Kemuliaan Ibu Atas Perjuangan dan Pengorbanan dalam Mengandung, Melahirkan, Mengasuh Anak



Pada suatu hari ada seorang gadis yang bertaaruf dengan seorang perjaka, keduanya dengan segala kekuarangan dan kelebihan masing-masing berupaya untuk mencari kecocokan. Dua sijoli akhirnya mengucapkan janji suci pada ikrar pernikahan untuk menjadi suami istri yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Sejak pernikahan gadis tersebut berubah statusnya menjadi istri dari suami dan calon ibu bagi putra-putrinya. Tidak sampai 1 tahun, ternyata calon ibu muda tersebut dinyatakan hamil, mengandung calon bayi, rasa senang yang dirasakan oleh pasangan muda-mudi tersebut selayaknya orang yang sudah berumah tangga. Ingin mempunyai keturunan atau mempunyai anak bisa meramaikan rumah bisa menjadi tempat berlibur bagi keluarganya.

Kegembiraan pasangan muda ini kemudian berubah menjadi kesedihan yang luar biasa karena apa sejak awal kehamilan pada bulan yang pertama dirasakan pada perutnya perut calon ibu itu sering kejang, sering frontal, apa yang ada di dalam perut. Kemudian sampai pada akhirnya bahwa calon ibu itu mengeluarkan darah yang dalam istilah itu mengalami keguguran dalam masa kehamilan 1 sampai 2 bulan.

Ternyata gagalnya untuk mendapatkan anak, itu ibu muda mengalami sakit yang luar biasa, karena apa janin di indikasikan menurut medis dari hasil USG bahwa janinnya itu ternyata sudah tidak bernyawa atau sudah sangat rawan untuk bisa mempertahankan kehidupan karena sudah tidak ada gerakannya, karena itu atas saran dari dokter calon janin itu harus dikeluarkan. Seorang ibu harus periksa dari satu dokter ke dokter yang lainnya untuk memastikan bahwa kandungannya itu sudah tidak bisa diselamatkan.

Pada akhir keputusan harus dikeluarkan atau harus digugurkan, pengguguran berhasil tapi kemudian harus melakukan kuret untuk membersihkan rahim, yang ada sisa-sisa janin yang sudah keluar itu, karena apa? kalau terjadi janin yaitu tidak keluar dari rahimnya dikhawatirkan akan menjadi suatu penyakit yang lebih berbahaya lagi. Inilah awal dari perjuangan, pengorbanan seorang ibu, baru aja mau hamil ternyata sudah mengalami suatu yang demikian berat. Ini adalah salah satu contoh pengorbanan seorang ibu

Kemudian pada kisah wanita lain, pada wanita yang mengandung sejak awal kandungannya sehat, sampai pada ada waktunya untuk melahirkan 9 bulan 10 hari sudah ada gejala-gejala bahwa janin akan keluar akan lahir. Tetapi ternyata apa yang terjadi, bahwa kelahiran juga tidak bisa berjalan mulus, karena harus melakukan proses operasi kandungan atau sesar, operasi di mana sang Ibu melahirkan bayi dengan tidak melalui tempat lahirnya, akan tetapi melalui tempat lain yang melalui pembedahan, seorang ibu harus berjuang.. Yang mengandung dari 0 bulan dari mulai dari 0 hari sampai pada 9 bulan 10 hari, seorang ibu akan merasakan beban berat, karena kemana-mana membawa janin. Tapi ternyata kadang dilalui oleh seorang dengan rasa senang, bangga akan segera mempunyai anak.

Ada lagi seorang ibu yang sejak hamil sampai waktu melahirkan berjalan dengan mulus, lancar. Walaupun ketika bayi mau lahir, seorang ibu mengerang kesakitan, karena proses kelahiran dengan normal melalui tempat lahirnya. Bagaimana ibu yang melahirkan merasakan enak? Ternyata banyak diantara wanita yang ketika mau melahirkan merasakan sakit yang luar biasa. Semuanya adalah perjuangan dan pengorbanan seorang ibu, dari proses mengandung sampai melahirkan itu sudah melakukan perjuangan dan pengorbanan dan ini tidak dilakukan oleh seorang laki-laki.

Setelah bayi lahir, ternyata belum selesai tugas dari seorang ibu, karena harus menjaga, mengasuh, merawatnya hingga anak itu sampai pada taraf dewasa. Tugas seorang ibu kadangkala sampai larut malam menjaga anak, begitulah perjuangan seorang ibu. Mulai mengandung melahirkan mendidik membesarkan anaknya itu pengorbanan yang tidak dirasakan oleh seorang anak ayah. Karena itu Allah memberikan kemulian kepada kaum ibu:

مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ
“Siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "kemudian siapa lagi?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" dia menjawab: "Kemudian ayahmu." (HR. Buchari: 5514)

Sungguh mulia ibu, peran ibu sangat penting, dari ibulah akan tercipta putra-putri yang shalih dan shalihah, baik buruknya suatu bangsa Engkaulah penentunya. Ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah ada pada murkanya. Berbaktilah kepada orang tua (ibu), selagi masih hidup, pergaulilah dengan baik, hormatilah keduanya. Ketika keduanya telah tiada doakanlah, jalin shilaturahim dengan sahabat orang tua, teruskan perjuangan dan pengorbanannya. Dunia berputar apa yang diperbuat sekarang maka kelak akan memetik hasilnya. Yang tua telah tiada dan yang muda akan menjadi tua. Berupaya masa muda untuk berbuat baik, bermanfaat bagi manusia agar masa tua bisa bahagia.



Tambahan:
1. Semua yang disampaikan merupakan refleksi diri sebagai bahan evaluasi menata hati untuk meraih ridha Ilahi Robby
2. Jangan lupa bagikan informasi ini ke rekan anda melalui WhatsApp dan Facebook, ingat "Semakin banyak anda berbagi maka semakin banyak anda akan menerima"

Artkel Lain:


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel