Rabu, 31 Juli 2013

Problem Keluarga dan Solusi Mewujudkan Generasi Shalih


Setiap orang tentu mengharapkan mempunyai keluarga yang shalih, setiap anggota keluarga, antara ayah, ibu dan anak dapat memahami dan mengamalkan syaria’t agama Islam. Walaupun harapan ini kadang dihadapkan dengan realitas kehidupan yang menimbulkan kedisharmonisan kehidupan dalam rumah tangga.

Salah satu sebab keretakan kehidupan dalam rumah tangga ini adalah karena harta.
Keluarga yang hidup dalam kekurangan, kadang menjadi pemicu timbulnya keretakan dalam rumah tangga yang akhirnya menimbulkan perceraian. Namun justru sebaliknya rumah tangga yang hidup dalam kecukupan juga kadang menjadi penyebab keretakan yang akhirnya menimbulkan perceraiaan. Harta yang menjadi pemicu ini bisa terjadi pada pihak laki-laki atau perempuan. Harta memang suatu amanah, sejauh mana seseorang kuat akan membawa amanah.

Banyak terjadi kisah orang-orang yang kufur nikmah dengan rizki yang melimpah itu, sebut saja Qarun yang hidup pada zaman nabi Musa, betapa kayanya, sehingga kunci gudang hartanya saja tidak kuat di bawa oleh 40 ekor onta. Demikian pula Sa’labah yang hidup pada zaman rasul, betapa beliau adalah berasal dari orang yang miskin, namun dengan kemiskinan itu dia tetap teguh dalam menjalankan perintah Allah. Suatu saat berfikir dan memohon kepada rasul agar didoakan agar menjadi orang yanga kaya. Sehingga dengan kekayaan itu dia bersama istri akan melaksanakan ibadah bersama-sama. Mengapa demikian karena begitu miskinnya sehingga pakaian yang dikenakan harus bergantian dengan istrinya, ketika dia shalat istrinya di rumah dalam keadaan telanjang, dan setelah dia pulang, pakaian segera ditanggalkan untuk dipakai istrinya guna menegakkan shalat.

Rasul mendoa’akan dengan diberikan modal berupa kambing, ketika kambingnya masih sedikit beliau masih rajin melaksankan shalat dengan tenang. Namun ketika kambing yang dimiliki semakin berkembang dan menjadi banyak, sehingga lahan untuk menggembala semakin berkurang dan harus mencari lahan baru yang jauh dengan tempat sujud. Ternyata semakin jauh dari tempat sujud juga semakin jauh dari Allah. Karena ketaatan dalam menjalankan syari’at agama tidak dilaksanakan secara sempurna.

Belum lagi kisah legenda Jawa Barat Malin Kundang. Dan tentu saja masih banyak lagi kisah-kisah tetang harta dan manusia yang mestinya menjadi wasilah untuk menikmati nikmatnya kehidupan dunia dan akherat namun justru menjadi bencana. Bagaimana pula dengan kondisi sekarang ketika seorang suami adalah seorang pekerja karier dengan penghasilan yang besar, relasi dan pergaulan semakin banyak, ternyata diam-diam mengkhianati istri dengan menduakan atau mentigakan atau mengempatkan dengan alasan nikah sirri. Demikian pula sebaliknya seorang istri karier dengan jabatan tertentu dan penghasilan yang besar ternyata juga banyak tergiur dengan laki-laki lain. Sehingga bila anugerah Allah yang berupa harta ini tidak digunakan sesuai dengan petunjuk agama, maka akan memudahkan perceraian.

Bila perceraian ini benar-benar terjadi, andaikan usia pernikahan sudah 10 tahun, pada tahun pertama dia diberikan amanah berupa anak yang dibesarkan dengan kasih-sayang kedua orang tua. Dan orang tuapun nampak senang dengan amanah itu sehingga terjalin cinta kasih lagi sehingga pada tahun ketiga mempunyai anak lagi, makin bertambah harmonis keluarga tersebut. Keluarga bahagia dibina dengan cinta kasih, harta yang diperoleh dapat ditempatkan sesuai dengan proporsinya. Rasa cinta anak pada orang tua terus tertanam sehingga kedua orang tua menjadi idola bagi buah hatinya. Cinta kasih suami istri terus membara sehingga pada tahun kelima dan seterusnya diberi amanah lagi buah hati.

Namun bagaimanakah keharmonisan dalam rumah tangga, ketika sang laki-laki merasa berpenghasilan lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga. Atau dari pihak wanita yang mulai tergiur dengan pesona laki-laki lain. Dua insan yang telah membina keluarga harmonis, sakinah, mawaddah dan rohmat ini sama-sama berpotensi untuk melakukan penyelewengan. Sehingga usia pernikahan menginjak 7 tahun mulai nampak kedisharmonisan daam rumah tangga. Sikap saling terbuka menjadi saling tertutup, masing-masing menyimpan rahasianya. Bila rumah tangga yang harmonis kemudian mulai terjadi keretakan maka anaklah yang menjadi korban. Dari sikap kasih sayang orang tua berbalik menjadi sikap tak acuh terhadap nak-anaknya.

Bila hal ini terjadi pada ibu, anak akan bertanya pada ayahnya, mengapa ibu kok seperti itu. Demikian pula bila yang terjadi pada ibu, anak akan bertanya pada ayah, mengapa mengapa ayah yang demikian. Namun bila orang tuanyanya sama-sama tertutup, maka anak- anak cerita pada teman, tetangga, maka terbukalah aib dalam rumah tangga. Cinta kasih dalam keluarga akan menjadi kepalsuan. Antara suami atau istri akan menyampaikan kebohongan pada anak-anaknya. Bagaimanakah anak-anak yang dibesarkan dari kebohongan. Tentu kelak juga akan menjadi pembohong.

Bila keretakan dalam rumah tangga akhirnya menjadi perceraian, maka anak dalam sebuah keluarga menjadi terlantar, kehilangan kasih-sayang. Bila anak ikut ibu saya anak akan dikondisikan untuk membenci ayahnya, ayah seorang laki-laki buruk yang tidak boleh ditiru, sehingga anak tidak boleh menemui ayah dan sebaliknya. Demikian pula bila anak ikut dengan ayah juga akan dibesarkan sebagai pribadi yang membenci ibunya. Anak tidak boleh menemui ibunya dan sebaliknya. Ingatlah bahwa harta yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya tidak akan dapat meggantikan kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya. Bagaimanakah ketika dia diajak berjalan-jalan pada suatu obyke wisata, dia melihat anak-anak kecil sebaya, sedang bersendau gurau dengan ayah dan ibunya. Walaupun sedang menikmati es degan dan ikan bakar yang sama, namun anak-yang dibesarkan dalam cinta kasih dalam keluarga akan nampak lebih riang.

Maka begitu pentingnya keteladanan, ibdak binnafsi, pengendalian diri lebih utama dari sekedar untuk iseng. Karena sesungguhya iseng tetapi karena dilaksankan secara terus-menerus maka akan menjadi kebiasan, baik dari sikap tutur kata maupun perbuatan akan mengarah pada sesuatu yang akan menimbulkan penyesalan. Orang Jawa mempunyai pepatah “witing trisna merga seka kulina” tumbuhnya cinta karena dari kebiasaan. Pepatah Indonesia mengatakan “jangan main api bila tidak ingin terbakar”. Karena itu keberhasilan membangun rumah tangga hendaknya diikuti dengan pembinaan dalam keluarga secara terus-menerus. Karena sesungguhnya keluarga yang baik akan menentukan masa depan generasi yang lebih baik. Generasi yang baik ini akan terus berkesinambungan dalam meraih kebahagiaan hidup didunia maupun di akherat kelak.

Karena itu sebaik-baik orang tua adalah yang diidolakan olah anak-anaknya. Namun anak selalu dimotivasi untuk menjadi insan yang labih baik, karena itu untuk mewujudkan generasi yang shalih membutuhkan perhatian dan ketekunan semua pihak dengan pelatihan, sikap ikhlas, dan istiqomah. Usaha untuk membentuk generasi yang shalih diperlukan usaha-usaha sebagi berikut:

1. Kelahiran yang didahuli dengan pernikahan.
Pernikahan adalah gerbang yang syah untuk membentuk anak yang shalih, pernikahan adalah murah, namun untuk meraih keberkahan, kenikmatan dan ketenangan yang tiada batas. Karena itu anak yang dilahirkan dalam pernikahan yang syah akan mempunyai tingkat kepercayaan ketika memasuki bangku sekolah untuk belajar. Karena didalam akte kelahiran telah disebutkan secara jelas siapa ayah dan ibunya.
Bagaimanakah mereka yang pernikahannya tidak jelas nama ayah dalam akte kelahirn tidak ada, demikian pula bagi wanita yang mau menikah ternyata laki-laki yang selama ini dikira adalah ayahnya ternyata hanya ayah biologis, sehingga tidak berhak untuk menjadi wali.

