7/09/2013

Puasa Menurut Ahli Tasyawuf


Bulan Ramadhan adalah merupakan bulan penggemblengan diri untuk meraih terajad muttaqin, kedatangan Bulan Ramadhan sangat dinanti-nantikan kedatangannnya. Sehingga disana-sini banyak sekali rencana kegiatan menyambut Ramadhan dan aktutualisasi kegiatan pada bulan Ramadhan. Hitungan tanggal pada bulan Ramadhan mempunyai keutamaan, dan tentu saja keutamaan itu akan dapat dirasakan bila diantara kaum muslimim juga berupaya untuk melaksanakan. Rasulullah SAW menegaskan:

اوله رحمة واوسطه مغفرة واخره عتق من النار


“ Awal dari puasa Ramadhan adalah rahmat yang pertengahan adalah maghfirah dan yang terakhir adalah dihindarkan dari siksa neraka”.

Bila kita lihat dari hadits tersebut ada tiga kelompok yaitu yang pertama, pertengahan dan yang terakhir. Yang pertama bila kita hubungkan dengan tanggal dalam satu bulan ada 29 atau tiga puluh hari. Bila itu 30 hari maka yang pertama adalah tanggal 1-10, yang pertengahan adalah 11-20 dan yang terakhir adalah 21-30. Jadi pada tanggal 1-10 pada bulan Ramadhan Allah SWT melimpahkan seluruh rahmatnya bagi hamba-hambanya utamanya adalah orang-orang yang sedang melaksanakan ibadah puasa, dan pada tanggal 11-20 Allah melimpahkan maghfirahnya bagi seluruh alam dan yang terakhir tangal 21-30 karena umat Islam telah memperoleh rahmatnya maka secara otomatis akan diampuni segala kesalahannya kepada Allah SWT, maka tanggal yang 21-30 umat Islam tinggal mengharapkan surganya Allah SWT karenanya disingkirkan dari siksa neraka.

Harapan ibadah setiap muslim pada dasarnya dari ketiga hal tersebut rahmat, maghfirah dan khusnul khatimah. Namun harapan ini bukan diperoleh dengan cara yang mudah tetapi membutuhkan upaya yang sungguh-sungguh dan istiqomah dalam menegakkan dan menjalankan ajaran Islam. Berkaitan dengan hal tesebut untuk meraihnya, para ahli tasawuf menempuh tiga jalan yaitu takhalli, tahalli dan tajalli.
Takhalli adalah mengeluarkan segala macam perilaku yang tidak terpuji, sebagaimana ketika sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan tidak diperbolehkan berkata kotor, membuat gaduh, berkelahi, Rasulullah SAW bersabda:

والصيام جنة فاذا كان يوم صوم احدكم فلا يرفث ولا يصحب فان سابه احد او قاتله فليقل: انى صائم 

متفق عليه

“ Puasa adalah perisai (dari api neraka dan perisai dari perbuatan yang jelek). Bila hari berpuasa seseorang diantara kamu, maka janganlah berkata kotor atau berbuat gaduh (sebab orang yang berpuasa biasanya mudah marah, oleh karena itu dilarang marah dan berkata jelek). Bila ada orang yang mencacinya atau mengajak berkelahi, maka katakanlah: sesungguhnya aku sedang berpuasa”.

Menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan yang dapat merusak ibadah puasa serta mengeluarkan segala perbuatan jelek tersebut, hal ini adalah perilaku yang amat terpuji. Maka bila dapat menempuh jalan tersebut niscaya akan memperoleh Rahmat Allah SWT dan ini diupayakan pada sepuluh hari yang pertama pada bulan Ramadhan.

Setelah dapat melampui sepuluh hari yang pertama dengan usaha yang sungguh-sungguh mengeluarkan segala perilaku yang tidak baik, maka kemudian masuk pada tahapan yang kedua yaitu tahalli, yaitu menghiasi diri dengan perilaku yang terpuji. Segala bentuk perbuatan yang tidak baik diganti dengan perbuatan yang terpuji. Yang tadinya mempunyai kebiasaan berkata kotor diganti dengan kata-kata yang indah, ucapan dusta diganti dengan yang jujur, sifat tamak diganti dengan ikhlas, sifat su’uzan diganti dengan khusnuzan, sifat kibir diganti dengan tawadhu’, dan sifat-sifat baik lainnya selaras dengan akhlaq nabawiyah dapat direalisasikan dalam sepuluh hari yang kedua pada bulan Ramadhan. Maka bila dapat menempuh jalan tersebut niscaya akan diberikan ampunan oleh Allah SWT. Dan bila telah dapat menempuh dua tahapan sepuluh hari yang pertama dan yang kedua, maka akan memperoleh kenyataan kedekatan dengan Alah SWT atau yang dikenal dengan tajalli.

Tajalli bila dalam ilmu tasyawuf dimaksudkan adalah menyatunya kehendak Allah pada hambanya, sehingga segala yang dilakukan hamba adalah selaras dengan kehendak Allah SWT. Setiap ‘abid ketika melaksanakan ibadah puasa sudahkan terasa dekat kepada Allah, ataukah ibadah khususnya ibadah shalat hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja. Tentunya setiap ‘abid menginginkan bahwa pelaksanaan ibadah dari waktu-kewaktu akan menunjukkan rasa kedekatan diri kepada sang Khaliq. Karena Allah SWT itu dekat bahkan kedekatan Allah kepada hambanya lebih dekat dari urat leher, sudahkah merasakan yang demikian. Bila sudah, berarti tinggal mempertahankan, namun bila belum harus dapat mengupayakannya.
Karena apalah artinya ibadah seribu tahun bila terasa jauh dari Tuhannnya, karenanya ibadah tidak dapat menjadi landasan amal perbuatan manusia yang dari waktu-kewaktu ingin meraih tingkatan kebaikan. Karena itu momen 10 hari yang terakhir pada bulan Ramadhan adalah merupakan hasil dari kedekatan diri kepada Allah SWT, karenanya ibadah pusa Ramadhan dengan segala amalan baiknya, baik itu shalat tarowih, tadarus Alquran, shadaqah, pengajian dan sebagainya dilakukan dengan perasaan senang, tak pernah ada rasa bosan bahkan enggan untuk melakukannya. Apalagi motivasi yang telah diberikan oleh Rasulullah SAW, bahwa pada malam-malam yang terakhir pada bulan Ramadhan, Allah akan melipatkan pahala seorang abid yang bernilai dengan ibadah 1000 bulan. Karena itu para ‘abid tidak pernah meluangkan waktunya kecuali untuk sepenuhnya meningkantkan ibadah kepada Allah SWT sehingga terasa sekali kedekatannnya kepada Allah SWT.

Untuk meraih dari semua itu maka mulai hari ini, akan kita bahas tentang perilaku yang tidak baik yang harus dikeluarkan dari dalam diri kita, kemudian dilanjutkan dengan upaya untuk menghiasi diri dengan perilaku yang baik. Keistiqamahan, keikhlasan dan kesungguhan dalam melaksanakan ibadah ini, pada akhirnya akan memperoleh hasil yang baik. Dari pemahaman syariat dan akhlaq menuju pada hakekat makrifatullah. Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq, hidayah dan inayahnya kepada kita sekalian, amin.

Do'a Penyerahan Bantuan Kursi Roda


الحمد لله حمدا شاكرين حمدا نعمين حمدا يوافى نعمه ويكافئ مزيده ياربنا لك الحمد كما ينبغى لجلا ل وجهك الكريم وعظيم سلطانك اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه اجمعين.


Ya Allah, Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji bagi-Mu, maka hanya kepada-Mu kami mengucapkan pujian dan menumpahkan rasa syukur. Atas kenikmatan itu ya Allah, pada hari ini kami dapat menyaksikan, penyerahan bantuan kursi roda bagi hamba-Mu, yang karena kehendak-Mu, Engkau ciptakan hamba-Mu dalam kondisi yang berbeda.

Ya Allah, sesungguhnya dengan kemurahan-Mu, Engkau ulurkan tangan hamba-Mu, dengan kasih sayang-Mu Engkau getarkan hatinya. Turut merasakan apa yang yang mereka rasakan. Hamba-Mu ingin berjalan dan berlari namun Engkau ciptakan dalam keterbatasan. Ya Allah jadikanlah sumbang rasa dan bahagia ini dapat menghibur mereka, meringankan langkah dan memudahkan harapannya. Karena sesungguhnya segala yang terjadi pada hamba-Mu adalah atas kehendak-Mu dan Engkau yang maha tahu atas segala sesuatu.

Kami yakin ya Allah, kenikmatan yang Engkau berikan, tidaklah dapat kami hitung, karena itu jadikanlah kami sebagai hamba-Mu yang pandai bersyukur dan berterimakasih. Dan kami selalu memohon kepada-Mu ya Allah, mudahkanlah urusan kami, ringankanlah beban yang Engkau amanatkan kepada kami. Karena hanya kepada-Mu kami memohon dan hanya kepada-Mu kami berserah diri.

Ya Allah, janganlah Engkau sesatkan hamba-Mu setelah Englau berikan petunjuk, terangilah hati dan fikiran kami dengan nur hidayah-Mu. Agar setiap langkah kami selalu berada dalam ridha-Mu.

Ya Allah ya ghoffar, ampunilah dosa kami, orang tua kami, para pemimpin kami, kabulkanlah permohonan kami, amin.

ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الا خرة حسنة وقنا عذاب النار, والحمد لله رب العالمين

7/07/2013

Sabar Jalan Meraih Derajad Taqwa


Sabar adalah suatu kata yang mudah untuk dikatakan, namun sangat sulit untuk diterapkan. Bahkan kesabaran bukan datang dengan tiba-tiba, namun sesungguhnya kesabaran itu membutuhkan pelatihan, bahkan perlu ujian. Semakin banyak ujian, tantangan dan gangguan maka akan menjadi pribadi yang tangguh, sabar, dan siap untuk mencari solusi.

