mula babar pisan ora bakal tinarima (agama iku) saka dheweke, lan dheweke ing akhirat kalebu golongane wong- wong kang padha rugi”. (QS. Ali Imran: 85) 

 

Ayat punika nedahaken bilih kanthi ngugemi syariat agami Islam, mila sedaya amal saenipun badhe dipun tampi dening Allah. Kosok wangsulipun sinaosa tiyang punika nindakaken amal kesaenan, ananging boten iman dhumateng Allah lan utusanipun, mila amal ibadahipun boten badhe dipun tampi dening Allah. Mila iman ingkang sampun tinancep wonten ing sak lebetipun manah kedah tansah dipun kiyataken. Amargi iman punika badhe goyah kanthi mapinten-pinten pangridu, saget kanthi bandha dunya, pangkat lan jabatan, pakaryan lan gesang bebrayan. 

 

Mila supados hidayah iman lan Islam punika tansah tinancep ing kalbu lan ngrembaka ing amal kesahenan, wonten mapinten-pinten cara: 

 

1. Kita kedah tansah ngudi kaweruh, kanthi nindakaken pengaosan, maos buku-buku lan kitab. Mila kanthi tansah ngudi ilmu punika badhe dados tiyang ingkang wicaksana, boten gampil anggenipun nyacat, nyalahaken tiyang sanes, duka, sungkawa. Tiyang ingkang dhemen ngudi ilmu ing dalem akhlaq lan solah bawanipun badhe andhap ashor, tiyang Jawi mastani kados pantun ingkang sampun mratak. Pantun ingkang sak waunipun dangak, tambah dangu dados tumungkul amargi pantunipun aos. Nanging menawi pantunipun gabuk utawi boten wonten isinipun inggih tansah dangak. Mila Rasulullah Muhammad SAW tansah paring gati dhumateng tiyang Islam supados tansah ngudi kaweruh melai lahir dumugi seda, ninaosa tebih kedah dipun padosi. 

 

2. Tansah nindakaken amal shaleh, mergi iman punika kedah dipun kanteni kalian amal shalih. Amal shalih punika kangge mujudaken raos syukur dhumateng Allah. Amal shalih punika mujudaken saenipun hablun minannas. Kanthi hablun minannas punika mental lan spiritual tiyang Islam badhe dipun uji. Amargi tumindak sae asring boten dipun sunggati kanthi sae, punapa malih tumindak awon. Damel kesahenan boten masthi dipun wales kanthi kesaenan. Mekaten punika amargi Gusti Allah dadosaken manungsa angghadhahi watek lan akhlaq ingkang mawarni-warni. 

 

3. Dipun rutinaken maos Alquran, mergi Alquran sinaosa namung dipun waos, badhe nuwuhaken raos ayem lan tentrem:

 

 وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا 

 

“Lan Ingsun (Allah) turunake saka Alquran sawiji-wiji kang hiya iku tamba (lara sasar) lan hiya rupa rahmat tumrap wong-wong kang padha iman lan Alquran iku ora isa nambahi marang wong-wong dzalim kajaba mung karugen”. (QS. Al Isra’: 82) 

 

Kejawi saking punika maos utawi mirengaken Alquran ugi badhe dipun paring ganjaran dening Allah, dipun etang saking saben hurufipun malah badhe dipun tikelaken. 

 

4. Dipun kathah-kathahaken anggenipun nindakaken ibadah sunnah sak sampunipun ibadah fardhu dipun tindakaken. Contonipun shalat sunnah, puasa sunnah ingkang kathah warninipun, infaq lan shadaqah ingkang kathah marginipun, shilaturahmi lan senesipun. Kalebet ibadah maghdhah lan ghairu maghdhaipun tansah dipun tindakaken kanthi sesarengan. 

 

5. Dhemen nindaki majelis dzikir, jalaran ing saben wekdal para malaikat keliling ing lumahing bumi madosi tiyang-tiyang ingkang sami ninfakaken majis dzikir: 

 

 إنَّ لِلَّهِ تَعَالَى مَلَائِكَةً يَطُوْفُوْنَ فِي الطُّرُقِ يلْتَمِسُوْنَ أَهْلَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوْا قَوْماً يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ تَنَادَوْا: هَلُمُّواْ إلَى حَاجَتِكُمْ 

 

“Satuhune Allah Ta’ala dhuweni malaikat kang tansah mubeng-mubeng ing dalan-dalan goleki majlis dzikir, lamun wis nemu mula undang-undang marang kancane, mreneha mula bakal teka hajatira”. (HR. Buchari Muslim) 