2. Masuk pertama dengan do’a.
Pengantin baru yang akan mengawali hubungan sebadan diberikan tuntunan yang jelas oleh Islam, minimal dengan diawali dengan doa,memohon kepada Allah agar janin yang akan diukirnya menjadi suci terbebas dari godaan syetan. Akan lebih bagus lagi bila didahului dengan berwudhu dan shalat terlebih dahulu.

3. Kenalkan nama-nama Allah.
Mengumandangkan azan pada telinga kanan dan iqamat pada telinga kiri, hal ini merupakan pendidikan pertama terhadapa anak tentang plajaran tauhid.
“ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. Annahl: 78)

4. Berikanlah nama yang baik (nama adalah doa).
Berilah anak dengan nama-nama yang baik, namun tidak harus dengan bahasa Arab. Nama yang baik ini sesungguhnya menjadi do’a dan harapan khususnya bagi orang tuanya. Bila menggunakan bahasa daerah, gunakan kata atau kalimat yang baik.

5. Dikhitan
Khitan adalah syari’at nabi Ibrahim yang dilanjukan pada syari’at nabi Muhammad. Dengan khitan akan menunjang terwujudnya kesucian, kebersihan dan juga kesehatan alat kelamin. Dengan terwujudnya ini maka kelak anak yang dilahirkan akan menjadi pribadi yang sehat.

6. Didikan secara Islam.
Konsep pendidikan Islam telah disampaikan oleh Allah, bagaimana Lukmanul Hakim mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Konsep beliau tercantum didalam Alquran surat Luqman ayat 12-19:
1) Bersyukurlah kepada Allah.
2) Jangan mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
3) Berbuat baik kepada dua orang ibu- bapanya, dan kepada ibunya yang telah mengandung semakin bertambah hari semakin lemah.
4) Tetap berbuat baik walaupun seandainya orang tuanya mengajak berbuat munkar.
5) Agar mewaspadai godaan syetan yang mengajak dan menjerumuskan ke jalan yang sesat, karena sebesar apapun, amal baik atau buruk akan dimintai pertanggung jawabkan oleh Allah.
6) Menyuruh untuk menegakkan shalat dengan sebaik-baiknya untuk memperoleh ridha Allah, karena dengan ridha-Nya akan dijauhkan dari perbuatan keji dan munkar.
7) Menyuruh (manusia) mengerjakan yang baik dan mencegah (mereka) dari perbuatan yang mungkar.
8) Senantiasa bersabar terhadap musibah yang menimpa.
9) Janganlah bersikap sombong dan angkuh.
10) Sederhana waktu berjalan, lemah lembut dalam berbicara, sehingga orang yang melihat dan mendengarnya merasa senang dan tenteram hatinya. Berbicara dengan sikap keras, angkuh dan sombong itu dilarang Allah karena pembicaraan yang semacam itu tidak enak didengar, menyakitkan hati dan telinga, seperti tidak enaknya suara keledai.

7. Bi’ah Islamiyah (lingkungan yang Islami).
Pendidikan anak sangat dipengauhi oleh lingkungannya, bila lingkungan baik anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang baik, sebaliknya bila lingkungan buruk, setiap anggota masyarakat bebas dan secara terbuka melakukan kemaksiatan maka anakpun akan tumbuh menjadi generasi yang berkarakter buruk. Karena itu agar lingkungan menjadi baik, hendaknya di awali dari lingkungan keluarga, insya-Allah keteladanan suatu keluarga dalam aspek ibadah dan muamalah akan menimbulkan simpati keluarga yang lain sehingga terdoronglah keluarga yang lain untuk meneladani. Allah SWT telah memerintahkan kepada orang oarang yang beriman agar menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka.

Demikianlah bahwa problema kehidupan keluarga untuk mewujudkan generasi yang shalih, dari waktu-kewaktu permasalahan semakin pelik dan komplek. Namun yakinlah bahwa setiap kesulitan pasti ada solusi, sehingga setiap muslim senantiasa diuji didalam menjalankan ketaatan. Sabar untuk memerangi kemaksiatan dan sabar terhadap sikap dan perlakuan orang lain. Dan menciptakan generasi yang shalih diperlukan langkah terpadu dari seluruh komponen masyarakat.

Senin, 29 Juli 2013

Kamardikaning Diri Tumuju Jayaning Negari Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa


اَللهُ أَكْبَرُ ×٩ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا . لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَ حْزَابَ وَحْدَهُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. أَلْحَمْدُ لِلَّهِ جَعَلَ أَيَّامَ الْأَعْيَادِ ضِيَافَةً لِعِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَسُرُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ َأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. َأمَا بَعدُ: فَيَاأَيُّهَاالنَّاسُ, فَأُوِصْيكُمْ وَاِيَّاىَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ


Kaum muslimin jema’ah shalat Id Rahimakumullah
Kamardikaning negari Indonesia ingkang kaping 68 ing tahun 2013, dhumawah ing wulan Syawal, inggih wulan sasampunipun sedaya umat Islam tingkas anggenipun nindakaken shiyam Ramadhan. Wulan punika kasebat wulan kamenangan amargi sampun saget ngeker hawa nafsu, wulan fitrah utawi suci amargi umat Islam ingkang sampun saget nindakaken shiyam Ramadhan namung ngajeng-ajeng ridhanipun Gusti Allah, dipun kantheni kalian bayar zakat fitrah minangka sarana kagem bersih jiwa sahingga nalika mlebet ing setunggal syawal kawontenanipun kados bayi ingkang nembe lahir saking gua garbanipun ibu.

فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ (روا ابن حزيمه عن ابي هريرة

“ Sapa bae kang puasa Ramadhan lan jumenengake shalat ing wengine marga iman lan ngarep-arep ridhane Allah, yekti bakal dingapura dosane kaya bayi kang dilahirake ibune”. (HR. Ibnu Huzaemah saking Abu Hurairah)

Kanthi mekaten kamenangan lan kawontenan ingkang fitrah punika pas sanget kagem ningkataken semangat bela negara kanthi ningkataken raos nasionalisme lan patriotisme. Negari Indonesia ingkang badhe mengeti bebasipun saking penjajahan selami 350 tahun. Selaras kalian semangat pembangunan ing sedaya bidang, pemerintah negari Indonesia dipun adepaken kalian mapinten-pinten kedadosan ingkang boten pas kalian semangat perjungan lan pengobananipun para pahlawan. Kados pundi para pahlawan ikhlas ngurbanaken bandha lan nyawanipun namung kagem mujudaken kamardikan.

Nanging generasi sapunika selaras kalian majengipun ilmu pengetahuan lan teknologi, kabikaipun media informasi kanthi bebas, sahingga tiyang Islam ingkang boten gadhai kekiatan iman gampil kabujuk kalian tumindak ingkang nerak dhateng wewaleripun syara’. Tumindak korupsi, perjudian, seneng ngunjuk minuman keras, Narkoba lan sajenisipun, serta nindakaken pakerti ingkang nerak dhateng aturan moralitas Islam. Sedaya tumindak punika satemah sanes jiwanipun para syuhada’. Tumindak punika kedah dipun tilar.

Kanthi mekaten sasampunipun kawontenan kita fitrah lan sak bibaripun nindakaken shalat Id dipun terasaken kanthi halal-bihalal. Ing antawis setunggal tiyang kalian sanesiapun sami pasrah kalepatan, rumaos dados tiyang ingkang lepat. Boten wonten tiyang ingkang rumaos bener. Kanthi mekaten menawi sifat punika saget dipun lestantunaken inya-Allah sendi-sendi kehidupan bermasyarakat badhe dados harmonis. Manawi ing setungal tiyang kalian sanesipun sami mong-tinemong, yektos badhe mujudaken manunggalipun sedaya lapisan masyarakat, sahingga negari kita badhe tambah majeng, ing bidang ekonomi, sosial, budaya, olah raga, politik lan keamananipun. Selaras kalian pangendikanipun rasul:

لَا تَبَاغَضُوْا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُواْ وَلَا تَقَاطَعُواْ وَكُوْنُواْ عِبَادَاللهِ اِخْوَانًا وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ اَنْ يَهْجُرَ اَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ (رواه البخارى ومسلم)

“Sira aja padha nesu-nesunan, meren-merenan, padha mlengos-mlengosan lan medhot paseduluran, dadiya sira kawulane Gusti Allah kang nyedulur. Wong Islam orang kena ngenengake sedulure (padha muslim) punjul seka telung dina”. (HR. Bukhari Muslim).

Semanten ugi wonten pangandikan saking ahli hikmah:

اَلْاِتِّحَادُ اَسَاسُ النَّجَاحِ

“persatuan iku azase kamenangan”.


Kaum muslimin jema’ah shalat Id Rahimakumullah
Semanten ugi semangat kangge mujudaken shilaturahim, sami sowan pisowanan, ngudo raos bingah lan kalepatan, sedherek ingkang sawetawis dangu boten pinanggih amargi, panggenanipun ingkang tebih lan kathahipun pedamelan sahingga boten saget pinanggih ing sak wekdal-wekdal. Sahingga ing wulan Syawal punika kita ginakaken wekdal lan kesempatan kagem ngraketaken raos pasederekan. Pasederekan kanthi pangertosan ingkang wiyar:

1. Pasederekan margi saking keturunan ingkang dipun sebabaken saking pernikahan sahingga mujudaken putra wayah ingkang dipun raketaken kalian hubungan nasab.
2. Paserekan margi saking lingkungan kita gesang, sinaosa wonten tiyang saking manca, ananging sampun dados setunggal RT, RW, Desa utawi Kelurahan sahingga dados keluarga.
3. Pasederekan margi saking setunggal iman lan keyakinan sarta agami. Kados pangandikanipun Allah “Innamal mu’minuuna ihwatun” Satuhune wong-wong mukmin iku seduluran”. (QS. Al Hujurat: 10)

Allahu Akbar 3x walillahil hamdu
Kaum muslimin jema’ah shalat Id Rahimakumullah
Tahun punika satemah dados tahun politik, sahingga bedanipun pemanggih ing setunggal tiyang lan golongan kalian sanesipun kedah dipun budayakaken raos paring pahargyan lan pikurmatan. Satemah ing dunya punika boten wonten ingkang sampurna kejawi kasampurnan punika kedah kita usahakaken, boten wonten tiyang ingkang paling bener lan leres kajawi kita tansah berusaha suados dados tiyang ingkang bener lan leres.

Kanthi mekaten ing tahun politik punika prayoginipun ing saben-saben tiyang tansah ngugemi agaminipun piyambak-piyambak lan nndakaken dhawuhipun agami.khususipun tiyang Islam Allah sampun paring kautaman dados tiyang ingkang bagus:
“ Sira kabeh iku umat kang luwih bagus, kang kalahirake kanggo manungsa (kang supaya) sira kabeh padha printah marang kang makruf, lan padha nyegah marang kang mungkar, lan iman marang Allah. Saumpamane ahli kitab iku padha iman, mesthine iku luwih apik tumrap dheweke kabeh, ing antarane dheweke kabeh ana kang iman (ning) akeh-akehe dheweke kabeh iku wong-wong kang fasik”. (QS. Ali Imran: 110)

Syarat dados tiyang ingkang bagus inggih punika umat ingkang kuat imanipun lan kaping kalih tansah dhawuh nindakaken pedamelan ingkangs sae lan nyegah dhateng sedaya pedamelan munkar. Rasululah SAW ngendika:

يَارَسُوْلَ اللهِ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟ قَالَ خَيْرُ النَّاسِ أَقْرَئُهُمْ, وَأَتْقَاهُمْ لِلّٰهِ,وَآمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَأَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ, وَأَوْصَلُهُمْ لِلرَّحِمِ (رواه احمد

“Dhuh rasul, sinten manungsa paling sae niku? Rasul ngendika sak bagus-baguse wong yaiku kang paling bagus wacane(Alqur’an), paling taqwa dhumateng Allah, paling sregep ngajak tumindak kang bagus lan paling rajin nyegah mungkar lan paling rajin nyambung paseduluran”. (HR. Ahmad)

Kanthi mekaten ing setunggal wulan sampun dipun latih supados dados tiyang ingkang sabar lan sadar nindakaken dhawuhipun agami. Kita sampun nindakaken ibadah sirri kanthi mekaten kita dipun latih dados tiyang ingkang jujur. Tiyang Islam sampun dipun latih sabar supados ngeker saking dahar lan ngunjuk melai saking wekdal imsa’ ngantos suruping srengenge. Semantenugi ngeker saking hawa nafsu ingkang asal pokokipun saking margi kita mirsani, mirengeken, ngraosaken lan mikiraken, sahingga menawi boten dipun landasi kalian iman yektos manungsa badhe medal saking keimanan.

Satemene Ingsun wus nitahake manungsa kanthi wangun sak apik-apike. Banjur Ingsun balikake dheweke marang panggonan kang luwih endhek-endheke panggonan endhek (neraka). Kejaba wong-wong kang padha iman lan padha ngamal shalih, mula tumrap dheweke kabeh ganjaran kang ora ana pedhote” (QS. Attin: 4-6)

Semanten ugi sampun dipun latih kalian nindakaken ibadah shalat sunnah, tadarus Alquran lan nindakaken syi’ar Islam. Njagi kawontenan fitrah diri punika, badhe saget mujudaken jayanipun negari. Amargi pembangunan negari punika betahaken pribadi ingkang cerdas, ikhlas, sabar, jujur, disiplin, istiqomah, taqadhu’. Semangat mekaten punika sampun dipun latih ing sak lebetipun nindakaken shiyam Ramadhan.
Mugi-mugi sedaya amal ibadah ingkang sampun dipun tindakaken mugi-mugi dipun tampi dening Allah. Lan sedaya amal ibadah ingkang dereng dipun tindakaken mugi-mugi Allah tansah maringi petedah dhateng kita, margi ingkang leres inggih punika marginipun tiyang-tiyang ingkang dipun paringi kamulyan lan sanes marginipun tiyang-tiyang ingkang dipun bendoni, amin.

جَعَلَنَا اللهُ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تَقَبَّلْ يَاكَرِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ وَقُل رِّبَّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرٌ رَاحِمِيْنَ


الخطبة الثنية

اَللهُ اَكْبَرُ ×٧ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَ اللهُ اَكْبَر. اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. اَلْحَمْدُللهِ الَّذِى جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْدًالِلْمُؤْمِنِيْنَ وَخَتَمَ بِهِ شَهْرَ الصِّيَامِ لِلْمُخْلِصِيْنَ . اَشْهَدُ اَن لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَشْهُوْرُ بِفَطَانَتِهِ وَاَمَانَتِهِ وَصِدْقِهِ وَتَبْلِيْغِهِ وَصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَاداللهِ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ وَحَذَرَ. فَقَاَلَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللّٰهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Sabtu, 27 Juli 2013

Ciri-ciri dan Keuntungan Orang Bertaqwa


Taqwa adalah suatu kata yang mudah untuk diucapakan, namun untuk merealisasikan butuh perjuangan guna mewujudkan hakekat taqwa. Banyak sekali ayat-ayat di dalam Alquran yang memerintahkan kepada umat manusia untuk bertaqwa dan lebih khusus bagi orang yang beriman. Agama Islam mengajarkan bahwa semua ibadah dan semua kebaikan yang di perintahkan Allah adalah untuk mencapai kualitas taqwa. Melalui firmannya Allah SWT memberikan beberapa indikasi untuk mengukur kualitas ketaqwaan seseorang:
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di awaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”. (Ali Imran: 134)

Dalam ayat tersebut Allah SWT menerangkan tentang ciri-ciri orang bertaqwa:
1. Orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang-maupun sempit. Tayangan di RCTI dengan program tolong, betapa kita saksikan bahwa yang terketuk hatinya untuk memberikan pertolongan adalah orang-orang miskin, orang lemah dan orang yang serba kekurangan. Karena sesungguhnya penderitaan, kekurangan, lapar, haus dan dahaga adalah sudah menjadi hidangan setiap saat.
2. Orang yang menahan amarahnya, yakni mampu mengendalikan diri di saat marah. Jika belum mampu mengendalikan diri di saat marah berarti ibadah puasa kita belum berhasil. Jika mampu mengendalikan diri saat marah berarti telah memiliki sifat sabar. Yakni sabar ketika serba kekurangan dalam hal rizki, sabar ketika menghadapi musibah dan sabar ketika menegakkan kebenaran.
3. Mampu memaafkan kesalah orang lain, baik diminta maupun tidak diminta. Tidak ada rasa dendam terhadap orang lain.
4. Senantiasa ingat kepada Allah (zikrullah). Setelah hatinya tergetar ingat kepada Allah, lisannya tergerak untuk mengucapkan kalimat Allah, selanjutnya hatinya akan menuntun pada perilaku, amal-ibadah selaras dengan perintah Allah.

Taqwa memiliki makna menjaga dan memelihara diri dari siksa dan murka Allah dengan jalan melaksanakan perintah-perintah Allah, taat kepadanya, menjauhi larangan serta perbuatan maksiat. Rasa takut, ketaatan, tunduk, pasrah, cinta, malu terhadap Allah, semuanya adalah merupakan cerminan keberadaan taqwa pada seseorang. Sebenarnya taqwa adalah bila hati seseorang disinari oleh rasa kesadaran yang tinggi untuk beribadah kepada Allah SWT.

Keimanan akan membawa menusia kepada bersih hatinya, tenang jiwanya, lemah lembut bicaranya, sabar hidupnya, pemaaf dan berbaik sangka.
Allah tidak akan membiarkan kepada hambanya yang beriman dan berbakti kepadanya. Ia tidak akan membiarkan hambanya yang shalih terombang-ambing dalam kehancuran, asalkan ia tetap memelihara ketaqwaan.
“Barang siapa yang betaqwa dan mengadakan perbaikan, maka tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Al A’raf: 35)

Allah menjanjikan keberuntungan bagi mereka yang bertaqwa:
1. Datangnya berbagai keberkahan hidup, yakni segala sesuatu yang membuat pemiliknya mendapatkan manfaat dan kebahagiaan, meski secara fisik kelihatan sedikit dan kecil.
“Jika sekiranya penduduk negari-negeri beriman dan bertaqwa pasti Kami (Allah) akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami azab mereka disebabkan perbuatannya”. (QS. Al A’rof: 96)

2. Mendapatkan jalan keluar (makhraj). Seorang yang bertaqwa betapapun sulit dan peliknya persoalan, ia tetap tenang dan yakin kepada pertolongan Allah. Seperti yang dilakukan Musa ketika berada ditepi Laut Merah ketika di kejar oleh Firaun beserta bala tentaranya.

3. Dampak lain dari taqwa adalah anugrah Allah dengan memudahkan segala urusan-urusan yang di jalaninya serta dilimpahkan rizki dari segala penjuru yang sama sekali tidak pernah di duga.
“Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tak di sangka-sangkanya. Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia mencukupi segala kperluannya”. (QS. Attalaq: 2-3)
“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadaikan baginya kemudahan dalam urusannya”. (Atthalaq: 4).

Itulah gambaran predikat yang disandang oleh hamba Allah ketika hidup di dunia, dan diakherat kelak Allah akan melipatgandakan dari amal yang telah dilakukan,dihapus segala dosa sehingga akan memperoleh kenikmatan Surgawi, kenikmatan yang belum pernah disaksikan dan belum pernah di rasaka didunia ini. Marilah ketaqwaan itu kita kejar, kita pertahankan dan kita tingkatkan, agar kita menjadi hamba Allah yang merasa selalu dekat kepada Allah dan ingat kepada Allah. Sehingga kehidpan di dunia ini akan merasa tentram damai dan sejahtera dengan mendapat ampunan Allah SWT.

Selasa, 23 Juli 2013

Mangayubagyo Nuzulul Qur'an


Nuzulul Qur'an inggih punika turunipun Alquran, saking Louhul Mahfudz wonten Baitul Izzah utawi langit dunya. Peristiwa turunipun Alquran punika wonten ing wulan Ramadhan. Sahingga wekdal punika saterasipun dipun sebat Lailaul Qodar. Sinten tiyangipun nalika saget manggihi Lailatul Qodar punika ganjaranipun kados tiyang ngibadah 1000 wulan. Kanthi punika margi kathah fadhilahipun mangga kita mangayubagyo Nuzulul Qur'an. Kanthi mekaten kita aturaken ing dalem seratan wonten ing khutbah Jum'at.

الحمدلله رب العالمين وبه نستعين على امورالدنيا والدين. اشهد ان لا اله الاالله وحده لاشريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله اللهم صل وسلم وبارك علىسيدنا محمد وعلىاله وصحبه اجمعين.اما بعد: فياعبادالله اتقواالله حق تقاته ولاتموتن الا وانتم مسلمون.

Kaum muslimin jamaah Jum'ah Rahimakumullah
Ing wulan punika kita kaum muslimin dipun paringi wekdal dening Allah saperlu kangge ngawontenaken pesta ibadah, jalaran ing wulan punika sedaya amal ibadah dipun tikel matikelaken ganjaranipun wonten Ngarsanipun Allah SWT. Pramila sumangga kita sedaya tansah berusaha ningkataken iman lan taqwa kita dhumateng Allah SWT.
Mekaten punika 14 abad kapengker Allah nurunaken Alquran dhumateng nabi Muhammad SAW, pangendikanipun Allah wonten Alquran mekaten:

شهر رمضان الذى انزل فيه القران هدى للناس وبينت من الهدى والقرقان (البقرة۱۸۵)

" pirang-pirang dina kang wus ditentukake yaiku) sasi Ramadhan, wulan kang wus diturunake Alquran kanggo pituduh marang manungsa lan penjelasan-penjelasan marang pituduh iku) (Al baqarah: 185)

Sekawan welas abad kapengker Allah maringaken Alquran dhumateng nabi Muhammad SAW minangka dados dasar, sumber hukum kagem umat Islam. Alquran dipun paringaken dhumateng nabi Muhammad punika dados kitab ingkang paling sempurna, dipun paringaken dhumateng nabi Muhammad minangka dados khotamul anbiya', penutuping para nabi. Kanthi punika sasampunipun nabi Muhammad sampun seda boten wonten Rasul malih, semanten ugi Allah sampun boten maringaken kitab suci malih.
Umat Islam kapatah dados khoirul ummah, kasebat wonten Alquran:

كنتم خير امة اخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله (ال عمران: ۱۱٠

Sira minangka dadi umat kang paling bagus kang dilahirake kanggo manungsa, ngajak marang kang makruf, nyegah marang kang munkar lan iman marang Allah (Ali Imron: 110)

Kaum muslimin jama'ah Jum'ah Rahimakumullah
Kasebat ing Kitab Duratun Nashihin bilih ing wulan Ramadhan punika para malaikat dhumawah wonten ing bumi kangge mbuktikaken pitakenanipun malaikat dhumateng Allah:

قالوا اتجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدماء (البقره: ٣٠

" Malaikat ndangu, Punapa Panjenengan badhe dadosaken (khalifah) ing bumi niku tiyang ingkang badhe damel kerisakan lan peperangan".

Mila nalika para malaikat temurun ing dunya punika ingkang dipun panggihi tiyang ingkang nembe ruku', sujud, tasbih lan nindakaken amalan shaleh, mila para malaikat lajeng uluk salam lan nyuwunaken pangapunten dhumateng Allah SWT.
Kejawi punika para malalaikat kalebet malaikat Jibril ngatur dhumateng urusanipun piyambak-piyambak, kasebat wonten ing Alquran:

انا انزلنه فى ليلة القدر, وما ادراكما ليلة القدر, لياة القدر خير من الف شهر. تنزل الملئكة والوح فيها باذن ربهم من كل امر سلم. هى حتى مطلع الفجر (القدر: ۵-۱)

" Satemene Ingsun wus nurunake (Alquran) ana wengi kang muya. Lan apata sira ngerti apa kanga ran wengi kang mulya iku? Wengi kang mulya yaiku luwih becik tinimbang sewu wulan. Ana wengi iku temurun para malaikat lan malaikat Jibril kang nggawa izin seka Pangerane kanggo ngatur sakabehe urusan, wengi iku (kebak) kesejahteraan teka mletheking srengenge" (Al Qodar: 1-5)

Pramila wonten ing malam lailatul qodar kasebat dados setunggaling ndalu ingkang ingkang minulya, sahingga sasintena ingkang nembe nindakaken ibadah badhe dipun cathet dening Allah kados tiyang ingkang ngibadah sewu wulan. Wujud saking ngibadah punika, sedaya kegiatan ingkang dipun tujukaken kangge madosi ridhanipun Allah. Contonipun dipun paringi panjang umur kangge nindakaken ibadah, dipun paringisi sehat lan sempat ugi damel ngibadah, dipun paringi bandha ugi dipun ginakaken damel ngibadah, dipun paringi ilmu ugi dipun ginakaken damel ngibadah lan sapanunggalanipun. Mirsani kawontenan punika para manungsa punika, para Malaikat nyuwunaken dhumateng Gusti Allah rahmat lan maghfirah lan ugi dipun paringi margi ingkang leres lan katebihaken saking mapinten-pinten cobi lan musibah. Sahingga leres pangandikanipun Allah:

قال انى اعلم مالا تعلمون

" Satemene Aku (Allah) pirsa marang apa kang ora sira mangerteni".

