Minggu, 31 Mei 2020

Ibadah Lillah Pasca Ramadhan


Puasa Ramadhan 1441 H adalah ibadah yang istimewa, keistimewaan tersebut secara umum telah terjadi pada puasa Ramadhan pada tahun-tahun yang lalu. Keistimewaan secara nash, menurut petunjuk Allah dalam surat Al Baqarah ayat 183:

  1. Puasa Ramadhan adalah ibadah yang dikhususkan bagi orang-orang yang beriman, sehingga bila bukan orang yang beriman tidak diwajibkan melaksanakan puasa Ramadhan.
  2. Ibadah puasa Ramadhan menjadi media untuk mewujudkan orang yang bertaqwa, di beberapa surat dan ayat Alquran tentang tanda-tanda orang yang bertaqwa. Puasa bukan hanya menahan diri untuk tidak makan, minum dan berhubungan suami istri pada siang hari, tetapi orang yang berpuasa juga agar dapat menahan diri dari ucapan dan perbuatan yang tidak baik. Sehingga diharapkan dapat mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan-kegiatan dan amal yang baik seperti shadaqah, tadarus Alquran, salat tarawih dan lain-lain.
  3. Dalam bulan Ramadhan Allah melipatgandakan setiap amal ibadah, setiap ibadah pahalanya akan dilipatgandakan. Ibadah puasa langsung akan diterima Allah dan hanya Allah yang akan menghitung pahalanya. Dan ibadah sunnah akan dilipatgandakan, bahkan tidurpun akan dihitung sebagai ibadah. Yaitu tidur yang bertujuaan untuk menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak baik.
  4. Pada bulan Ramadhan ada suatu malam dimana setiap mukmin yang beribadah pada malam tersebut akan diberikan pahala sebagaimana orang yang beribadah seribu bulan, yaitu peristiwa lailatul qadar.
  5. Pada bulan Ramadhan Allah membuka pintu rahmat, maghfirah bahkan para syetan dibelenggu. Ibadah diluar bulan Ramadah menjadi ibadah yang berat sehingga juga akan menambahkan kadar pahala disisi Allah.


Keistimewaan di masa pandemi.
Keistimewaan kedua pada Ramadhan 1441 H adalah pelaksanaan puasa yang belum pernah dialami, bahkan penulis sendiri baru mengalami pada tahun ini dengan berharap tidak akan pernah terjadi lagi ibadah puasa Ramadhan di tengah pandemi virus corona/ Covid- 19 dan wabah penyakit lainnya. Ingin agar ibadah penuh kedamaikan. Namaun ternyata ibadah pada atahun ini berhadapan dengan dua hal, yaitu pertama mengikuti himbaukan pemerintah dan tokoh agama, kedua mengikuti pengetahuan diri sendiri.

Puasa Raamadhan dengan segala amaliahnya adalah ibadah tahunan, dari tahun ke- tahun kegiatan itu hanya memutar rutinitas yang telah dilakukan, shalat tarawih, tadarus Alquran, buka bersama dan kegiatan lainnya. Ada kelompok dan golongan yang dengan khusuk dan khudhu’ tetap melaksanakan namun dalam nuansa keluarga sesuai dengan himbauan pemerintah dan tokoh agama. Ibadah adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Melaksana Ibadah adalah merpakan bentuk ketaatan kepada Sang Khaliq, dan Allah telah menetapkan untuk taat pada Allah, rasul dan ulil amri.

Dalam kaidah bahasa Arab penyebutan suatu perintah yang disambung dengan wau ‘athaf, maka mempunyai kekuatan huokum yang sama, sehingga bila taat pada perintah Allah juga agar taat kepada rasul dan juga taat kepada para pemimpin. Pemerintah dan tokoh-tokoh agama telah mengeluarkan himbauan dan keputusan untuk membatasi bulan Ramadhan telah melalui kajian dan penelitian. Tidaklah membatasi kegiatan peribadatan kecuali untuk mewujudkan kemaslahatan dan menjaga khifd nafs karena musibah, malapetakan yang disebabkan oleh virus corona/ Covid-19.

Di samping ada yang yang mengikuti himbauan pemerintah dan tokoh agama, ada kelompok dan golongan yang tetap beraktivitas sebagaimana biasa, shalat tarawih tetap dilaksanakan di masjid, tadarus Alquran secara bergerombol, bahkan kadang mereka bangga dapat beraktivitas, dengan mengatakan, mengapa beribadah harus dibatasi? Dengan berbagai macam argumentasi disampaikan untuk merebut simpati masyarakat.

Kondisi itu yang menjadi gesekan- gesekan dalam kegiatan sosial, ibadah yang seharusnya bernuansa pribadi, sosial dan spiritual, ternyata lebih dominan pada nuansa pribadi. Mengutamakan kepentingan pribadi dengan tidak menghiraukan dampak sosial. Karena itu hendaknya mengevaluasi apakah ibadahnya “Lillah atau linnas”.

Pasca Ramadhan
Ibadah yang berlandaskan Lillah tidak ditentukan situasi dan kondisi tetapi dilakukan secara terus terus-menerus, Allah telah berfirman:

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. (QS. Alam Nasrah: 7-8)

Sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) telah selesai berdakwah maka beribadatlah kepada Allah, apabila telah selesai mengerjakan urusan dunia, maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan apabila telah selesai mengerjakan shalat berdoalah. Jadi setelah selesai melakukan kegiatan ibadah maka untuk segera melaksanakan kegiatan yang lainnya. Demikian juga ibadah puasa Ramadhan bila itu adalah merupakan bulan pelatihan maka bukti pelatihan yang sukses adalah setelah puasa Ramadhan bagaimana ibadah puasa wajib kemudian disusul dengan ibadah puasa sunah yang lainnya.

Bila puasa Ramadhan adalah bulan penjernihan emosi, maka puasa Ramadhan akan lebih banyak meningkatkan ibadah yang bernuansa sosial, karena dengan aktivitas sosial itulah orang akan bisa memahami kondisi diri sendiri melalui interaksi sosial. Keimanan seseorang diuji dari kegiatan-kegiatan sosial, ketika sudah kuat menghadapi tantangan dalam kehidupan sosial maka jiwanya akan menjadi yang lebih mapan dan emosinya lebih tertata. Bila bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan maghfirah dan pahalanya dilipatgandakan oleh Allah maka pada bulan Ramadhan banyak yang melakukan kegiatan seperti tadarus Alquran memperbanyak shadaqah dan kegiatan sosial lainnya, maka kegiatan-kegiatan itu bisa dilestarikan pasca Ramadhan, karena puasa Ramadhan adalah bulan pelatihan bagi setiap mukmin agar bisa dilaksanakan di bulan-bulan yang lainnya.

Karena itu ibadah Lillah adalah ibadah yang semata-mata karena mengharap ridha Allah, melaksanakan perintah Allah dan rasul-Nya. Ibadah yang demikian ini telah menjadi ikrar bagi setiap muslim ketika awal dia mengucapkan dua kalimah syahadah dan ucapan tersebut sering kali diucapkan ketika menegakkan shalat.

“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al An’am: 162)

Ibadah kepada Allah sepanjang masa, selama hidup untuk bekal meraih kebahagiaan Akhirat. Ibadah bersama, bersama dalam beribadah, saling menolong, saling mengingatkan, saling berbuar kesabaran. Setiap manusia pasti akan mengalami ajal, ajal yanag baik adalah khusnul khatimah. Dan khusnul khatimah akan diperoleh jika di akhir hayat dalam kondisi iman dan taqwa kepada Allah. Karena itu tiada batas untuk selalu berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan.

Sabtu, 30 Mei 2020

Belajar Shalat, dari Sunnahnya


Setiap ibadah yang difardukan atau wajib diwajibkan oleh Allah merupakan pangkal atau pokoknya ibadah, seperti orang menegakkan shalat, ada shalat fardhu sebagai pangkal ibadah. Shalat fardhu tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apapun dan dimanapun, dalam ketentuan fikih ada ibadah yang bisa dilaksanakan pada waktu tertentu, tapi ada yang bisa dilakukan di waktu yang lain, misalnya melaksanakan shalat jamak dan qashar. Atau ibadah shalat bisa dilakukan dengan kondisi yang berbeda, bagi orang yang sehat dilaksanakan dengan berdiri, tetapi kalau tidak bisa berdiri maka dilakukan dengan duduk, bila dengan duduk tidak bisa maka dilaksanakan dengan berbaring, bila dengan berbaring tidak bisa, maka dengan isyarat.

Setelah ibadah shalat fardhu, Allah memberikan kelengkapan ibadah shalat dengan shalat sunnah. Banyak sekali ibadah ibadah shalat sunah, ibadah shalat sunah ini mempunyai keterkaitan dengan ibadah shalat fardhu, karena ibadah shalat sunah bisa menjadi penyempurna, pelengkap, penambah pahala di sisi Allah. Demikian juga wudhu merupakan rangkaian persiapan sebelum melaksanakan shalat, sebagaimana dalam Alquran surat Al Maidah ayat 6 ada empat hal, yaitu membasuh muka, membasuk tangan sampai dengan siku, menyapu kepala dan membasuh kaki sampai dengan kedua mata kaki.

Lalu dalam praktek berdasar sunnah rasul menjadi 6 yang diawali dengan niat, dan yang terakhir menegaskan bahwa pelaksanaan wudhu harus tertib. Untuk penyempurna, kelengkapan ibadah yang fardhu, maka Allah memberikan keutamaan untuk melakukan amalan-amalan sunnah. Diantara sunnah berwudhu disebutkan dalam Fiqih Sunnah karya Sayid Sabiq:
1. Memulai dengan membaca basmalah. Bahwa ketika akan melakukan perbuatan apapun maka hendaknya dimulai dengan mengucap asma Allah.

كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِالْحَمْدِ أَقْطَعُ

"Semua perkara penting yang tidak dimulai dengan hamdalah adalah sia-sia."
(HR. Ibnu Majah)
2. Menggosokkan gigi atau siwak dengan kayu dengan kayu yang kesat, atau menggosok gigi dengan menyikat gigi
3. Membasuh kedua telapak tangan sebelum memulai wudhu.
4. Berkumur-kumur tiga kali.
5. Memasukkan air ke hidung kemudian mengeluarkan menghilangi lagi.
6. Menyilangkan antara jari kedua tangan dengan jari kedua kaki.
7. Mendahulukan yang kanan, bila mmebasuh tangan maka yang dibasuh tangan kanan, membasuk kaki dimulai kaki kanan.
8. Mualat artinya berturut-turut membasuh anggota demi anggota, jangan sampai orang yang berwudhu itu menyela wudhunya dengan pekerjaan lain.
9. Membasuh kedua telinga.
10. Masing-masing dibasuh tiga kali.

أُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ثَلَاثًا وَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ ذِرَاعَيْهِ ثَلَاثًا ثَلَاثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَأُذُنَيْهِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا

Didatangkan air wudhu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau pun berwudhu, beliau membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, kemudian berkumur dan beristinsyaq tiga kali, lalu membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh kedua lengannya tiga kali tiga kali, lalu mengusap kepalanya dan kedua telinganya; bagian luar dan dalamnya. (HR. Abu Dawud)

11. Berdoa selesai wudhu.

Sumber bacaan:
Rasjid, Sulaiman H, Fiqh Islam (2014), Sinar Baru Algasindo, Bandung
Rusyd, Ibnu, Bidayatul Mujtahid (2007), Pustaka Amani, Jakarta
Sayid Sabiq, Fikih Islam, (1987), PT Al Ma’arif, Bandung.

Jumat, 29 Mei 2020

Belajar Shalat, Fardhu Pangkal Ibadah Shalat Bagian III

Shalat adalah ibadah yang paling agung, karena shalat adalah merupakan rukun Islam yang kedua, shalat adalah tiangnya agama. Barang siapa yang mendirikan shalat maka dia menegakkan agama dan barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti merobohkan agama. Shalat menjadi standar akhlak dan moralitas setiap mukmin, shalat akan membentuk mental spiritual, sesuai dengan yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW. Shalat adalah ibadah yang akan pertama kali ditanyakan oleh Allah besok di hari Qiamat. Shalat adalah menjadi penentu seluruh amal perbuatan manusia, bila shalatnya baik maka seluruh amal perbuatan manusia menjadi baik, sebaliknya shalat yang tidak baik maka amal perbuatan manusia itu menjadi tidak baik.

