9/29/2020

Problematika Kehidupan, Atasi Dengan Istiqomah Dan Sabar

Setiap orang hidup pasti mempunyai tugas, tanggung jawab dan masalah. Setiap tugas dan tanggung jawab bila dilakukan dengan baik dan berdisiplin maka akan menuai kebaikan dan kelancaran. Namun ternyata tidak semua tugas dan tanggung jawab dapat diselesaikan dengan baik, hal ini karena kemampuan dan dan kurangnya perhatian, maka bila tugas dan tanggung jawab tidak dapat diselesaikan maka akan menjadi masalah. 

Setiap masalah harus dicari solusinya, karena hidup adalah masalah, tanpa ada masalah maka tidak akan ada kehidupan. Jadikan masalah sebagai mitra, sebagai upaya untuk berpikir lebih maju, sehingga setiap masalah akan dicarikan solusinya. Sesungguhnya dari berbagai masalah maka kehidupan akan semakin dinamis. 

Para pelajar yang akan menyelesaikan tugas akhir harus membuat karya tulis ilmiah, demikian juga para mahasiswa yang akan menyusun skripsi, tesis atau disertasi bahwa setiap tema yang diajukan akan mempunyai permasalahan. Tanpa adanya permasalahan maka tidak akan terwujud karya tulis ilmiah. Karena itu harus pintar dalam merumuskan permasalahan dan mencari solusinya, semakin kompleks permasalahan maka solusinya semakin pelik dan karya tulis akan semakin berbobot.

Tetap istiqomah dan sabar mengumpulkan mengambil dan mengumpulkan pasir.
 
Mencari solusi 
Peribahasa Indonesia mengatakan sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, yang mengandung maksud bahwa setiap pekerjaan bila dilakukan sedikit demi sedikit maka akan dapat diselesaikan. Demikian pula dalam pepatah Jawa mengatakan “alon-alon waton kelakon” pelan-pelan asal tercapai. Melihat peribahasa dan pepatah Jawa ini mungkinkah pada zaman millennial dapat diterapkan. Bukankah sekarang zaman serba instan, siapa cepat maka akan dapat. Tentulah hal ini tergantung pada situasi dan kondisi. 
 
Suatu pekerjaan mudah dan ringan bila segera diselesaikan dan tidak menjadi beban. Tetapi pada kenyataannya sering ditunda-tunda, sehingga menjadi pekerjaan yang menumpuk. Sebenarnya telah sadar bahwa menumpuk- numpuk pekerjaan, menganggap enteng suatu pekerjaan akan menjadikan pekerjaan yang ringan menjadi berat, karena akan menjadi tumpukan pekerjaan yang harus diselesaikan pada waktu yang sama. 
 
Setiap orang pada dasarnya telah sadar dengan kebiasaan buruk dan kesalahan dirinya, namun ternyata terus diulang-ulang. Sehingga kesalahan akan selalu terulang, kekurangan tidak disiasati menjadi kesempatan. Sebaliknya bila kesadaran diri menjadi sikap untuk berubah, tentu akan menjadi kebaikan. Jika dapat menerapkan perilaku dan tindakan, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, bahkan pepatah Jawa alon-alon waton kelakon. Ternyata bukan hanya pekerjaan ringan yang dapat diselesaikan namun pekerjaan yang berat pun akan dapat diatasi. 
 
Dalam konteks agama dengan menerapkan konsep istiqomah yaitu tetap dalam pendirian, keteguhan hati untuk melakukan dan suatu pekerjaan. Pekerjaan yang baik atau berketetapan hati, tekun dan terus menerus untuk melakukan suatu pekerjaan. Niscaya pekerjaan yang berat dan sulit karena itu perintah dan kewajiban maka berusaha untuk tetap dilaksanakan. Cepat atau lambat haraus diselesaikan, semakin cepat makin baik, sebaliknya semakin menunda-nunda maka akan menjadi beban dan tanggung jawab yang menumpuk. Bisa jadi akan berkumpul dengan tugas dan tanggung jawab yang lain, jadilah problem dan kesulitan yang harus diselesaikan. 
 
Suatu saat sahabat nabi meminta pelajaran, wahai rasul berilah petunjuk kepadaku suatu perbuatan baik, yang karenanya akau tidak akan bertanya kepada yang lain, rasul menjawab beriman kepada Allah lalu beristiqomah. Iman bukan hanya ucapan dan kata-kata indah. Iman adalah suatu keyakinan didalam hati yang diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan. Jadi iman adalah sinkronisasi antara hati, lisan dan perbuatan yang baik. Karena itu amal perbuatan yang dilaksanakan secara terus-menerus walaupun sedikit demi sedikit akan menjadi perbuatan yang mulia dan akan mendorong untuk melakukan perbuatan besar dengan ikhlas. 
 
Banyak orang yang dapat melaksanakan shalat lima waktu dengan ringan dan tenang, bila belum melaksanakan merasakan ada sesuatu yang hilang dan kurang sempurna, merasakan gelisah, mengapa demikian? Karena ibadah shalat telah dilaksanakan dengan istiqomah, bahkan shalat sunah pun dilakukan secara terus-menerus. Sehingga dari ibadah sunnah ini akan membuat ringan, mudah dan tenang dalam menegakkan shalat fardhu. 
 
Istiqomah dan sabar 
Ketika berupaya untuk tetap teguh dan konsekwen dalam melaksanakan perintah Allah, ternyata disana juga terdapat tantangan, gangguan dan rintangan baik yang disebabkan oleh diri sendiri atau atas perilaku orang lain dan lingkungan. Istiqomah dan sabar adalah dua hal yang saling melengkapi. Istiqomah akan diperoleh bila dapat mengelola setiap masalah sehingga dihadapi dengan kesabaran. Dan bila bisa meraih kesabaran maka setiap tugas dan tanggung jawab akan dilaksanakan dengan istiqomah. Tidak akan mudah menyerah dengan situasi dan kondisi. Karena antara sabar dan istiqomah teah menjadi ruh dalam bertindak. 
 
Bahwa untuk tetap teguh dan konsekwen melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya hendaknya selalu istiqomah dan sabar menjalankannya. Karena sesungguhnya sikap sabar dapat dilakukan ketika menjalankan perintah Allah, sabar meninggalkan larangan Allah, sabar dalam menghadapi musibah, bencana dan malapetaka, sabar atas perilaku dan perbuatan orang lain. 
 
Seorang mukmin sangat berhajat dengan sifat sabar, terutama ketika menghadapi balak dan bencana, kesulitan dan kesusahan dan segala macam penganiayaan. Ketika ditimpa suatu musibah bahkan tidak boleh berputus-asa. Malah harus tenang dan berlapang dada, tidak merasa kesempitan dan bosan, mengadu kesana-kemari, tetapi harus selalu berusaha, ikhtiar dan memohon kepada Allah dengan khusu’ dan khudhu’, memohon dengan merendahkan diri kepadanya serta menjauhkan dari persangkaan yang buruk kepada Allah. 
 
Seorang mukmin butuh banyak kesabaran di dalam mengerjakan ketaatan yakni hendaklah tidak bermalas-malasan di dalam menunaikan dan menyempurnakannya dengan menghadirkan hati ketika menghadap Allah. Dengan keikhlasan yang penuh, tidak ria’, tidak berpura-pura atau mengada-adakannya dihadapan orang. Memang sudah menjadi tabiat seseorang bila bermalas-malasan dan merasa berat hati untuk mengerjakan amal ibadah lantaran ia harus memaksakan dirinya untuk melawan segala hambatan ini dengan perasaan penuh sabar dan hati yang teguh. 
 