 

6. Mikir lan gatosaken saking ayat-ayat Allah arupi alam semesta punika:

 

 اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ مَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا شَفِيْعٍۗ اَفَلَا تَتَذَكَّرُوْنَ 

 

“Gusti Allah kang nitahake langit lan bumi lan apa kang ana ing antarane langit lan bumi, ana ing sajrone nem dina, tumuli Panjenengane nguwasani ngarasy. Ora ana tumrap sira kabeh sak liyane Panjenengane sawijiene pawongan kang dadi kekasih, lan (uga) ora ana sawijine pawongan kang maringi syapangat. Mula apatoh sira kabeh ora padha migatekake ?” (QS. Assajdah: 4) 

 

7. Dhemen kumpul lan srawung kalian tiyang shalih, mila tiyang shalih punika badhe paring gati lan piwulang dhateng margi ingkang sae lan leres. Dhemen nindakaken kabecikan lan nilar dhateng perkawis ingkang awon lan sasar. 

 

8. Ngathah-ngathahaken maos tahlil:

 

 جَدِّدُواْ اِيْمَانَكُمْ, قِيْلَ يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُواْ اِيْمَانَنَا قَالَ اَكْثِرُواْ مِنْ قَوْلِ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ 

 

“Anyar-anyarna iman sira kabeh, sahabat matur kados pundi anggen kita dandosi iman kita? Rasul ngendika akeh-akena pada maca la ilaha illallah”. (HR. Ahmad lan Hakim) 

 

 Para sedherek, kaum muslimin ingkang kawula hormati. 

 

Iman punika ing salah satunggaling wekdal kraos kiyat lan ing wekdal sanes kraos kendor, mekaten punika ketingal saking amal ibadahipun. Pramila supados tansah kiyat kedah dipun uri-uri kanthi ikhlas, sabar lan istiqomah nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah SWT. Mugi-mugi Allah tansah paring kekiatan lan kesempatan dhateng kita sedaya, amin.

 

 أَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ , وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

8/22/2021

Muslim itu, Selalu Perbaiki Pemahaman dan Pengamalan Ajaran Islam

Islam adalah agama yang paling sempurna, karena Islam disampaikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad dan beliau adalah sebagai rasul yang terakhir. Salah satu fungsi rasul yang terakhir adalah menyempurnakan syariat agama sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Islam sebagai agama mengatur seluruh tata kehidupan manusia, dalam bidang aqidah, Syariah, ibadah, muamalah.

Ketika melaksakan haji wada’, nabi Muhammad menerima wahyu terakhir:

 

 اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ 

 

”Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu”. (QS. Al Maidah: 3) 

 

Wahyu yang terakhir menandakan bahwa Islam mempunyai sumber hokum, kitab suci yang sudah sempurna, akan tetapi dengan kesempurnaan agama Islam ini tidak menjamin bahwa pemeluk agama Islam atau muslim itu telah melaksanakan ajaran Islam sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mengapa demikian, karena agama Islam diwahyukan di tanah suci Mekkah, Islam datang ke Mekah, dimana orang Mekah sudah mempunyai keyakinan dan kepercayaan menyembah kepada Tuhan selain Allah. Demikian pula perilaku kehidupan sehari-harinya, suka mabuk-mabukan, berjudi, minum-minuman keras, berzina, saling membunuh dan perilaku buruk lainnya. Dan ketika Islam masuk ke Indonesia, masyarakatnya sudah mempunyai keyakinan dan kepercayaan pada benda-benda, roh nenek moyang dan telah beragama selain Islam. 

 

Islam datang untuk menyampaikan rahmat bagi sekalian alam, Islam datang membawa kedamaian bagi seluruh umat manusia, akan tetapi dalam prakteknya, pemahaman dan pengamalan masing-masing orang tentang Islam mempunyai tingkatan yang berbeda-beda. Ada orang yang menganut agama Islam sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan utusannya, ada yang masih mencampurbaurkan dengan keyakinan-keyakinan yang lain. Demikian pula dalam perilaku akhlaknya, ada yang selaras dengan apa yang diyakini dan diucapkan, sehingga terwujud suatu integritas antara ucapan dan perbuatan seiring sejalan. Tetapi ada juga yang mempunyai keyakinan tetapi perbuatannya melenceng dari apa diyakini dan dikatakan. 