Shalat menjadi ibadah yang paling agung, karena itu memerlukan persiapan persiapan sebelum menegakkan shalat. Wudhu adalah salah satu rangkaian sebelum melaksanakan ibadah shalat. Dalam melaksanakan wudhu ada yang disebut sebagai fardhu dan sunnah berwudhu. Sebagaimana Firman Allah SWT:
“ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS. Al Maidah: 6)

Demikian pula dalam hadits nabi, banyak sekali hadits yang menerangkan tentang hal ini, salah satunya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Buchari:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ وَهُوَ جَدُّ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى أَتَسْتَطِيعُ أَنْ تُرِيَنِي كَيْفَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ نَعَمْ فَدَعَا بِمَاءٍ فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ يَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari 'Amru bin Yahya Al Mazini dari bapaknya bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada 'Abdullah bin Zaid, dia adalah kakek 'Amru bin Yahya-, "Bisakah engkau perlihatkan kepadaku bagaimana Rasulullah SAW berwudhu?" 'Abdullah bin Zaid lalu menjawab, "Tentu." Abdullah lalu minta diambilkan air wudlu, lalu ia menuangkan air pada kedua tangannya dan membasuhnya dua kali, lalu berkumur dan mengeluarkan air dari dalam hidung sebanyak kali, kemudian membasuh mukanya tiga kali, kemudian membasuh kedua tangan dua kali dua kali sampai ke siku, kemudian mengusap kepalanya dengan tangan, dimulai dari bagian depan dan menariknya hingga sampai pada bagian tengkuk, lalu menariknya kembali ke tempat semula. Setelah itu membasuh kedua kakinya." (HR. Buchari)

Berdasarkan pada ayat Alquran dan hadits maka fardhu wudhu terdiri dari:

  1. Niat, yang memegang peranan sentral dalam setiap perbuatan, setiap melakukan perbuatan apa pun hendaknya dilandasi dengan niat:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
"Semua perbuatan tergantung niatnya” (HR. Buchari, Abu Dawud, Ibnu Majah)

2. Membasuh muka, artinya adalah mengalirkan air ke atasnya artinya membasuh itu mengalirkan batas muka itu panjangnya dari puncak kening sampai dagu sedangkan lebarnya dari pinggir telinga sampai ke pinggir telinga yang satu lagi.

3. Membasuh siku ialah engsel yang menghubungkan tangan dengan lengan dan kedua siku itu termasuk yang wajib dibasuh.

4. Menyapu kepala, maksudnya mengelapkan sesuatu yang basah dan ini tidak akan terwujud kecuali adanya gerakan dari anggota yang menyapu dalam keadaan lekat dengan yang disapu. Maka meletakkan tangan atau jari ke atas kepala atau lainnya tidak dapat dikatakan menyapu.

5. Membasuh kedua kaki serta kedua mata kaki.
6. Tertib atau berurutan.

Lihat:

Kamis, 28 Mei 2020

Belajar Shalat dan Sempurnakan Wudhu Bagian II

Shalat dan wudhu adalah merupakan satu rangkaian pelaksanaan ibadah, shalat tanpa wudhu maka shalatnya tidak sah. Wudhu diwajibkan sebelum melaksanakan shalat, karena untuk menyiapkan diri seseorang menghadap Allah dengan mensucikan dirinya dari hadas dan najis. Hadas bisa dihilangkan dengan cara berwudhu. Allah telah memerintahkan:

“ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS. Al Maidah: 6)

Dalam firman Allah tersebut disebutkan bahwa tertib wudhu meliputi membasuh muka, tangan sampai siku, menyapu kepala, membasuh kaki sampai dengan dua mata kaki. Namun bila ingin memperoleh kesempurnaan dalam berwudhu misalnya sebelum memasuh muka diawali dengan mencuci tangan, lalu berkumur, menghisap air dengan hidung, mencuci telinga, tengkuk leher, dan berdoa harus belajar. Begitu agungnya shalat bagi setiap muslim maka untuk mencapai keagungan dilalui dengan berbagai persyaratan.
Demikian pula tata cara membasuh muka, tangan, kepala juga melalui belajar, tanpa belajar maka akan bingung. Karena dalam prakteknya tata cara berwudhu juga terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama. Belajar tiada batasnya, dengan belajar akan mendapatkan kebaikan dan kesempurnaan.
Jangan merasa bahwa shalatnya sudah baik dan sempurna, bila tidak melaksanakan wudhu:

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

"Allah tidak menerima shalat salah seorang diantara kalian jika berhadas hingga ia berwudhu."
(HR. Buchari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi)

Wudhu atau bersuci dari hadas adalah merupakan kebutuhan untuk shalat, karena itu bila sudah berhadas maka harus berwudhu. Bahkan wudhu bukan hanya dikhususkan ketika akan menegakkan shalat, memegang mushaf hendaknya dalam keadaan suci, mau tidur berwudhu, bahkan akan lebih baik bila dalam setiap saat selalu menjaga wudhu. Karena setiap ibadah pasti mempunyai fadhilah, keutamaan dan keistimewaan yang akan diberikan pada orang-orang yang tetap konsisten pada amaliyahnya.

Belajar shalat dari wudhu dimulai dari pemilihan air yang digunakan harus yang suci dan mensucikan Air. Air mutlak yaitu air yang suci dan mensucikan, artinya air yang dari zatnya memang suci dan mensucikan bagi yang lainnya, diantaranya air hujan, air salju, air es, air embun, air, air yang berasal dari sumber atau telaga. Air yang berubah karena tergenang atau bercampur dengan daun (Sayyid Sabiq Sayyid, Fiqih Sunnah (1973) CV Ma'arif, Bandung: 29).

Lain lagi bila wudhu dengan air yang sedikit, bernajis air, air suci tapi tidak mensucikan seperti air the, air susu, air kopi, air yang telah digunakan maka wudhunya tidak sah, bila tetap berwudhu dengan air tersebut maka tidak sah dan shalatnya menjadi tidak sah. Pernah terjadi di suatu perumahan, ada seorang jamaah masjid. Seperti biasa sebelum melaksanakan shalat mereka berwudhu, tetapi ada salah seorang jamaah, ketika itu nampak sudah berwudhu kemudian masuk ke dalam masjid, namun nampaknya dia merasa mau kencing, sehingga kencing di toilet. Sesudah kencing dia langsung ke masjid tidak berwudhu dulu. Untung diketahui oleh ustadz, sehingga sang ustadz mendekat lalu berbisik, nampaknya ustadz tersebut berupaya untuk memberi tahu, dan ternyata orang tersebut lalu berwudhu.

Ini adalah salah satu problem umat Islam, yang mana pemahaman terhadap agama Islam belum mereka peroleh, mereka melaksanakan shalat karena ikut-ikutan, berwudhu juga karena ikut-ikutan saja, belum mengetahui dasar-dasar atau hal-hal yang harus dilakukan. Bagaimana cara berwudhu, mengapa harus berwudhu. Maka menjadi tugas bagi setiap muslim yang telah mengetahui ayat-ayat Allah untuk menyampaikan kebaikan, namun untuk terus belajar dan mengkaji. Karena begitu luasnya ilmu Allah yang tidak akan ada habis-habiusnya untuk dipelajari.

Wudhu merupakan persiapan orang mau melaksanakan shalat, dengan wudhu yang baik dan sempurna maka akan merasakan kesegaran seluruh tubuhnya, bahkan jiwanya. Dari tubuhnya jelas, bahwa bila ada kotoran yang melekat pada anggota tubuh, maka dibersihkan mulai dari membasuh tangan, berkumur, membasuh hidung membasuh muka, mengusap kepala, mencuci kaki, maka akan menjadikan tubuh merasa bersih merasa segar kembali. Jiwanya juga akan menjadi lebih bersih karena berdasarkan hadis nabi bahwa air yang mengalir ketika sedang melaksanakan wudhu, akan menghapuskan dosa-dosa yang sudah dilakukan, dosa akan gugur bersaamaan dengan jatuhnya air wudhu, maka jiwa akan menjadi bersih kembali.

إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ فَتَمَضْمَضَ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ فِيهِ فَإِذَا اسْتَنْثَرَ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ أَنْفِهِ فَإِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجْتِ الْخَطَايَا مِنْ وَجْهِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَشْفَارِ عَيْنَيْهِ فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ يَدَيْهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ يَدَيْهِ فَإِذَا مَسَحَ بِرَأْسِهِ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ رَأْسِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ أُذُنَيْهِ فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ رِجْلَيْهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ رِجْلَيْهِ ثُمَّ كَانَ مَشْيُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ وَصَلَاتُهُ نَافِلَةً لَهُ قَالَ قُتَيْبَةُ عَنْ الصُّنَابِحِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

" Apabila seorang hamba yang beriman berwudlu lalu ia berkumur-kumur, maka keluarlah kesalahan mulutnya (maksudnya kesalahan yang diperbuat oleh mulutnya). Bila dia menghirup air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya, maka keluarlah kesalahan dari hidungnya. Bila membasuh muka, keluarlah kesalahan dari mukanya hingga keluar dari kedua kelopak matanya. Jika ia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah kesalahannya dari kedua tangannya hingga keluar dari bawah kuku-kuku kedua tangannya. Apabila mengusap kepalanya, maka keluarlah kesalahannya dari kepalanya hingga keluar dari kedua telinganya, dan apabila membasuh kedua kakinya, maka keluarlah kesalahan dari kedua kakinya hingga dari bawah kedua kuku-kuku kedua kakinya. Kemudian berjalannya ke masjid menjadi ibadah sunnah baginya." Qutaibah berkata; dari As-Sunabihi; Demikian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan. (HR.  Malik: 55, Nasai: 102)

Shalat harus dalam keadaan suci, kesucian shalat memiliki beberapa tahapan
1. Kesucian lahiriyah dari benda-benda najis dan kotoran.
2. Kesucian organ dari dosa-dosa dan perbuatan keji.
3. Kesucian jiwa atau ruh dari keterpurukan moral.

Bila dalam shalat diperlukan kesucian baju dan badan dari najis dan kotoran, apakah tidak lebih penting jiwa dan ruh suci dari sombong, dengki dan iri. Dan apakah perbedaannya keadaan batin dengan keadaan lahir bukan merupakan kemunafikan? (Qira’ati, Muhsin, Pancaran Cahaya Shalat (1996), Pustaka Hidayah Bandung: 81). Lihat Belajar Shalat, Fardhu Pangkal Ibadah Shalat Bagian III

Rabu, 27 Mei 2020

Belajar Shalat Membiasakan Untuk Disiplin Bagian I


Shalat adalah salah satu ibadah yang tidak akan ada habis-habisnya. Betapa agung nilai ibadah shalat, sehingga untuk melaksanakannya perlu pendidikan, pelatihan dan pembiasaan yang tidak ada henti-hentinya. Ibadah shalat selalu berkaitan dengan kondisi mental dan spiritual. Ibadah shalat dikerjakan secara total, aktivitas fisik dimulai dari takbiratul ihram hingga salam merupakan aktivitas rutin yang tidak boleh diganti dengan aktivitas lain kecuali orang-orang yang mendapatkan rukhsah karena mengalami masyaqat untuk tidak melaksanakan shalat sebagaimana mestinya.

Aktivitas rohani berkaitan dengan kondisi mental spiritual, aktivitas rohani menyertai aktivitas fisik. Maka bila antara aktivitas fisik dan rohani tidak sejalan, ibadah shalat menjadi tidak khusyuk, karena itu menjadi sulit untuk membedakan antara orang yang sudah melaksanakan shalat dengan yang tidak melaksanakan shalat. Yang semestinya dalam Aktivitas keseharian akan berbeda, karena shalat seharusnya dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar tetapi faktanya yang terjadi terkadang “shalat terus maksiat tetap jalan”.

Belajar shalat
Belajar shalat merupakan proses atau usaha dari tidak tahu agar menjadi tahu, dari sudah tahu agar menjadi paham, dari paham untuk dilaksanakan, dari keterpaksaan menjadi keikhlasan. Belajar shalat biasanya diterapkan bagi kelompok anak-anak, dia tidak tahu kaifiyah dan bacaannya, dia belum paham tentang makna shalat sehingga usia anak-anak biasanya pembelajaran hanya terbatas pada ibadah lahir, gerakan, bacaan, ibadah batin belum bisa di belum terjangkau.

Dari pembelajaran itu dan dilakukan secara terus-menerus sehingga menjadi kebiasaan, setelah mendengar waktu shalat segera bergegas untuk menegakkan shalat. Ibadah shalat pada anak-anak biasanya terpengaruh oleh situasi dan kondisi dari lingkungan, shalat pada anak-anak rentan dengan perubahan. Bila berjajar dengan teman yang suka bermain, ia pun akan ikut bermain, bahkan bila mendengar temannya batuk maka akan pura-pura batuk, teman lain pun juga ikut batuk. Sehingga sering ditemuai dalam pelaksanaan shalat berjama’ah tersedngar suara batuk yang bersahut-sahutan karena tingkah anak-anak.

Pada suatu saat seorang ayah mengajak pada anaknya untuk menegakkan shalat, anak pun segera berwudhu dan setelah berwudhu segera berdiri di belakang ayahnya untuk shalat. Ayahnya mengucapkan takbiratul ihram menandai bahwa shalat sudah dimulai anaknya sebagai makmum ikut takbiratul ihram. Tetapi kemudian terdengar bunyi “rengeng-rengeng” seperti sedang menyanyi, tidak begitu jelas, tetapi bukan bacaan shalat. Kebetulan anaknya sebelum shalat baru saja melihat tayangan di TV sehingga mungkin masih terbawa ketika shalat. Ayahnya mengucapkan Allahu Akbar menandakan untuk ruku’, sampai duduk akhir masih terdengar suara rengeng- rengeng. Setelah selesai shalat sang ayah menanyakan pada anaknya tadi kamu membaca apa? Anaknya menjawab “memikirkan sesuatu”. Ini sebagai contoh bahwa shalatnya anak kecil sangat terpengaruh dengan lingkungan dan ternyata pada orang tua pun konsentrasinya menjadi terpecah.

Belajar shalat tidak akan ada ada ada habisnya pada awalnya tahu kaifiyahnya dan bacaannya. Bagaimana menjaga kaifiyahnya dan bacaan sesuai dengan yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW, sadar dengan apa yang dilakukan, tahu dengan yang dibacanya. Kaifiyah shalat dijaga, i'tidal dan tuma'ninah nya demikian, pula bacaan shalat hendaknya jelas dan dapat dipahami dari itu memerlukan pembelajaran dan pelatihan.

Pembelajaran dan pelatihan untuk selalu dijaga dan dilestarikan, setelah itu akan selalu berupaya menyatukan antara gerakan lahir dengan menghadirkan hati, karena sering terjadi bahwa jasad nya berada di tempat shalat, namun hati dan pikirannya kemana-mana. Hati sibuk dengan urusannya, pikiran juga sibuk dengan urusannya. Padahal shalat adalah mi’rajnya bagi orang-orang mu’min. maka satukanlah jasat, hati, bacaan dan gerakan sedang menghadap Allah SWT. Lihat Belajar Shalat dan Sempurnakan Wudhu Bagian II

Selasa, 26 Mei 2020

Lockdown dan silaturahmi Atasi Kejenuhan


Sebelum masuk 1 Syawal 1441 H setiap daerah semakin mencekam, lockdown banyak diberlakukan hampir semua daerah, akses pada setiap perkampungan ditutup. Pada tanggal 1 Syawal lockdown benar-benar telah dilaksanakan. Ada dua hal dalam terkait berkaitan berakhirnya bulan Ramadhan, yaitu pelaksanan shalat Idul Fitri dan shilaturahmi.


  1. Dengan jiwa besar tetap tenang dengan wabah pandemi Covid-19, tetapi selalu waspada bahwa musibah dan bencana kadang datangnya tidak dikehendaki dan secara tiba-tiba. Virus adalah makhluk Allah yang sangat kecil, bahkan orang yang terkena virus corona kadang tanpa gejala karena itu orang dalam kelompok ini menerapkan kewaspadaan dini dengan melaksanakan salat Idul Fitri di rumah atau di keluarga kecil mereka.
  2. Bersikap gusar dalam melaksanakan himbauan pemerintah himbauan, untuk memakai masker, melaksanakan sosial distencing, lockdown ternyata khawatir tidak bisa melaksanakan ibadah sebagaimana biasanya, kelompok ini kadang tidak mempedulikan untuk memakai masker, melaksanakan sosial distancing, lockdown, karena mereka berprinsip bahwa sehat, hidup dan mati adalah kehendak Allah.
  3. Tidak mempedulikan himbauan pemerintah, tetap melaksanakan jamaah salat tarawih, majelis taklim, shalat Idul Fitri, silaturrahmi adalah perintah Allah. Allah adalah Pemilik, pencipta dan pengatur segala yang ada di alam semesta, maka bila Dia telah memerintahkan mengapa harus takut? Hidup dan mati adalah di tangan Allah, bila sedang melaksanakan ibadah tersebut kemudian dipanggil oleh Allah lalu meninggal, maka mereka berkeyakinan matinya adalah mati syahid.
  4. Pada kegiatan silaturahmi, masyarakat nampak sudah taat pada himbauan pemerintah. Pada umumnya tidak melaksanakan kunjungan dari rumah ke rumah, kepada saudara, teman dan kerabat kecuali hanya sebagian kecil yang tetap mengadakan kunjungan. Terutama anak kepada orang tua atau kepada orang yang dipandang yang dihormati, kesepuan dan tokoh agama, maka mereka tetap melaksanakan silaturahim. Namun karena akses dari kampung ke kampung bahkan tiap gang sudah dipasang portal sehingga lebaran pada tahun 1441 H lebih dominan berdiam di rumah atau beraktivitas tetapi berupaya menghindari kerumunan.


Jenuh dengan aksi
Kebanyakan orang merasa jenuh untuk tinggal di rumah, apalagi anak-anak kecil, para pelajar yang menginginkan hal-hal baru. Hampir dua bulan mereka berdiam di rumah, belajar di rumah, dan semua aktifitas dikerjakan di rumah. Kata jenuh yang merupakan ungkapan dari hati, perlu disikapi dengan tindakan aksi, yaitu dengan berdiam diri. Perlunya meningkatkan pemahaman dan kesadaran diri.

Ada yang menanyakan, sampai kapankah pandemi virus corona akan berakhir? Penelitian dan uji materi vaksin corona ternyata belum ada yang dapat memastikan, karena ada ahli juga yang menyatakan bahwa virus corona tidak akan bisa dihilangkan. Bahkan bila ada ungkapan untuk berdamai dengan virus corona itupun juga tidak akan bisa, karena perdamaian melibatkan dua belah pihak, bila satu pihak mau berdamai dan yang satu pihak tidak mau berdamai, maka akan terjadi persekongkolan terus atau terjadi permusuhan secara terus menerus. Saling menyerang, berusaha mencari kelemahannya untuk saling mengalahkan.

Karena itu bila untuk mematikan pandemi virus corona dengan cara berdiam, tidak ada kerumunan. Ini adalah merupakan suatu pilihan yang harus dilaksanakan oleh semua pihak. Untuk melaksanakan hal itu ada hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan lockdown

Masalah lockdown
Tidak semua orang mempunyai persepsi dan pemahaman yang sama, apalagi tentang keyakinan. Takutlah pada Allah jangan takut kepada selain Allah. Yang kedua adalah pemenuhan kebutuhan hidup. Kebutuhan pangan menjadi kebutuhan terbesar dalam hidup manusia, oleh karena itu perlu adanya pemenuhan dua hal tersebut. Sebelum pelaksanaan tentu telah menyediakan kebutuhan selama waktu yang tekah ditentukan.

Bukanlah dunia bila tidak ada perbedaan pemahaman dan keyakinan, karena itu berangkat dari berbagai fakta yang terjadi seperti kerumunan massa, berawal dari daerah yang tekena pandemic Covid-19 ternyata mudah menyebar pada wilayah yang lain. Kasus Jamaah Tabligh dari Gowa Sulawesi Selatan menjadi bukti bahwa pada awal-awal virus telah menyebar vidio youtube jamaah tabligh yang menentang penutupan tempat-tempat ibadah mereka mengatakan bahwa “Takutlah pada Allah, jangan takut pada virus corona atau virus corona takut pada jamaah. Ternyata dari persebaran virus corona dari mereka yang pulang dari kegiatan tabligh, setelah dicek ternyata mereka positif PDP.

Dari kasus itu, kemudian daerah yang tadinya hijau setelah kedatangan Jamaah Tabligh tersebut maka kemudian menjadi daerah yang merah. Dengan kasus tersebut setiap orang untuk saling mengingatkan, tentang pentingnya menjaga kewaspadaan dini. Setiap muslim telah melaksanakan lockdown selama sebulan, menjaga hati lisan dan perbuatan dan hal-hal yang tidak baik dan sebelum mengakhiri bulan Ramadhan telah membersihkan hati dengan membayar zakat fitrah. Maka pada umumnya telah siap untuk menerima himbauan kebaikan.

Demikian pula orang-orang miskin merasa diperhatikan orang-orang kaya, dengan zakat fitrah yang diterima dapat memenuhi kebutuhan hidup berupa makanan pokok. Nuansa kekeluargaan, kebersamaan, tidak diperlukan dokumentasi yang kemudian di upload ke media sosial. Karena itu untuk mewujudkan menghilangkan rasa jenuh itu dengan melaksanakan lockdown semoga kejenuhan akan segera berakhir.

Minggu, 24 Mei 2020

Merasa Bersalah, Mohon Maaf



Di hari yang fitri ini, hari kemenangan bagi umat Islam setelah selesai menuntaskan ibadah puasa Ramadhan selama sebulan, semoga ibadah puasa kita diterima oleh Allah SWT. Sebagai insan yang lemah, dalam setiap saat berinteraksi sosial, disana ada hal-hal yang selaras dengan pandangan dan pemikiran namun ada juga yang berbeda, sehingga manusia berpotensi untuk berbuat benar, salah dan dosa.

Karena itu mohon berkenan penulis untuk menyampaikan permohonan maaf atas segala salah dan khilaf dalam setiap tulisan kami. Saya hanya berharap semoga dapat memberikan manfaat bagi semua, ingin kami turut membangun masyarakat, bangsa dan negara. Dengan segala kemampuan yang kami miliki, kami berusaha menyampaikan pandangan, pemikiran dan hasil perenungan. Sebaliknya dengan keterbatasan yang ada, karena kurangnya pengetahuan dan pemikiran, kami selalu berusaha untuk meminimalisir kekurangan, kami akan berusaha memperbaharui setiap kekurangan.

Kami bukan orang yang benar tetapi kami berusaha untuk menjadi benar, kami tidak sempurna tetapi kami berupaya untuk meraih kesempurnaan, Allah telah menciptakan alam semesta bagi kepentingan manusia, dengan alam (ciptaan Allah) tersebut kita bisa belajar, dan alam mengajarkan kepada kita apa yang telah, sedang dan akan terjadi.

Karena itu semua hasil pemikiran dan perenungan yang tertuang dalam tulisan dimungkinkan ada suatu yang tidak sesuai dengan pandangan dan pemikiran para pembaca. Karena itu dengan kerendahan hati kami memohon maaf yang setulus-tulusnya.

تقبل الله منا ومنكم وجعلناالله منالعائدين والفائزين

Semoga Allah menerima (puasa) kita dan menjadikan kita kembali (dalam keadaan suci) dan termasuk orang-orang yang mendapat kemenangan.

Selamat hari raya Idul Fitri 1441 H, mohon maaf lahir dan batin.

Sabtu, 23 Mei 2020

Istana di Surga, Pahala Shalat Dua Belas Rekaat


Mendengar kata istana yang terbayang di benak kita adalah sebuah bangunan yang megah, tinggi, besar, luas, mewah dan dengan segala perlengkapan di dalam bangunan tersebut. Mulai dari perlengkapan dalam bangunan tersebut sampai hal-hal yang terkait dengan perlengkapan bangunan. Seperti adanya pelayan, penjaga, pegawai dan semua yang telah siap untuk melayani bagi penghuni istana tersebut.

Saya kira persepsi yang demikian ini tidak terlalu melenceng, karena bila melihat seperti istana presiden, di sana nampak bangunan yang megah, disediakan segala macam perlengkapan semua yang diperlukan, didukung dengan luas tanah dan bangunan yang memadai sehingga memungkinkan untuk mengadakan sesuatu yang memang dibutuhkan. Lapangan, kolam renang, kebun binatang, taman, kebun untuk bertanam, ruang istirahat, ruang santai semuanya sudah serba tersedia di tempat tersebut.

Kemudian setelah mempunyai bayangan tentang istana yang demikian itu, maka kemudian membayangkan anggaran biaya untuk membangun istana, berapa biaya yang diperlukan untuk perawatan istana, berapa biaya untuk membayar tenaga perawatan kebersihan pelayan, penjaga, pengawal di istana tersebut. Tentu saja sangat banyak dan bagi kalangan orang-orang biasa tidaklah mungkin bisa memiliki istana yang demikian megah itu.

Bayangan dan impian untuk bisa menempati istana tersebut tentu diharapkan semua orang, tetapi tidak semua orang bisa memiliki tempat tersebut, tidak mempunyai kemampuan untuk membangun tempat tersebut. Janganlah berputus asa bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah, kelak akan dibuatkan istana oleh Allah di surga.

Surga adalah suatu tempat mulia yang diidam-idamkan oleh setiap muslim, orang yang beriman dan bertakwa dia akan dimasukkan ke dalam surga. Di dalam surga itu akan dibuatkan istana, yang lebih bagus daripada istana yang ada dunia ini. Siapakah orang-orang yang beriman dan bertakwa tersebut yang akan dibangunkan oleh Allah istana di surga.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, bahwa orang-orang yang bertakwa adalah senantiasa menegakkan salat, karena tidaklah mungkin bagi orang yang tidak bertakwa mau menegakkan salat. Sedangkan banyak orang yang mengaku beriman dan bertakwa kepada Allah tetapi tidak menegakkan salat atau kalau menegakkan salat tetapi tidak lengkap baik dari syarat dan rukunnya, tidak sempurna atau memang lima waktu tidak dilaksanakan secara penuh. Nabi Muhammad SAW menjanjikan kepada orang yang beriman bertakwa, dia mau menegakkan salat kemudian diikuti dengan melaksanakan ibadah salat sunah yang jumlahnya ada 12 rekaat. disebutkan adalam hadits sebagai berikut:
1. Riwayat Imam Turmudzi, hadits nomor 379.

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ


"Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat setelah Zhuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya` dan dua rakaat sebelum Subuh."

2. Riwayat Imam Nasa’i, hadits nomor 1772.

مَنْ ثَابَرَ عَلَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

"Barangsiapa mengerjakan shalat dua belas rakaat secara kontinyu, maka Allah Azza wa Jalla akan membangunkan rumah untuknya di dalam surga. Empat rakaat sebelum Zhuhur dan dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat setelah Maghrib dan dua rakaat setelah Isya, serta dua rakaat sebelum Fajar.'

