Menyiapkan Mental

Banyak terjadi dalam kehidupan ini hukum sebab dan akibat, siapa menanam pasti akan mengetam. Namun dalam kenyataannya banyak melakukan sebab tetapi tidak mau menerima akibat (yang buruk). Bila perbuatan baik tentu akan selalu diingat, namun bila terjadi kesalahan maka yang akan terjadi lempar batu sembunyai tangan.
Hukum sebab dan akibat yang berdampak pada orang lain tentu bisa dielakkan dengan orang lain, namun bila sebab dan akibat itu ada pada diri sendiri tentu harus diterima apa adanya. Sebagai contoh adalah orang yang menderita suatu penyakit dimana penyembuhannya harus melalui proses operasi niscaya yang terbanyang dalam fikiran adalah bahwa dirinya akan menjadi pribadi yang cacat. Demikian pula kondisi yang diharapkan akan menjadi lebih baik namun sebaliknya akan menjadi lebih buruk, bahkan akan muncul suatu bayangan tidak akan mempunyai umur panjang (mati). Negatif thinking inilah yang akan semakin memperkeruh keadaan.
Saya yakin bahwa setiap orang akan merasa down bahkan sok setelah membayangkan hal-hal negative dan sesuatu hal yang belum tentu akan terjadi. Dan sebenarnya pikiran yang negative ini telah dipelajari oleh para ilmuan dari masa kemasa yang selalu menunjukkan kemajuan. Untuk melakukan tindakan medis para dokter tentu telah melakuakn observasi dan kajian yang mendalam, serta memprediksi segala kemungkinan. Masihkah diri yang lemah bahkan sangat buta dengan pengetahuan yang demikian, negative thinking dan negative feeling itu telah mendominasi keyakinan.
Maka ketika fikiran negative telah bersemayam dalam diri, tiada jalan lain selain berusaha untuk berontak, mencari motivasi diri dengan menanyakan pada orang-orang yang berwawasan keilmuan, atau shering dengan orang yang pernah mengalami hal yang serupa. Dalam hal ini dorongan dari keluarga sangat dibutuhkan. Hal ini pernah penulis alami, ketika dokter menyarankan untuk operasi, maka yang terfikir adalah mati, yang karenanya dengan mati maka akan meninggalakan orang-orang yang dicintai dan mencintai, contohnya istri, anak, orang tua, saudara, dan lainnya. Bagaimanakah mereka, siapkan mereka ditinggalkan.
Perasaan yang demikian ini sebenarnya telah mendahului qodrat dan irodat Allah SWT. Bila ternyata perasaan yang demikian ini terus berkembang, bahkan ingin mendominasi seluruh pikiran maka berusahalah untuk mencari ketenangan, karena bila fikiran tenang niscaya akan dapat berfikir secara positif, namun sampai kapankah untuk memperoleh ketenangan hati. Jawabannya adalah bila dirinya sudah merasa dekat dengan Allah. Sehingga dengan kedekatan hati inilah Allah akan mendengarkan jeritan hambanya yang berusaha bersikap tegar walau hatinya terasa pedih.
Pernahkah kita ditinggalkan oleh orang-orang yang kita cintai, bisa jadi untuk menaruh hati pada dirinya telah melakukan berbagai upaya, bahkan dengan pengorbanan. Sungguh upaya dan pengorbanan ini menjadi tidak berarti bahkan menjadi perbuatan yang sia-sia. Inilah dalam kehidupan dunia ada yang mencintai ada yang dicintai, ada yang datang ada yang pergi yang semuanya merupakan qodrat irodat Allah di dunia ini. Pernahkan kita membayangkan bila kita ditinggalkan Allah, namun secara tidak sadar sering atau kadang-kadang meninggalkan Allah. Rasulullah SAW pernah memberikan nasehat pada Ibnu Abbas, yang waktu itu masih kecil: Ihfadzillah yahfadzka, jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu.
Secara maknawi bahwa Allah tidak membutuhkan penjagaan dari makhluknya, namun secara hakiki, bahwa manusia diperintahkan untuk menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, begitu juga belajar ilmu agama untuk meluruskan ibadah dan muamalah, yang dengannya kita berdoa kepada Allah. Selaras dengan hakekat diciptakannya manusia agar beribadah kepada Allah SWT. “ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (QS. Adz-Dzariyat: 56). Pengharapan hamba Allah setelah melakukan ketaatan kepada-Nya maka akan di kabulkan do’anya. “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. Muhammad: 7).
Bagaimanakah caranya untuk menumbuhkan rasa untuk selalu dekat dengan Allah. Tidak lain adalah dengan melakukan zikir secara istiqomah. Dzikir dilakukan secara terus- menerus baik dari segi kuantitas dan kualitasnya berupaya untuk selalu ditingkatkan. Karena itu bila zikir dilakukan secara sembarangan atau kadang-kadang saja maka ketenangan dan kegundahan akan selalu berperang untuk menjadi pemenangnya. Dari aktifitas zikir inipun Allah SWT telah memberikan pengharapan kepada hambanya “Apabila seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta, apabila dia mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa, dan apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari (HR. Buchari)”.
Banyak pedoman untuk berzikir, diantaranya adalah zikir Maksurat yang disusun oleh Syahid Hasan Al Banna, yang menjadi konsumsi zikir yang dibaca pada saat pagi (setelah shalat Subuh) dan petang (setelah shalat Ashar). Untuk mengistiqomahkan diri, pada awalnya terasa berat, apalagi memerlukan waktu yang cukup lama, namun bila telah dilaksanakan semakin lama, maka akan merasakan ketenangan. Dalam segala urusan manusia hanya berwenang untuk berusaha, berikhtiyar dan tawakal. Karena itu baik dan buruknya yang akan terjadi adalah menjadi urusan Allah SWT. Dan Allah tidak akan membiarkan do’a hambanya yang beriman, beramal dan bertawakal kepada Allah SWT. Kenikmatan dalam berdzikir akan menumbuhkan rasa rindu kepada Allah, sehingga dzikir diucapkan dalam hati (zikir bil qalb), dzikir dengan ucapan (zikir billisan), dilaksanakan dengan perbuatan (zikir bil hal).

Anda sedang membaca artikel dari untajiaffan Terbaru hari ini. Mohon untuk membagikan artikel ini ke teman anda melalui sosial media dibawah ini.

Artikel Untajiaffan Lainnya:



Kotak Komentar