Banyak orang yang mendapat ujian namun justru hanya bisa menyalahkan orang lain, pikiran kalut, hati kusut sehingga semakin banyak masalah. Lain halnya orang yang sudah berulang kali mendapatkan musibah maka hatinya tetap tenang sehingga dengan demikian setiap menghadapi masalah seberat apapun akan dapat diselesaikan. Karena Allah telah mengatakan bahwa tiadalah disebut sebagai orang yang beriman kecuali pasti akan diuji.

Sabar berarti menahan yang bermakna tahan mendertita untuk tidak lekas marah, tidak mudah patah hati, tidak mudah putus asa. Bulan puasa adalah bulan untuk menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa dan juga segala hal yang dapat merusak kualitas ibadah puasa. Setelah waktu imsa’ sampai waktu maghrib harus bisa menahan untuk tidak makan, minum, hubungan suami istri dan juga menahan diri dari perilaku marah-marah, ghadzab, adu-domba, memfitnah, ghibah, namimah, suudhan (berburuk sangka) dan perilaku-perilaku buruk lainnya. Bila ingin meraih derajad taqwa, mau atau tidak mau harus bisa menahan diri dari hal-hal tersebut diatas.

Menurut KH. Bahaudin Mudharary dan buku Esensi Puasa Kajian Metafisika menyampaikan bahwa bahwa segala sesuatu yang ditangkap oleh panca indra, berupa benda dan kejadian disekitar akan menjadi gambaran-gambaran materialistis. Gambaran-gambaran ini dipangkal otak akan menjadi nafsu-nafsu. Maka pikiran yang materialistis itu akan berbaur lagi menjadi nafsu keinginan, kebencian, kemurkaan dan sebagainya. Kemudian mengalir lagi kepusat kemauan dengan melalui urat syaraf menuju otak untuk melakukan perbuatan. Karena daya pikir bercampur dengan daya nafsu, maka dinamai roh hewani. Jika nafsu ini tidak dikendalikan maka akan terus bergelora didalam jiwa, laksana api yang menjilat-jilat tanpa ada pemadamnya. Nafsu yang demikian ini saling bergetar atau beresonansi dengan yang sejenis serupa jin/ iblis.
Dari sinilah pangkal dari segala perbuatan keji, sadis dan semacamnya semakin merajalela. Bagi orang yang melaksankan ibadah puasa dengan seluruh amalan-amalannya tentu dapat mencegah daya syetaniyah yang mempengaruhi panca indera, sekaligus dapat mengendalikan gerakan-gerakan perbuatan jasmani.

Karena itu agar ibadah puasa menjadi ibadah puasa yang dapat membentuk pribadi yang taqwa, alangkah baiknya untuk mengetahui hal-hal yang harus ditahan atau dikendalikan. Untuk lebih jelasnya dalam hal apa saja kesabaran itu sering ditemukan. Secara syari’at sabar menahan diri dari tiga hal:
1. Sabar untuk taat kepada Allah.
Taat kepada Allah adalah sangat berat dan sulit, membutuhkan kesiapan tenaga, pikiran bahkan berupa harta benda seperti zakat dan haji. Yang lebih penting lagi bahwa ketaatan didalamnya ada kesulitan terhadap jiwa dan raga sehingga diperlukan kesabaran dan ketabahan.

"Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (Ali Imran: 200)

2. Sabar dari hal-hal yang diharamkan.
Manusia harus menahan diri dari dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah, hal ini karena sifat dan dorongan manusia untuk melakukan perbuatan tercela, maka manusia harus menahan diri dari kebohongan, penipuan, interaksi, memakan harta yang batil, berzina, minum khamr, pencurian, kemaksiatan. Semua ini membutuhkan ketabahan, kesabaran, kekuatan untuk menahan diri dari dorongan hawa nafsu.
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Azzumar: 10)

3. Sabar terhadap takdir Allah. Takdir Allah ada yang disukai dan ada yang tidak disukai, bila hal yang disukai maka kita harus bersyukur, takdir yang tidak disukai seperti terkena musibah pada badan, harta, keluarga dan masyarakat diperlukan kesabaran dan ketabahan. Manusia harus sabar dari musibah yang menimpanya, mereka tidak melakukan hal-hal yang dilarang seperti keluh kesah baik dengan lisan, hati maupun anggota badan.

4. Sabar terhadap perbuatan orang lain:
• Tidak melayani permusuhan/ pertengkaran.

" Dan Bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik." (Al Muzammil: 10)
• Menerima akibat perbuatan.

"Maka Bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik. (Al Ahqaf: 35)

• Memaafkan perilaku orang lain.
" Tetapi orang yang bersabar dan mema'afkan, Sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (Assyura: 43)

Inilah tantangan yang dihadapi oleh orang-orang yang beriman, sekalipun bulan Ramadhan para syetan dibelenggu, namun sesungguhnya yang dapat membelenggu syetan hanyalah dirinya sendiri. Karena ketika setiap muslim telah menyadari bulan puasa penuh dengan rahmat dan maghfirah dari Allah, Allah akan melipatgandakan pahalanya sampai 700 tingkatan. Setiap muslim termotivasi untuk menggapai keutamaan itu maka para syetan menjadi takut untuk menggoda manusia. Berupaya menjalankan perintah Allah membutuhkan kesabaran, meninggalkanpun juga membutuhkan kesabaran. Bahakan karena puasa adalah ibadah sirri tentu lebih banyak godaannya. Semoga kita akan dapat menjalankan ibadah puasa dengan kesabaran yang akhirnya akan terwujud sebagi pribadi muslim yang bertaqwa.

7/06/2013

Kebahagiaan Menyambut Bulan Ramadhan


Bulan suci Ramadhan adalah salah satu bulan yang mempunyai banyak sekali keutamaan, karena tidurnya orang yang berpuasa saja adalah berpahala. Namun tidur disini tentu saja dalam pengertian tertentu, karena bila setiap hari selama bulan Ramadhan hanya digunakan untuk tidur saja sehingga melupakan kewajiban maka hal ini tidak dibenarkan. Misalnya karena alasan sedang berpuasa sangat hemat dalam mengeluarkan energi takut capek, lapar, haus dan sebagainya. Ada tidak mau bekerja karena alasan sedang berpuasa, sedang bekerja adalah salah satu kewajiban untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena itu tidur disini tentu saja dalam kontek bila di khawatirkan pada bulan Ramadhan akan lebih banyak melakukan perbuatan maksiat, seperti bertengkar, adu-domba, berkata dusta dan perbuatan-perbuatan tercela lainnya.

Ketika telah mengetahui keutamaan ibadah di bulan Ramadhan maka dalam setiap hitungan menit-maupun detik hanya untuk memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. Begitu besarnya keutamaan pada bulan Ramadhan Rasulullah SAW pernah bersabda:

مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّ مَ اللهُ جَسَادَهُ عَلَى النِّيْرَانِ


“ Barang siapa yang merasa senang akan memasuki bulan Ramadhan maka Allah mengharamkan jasadnya masuk ke neraka (Hadits)

Dalam hadits tersebut bila kita pahami dari kalimatnya terdiri dari:
1. من فرح Barang siapa yang merasa senang
2. بدخول رمضان : akan memasuki bulan Ramadhan
3. حر م الله جسده على النيران :maka Allah mengharamkan jasadnya masuk ke neraka.

Alangkah mudahnya seorang muslim kelak di yaumil qiyamah untuk bisa masuk ke dalam Surganya Allah, baru saja merasa senang saja Allah sudah mengharamkan masuk kedalam nerakanya.
Namun yang perlu kita pahami bahwa sesungguhnya senang itu adalah bahasa hati, bukan bahasa akal. Karena itu sekalipun menurut penilaian orang lain susah dan menyedihkan dari dalam diri pribadi merasa senang. Ada seorang pedagang yang sedang sibuk melayani pembeli, tiba-tiba terdengarlah seruan panggilan adzan, hatinya terpanggil untuk mengingat untuk menjalankan perintah Allah. Dengan senang hati segera bergegas untuk menegakkan shalat, dan dengan sentuhan hati pula mengatakan pada pelanggan, maaf toko saya tutup dulu karena saya mau shalat, nanti setelah shalat akan saya buka kembali.

Ketika menjalankan getaran hati ini, tentu akan akal menyayangkan mengapa disaat toko atau warung sedang ramai dengan pembeli, justru ditinggalkan hanya untuk menegakkan shalat yang mana shalat bisa di tunda setelah sepi pembeli. Apalagi bila yang berbicara itu nafsu tentu akan lebih menyayangkan. Akan kehilangan pelanggan yang berdampak pada menurunnya pendapatan. Namun sesungguhnya bila hati yang bicara tentu lain, karena kedekatan hati pada Allah akan memudahkan segala urusan, urusan yang sulit akan menjadi mudah, urusan yang berat menjadi ringan, urusan yang besar menjadi kecil hal ini karena pertolongan Allah.

Karena itu setiap ibadah yang dilakukan karena mengikuti panggilan hati tentu akan dilakukan dengan mudah, ringan dan penuh keikhlasan. Walaupun pada mulanya dilakukan dengan keterpaksaan namun setelah memahami rahasia dibalik perintah Allah itu banyak hikmahnya, maka setiap perintah Allah akan dilaksanakan dengan senang hati.

Demikian pula sebagai seorang muslim yang sebentar lagi akan memasuki bulan suci Ramadhan. Marilah kita bertanya pada diri kita masing-masing sudah berapa tahunkah kita melaksanakan puasa Ramadhan dan akan yang keberapa kali. Apakah setiap kali akan memasuki bulan Ramadhan kita senang atau justru sebaliknya kita susah.

Karena itu setiap akibat tentu ada sebabnya, mengapa senang akan memasuki bulan Ramadhan. Inilah yang hendaknya kita ketahui bersama agar kita merasakan senang akan memasuki bulan Ramadhan yang akhirnya akan dimasukkan kedalam golongan ahli Jannah. Mengapa merasa bahagia dengan datangnya bulan Ramadhan, ada beberapa alasan yang menjadi dasar:
1. Akan menjumpai ibadah seribu bulan/ 83 tahun:

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. Al Qodar: 1-3)

2. Allah membuka pintu surga dan menutup pintu neraka:

اِذَاجَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ اَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِقَتْ اَبْوَابُ النَّارِ وَسُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْن

" Jika bulan Ramadhan datang pintu surga dibuka pintu neraka ditutup dan para syetan dibelenggu oleh Allah".