Pramila sumangga kita tansah mbudidaya anggenipun ngginakaken wekdal salebetipun wulan Ramadhan. Sinaosa saking hadits nabi maringi pitedah bilih Lailatul Qodar punika dhumawah sasampunipun tanggal ingkang kalihdasa sapengandhap, lan dipun tegasaken malih ing tanggal ingkang ganjil. Ananging sasagetipun kita manfaataken ing dalem detik, menit, jam, lan dinten kita ginakaken kangge mawas diri, punapa sampun imbang anggen kita nindakaken ibadah kalian maksiyat, kathah maksiyatipun punapa kathah ngibadahipun. Amargi ing wulan punika saestu Allah paring rahmat lan maghfirah wiwit saking awalipun wulan Ramadhan ngantos akhiripun wulan Ramadhan. Lan sumangga nyuwun dhumateng Gusti Allah mugi-mugi kita dipun lebetaken ing golonganipun tiyang-tiyang ingkang pinaringan taufiq saha hidayahipun, amin.

بارك الله لى ولكم فى القران الكريم ونفعنى واياكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم وتقبل منا ومنكم تلا وته انه هوالسميع العليم.

Minggu, 21 Juli 2013

Fitrah dan Keyakinan menuju Kemenangan


Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran 1 Syawal 1434 H, sebentar lagi akan kita rayakan. Dengan datangnya Idul Fitri kita harus selalu waspada dan berhati-hati terhadap dorongan hawa nafsu dan bujukan syetan yang mengajak pada jalan kesesatan. Selama sebulan kita sudah digembleng mental spiritual untuk berupaya membersihkan diri, namun ketika datang bulan Syawal yang seharusnya menjadi bulan peningkatan atas segala amal ibadah. Namun justru sebaliknya tempat ibadah menjadi sepi kembali, Alquran kembali dimasukkan dalam rak buku. Kegitan kajian Islam terhenti dan akan dilaksanakan pada tahun yang akan datang. Maka bila demikian adanya alanglah ruginya orang-orang yang beriman, yang seharusnya hari esok lebih baik dari hari sekarang, namun hal ini hanya menjadi slogan yang tidak diupayakan untuk diimplementasikan. Oleh karena itu dalam khutbah Id ini akan kami sampaikan tentang hal-hal yang berkaitan dengan bulan Syawal.

َللهُ أَكْبَرُ ×٩ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا . لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَ حْزَابَ وَحْدَهُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. أَلْحَمْدُ لِلَّهِ جَعَلَ أَيَّامَ الْأَعْيَادِ ضِيَافَةً لِعِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَسُرُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ َأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. َأمَا بَعدُ: فَيَاأَيُّهَاالنَّاسُ, فَأُوِصْيكُمْ وَاِيَّاىَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ .

Kaum muslimin jema’ah shalat Id Rahimakumullah
Disaat kita sedang merasakan kebahagiaan karena telah dapat menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan 1434 H, pada hari ini kita masuk tangga 1 Syawal 1434 H. Dengan kebahagiaan itu, marilah kita wujudkan dengan rasa syukur kepada Allah untuk selalu berupaya meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya, sebagai wujud bahwa kita telah maraih kesuksesan dalam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan yaitu dapat memperoleh gelar “ la’allakum tattaqun, semoga menjadi orang yang bertaqwa.

Bersamaan dengan perayaan Idul Fitri, baru saja kita warga negara Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun ke- 68 kemerdekaan negara Republik Indonesia. Ini artinya bahwa bangsa Indonesia telah memperoleh kedaulatan sebagai negara yang merdeka selama 68 tahun. Kemerdekaan yang sedang kita nikmati ini adalah merupakan perjuangan dari para pendahulu kita, para pahlawan kusuma bangsa yang telah dengan ikhlas mengorbankan harta, jiwa dan raga demi untuk meraih kemerdekaan. Selama 350 tahun bangsa Indonesia hidup dalam suasana penjajahan, harta benda dirampas, tenaga diperas, mental selalu ditekan. Sehingga penderitaannya semakin lengkap karena meliputi siksaan lahir dan batin.

Rakyat Indonesia pada waktu itu tidak dapat menjalankan agama Islam dengan bebas, karena itu bila diketahui oleh para penjajah maka akan disiksa bahkan akan dibunuh. Namun karena keyakinan yang sudah merasuk ke dalam hati dan pikiran dan direalisasikan dalam bentuk amal perbuatan, tekad, semangat dan akhlaqul karimah sudah bulat dalam keyakinan kepada Allah, nabi Muhammad adalah nabi dan utusan Allah yang terakhir, Alquran menjadi kitab suci dan pedoman hidupnya. Maka dalam situasi dan kondisi apapun selalu berupaya menegakkan perintah Allah. Karena itu rakyat Indonesia dengan sembunyi-sembunyi dalam menjalankan perintah Allah. Ibadah shalat yang menjadi ibadah pokok dalam Islam selalu ditegakkan, dengan mencari tempat yang sepi dan aman dari perhatian para penjajah.

Tekad dan semangat dalam menegakkan syaria’t Islam inilah akhirnya dapat membuahkan hasil, tidaklah mungkin para penjajah yang mempunyai perlengkapan lengkap, pengusaan wilayah dan tenaga yang terlatih, hanya dilawan dengan kekuatan masyarakat Indonesia yang sudah dirampas kekuatan dan kekayaannya. Maka muncullah dorongan perlunya mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa, seluruh kompenen masyarakat Indonesia bahu-membahu, memikirkan agar negeri ini bebas dari cengkeraman para penjajah. Maka akhirnya dengan semangat inilah pada tanggal 17 Agustus 1945 pekik kemerdekaan dapat diwujudkan dengan pembacaan naskah proklamasi oleh presiden Republik Indonesia Soekarno Hatta.
Dari peristiwa sejarah ini kita dapat memetik hasilnya bahwa kemajuan suatu bangsa dan masyarakat akan dapat terwujud bila terjalin rasa kebersamaan, persaudaraan, hilangkan perbedaan-perbedaan yang tidak prinsip. Sebaliknya suatu kaum yang hanya mementingkan kelompok dan golongannya, bersikap inklusif maka akan terjadi perpecahan umat, dengan demikian akan dijauhkan dari rahmat Allah.

“ Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran: 103)

Karena itu dengan semangat Idul Fitri yang berarti kita kembali ke Fitrah, umat Islam yang telah melaksanakan puasa Ramadhan dan ditutup dengan membayar zakat fitrah maka pada hari ini kondisinya seperti bayi yang baru lahir, disucikan oleh Allah SWT. Dengan semangat 1 Syawal umat Islam senantiasa berupaya untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya kepada Allah SWT, sebagaimana sabda rasul” barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari yang kemarin maka di termasuk golongan orang yang beruntung”. Demikian pula hari yang akan datang menjadi lebih baik, maka hamba Allah yang demikian ini akan lebih dicintai oleh Allah sehingga dalam setiap langkah dan perbuatannya selalu mendapat petunjuk Allah SWT.
Hari ini adalah hari kemenangan dimana, setiap muslim telah berhasil menundukkan kemauan dan dorongan hawa nafsu yang selalu menjerumuskan pada jurang kesesatan, selama satu bulan kita sudah dilatih untuk berbuat sabar dan jujur untuk tidak makan, minum, dan berhubungan suami istri pada siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari atau sejak waktu imsyak hingga saat berbuka puasa. Maka kemenangan ini kita rayakan dalam suasana Idul Fitri, marilah kita awali dengan suasana saling memaafkan, kita eratkan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah insaniyah, ukhuwah bashariyah dan ukhuwah imaniyah.
Karena sesungguhnya sebagai makhluk pribadi, makhluk sosial dan makhluk Tuhan manusia dieratkan hubungan persaudaraanya pertama karena hubungan kekeluargaan atau keturunan, kedua karena agama karena kita mempunyai persamaan dan kepentingan yang sama dalam menganut agama, ketiga karena lingkungan dimana kita hidup semua yang ada disekitar kita adalah saudara.

Allahu Akbar 3X walillahil hamdu,
Ketika kita telah masuk pada hari kesucian, peningkatan amal ibadah dan hari kemenangan hendaknya kita waspada dengan tipu daya syetan sebagaimana sabda rasul:

اِنَّ اِبْلِيْسَ عَلَيْهِ اللَّعْنَةُ يَصِيْحُ فِى كُلِّ يَوْمِ عِيْدٍ فَيَجْتَمِعُ اَهْلُهُ عِنْدَهُ فَيَقُوْلُوْنَ: يَا سَيِّدَنَا مَنْ اَغْضَبَكَ اِنَّانَكْسُرُهُ فَيَقُوْلُ لَا شَىْءَ وَلَكِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ غَفَرَ لِهَذِهِ الْاَمَّةِ فِى هَذَاالْيَوْمِ فَعَلَيْكُمْ اَنْ تَشْغُلُوْهُمْ بِاللَّذَّاتِ والشَّهَوَاتِ وَشُرْبِ الْخَمْرِ حتَّى يَبْغَضَهُمُ اللهُ

" Sungguh, iblis yang terlaknat berteriak-teriak saat Idul Fitri tiba. Lalu berkumpullah anak buahnya dan bertanya, wahai tuanku, siapa gerangan yang membuat paduka marah-marah akan kami pecahkan kepalanya. Iblis menjawab, tidak ada apa-apa. Hanya saja Tuhan telah memberi ampun kepada umat manusia hari ini. Maka kalian harus menjadikan mereka sibuk dengan kesenangan, nafsu syahwat dan mabuk-mabukan, agar Tuhan murka".

