Tauhid Rasulullah Muhammad SAW membentuk Pribadi Yang Handal



Nabi Muhammad SAW dilahirkan dari kalangan bangsawan pada tanggal 12 Rabiul awal tahun gajah atau 20 April 571 M. Ketika lahir ayahnya Abdullah telah tiada, kemudian setelah usia 6 tahun ibunya Siti Aminah meninggal, kemudian diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib hingga usia 12 tahun sehingga sampai pada usia dewasa diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Masa kanak-kanak dilalui dengan menggembala kambing, kemudian berniaga, dalam aktifitasnya selalu menampilkan akhlaqul karimah sehingga oleh teman sebaya dan lingkungan masyarakat diberi gelar al-amin yang artinya dapat dipercaya.

Ketika dalam perjalanan berniaga ke Syam bersama dengan pamannya ditengah perjalanan bertemu dengan seorang pendeta nasrani “Buhaira” yang sangat winasis, ditemukan tanda-tanda kenabian sebagaimana dalam kitab suci yang dia pelajari telah menunjukkan yang demikian. Oleh karena itu ia berpesan kepada Abu Thalib untuk melindunginya, karena bila sampai bertemu dengan orang-orang Yahudi maka akan disakiti bahkan dibunuhnya.

Rasul menikah dengan Siti Khadijah pada usia 25 tahun, diantara kepribadiannya bahwa ia mempunyai pribadi luhur dan akhlaq mulia. Dalam kehidupan sehari-hari senantiasa memelihara kesucian dan martabat dirinya, ia jauhi adat istiadat yang kurang senonoh yang ada pada masyarakat jahiliyah seperti sehingga ia diberi gelar At Thahirah. Ia mempunyai pikiran yang tajam, lapang dada, kuat himmah dan tinggi cita-citanya. Ia suka menolong orang-orang yang hidup dalam kekurangan dan wanita yang pandai berdagang. Ia menolak setiap pinangan dengan cara yang bijaksana dan halus sehingga tidak menimbulkan ketersinggungan.

Ketinggian budi dan kebesaran pribadinya sebagai istri seorang utusan Allah sejak menerima wahyu sampai diangkatnya menjadi rasul adalah:
1. Ia mengetahui dengan sepenuhnya jiwa, pribadi dan akhlaq suaminya (Muhammad) sejak kecil hingga dewasa yang tidak suka denan adat istiadat kaumnya yang suka menyembah berhala, demikian pula benci dengan kaumnya yang suka berjudi, minum khomr, membunuh bayi dan melakukan perbuatan keji lainnya.
2. Beliau memberikan kesempatan dan keleluasan kepada suaminya untuk menghidupkan semangat spiritualnya. Sebagaimana ketika rasul bertahannus di gua Hira’ beliau selalu menyediakan perbekalannya.
3. Ketika rasul dalam keraguan dengan kejadian yang dilihat dalam tidurnya (mimpi yang benar), ia meyakinkan bahwa akhlaq yang mulia, tidak pernah berdusta dan menyakiti orang lain, mustahil akan diganggu oleh syetan.
4. Ketika nabi menemui keraguan setelah menerima wahyu yang pertama ia menghibur dan meyakinkan suaminya yang akan diangkat menjadi rasul yang kemudian datang ketempat Waraqah bin Naufal, bahwa tanda-tanda kenabihan Muhammad telah tersebut didalam kitab Injil.
5. Ketiaka suaminya menerima wahyu yang kedua yang berisi perintah untuk mengajak kepada kaumnya kapada agama tauhid, maka Khadijah langsung meyakini dan meyatakan keislamannya.

Anak yatim dalam perkembangannya dapat tumbuh menjadi pribadi yang berbeda, satu sisi menjadi orang yang rapuh iman dan tidak mempunyai kepribadian, tetapi disisi lain akan menjadi manusia yang kuat imannya dan mempunyai kepribadian yang tangguh. Sebagaimana Nabi Muhammad, ketika diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan risalah Islam beliau dibujuk para pembesar kafir untuk meninggalkan aktifitasnya berda’wah Islam, beliau akan diberi jabatan dan kedudukan yang terhormat, diberi harta benda dan kemewahan, diberi istri-istri dari kalangan kafir, akan diberi pelayan-pelayan yang setia, serta bila sakit akan disediakan dokter.

Pesan yang demikian disampaikan kepada pamannya. Sehingga Abu Thalibpun menyampaikan kepada kemenakannya karena takut akan ancaman yang akan menimpa kemenakannya itu. Tetapi Muhammad tetap dalam pendirianya untuk menyampaikan ajaran tauhid, dapat dibuktikan sebagai berikut:

1. Ketika rasul menerima pesan kaum kafir yang disampaikan kepada Abu thalib, beliau menjawab:

والله لو وضعواالشمس فى يمينى والقمر فى شمالى على ان اترك هذاالامر ماتركته, حتى يظهره الله اواهلك دونه

“ Demi Allah wahai paman, sekiranya mereka letakkan matahari disebelah kananku, dan bulan disebelah kiriku, dengan maksud agar aku tinggalkan pekerjaan ini (menyeru mereka kepada agama Allah) sehingga ia terseiar (dimuka bumi ini) atau aku akan binasa karenanya, namun aku tidak akan menghentikan pekerjaan ini”.