3. Setiap amal ibadah akan dilipatgandakan oleh Allah:

كُلُّ عَمَلِ بْنِ اَدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا اِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفِ, قَال اللهُ تَعَالَى اِلَّا الصَّوْمَ فَاِنَّهُ لِى وَاَنَا أَجْزِى بِهِ (رواه مسلم

" Semua kebaikan yang dilakukan orang yang beriman akan dilipatgandakan pahalanya antara 10-700 kali, kecuali puasa, maka sesunguhnya puasa itu adalah hak-Ku dan Aku memberikan pahala menurut kehendak-Ku".


4. Akan diampuni dosa-dosa yang telah dilakukan.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


"Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu".

5. Akan menjumpai bulan kesabaran:

هو شهر الصبر, والصبر ثواب الجنة

“ Bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan ganjaran kesabaran adalah masuk surga.
Hadits yang lain menyebutkan

أوله رحمة وأوسطه مغفرة واخره عتق من النار

"Awal ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah kemerdekaan dari api neraka".

Inilah beberapa janji Allah yang di berikan kepada orang-orang yang beriman berkaitan dengan datangnya bulan Ramadhan. Mudah-mudahkan akan menumbuhkan rasa senang kepada kita akan segera datangnya bulan suci Ramadhan. Karena itu setelah mengetahui keutamaan bulan Ramadhan, tentu sangat disayangkan bila tidak dapat memaksimalkan kegiatan pada bulan Ramadhan.

7/04/2013

Menghalalkan Yang Haram


Ada suatu percakapan antara seorang kyai dengan pegawai Kantor Urusan Agama yang bernama pak Salim, pada suatu saat terdengar sapaan keakraban antara pak Salim dengan seorang kyai (tokoh agama dalam masyarakat). Assalaamu ‘alaikum pak kyai, pak Salim menyapa kyai. Sang kyai menjawab, wa’alaikum salam warahmatulahi wabarakaatuh, ini mau kemana? Karena sang kyai juga sudah merasa kenal dengan pak Salim, setelah menjawab salam dilanjutkan dengan pertanyaan mau kemana. Pak Salim menjawab “ada tugas luar kyai”. Sang kyai langsung menyapa lagi, o ya, mau menghalalkan yang haram ya.

Kata-kata yang singkat dan diucapkan dengan muka sang kyai dengan berseri-seri sedikit tersenyum. Begitu mendengar kata-kata sang kyai Pak Salim langsung menunjukkan kata tidak suka, benci, marah namun karena ingin tetap menjaga image, maka segera tancap gas sepeda motornya. Sepanjang perjalanan pak Salim berfikir, dan berkata dalam hati kurang ngajar pak kyai, mengapa dia berkata semacam itu. Hal ini terjadi karena ketika mendengar ucapan sang kyai, yang terlintas dalam benaknya bahwa institusi tempat bekerja yaitu Departemen Agama yang sekarang menjadi Kementerian Agama pada tahun-tahun yang lalu dicap sebagai institusi terkorup. Sekalipun dia tidak korupsi namun merasa malu bila dikatakan korupsi. Dan setelah di audit Kementerian Agama memperoleh predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

Sepanjang perjalanan pak Salim hanya memikirkan kata-kata sang kyai. Perasaan marah dan benci pada sang kyai karena ucapannya. Namun ternyata Allah tidak menghendaki hambanya larut dalam emosi yang tidak terkendali, Allah memberikan bisikan yang sangat halus dan pelan-pelan. Pak kyai bilang menghalalkan yang haram. Pak Salim terus menelusuri kegiatan dari Kepala KUA dan Penghulu yang diantara tugasnya adalah menikahkan dua insan yang berbeda jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya diharamkan memadu kasih dengan bercumbu rayu sampai pada berhubungan sebadan. Sebelum nikah aktifitas seperti ini termasuk kategori zina dan menjadi perbuatan dosa yang diharamkan oleh agama Islam. Namun setelah nikah aktifitas tersebut berballik termasuk kategori ibadah. Jadi aktifitas seksual laki-laki dan perempuan sebelum menikah termasuk perbuatan zina yang merupakan perbuatan dosa besar. Namun setelah terjalin dalam ikatan pernikahan yang kemudian dicatatkan di KUA menjadi perbuatan ibadah.

Pak Salim memperoleh jalan terang, mungkin pak kyai mengira bahwa aku adalah seorang penghulu yang akan menikahkan dua insan yang berbeda jenis kelamin. Setelah memperoleh jalan terang ini didalam perjalanan dia berbaik menghujat dirinya sendiri, alangah bodohnya aku, tetapi untung saya tidak mengucapkan kata-kata kasar pada pak kyai. Astaghfirulah, semoga Allah mengampuni kesalahan hamba-Mu yang dhoif ini. Semoga Allah tidak memutuskan hubungan shiaturahim kami, insya-Allah suatu saat kami akan bershilaturahim ke rumah pak kyai. Itulah tekad dan niat mulia pak Salim, semoga Allah memberikan jalan terbaik bagi hamba-Nya yang salih.

Karena itu Rasulullah Muhammad SAW bersabda “Bukanlah keperkasaan itu orang yang dapat mengalahkan musuh-musuhnya, tetapi keperkasaan adalah orang yang dapat menahan nafsunya ketika sedang marah”.

7/03/2013

Tukang Foto Cari Muka


Cari muka adalah salah satu perilaku yang tidak terpuji, karena perilaku ini identik dengan penjilat, sifat munafik, sikap riya’. Maka siapapun tentu saja akan merasa marah bila dikatakan sedang cari muka. Seorang staf yang selalu malas dalam bekerja, namun ketika atasan datang pura-pura sedang aktif bekerja. Begitu pula senang berkasak-kusuk mencari kesalahan orang lain, menjilat dan menghasut kepada atasannya. Perbuatan ini jelas akan menimbukan kedisharmonisan dalam lingkungan kerja. Sesama mitra kerja merasa tidak cocok, dan temannyapun merasa malas untuk berinteraksi, pergaulan terasa kaku, seakan dalam setiap pekerjaan akan terjadi kecemasan diantara teman kerja.

Kebetulan ada seorang pegawai, karena dia mempunyai sedikit ketrampilan untuk mengabadikan suatu peristiwa. Dengan mengambil foto dalam setiap kegiatan. Boleh dikata sebagai fotografer amatiran. Namun karena keikhlasan dan merasa terpanggil untuk mengabadikan kegiatan tersebut, maka sekalipun secara spesific bukan bidangnya namun dilakukan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Ketulusan hati berbalik ketika ada sahabatnya yang bekerja di luar kota. Karena ada suatu kegiatan yang sama sehingga berkumpulah sahabat-sahabat satu profesi, bak menjadi ajang reuni. Seorang karyawan putar kesana-kemari mencari fokus bidikan. Setiap momen yang indah selalu diabadikan. Sehingga juru fotopun tidak segan untuk berdiri didepan audien, bahkan para pejabat. Hal yang demikian bagi juru foto dipandang sebagai hal yang wajar dan dimaklumi. Satu kegiatan ke kegiatan yang lain selalu diikuti. Sampailah pada suatu kegiatan seorang sahabat mengatakan, wah kamu mondar-madir senang cari muka saja? Teman yang di bilang suka cari muka tidak menjawab apapun, karena mungkin dia hanya bercanda saja. Mungkin dia memancing bahwa sahabatnya marah atau tidak. Ternyata teman yang di bilang suka cari muka diam dan tidak menunjukkan tanda-tanda marah.

Ternyata ucapannya itu di jawab dengan sendiri, bukankah juru foto memang orang yang mencari muka, ada orang yang sedang pidato yang utama dibidik adalah mukanya. Karena memang sangat jarang bila orang mengambi foto dari belakang atau bagian-bagian tertentu saja. Langsung temannya menjawab, ya kalau saya memfoto pantat, pinggul atau bagian-bagian tertentu saja maka akan termasuk dalam kategori fotografer amatir yang porno dan norak.

Jadi memang benar, bila fotografer kerjanya memang mencari muka. Tapi mencari muka bukan dalam konotasi yang negatif, sebagaimana sifat-sifat diatas. Namun seorang juru foto yang memandang bahwa hasil bidikannya baik bila mengabadikan gambar orang, mukanya ditampakkan dengan jelas.
Bagaimanakah bila orang mau membuat KTP, SIM, Paspor dan kartu identitas lain yang harus memajang fotonya. Namun yang dipajang foto kepala, tangan, kaki atau perutnya, atau hanya separoh muka saja. Tentu hal ini akan sulit untuk dikenali, dan tidak akan diterima oleh petugas penerima pendaftaran. Karena memang sangat mulianya muka manusia. Akan dikenal karena dari mukanya. Misalnya ada kecelakaan yang mana organ tubuh manusia hancur, akan sulit diidentifikasi. Namun ketika mukanya masih ada dengan mudah akan di kenali tidak perlu dengan sidik jari.

Karena itu sangatlah baik bila setiap umat manusia dapat menahan diri dari marah, tidak reaktif. Bisa dibayangkan bila juru foto amatir sebagaimana diatas langsung bersikap reaktif tentu akan malu. Karena belum mengetahui maksud dari ucapannya namun sudah berkesimpulan, bahwa dia telah menghina dengan mengolok-olok. Bahkan yang lebih anarkhis akan main pukul, sehingga gara-gara dari ucapan akan terjadi permusuhan bahkan akan menimbulkan pertumpahan darah. Karena itu Rasulullah Muhammad SAW bersabda “Bukanlah keperkasaan itu orang yang dapat mengalahkan musuh-musuhnya, tetapi keperkasaan adalah orang yang dapat menahan nafsunya ketika sedang marah”.