Seorang mukmin senantiasa butuh kesabaran yang banyak dalam upaya merintangi diri dari melakukan maksiat dan melanggar larangan-larangan Allah, sebab hawa nafsu sering mengajak melakukan dosa dan mengangan-angankan maksiat. Karena itu hendaklah kita menahan diri dengan penuh kesabaran dari melakukan maksiat secara lahir dan batin dan menggambarkan secara batin. 
 
Seorang mukmin juga butuh kesabaran yang banyak dalam mengekang diri dari keinginan hawa nafsu terhadap perkara-perkara yang diperbolehkan yang kebanyakan manusia amat menggemarinya, seperti bermewah-mewahan dengan kelezatan dan perhiasan dunia sebab mengikuti secara berlebihan akan menjerumuskan manusia ke dalam perkara-perkara yang syubhat dan seterusnya kepada haram pula. Demikian secara berlebihan hingga akhirnya akan mengutamakan dunia di atas segalanya ia tidak lagi memperhatikan urusan akhiratnya juga segala usaha yang mengarahkan diri kepadanya. 
 
Karena itu tugas dan tanggung jawab akan menjadi lebih baik bila segera dilaksanakan, namun tidaklah demikian, karena usia, keilmuan, ketrampilan dan keahlian menjadi penyebab manusia mempunyai aktifitas yang banyak. Sehingga tugas dan tanggung jawab tertindih dengan aktifitas dan kegiatan. Karena itu dalam setiap aktifitas dan kesibukan dapat meluangkan waktu guna meniti tugas dan tanggung jawab secara pelan namun pasti. Sekalipun hanya sedikit akan menjadi kebaikan, bila yang sedikit terus dilakukan dalam melakukan aktifitas kehidupan yang lain. Insya-Allah hati dan fikiran dan bekerja secara sinkron, demikian pula kondisi fisik, mental spiritual dapat terjadi keseimbangan.

9/24/2020

Cobaning Mujudaken Keluarga Sakinah, Dambaan Pengantin kakung lan Estri

Seluarga sakinah punika pangajeng-ajeng sedaya tiyang, napa malih kagem piningantin kekalih. Ananging margi saben-saben tiyang punika gadhahi tumindak ingkang boten sae, sahingga pinengantin kekalih kedah salah setunggalipun ngalah. Perkawis pacoban mujudaken keluarga sakinah punika dipun serat dening Kasi Bimas Islam, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wonosobo, Bapak Drs. H. Mahbub, M. Ag

 

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْاِنْسَانَ وَعَلَّمَهُ الْبَيَانِ, اَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ 

 

Kaum muslimin Jema’ah Jum’ah Rahimakumullah 

Langkung rumiyin sumangga kita tansah ngunjukaken raos syukur wonten ngarsanipun Allah SWT ingkang sampun paring mapinten-pinten kenikmatan dhumateng kita sedaya, shalawat lan salam mugi katur dhumateng junjungan kita nabi agung Muhammad SAW, para keluarga, shahabat tabi’in, tabiit-tabi’in ila yaumiddin. Sak lajengipun minangka khatib kawula wasiyat dhumateng awak kula piyambak khususipun lan umummipun dhateng panjenengan sedaya, sumangga kita sesarengan tansah ningkataken taqwa dhumateng Allah SWT kanthi nindakaken sedaya dhawuh-dhawuhipun Allah lan nebihi sedaya awisanipun Allah SWT, sahingga menawi kita saget nindakaken perkawis kasebat fa insya-Allah kita badhe slamet wonten ing dunya ngantos dumugi akherat amin ya rabbal ‘alamin. 

 

 Kaum muslimin Jema’ah Jum’ah Rahimakumullah 

Wonten ing pundi panggenan pasangan suami isteri tentu kemawon dambakaken setunggalipun kelanggengan wonten ing mahligai rumah tangga, kasebat wonten setunggaling rangkaian do’a pernikahan inggih punika, mugi mugi dadosnaha keluarga ingkang Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah. Ananging perkawis punika boten saged kelampahan, menawi ing antawis setunggalipun pasangan nyidrani wonten ing sikap, sifat utawi pakaryanipun. Temtu kemawon wonten fihak ingkang kuciwa lan penggalipun sakit, kawontenan punika saterasipun kadospundi kelajenganipun balai griya punika. Mila piyambakipun kuciwa ing sadangunipun gesang, atinipun sampun keblinger, kehormatan lan katrisnanipun sampun ical kagantos dados mrina lan sengsara. Pramila supados balai griya tansah kajagi saking sikap lan prilaku sasar, mila saben-saben anggota keluarga kedah mahami dhateng tugas lan tanggung jawabipun kasebat ing Alqur’an:

“Kaum pria kuwi minangka pemimpin tumprap kaum wanita, mula sangka kuwi Allah wus paring keluwihan marang saperangan (kaum wanita), lan sebab dheweke (kaum pria) wus menehi nafkah saperangan bandhane. Marga kuwi kaum wanita kang saleh, hiya iku kang ta’at marang Allah tur njaga kehormatane, nalika bojone lagi lunga, amarga Allah wus njaga (dheweke)”. (QS. An-nisa’: 34) 

 

Wonten ayat Alqur’an kasebat sampun jelas bilih wonten bale griya, garwa kakung dados pemimpin ingkang gadhah jejibahan maringi nafkah lahir lan batin. Salah setunggalipun bentuk nafkah inggih punika kanthi nyambut damel kangge njangkepi kabetahanipun pagesangan saben dintenipun, kanthi ikhlasing manah. Perkawis punika boten gampil kagem garwa kakung, pramila dipun betahaken jiwa ingkang tanggel jawab sarta keimanan saking ketetapan Allah SWT. 

 

Ananging kasunyatanipun wonten ing pagesangan tasih kathah kanca estri ingkang tebih saking kasunyatan, kathah ingkang dadosaken garwo kakungipun kangge mesin ngudi arto lan pelayan ing keluarga. Minangka mesin pados arto garwo kakung dipun tuntut kangge nyambut damel tekuk kringkel, meras keringat boten kenal lelah, ugi meksa garwo kakung kangge pados arto ingkang haram. Minangka pelayan ing bale griya piyambak kanca estri ugi nuntut garwo kakung nyambut damel sedaya perkawis bale griya, leres ing perkawis dapur, reresik griya, ngasuh putra-putri. Cekak aos garwa kakung ibarat pembantu wonten dalemipun piyambak. 

 

Dereng malih menawi kanca estri boten marem kalian pedamelan garwa kakung, piyambakipun badhe ngolok-olok, mbentak lan milara badanipun, kanca estri badhe cuwa lan boten rila menawi setunggaling wekdal garwa kakung nilarekan tanggel jawab utawi bagi katresnan dhumateng wanita sanes, keranten awonipun tingkah laku kanca estri. 