3. Riwayat Imam Ibnu Majah, hadits nomor 1130.

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

"Barangsiapa menjaga dua belas raka'at shalat sunnah maka akan dibangunkan baginya rumah di surga; empat raka'at sebelum Zhuhur, dua raka'at setelah Zhuhur, dua raka'at setelah Maghrib, dua raka'at setelah Isya dan dua raka'at sebelum Fajar. "

Atas dasar hadits-hadits tersebut, bahwa barang siapa yang menegakkan shalat sunnah dua belas rekaat akan dibangunkan istana di surga. Dua belas rekaat tersebut meliputi:
1. Empat raka'at sebelum Zhuhur
2. Dua raka'at setelah Zhuhur.
3. Dua raka'at setelah Maghrib.
4. Dua raka'at setelah Isya
5. Dua raka'at sebelum Fajar. "

Kalau ada orang yang mengatakan bahwa untuk memiliki sesuatu harus bayar, tidak ada yang gratis. Ingin memiliki rumah harus mempunyai uang untuk pengadaan material dan membayar tenaga kerja. Dengan mengerahkan segala daya upaya, susah, senang akhirnya terkumpullah uang yang cukup untuk membangun rumah. Di surga akan dibangunkan istana dengan syarat selalu menegakkan shalat sunnah 12 rekaat, yang tentu saja shalat fardhunya ditegakkan dengan senantiasa menyempurnakan pelaksanaan ibadah shalat.

Jumat, 22 Mei 2020

Lebaran di Rumah Silaturahim dari Rumah


Silaturahim berasal dari kata kata shilah yang artinya menyambung, rahim artinya kasih sayang jadi shilaturahim berarti menyambung menyambung kasih sayang, persaudaraan dan kerabatan. Silaturahim diselenggarakan di samping itu merupakan perintah agama, juga merupakan upaya bagi umat Islam untuk melepaskan dosa-dosa yang telah dilakukan. Hal ini karena manusia dilengkapi panca indra dan nafsu yang berpotensi untuk melakukan perbuatan salah dan dosa, baik dilaksanakan secara siri atau jahr.

Dosa merupakan akibat dari perbuatan yang merugikan orang lain, baik berupa perkataan, perbuatan, disengaja atau tidak disengaja. Di dalam hidup hal yang demikian ini tidak bisa dilepaskan, karena manusia hidup selalu berhubungan dengan orang lain, terjadinya interaksi sosial, dimana masing-masing orang mempunyai sikap dan perilaku yang bei Rrbeda. Sikap dan perilaku orang lain ini ini kadang salah ada yang benar, ada yang sesuai dengan kehendak kita atau ada yang bertentangan dengan kehendak kita. Atau bisa jadi perbuatan orang lain bertentangan dengan hukum yang telah ada, namun ada juga perbuatan orang lain selalu selaras dengan peraturan hukum.

Dengan demikian, apabila terjadi kesesuaian perbuatan orang lain dengan kehendak diri atau perbuatan orang lain yang sesuaian dengan kaidah hukum maka hal ini akan terjadi keselarasan dan keharmonisan dalam kehidupan. Sebaliknya bila perbuatan orang lain itu bertentangan dengan peraturan hukum yang ada sehingga menimbulkan dampak yang tidak menyenangkan bagi orang lain, maka hal ini akan menimbulkan disharmoni (ketidak selarasan) dalam kehidupan bermasyarakat.

Demikian pula kata-kata, perbuatan dan sikap diri sendiri kadangkala juga tidak sesuai dengan harapan orang lain atau karena kekhilafan diri sendiri, maka perbuatannya akan bertentangan dengan hukum yang telah ada, dengan demikian, baik secara pribadi maupun secara kelompok, tiap orang hidup mempunyai kesalahan yang berbeda-beda. Karena itu Idul Fitri, tanggal 1 Syawal yang diawali dengan kegiatan berbuka, kemudian dilanjutkan dengan salat Idul Fitri dan silaturahim merupakan momen yang sangat penting bagi umat Islam, dimana pada hari tersebut biasanya setiap orang akan mengakui kesalahannya sendiri, tidak ada orang yang merasa benar tetapi semuanya merasa salah.

Dengan kesadaran ini maka orang itu pun juga dengan ikhlas memohon maaf kepada orang lain dan diri sendiri pun juga dengan ikhlas memohon maaf kepada orang lain. Dengan permohonan maaf, saling mengakui kesalahan, kemudian saling memaafkan maka akan terwujud kembali keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Silaturahim biasanya diselenggarakan dengan kegiatan saling mengunjungi antar teman, sahabat, tetangga, saudara dan tentu saja diawali dengan silaturahim kepada orang tua. Pada bulan Syawal sudah menjadi tradisi khususnya di Indonesia, bahwa setiap orang menyempatkan diri untuk mengunjungi temannya, saudaranya atau siapapun yang dianggap sudah saling mengenal.
Meskipun kunjungan tersebut sudah cukup untuk saling memaafkan, namun ternyata tradisi mengatakan belumlah lengkap sebelum diadakan kegiatan seremonial, yaitu kegiatan tabligh, kegiatan pengajian, halal bihalal atau kegiatan yang lainnya yang tujuannya agar orang-orang bisa kumpul dalam satu majelis. Kemudian menyaksikan dan mendengarkan tausiyah kyai atau ustadz, kemudian saling memaafkan. Ini adalah kegiatan silaturahim yang sudah sering diselenggarakan, sehingga nuansanya menjadi halal bihalal. Jadi intinya bahwa antara satu orang dengan yang lainnya itu saling memaafkan. Dengan saling memaafkan itu diharapkan sudah tidak ada permasalahan antara satu orang dengan yang lainnya.

Sikap saling memaafkan ini merupakan perilaku yang telah dicontohkan oleh rasul dan kebiasaan yang dilakukan oleh umat Islam disamping melaksanakan perintah ternyata bisa memberikan keutamaan bagi umat Islam. Misalnya akan dipanjangkan umurnya, akan di dipermudah urusannya, akan dibuka pintu rezeki dan akan diberikan kesehatan.
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
"Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezkinya, dan ingin dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahmi."

Pada Idul Fitri 1441 H atau tahun 2020 kegiatan silaturahim dalam bentuk saling mengunjungi, pengajian umum, kumpul-kumpul, halal bihalal berdasarkan instruksi pemerintah, lembaga keagamaan, agar kegiatan tersebut untuk ditinggalkan atau untuk tidak dilaksanakan. Hal ini sebagai upaya dan ikhtiar untuk memutus mata rantai virus Corona atau Covid- 19 yang semakin merajalela. Oleh karena itu peran serta dari semua pihak, kesadaran dari semua pihak, pemahaman dari semua pihak, bahwa silaturahim pada tahun ini tidak dilaksanakan secara saling mengunjungi, tabligh, halal bihalal dan sejenisnya.

Silaturahmi tetap dilaksanakan dan dilestarikan dengan cara:
1. Diselenggarakan dengan cara online, bisa media sosial WhatsApp, instagram, SMS, video call dan lainnya.
2. Saling bertemu tidak dilaksanakan, masing-masing bisa memahami kondisi dan juga bisa melaksanakan. Bahwa sekalipun silaturahim tidak dilaksanakan dengan tatap muka tetapi persaudaraan, kekeluargaan tetap terjalin dengan baik .
3. Silaturrahim adalah media yang sangat bagus dan ini merupakan perintah Allah SWT, karena itu semua orang hendaknya bisa memahami, mengapa pada tahun 2020 ini tidak ada orang yang berkunjung ke rumahnya. Hal ini semata-mata adalah untuk memupus kesenangan sementara yang diarahkan untuk mendapatkan kebahagiaan kesenangan pada beberapa tahun yang akan datang.

Ada orang yang pada awalnya hidup bersama dalam satu keluarga, berkumpul dalam satu rumah, bisa saling bertemu, bertatap muka, bertegur sapa, apa yang dilakukan secara langsung. Bagaimana bila dari keluarga yang anggotanya semula berkumpul dalam satu rumah, tetapi karena salah satu atau beberapa mempunyai kepentingan lain, misalnya bekerja, sekolah, kuliah atau kegiatan yang lainnya yang mengharuskan dirinya untuk berpisah kepada keluarganya.

Rabu, 20 Mei 2020

Tinggalkan Kesenangan Sesaat, Raih Kebahagiaan Selamanya



Tradisi menyambut Idul Fitri dengan persiapan makanan, pakaian, perhiasan berlangsung secara turun-temurun. Padahal yang seharusnya Idul Fitri adalah kembali pada kesucian, untuk mendapat ampunan Allah. Idul Fitri mulai menapaki hidup dan suasana yang baru, dapat melanjutkan ibadah puasa Ramadhan dan segala amaliah untuk dilaksanakan diluar bulan Ramadhan.

Setelah selesai puasa Ramadan, mulai bergegas untuk puasa tanggal 2-7 Syawal, dengan melaksanakan puasa sunah, puasa Senin Kamis, puasa Dawud, puasa tengah bulan. Shalat tarawih dilanjutkan dengan shalat hajad, tahajud, istikharah dan lainnya. Tadarus Alquran untuk dibiasakan, pengelolaan zakat fitrah dengan meningkatkan infaq dan shadaqah. Sehingga Idul Fitri bukan menjadi bar-baran (semuanya sudah selesai), puasanya sudah bar, tadarus nya sudah bar, infaq shadaqahnya sudah bar, semua amal ibadah menjadi bar atau berakhir dan akan kembali pada tahun yang akan datang.

Puasa Ramadhan dengan segala amaliyahnya menjadi kegiatan-kegiatan ibadah yang belum dikondisikan kelanjutannya, kadang organ tubuh belum siap menerima keadaan. Shalat tarawih biasanya ramai pada minggu pertama, tadarus Alquran hanya pada bulan Ramadhan, infaq shadaqah hanya pada bulan Ramadhan dan semua amaliah yang baik hanya tinggal kenangan saja. Setelah selesai puasa Ramadhan diawali dengan memasuki 1 Syawal perilaku israf dipupuk kembali.

Sikap Frontal
Ibadah puasa Ramadhan pada tahun 1441 H/2020 M sangat berbeda dengan tahun-tahun yang telah lalu, dimana gema dan gebyar Ramadhan terjadi dimana-mana, shalat tarawih, tadarus Alquran, majelis taklim, nuzulul Qur’an, salat berjamaah, pada tahun tersebut dan tahun-tahun sebelumnya. Tetapi pada tahun ini menjadi tahun berbeda, dimana setiap ibadah biasanya dipusatkan di masjid/ musholla tetapi pada tahun ini dihimbau untuk dilaksanakan di tempat tinggal masing-masing.

Pemerintah dan lembaga keagamaan telah memberikan himbauan namun ternyata masih banyak umat Islam yang tidak menghiraukan himbauan tersebut. Perkumpulan orang-orang tetap dilaksanakan, shalat Jum’at, tarowih, tadarus Alquran dilaksanakan secara bergerombol, majlis taklim. Pada umumnya mereka tidak mau meninggalkan momentum penting pada bulan Ramadhan. Ibadah yang penuh berkah tetap dilaksanakan seakan-akan tidak ada wabah pandemi Covid-19.

Keyakinanpun menjadi sikap frontal, tidak mau mengikuti himbauan dari pemerintah dan MUI, memang banyak orang yang menyayangkan meninggalkan amaliyah ibadah di bulan Ramadhan. Namun satu sisi berusaha melakukan kebaikan dan amal shalih, tetapi idak menghiraukan sikap saling menghormati dan saling menghargai, tidak menghiraukan seruan amaliah di bulan Ramadhan.

Kenangan Sesaat
Lebaran tahun ini berbeda dengan tahun-tahun yang telah lalu, dimana aktivitas dan gerak dibatasi karena adanya wabah pandemi virus corona/ Covid- 19. Untuk melawan dan menghentikan penyebarannya dengan pengurangan aktivitas kegiatan sosial, perkumpulan, sosial distancing, PSBB bahkan lock down. Pembatasan ini juga harus dengan kesadaran diri untuk meninggalkan kesenangan sesaat yang bisa jadi akan menimbulkan musibah, bencana pada masa yang akan datang. Demikian pula Idul Fitri hendaknya dirayakan dengan kondisi yang sederhana. Mulai dari makan, minum, pakaian, perhiasan dengan yang sudah ada atau apa adanya. Tidak perlu terlalu fokus pada kegiatan pesta, makan-makan, minum dan saling berkunjung.

Ada pesan Idul Fitri yang disampaikan lewat lagu lama yang dinyanyikan oleh Dea Ananda:

Baju baru Alhamdulillah
Tuk dipakai dihari raya
Tak punya pun tak apa-apa
Masih ada baju yang lama

Sepatu baru Alhamdulillah
Tuk dipakai dihari raya
Tak punya pun tak apa-apa
Masih ada sepatu yang lama

Potong ayam Alhamdulillah
Untuk dimakan di hari raya
Tak ada pun tak apa-apa
Masih ada telur ayamnya

Bikin kue alhamdulillah
Tuk dimakan dihari raya
Tak bikin pun tak apa-apa
Masih ada singkong goreng nya

Ref:
Hari raya Idul Fitri
Bukan untuk berpesta- pesta
Yang penting maafnya lahir batinnya

Untuk apa berpesta-pesta
Kalau kalah puasanya
Malu kita kepada Allah yang esa.