6/29/2013

Do'a Upacara Penyerahan Panji


Panyandra Srah-srahaning Panji Kitha Wonosobo

Pengetan ambal warsa kitha Wonosobo ingkang kaping 188 warsa 2013 samangke dhumawah ing tanggal 24 Juli 2013, grengseng pengetan punika sampun dipun melai wiwit dinten Setu Wage tanggal 29 Juni 2013 kanthi Panyandra Srah-srahan Panjining Kitha Wonosobo. Ewodenten Panjining Kitha Wonosobo punika wonten sekawan sepindhah Dwaja Gula Klapa (bendera Merah Putih), Songsong Agung Pangayoman (Songsong Tunggul Naga, Tumbak Karawelang, Panji Lambang Daerah) setunggal ingkang dados tiga punika minangka panji angka kalih tiga lan sekawan. Ing Upacara punika dipun tutup kanthi munajat, nyenyuwun dhateng Gusti Allah kanthi waosan do'a, ingkang kita serat ing ngandhap punika.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًايُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍوَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ.

Dhuh Gusti Pengeran ingkang nguwaosi sedaya alam, namung dhumateng Paduka kawula ngaturaken roas syukur lan mongkokipun penggalih, amargi namung saking kersa lan idi restu Paduka sahingga kita waget makempal ing ing sasana punika, saperlu kangge ndherek migatosaken, panyandra srah-srahan panjinging kitha Wonosobo. Mugi adikersa punika dados saperanganipun saking ngabektinipun kawula dhumateng Paduka.

Dhuh Gusti Allah, Pangeran ingkang maha mirah lan welas asih, mugi Paduka tansah ngluberaken kanugrahan dhumateng sedaya warga Wonosobo, anggenipun makarya ndherek sareng dhateng para pangembating negari. Mujudaken kitha Wonosobo ingkang Aman, Sehat, Rapi lan Indah, selaras kalian tanggap warsanipun kitha Wonosobo ingkang kaping 188 ing warsa 2013 punika.

Dhuh Gusti Ingkang Maha Wicaksana, mugi kanthi srah-srahan panjining kitha Wonosobo punika, mralambangaken saking semangat lan tanggel jawabipun para abdining negari anggenipun mengku jejibahan. Hamengku wajib minggah tata titi tentrem kerta raharjanipun, mujudaken masyarakat ingkang adi luhung, jer budi bawa laksana gemah ripah loh jinawe, kanthi ridha lan agenging sih pangapura.

Dhuh Gusti pangeran ingkang maha kuwaos, namung dhumateng Paduka kawula manuwun lan dhumateng Paduka kawula manembah. Mila kanthi mekaten dhuh Gusti, mugi Paduka kersa paring pitedah dhateng kita, kados tiyang-tiyang ingkang dipun paringi pitedah. Lan mugi Paduka kersa paring pitedah dhateng kita margi ingkang leres lan Paduka kersa maringi kekiatan anggen kita nindakaken.
Dhuh Gusti Allah mugi Paduka kersa nyembadani panuwun kita, amin.

رَبَّنَا اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْاٰ خِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

6/25/2013

Aneka Macam Perilaku Mentalitas Manusia I


Kalimat thayyibah (la ilaha illallah) adalah inti dari idiologi Islam yang menjadi dasar seluruh amal perbuatan setiap muslim. Karena itu setiap muslim yang aqidahnya sudah lurus akan mendorong seluruh perbuatannya menjadi lebih baik. Sehingga ketika amal perbuatannya itu baik maka setiap muslim akan merasakan kedekatannya dengan Allah. Allah telah menyebutkan bahwa Allah lebih dekat dari pada urat leher. Karena itu banyak terjadi dirasakan, walaupun Allah itu dekat namun terasa jauh. Merasa do’anya tidak didengar oleh Allah, apalagi di kabulkan.

Mengapa bisa demikian, jawabnnya hendaknya setiap muslim untuk bermuhasabah apakah idiologinya sudah sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah. Maka bila idiologi telah lurus amal perbuatnya akan cenderung untuk melakukan perbuatan yang baik yang diridhai Allah SWT. Bila demikian maka pada akhir hayat akan termasuk golongan oarang yang mati khusnul khatimah, dapat mempertahankan kalimah thayyibah, sehingga kunci surga dipegang, dan diberi keleluasaan untuk masuk ke dalam surganya Allah SWT.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كان اخر كلامه لااله الاالله دخل الجنة (وراه احمد وابوداوود والحكم عن معاذ حديث صحيح)


“ Rasulullah SAW bersabda:”barangsiapa akhir kalimatnya (ucapannya/perkataannya) Laa Illallah, maka dia (akan) masuk surga.(HR. Ahmad, Abu Dawud dan Hakim, dari Mu’adz).

Perlu diketahui bahwa kata”perilaku” bisa bermakna perbuatan, tindakan dan ucapan. Sedangkan kata ”mentalis” bisa bermakna kepribadian, nurani dan hati yang menentukan perilaku.
Dalam konteks hati, Rasulullah bersabda:” ketahuilah sesungguhnya didalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, bila segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh. Ingat, daging itu ialah hati”.(HR.Buhari).

Hadits tersebut menunjukkan perilaku halus, yaitu setiap muslim supaya bisa membaca kalimat ”laa ilaaha Ilallah” setiap hari sesudah shalat fardhu sedikitnya lima kali atau beberapa kali semampunya asal dengan ikhlas. Membiasakan membaca demikian itu termasuk ibadah ‘Aammah. Dalam konteks “laa Ilaaha illallah” sebagai zikir, Rasulullah SAW bersabda:

افضل الذكرلااله الاالله وافضل الدعاء الحمد لله (وراه التر مذى عن جابرحديث صحيح)

“ Paling utamanya zikir ialah Laa ilaallah dan paling utamanya do’a ialah Alhamdulillah.(HR.Turmudzi,dari Jabir,).

Ketika membaca laa ilaaha illallah, muslim harus yakin dan mengerti / memahami maknanya lalu berdo’a kepada Allah SWT mohon semoga kalimat/ ucapan terakhir menjelang mati bisa membaca laa ilaaha illallah. Dengan demikian, kalau dia pada akhir hidupnya bisa membacanya, maka ia termasuk orang yang insya- Allah akan masuk surga.

Jadi, pembiasaan membaca Laa illaha illallah terserah berapa kali tiap hari itu merupakan perilaku, sedangkan pengertian/ pemahaman dan pengamalan makna laa ilaaha Illallah itu merupakan mentalitas pembaca yang menyadari. Dan itulah mentalitas yang baik yang timbul karena iman yang berfungsi.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليحسن الى جاره, ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه, ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيرا اوليسكت (وراه البخاري والنسائى واحمد عن ابى هريرة)

“ Rasulullah saw bersabda:”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaklah ia berbuat kebajikan kepada tetangganya.Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaklah dia menghormati tamu. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaklah dia berbuat baik atau hendaknya dia diam”.(HR.Bukhari,Nasaai,dan Ahmad,dari Abu Hurairah).

Hadits ini menunjukkan tiga perintah kepada muslim yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir/ kiamat supaya memiliki perilaku mentalitas yang baik Islami. Dan realisasi perintah tersebut akan menimbulkan pergaulan yang saling hormat-menghormati, toleransi, solidaritas, rasa kebersamaan dan kekompakan dan tiga perintah itu ialah:
Muslim supaya berbuat kebaikan Islami yang antara lain menghormati tetangga dengan tidak menggangu, memberi pertolongan, menengok kalau keluarga tetangga ada yang sakit atau lainnya.
Muslim supaya memuliakan/ menghormati tamu. Caranya antara lain: menyambut kedatangannya dengan ramah tamah/ sopan santun, segera menyilakan duduk di tempat yang sudah disediakan di ruang tamu yang tertata baik, rapi dan bersih, menghidangkan hidangan pertama ialah senyum. Rasulullah saw, bersabda: Senyummu pada muka saudaramu itu sedekah. (HR.Bukhari).

Tetangga dan tamu wajib di hormati, meskipun mereka non muslim selama mereka tidak berbuat buruk terhadap muslim.sebab, Allah SWT tidak melarang muslim untuk berbuat kebaikan dan adil kepada non muslim.

Selanjutnya dalam memuliakan/ menghormati tamu, kalau hidangan (minuman/ makan) memang sudah tersedia hendaknya dihidangkan dan bersemangat mempersilahkan tamunya untuk minum/ makan dengan penuh keakraban. Kalau tamu mempunyai maksud/ keinginan/ tujuan, hendaknya muslim memenuhinya, tetapi kalau muslim tidak mempunyai apa yang diinginkan tamunya, hendaknya menolak dengan kata-kata yang baik dan minta maaf.
Muslim supaya berkata/ berucap/ berbicara dengan perkataan/ ucapan/ bicara yang baik-baik atau diam saja sewaktu berkumpul.

Kalau tiga perintah tersebut dapat dilaksanakan dengan ikhlas demi hanya mengharap ridha Allah SWT, terwujudlah perilaku mentalitas Islami dalam pergaulan hidup bertetangga, berkeluarga dan bermasyarakat dan menimbulkan saling menghormati, keamanan dan kebersamaan.
Perilaku mentalitas Islami ialah mendirikan shalat (mentalitas ini prinsip dan wajib), memberikan/ mensedekahkan harta yang dicintai (ini berat dan sulit) kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, Ibnu sabil, orang meminta-minta, memerdekakan budak, mengeluarkan zakat, menepati janji, sabar menghadapi kesempitan/ kesusahan dan jujur

“ Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Baqarah: 177)


Selain itu, perilaku mentalitas Islami ialah bahwa bila muslim menerima kesulitan/ kesempitan/ kesusahan, dia sabar. Sebaliknya bila dai menerima kesenangan/ harta, dia bersyukur.(HR.Muslim dan Ahmad). Allah SWT berfirman :

انما الموء منون اخوة فاصلحوا بين اخويكم واتقواالله لعلكم ترحمون

 

“ Sesungguhnya orang-prang mukmin adalah bersaudara karena itu danaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya mendapat rahma )”.
Al Hujurat: 10)

Sesama mukmin harus ber-ukhuwah (bersaudara) berdasarkan iman. Ayat inilah sebagai argumentasi adanya penyebutan Ukhuwah Imaniyah sekaligus disebut Ukhuwah Imaniyah Islamiyah karena ukhuwah itu ajaran Islam. Maka ukhuwah Islamiyah Islamiyah (UII) menumbuhkan akhlaqul karimah yang puncaknya ikhlas demi mengharap ridha Allah SWT semata.