 

Kaum muslimin Jema’ah Jum’ah Rahimakumullah 

Mapinten-pinten perkawis ingkang damel para kanca estri kagungan perilaku ingkang boten sae antawisipun : 

  1.  Kirang raos syukur. Perkawis punika saged kabukten amargi piyambakipun tansah rumaos boten marem dhateng tindakanipun garwa kakung, khususipun perkawis materi. Pribadinipun tansah ningali ingkang wonten nginggil sehingga tansah rumaos kirang punapa ingkang sampun dipun paringaken saking garwa kakung. 
  2. Garwa kakung boten saget dados tulang punggung keluarga. Perkawis punika panci dados sebab kisruhipun bale griya, menawi garwo kakung boten gadhah pendamelan (nganggur), milo kanca estri kedah siap boten nuntut punapa ingkang boten dipun miliki saking garwa kakung, khususipun materi dumugi garwa kakung saget maring dhumateng kanca estri. Semanten ugi menawi ingkang nyambut damel namung kanca estri. Menawi kanca esteri sampun turah bandanipun lan sampun nyekapi kabetahan gesang tanpa boten wonten tambahan saking garwa kakung, boten prayogi garwa kakung mendel kanthi boten usaha kagem nyambut damel, kranten sinaosa sekedik ingkang saget dipun parengaken garwa kakung dhumateng kanca estri tetep dipun cathet minangka nafkah ingkang dipun wajibaken Allah SWT, lan kanca estri boten pareng ngremehaken, kranten banda garwa kakung boten sebanding kaliyan banda kanca estri. 

 

Ananging anehipun ngadhepi perkawis punika boten sekedik para garwa kakung ingkang boten waget tumindak kanthi tegas dhumateng durakanipun para kanca esteri. Lan dhumateng para kanca estri kedahipun boten bingah kalian tumindakipun dhateng garwa kakung, keranten menawi setungaling wekdal garwo kakung leres-leres nilaraken kanca estri, boten namung kanca estri kemawon ingkang rugi, ananging putra-putri ugi badhe rugi. 

 

Wondene akibat saking tiyang estri dipun tilar dening garwo kakung inggih punika: 

  1. Boten terpenuhipun kabetahan kangge pangupajiwa khususipun menawi kanca estri boten makarya. 
  2. Para putra badhe kleleran. Kanjeng nabi Muhammad SAW nate ngendika: 

 “Sak bagus baguse wong wadon yaiku wong wadon kang nyenengaken nalika di sawang kang garwa, lan taat nalika diperintah, lan bisa jaga awak lan bandane nalika kang garwa ora ana” (HR. Thabrani). 

 

Kaum muslimin Jema’ah Jum’ah Rahimakumullah 

Kanthi punika tugas lan kewajiban tiyang sepuh kagem didik lan ngrawat putra-putrinipun, ngantos, dumugi ageng, semanten ugi kanca estri minangka guru ingkang pawitan lan garwa kakung minangka kepala sekolah wonten ing tlatah pendidikan ing setunggalipun institusi “Keluarga”. Sehingga menawi garwa kakung maringi keputusan talaq karanten durakanipun kanca estri mila badhe kados pundi nasib putra- putrinipun. Saget ugi putra-putrinipun badhe matur menawi piyambakipun boten kepingin dipun lahiraken wonten ing keluarga broken home. Piyambakipun boten mangertos kedadosan napa-napa dhateng tiyang sepuh kekalihipun, ananging margi egoisanipun tiyang sepuh kolo wau. Mekaten ingkang saget kula aturaken mugi mugi adosaken manfaat dhumateng samudayanipun, amin, amin ya Robbal ‘alamiin.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

9/17/2020

Mujudaken Shalat Ingkang Khusuk, Saget Nyegah Pakerti Awon Lan Mungkar

 

Tiyang-tiyang mukmin sami beja kemayangan,  ingkang khusuk shalatipun. Shalat minangka sarana pendidikan ingkang tumuju dhateng kesahenan lan nyegah dhumateng perkawis ingkang awon lan mungkar, mila punika kita tingkataken kualitas shalat kita, khususipun shalat gangsal wekdal, lan ugi ngathah-ngathahaken shalat sunat supados kita dados tiyang ingkang beja, amargi tiyang ingkang sregep nindakaken shalat punika badhe dipun lebetaken golonganipun tiyang-tiyang ingakang bagus utawi sae amanahipun.

اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ فَرَضَ الصَّلَاةِ عَلَى عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاَسْأَلُهُ الْمَزِيْدُ مِنْ فَضْلِهِ فِى جَمِيْع الْاَوْقَاتِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ,اَلْمَبْعُوْثُ بِالْحَقِّ وَالْوَفَى. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ: اَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنُ رَحِمَكُمُ اللهُ, اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ رَبُّكُمْ فِى الْقُرْانِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَااَيُّهَالنَّاسُ كُلُواْمِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلَالً طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانَ اِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّمُبِيْنٌ. 

Jama'ah Jum'ah Rahimakumullah. 
Mangga sareng-sareng ningkataken anggen kita taqwa, anggen kita nglampahi dhawuh-dhawuhipun Allah, tuwin nebihi awisan-awisanipun, samiya mangertosi bilih shalat ingkang dipun fardhukaken Allah dhumateng kita punika angghadhahi sifat lahir lan batos. Perlu kita kawuningani bilih shalat ingkang kita lampahi saben dinten punika kirang bobot, makna lan manfaatipun, menawi kita boten kersa ngupadi hakikatipun shalat midherek punapa samestinipun. Tandhanipun menawi shalat kita nggadhahi bobot, makna lan manfaat ingkang inggil punika wontenipun perubahan ingkang meningkat wonten ing pribadi kita utawi tiyang ingkang nindakaken shalat. Kados tiyang ingkang medhit dados loma lan seneng sedekah. Ingang aslinipun jirihan dados kendel, ingkang kala waunipun kirang sae pergaulanipun berubah lan meningkat dados sae. Jama'ah Jum'ah Rahimakumullah. Wonten ing surat Al Ankabut ayat 45 Allah SWT ngendika:
" Satemene shalat iku bisa nyegah saka perkara kang ala lan perkara kang mungkar"(Al Ankabut: 4) Kanthi ayat punika mangga kita teliti, analisa lan mendhet kesimpulan saking faedahipun shalat. Mangga kita tingkataken amal ibadah shalat kita kanthi khudhu', khusu', tawadhu' lan sujud dhateng ngarsanipun Allah SWT. Kejawi nindakaken shalat gangsal wekdal, mangga kita ngathah-ngathahaken shalat sunat, kados shalat rawatib, salat hajat, salat tasbih lan ugi shalat lail. Sedaya kalawau kita tindakaken namung ngupadi karidhanipun Allah SWT, dzat ingkang Maha Suci lan Maha Ngudanani, nanging kita kedah ngatos-ngatos ing dalem nindakaken shalat punika, sampun ngantos kalebet golonganipun tiyang-tiyang ingkang rugi lan getun ing tembe wingking, kados pangandikanipun Allah wonten Surat Al Mu'minun ayat: 1-3
" Temen beja wong-wong kang padha mu'min, yaiku wong-wong kang ing dalem nindakake shalat iku padha khusu'. Wong-wong akeh padha mlengos saka perkara ala" 

Jama'ah Jum'ah Rahimakumullah. 
Midherek keterangan ayat kasebat bilih tiyang-tiyang mukmin punika sami beja kemayangan, inggih punika tiyang-tiyang mukmin ingkang khusuk shalatipun. Shalat minangka sarana pendidikan ingkang tumuju dhateng kesahenan lan nyegah dhumateng perkawis ingkang awon lan mungkar, mila punika kita tingkataken kualitas shalat kita, khususipun shalat gangsal wekdal, lan ugi ngathah-ngathahaken shalat sunat supados kita dados tiyang ingkang beja, amargi tiyang ingkang sregep nindakaken shalat punika badhe dipun lebetaken golonganipun tiyang-tiyang ingakang bagus utawi sae amanahipun. Lan shalat punika mujudaken rahmat lan pitedah saking Alah SWT, Allah dhawuh mekaten:
" Alif lam mim, mengkana iku ayat kitab "Quranul Hakim" kang dadi pituduh lan rahmat marang-wong-wong kang becik (amaliahe). Wong-wong akeh kang padha gelem nindakake shalat, bayar zakat lan wong-wong iku padha yakin marang perkara akhirat. Wong-wong mengkana mau pada netepi pituduh ing Pangerane, mulane wong kang mengkana iku padha beja. (QS. Luqman: 1-5). 