Dan didalam Alquran Allah SWT mengingatkan:

" Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khomr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)". (QS. Al Maidah: 91)

Allahu Akbar 3X walillahil hamdu,
kaum muslimin jema’ah Shalat Id Rahimakumullah
Karena itu agar kita selalu dikelompokkan dalam golongan orang-orang yang bertaqwa, marilah kita awali pada pada bulan Syawal ini dengan melaksanakan puasa sunnah, yang mempunyaه pahala amat besar.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ اَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa melaksanakan puasa Ramadhan kemudian diikuti 6 hari pada bulan Syawal maka (pahalanya) seperti berpuasa sepanjang masa” (HR. Muslim)

Hidup di negara yang merdeka dan dalam suasana fitrah, semoga kita dapat memegang teguh ajaran agama Islam, tentu saja selalu berupaya untuk menyempurnakan pelaksanaan dan pengamalan agama Islam dengan selalu meningkatkan keilmuan kita. Kita tingkatkan pemahaman Islam dengan kajian Islam, kita wujudkan rasa persaudaraan kita. Ini semua akan mengarah pada kemenangan yang akhirnya keberkahan akan dilimpahkan kepada kita sekalian.

جعلنا الله من العائدين والفائزين تقبل الله منا ومنكم تقبل ياكريم. أقول قولي هذا فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم وقل رب غفر ورحم وانت خير راحمين


الخطبة الثنية

اَللهُ اَكْبَرُ ×٧ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ و الله اكبر. الله اكبر ولله الحمد. الحمدلله الذى جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْدًالِلْمُؤْمِنِيْنَ وَخَتَمَ بِهِ شَهْرَ الصِّيَامِ لِلْمُخْلِصِيْنَ . اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله الْمَشْهُوْرُ بِفَطَانَتِهِ وَاَمَانَتِهِ وَصِدْقِهِ وَتَبْلِيْغِهِ وَصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَاداللهِ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ وَحَذَرَ. فَقَاَلَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللّٰهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Jumat, 19 Juli 2013

Barakah Saking Langit lan Bumi


اَللهُ أَكْبَرُ ×٩ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا . لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَ حْزَابَ وَحْدَهُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. أَلْحَمْدُ لِلَّهِ جَعَلَ أَيَّامَ الْأَعْيَادِ ضِيَافَةً لِعِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَسُرُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ َأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. َأمَا بَعدُ: فَيَاأَيُّهَاالنَّاسُ, فَأُوِصْيكُمْ وَاِيَّاىَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ .

Kaum muslimin jema’ah shalat Id Rahimakumullah
Ing dinten Fitri punika kawula wasiat dhateng awak kula piyambak, lan umumipun dhateng sedaya kaum-muslimin, sumangga kita tingkataken iman lan taqwa dhateng Allah SWT inggih punika kanthi nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan nilar sedaya awisanipun Allah. Kanthi iman lan taqwa Allah badhe nurunaken barokah saking langit lan bumi. Allah SWT ngendika:

ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون (ألاعراف:96)

“Menawa sikirane para pendhudhuke negara-negara padha iman lan taqwa, wus mesthi Ingsun bakal nurunake marang dheweke mau berkah sangka langit lan bumi, ananging dheweke padha anggorohake (marang ayat-ayat Ingsun) kuwi, akhire Ingsun siksa wong-wong mau amarga lelakone dheweke”. (Al A’rof: 96).

Maksudipun inggih punika menawi sedaya penduduk bumi sampun sami iman, ngakeni lan ngyakini sarta beneraken punapa ingkang sampun dipun beta dening para rasul, sahingga nindakkaen punapa ingkang dipun dhawuhaken arupi ketaatan lan ninggal sedaya awisanipun. Yektos Gusti Allah badhe ngluberaken rahmatipun. Turunipun jawah lan thukulipun wit-witan sahingga nuwuhaken mapinten-pinten rizki saking ngarsa dalem Allah SWT.

Mila kanthi pangendikanipun Allah punika, mangga kita ginakaken akal pikirian kita, manah lan nafsu kita kangge mahami dhateng maksud lan kandunganipun pangendikanipun Allah.
1. Umpaminipun kamum muslimin anggenipun nindakaken dhawuhuipun Allah, sampun saget katindakaken kanthi istiqomah, ikhlas, lan semata-mata namung ngajeng-ngajeng ridha saking ngarsa dalem Allah SWT.
2. Umpaminipun ukhuwah Islamiyah / pasedherekan saget saetu dipun wujudaken, bedanipun pendapat kita konduraken dhateng kaidah-kaidah hukum Islam Inggih punika Alquran lan hadits.
3. Umpaminipun umat Islam sampun sami dhemen kalian panggenan kangge ngibadah inggih punika masjid, langgar lan musholla dipun dadosaken kangge pusat ngibadah mahdhah, masjid dados pusat pendidikan lan pelatihan, masjid dados pusat kosultasi agamani, masjid kangge pusat pelayanan sosial masyarakat muslim.
4. Menawi umat Islam sampun ngghadahi kesadaran tulung tinulung ing perkawis kesahenan, wasiat- winasiyatan ing perkawis ingkang hak lan kaleresan.

Saking mapinten-pinten littamanni/ pengharapan punika saget kita wujudaken, yakin Gusti Allah badhe ngluberaken kerahmatan dhateng penduduk sawijinning negara. Semanten ugi masayarakat desa ugi sampun nindakaken ketatan punika yektos kaberhakan lan anugerah badhe dipun luberaken dening Allah. Masyarakat badhe gampil anggenipun ngudi rizki, langit lan bumi dipun bikak kangge nyekapi panuwunipun kaum muslim. Masyarakat badhe entheng anggenipun nindakaken dhawuhipun Allah.

Anaging kosok wangsulipun para penduduk bumi sami selak kalian dhawuhipun gusti Allah. Malah kaum muslimin sami nindakaen perkawis ingkang nyedaki dhateng kemaksiyatan, nindaken perkawis ingkang boten wonten dasaripun saking Alquran lan Hadits. Awrat nindakaen dhawuhipun Allah, yektos keberkahan saking langit lan bumi badhe dipun cabut sahinga masyarakat gesangipun sisah.

Allahu Akbar 3X walillahil hamdu.
Wonten dinten punika kita sami muji dhateng keagunganipun Allah, boten wonten zat ingkang langkung agung kejawi namung Allah, boten wonten zat ingkang langkung sae lan sempurna kejawi namung Allah, lan boten wonten keagungan kejawi peparingipun Allah. Saterasipun sasampunipun kita ngagungaken dhateng Gusti Allah kita memuji dhateng Allah bilih boten wonten pangeran ingkang hak kita sembah kejawi namung Allah. Kita tebihaken sedaya sifat lan af’al angenipun nyekuthokaken dhateng Allah, jalaran nyekutaokaken Allah punika saetu dosa ingkang paling ageng lan saget nglebur dhateng sedaya amal ibadah lan tumindak kesahenan ingkang sampun kita tindakaken. Allah SWT ngendika:

إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء ومن يشرك بالله فقد افترى إثما عظيما )ألنساء: 48

"Satemene Allah kuwi ora bakal paring ngapura marang dosa syirik, lan Panjenengane kersa paring pangapura marang saliyane (syirik) kuwi, tumrap sapa wae kang dikersakake. Sing sapa wonge kang nyekutokake Allah, temtu dheweke wus nglakoni dosa kang gedhe banget.

Kanthi mekaten sasampunipun kita mlebet ing setunggal Syawal kanthi tingkasipun nindakaken shiyam Ramadhan, kita langgengaken ibadhah ing wulan Ramadhan, shalat fardhu lan jama’ahipun dipun giyataken, zakat, infaq lan shadaqahipun dipun tindakaken, tadarus Alaquran dipun terasaken kanthi kajian Alquran ing majlis taklim. Hingga kita unggul-unggulan ing perkawis kesahenan, langkung sae malih shiyam Ramadhan dipun kanteni kalin puasa sunnah tangal 2-7 syawal.