6/23/2013

Manfaat Bangun Pagi Lebih Awal


Kisah nyata perjalanan hidup bani Adam, ada seorang pelajar yang datang ke sekolah selalu telat. Ketika teman-temannya sudah berbaris untuk apel pagi bahkan kadang teman-temannya sudah memulai pelajaran, dia baru sampai sampai. Sehingga setiap guru yang memberikan pelajaran pada awal pelajaran tentu sudah paham, dia pasti terlambat. Bahkan cerita inipun sudah sampai ke wali kelas. Disekolah tentu yang paling bertanggung jawab atas bimbingan dan pengarahan adalah wali kelas. Sehingga dengan bahasa yang halus ditanyakan kepada anaknya yang sering telat. Mengapa selalu telat, dia manjawab bahwa bangunnya kesiangan. Lalu wali kelaspun mengejar jawaban siswanya dengan menyusul pertanyaan yang baru. Apakah setiap hari kesiangan, lalu kamu bangun pagi jam berapa? Dijawab dengan jawaban ringan tanpa beban. Kadang jam 05.30 kadang jam 06.00 atau kadang lebih dari itu. Wali kelas mengelus dada, sambil berkata, astaghfirullah, apakah kamu tidak menegakkan shalat Subuh? Bisa dibayangkan bila bangun pagi jam 5.30 atau jam 06.00 untuk wilayah Indonesia bagian barat apakah masih bisa?

Adalagi kisah seorang pegawai yang harus apel pagi pada jam 07.00, dia sama seperti pelajar diatas sering telatnya dari pada datang lebih awal. Bisa kita bayangkan bila setiap pagi selalu bangun pagi diwaktu akhir, niscya akan merasakan betapa singkatnya waktu yang dilalui, betapa banyak pekerjaan terbengkelai karena tidak membiasakan diri untuk bangun pagi. Karena itu bila diantara kita ada yang telah terbiasa bangun siang, maka berupayalah untuk merubah kebiasaan buruk tersebut. Mengapa bangun pagi disebut kebiasaan yang buruk:
1. Dengan bangun siang otomatis tidak dapat menegakkan shaat subuh, bila sekali atau dua kali bangunnya kesiangan tentu dimaklumi. Namun bila hal tersebut sudah menjadi kebiasaan, akan menimbulalkan preseden buruk. Orang Islam yang melupakan kewajiban teritama shalat lima waktu, dia artinya telah merobohkan agama. “ Shalat adalah tiangnya agama, barang siapa yang menegakkan shalat maka ia telah menegakkan shalat, namun barang siapa meninggalkan shalat berarti telah merobohkan agama. Karena itu orang tersebut hatinya akan menjadi keras, hatinya menjadi jauh kepada Allah. Sekalipun Allah telah menyatakan bahwa kedekatan Allah terhadap hambanya diibaratnya seperti urat pada lehernya. Namun sekalipun Allah telah menyatakan dekat dengan hambanya, tetapi ternyata hambanya merasa jauh dengan Allah. Bagaimana akan merasa dekat dengan Allah bila kewajiban yang telah diberikan Allah tidak pernah dihiraukan.

2. Akan tercatat sebagai ahli surga “ dari Abu Hurairah Berkta, Rasululah SAW bersabda, Malaikat malam dan siang silih berganti kepadamu, dan mereka berkumpul pada waktu shalat Subuh dan Asar. Kemudian Malaikat yang semalaman denganmu naik (ke langit) lalu Allah bertanya kepada mereka, sedang Allah yang lebih tahu tentang mereka, bagaimana kamu meningalkan hamba-hamba-Ku? Para malaikat berkata “ kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami juga datang kepada mereka dalam keadaan shalat “. (HR. Buchari Muslim).

Sungguh bahagianya bila pergantian sifnya para malaikat siang dan malam, hamba Allah dalam kondisi sedang shalat Subuh dan Ashar

3. Bangun pagi akan merasakan waktu yang panjang, apalagi bangun pagi dalam setiap waktu dilaksanakan sebelum ada panggilan menegakkan shalat. Lebih bagus lagi bila sebelum waktu subuh sudah menegakkan shalat Tahjjud. Dilanjutnya dengan tadarus Alquran, lebih bagus lagi dilanjutkan dengan membaca kitab.

4. Bangun pagi akan mengikis penyakit hati.

1.       Ingatlah bahwa penyakit hati yang lebih mengetahui lebih dahulu adalah orang lain, namun kadang bagi yang bersangkutan sekalipun sesungguhnya sakit tetapi tidak merasakan sakit.


5. Bangun pagi akan membuat tubuh sehat, karena disamping dapat menghirup udara segar di pagi hari juga dapat berolah-raga, jalan-jalan atau lari pagi. Tentu badan yang menjadi sehat, karena dengan olah membantu kelancaran metabolisme tubuh akan bekerja secara normal.

6. Bangun pagi akan memulai kegiatan baru, bila tiap hari telah membiasakan bangun lebih pagi, maka akan mempunyai sifat optimis dalam menghadapi hari esok. Sebaliknya bila bangunnya sampai siang maka semua kegiatan baru sudah didasari sifat terburu-buru. Maka tentu sampai siang bahkan sampai waktunya pulang. Nyaris menjadi hari yang kelam tidak mempunyai hasil.

Bila hari esok bercita-cita menjadi hari yang lebih baik, tiada pilihan kecuali bangun pagi, syukur diawali dengan shalat Tahjjud, dan empat rekaat untuk shalat fajar. Mulailah dari diri sendiri, dari hal yang kecil dan mulai dari sekarang.

6/21/2013

Istiqamah Istikharah Istighfar, Benteng Keamanan Diri


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.


Kaum Muslimin Jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Marilah kita senantiasa berupaya untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah, dalam arti kita berupaya untuk menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan iman dan taqwa inilah kita akan senatiasa siap siaga didalam menghadapi perubahan zaman. Dimana romantika kehidupan dunia ada siang dan ada malam. Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti. Kadang naik kadang turun. Ada suka ada duka. Ada senyum ada tangis. Kadangkala dipuji tapi pada suatu saat kita dicaci. Tidak ada keabadian didalamkehidupan dunia.namun sebaik-baik kita dengan amal shalih akan meraih keabadian kehidupan diakherat dalam naungan ridhaNya.
Ada bebarapa pegangan untuk meraih ketengan hidup didunia. Tiga amalan baik tersebut adalah Istiqamah, Istikharah dan Istighfar.
1. Istiqamah, yaitu kokoh dalam aqidah dan konsisten dalam beribadah. Keimanan menjadi dasar dalam setiap perbuatan iman yang lurus dan benar maka akan mengarahkan pelakunya pada amal ibadah yang baik.
Begitu pentingnya sifat istiqamah ini sehingga Rasulullah menyampaikan pesannya:

عَنْ أَبِيْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قُلْ لِيْ فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُهُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ. (رواه مسلم

“Dari Abi Sufyan bin Abdullah RA berkata: Aku telah berkata, “Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu bertanya kepada orang lain selain engkau. Nabi menjawab, ‘Katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah’.” (HR. Muslim).

Orang yang istiqamah selalu kokoh dalam aqidah dan tidak goyang keimanan bersama dalam tantangan hidup. Sekalipun dihadapkan pada persoalan hidup, ibadah tidak ikut redup, dalam kondisi kaya atau miskin, tetap memperhatikan haram halal, dicaci dipuji, sujud pantang berhenti, sekalipun ia memiliki fasilitas kenikmatan, ia tidak tergoda melakukan kemaksiatan.
Orang seperti itulah yang dipuji Allah SWT dalam Alquran surat Fushshilat ayat 30:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatahkan): “Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

2. Istikharah, selalu mohon petunjuk Allah dalam setiap langkah dan berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Setiap orang mempunyai kebebasan untuk berbicara dan melakukan suatu perbuatan. Akan tetapi menurut Islam, tidak ada kebebasan yang tanpa batas, dan batas-batas tersebut adalah aturan-aturan agama. Maka seorang muslim yang benar, selalu berfikir berkali-kali sebelum melakukan tindakan atau mengucapkan sebuah ucapan serta ia selalu mohon petunjuk kepada Allah. Sebagai mana sabda rasul:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ. (رواه البخاري ومسلم

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah". (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika sekiranya ucapan itu tidak baik, apalagi sampai menyakitkan orang lain maka tahanlah, jangan diucapkan, sekalipun menahan ucapan tersebut terasa sakit. Akan tetapi jika ucapan itu benar dan baik maka katakanlah jangan ditahan. Rasul pernah bersabda:
قُلِ الْحَقُ وَلَوْ كَانَ مُرًّا
“ Katakanlah yang haq sekalipun pahit (pada akhirnya

Pernah Rasulullah SAW diberi tahukan oleh Malaikat Jibril tentang suatu hal, sebagaimana sabdanya:


أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدًا عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقٌ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ. (رواه البيهقي

“Jibril telah datang kepadaku dan berkata: Hai Muhammad hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau suatu saat akan mati, cintailah apa yang engkau sukai tapi engkau suatu saat pasti berpisah juga dan lakukanlah apa yang engkau inginkan sesungguhnya semua itu ada balasannya. (HR.Baihaqi)”.

Manusia diberi kebebasan dalam berbuat, namun manusia juga harus mempertanggungjawabkan segala perbuatnnya. Tak ada suatupun yang lepas dari pengawasan Allah, sehingga dihadapan Allah tidak ada orang yang merasa teraniaya, namun semuanya didasarkan atas perilakunya.
Karena itu dengan senantisa memohon petunjuk Allah (istikharah) dalam segala langkah kita, niscaya akan dijauhkan dari segala bentuk kekecewaan dan keputusasaan. Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ وَلاَ عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ


Tidak akan rugi orang yang beristikharah, tidak akan kecewa orang yang bermusyawarah dan tidak akan miskin orang yang hidupnya hemat. (HR. Thabrani dari Anas)

3. Istighfar, yaitu memohon ampun kepada Allah atas segala yang dilakukan. Karena sesungguhnya segala perbuatan manusia tidak akan lepas dari salah dan lupa yang akan menimbulkan dosa. Karena itu dengan menyadari bahwa dirinya orang yang dhoif akan menjad pribadi yang lebih baik bila dirinya adalah makhluh yang serba kurang. Tidak sedikit persoalan besar diawali dari hal yang kecil bahkan diakibatkan oleh dirinya sendiri.