Jama'ah Jum'ah Rahimakumullah. 
 Shalat punika mujudaken panggenan utawi maqam panyuwunan kita dhateng Allah minangka kawulanipun, shalat ugi mujudaken margi ingkang haq lan leres Pramila mekaten mangga kita giyataken lan kita tingkataken shalat berjama'ah, amargi kanthi jama'ah kita badhe pikantuk ganjaran 27 derajat. Ugi kanthi shalat berjama'ah kita badhe pikantuk manfaat, faedah lan hikmahipun ingkang boten sekedhik tumrap pribadi, bale griya, masyarakat lan negari. Kanthi nindakaken shalat berjama'ah, keluarga utawi rumah tangga kita badhe disiplin, teratur lan saget dados wasilah kangge nggayuh keluarga ingkang sakinah, mawaddah warohmah, ingkang dipun ridhani dening Allah SWT. Shalat ugi saget dados wasilah minangka dipun kabulaken do'a utawi panyuwunan kita, punapa malih menawi iman kita sampun kiyat lan kandel lan badhe tambah kiyat nalika kita tansah maos lan midangetaken ayat-ayatipun Allah, Allah ngendika mekaten:
" Satuhune wong-wong mukmin nalika den elingake (den sebut) asamane Allah mangka padha gumregah atine wong-won mukmin kabeh, lan nalika den wacakake ayat-ayate Allah marang-wong-wong mkmin, mangga padha tambah imane lan marang Allah wong-wong mau padha tawakal. Yaiku wong-wong akeh kang pada nindakake shalat lan padha gelem nafkahake rizkine. Kabeh iku wong kang padha iman kelawan haq, kanggo wong mu'min mau diangkat derajate ana ing Ngarsane Allah, uga oleh pangapura saka Allah lan rizki kang mulya". (QS: Al Anfal: 2)

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

9/10/2020

Mujudaken Kesehatan Keluarga- Sehat Jasmani, Rohani, Ekonomi, Lingkungan. Khutbah Bahasa Jawa

Kesehatan punika dados kabetahan paling utami kagem manungsa, amargi kanthi sehat manusngsa badhe saget ngraosaken nikmat lan bahagia saking sedaya peparingipun Allah. Manusia kedah tansah ngudi supados dados pribadi ingkang sehat, kalerse sehat jasmani lan rohani, ekonomi lan lingkunganipun. Perkawis punika badhe kita aturaken mawi khutbah Jum’at.


اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَتِ وَالنُّوْرِ ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِءُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاءُالْحُسْنَى, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ,اَلْمَبْعُوْثُ بِالْحَقِّ وَالْوَفَى. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا  مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ: اَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنُ رَحِمَكُمُ اللهُ, اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ رَبُّكُمْ فِى الْقُرْانِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَااَيُّهَالنَّاسُ كُلُواْمِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلَالً طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانَ اِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّمُبِيْنٌ

Kaum Muslimin Rahimakumullah,

Mangga kita sesarengan muji syukur dhumateng Gusti Allah Ta’ala, ingkang tansah paring nikmat tanpa kendhat, sarta anggelar rahmat ing saendhunging jagat. Shalawat lan salam, mugi katur dhumateng uswah hasanah kita, kanjeng Nabi Muhammad SAW, para keluwarga, shahabat, sarta sedaya ummat ingkang tansah tha’at, ngantos ing dinten kiyamat.

Jemaah Jum’at ingkang  minulya,

Boten wonteng wasiyat ingkang langkung sahe, kejawi wasiyat Taqwallah, inggih punika nindakaken sedaya dhawuhipun Allah Azza Wajalla, selaras kaliyan anggenipun nilar sedaya awisanipun. Inggih kanthi lampah taqwa punika, Gusti Allah Subhanahu Wata’ala, badhe paring kamulyan dhumateng kita, kados ingkang kawedhar wonten ing Aluran surat Al Hujuraat: 13

“Saktemene wong kang paling mulya ing antarane sliramu ana ing ngarsane Allah, yaiku kang paling taqwa, saktemene Allah iku Dzat kang Maha Uninga, Maha Paring Pekabaran.”

Salah satunggalipun perkawis penting ingkang kita adhepi jroning masyarakat, inggih punika babagan kesehatan. Sakdongipun punika kita sampun ngraosaken pambudi dayanipun Pemerintah ing babagan kesehatan fisik, kanthi sedaya masyarakat, khususipun kaum dhu’afa saged berobat gratis wonten Rumah Sakit Rujukan. Temtu kita kedah muji syukur dhumateng Allah Subhanahu Wata’ala, sarta matur nuwun dhumateng Pemerintah. Perlu kita wuningani bilih masalah kesehatan punika, boten namung kesehatan phisik utawi jasmani kemawon, ananging ugi nyakep :

< Sehat Jasmani < Sehat rohani < Sehat ekonomi <Sehat lingkungan

Jema’ah Jum’at Rahimakumullah

Nomer setunggal sehat jasmani

Tiyang dipun sebat sehat, arikala boten wonten gangguan fisik, hingga saged nindakaken sedaya kegiatan ingkang dipun betahaken. Rasulullah SAW nate ngendika : jaganen limang perkara, sakdurunge teka limang perkara liyane, salah satunggalipun inggih punika,

صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ

Jaganen sehatmu, sakdurunge tumika penyakitmu.”

Kangge jagi kesehatan punika, kedah dipun taati pola makan, utawi pranataning dhahar, inggih punika :

1.        Dhaharan ingkang halal

2.        Dhaharan ingkang thayyib, ingkang bermanfaat tumrap kesehatan, kasebat ing surat Al abaqarah : 168

3.        Dhahar lan ngunjuk boten kliwat watis QS. Al A’rof : 131, wondene menawi sakit, engggal-enggal berobat.

Rasulullah SAW dhawuh:

تَدَاوَوْا عِبَادَ اللهِ فَاِنَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يَضَعْ دَاءً اِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءٌ غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ اَلْهَرَمُ  (روه احمد)

“Pada berobata sira kabeh kawulane Allah mengka saktemene Allah Ta’ala iku, ora pering penyakit, kejaba Allah uga paring obate, sak liyane penyakit siji yo kuwi tuwa.” HR. Ahmad

 

Nomer kalih inggih punika midherek bahasa agamanipun sehat rohani

Prof. dr. H. Dadang Hawari Psikiater paring penjelasan bilih midherek WHO (Badan Kesehatan Dunia) ciri-ciri tiyang ingkang sehat rohani utawi jiwanipun inggih punika:

1)        Saged nampi kasunyataning gesang/ saged mahami lan nampi takdiripun Allah.


 “Kang (dadi) kangungane Panjenengane Allah keraton langit lan bumi, lan Panjenengane (Gusti Allah) ora kagungan putra, lan ora ana sekuthon tumrap Panjenengane ing sajrone kratone, lan Panjenengane nitahake sekabehe perkara, lan Panjenengane netepake ukuran-ukurane kanthi sak apik-apike”( QS. Al Furqan: 2)

 

1)        Rumaos marem saking hasil usahanipun piyambak. ( HR. Bukhari)

2)        Rumaos marem menawi saged tetulung dhumateng tiyang sanes ( Sha’ibul iman).