Kupat sayur alhamdulillah
Tuk dimakan dihari raya
Tak ada pun tak apa-apa
Masih ada nasi uduknya

Pembatasan dan pengendalian diri sebagai hasil dari pelaksanaan ibadah puasa, dimana puasa merupakan tameng dari perbuatan yang tidak baik, puasa melatih berbuat sabar dan ikhlas, puasa mewujudkan kepedulian sosial dan empati, puasa untuk pensucian rohani dari hawa nafsu yang tidak baik. Selama 1 bulan umat Islam telah dilatih atau melatih diri, menerpa diri dengan akhlak dan perilaku yang terpuji dengan landasan iman dan taqwa kepada Allah.

Kesederhanaan dalam makan, minum, pakaian dan penampilan bukan karena menghadapi pandemi, tetapi seungguhnya merupakan perintah agama. Sederhana bukan berarti bahil tetapi untuk selalu memupuk kedermawanan, jiwa sosial, empati dan ukhuwah bersama. Kita tidak tahu sampai kapan wabah pandemic Covid-19 akan berakhir. Ilmuan dunia belum menemukan vaksin, semua orang hanya bisa antisipati, jaga diri dengan mengikuti himbauan ulama’ dan umara’.

Memang kadang tidak ikhlas untuk meninggalkan atau mengalihkan kebiasaan yang sudah berjalan dengan baik, shalat Jum’at, shalat berjamaah di masjid/ musholla, shalat tarorih, pemberian kupon infaq sedekah, shalad Id di masjid dan lapangan terbuka, shilaturahim, halal bihalal. Semua ini adalah ibadah yang sudah mentradisi dan tradisi yang sudah membudaya. Tak aneh bila melihat selebaran dan himbauan untuk tidak menyelenggarakan kegiatan atau mendengar himbauan, banyak orang yang menanggapi dengan sinis. Dalam kondisi seperti ini sebaiknya semua orang untuk dapat menerima dengan ikhlas. Ingat bahwa pengorbanan ini untuk kepentingan jangka panjang dan kepentingan orang banyak. Masih banyak jalan untuk mendapat kebaikan dan masih banyak cara untuk membuat kebaikan.

Tidak shalat Jumat tetapi menegakkan shalat dhuhur, tidah shalat bejamaah di masjid/ musholla tetapi selalu menjaga shalat jamaah di keluarga, tidak shalat tarowih di masjid/ musholla tetapi selalu menegakkan shalat tarowih bersama anggota keluarga, zakat, infaq dan sedekah diamanatkan kepada lembaga amil zakat, shalat Idul Fitri dilaksanakan di keluarga, shilaturahim untuk dibatasi, halal bihalal secara on line.

Sesungguhnya yang membedakan hanyalah ibadah yang bernuansa sosial, sekalipun tidak ada shilaturahim semoga shilaturahim tetap terjaga. Jaga diri dan keluarga tingkatkan peduli pada orang lain. Tinggalkan kesenangan sesaat untuk meraih kebahagiaan masa depan lebih baik. Jangan anggap enteng sesuatu yang sudah jelas berbahaya, tidak ada yang dapat mencegah musibah dan bahaya kecuali kita diwajibkan untuk berusaha, berikhtiar dan tawakal. Semoga pandemic segera berakhir.

Senin, 18 Mei 2020

Karena Malas Jadi Ambyar


Kata malas sering diungkapkan atau diucapkan oleh siapapun yang kadang tanpa disengaja. Kata yang mudah keluar dari mulut secara reflek, tanpa disadari bahwa efek dari ucapan itu dirasa sangat berat. Malas adalah salah satu sifat buruk yang ada pada manusia. Rajin adalah kebalikan dari malas. Waktu belajar di sekolah dasar di sana dikenalkan dengan peribahasa, rajin pangkal pandai, malas pangkal bodoh, hemat pangkal kaya. Kalimat itu masih membekas dan kadang bisa menjadi sumber inspirasi dan nasihat bagi anak-anak.

Kata ini sangat penting untuk dicermati, ketika sedang menghadapi permasalahan, sedang menerima tugas, akan menjawab malas, capek. Ada anak sekolah, setelah pulang sekolah disuruh oleh orang tuanya untuk segera berganti pakaian dan membantu orang tuanya, anak menjawab, malas, capek. Orang yang sudah hidup berumah tangga pagi hari enak-enakan tidur di tempat tidur atau duduk- duduk, santai sambil nonton TV dan lain sebagainya sehingga ketika diingatkan untuk beraktifitas, jawabnya malas. Jawaban ini sangat mudah untuk diucapkan, tanpa disadari bahwa sebenarnya apa yang diucapkan itu menjadi doa yang bisa jadi akan menjadi kenyataan.

Hendaknya ketika sedang capek, bagaimanakah dari sikap apatis menjadi dinamis, pesimis menjadi optimis, negative menjadi positif. Dengan maksud bahwa kata-kata dan ucapan akan menjadi sumber kebaikan dan keberkahan. Setelah istirahat nanti akan saya kerjakan, atau sebentar, saya relaksasi dulu biar tambah fres dan dapat inspirasi. Jadi sekalipun terasa capek, malas namun tetap ada dorongan untuk menyelesaikan tugas. Karena biasanya bila sudah keluar kata capek, malas maka kekuatan akan hilang.

Efek dari sikap malas.
Ucapan malas ini pun juga akan menjadi di doa, karena sikap malas sebenarnya akan menjadikan suatu permasalahan semakin menumpuk, pekerjaan akan tertunda, tugas akan ditunda, apapun akan tertunda, padahal tugas dan pekerjaan ini adalah suatu kewajiban yang harus diselesaikan. Kalau sudah sampai date linenya padahal belum ada realisasi atau tindakan untuk menyelesaikan. Maka akan memunculkan masalah-maslah baru, tugas-tugas baru sehingga membutuhkan waktu, tenaga, fikiran, biaya yang ekstra untuk menyelesaikannya. Dengan demikian akan berefek kesehatan, hubungan sosial dan kinerja.

Terlalu banyak pikiran maka akan mengganggu metabolisme tubuh. Contohnya akan terkena masuk angin, sakit maag, asam lambungnya naik, akan terkena hipertensi, diabetes, jantung dan sebagainya. Kemudian dari segi social, karena sibuk dengan urusan untuk menyelesaikan masalah, maka hubungan sosial menjadi renggang. Bahkan ketika bertemu dengan teman, sahabat, kerabat, saudara dengan siapapun. Raut muka Nampak carut-marut, tidak ada wajah ceria, yang ada adalah wajah serius, tegang menghadapi masalah untuk segera diselesaikan. Kemudian dari segi biaya pun orang yang seperti itu akan mengeluarkan biaya semakin banyak, karena untuk mengerjakan pekerjaan yang sudah menumpuk tentu membutuhkan suplemen makanan, agar kondisinya tetap fit.

Bita lihat kesuksesan seseorang, sesunggunya sukses itu bukan hanya di hayalkan dan direnungkan, tetapi butuh usaha, ikhtiar yang sungguh-sungguh, dilaksanakan dengan kedisplinan. Suatu kesulitan atau suatu hal yang seakan tidak bisa diatasi, apadahal itu hanyalah suatu bayangan fatamorgana. Ada seoarang sarjana S1 dia ternyata bisa bekerja pada bidang yang tidak dipelajari waktu sekolah dan kuliah, jauh melenceng dari disiplin ilmu yang dipelajari. Namun justru dari bangku sekolah dan kuliah itulah bisa merubah mind set, bahwa selagi mau mencoba, mau berusaha dengan sungguh-sungguh pasti bisa. Tidak ada yang tidak bisa terhadap sesuatu yang kelihatan. Yakinlah bahwa suatu yang nampak bisa dipelajari dan bisa dilakukan. Semamin sulit maka disitulah ujian bagi orang-orang yang berilmu.

Seorang professor, dia menjadi profesor bukan dengan serta-merta memperoleh gelar, tapi harus melalui proses, bagaimana mengelola diri terhadap waktu, memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Allah itu menciptakan waktu bagi makhluk-Nya itu sama, sehari semalam 24 jam. Tetapi dari waktu 24 jam itu ada yang bisa mengelola waktu bisa memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang baik. Contoh selalu membiasakan diri untuk bangun tidur lebih awal. Sebelum melaksanakan salat subuh selalu membiasakan diri untuk memanfaatkan waktu sepertiga malam yang terakhir untuk bermunajat kepada Allah, melakukan salat lail, berdoa kepada Allah agar diberikan petunjuk, kemudahan dalam segala urusan, diberikan petunjuk di dalam menjalani kehidupan di dunia, baik untuk dirinya sendiri, keluarga, maupun untuk orang lain.

Setelah salat subuh dilakukan secara berjamaah, kemudian melaksanakan tadarus Alquran, membaca buku membaca kitab atau mengikuti kajian jadi antara waktu subuh sampai matahari terbit selalu digunakan untuk merenungi diri, untuk mengasah otak pikiran, menjauhkan diri dari tempat tidur. Coba kalau dihitung dari segi waktu, berapa jam orang tersebut tidur dalam sehari semalam, mungkin hanya 3 sampai 6 jam sudah cukup, mengapa? Karena tidur yang berkualitas, tidur yang memang dilandasi dengan sunnah rasul. Banyak orang yang yang menggunakan waktu 24 jam waktu yang diberikan Allah, tetapi lebih banyak digunakan untuk tidur, untuk bermalas-malasan, maka yang terjadi mendapat kesulitan untuk bisa meraih cita-cita yang diharapkan.

Sesungguhnya malas itu merupakan penyakit hati yang harus diperangi, memang malas itu berkaitan dengan vitalitas tubuh, penyakit yang menyertai adalah mengantuk. Kalau mengantuk memang kurang istirahat obatnya untuk beristirahat, ngantuknya karena terlalu kenyang maka kurangi makannya, bila mengantuk tanpa sebab maka dicari sebab-sebabnya. Agar waktu yang dimiliki dapat lebih bermanfaat, karena malas bisa membuat rencana, cita-cita harapan menjadi ambyar. Untuk membalikkan sikap malas senantiasa bersyukur atas segala yang telah diberikan Allah.
Syukur diberikan kehidupan, hidup di dunia adalah kenikmatan yang diberikan oleh Allah yang harus disyukuri, karena sesungguhnya dunia adalah ladang bagi orang-orang yang beriman untuk menanam dan besok di akhirat adalah tempatnya untuk memanen. Diberikan kesehatan juga bersyukur, maka jangan malas untuk menjaga kesehatan. Karena kalau bermalas-malasan dengan kondisi yang ada, akan menjadikan tubuh menjadi kurang sehat, maka jangan malas untuk beraktifitas, jangan malas untuk bergerak, jangan malas untuk berolahraga, semua itu adalah upaya untuk mensyukuri nikmat kesehatan. Diberikan panjang umur kita renungkan, bahwa kita diberikan umur yang panjang oleh Allah merupakan kenikmatan. Wujud rasa syukur kita adalah dengan meningkatkan ibadah kepada Allah, maka agar menjadi orang yang bersyukur jangan malas melaksanakan ibadah dengan sungguh-sungguh karena dalam setiap ibadah pasti ada tantangan ada gangguannya ada hambatannya. Bersyukur diberikan kesempatan untuk melakukan perintah-perintah Allah, karena itu jangan malas untuk memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan oleh Allah. Sempatkan waktu untuk belajar, membaca, beribadah, untuk menolong sesame, melakukan kebaikan-kebaikan yang bermakna, sempatkan waktu untuk menggunakan waktu tenaga pikiran untuk kemaslahatan kepentingan bersama.

Malas belajar maka akan menjadi orang yang bodoh, malas bekerja maka akan menjadi orang yang miskin. Malas beribadah maka dia akan menjadi orang yang jumud orang yang susah berkembang orang yang susah menerima mendapat masukan dari orang lain. Malas dalam berdzikir, maka dia hatinya akan kosong dan berdampak pada amaliyahnya. Malas adalah penyakit rohani dan harus diobati.

Sabtu, 16 Mei 2020

Khutbah Bahasa Jawa- Idul Fitri 1441 H- Bina Keluarga


اَللهُ أَكْبَرُ ×٩ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا . لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَ حْزَابَ وَحْدَهُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. أَلْحَمْدُ لِلَّهِ جَعَلَ أَيَّامَ الْأَعْيَادِ ضِيَافَةً لِعِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَسُرُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ َأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. َأمَا بَعدُ: فَيَاأَيُّهَاالنَّاسُ, فَأُوِصْيكُمْ وَاِيَّاىَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ .


Bapak ibu ingkang tansah kawula hurmati, estri lan putra-putiku ingkang kawula trisnani.
Wekdal lebaran tanggal 1 Syawal 1441 Hijriyah, shalat Idul Fitri boten kados taun-taun ingkang sampun kapengker lan mbok bilih ing sadanguning gesang nembe wonten ing taun punika. Shalat Idul Fitri dipun tindakaken wonten ing dalem griya, mekaten punika boten ateges boten remen kaliyan syiar Islam lan silaturahim, nanging ngengingi kawontenan ing taun punika, ingkang boten sami kaliyan taun-taun ingkang sampun kapengker. Mila mangga kita sedaya tansah ningkataken iman lan taqwa dhateng Allah, inggih punika kanthi nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan nebihi menapa ingkang dados awisanipun Allah.