Dalam persoalan ekonomi, jika rizki Allah tidak sampai kepada kita disebabkan karena kemalasan kita, maka yang diobati adalah sifat malas itu. Kita tidak boleh menjadi umat pemalas. Malas adalah bagian dari musuh kita. Jika kesulitan ekonomi tersebut, karena kita kurang bisa melakukan terobosan-teroboan yang produktif, maka kreatifitas dan etos kerja umat yang harus kita tumbuhkan. Namun lain halnya bila kehidupan sosial ekonomi sebuah bangsa mengalami kesulitan. Kesulitan itu disebabkan karena dosa-dosa masa lalu yang menumpuk yang belum bertaubat. Jika itu penyebabnya, maka obat satu-satunya adalah beristighfar dan bertobat.

Allah berfirman yang mengisahkan seruan Nabi Hud Alaihissalam, kepada kaumnya:
“Dan (Hud) berkata, hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS. Hud:52).

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Gegap gempita dunia ini, berkembanganya IPTEK hendaknya diimbangi dengan IMTAQ, diantara dengan tiga hal istiqamah, istikharah dan istighfar akan membimbing manusia menjadi insan yang terpilih dan dimuliakan oleh Allah SWT, amin

أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


















6/19/2013

Do'a Malam Nisfu Sya'ban


Bulan Sya’ban adalah bulan dimana umat Islam mulai bersiap-siap untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Bulan dimana setiap muslim hendaknya mulai bersiap diri baik jasmani maupun rohani untuk menyambut datangnya bulan yang penuh keberkahan. Sehingga pada pertengahan bulan tersebut untuk memanjatkan do’a kepada Allah agar diberikan umur yang panjang dan baik amal perbuatannya, mohon agar diberi rizki yang halal dan thayyib dan memohon kepada Allah agar diberikan ketetapan iman dan Islam.

Do’a Nisfu Sya’ban dibaca pada tanggal 15 setelah selesai menegakkan shalat Maghrib, diawali dengan membaca surat Yasin 3 x. Setelah selesai membaca sekali berdo’a memohon kepada Allah agar diberikan panjang umur, kemudian setelah selesai membaca yang kedua berdo’a agar diberikan rizki yang banyak, halal dan thayyib, dan setelah selesai membaca yang ketiga berdoa agar selalu diberikan ketetapan iman dan Islam. Kemudian membaca do’a Nisfu Sya’ban sebagaimana teks di bawah ini:

اَللّهُمَّ يَاذَاالْمَنِّ وَلاَيُمَنُّ عَلَيْك يَاذَاالْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَاذَاالطَّوْلِ وَالْإِنْعَامِ لآ إِلهِ إِلاَّ أَنْتَ ظَهْرَ اللاَّجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ وَأَمَانَ الْخَائِفِيْنَ

اَللّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُوْمًا أَوْ مَطْرُوْدًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَىَّ فِي الرِّزْقِ فَامْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ فِى أُمِّ الْكِتَابِ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِيْ وَطَرْدِيْ وَاِقْتَارَ رِزْقِي وَأَثْبِتْنيْ عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِي كِتَاِبكَ الْمُنَزَّلِ عَلَى نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ يَمْحُواللهُ مَايَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

إِلَهِي بِالتَّجَلِّي الْأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ الَّتِي يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيْمٍ وَيُبْرَمُ اِصْرِفْ عَنِّى مِنَ الْبَلاَءِ مَاأَعْلَمُ وَمَا لَاأَعْلَمُ وَمَا أَنْتَ َعَلَّمُ الْغُيُوْبِ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ


Ya Allah, wahai pemilik karunia dan tak ada yang dapat memberi karunia kepada Engkau.
Wahai pemilik kebesaran dan kemuliaan, wahai pemilik anugerah dan kenikmatan.
Tak ada Tuhan selain Engkau, tempat bersandar bagi orang yang butuh pertolongan, tempat berlindung bagi orang yang butuh perlindungan, dan tempat yang aman bagi orang-orang yang takut.
Ya Allah, jika Engkau telah tulis aku dalam buku induk kesengsaraanku, keburukan nasibku, ketersingkiranku, dan kesempitan rizkiku, dan tetapkanlah aku dalam buku induk Engkau sebagai orang yang bahagia, diberi rizki, diberi petunjuk kebaikan. Karena sesungguhnya Engkau telah berkata, dan perkatanmu adalah benar, didalam kitab-Mu yang kau turunkan kepada nabi-Mu yang kau utus, yaitu Allah akan menghapus apa saja yang ia kehendaki dan menetapkannya, disisinyalah buku induk.
Ya Tuhanku dengan keagungan-Mu yang paling besar pada malam Nisfu Sya’ban yang mulia ini, yang pada malam ini setiap perkata yang pasti dibedakan dan ditetapkan, jauhilah aku dari bala’, yang kuketahui dan yang tak kuketahui, sedangkan Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang gaib, berkat rahmat-Mu wahai zat yag pengasih diantara para pengasih.

6/18/2013

Dahulu Gagah Sekarang Lemah


Dahulu ketika aku masih menempuh pendidikan di SD memandang beberapa orang muda-mudi, bergembira-ria layaknya orang yang sudah dewasa, kadang mereka berjalan berduaan kadang berkumpul bersama teman-temannya. Ketika telah sampai pada pendidikan SMP aku melihat mereka mulai nampak sebagai pribadi yang mulai nampak kematangan jiwanya, mental dan spiritualnya. Ketika aku SMA mereka telah mulai sibuk dengan urusannya masing-masing, karena mereka telah menemukan pasangan hidup masing-masing, mulai sibuk dengan urusan keluarganya masing-masing. Ketika aku selesai SMA dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi untuk kuliah, aku berada diluar kota sehingga mulai jarang bertemu dengan mereka dan aku mulai masuk dalam komunitas baru, sehingga ketika aku selesai kuliah mereka sudah nampak menjadi orang tua, bahkan ada yang sudah mempunyai cucu.

Kita dibedakan dalam waktu dan kesempatan, mereka pernah merasakan muda sedang aku belum menjadi tua. Diantara mereka dalam usia senja ada yang telah merasakan hidup rukun, damai dan sejahtera dalam komunitas masyarakat desa dengan semboyan "mangan ora mangan sing penting kumpul", makan tidak makan yang penting bisa bersatu. Masyarakat desa berprinsip hidup yang praktis dan sederhana. Tidak terlalu berambisi dalam kemewaahan hidup didunia, yang penting adalah kehidupan yang rukun, tentran, damai, jiwa dan semangat kegotongroyongan senantiasa melekat pada pribadi mereka. Sehingga mereka hidup ditengah-tengah masyarakat tetap menjadi pepundhen, orang yang senantiasa dihormati. Bahkan ucapannya dipandang sebagai sabda pandhita ratu yang sentiasa di tunggu-tunggu sebagai nasehat hidup.

Kemudian aku terus melangkah menyusuri waktu, dalam meniti hidup untuk menjadi manusia yang mandiri dan berdikari. Didalam komunitas pekerjaan selalu ada perbedaan strata sosial, sebagai pegawai yang lebih berkecimpung dalam kegiatan public relation, dituntut untuk mempunyai sikap yang fleksibel dan dinamis dalam berinteraksi sosial., perbedaan status sosial, ekonomi, politik, berbedaan etnis, suku, bahasa dan agama. Sepuluh tahun yang lalu aku telah mengenal para manajer, pimpinan dan para stacholder aku berupaya untuk selalu menjaga sikap, tutur kata yang sopan, aku menyadari bahwa statusku berbeda jauh dengan mereka. Aku menyadari jika mereka tidak level untuk ngobrol dengan aku dan akupun menyadari yang demikian itu.

Ada bayak diantara mereka yang berupaya untuk menjaga emage. Sehingga walaupun mereka telah mengenal dan tahu tentang aku, namun mereka senantiasa menjaga jarak, cuek, tak acuk . Walaupun sudah mengenal sejak lama namun sikapnya masih terasa kaku, tidak ada canda tawa. Tidak seperti dengan mas Paimin, mas Sardi, mas Sapto, mbak Surti, mbak Kinah dan karyawan-karyawan yang berkerja tulus bukan untuk meraih jabatan dan kehormatan. Dengan mereka aku lebih lancar dalam berbicara, canda, tawa bahkan ketika suatu sasat diantara kita mendapat rizki tidak segan-segan untuk mentraktirnya. Makan bersama terasa tiada beban.

Waktu terus berlalu, tidak seperti dahulu mereka masih terlihat gagah, pakaian selalu necis, rambut tersisir rapi, banyaklah orang yang menaruh hormat kepada mereka. Ternyata waktu sekarang sudah berubah total, aku melihat diantara mereka yang dahulu gagah sekarang sedang berbaring lemah di rumah sakit. Ada pula yang dahulu gagah sekarang sering terlihat berjalan-jalan diwaktu pagi hari, sekarang mereka ingin mengenang kembali kegagahan pada 15 tahun yang lalu, namun ternyata otot-otot terasa lemah, kulit keriput, tulang keropos, tubuh sering terasa pegal dan linu, leher terasa kaku, mata berkunang-kunang, tangan dan kaki sering kesemutan, sering terasa mau kencing dan keluhan-keluhan lain yang dahulu tidak pernah dirasakan.

Kehormatan dan jabatan hanya tinggal kenangan. Aku melihat mereka hanya merasa iba, tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa, karena aku masih takut untuk menyapa diantara mereka yang dahulu gagah takut jika mereka tidak mengacuhkan. Sebenarnya aku tahu bahwa mereka butuh teman yang siap untuk menjadi pendengar tetapi aku masih teringat dahulu ketika diantara mereka masih gagah mereka tidak memperdulikan apa yang aku katakan.