3)        Langka sanget ngalami stress

4)        Remen tulung tinulungan.

“lan becik padha tulung-tinulunga sira (kanggo ngelakoni)kabecikan lan taqwa lan aja padha tulung tinulung kanggo (ngelakoni) dosa lan sesatron”. (QS. Al Maidah: 2)

 

1)        Gadhah raos teresno dhumateng dok sintena. (HR. Buchari Muslim)

Pranyata bilih sedaya punika selaras kaliyan tuntunaning agami Islam.

Kaum muslimin a’azzakumullahu wa iyyaa ya

Ingkang nomer tiga inggih punika sehat ekonomi

Sok sintena ingkang sampun saged nyekapi kabetahanipun piyambak, awit saking penghasilanipun, tanpa kabantu dining tiyang sanes, punapa dene utang mrika-mriki, ateges sampun sehat ekonominipun.  


“Dhawuha sira-sirahe kaumku, makarya sira kabeh sakuwatmu, saktemene aku uga makarya, suk sira bakal ngerti, endi ing antarane kita kang bakal entuk hasil kang becik ing donya iki, saktemene wong-wong kang dlalim ora bakal entuk keuntungan.” QS. Al An’am : 135

Ingkang nomer sekawan inggih punika sehat lingkungan

Kita pahami sarta yakini, bilih lingkungan ingkang sehat insya-Allah badhe muwuhaken masyarakat ingkang sehat ugi. Lingkungan ingkang sehat punika nyakep kalih perkawis:

1.      Masyarakatipun bebas saking :

<Nark0ba <Minuman keras<Perjudian, sarta <Perzinaan

Dhawuhipun Allah Ta’ala ing bab punika wonten ing QS. Al A’raf : 33

“Dhawuha sira: sayekti (Allah) Pangeranku wus ngaramake (sekabehane) kejahatan kang cetho lank angora ceto, uga kabeh laku dosa lan memungsuhan kang tanpa bebener.” QS. Al A’raf : 33

1.      Lingkunganipun ketingal :

·           Tenata rapi lang indah

·           Nuansa ijo royo-royo awit kathahing tetaneman

·           Margi lan plataran ingkang resik saking maneka warnining sampah.

Dhawuhipun Allah Ta’ala wonten QS. Hud : 61

“Panjenengane Allah kang wus nyipta sira kabeh saka lemah, lan dadekake sira kabeh kang gawe makmur”.

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ



 

 

8/31/2020

Ujian Dalam Berkarya Dan Memberi Keteladanan, Antara Harapan Dan Kenyataan

Ujian dan pujian adalah dua hal yang berbeda, ujian adalah hak manusia sedang pujian adalah hak Allah. Allah sebagai pemilik dari semua yang ada di alam semesta, tiada sesuatupun yang menyekutukan-Nya, tidak ada tandingan karena Dialah yang maha segalanya. Siapa yang menciptakan alam semesta, Dialah Zat yang tidak diciptakan oleh siapapun dan tidak bergantung pada siapa pun, karena Dia adalah Zat yang berdiri sendiri dan tidak sama dengan makhluk-Nya. Dia zat Yang Maha Kaya, karena Dialah pemilik seluruh yang ada dialam semesta, ketika hamba-Nya meminta pasti akan diberi, bahkan tanpa diminta pun Allah telah menyediakan segala yang dibutuhkan manusia.


Dia Maha pengasih dan Penyayang, Dia Maha Pengampun, sehingga dengan kekuasaanya, Allah bisa menjadikan seluruh yang ada di alam semesta semua hidup dalam satu tatanan, adil makmur dan perselisihan dan pertengkaran. Namun bukan seperti itu bahwa di alam dunia disamping manusia Allah juga menciptakan makhluk yang lain baik makhluk yang kelihatan maupun yang tidak nampak. Masing-masing mempunyai watak dan karakteristik yang berbeda. Seperti malaikat diciptakan oleh Allah menjadi makluk yang tak pernah salah, sebaliknya iblis dan anak buahnya diciptakan tak pernah berbuat benar. Sedang manusia dalam penciptaannya, manusia adalah makhluk yang paling sempurna, karena manusia telah direncanakan untuk menjadi wakil Allah di muka bumi. Namun manusia bisa menjadi salah atau benar, baik atau buruk sehingga menjadi pilihan untuk menentukan dirinya.

Selama hidup di alam dunia, manusia tidak akan bisa lepas dari ujian, baik yang disebabkan oleh perilaku orang lain atau akibat dari perilaku diri sendiri. Ujian yang diakibatkan atas perilaku orang lain, karena adanya perbedaan persepsi, kepentingan sehingga menimbulkan konflik. Sering ditemukan antara harapan dan kenyataan sangat berbeda. Ada orang yang selalu berbuat baik pada orang lain, tak ingin menyakiti dan disakiti, tak ingin mengganggu dan diganggu, selalu membantu dan menghormati orang lain. Namun hal yang dirasakan tidak sesuai dengan yang dilakaukan disinilah timbul konflik, baik terhadap diri sendiri maupu terhadap orang lain.

Sebaik-baik perbuatan yang dilakukan tidak seratus persen diterima dengan senang hati oleh orang lain. Karena itu akan muncul ujian berupa kebencian, fitnah, adu domba, iri, dengki, tamak dan perilaku lainnya, menjadi ujian bagaimana menyikapi hal-hal tersebut. Karena itu bila membahas hal yang demikian tentu akan menjadi kajian yang amat panjang. Karena berkaitan dengan perilaku manusia sehingga berkembanag beraneka macam ilmu yang membahas tentang manusia dan upaya untuk mengembalikan fitrah insaniyahnya.

Kisah hidup
Di topic yang singkat ini penulis akan menyampaikan ujian yang diterima manusia akibat perlaku diri sendiri. Hal ini merupakan kisah nyata yang dialami oleh pak Markun (bukan nama sebenarnya). Pak Markun adalah salah seorang aparatur pemerintah, dia adalah salah seorang ASN pada suatu lembaga pemerintah. Bila dihitung pendapatannya sudah cukup untuk menghidupi keluarganya. Apalagi didukung oleh istrinya yang juga sebagai ASN. Mungkin bila melihat keluarga pak Markun adalah keluarga yang sakinah, bahagia dan sejahtera. Berlatar belakang dari keluarga seorang petani maka sangatlah bersyukur pak Markun bisa menjadi ASN. Disamping sebagai ASN beliau juga aktif di berbagai organisasi keagamaan dan takmir masjid. Dan kegiatan ini dilakuakan dengan senang dan berusaha untuk bisa memberikan kontribusi dan manfaat.