Taun punika sedaya negari nembe nampi wabah pandemi virus corona utawi Covid-19, satunggaling wabah penyakit ingkang saged nular saking menungsa dhateng manungsa kanthi cara ingkang gampil lan cepet sanget. Virus corona inggih punika salah setunggaling makhlukipun Gusti Allah ingkang alit sanget, mila boten saged dipun tingali mawi mripat kanthi langsung, namung saged dipun pirsani kaliyan alat mikroskop. Saking tanda-tanda nyebaranipun virus punika, para wasis sampun mangertosi cara nularipun virus corona punika inggih punika kanthi lantaran doplet, idu, umbel, uluh, lan sasanèsipun. Sampun dados pakulinan, menawi utawi watuk nuli tutukipun dipun tutup mawi asta, menawi medal idu lan umbel dipun lap mawi astanipun, semanten ugi menawi medal uluhipun inggih dipun lap mawi astanipun. Asta punika nggadhahi sipat sigap, boten sisah dipun dhawuhi ananging sampun mangertosi tugasipun, menawi wonten barang-barang utawi ingkang ketingalan langsung dipun resiki mawi asta.
Kotoran punika tasih nempel, kaleres menawi manggihi toya dipun cuci, manggihi tisu dipun lapaken. Ananging menawi boten manggihi toya utawi tisu lajeng dipun gosokaken wonten ing tembok, tangga, lan wonten ing panggenan-panggenan ingkang saged utawi gampil dipun candhak. Asta ingkang tasih wonten kotoranipun dipun ginakaken kagem salaman, sahingga nular dhateng tiyang sanes kanthi cepet. Mila kangge naggulangi lan medhot nyebaring virus punika kita dipun dhawuhi supados nyuci asta kalian sabun utawi hand sanitizer, tansah ngagem masker, nindakaken sosial distancing utawi ngirangi kumpul-kumpul, lock down, ibadah shalat Jumat dipun-gantos kaliyan shalat duhur, shalat jamaah gangsal wekdal dipun tindakaken wonten ing dalam, shalat Idul Fitri ing dalem, shilaturrahmi kanthi online utawi mawi video call.

Bapak ibu ingkang tansah kawula hurmati, estri lan putra-putiku ingkang kawula trisnani.
Tahun punika dipun wastani tahun musibah, bencana, wabah lan muhasabah. Saben musibah, bencana, wabah temtu wonten sebabipun, utawi wonten rahasianipun. Kenging menapa Gusti Allah dhatengaken musibah, bencana lan wabah. Menawi kita ningali saking sejarah sakderengipun nabi Muhammad SAW, kados umatipun nabi Luth ingkang tansah remen nindakaken pedamelan keji, umatipun nabi Hud kaumipun sami gumedhe, angkuh, remen damel pilara dhateng sesaminipun, Allah paring piwales kalian lisus, umatipun nabi Musa, nabi Harun, nabi Nuh boten purun nyembah dhumateng Gusti Allah, dhemen nentang syariat rasulipun, boten purun ndherek dhateng risalahipun Allah. Sahingga Allah nurunaken musibah, bencana lan azab, malah wonten ingkang dipun sirnakaken.
Mila wontenipun musibah punika, prayoginipun ing saben pribadi tansah mikiraken dugi pundi anggenipun ningkataken ibadah dhumateng Gusti Allah, punapa ibadah ingkang dipun tindakaken sampun selaras kaliyan tuntunan syari'at agami Islam, punapa sampun dados insan ingkang saged migunani dhateng tiyang sanes, punapa sampun boten damel pilara dhateng tiyang sanes. Allah paring dhawuh;

“He wong-wong kang padha iman, taqwaha sira kabeh maring Gusti Allah, lan becike saben-saben wong padha gatekake marang apa kang wus ditindakake ing dina sisuk (akhirat), lan taqwaha maring Gusti Allah, sak temene Allah tansah pirsa marang apa wae kang sila lakoni’. (QS. Al Hasyr: 18)

Wonten ing kesempatan punika prayoginipun kita sami introspeksi utawi gatekaken dhateng pribadi piyambak-piyambak. Kita gatosaken keluarga, punapa sampun nindakaken dhawuhipun Gusti Allah lan nebihi awisanipun Gusti Allah. Mangga kita dandosi keluarga, kita bina keluarga supados sami paring pemut, sami-sami makarya, sami-sami nindakaken tugas lan tanggaung jawabipun. Mikiraken keselamatan bangsa lan negari dipun melai saking keluarga minangka dados bangunan ingkang paling alit, sae lan awonipun setunggaling bangsa lan negara dipun temtokaken saking pembinaan salebetipun keluarga.

Bapak-ibu ingkang kalor mati estri lan anak-anak kawula ingkang kawula tresnani ibadah.
Puasa Ramadhan sampun kalampahan, lan kita sampun mlebet ing wulan Syawal, wulan peningkatan amal ibadah, ing wulan Syawal minangka awal kagem saben-saben muslim anggenipun ngadhepi musuh, marga tanggal 1 Syawal setan ingkang dipun krangkeng dipun uculaken malih, supados ganggu lan jlomprongaken menungsa, kangge rencang bencang ing dinten kiamat. Para setan dipun jamin mlebet ing neraka, panggenan kangge nyiksa lan panggenan ingkang boten dipun kersakaken manungsa. Tiyang ingkang iman tansah ngajeng-ajeng mlebet wonten ing suwarga lan dipun tebihaken saking genining neraka.

Mila nabi Muhammad SAW paring tuntunan ibadah sasampunipun wulan Ramadhan, inggih punika supados nindakaken puasa sunah, supados pikantuk ganjaran kadosdene ganjaran tiyang ingkang nindakaken puasa sadangunipun gesang.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Sapa wongé nindakake puasa Ramadhan nuli di kanteni puasa nem dina ing wulan Syawal mila bakal diparingi ganjaran kaya dene wong kang puasa saklawase urip”. (HR.Muslim).

Mila kagem sinten kemawon ing wulan Ramadhan tansah ngantu-antu pikantuk lilatul qodar, sinten ingkang saget manggihi tentu pikantuk ganjaran ingkang kathah, ananging kasunyatanipun boten temtu saget pianggih. Mila kagem ngalap ganjaran ingkang ageng, sampun trawaca Allah paring ganjaran ingakang kathah inggih punika puasa Syawal.

Saben ibadah mesthi wonten ganjaranipun utawi fadhilahipun, Allah maringi ganjaran kanthi dipun wujudaken wonten ing donya lan akhirat, saben-saben ibadah ingkang dipun tindakaken kanthi temen lan ngarep-arep ridhanipun Allah, mesthi badhe dipun paringi barokah rizky saking langit lan rizki ingkang boten saged dipun itung jumlahipun.


“Sing sapa wonge taqwa maring Gusti Allah, yekti Gusti Allah bakal maringi kanggo dheweke dalan, lan maringi rizki saking arah kang ora dinyana- nyana, lan tawakal maring Gusti Allah, Gusti Allah bakal nyukupi keperluane. Sak temene Allah nindakake urusan kang dikersaake, Sak temene Gusti Allah nganakake ketentuan marang sapa wae”. (QS. Ath-Thalaq: 23)

Bapak ibu ingkang kawula hurmati, estri lan anak-anakku ingkang kawulo tresnani.
Allah badhe paring rizki kanthi mapinten-pinten cara, rizki boten namun bandha donya. Rizki saking Allah saged dipun wujudaken kaliyan kesehatan lan dipun tebihaken saking balak, musibah, bencana lan penyakit, badhe dipun paringi margi ingkang gampil anggenipun pados ma’isah utawi penghasilan, badhe dipun paringi kasil ingkang berkah, dipun paring petedah dhateng margi ingkang sae, dipun dadosaken tiyang ingkang bejo wiwit dunya dumugi akhirat samangke. Mila mangga kita tansah ningkataken iman lan taqwa dhateng Allah SWT.

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَاَدْ خِلْنَا وَاِيَّاكُمْ مِنْ زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصّٰلِحِيْنَ . وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْن




الخطبة الثنية

اَللهُ اَكْبَرُ ×٧ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ. اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. اَلْحَمْدُلِلّٰهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْدًالِلْمُؤْمِنِيْنَ وَخَتَمَ بِهِ شَهْرَ الصِّيَامِ لِلْمُخْلِصِيْنَ . اَشْهَدُ اَنْ لَا ِالٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَشْهُوْرُ بِفَطَانَتِهِ وَاَمَانَتِهِ وَصِدْقِهِ وَتَبْلِيْغِهِ وَصَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ وَحَذَرَ. فَقَاَلَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللّٰهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


Jumat, 15 Mei 2020

Khutbah Idul Fitri 1441 H-Suasana Ibadah di Tengah Pandemi Covid-19



Shalat Idul Fitri adalah ibadah tahunan hukumnya sunat muakad yang bisa diselenggarakan di masjid atau tanah lapang. Pada hari itu setiap muslim berbondong-bondong untuk menghadiri tempat shalat bahkan wanita yang sedang datang bulanpun dianjurkan untuk menghadiri guna mendengarkan khutbah shalat Idul Fitri. Tetapi pelaksanaan shalat Idul Fitri 1414 Hijriyah atau tahun 2020 pemerintah dan para ulama’ melalui MUI menghimbau pelaksanaan shalat Id di rumah masing-masing pada keluarga kecil. Berikut disampaikan khutbah shalat Idul Fitri.

اَللهُ أَكْبَرُ ×٩ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا . لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَ حْزَابَ وَحْدَهُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. أَلْحَمْدُ لِلَّهِ جَعَلَ أَيَّامَ الْأَعْيَادِ ضِيَافَةً لِعِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَسُرُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ َأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. َأمَا بَعدُ: فَيَاأَيُّهَاالنَّاسُ, فَأُوِصْيكُمْ وَاِيَّاىَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ .

Ibu, Bapak yang saya hormati, istri dan anak-anakku yang aku cintai.
Pada lebaran tahun ini, 1 Syawal 1441 Hijriyah pelaksanan shalat Idul Fitri tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, dan sepanjang hidup kami baru tahun ini. Shalat Idul Fitri kita selenggarakan di rumah, hal ini bukan berarti menghindari kegiatan syiar Islam dan shilaturahim, namun karena situasi dan kondisi pada tahun ini berbeda dengan tahun-tahun yang telah lalu. Karena itu marilah kita berupaya untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah, yaitu dengan melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangannya.

Tahun ini dunia sedang dilanda wabah pandemi virus corona atau Covid-19, suatu wabah penyakit yang menular dari manusia ke manusia, proses penularaan yang mudah dan cepat. Virus corona adalah makhluk Allah yang sangat kecil, tidak bisa dilihat dengan penglihatan secara langsung, virus hanya bisa dilihat dengan mikroskup. Namun dari indikasi penyebarannya para ilmuan menemukan bahwa penularan melalui doplet, air, liur, air mata. Material tersebut bisa menempel ditelapak tangan, sudah menjadi kebiasan bila bersin selalu ditutupi dengan tangan, bila mengeluarkan air mata tangan bergerak akan membilas, bila mengeluarkan lendir tanganpun juga akan bergerak untuk membersihkan.

Dari tangan inilah, bila tidak menukan air atau tisu, maka akan digosokkan di baju, tangga, pegangan tangan dan tempat-tempat yang bisa dijangkau. Dalam kondisi tangan yang terkena doplet ini, tiba- tiba bertemu dengan anggota keluarga, teman, atasan atau bawahan lalu berjabat tangan, dari inilah kemudian virus dengan cepat menyebar. Karena itu untuk memutus mata rantai penyebaran ini adalah dengan menjaga kebersihan, membiasaakan membasuh tangan dengan sabun, atau hand sanitizer, selalu memakai masker, melaksanakan sosial distancing, PSBB bahkan lock down. Sehingga ibadah shalat Jum’at diganti dengan shalat dhuhur, shalat berjamaah lima waktu di rumah, shalat Idul Fitripun diselenggarakan di rumah dan setelah Idul Fitri, shilaturahim kita selenggarakan dengan on line atau melalui video call

Ibu, Bapak yang saya hormati, istri dan anak-anakku yang aku cintai
Tahun ini bisa disebut dengan tahun musibah, bencana, wabah dan muhasabah. Setiap musibah bencana, wabah tentu ada hal apa di balik musibah, ada rahasia apakah musibah, bencana dan wabah tersebut. Bila meninjau sejarah para rasul sebelum nabi Muhammad SAW, umatnya nabi Luth gemar melakukan perbuatan keji, umat nabi Hud yang bernama kaum karena sombong dan suka mengolok-olok dihancurkan dengan angin kencang dalam beberapa hari, umat nabi Musa, Harun, Nuh tidak mau menyembah Allah, dihancurkan oleh Allah karena mereka menentang ajaran rasulnya, tidak mau mengikuti risalah Allah yang disampaikan kepada utusannya sehingga Allah menurunkan musibah, bencana, bahkan mereka dihancurkan. Karena itu dengan adanya musibah ini hendaknya setiap diri memikirkan, sejauhmana tingkat dan kualitas peribadatannya. Sudahkan beribadah sesuai dengan tuntutan syariat Islam, sudahkan melaksanakan syariat Islam sesuai dengan kemampuannya. Sudahkan menjadi insan yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Karena itu dalam kesempatan ini, hendaknya kita merenungkan diri kita masing-masing. Kita merenungkan keluarga kita apakah sudah beribadah sesuai dengan tuntunan syariat Islam, apakah sudah berusaha dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjuhi larangannya. Apakah didalam menikmati kehidupan dunia sudah memikirkan hari esok, sebagaimana firman Allah:


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Hasyr: 18)

Marilah kita benahi keluarga kita, saling mengingatkan, saling bekerjasama, saling menasehati, saling menolong. Kita turut memikirkan, mendoakan keselamatan bangsa dan negara kita dimulai dari keluarga. Karena sesunggguhnya keluarga merupakan bangunan terkecil dari suatu bangsa, baik buruknya suatu bangsa ditentukan pembinaan dalam keluarga.