Aku tahu diantara mereka ada yang telah berhasil mendidik dan membimbing putra-putrinya menjadi orang yang dapat mewarisi kesuksesan orang tuanya. Namun apa yang terjadi, ternyata anak-anak mereka telah sibuk dengan urusannya masing-masing, bahkan untuk bertemu dengan anaknya sangat sulit seperti ketika aku dadulu mencari untuk meminta tanda tangan.

Dahulu mereka gagah sekarang aku merasa lebih gagah. Sekarang mereka lemah, aku dan kawula muda yang lain suatu saat akan menjadi lemah. Kegagahan fisik suatu saat akan musnah dan tidak berguna, namun sikap, hati dan akhlaq yang bagus tidak akan pernah melemah. Sebagai tamsil biji padi semakin lama akan semakin menunduk dan berisi. Lain halnya pohon tebu, semakin banyak bunganya maka batangnya hilang air gulanya, batangnya juga kehilangan esensinya, akan digunakan untuk kayu bakarpun tidak bisa, akhirnya menjadi barang yang tidak berharga, karena dikumpulkan dengan sampah-sampah yang lain.

Rasulullah SAW pernah bersabda “Allah tidak akan melihat bentuk tubuh dan rupa seseorang tetapi Allah melihat hati dan amal perbuatnnya”.

6/13/2013

Mabuk Sinetron hati menjadi keras


Ingatkah kita dengan sinetron “Tersanjung, Mak Lampir” yang ditayangkan oleh stasiun TV Indosiar. Kisahnya selalu dinanti-nantikan oleh para pemirsa. Ini kami sebutkan karena dua sinetron yang mempunyai banyak penggemar. Nyaris tidak pernah akan berakhir. Sebut saja Mak Lampir yang selalu kalah dan menang. Ketika kalah suatu saat menang lagi, dikalahkan lagi dan seterusnya. Produser dan semakin kreatif untuk merangkai suatu cerita yang bisa membuat para pemirsa semakin penasaran dan semakin ketagihan untuk menyaksikan terus kisah-kisahnya. Tentu saja stasiun TV juga semakin menjadi TV yang mempunyai banyak penggemar.

Dari kisah sinetron masa yang lalu, sekarang berganti pada zaman sekarang, ternyata tayangan fiktif dan kontemporer tetap menjadi tontonan yang selalu dinantikan. Sebut saja sinetron “Raden Kian Santang di MNCTV, Tukang Bubur Naik Haji di RCTI”. Sampai kapankah kisah ini akan berakhir. Ternyata semakin lama justru kisahnya semakin berlika-liku. Muncul tokoh-tokoh baru yang juga membuat penasaran.
Apa yang bisa pemirsa harapkan dari kisah tersebut, kadang bagi penggemar yang sudah di mabuk sinetron malah kadang tidak bisa menjawab. Karena dengan tekun menyaksikan kisah tersebut tidak dapat memberikan solusi. Bila mempunyai hutang justru hutang semakin banyak, bila ingin menghibur diri mendapat ketenangan namun yang didapat hati malah semakin keras. Bagi pelajar dan mahasiswa PR atau tugas malah semakin menumpuk. Bila ibu rumah tangga malah lupa untuk menyiapkan sarapan pagi karena tidurnya sampai larut malam sehingga tidak bisa bangun pagi. Bila seorang pegawai maka bisa lalai dengan pekerjaannya. Bila ahli ibadah akan menjadikan jauh dari Allah, karena zikirnya tidak sampai hati. Ketika mau melaksanakan shalat menunggu waktu iklan, namun jeda waktu iklan dalam kondisi shalatpun pikirannya berada pada tontonan, bisa dikatakan shalatnya tidak khusuk.

Sadarkah berapa banyak waktu dihabiskan untuk menonton dan berapa waktu untuk menjalankan ibadah maghdhah. Berapapun lamanya waktu untuk menonton tidak terasa bahkan masih mera kurang, namun sedikit waktu untuk beribadah sudah merasa cukup. Loba adalah perilaku yang tidak baik, karena selalu merasa kurang, tetapi loba dalam hal ilmu dan ibadah sangatlah dianjurkan. Siapakah yang jadi teladan, tidak lain adalah Rasulullah SAW, beliau senantiasa menganjurkan kepada umatnya untuk mencari ilmu sejak dari buaian sampai ke liang lahat. Dan dalam hal beribadah diperintahkan agar melihat kepada orang yang lebih baik dan shalih. Karena ibadah yang dilakukan semata-mata untuk mewujudkan kesyukuran terhadap nikmat Allah. Sungguh Allah telah memberikan kenikmatan yang tidak dapat dihitung, dan manusia tidak akan dapat menghitung nikmat Allah. Maka sebagai wujud rasa syukur dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kepada Allah SWT.

Setiap tayangan atau tontonan ibarat pisau bermata dua, dua sisi sama-sama tajamnya. Ketajaman suatu yang baik tentu akan berdampak pada perilaku hidup yang baik. Baik dalam bersikap, dalam bertutur kata, dalam beraktifitas. Niat lurus maka akan menghasilkan sikap dan perilaku yang tulus, antara hati, lisan dan perbuatan menjadi satu kesatuan. Ini tentu akan membentuk pribadi yang baik. Mereka ini jauh dari sikap munafik. Sikap yang tidak baik, merugikan diri sendiri, orang lain bahkan dapat merusak tatanan serta norma dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sebaliknya bila ketajaman itu mengarah pada perilaku yang tidak baik maka akan berdampak pada tutur kata, sikap, perilaku yang tidak baik. Karena itu pisau dengan dua sisi yang tajam itu hendaknya dapat disikapi dengan sikap yang arif. Semua bentuk hiburan, enternainment lebih berorientasi pada unsur profit. Semua yang terkait pada program tersebut, baik itu produser, para artis, selebritis, bintang film, penyanyi, lawak, para sponsor berharap mendapatkan nafkah dari program tersebut. Pada dasarnya semua program bila tidak ada yang menonton maka program tersebut akan berhenti. Pernahkan kita merenungkan bahwa ketika kita menyaksikan program tersebut pada dasarnya kita telah menggaji mereka. Lalu apakah yang dihasilkan dari program tersebut bagi kehidupan diri dan keluarga. Keteladanankan, jalan hidupkah atau hanya hiburan semata. Mereka hidup serba kecukupan namun para penggemar/ penonton ada yang sudah untuk mendapatkan kecukupan karena hidup serba kekurangan.

Berhati-hatilah dengan pisau bermata dua.

6/12/2013

Makna dan Keistimewaan Bulan Sya'ban


Bulan Sya’ban adalah merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan yang penuh dengan rahmat, maghfirah dan dijauhkan dari siksa api neraka. Tidak lain bulan itu adalah bulan Ramadhan, bulan yang selalu dinantikan oleh orang-orang yang beriman dan yang senantiasa mengharapkan ridha Allah SWT. Persiapan pada bulan Sya’ban adalah persiapan jasmani untuk berhati-hati dari godaan hawa nafsu, sehingga jasmani mempersiapkan diri dari segala yang dapat digunakan untuk menyongsong bulan suci Ramadhan, misalnya bersih-bersih ingkungan, tempat ibadah, mencuci tikar, karpet, sajadah, rukuh dan sarung serta segaa yang dapat menunjang kelancaran dalam menjalankan ibadah. Kesiapan yang bersifat rohani untuk mengasah kepekaan nurani menahan diri dari lapar dan dahaga serta dorongan hawa nafsu yang dapat merusak kualitas ibadah, hal ini dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, sehingga merasa selalu dekat dengan Allah.

Bulan Sya’ban merupakan bulan yang menjadi kesempatan bagi hamba Allah yang beriman dan bertaqwa, untuk menjadi orang yang diharamkan masuk ke dalam neraka “Barang siapa yang merasa senang akan datangnya bulan Ramadhan maka diharamkan jasadnya masuk ke dalam Neraka (Hadits)”. Baru saja merasa senang sudah demikian besar keutamaannya apalagi bila sampai pada amaliyah, tentu lebih besar lagi keutamaannya. Alangkah baiknya bila pada bulan ini untuk mengkadha puasa, bila ternyata pada tahun yang lalu pernah meninggakan puasa karena sakit, menjadi musyafir atau bagi wanita sedang melahirkan, menyusui atau sedang nifas maka masih ada kesempatan untuk mengqadhanya, agar bulan puasa nanti menjadi lebih ringan di dalam menjankan puasa karena merasa tidak mempunyai hutang puasa.

Menurut Yahya bin Mu’adz bahwa Sya’ban terdiri dari lima huruf yaitu syin, ‘ain, ba’, alif dan nun dan masing-masing bernakna sebagai berikut:
1. Syin : syarafatun atau syafa’atun yang berarti kemuliaan dan syafa’at.
2. ‘Ain : Al ’izzah wa karomah yang berarti kemenangan dan karomah.
3. Ba’ : Al Birru yang berarti kebaikan.
4. Alif : Ulfah yang berarti rasa belas kasihan.
5. Nun : Nur yang berarti cahaya.

Itulah sebabnya bulan Rajab menjadi bulan untuk mensucikan tubuh, bulan Sya’ban untuk mensucikan lubuk hati dan Ramadhan untuk mensucikan jiwa/ ruh. Maka barang siapa yang mensucikan tubuhnya di bulan Rajab, sucilah hatinya di bulan Sya’ban, dan siapa yang mensucikan lubuk hatinya di bulan Sya’ban, sucilah jiwanya di bulan Ramadhan (Durrotun Nashihin).

Rasuluah SAW sebagai pribadi yang maksum namun beliau berbeda yang hamba Allah yang lain, karena beliau tidak pernah mengandalkan kunci dan garansi, namun beliau sentiasa merasa kurang didalam melaksanan perintah Allah. Pada bulan Sya’ban Rasulullah selalu berupaya untuk menyempurnakan ibadahnya sehingga pada bulan Sya’ban berupaya untuk meraih keutamaan. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh istrinya Siti Aisyah.