Pak Markun mempunyai kebiasaan yang unik, ketika liburan beliau selalu aktif, entah hobi atau ada maksud yang lain. Mengapa beliau sangat bersahabat dengan alam, suka memelihara tanaman, baik tanaman hias atau konsumsi, bahkan juga suka memelihara ikan dan beberapa jenis unggas. Padahal waktu libur enakan di rumah, tinggal duduk manis, nonton tv sambil sruput kopi atau teh, jalan-jalan, nongkrong dan ngrobrol. Ternyata pada suatu saat ketika ditanyakan langsung, kebetulan dia sedang menyiangi tanamannya. Dia mengatakan bahwa 1) Apa yang dilakukan karena ingin memberikan contoh pada orang lain bahwa ketika orang mau berkarya atau berusaha pasti akan mendapatkan hasil. 2) Ketika bekerja atau berkarya hendaknya jangan semata-mata mengandalkan pada kemampuannya tetapi harus ingat pada Allah, sehingga ketika menjelang datang waktu shalat selalu berhenti bekerja dan segera bersiap-siap untuk melaksanakan shalat, 3) Memanfaatkan waktu libur untuk mencintai alam, dengan mengolah, memelihara, menjaga dan marawatnya dengan baik pasti kan mendapatkan hasil. Kalau bukan hasil dari proses produksi juga dirasa ada kepuasan sendiri. 4) perrsiapan bila kelak sudah purna tugas tidak akan bingung dengan kegiatan dan aktifitas, karena itu sejak dini telah menyiapkan mental maupun sarana penunjang.

Menjempu rizqi yang kadang dilalaikan yaitu bangun pagi sebelum Subuh dan melaksanakan Shalat Subuh dengan berjamaah. Demikian penuturan pak Makun, yang mana setelah melaksanakan shalat Subuh dilanjutkan dengan membacaa Alquran dan membaca-baca buku guna menambah pengetahuan. Di rumah beliau tersedia beraneka macam koleksi buku, baik buku keagamaan, ekonomi, kesehatan, pertanian, perkebunan, peternakan, resep masakan dan lainnya. Bahkan beliau masih aktif menjadi anggota perpustakaan daerah. Hal ini sebagai upaya untuk menambah wawasan, karena koleksi buku yang dimiliki belum sebanding dengan yang ada di Perpustakaan Daerah. Ternyata dengan keanggotaan ini juga menambah saudara dan motivasi untuk terus belajar dengan membaca.

Kebiasaan untuk menambah pengetahuan dengan teori beliau juga sangat rajin untuk memanfaatkan pekarangan rumah dengan menanam beraneka mcama tanaman, baik bunga, sayuran dan buah-buahan. Pada hari Ahad, 30 Agustus 2020 sejak pagi beliau telah membenahi pekarangan dan kebunnya. Walaupun pada musim kemarau namun kebunnya nampak hijau dan masih menghasilkan walaupun untuk kebutuhan keluarga. Nampaknya dia tidak tega ketika melihat lahan kosong tidak dimanfaatkan. Pada waktu itu pukul 15.45 sudah waktunya shalat Asar beliau membawa gabah ke tempat penggilingan padi. Melihat ada sekam beliau bermaksud hendak mengambil sekam tersebut sebagai media tanam di polybag. Ketika hendak memasukkan sekam ke dalam karung, tiba-tiba pada pinggangnya ada sesuatu yang lepas sehingga kehilangan tenaga, dia bilang tidak bisa berjalan, karung dan sekam ditinggalkan sambil merangkak mendekati motor dan dengan berdiri sambil menahan sakit motor dihidupkan lalu pulang. Dengan kondisi menahan sakit berupaya melepas pakaian segera mandi dan melaksanakan shalat Asar.

Begitulah kisah yang diterima dari penuturan pak Markun. Teranyata beliau terkilir yang dalam bahasa Jawa kecetit. Kecetit menjadi ujian yang cukup berat, karena segala aktifitas mejadi sangat terbatas, untuk berjalan saja sakit apalagi berlari, membawa beban tubuh saja sudah sulit apalagi bila membawa barang, alat kerja kantor atau alat-alat pertanian dan perkebunan. Bahkan kegiatan kantor pun terpaksa tidak bisa dilaksanakan. Upaya pak Markun adalah sangat mulia, namun ternyata Allah tetap memberikan ujian, memang ujian ini adalah hak manusia dan dalam kondisi mendapatkan ujian manusia hendaknya tetap memuji Allah yang berkehendak menguji hamba-Nya dengan menggeser salah satu sel dalam tubuh sehingga menjadi sakit.

Inilah salah satu kekuasaan Allah sedikit dari ciptaannya menjadikan manusia harus terus bersabar. Sabar menerima ujian. Ternyata ketika mendapatkan ujian maka manusia menjadi makluk yang sangat lemah dan sangat bergantung pada orang lain, bagaimanakah untuk membenarkan urat syarat memerlukan tukang pijit, untuk menghilangkan rasa sakit harus memerlukan dokter. Berapun biaya yang diperlukan tidak diperhitungkan. Asalkan menjadi sehat kembali. Jangan anggap enteng terhadap sakit dan jangan menyepelekan pada orang yang sedang sakit, menganggap lebay. Karena ketika sakit akan terjadi berbagai kemungkinan. Tak ingin sakit dan bila sakit ingin segera sehat, dan harus tetap yakin bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya.

Karena itu dalam kondisi apapun setiap muslim hendaknya bersyukur dan bersabar, seberapapun ujian yang diterima bila senantiasa bersabar dan bersyukur maka menjadi pribadi yang tangguh yang bisa mengelola diri sendiri untuk menjadi insan yang bermanfaat. Semoga kisah tentang pak Markun dapat menjadi i’tibar bahwa niat dan berbuatan baik tidak selamanya mendatangkan kesenangan, tapi karena yakin terhadap qadha dan qadar Allah maka akan tetap ikhlas dan istiqomah dalam melaksanakan tugas sebagai Abdullah dan sebagai khalifatul ard.

8/25/2020

Renungan Tahun Baru Hijriyah, Manfaatkan Waktu, Jangan Sia-Siakan Waktu.

Setiap pergantian tahun sering kita menerima ucapan selamat tahun baru, semangat baru. Kata ucapan itu begitu melekat ditelinga sehingga dirinya pun juga ikut-ikutan mengucapkan selamat tahun baru, semangat baru. Kata semangat menunjukkan sikap yang optimis untuk menyongsong masa depan, dimulai dari bulan pertama pada suatu tahun. Memang orang hidup harus selalu optimis, berpikir positif dan berperasaan yang positif, dengan kata lain kita optimis, positif thingking dan positif feeling. Ungkapan ini yang akan menunjukkan berhasil atau tidaknya pada masa yang akan datang.
Taushiyah menjadi media muhasabah.

Sebenarnya tidak hanya pada tahun baru, tetapi di setiap mengawali langkah, atau mengawali beraktifitas harus optimis dan dengan semangat yang baru, karena itu awali upaya dengan meluruskan niat dengan senantiasa memohon petunjuk pada Allah, dengan memanjatkan doa. Pada umumnya orang mengawali aktifitas pada pagi hari, maka awalilah semangat bekerja dengan upaya untuk meraih ibadah yang lebih, dengan menegakkan shalat sunnah fajar dan melaksanaka shalat subuh dengan berjamaah. Maka disananalah muslim telah memiliki kekuatan spiritual untuk mendapatkan kenikmatan, kemuliaan, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.

Seandainya pada malam hari telah melaksanakan shalat tahajud, maka berapa waktu untuk bermunajat, bukan untuk mengerdilkan keutamaan shalat lail, namun pahala shalat subuh dengan berjamaah seperti orang yang beribadah semalam suntuk. Dan ditambah dengan shalat sunnah dua rekaat sebelum subuh seperti menggapai kebahagiaan dunia seisinya. Di sinilah bahwa ketika seorang muslim telah mengawali bangun pagi sebelum shalat subuh, maka Allah akan semakin lebar dalam membukakan pintu rahmatnya. Ternyata tidak sampai di situ, karena setiap muslim akan membiasakan untuk meraih rizqi yang berlimpah dengan melaksanakan shalat dhuha. Namun hendaknya harus pintar-pintar dalam mengatur waktu. Siapa dirinya dan sedang apa?