Peningkatan saking sedaya amal ibadah punika dipun wujudaken:
• Ing wekdal enem lan sepuh tansah ngibadah.
• Ing wekdal sehat lan sakit inggih tansah ngibadah.
• Ing wekdal longgar lan rupek inggih tansah ngibadah
• Ing wekdal segih lan mlarat inggih ngibadah.
• Dipun paringi panjang umur dipun ginakaken kangge ngibadah.

Yakin kanthi pitulunganipun Gusti Allah, ing pundi papan lan panggenan, Gusti Allah tansah anyertani dhateng kita. Nalika kita nembe rupek, sumpek lan sisah gusti Allah tansah paring pitulungan, lan nalika kita badhe nerak dhateng awisanipun Allah langsung dipun engetaken dening Allah. Lan menawi sampun kadung nindakeken awisanipun Gusti Allah kita maos mertobat dhateng Allah SWT.
Akhiripun mugi-mugi dinten fitri punika jiwa kita dados fitrah lan kita siap nindakaken lan ningkataken amal ibadah kita dhateng Allah SWT.

جعلنا الله من العائدين والفائزين تقبل الله منا ومنكم تقبل ياكريم.

أقول قولي هذا فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم وقل رب غفر ورحم وانت خير راحمين



الخطبة الثنية

الله اكبر ×٧ لا اله الا الله و الله اكبر. الله اكبر ولله الحمد. الحمدلله الذى جعل اليوم عيد المؤمنين وختم به شهر الصيام للمخلصين . اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له واشهد ان محمدا عبده ورسوله المشهور بفطانته وامانته وصدقه وتبليغه وصلى الله عليه وعلى اله وصحبه وسلم اجمعين اما بعد. فيا عبادالله اتقوا الله فيما امركم وانتهوا عما نهى الله عنه وحذر. فقال تعالى ان الله وملا ئكته يصلون على النبى يا أيها الذين أمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما أللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه أجمعين وعلى التابعين ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين وارحمنا معهم برحمتك ياأرحم الراحمين, أللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحيآء منهم والأموت إنك سميع قريب مجيب الدعوات يا قاضى الحاجات, اللهم انصر من نصر الدين وأخذل من خذل المسلمين ودمر أعاداء ألدين والكفرة والمشركين وأعل كلمتك الى يوم الدين. رَبَّنا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وصل الله على خير خلقك سيدنا و نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين والحمد لله رب العالمين.


Selasa, 16 Juli 2013

Puasa Membentuk Pribadi Muslim Bertaqwa


الحمدلله الذى خلق الانسان وعلمه البيان, ارسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على سائر الاديان. اشهد ان لا اله الا الله الواحد المنان واشهد ان سيدنا محمدا عبده ورسوله.اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه وسلم تسليما كثيرا امابعد: فيا عباد الله اوصيكم ونفسى بتقوى الله فقد فاز المتقون.

Tiada terasa pada bulan ini kita memasuki bulan besar bagi umat Islam, yaitu bulan yang penuh rahmat dan maghfirah dari Allah SWT yang karenanya Allah membuka seluas-luasnya pintu surga dan menutup pintu neraka, karena pada bulan ini para syetan dibelenggu. Dengan kesempatan yang baik ini marilah bersama-sama kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Sebagai wujud pelaksanaan syari'at Islam kita melaksanakan puasa Ramadhan, sebagaimana firman Allah:

" Hai orang -orang yang beriman, diwajibkan atas kamu puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu". ( Al Baqarah: 183-184)

Puasa sebagai wujud hablun minallah karena pahala orang yang melaksanakan ibadah puasa langsung akan diterima oleh Allah. Puasa ujian bagi orang-orang yang taqwa, karena dengan semangat iman, taqwa dan cinta terhadap Allah. Karenanya dimanapun tempatnya orang yang melaksanakan puasa, menahan diri dari tidak makan dan minum pada siang hari, selalu berusaha untuk menahan hawa nafsu yang tidak terpuji, yang dapat membatalkan atau merusak nilai puasa. Orang yang demikian ini karena telah yakin bahwa dimanapun tempatnya Allah Maha mengetahui, sebagaimana firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 38:


" Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan, dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada dibumi maupun yang ada dilangit".

Dan dalam surat Yunus ayat 61 Allah juga berfirman:
" Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Alquran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhan biarpun hanya sebesar zarrah (atom) dibumi atau dilangit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)".

Kaum muslimin jama'ah Jum'ah Rahimakumullah
Puasa juga dapat mewujudkan rasa kepedulian sosial, dalam kaitannya untuk menolong dan meringankan beban kepada orang-orang yang tidak mampu. Maka dengan puasa akan mendorong untuk melaksanakan zakat, infaq dan shadaqah yang tujuannya untuk mencapai pada kesempurnaan iman. Kita mengetahui orang yang kaya dapat mewujudkan segala keinginanya, makan serba enak, tidur nyenyak. Tetapi bagi para fakir miskin, anak-anak terlantar jangankan makan serba enak, makan apa adanya saja sulit untuk dicapai, apalagi dizaman krisis ini, sandang serba mahal, makan juga mahal, demikian pula kebutuhan-kebutuhan lain untuk menyekolahkan anak-anaknya dirasakan menjadi beban berat.

Kondisi yang kerap kali dirasakan orang yang tidak mampu ini dirasakan oleh semua orang yang sedang melaksanakan puasa Ramadhan. Orang kaya yang bisanya makan enak dan tidur nyenyak, mereka merasakan lapar dan dahaga sebagaimana yang dirasakan oleh orang yang tidak mampu sepanjang masa. Maka tidakkah mereka merasa prihatin atas kondisi yang dirasakan oleh orang miskin ini?

Kaum muslimin jama'ah Jum'ah Rahimakumullah
Orang yang melaksanakan ibadah puasa baik itu kaya atau miskin, besar kecil, tua muda mereka mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh rahmat dan maghfirah dari Allah pada bulan Ramadhan ini karena Allah melihat hati dan amaliyahnya, sebagimana firman Allah SWT:

" Dan masing-masing orang memperoleh derajad (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan". Al An'am: 132)
" Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhan-Nya, (disediakan) pembalasan yang lebih baik…. (Arro'du: 18)

Akhirnya marilah kita memohon kepada Allah, agar apa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan itu akan menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa sebagaimana sabda rasul:

كل عمل بن ادم يضاعف الحسنة عشر امثالها الى سبعمائة ضعف, قال الله تعالى الا الصوم فانه لى وانا اجزىبه

" Semua kebaikan yang dilakukan orang yang beriman akan dilipatgandakan pahalanya antar 10-700 kali, kecuali puasa, maka sesunguhnya puasa itu adalah hak-Ku dan Aku memberikan pahala menurut kehendak-Ku".

Marilah kita jadikan bulan puasa, sebagai sarana untuk mengembleng diri kita guna mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan diri dari perilaku yang tidak baik dan mengisi dengan amal ibadah yang terpuji. Dengan melakukan kegiatan yang positif pada bulan ini, melakukan tadarus Alquran, mengadakan pesantren kilat, shalat tarowih, memberi makan orang yang sedang berpuasa, menyantuni fakir miskin. Dengan harapan semua kegiatan positif yang telah dibiasakan ini akan tetap dilanjutkan pada bulan-bulan yang lain, sehingga kita akan menjadi muslim yang benar-benar beriman dan bertaqwa,amin

بارك الله لى ولكم فى القران الكريم ونفعنى واياكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم وتقبل منىومنكم تلا وته انه هوالسميع العليم.


Minggu, 14 Juli 2013

Aneka Perilaku Mentalitas Manusia II


Alquran adalah Kalamullah, firman Allah, Alquran adalah mukjizat terbesar bagi Rasulullah Muhammad SAW. Didalam alquran terkandung segala aturan bagi kehidupan manusia, bila setiap muslim dapat menjadikan Alquran sebagai pedoman hidupnya, maka dia akan termasuk dalam golongan yang selamat sejak didunia sampai di akherat kelak. Karena itu begitu pentingnya Alquran, setiap muslim hendaknya dapat mempelajari membaca, Alquran, menghayati dan mengamalkannya. Rasulullah SAW pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم خيركم من تعلم القران وعلمه (وراه البخاري والترمذى عن على)

Artinya: Rasulullah SAW bersabda:”Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.”.(HR.Bukhari dan Turmudzi,dari Ali).

Hadits ini walaupun singkat tapi padat, berbobot dan luas maknanya, hal ini mengandung pengertian sbb:
1. Rasulullah SAW memberitahukan betapa amat pentingnya pembelajaran/ mempelajari Alquran. Karena dengan membaca dan mempelajari Alquran, orang akan memperoleh ilmu, petunjuk hidup, jalan yang lurus dan berbagai manfaat yang membahagiakan.