 

Yang demikian ini sudah terjadi pada masa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga di dalam Alquran sudah disebutkan kriteria masing-masing orang. Ada mukmin, muslim, muttaqin, muhlashin, muhshinin, fasiqun, kafirun. Karena itu berkaitan dengan momen tahun baru hijriyah, sahabat Umar bin Khatab pernah berkata: 

 

حاسبوا انفسكم قبل ان تحاسبوا 

 

“Koreksilah dirimu, sebelum dikoreksi (dihisab)”. 

 

Mengoreksi diri sendiri, bermuhasabah, sejauhmana pemahaman dan pelaksanaan Islamnya, tentu saja dengan mengkaji kitab suci dan sunnah rasul. Oleh karena itu orang Islam Islam harus gemar dengan ilmu dan senang mencari ilmu, karena ilmu adalah nur yang akan menerangi dan mengarahkan kehidupan manusia. Dalam beberapa hadis rasul juga menyampaikan bahwa, mencari ilmu wajib bagi setiap muslim, mencari ilmu tidak ada batas usia, karena sejak buian hinggal masuk ke liang lahad, mencari ilmu tidak memandang jauh atau dekat, karena walaupun di negeri Cina ilmu harus dicari. Terkadang kesalihan bukan terletak pada kedalaman ilmu, karena lihatlah apa yang dikatakan jangan siapa yang berkata. Semua itu dilakukan agar pemahaman dan pengamalan ajaran Islam sesuai dengan kehendak syari’at. 

 

Benarnya keyakinan dengan meneguhkan kalimat Tauhid dan mengamalkannya, sempurnanya ibadah bila terus memperbaharuinya dengan melaksanakan yang fardhu dan memperbanyak ibadah sunnah, memperbaharui budi pekerti dengan memahami diri sendiri dan berempati pada orang lain. Sempurnanya ilmu pengetahuan dengan terus belajar dan mengamalkan ilmunya. Karena sesungguhnya tidak ada manusia yang sempurna kecuali selalu berupaya untuk mencari kesempurnaan, tidak ada manusia yang paling baik kecuali terus memperbaiki diri dan amal perbuatannya.

 

 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا 

 

“Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seorang dari kalian memperbaiki ke-Islamannya maka dari setiap kebaikan akan ditulis baginya sepuluh (kebaikan) yang serupa hingga tujuh ratus tingkatan, dan setiap satu kejelekan yang dikerjakan akan ditulis satu kejelekan saja yang serupa dengannya". (HR. Buchari) 

 

 وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ 

 

“Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika salah seorang dari kalian memberbaiki ke-Islamannya, maka setiap amal shalih yang ia lakukan akan ditulis dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan setiap kesalahan yang ia lakukan akan ditulis apa adanya sehingga ia berjumpa dengan Allah 'Azza wa Jalla." (HR. Ahmad) 

 

Hadits yang diriwayatkan Imam Buchari dan Ahmad bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan informasi kepada umatnya, bahwa ke-Islaman yang dianut hendaknya diperbaiki sejauh mana pemahaman dan pengamalan ajaran Islam. Prinsip-prinsip aqidahnya, karena aqidah yang lurus akan menuntun pada perilaku yang baik dan benar, sebaliknya aqidah yang melenceng maka perilaku dan perbuatannya cenderung akan melenceng dari kaidah syar'i, sehingga dikhawatirkan amal perbuatannya, yang seakan-akan adalah perbuatan yang baik, namun ternyata ditolak. Bahkan aqidah yang tidak lurus bisa menghapuskan amal ibadah yang lainnya. 

 

Rasulullah disamping menyampaikan informasi untuk memperbaiki amal ibadahnya, ternyata rasul juga memberikan janji, bahwa siapapun yang mau memperbaiki ke-Islamannya, bila itu merupakan perbuatan baik, maka pahalanya akan dilipatgandakan mulai dari 10 kebaikan sampai 700 tingkatan. Namun bila itu kejelekan maka tidak akan dilipatgandakan, tetapi setaraf dengan kejelekan yang sudah dilakukannya. Kenikmatan dari Allah apa lagi yang kamu dustakan, setiap kebaikan yang kita lakukan akan dilipatgandakan pahalanya, namun bila itu kejelekan akan dibalas setara. Tetapi jangan kemudian kita memandang bahwa amalan dan ibadah kita sudah cukup, pahala sudah cukup, karena manusia diberi nafsu yang cenderung melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Karena hendaknya kita selalu berupaya untuk senantiasa memperbaiki ke-Islaman, agar ibadah yang dilakukan benar-benar menjadi ibadah yang diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala.