Berolah Raga di Bulan Ramadhan


Puasa Ramadhan oleh kaum muslimin dilaksanaan selama satu bulan dengan hitungan hari 29 atau 30 hari. Pada tanggal-tanggal yang awal terutama pada sepuluh hari yang pertama banyak tempat ibadah, baik itu masjid, mushola atau langgar dipadati oleh para jama’ah yang ingin melaksanakan kewajiban shalat Isya’ dilanjutkan dengan shalat Tarowih dan Witir secara berjama’ah, demikian pula biasanya diikuti dengan kegiatan kultum atau ceramah Ramadhan. Selaras dengan janji Rasulullah SAW:

اول رمضان رحمة واو سطه مغفرة واخره عتق من النار

“Puasa Ramadhan yang pertama adalah rahmat yang pertengahan adalah maghfirah dan yang terakhir adalah dihindarkan dari siksa neraka”.

Dari hadits tersebut dapat dipahamai bahwa pelaksanaan ibadah puasa bila satu bulan genap selama 30 hari maka awal yang pertama adalah tanggal 1 sampai 10, yang pertengahan adalah tanggal 11 sampai 20 dan yang terakhir adalah tanggal 21 sampai 30.
Pada tanggal yang pertama pelaksanaan ibadah dilaksanakan dengan rasa gembira dan penuh semangat, sehingga seluruh anggota keluarga terlibat dalam pelaksanaan ibadah mulai dari pelaksaaan shalat Isya’, Tarowih witir dan ceramah Ramadhan serta tadarus Alquran. Semangat ini adalah sangat baik dan sudah menjadi tradisi bila memasuki tanggal yang pertengahan hingga akhir bulan Ramadhan shaf shalat berjama’ah semakin maju yang artinya bahwa jama’ah semakin berkurang.

Mengapa semangat dan gairah orang didalam melaksanakan amalan ibadah pada bulan Ramadhan semakin menurun, bukankah semakin bertambahnya hari dan tanggal dan semakin mendekati berakhirnya bulan Ramadhan Allah akan melimpahkan maghfirahnya yaitu pada tanggal 11- 20 dan bahkan akan dihindarkan dari siksa api neraka. Belum lagi bahwa pada 10 hari yang tekhir Allah memberikan keistimewaan yaitu nilai ibadah yang dilipatgandakan menjadi ibadah seribu bulan. Tidak inginkah kita meraih semua ini. Tentu kita ingin memperolehnya namun semangat yang semakin mengendor, sehingga banyak waktu-waktu yang mempunyai keistimewaan di biarkan begitu saja tanpa kegiatan untuk peningkatan amal ibadah serta untuk melaksanakan seluruh amalam baik pada bulan Ramadhan.

Karena itu bila diantara kita mengalami kemunduran tersebut, kita harus muhasabah, mencari penyebabnya. Secara umum kemunduran tersebut disebabkan karena:
1. Wujud dari ujian keimanan, bahwa keimanan yang sempurna dari waktu kewaktu selalu mengalami peningkatan, adanya rintangan dan penghalang hendaknya dipandang sebagai seninya orang beribadah.
2. Kondisi tubuh lelah sehingga merasa tidak fit lagi.
3. Beribadah hanya sekedar coba-coba saja, anut grubyug ora ngerti rembug, sehingga ikut-ikutan ini bila mereka merasakan ada keuntungan dan kenikmatan maka akan diteruskan, namun bila hanya capek yang diperolehnya maka tidak akan diteruskan lagi.

Dari dua penyebab tersebut, sebab yang pertama hendaknya kita selalu melakukan muhasabah, menghitung-hitung kekurangan dan kelebihan pada dirinya, bila di dalam hidup ini merasa sudah terlalu banyak amal ibadah yang dilakukan, maka renungkanlah dengan segala macam kenikmatan yang telah diberikan Allah SWT, sudahkan sebandingkah antara kenikmatan Allah yang telah dilimpahakan dengan amal ibadah yang dijalankan. Bukankan seluruh yang telah dianugerahkan oleh Allah seluruh panca indra akal, hati dan nafsu adalah kenikmatan dari Allah, bahkan dengan kondisi sehat dan sempat adalah merupakan kenikmatan yang diberikan Allah SWT yang hendaknya diwujudkan dengan rasa syukur kepada Allah yaitu dengan banyak melaksanakan amal ibadah. Bahkan didalam hadits, Rasulullah SAW bersabda, untuk melihat orang lain dalam hal agama kepada orang yang berada diatasnya dan melihat kepada orang yang dibawahnya dalam hal urusan duniawi, bila dapat melaksankan kondisi ini maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang syukur dan sabar.