Ibu, Bapak yang saya hormati, istri dan anak-anakku yang aku cintai
Ibadah puasa Ramadhan dalam nuansa keluarga telah berlalu, bulan dimana pintu surge dibuka, pintu neraka ditutup dan syetan dibelenggu:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ

"Bila bulan Ramadlan tiba, maka dibukalah pintu-pintu surga, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan pun dibelenggu."(HR. Muslim: 1793)

Kini kita masuk pada bulan Syawal, bulan peningkatan amal ibadah kita kepada Allah, pada tanggal 1 Syawal adalah awal setiap muslim menghadapi tantangan karena tanggal 1 Syawal para syetan yang telah dibenggu selama sebuan dilepas kembali untuk menggangu dan menjerumuskan manusia ke jurang kesesatan, syetan dan bala tentaranya berupaya untuk mencari teman sebanyak-banyaknya di neraka kelak, karena mereka sudah dijamin masuk ke neraka. Tempat yang penuh dengan siksaan, tempat yang tidak diinginkan bagi manusia. Sedangkan orang-orang yang beriman senantiasa mengharapkan masuk ke dalam surga dan dihindarkan dari neraka.

Karena itu Rasulullah SAW telah memberikan tuntuanan ibadah setelah bulan Ramadhan, yaitu ibadah yang mempunyai nilai pahala sepanjang masa yaitu menunaikan puasa sunnah.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

"Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa sepanjang masa." HR. Muslim: 1984, Darimi: 1689
Jadi bagi siapapun yang pada bulan Ramadhan menanti, mengharapkan menjumpai Lailaul Qadar, siapa yang bisa menjumpainya? Wallahu a’lam, hanya Allah yang mengetahui. Namun puasa syawal adalah sudah jelas bahwa Allah menjajikan pahala sebagaimana orang yang berpuasa sepanjang masa.

Setiap ibadah pasti berpahala dan mempunyai fadhilah, Allah memberikan pahala bisa bernuansa dunia dan akhirat. Setiap ibadah yang dilaksanakan dengan kesungguhan hanya mengharap ridha Allah, maka Allah akan memberikan barakah, rizqi dari langit, dengan rizki yang tidak bisa dihitung jumlahnya.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia (Allah) akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Ibu, Bapak yang saya hormati, istri dan anak-anakku yang aku cintai
Rizki dari Allah bisa diwujudkan dalam bentuk kesehatan dan dihilangkan atau dijauhkan dari penyakit. Bagi yang masih belajar diberikan pemahaman dan ketajaman berfikir, akan diberikan kemudahan dalam mencari ma’isah atau penghasilan di dunia, akan diberikan keberkahan dari penghasilan yang diperoleh, akan diberikan petunjuk dalam setiap langkahnya. Akhirnya akan selamat dan beruntung didunia dan akhirat, amin.

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَاَدْ خِلْنَا وَاِيَّاكُمْ مِنْ زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصّٰلِحِيْنَ . وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْن




الخطبة الثنية
اَللهُ اَكْبَرُ ×٧ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ. اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. اَلْحَمْدُلِلّٰهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْدًالِلْمُؤْمِنِيْنَ وَخَتَمَ بِهِ شَهْرَ الصِّيَامِ لِلْمُخْلِصِيْنَ . اَشْهَدُ اَنْ لَا ِالٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَشْهُوْرُ بِفَطَانَتِهِ وَاَمَانَتِهِ وَصِدْقِهِ وَتَبْلِيْغِهِ وَصَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ وَحَذَرَ. فَقَاَلَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللّٰهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


Rabu, 13 Mei 2020

Mencari Keteladan Sejati, Adakah Figur Sentral? Bagian II



Manusia adalah makhluk dengan dua dimensi yaitu dimensi lahir dan dimensi batin. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, manusia adalah makhluk Allah yang diberi taklif, tanggung jawab untuk menjaga, melestarikan, memanfaatkan sumber daya alam, karena itu manusia disebut sebagai khalifah, wakil Allah dimuka bumi. Disamping itu manusia adalah hamba Allah yang mempunyai tugas untuk menyembah beribadah kepada Allah, manusia diberikan tugas sebagai khalifah dan sebagai hamba Allah. Dua hal ini ini Allah kelak akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang sudah dilakukan oleh manusia.

Sangat penting untuk menerapkan prinsip keseimbangan, urusan dunia dan juga urusan akhirat diseimbangkan. Rasul pernah bersabda “berbuatlah duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan beramallah untuk akhirat, seakan-akan engkau akan mati besok pagi”. Dari hadits ini jelas sekali bahwa kita diberikan kewenangan untuk mencari karunia Allah dalam kehidupan dunia juga mencari karunia untuk kehidupan akhirat, mengapa? Dunia ini sementara, dunia hanyalah permainan, panggung sandiwara, dunia ini adalah seperti orang yang berpergian suatu saat akan kembali.

Manusia hidup di dunia tidak akan lama, tetapi hidup di akhirat adalah untuk selama-lamanya. Sebelum masuk ke alam akhirat kelak, manusia akan hidup di alam barzah atau alam kubur sampai batas waktu yang hanya Allah yang mengetahui. Setiap orang kelak di hari Qiamat akan mempertanggungjawabkan setiap amal perbuatan yang sudah dilakukan. Amal baik akan mendapatkan pahala yang kelak akan dimasukkan ke dalam surga nya Allah. Amal yang buruk maka akan mendapatkan dosa dan kelak akan dimasukkan ke dalam neraka. Pada dasarnya surga dan neraka adalah merupakan pilihan.

Dunia adalah ladang untuk menanam kebaikan sebagai bekal besok di hari Qiamat. Agar menjadi orang-orang yang lebih baik maka carilah suatu keteladanan didalam hidup ini, agar kehidupan kita itu bisa menjadi lebih baik. Dalam urusan akhirat maka lihatlah kepada orang yang lebih alim, orang yang lebih taat, giat dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Misalnya ada orang yang rajin membaca Alquran, lihatlah dia, tirulah dia. Ada orang yang rajin menegakkan shalat degan berjamah, lihatlah dia, contoh lah. Ada orang gemar berderma, membantu pada orang-orang yang fakir miskin dan yang membutuhkan, lihatlah dia maka dalam hatinya akan muncul rasa kepedulian untuk mebreikan bantuan. Jangan melihat kepada orang yang dibawahnya, bila dalam hal ibadah melihat kepada orang yang dibawahnya, maka dia akan susah untuk mencapai pada tingkat kesempurnaan dalam pengamalan ajaran agama Islam. Sebaliknya dalam urusan dunia maka lihatlah kepada orang yang di bawahnya Rasulullah SAW pernah bersabda:

خَصْلَتَانِ مَنْ كَانَتَا فِيهِ كَتَبَهُ اللَّهُ شَاكِرًا صَابِرًا وَمَنْ لَمْ تَكُونَا فِيهِ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ شَاكِرًا وَلَا صَابِرًا مَنْ نَظَرَ فِي دِينِهِ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَهُ فَاقْتَدَى بِهِ وَمَنْ نَظَرَ فِي دُنْيَاهُ إِلَى مَنْ هُوَ دُونَهُ فَحَمِدَ اللَّهَ عَلَى مَا فَضَّلَهُ بِهِ عَلَيْهِ كَتَبَهُ اللَّهُ شَاكِرًا صَابِرًا وَمَنْ نَظَرَ فِي دِينِهِ إِلَى مَنْ هُوَ دُونَهُ وَنَظَرَ فِي دُنْيَاهُ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَهُ فَأَسِفَ عَلَى مَا فَاتَهُ مِنْهُ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ شَاكِرًا وَلَا صَابِرًا


"Ada dua perkara yang barangsiapa memilikinya maka Allah akan mencatat dia sebagai seorang yang pandai bersyukur dan bersabar, dan barangsiapa yang tidak memiliki keduanya maka Allah tidak mencatat dia sebagai seorang yang pandai bersyukur dan penyabar, yaitu barangsiapa yang melihat (mengukur) agamanya dengan orang yang lebih tinggi darinya lalu dia mengikutinya, dan barangsiapa yang melihat (mengukur) dunianya dengan orang yang paling rendah darinya lalu dia memuji Allah atas karunia yang diberikan kepadanya, maka Allah akan mencatat dia sebagai seorang yang pandai bersyukur dan bersabar, namun barangsiapa yang melihat agamanya dengan orang yang lebih rendah darinya dan melihat dunianya dengan orang yang lebih tinggi darinya dan dia bersedih atas dunia yang tidak didapatkannya, maka Allah tidak mencatatnya sebagai seorang yang pandai bersyukur dan bersabar." (HR. Tirmidzi: 2436)

Allah akan melihat orang yang bersyukur dan bersabar adalah orang yang melihat orang lain dalam hal ibadahnya kepada orang yang di atasnya dan orang yang melihat orang lain dalam hal keduniawiannya kepada orang yang di bawahnya. Maka visualisasi dalam mencari keteladanan adalah dengan melihat orang-orang yang baik dalam hal ibadahnya pada orang yang di atasnya. Dengan ini orang akan mnghitung- menghitung, menyadari kekurangan yang ada pada dirinya, dia akan menjauhkan diri dari sifat kibir, ujub, riak dan perilaku-perilaku lainnya. Dengan demikian akan menjadi orang yang lemah lembut, berperilaku baik, pandai dalam mensyukuri dan menghormati orang lain, tidak mudah untuk menyalahkan orang lain, karena bila melihat orang lain dalam hal ibadah, kepada orang yang diatasnya, maka sungguh kecil dirinya alangkah dhaifnya.

Demikian pula dalam urusan duniawi, lihatlah kepada yang di bawahnya, niscaya akan menjadi orang yang bersyukur. Misalnya ada orang yang mempunyai mobil dan mobilnya sudah mobil yang tua, bila sedang berbincang dengan teman-temannya yang mempunyai mobil baru maka dirinya merasa iri dan bersedih kenapa tidak bisa memiliki mobil yang baru. Karena itu hendaknya melihat kepada orang yang di bawahnya, bersyukur dirinya mempunyai mobil, walaupun mobilnya tua, tapi masih bisa digunakan untuk beraktivitas. Waktu hujan tidak kehujanan, waktu panas tidak kepanasan dan mobilnya tidak macetan, ini masih sangat beruntung, coba kalau melihat temannya atau saudaranya tidak mempunyai mobil dan hanya mengendarai sepeda motor, kalau hujan kehujanan, panas juga kepanasan, kena debu, kena angin.
Demikian juga orang yang mempunyai sepeda motor bersyukur, karena mendingan punya sepeda motor daripada saudaranya atau temannya atau orang lain yang tidak mempunyai sepeda motor, sehingga kemana-mana menggunakan sepeda ontel untuk beraktivitas, untuk bekerja menggunakan sepeda ontel. Orang yang punya sepeda ontel pun itu hendaknya bersyukur, karena apa, beruntung karena ada temannya, saudaranya yang tidak mampu membeli sepeda ontel sehingga kemana-mana dia dengan berjalan kaki, membawa barang, berjalan kaki ke mana.

Orang yang masih bisa berjalan itu juga sangat bersyukur, karena diberikan kesehatan oleh Allah sehingga ke mana-mana bisa berjalan beraktivitas dengan kedua kakinya. Sementara ada saudaranya atau temannya atau siapapun yang sakit ternyata dia sudah tidak bisa berjalan, kakinya sakit, lumpuh, semua aktivitas butuh pelayanan orang lain, makan minum sampai membersihkan diri tidak mampu tapi harus melalui bantuan orang lain. Maka orang yang masih bisa berjalan itu sangat bersyukur bila dibandingkan dengan orang yang sama sekali sudah tidak bisa berjalan tetapi orang yang sudah lumpuh misalnya di tempat tidur, tidak bisa beraktivitas. Pada orang yang teakhir inipun juga hendaknya tetap bersyukur, karena apa masih diberi kesempatan untuk bertobat memperbarui kesalahan-kesalahannya karena sakit itu adalah merupakan penebus dari dosa dan kesalahan yang sudah dilakukan bersyukur.

