5/01/2020

Muhasabah di Bulan Ramadhan, Hindari Hilangnya Pahala Puasa



Bulan puasa adalah bulan bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah, pada bulan tersebut hendaknya kita sekalian untuk menghitung-hitung, untuk merenungkan apa yang sudah kita lakukan amal ibadah. Ibadah kepada Allah jika dikaitkan dengan kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita sekalian, karena di dalam ayat Alquran bahwa Allah sudah menerangkan jika kita sekalian diperintahkan untuk menghitung nikmat Allah, niscaya kita tidak akan dapat menghitungnya. Coba kalau kita renungkan bahwa pada pagi hari kita sekalian bisa bangun dari tidur semalam, kita masih bisa bernafas ini, adalah kenikmatan yang diberikan oleh Allah. Kita bernafas menggunakan oksigen ini adalah pemberian Allah secara gratis, kita bangun kemudian mandi menggunakan air pemberian Allah. Pada pagi hari kita melihat matahari menyinari bumi, semua ini nikmat yang diberikan Allah. Tanpa matahari maka tidak akan ada kehidupan, tanpa udara juga tidak ada kehidupan, tanpa air juga tidak ada kehidupan, tanpa sinar juga tidak ada kehidupan, semua saling berkaitan dan semuanya adalah nikmat yang diberikan Allah kepada kita sekalian.

Karena itu dengan kenikmatan-kenikmatan yang demikian banyaknya, sudahkah kita imbangi dengan peningkatan ibadah kita kepada Allah Allah telah memerintahkan kita untuk menyembah kepadanya Allah sudah memerintahkan kepada kita untuk beriman kepada Allah dan kepada utusannya, karena itu Iman bukan hanya dikatakan dengan lisan tapi iman diwujudkan dengan amal perbuatan. Bulan ini kita sekalian masuk pada Bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, rahmat, maghfirah, sehingga ketika umat Islam dapat meraih semua ini maka dia akan dijauhkan dari siksa api neraka.
Kita sudah masuk pada bulan Ramadhan, kita evaluasi diri sejauh mana kita melaksanakan ibadah kepada Allah, apakah kita sudah melaksanakan puasa dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tuntunan Rasulullah? Apakah kita sudah mengisi bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya untuk mencari rahmatnya Allah? Sebagai orang yang beriman, agar mengevaluasi tentang ibadah puasa yang sudah dilaksanakan, karena itu kalau kita mengacu pada sabda nabi Muhammad bahwa ternyata puasa itu tidak hanya cukup dengan menahan untuk tidak makan tidak minum, tidak melakukan hubungan seksual pada siang hari.

Pada pada bulan Ramadhan, ternyata ada hal-hal yang bisa merusak pahala ibadah puasa, ,menghilangkan, atau membatalkan puasa. Karena itu jadikanlah puasa Ramadhan sebagai benteng bagi kita sekalian untuk bisa melaksanakan perintahnya Allah dengan sebaik-baiknya.

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

"Shaum itu benteng, maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah aku sedang shaum (ia mengulang ucapannya dua kali). Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta'ala dari pada harumnya minyak misik, karena dia meninggalkan makanannya, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku. Shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya dan setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuiluh kebaikan yang serupa".(HR. Buchari: 1761)

Dalam hadis tersebut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Puasa itu adalah benteng.
Benteng itu apa? benteng adalah suatu bangunan untuk melindungi seseorang atau masyarakat dari serangan. Sedangkan puasa Ramadhan bagi orang yang beriman menjadi benteng dari serangan hawa nafsu yang mengajak pada perbuatan yang dilarang oleh Allah.

2. Jangan berkata kotor atau nafas.
Perkataan kotor disamping itu merupakan larangan juga merugikan bagi dirinya sendiri, orang lain. Berkata-kata kotor biasanya diucapkan ketika sedang marah, Rasul bersabda:


لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
"Bukanlah keperkasaan itu orang yang dapat mengalahkan musuh-musuhnya, tapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan nafsunya ketika ia marah." (Hr. Buchari: 5649, Muslim: 4723)

Dalam haditsa lain Rasul pernah bersabda pula:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa berimana kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berkata baik atau diam." (Hr. Buchari: 5559, Muslim: 67, Abu Dawud: 4487)

Kata-kata yang kotor bila sudah keluar tidak akan bisa ditarik kembali kata-kata maaf, tidak akan bisa mengembalikan pada kondisi kewajaran. Kata-kata itu akan menjadi luka yang sulit sekali untuk bisa disembuhkan.

3. Jangan berbuat bodoh.
Perbuatan bodoh itu adalah perbuatan yang tidak menggunakan akal pikiran, tidak menggunakan perencanaan, tidak memikirkan akibat dari perbuatan tersebut, sehingga akan terjadi perbuatan yang merugikan bagi dirinya sendiri, orang lain, bahkan bisa merusak kesucian suatu agama, mewujudkan perpecahan dan permusuhan.

4. Bila ada orang yang mengajak berkelahi atau orang menghina, memfitnah maka berkatalah “inni shoimun” sesungguhnya saya sedang puasa. Jangan sebaliknya ketika sedang berpuasa kemudian mengajak orang lain untuk melakukan perbuatan yang tidak baik atau bila diajak oleh orang lain untuk berbuat yang tidak baik jangan di turuti, tapi hendaknya bisa dipangkas atau menyadarkan pada lawan bicaranya itu Dengan mengatakan bahwa sesungguhnya saya sedang berpuasa.

5. Akan dinaikkan derajadnya oleh Allah. Karena bau nafas yang tidak sedap itu, bagi Allah lebih harum dibandingkan dengan minyak misik.

6. Melaksanakan puasa semata-mata karena Allah, karena itu ibadah puasa langsung akan diterima Allah dan Allah yang akan memberikan pahala. Paling sedikit setiap kebaikan akan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan.

Karena itu pada bulan Ramadhan ini, hendaknya bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah puasa. Secara pribadi mengevaluasi diri, sejauh mana bisa menggunakan bulan puasa untuk meningkatkan amal ibadah kepada Allah.