Ibadah shalat adalah kepentingan dan kebutuhan pribadi, sebagai wujud penghambaan diri kepada Allah, dan dirinya tidak bisa melepaskan tugas sebagai khalifatul ardhi. Bekerja dan beraktifitas adalah suatu kewajiban, apalagi bagi pegawai atau karyawan yang bekerja pada proses produksi dan layanan publik. Tidak bisa meninggalkan pekerjaan/ kewajiban lalu mengejar sunnah. Memang ini dua hal yang berbeda, yang satu pelaksanaan tugas manusia sebagai abdulah dan kedua sebagai khalifatul ard.

Berbeda tapi saling berkaiatan, hablun minallah akan berefek pada hablun minannas, dalam ayat Alquran disebutkan bahwa setiap bentuk penghambaan akan berdampak pada sikap dan perbuatan. Orang menegakkan shalat dalam setiap gerak-gerik atau kaifiyah shalat mengajarkan, bagaimanakah posisi takbirarul ikhram, ketika berdiri sambil menunduk melihat tempat sujud, ketika rukuk dan sujud kepala yang biasa berada diatas dengan ikhlas untuk sejajar bahkan lebih rendah dari pantat. Inilah simbol ketakdhiman dan ketawadhuan.

Demikian pula hablun minnanas akan berdampak pada kedalaman spiritual, adanya religious experience sehingga kebiasaan orang berbuat baik, suka menolong, membantu, mendoakan ternyata akan kembali pada dirinya atau kepada keluarganya. Maka kebiasaan-kebiasaan baik yang kadang tidak mungkin dilakukan orang lain dirinya justru semakin bergairah dan tertantang untuk melaksanakannya.

Menyia-nyiakan umur.
Umur manusia tidak akan ada yang mengetahui, sampai umur berapa, dan apakah ketika diberikan umur yang panjang hingga ajal menjemput tetap dalam kondisi sehat? Atau justru umurnya yang pendek, sakit-sakitan hingga ajal menjemput, atau umur yang panjang namun sakit-sakitan hingga ajal menjemput. Kita tidak ingin yang menurut dirinya buruk, umur panjang, selalu sakit-sakitan hingga ajal menjemput. Kita ingin umur yang panjang, selalu sehat, bisa bermanfaat, bahagia, sejahtera, meninggal dalam kondisi khusnul khatimah. Karena itu hendaknya membiasakan diri untuk selalu berfikir yang positif. Jangan biasakan bayang-bayang kegagalan menutupi mata hati dan fikiran.

Bahwa setiap manusia hidup pasti mempunyai masalah, dan masalah akan selalu datang silih berganti, namun hendaknya selalu yakin bahwa Allah telah menciptakan masalah, Allah memberikan masalah dengan memberikan cobaan kepada hamba-hambanya. Allah sayang pada hambanya, bahwa Allah telah mengukur kemampuan hambanya. Bahwa tidaklah Allah memberikan cobaan kecuali menurut kesanggupannya. Namun kadang seringnya masalah datang, terkadang lalai untuk segera mengatasinya. Sehingga dari masalah-masalah yang kecil akan menumpuk sehingga menjadi beban yang sangat berat.

Ada keluh kesah hamba Allah yang merasa resah karena hutang-hutangnya tak kunjung lunas. Sehingga setiap berangkat kerja dan ketika beraktifitas selalu mengharapkan untuk segera mendapat gaji. Waktu dilalui hanya menghitung jumlah gaji dan menghitung jumlah pengeluaran rutin keluarga dan kemampuan membayar hutang-hutang. Tidak disadari bahwa orang yang demikian ini sesungguhnya telah menyia-nyiakan waktu. Bagaimanakah waktu yang lalu hendaknya waktu yang dilalui dengan kekuatan, kemampuan, akal, fikir dan tenaga yang masih prima, tidak pernah merasa sakit, pemampilan perlente. Sebenarnya waktu-waktu itu akan lebih bermakna bila dapat mengeluarkan potensi dan kekuatan untuk merubah kondisinya. Namun menjadi sia-sia, ketika waktu yang masih produktif hanya digunakan untuk mengkalkulasi income dan outcame. Ketika telah sampai waktu penerimaan gaji mendapat kebahagiaan walau hanya sementara. Ternyata hutang-hutanya akan lunas hingga beberapa tahun lagi. Tidak sadar bahwa pada masa yang akan datang, adalah masa yang masih rahasia, apakah akan tetap sehat? Harapan tetapa sehat namun sesunggunhya waktu yang terus berjalan, usia semakin tua yang akan mempengaruhi fungsi metabiolisme tubuh dan produktifitas kinerja.

Karena itu tahun baru, dengan semangat baru hendaknya menjadi spirit untuk selalu mengembangkan diri, selalu mengolah dan mengasah fikr dan kalbu. Kadang kenyamanan akan menyebabkan orang cenderung pasif dan kurang produktif. Contoh seorang pegawai yang telah menjadi pegawai pemerintah, telah merasa nyaman dengan posisi dan kedudukannya. Gajinya tidak terlalu besar namun dipandang sudah cukup untuk kebutuhan keluarga. Kondisi kenyamanan ini akan melakukan rutininitas, pekerjaan dan aktifitas dilaksanakan menurut komando secara rutin. Tidak ada upaya untuk mengembangankan diri dalam ilmu, ketrampilan dan spiritual. Dirinya berfikir untuk apa belajar, mencari ilmu lagi toh dirinya telah mendapatkan gaji, dan temannya yang berpendidikan tinggi juga gajinya tidak terlalu berbeda dengan dirinya. Demikian pula dalam beribadah hanya melaksanakan ibadah-ibadah yang bersifat fardhu, karena merasa telah cukup melaksankaan kewajiban.

Masa yang akan datang tida ada yang tahu, ketika dua anaknya sakit. Dirinya dan istrinya berusaha untuk merawat dan menjaga anak-anaknya. Yang biasanya hidup telah merasa nyaman, berubah ketika harus datang pulang dari rumah ke rumah sakit, ke tempat kerja. Tidak lama pun tubuhnya merasa lelah demikian pula istrinya. Akhirnya karena kurangnya pengetahuan, dan ketrampilan dalam mengelola problem maka masalah semakin komplek. Ibadah yang minimalis belum bisa menjadi sarana untuk mengatasi masalah. Hal ini jauh berbeda dengan orang-orang yang selalu mengasah hati, fikir dan dzikir bisa mengatasi masalah dengan sistematism, tenang dan terencana.

Maka jangan sia-siakan waktu, banyak orang merugi karena waktu. Allah telah bersumpah dengan waktu, bahwa manusia benar-benar dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling berwasiat dalam untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran. (lih. QS. Al Ashr: 1-3). Andai Allah tidak sayang pada hambanya maka tidak akan mengingatkan kepada hambanya. Allah akan membiarkan hambanya dalam kehendak dan perbuatannya. Karena itu penghargaan terhadap waktu sangatlah penting, waktu yang telah berlalu tidak akan kembali dan akan terus pergi semakin menjauh. Waktu yang akan datangpun terasa begitu cepatnya akan datang. Maka merugilah bila tidak dapat memenej terhadap waktu. Waktu menunggu diganti menjadi waktu untuk berbuat dan berkarya.