“Dari Aisyah; Rasulullah tidak pernah puasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Sesungguhnya beliau berpuasa sebulan penuh pada bulan ini. (Hr. Bukhari Musim)

“ Dari Abu Hurairah  RA berkata, Rasulullah SAW bila pertengahan bulan Sya’ban telah dijumpai, maka janganlah berpuasa sunnah. (HR. Turmudzi).

Sungguh banyak amal ibadah yang dapat dilakukan, baik amalan jasmani maupun rohani. Mudah-mudahkan antara jasad dan ruh selalu berjalan untuk menuju pada ridha Allah SWT.

6/10/2013

Pembentukan Karakter Manusia


Karakter adalah suatu sifat yang melekat pada diri manusia, ada yang berpendapat bahwa karakter adalah suatu yang sudah pasti dan tidak bisa dirubah. Benarkah demikian. Banyak teori yang menyampaikan tentang hal ini, tetapi yang perlu ditangkap bahwa ada suatu kisah yang berasal dari negeri India. Dua anak manusia yang bernama Kamala dan Amala, ditemukan di hutan Godamuri India pada tahun 1920. Bahwa dua bayi itu diasuh oleh kawanan serigala. Entah karena suatu sebab apa, bahwa bayi tersebut tersebut hidup bersama dengan kawanan serigala. Kemungkinan karena bayi tersebut di buang oleh orang tuanya. Kemudian diasuh oleh serigala bersama dengan anak serigala yang lain. Anak bayi berusia 3 dan 8 tahun ini setelah dipindahkan ke Panti Asuhan ternyata sulit untuk berkomunikasi, layaknya seperti anak manusia yang lain. Ia maunya berperilaku seperti serigala, merangkak, mengendus-endus dan bila mau makan dan minum yang disodorkan adalah mulutnya.

Ini adalah sifat dan karakter hewan namun mengapa melekat pada manusia. Hal ini tentu saja karena melalui proses belajar dan pelatihan secara terus-menerus. Dari sesuatu yang asing kemudian menjadi kebiasaan, bahkan hal ini sering disebut menjadi karakter manusia. Oleh karena itu sifat, watak dan karakter manusia selalu dipengaruhi oleh lingkungan, maupun proses pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu lingkungan yang baik cenderung akan membentuk karakter yang baik, lingkungan yang buruk demikian pula akan mencetak watak dan karakter yang buruk.

Hidup di zaman modern ini semua serba ada, baik dan buruk, halal haram, benar salah nyaris campur menjadi satu, sulit untuk dibedakan. Maka sebaik-baik orang yang dapat memilah dan memilih suatu perbuatan yang baik, karena perbuatan baik ini akan berdampak pada perilaku manusia, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membentuk karakter:

1. Pembiasaan tingkah laku sopan.
Sopan santun atau etiket adalah akhlak yang bersifat lahir. Ukuran sopan santun terletak pada cara pandang suatu masyarakat. Oleh karena itu cara pandang sopan-santun dan sikap suatu daerah mungkin berbeda dengan cara pandang masyarakat yang lain. Sopan santun diperlukan ketika sesorang berkomunikasi dengan orang lain, dengan penekanan utama pertama kepada orang yang lebih tua atau guru atau atasan, kedua kepada orang yang lebih muda, anah buah, anak, murid, bawahan dan sebagainya, ketiga kepada orang yang setingkat atau sebaya, seusia atau setingkat status sosial.

Disamping itu sopan santun juga berlaku ketika berkomunikasi dengan kawan atau lawan. Komunikasi dengan lawan memerlukan kekuatan diplomatis yang lebih kuat dibandingkan dengan perilaku kasar. Kesopanan bisa menambat hati lawan, sebaliknya kekerasan akan menimbulkan dendam.

Sopan santun pada anak tertanam melalui kebiasaan sehari-hari di rumah. Apa yang diajarkan orang tua di rumah akan melekat pada diri anak. Sopan santun pada remaja tertanam disamping melalui kebisaan dalam rumah juga melalui proses pergaulan teman sebaya, di sekolah atau melalui suatu tontonan. Sedangkan sopan santun pada remaja disamping karena perbekalan pada masa anak-anak dan remaja terbentuk melalui perilalu para tokoh masyarakat, terutama tokoh yang dihormati dan diidolakan

2. Kebersihan, kerapian dan ketertiban
Pengetahua tentang hubungan kebersihan dengan lingkungan dibentuk melalui proses pendidikan, tetapi kepekaan terhadap kebersihan dibangun melalui proses pembiasaan sejak kecil. Konsisitensi orang tua terhadap keharusan anak untuk cuci tangan sebelum makan, cuci kaki sebelum tidur, mandi dan gosok gigi secara tertur, menyapu lantai dan halaman rumah, buang sampah di tempat sampah, menempatkan sepatu ditempatnya, merapikan baju dan buku dikamarnya. Merapikan tempat tidur setiap bangun tidur, adalah merupakan pekerjaan membiasakan anak pada hidup bersih hingga kedasaran akan kebersihan itu menjadi bagian dari kepribadiannya.

Pada usia remaja kebersihan harus didukung oleh pengetahuan empirik, misalnya melihat benda dan air kotor, tangan kotor dan sebagainya dengan mikroskup sehingga bisa menyaksikan sendiri kuman-kuman penyakit pada sesuatu yang kotor tersebut. Adapun perilaku bersih pada masyarakat diwujudkan dengan pengaturan yang bersistem, misalnya sistem pemeliharaan kebersihan umum lengkap dengan sarana yang tesedia, sistem sanitasi, sistem pembuangan limbah ditempat umum kemusian didukung dengan peraturan yang menjamin kelangsungan hidup bersih dan tertib. Singapura misalnya mengenakan denda sekitar lima ratus ribu rupiah bagi orang yang hanya membuang puntung rokok secara sembarangan.

3. Kejujuran
Kejujuran merupakan sifat terpuji. Dalam bahasa arab disebut dengan istiah siddq dan amanah. Siddiq artinya benar, amanah artinya dapat dipercaya, ciri orang jujur adalah tidak suka bohong, meski demikian jujur yang berkonotasi positif berbeda dengan jujur dalam arti lugu dan polos. Dalam sifat amanah mengandung arti cerdas, yakni kejujuran yang disampaikan dengan bertanggung jawab. Jujur bukan berarti mengatakan semua yang diketahui apa adanya, tetapi mengatakan apa yang diketahui sepanjang mengandung kebaikan dan tidak menyebutnya jika diperkirakan memabawa akibat buruk bagi dirinya dan orang lain.

4. Disiplin.
Tingkah laku disiplin dilakukan karena mengikuti suatu komitmen. Disiplin bisa berhubungan dengan kejujuran, bisa juga tidak. Kejujuran juga diwariskan oleh genetika orang tuannya, terutama ketika anak masih dalam kandungan, secara psikologis dapat menetas pada anaknya. Keharmonisan orang tua didalam rumah akan sangat berpengaruh dalam membentuk watak dan kepribadian anak-anak pada umur perkembangannya. Ketika anak masih kecil, pantang orang tua bebohong kepada anaknya, karena kebohongan yang diarasakan oleh anak akan menimbulkan kegelisahan serta merusak tatanan psikologi seorang anak.

Pada anak usia kelas IV SD hingga SLTP, kejujuran sebaiknya dibiasakan sejalan dengan kedisplinan hidup, disiplin belajar, disiplin ibadah, displin bekerja membantu orang tua di rumah, disiplin keuangan dan dan disiplin agenda harian anak. Pada anak usia SMA kejujuran dan kedisiplinan yang ditanamkan harus sudah disertai alasan yang rasional, baik dalam kehidupan dalam rumah tangga, sekolah maupun dilingkungan masyarakat. Sistem punishment dan reward sudah bisa diterapkan secara rasional.

Pada usia mahasiswa, kejujuran dan kedisiplinan dinisyakan melalui pemberian kepercayaan dalam berbagai tanggungjawab.kepada mereka sudah ditekankan komitmen dan substansi, sementara prosedur dan teknik mungkin harus sudah diserahkan kepada seni dan kreatifitas mereka.
Pada orang dewasa yang sudah bekerja, kejujuran dan kedisiplinan diterapkan melalui pelaksanaan sistem dimana peluang untuk berbuat tidak jujur dipersempit. Misalnya dengan pengawasan yang transparan. Betapapun orang jujur dapat berubah menjadi tidak jujur menakala peluang tidak jujur dan tidak disiplin terbuka tanpa pengawasan.

Ada suatu tamsil, orang yang mengeluhkan atas aroma wc yang baunya pesing dengan orang yang masuk ke kamar hotel yang baunya harum. Ketika mau masuk wc dengan penuh terpaksa, manahan bau yang tidak sedap, sambil menyiramkan air agar baunya hilang. Perasaan marah sambil mengomel siapa yang tidak menyiramkan air seninya setelah selesai kencing. Lama kelamaan hidung sudah terbiasa dengan bau yang tidak enak. Dikira baunya sudah hilang setelah selesai buang hajat segera keluar, dan diluar juga sudah menunggu orang yang mau buang hajat. Orang yang menunggu sama-sama mengeluhkan wc nya bau pesing. Kenapa orang yang baru keluar hajat merasakan sudah tidak berbau.

Lain masuk wc ternyata lain pula masuk ke kamar hotel yang berbau harum, sambil mensyukuri aduhai harumnya kamar ini, setelah tinggal beberapa saat bau harumnya sudah tidak begitu dirasakan lagi. Inilah tamsil bahwa perbuatan buruk atau baik itu kadang ditentukan oleh lingkungannya, oleh karena itu sebaik-baik orang yang menyadari bahwa kebaikan itu hakiki dan harus dipertahankan, demikian pula keburukan itu juga hakiki yang harus dihindarkan. Maka prinsip hidup amatlah penting, agar kehidupan tidak mudah terombang-ambingkan keadaan. Karena itu Rasulullah SAW pernah berpesan “ Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, dan balaslah perbuatan buruk dengan kebaikan, dan berbudilah dengan manusia dengan budi yang baik”. Insya-Allah bila dapat menerapkan konsep ini kita akan selamat didunia maupun di akherat kelak, amin.