2. Ketika nabi menerima kunjungan delegasi kaum kafir diantaranya Al Walid bin Mughirah, Al As Ibnu Wail As Sahmy, Al Aswad ibnul Abdil Muthalib, Umayah bin Khalaf untuk mengadakan kerjasama dalam beribadah, dalam satu tahun Muhammad dan kaumnya disuruh untuk menyembah tuhannya orang kafir dan beribadah menurut syari’atnya, kemudian setahun kemudian kaum kafir akan menyembah Allah dan beribadah menurut syari’at Islam. Kemudian rasul memberi jawaban didepan para pembesar kafir yang telah berkumpul di Masjidil Haram, dengan membacakan surat Al Kafirun ayat 1-6:

قل يايهاالكفرون ,لااعبد ماتعبدون, ولا انتم عبدون مااعبد. ولااناعبدماعبدتم, ولاانتم عبدون مااعبد, لكم دينكم ولىدين


“ Katakanlah: “Hai orang-orang kafir”! aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku”.

3. Dalam bidang aqidah, Muhammad itu tegas, seperti firman Allah dalam surat Al Fath ayat 29:

محمد رسول الله والذين معه اشداء على الكفار رحماءبينهم ترهم ركعا سجدايبتغون فضلا من الله ورضوانا سيماهم فى وجوههم من اثر السجود

“ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah kerasterhadap orang-orang kafir, tetapi kasih sayang terhadap mereka, kamu lihat mnereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka nampak pada muka mereka dari bekas sujud”.

Hal yang demikian ini memang harus diwaspadai bahwa orang-orang kafir selalu berupaya agar orang Islam itu dapat menjadi murtad, atau bila tidak mungkin maka mereka melakukan gerakan agar orang Islam tidak sadar dan tidak menyadari bahwa dirinya telah melaksanakan ajaran Yahudi dan Nasrani. Hal yang demikian ini telah diingatkan oleh Allah didalam Alquran:

ولن ترضى عنك اليهود ولا النصرى حتى تتبع ملتهم, قل ان هدى الله هوالهدى, ولئن اتبعت اهواءهم بعد الذى جاءك من العلم مالك من الله من ولى ولانصير (البفراه: 120

“ Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong mereka”. (Al Baqarah: 120).

Keyakinan yang tumbuh semakin mantap selanjutnya mewujudkan sikap dan perilaku yang baik, hal ini karena menjadi misi yang diemban oleh rasul, sebagaimana firman Allah:

وما ارسلناك الا رحمة للعالمين

“Dan tidaklah aku utus mengutus kamu (Muhammad) kecuali menjadi rahmat bagi sekalian alam”.

ما كان محمد ابااحد من رجالكم ولكن رسول الله وخاتم النبيين

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak seoarang laki-laki diantara kamu, tetapi Dia adalah Rasululah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah mengetehui segala sesuatu”.
وانك لعلى خلق عظيم (القلام: 4)
“Dan sesaungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur”.

Rasul mempunyai keyakinan dan budi pekerti yang luhur maka kita diperintahkian untuk mengkutinya:

قل انكنتم تحبون الله فاتبعونى يحببكم الله ويغفرلكم ذنوبكم, والله غفوررحيم

“Katakanlah:” Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi damn mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Penyayang”. (Ali Imran: 31)

Rasul bersabda:

دعونى ماتركتكم انما أهلك من كان قبلكم كثرة سؤالهم واختلافهم على انبيائهم فْاءذا نهيتكم عن شيئ فاجتنبوه واذا أمرتكم بأمر فأتوا منه مااستطعتم (رواه البخارى ومسلم


“Tinggalkan apa yang Aku tinggalkan, sesungguhnya hancurnya umat sebelummu, disebabkan banyaknya pertanyaan dan meninggalkan nabi-nabinya. Maka jika Saya melarang kamu meninggalkan suatu perbuatan tinggalkanlah, dan jika Aku menyuruh melaksanakan suatu perbuatan maka laksanakanlah” ( HR. Bukhari Muslim).

Rasul sebagai pembawa risalah Islam, beliau paling tahu tentang agama Islam demikian pula orang yang taat didalam melaksanakan ajaran Islam, sehingga apa yang rasul katakan maka dilaksanakan, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Ahzab 21

لقد كان لكم فى رسول الله اسوة حسنة لمن كان يرجواالله والوم الاخر وذكرالله كثيرا


“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladhan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari qiyamat dan dia banyak menyebut asma Allah”.

Anda sedang membaca artikel dari untajiaffan Terbaru hari ini. Mohon untuk membagikan artikel ini ke teman anda melalui sosial media dibawah ini.

Artikel Untajiaffan Lainnya:



Kotak Komentar