Begitu berarti dan bermaknanya waktu, setiap orang mempunyai waktu yang sama 24 jam dalam sehari semalam. Berapa banyak orang telah memanfaatkan waktu dengan produktif, berapa waktu telah disia-siakan. Sungguh bernilaianya waktu bagi orang yang akan menjalani operasi, berapa bermaknanya waktu bagi orang yang membutuhkan pertolongan rumah saki karena kekurangan oksigen. Betapa bermaknanya waktu, maka calon pegawai yang akan menghadapi ujian, sungguh bermaknanya waktu bagi petani yang menanti waktu panen dan sebagainya. Karena itu dengan waktu ada orang yang menjadi pintar, bodoh, kaya, miskin. Dengan waktu manusia akan menjadapatkan hasil. Karena agar masa yang akan datang menjadi lebih baik Allah telah berpesan.


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hasy: 18)


8/19/2020

Renungan Tahun Baru Hijriyah, Evaluasi Tahun 1441 H Menuju 1442 H

Pada hari Rabu 19 Agustus 2020 umat Islam  meninggalkan kalender hijriyah 1441 menuju pada tahun baru 1442 H. Pergantian tahun yang tidak pernah dilakukan dengan kegiatan pesta, uvoria dan bersenang-senang. Pergantian tahun yang selalu diselenggarakan dengan kegiatan perenungan, muhasabah atas apa yang telah dilakukan, berapa banyak dan berapa besar dosa-dosa yang telah dilakukan. Terasa kecil dan hina manusia dihadapan Allah yang Maha Suci, Maha Sempurna, Maha Besar dan tiada sekutu bagi Allah.
Matahari tenggelam, menandakan pergantian masa.
Allah telah menciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna, diberi kelengkapan panca indra, hati, akal, agama sehingga menambah kesempurnaannya. Bahkan Allah telah menyediakan segala hal yang diperlukan manusia, alam semesta telah diamanatkan kepada manusia untuk menjaga, melestarikan, mengelola dan memanfaatkannya. Manusia tersungkur dihadapan Allah, apa yang telah dilakukan, sudahkah beramal, berkarya sesuai dengan petunjuknya, sudahkah manusia memberikan manfaat bagi yang lain. Atau justru dosa yang telah dilakukan, tanpa disadari atau dengan kesadaran menentang perintah Allah dan dengan bangganya melaksanakan larangan Allah.

Inilah tahun baru hijriyah, umat Islam bermuhasabah, sehingga pada tahun baru berusaha memikirkan terhadap amal ibadah yang telah dilakukan. Tiada kesempatan untuk berhura-hura, bersenang-senang dan melakukan aktifitas yang tidak bermanfaat. Tahun 1441 H telah berlalu, segala yang telah terjadi tidak akan kembali lagi, susah senang tidak akan kembali, bahkan usiapun semakin meninggalkan, tubuh yang molek wajah yang cantik termakan usia sehingga tak cantik lagi, tubuh yang tegak, tampan, gagah pun juga termakan usia. Bahkan tubuh yang sehat terasa semakin rapuh, terkena air hujan sedikit saja meriang, dingin sedikit-pun jugamenjadi kurang sehat.

Aroma tubuh yang harum karena besutan minyak wangi berubah menjadi aroma minyak angin yang selalu membalur tubuhnya. Menghangatkan, mengilangkan pening, perut kembung dan sakit-sakit lainnya. Rambut yang hitam pun juga lambat laun memutih, rambut kepala, hidung, kumis, jambang, alis dan bulu mata, bertambah hari berganti bulan dan tahun berubah putih. Gigi-gigipun juga ikut rapuh, satu persatu tanggal. Pandangan mata yang tajam menjadi buram, kaca mata yang dipakai kadang harus berganti, minus, plus, silindris dan sebagainya. Pendengaranpun juga semakin berkurang, dahulu waktu muda ada bisikan suara terdengar dengan jelas, namun tahun berganti, untuk mendengar harus mencari sumber suara. Kulit yang dahulu halus, kencang menjadi keriput. Kaki yang dahulu kuat untuk menopang tubuh, kini menjadi gemetar dan sering kesemutan, untuk berjalan apalagi berlari nafas terengah-engah.

Proses perjalanan hidup manusia, terus berjalan, mausia tidak akan bisa menolak Sunnatullah. Karena itu kecantikan, ketampanan, kekayaan, harta, tahta adalah suatu yang fana dan suatu saat akan sirna. Tidak ada yang dapat dibanggakan dihadapan Ilahi, kecuali iman, taqwa dan amal ibadah. Segal hal yang dilakukan manusia tertata rapi dalam buku catatan amal Malaikat Raqib dan Atid. Baik buruk, besar kecil tidak akan pernah tertinggal dari catatan amal perbuatan manusia.

Tahun 1441 H telah berlalu, entah kapan akan kembali, ketika Rasulullah ditanyakan tentang ruh dan hari qiyamat, rasul hanya bisa menjawab, itu urusan Tuhan-mu. Hari qiyamat adalah suatu yang pasti, alam akhirat suatu yang pasti dan terjadi untuk selamanya. Bisa saja orang merasakaan kehidupan yang bahagia dengan kebahagiaan yang belum pernah dirasakan di dunia. Di akhirat juga banyak orang yang hidup dalam penderitaan, siksaan yang tidak akan pernah berhenti. Disanalah manusia akan merasakan buah dari amal ibadaah selama hidup didunia. Dunia yang fana seakan akan selamanya, akhirat yang dijanjikan untuk selamnya namun banyak ditinggalkan.

Tahun 1441 H sudah berlalu, kini kita masuk di tahun 1442 H, tahun yang hendaknya dihadapi dengan rasa optimis, namun ternyata manusia tidak bisa menolak takdir bahwa tahun baru hijriyah dihadapi dengan peningkatan perenungan dan muhasabah, dengan wabah pandemi Covid-19. Mengapa Allah menimpakan wabah itu, apakah ini ujian, cobaan atau azab Allah. Dosa apakah yang telah dilakukan, sampai kapan wabah itu akan berakhir.

Banyak ditemukan bahwa new normal dipahami bahwa manusia bebas untuk beraktifitas. Ketika dahulu orang berdisiplin memakai masker, sekarang sering ditemukan aktifitas manusia yang tanpa masker. Sosialisasi pelaksanaan protokol kesehatan terus dilaksanakan, namun di beberapa daerah ODP, PDP dan yang positif terkena Covid-19 meningkat. Siapa yang salah dan siapa yang benar? Semua mempunyai dalih yang berbeda-beda. Desakan ekonomi sehingga menuntut untuk kembali beraktifitas, rasa risih, ingin bebas maka tidak lagi memaki masker, jaga jarak, membiasakan cuci tangan. Tuntutan pendidikan putra-putri, rasa jenuh putra-putri dalam keluarga ingin kembali berkumpul dengan teman-teman-temannya.

Karena itu bagaimana menyikapi pandemi Covid-19, tahun 1442 kita harus optimis dapat kembali menjalani kehidupan yang normal. Usaha lahir dan batin, saling bahu membahu, saling mengingatkan, saling menolong, saling menghormati, agar suasana hati tetap tenang. Jauhi fitnah, kebencian, permusuhaan, pertikaian dan perbuatan buruk lainnya yang akan menambah noktah pada hati hamba Allah. Bersihkanlah hati dengan beristighfar, memohon ampun kepada Allah, bertobat, memperbanyak dzikir.

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِيْ لَا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وأَتُوْبُ إِلَيْهِ, رَبِّ اغْفِرْ لِيْ ، وتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَابُ الرَّحِيْمُ, سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, خَلَقْتَنِي, وَأَنَا عَبْدُكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ, أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ, أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ, وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي, فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