Coba kalau dilihat ada temannya atau saudaranya atau siapapun yang mati dalam kondisi yang mendadak, padahal dia dalam keadaan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah, sedang melakukan kemaksiatan kemudian dia dipanggil oleh Allah, maka sudah tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaiki amal-amal, maka masih diberikan panjang umur, walaupun dalam kondisi apapun tetap bersyukur bahwa semuanya itu adalah pemberian Allah, maka dalam urusan keduniawian lihatlah kepada orang yang dibawahnya niscaya akan menjadi orang pandai bersyukur, mensyukuri segala nikmat karunia yang telah diberikan Allah kepada dirinya.
Carilah keteladanan kepada siapa pun yang melakukan perbuatan yang baik, karena Rasulullah juga pernah mengatakan bahwa “lihatlah pada apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan”. Jelas bahwa sumber kebenaran, keteladanan bisa datang dari siapa saja, dari orang miskin, anak kecil, orang kaya, orang cantik, orang gagah. Kalau mereka mempunyai perilaku yang baik, maka sebaiknya kita contoh. Tidak usah membedakan tidak usah memisahkan dia itu siapa, tetapi kalau memang mempunyai akhlak dan perilaku yang baik, maka jadikanlah teladan.
Keteladanan itu tidak tidak sentral pada seseorang, Karena manusia itu adalah makhluk yang tidak sempurna manusia makhluk yang perilakunya itu kadang berubah sesuai dengan situasi dan kondisi, kecuali pada orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, dimanapun dan kapanpun selalu merasa dirinya dalam pengawasan Allah.

Selasa, 12 Mei 2020

Mencari Keteladan Sejati, Adakah Figur Sentral?

Keteladanan berasal dari kata teladan yang berarti contoh, dalam bahasa Arab adalah uswah. Nabi Muhammad adalah figur dijadikan contoh.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab: 21)

Dalam ayat itu Allah sebagai Sang Khalik atau pencipta, kata yang Maha Mengetahui perihal segala hal ciptaan-Nya, bila Allah yang mengatakan, maka tidak dapat dipungkiri karena firman Allah adalah suatu kebenaran hakiki yang harus diyakini. Bagi yang mengingkari kebenaran firman Allah maka dia orang bukan orang yang beriman. Perihal ciptaan Allah tentang manusia pilihan yang patut dijadikan contoh yaitu Nabi Muhammad SAW, sesungguhnya dalam pribadi Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik

Keteladanan Rasulullah
Menjadi teladan tentu harus mengetahui kelebihan dan kebaikannya. Jadi jangan sampai bisa mengatakan bahwa Rasulullah Muhammad figur uswatun hasanah tapi tidak mengetahui sisi-sisi keteladanan beliau. Ada beberapa ciri rasul yang bisa dijadikan teladan:

  1. Al Amanah yaitu terjaga lahir dan batinnya dari segala macam perbuatan maksiat, dan mustahil bersifat sebaliknya yaitu khianat. beliau terjaga dari perzinaan, minuman khamr dan sejenisnya, berdusta dan perbuatan dosa lainnya yang kasat mata juga terjaga dari kemaksiatan lainnya. Yang bersifat batiniah seperti dengki, sombong, iri, ria’ dan perbuatan dosa lainnya yang dilarang oleh Allah. Maka kita pun secara tidak langsung diperintahkan untuk memiliki sifat tersebut sebab kita diperintahkan untuk meneladani Rasul dan secara tidak langsung kita pun dilarang memiliki sifat sebaliknya yaitu kiamat
  2. Shidiq berarti jujur. Berkata dengan jujur dan mustahil bersifat sebaliknya yaitu al kizzib atau dusta sebab jika Rasul berdusta maka pemberitaan dari Allah pun dusta, padahal mustahil Allah bersifat berdusta jika mustahil rasul berdusta maka shidiq bagi beliau adalah wajib.
  3. Al Fathonah berarti cerdas dan waspada dan mustahil bagi rasul pelupa dan tidak waspada sebab jika rasul tidak cerdas, maka tidaklah mungkin mampu memberikan argumentasi terhadap lawan-lawannya tentang kebenaran yang dibawanya, dan bertentangan dengan tugas Rasul yaitu menunjukkan kepada kebenaran bagi seluruh manusia. Maka jelaslah bahwa Rasul bersifat Fathonah.
  4. Tabligh berarti menyampaikan perintah Allah kepada manusia dan mustahil sebaliknya yaitu menyembunyikan perintah Allah sedikitpun, sebab jika rasul menyembunyikan perintah Allah, maka kita pun secara tidak langsung diperintahkan menyembunyikannya. Sebab kita wajib meneladani rasul, maka wajiblah rasul menyampaikan kepada manusia semua perintah Allah.


Adapun sifat yang Jaiz ialah semua sifat manusia yang tidak mengurangi martabat kemanusiaan seperti makan minum beristri dan penyakit yang tidak menjadikannya tercela dan tidak menjadikan manusia menjauh dari Rasul. Adapun penyakit yang menjadikannya manusia menjauh darinya seperti gila kusta Ayan utamakan penyakit jenis ini tidaklah Jaiz
Bila mencermati dalam sejarah dan hadits rasul, banyak sekali yang memvisualisasikan sikap dan kepribadian Rasulullah, sebagi contoh:
1. Nabi Muhammad adalah pribadi yang mempunyai keyakinan yang teguh, mantap. Dengan keyakinan yang mantap ini tidak tergoyahkan karena harta pangkat dan jabatan. Nabi Muhammad pernah kedatangan tamu-tamu orang kafir Quraisy mereka berusaha mempengaruhi nabi Muhammad dengan menawarkan kekayaan agar beliau menjadi orang paling kaya di kota Mekah, mereka juga menawarkan kepada beliau untuk menikahi wanita mana saja yang beliau kehendaki, hal tersebut mereka sampaikan kepada beliau seraya berkata “Inilah yang kami sediakan bagimu hai Muhammad dengan syarat engkau jangan memaki-maki Tuhan- Tuhan kami dan menjelek-jelekkannya atau sembahlah Tuhan Tuhan kami selama setahun. Nabi menjawab “Aku akan menunggu wahyu dari Rab-Ku. Kemudian turun surat Al Kafirun ayat 1-6 turun berkenaan dengan peristiwa tersebut sebagai perintah untuk menolak tawaran kaum kafir.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Walid Bin Al Mughirah, Al Ashi bin Wail, Al Aswad bin Muthalib dan Umayyah bin Khalaf bertemu dengan Rasulullah, mereka mengajak nabi Muhammad untuk bersekutu dan menyembah. Dengan tegas rasul menyampaikan firman Allah.

1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
4. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
6. untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (QS. 109: 1-6)

2. Beliau pribadi yang selalu konsisten taat beribadah, walaupun Allah telah menjadikan Muhammad pribadi yang maksum, dijaga dari perbuatan dosa. Sehingga dijamin masuk ke dalam surga, tetapi nabi Muhammad tetap giat dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Pada suatu saat Siti Fatimah yang tidak lain adalah istri beliau menyatakan kepada Rasulullah wahai Rasul kenapa engkau setiap malam masih bersimpuh kepada Allah, sujud kepada Allah, melaksanakan shalat lail hingga kakimu bengkak, tepat sujudmu basah, memohon ampun kepada Allah? Bukankah Allah telah menjaga-Mu, menjadikan-Mu pribadi yang maksum dan di jamin masuk surge? Rasulullah hanya menjawab apakah aku tidak ingin dikatakan sebagai orang yang bersyukur? Maka Rasulullah melaksanakan ibadah shalat, beribadah semata-mata sebagai wujud rasa syukur kepada Allah, jadi bukan karena takut masuk ke dalam neraka dan ingin masuk ke dalam surga, tidak, tapi semuanya itu dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah.

Disampaing keteladanan setelah mengetahui hal-hal kebaikan dan keutamaan Rasulullah, namun kehidupan manusia berada di tengah-tengah masyarakat, tentu setiap orang mempunyai sikap dan perilaku yang berbeda-beda, manusia mempunyai pengamalan dan kebiasaan yang berbeda sehingga akan menimbulkan kesadaran dan pengalaman yang berbeda pula.

Ada seorang atasan menegur pada bawahannya yang mempunya kebiasaan buruk, datangnya selalu telat, ada pekerjaan tidak segera di lakukan, suka ngobrol hingga melakukan gosip atau menyebar gosip, sehingga setiap akhir bulan dimintai laporan kegiatan selalu mengelak. Lalu atasan memberikan visualisasi untuk meniru temannya yang disiplin, rajin, ulet sehingga nampak ada kedamaian di dalam dirinya.

Ketika memberikan visualisasi ternyata dia juga mempunyai kekuarangan, walau mempnyai kelebihan di bidang yang lain. Kondisi yang demikian ini, ternyata jauh hari Rasululah Muhammad SAW telah memberikan kunci visualisasinya, yaitu jadilah pribadi yang pandai bersyukur dan bersabar. Bersyukur atas kenikmatan yang telah diberikan Allah, syukur dengan lisan yaitu mengucapkan hamdalah dengan memuji kepada Allah, syukur dalam hati selalu berupaya untuk memantapkan aqidah Islam yang telah tertanam di dalam hati. Syukur dengan perbuatan adalah senantiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya, bahkan merasa kurang dalam melaksanakan ibadah yang telah diperintahkan Allah, sehingga dirinya selalu berupaya untuk melaksanakan ibadah-ibadah sunnah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah.

Orang yang sabar adalah orang yang dapat menjaga diri dan hati dengan ikhlas menerima qada dan qadar Allah. Wujud dari rasa sabar adalah:
1. Sabar terhadap perintah Allah.
Manusia ditugaskan untuk beribadah kepada Allah, tunduk patuh dan taat kepada perintahnya, sebagai hamba berarti manusia harus menyerahkan segenap jiwa raga kepada kehendak Allah, tiada pilihan lain baginya, selain ketaatan dan kepatuhan. Untuk mencapainya manusia harus terus-menerus menyadari dirinya, kedudukannya sebagai makhluk Allah, ini merupakan upaya untuk mencapai kesabaran yaitu menerima dengan sepenuh hati terhadap perintah Allah.

2. Sabar terhadap larangan Allah.
Sabar terhadap larangan Allah adalah mengendalikan hawa nafsu yang mendorong untuk melanggar larangan. Nafsu sesuai dengan sifatnya adalah kekuatan besar yang mendorong manusia bergerak untuk mencapai kenikmatan dan kepuasan, sabar di sini berarti mengendalikan dan menekan perasaan dan keinginan sehingga dapat menyikapi setiap larangan Allah harus dihindari.

3. Sabar terhadap perbuatan orang manusia.
Sebagai makhluk sosial berada di tengah-tengah pergaulan dengan manusia lainnya, setiap saat dihadapkan kepada sikap dan perbuatan orang lain terhadap dirinya. Islam mengajarkan pergaulan dan sikap yang baik dalam menghadapi orang lain, termasuk sikap terhadap orang yang membenci atau memusuhinya maka sabar bentuknya sabar terhadap perilaku orang lain bisa berupa 1). Tidak melayani ajakan permusuhan atau pertengkaran, yaitu dengan cara diam atau tidak meladeni atau dengan cara pindah. 2) Menerima konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan dan menyikapinya dengan bijaksana tanpa emosi., erbuatan yang baik tidak selalu ditanggapi baik oleh pihak lain.

Oleh karena itu teguh pada keyakinan akan perbuatan yang dilakukan dan menyadari sifat manusia yang merupakan dasar untuk bersikap bijaksana, terkadang perilaku orang lain tidak memahami tujuan dari kebaikan, tidak menyebabkan meluapnya emosi yang melahirkan keburukan dan dosa sabar memaafkan atau memaafkan perilaku orang lain. Perbuatan baik yang dilakukan seorang muslim kadang-kadang ditanggapi orang lain dengan reaksi yang tidak baik akibat orang itu tidak memahami tujuan kebaikan yang terdapat dalam kebaikan itu. Di sini sikap sabar yang ditampakkan dalam bentuk bijaksana yaitu membuka perasaan untuk memaafkan orang lain, ini suatu perbuatan yang paling utama dalam pandangan Allah.

4. Sabar memerangi musuh
Sabar bagi seorang muslim dalam bentuknya yang lain adalah menghilangkan ketakutan dan kekhawatiran dalam menghadapi orang-orang yang memusuhi dan memeranginya. Ia akan bicara lantang terhadap kebenaran, bahkan ia akan maju ke medan pertempuran dengan gagah berani dan penuh percaya diri mempertahankan keyakinan. Ia akan berdiri dengan tegak dan optimis akan kemenangan yang akan diraih nya, karena keyakinannya yang kuat dan kokoh bahwa pertolongan Allah akan datang membela orang-orang yang benar

5. Sabar menerima musibah.
Dalam kehidupan sehari-hari adanya musibah yang menimpa seseorang adalah merupakan Sunnatullah. Karena itu merupakan konsekuensi dari kehidupan dunia, dan musibah yang disebabkan alam maupun karena kelalaian manusia.

Rasulullah telah memberikan pesan tentang orang yang ingin mencari figur keteladanan Allah akan mencatat orang-orang yang bersyukur dan bersabar.
……………bersambung, Mencari Keteladan Sejati, Adakah Figur Sentral? Bagian II