Janganlah kita merasa sebagia muslim yang paling saleh dan paling taat ketika berada dalam komunitas masyarakat, namun lihatlah keluar carilah suasana baru, dimana banyak para abid, para shalihin yang bersunguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah, niscaya kita akan merasa kurang, sehingga segala macam penyakit hati, dari waktu kewaktu akan semakin berkurang. Hal ini merupakan upaya untuk berbenah diri dengan ekstrospeksi. Melihat diri sendiri namun melalui orang lain, baik melalui pengamatan langsung dengan membandingkan, menganalisis, mengevaluasi dan menyimpulkan.

Namun bila kendornya semangat bergama karena tubuh merasa kurang fit, capek ngantuk dan sebagainya, hal ini yang perlu dibenahi adalah proses metabolisme tubuh selaras dengan fungsinya, yaitu dengan melakukan olah raga, gerak badan, disamping gerak karena banyak melakukan aktifitas, namun hendaknya mengkhusukan melakukan gerak badan, misalnya dengan lari-lari kecil, jalan sehat, menggerakkan seluruh anggota badan, tangan, leher, kaki, pinggul, pergelangan tangan, mulut dan sebagainya. Maka bila kegitan ini dapat dilaksanakan secara rutin, kejenuhan yang disebabkan karena kondisi tubuh yang kurang fit akan dapat di hilangkan, sehingga setelah berolah raga tubuh akan terasa lebih segar, duduk, tidur dengan posisi apapun akan terasa nyaman. Karena itu walaupun berada dibulan Ramadhan olah raga atau gerak badan mutlak diperlukan, hanya saja bahwa proporsi waktu hendaknya disesuaikan dengan kemampuan diri agar kalori yang berada dalam tubuh akan terbuang seluruhnya.

Janganlah ketika melaksanakan puasa terlalu hemat dalam mengeluarkan energi, tidak mau beraktifitas karena takut akan semakin haus, lapar, lemas. Karena kondisi pasif akan memicu saraf dan proses metabolisme tubuh akan pasif juga, sehingga semangat beribadah akan beralih menjadi loyo dan kendor, sadarkah bahwa kelesuan dalam beribadah ini akan semakin mendorong keleluasaan syetan dalam menjerumuskan manusia ke jalan yang di murkai oleh Allah. Karena sifat syetan adalah minannuri iladz dzulumat, yaitu akan menunjukkan dari jalan yang benar ke jalan yang sesat.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Karena itu disamping berolah raga perlu juga diperhatikan dalam hal makan dan minum, hendaknya jangan berlebih-lebihan, karena rasul telah memberikan petunjuk dengan membagi menjadi tiga, sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk udara. Bila keseimbangan ini dapat terwujud maka terjaga kebugaran tubuh yang akan menunjang spiritual yang bersih. Karena puasa sebagai bulan pelatihan, pembersihan dan peningkatan akan terwujud dengan maksimal.

Bila semangat beribadah hanya karena ikut-ikutan saja, memang begitulah bahwa rasul mengambarkan umat Islam sebagaimana busa yang berada di air terjun, semakin jauh mengikuti aliran air maka akan semakin berkurang dan hanya tinggal sedikit. Karena itu tugas dakwah adalah bagi saluruh umat Islam karena itu rasul telah mengatakan “sampaikanlah olehmu walaupun hanya satu ayat”. Karena itu bulan Ramadhan adalah waktu untuk meng-up grade kembali ilmu, iman, Islamnya.

Karena itu berolah raga di bulan Ramadhan hendaknya tetap dilaksanakan, dengan disesuaikan dengan kondisi fisik, yang memang telah kekurangan energi. Dengan keseimbanagn itu akan diperoleh derajat kesehataan yang paripurna. Dan ibadahpun akan dilaksanakan dengan total serta dengan ketenangan, khusu’ dan khudhu’ .

Anda sedang membaca artikel dari untajiaffan Terbaru hari ini. Mohon untuk membagikan artikel ini ke teman anda melalui sosial media dibawah ini.

Artikel Untajiaffan Lainnya:



Kotak Komentar