2. Secara tersirat, hadits tersebut menunjukkan bahwa orang yang lebih baik/ sebaik-baiknya orang ialah orang yang memperoleh ilmu dari Alquran lalu mengajarkannya/ mengamalkannya, memperjuangkannya/ mentablighkannya/ mendakwahkannya sesuai dengan kemampuannya dan ikhlas demi hanya mengharap ridha dari Allah SWT semata.

3. Berdasarkan hadits di atas, muslim yang mempelajari Alquran serta memahami dan mengamalkannya/ memperjuangkannya itu termasuk muslim yang berperilaku mentalitas Islami.

4. Dalam konteks ilmu Allah SWT berfirman:

ولا تقف ما ليس لك به علم, ان السمع والبصر والفؤاد كل اولئك كان عنه مسئولا (الاسراء: 36

Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS Al-Israa’:36).

Ayat tersebut melarang manusia beramal/ berbuat tanpa ilmu, sebab pendengaran (telinga), penglihatan (mata) dan hati kelak di akhirat akan diminta pertanggungjawaban. Maka dalam konteks tanpa ilmu, Rasulullah saw bersabda:

هلك امتى فى شيئين ترك العلم وجمع المال (وراه البخاري

Artinya: Kerusakan ummatku dalam (karena) dua perkara: meninggalkan ilmu dan menimbun harta.(HR Bukhari).

Hal ini menunjukkan bahwa orang yang berbuat tanpa ilmu dan orang yang materialistis (mata duwitan) itu pasti menimbulkan bahaya/ kerusakan.

5. Menurut Muhammad Rasyid Ridha: ”Islam itu agama ilmu (Al Wahyu Muhammady:184). Berarti semua ajaran Islam itu disebut sebagai ilmu dari Allah SWT. Dan disebut pula sebagai kalimat Tuhan yang luas tak terbatas. Firmannya:

قل لوكان البحر مدادالكلمت ربى لنفدالبحر قبل ان تنفد كلمت ربى ولو جئنا بمثله مددا (الكهف: 109

Artinya: Katakanlah:”Kalau sekiranya lautan menjadi tinta umtuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku,meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).(QS Al-Kahfi:109).

ويسئلونك عن الرح, قل الروح من امر ربى ومااوتيتم من العلم الا قليلا (الاسراء: 85

Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi ilmu kecuali sedikit. (QS Al Israa’:85)".

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah SWT memberi manusia ilmu sedikit sekali.. Kalau ada orang-orang merasa ilmunya banyak dengan sederet gelar kesarjanaan, maka berarti melanggar ketentuan Allah SWT. Akibatnya ia bersikap kibir/ sombang mudah menghina/ melecehkan orang lain yang dianggap ilmunya sedikit atau dibawahnya. Untuk itu dia harus merasa ilmunya sedikit dan suka menuntut ilmu.
Hadits tersebut menunjukkan perintah halus terhadap muslim yang telah mempelajari Alquran terus menambah ilmu dari Alquran semampunya agar makin menjadi muslim yang lebih baik menurut Alquran. Rasulullah SAW juga diperintahkan supaya menambah ilmu (QS. Thaha:144).

6. Untuk memperoleh ilmu, manusia diperintahkan untuk membaca dan memikir. Dalam konteks perintah membaca untuk mendapat ilmu, AllahSWT berfirman:

اقرأ باسم ربك الذى خلق (العلق: 1

" Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang mencipta (QS Al Alaq:1)"

Ayat pertama dari surat yang pertama kali diturunkan Alquran menerangkan demikian:
1. Ketika Rasulullah SAW dimohon oleh Malaikat Jibril supaya mengucapkan “Iqra”, Rasulullah SAW menjawab: Maa anaa bi-qoori-in sampai tiga kali. Setelah tiga kali, lalu Rasulullah SAW membaca (menirukan apa yang dibaca Jibril) ayat pertam tersebut. (HR Bukhari).

2. Rasulullah SAW mengucapkan Maa anaa biqoori-in (saya tidak bisa membaca) sampai tiga kali itu menunjukkan bahwa beliau jujur,memang tidak bisa membaca dan sekaligus Rasulullah SAW memerintahkan umatnya supaya bermental jujur dalam hidup. Jujur adalah perilaku mentalitas yang tinggi.

3. Ayat pertama itu menunjukkan perintah kepada manusia supaya berilmu, beriman, ikhlas dan beribadah/ beramal saleh/ berjihad fii sabilillah dalam hidup didunia yang fana ini.

4. Praktik pengamalan/ pelaksanaan empat perintah tersebut itu tidak boleh pisahkan, sebab kalau terpisah/ tertinggal satu saja, maka akibatnya fatal sekali sampai bisa masuk neraka. Misalnya tidak beriman, berarti kufur yang mengakibatkan masuk neraka. Tidak ikhlas berarti amal tidak diterima.

5. Ayat yang menegaskan empat perintah tersebut sebagai kewajiban bagi manusia ialah kewajiban berilmu dalam arti luas sekaligus kewajiban beriman bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah (QS. Muhammad:19); kewajiban berikhlas sekaligus beribadah (QS Al-Bayyinah:5); kewajiban beramal saleh (QS Al Kahfi:110) dan kewajiban berjihad fii sabilillah dengan harta dan diri baik dalam keadaan merasa ringan maupun merasa berat (QS At Taubah:41).

6. Muslim yang melaksanakan empat perintah tersebut dengan kesadaran itu adalah orang yang berperilaku mentalitas Islami yang fundamental.
7. Pelaksanaan empat perintah tersebut bisa menjadi solusi persoalan.

انما المؤمنون الذين امنوا بالله ورسوله ثم لم يرتابوا وجهدوا بامولهم وانفسهم فى سبيل اللهو اولئك هم الصدقون (الحجرات: 15

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah.Mereka itulah orang-orang yang benar".(QS Al Hujuraat:15).

Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya yang didalam iman mereka tidak ada keragu-raguan, bahkan dengan harta dan jiwa/ diri mereka berjihad/ berjuang pada jalan Allah, Yaitu menegakkan agama Allah SWT. Dan mereka itulah orang-orang yang jujur, benar dan berperilaku mentalitas Islami yang prima.

انما المؤمنون الذين اذا ذكر الله وجلت قلوبهم واذاتليت عليهم ايته زادتهم ايمانا وعلى ربهم يتوكلون

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal. .(QS. Al Anfal:2,)

Oleh karena itu mukmin yang imannya berfungsi bila nama Allah SWT disebut, maka hatinya tergetar/ gemetar takut kepada-Nya, bila ayat-ayat-Nya dibacakan kepadanya, maka imannya bertambah kokoh dan sempurna, dalam beribadah/ beramal/ berjihad fii sabilillah, bekerja/ berusaha dia tentu bertawakal/ berserah diri dan menggantungkan diri hanya kepada Allah SWT, mendirikan shalat dengan khusyu’ lagi tertib dan menginfakkan sebagian dari rizki pemberian Allah SWT. Mereka itulah orang-orang yang sebenar-benarnya beriman,mendapat derajat/kedudukan tinggi di sisi Allah SWT dan mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia serta bermanfaat.

Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.Yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya,dan orang-orang yang menjauhkan diri (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,dan orang-orang yang menunaikan zakat,dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki,maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.(QS Al Mukminuun:1-6).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah SWT memberitahu kepada umat manusia tentang orang-orang yang beruntung dan bahagia dalam hidup mereka.Mereka itu adalah orang yang imannya sempurna dan berfungsi, mereka itu orang-orang yang shalatnya khusyu’ dan baik, mereka itu orang-orang yang menghindari/ menjauhi apa yang tidak berguna,,mereka itu orang-orang yang menunaikan zakat serta apa yang bersifat sosial atau kepentingan masyarakat dan mereka itu orang-orang menjaga diri dalam hubungan seksual kecuali dengan istri mereka.Mereka semua itu adalah orang-orang yang berperilaku mentalitas Islami yang tinggi.






Jumat, 12 Juli 2013

Berolah Raga di Bulan Ramadhan


Puasa Ramadhan oleh kaum muslimin dilaksanaan selama satu bulan dengan hitungan hari 29 atau 30 hari. Pada tanggal-tanggal yang awal terutama pada sepuluh hari yang pertama banyak tempat ibadah, baik itu masjid, mushola atau langgar dipadati oleh para jama’ah yang ingin melaksanakan kewajiban shalat Isya’ dilanjutkan dengan shalat Tarowih dan Witir secara berjama’ah, demikian pula biasanya diikuti dengan kegiatan kultum atau ceramah Ramadhan. Selaras dengan janji Rasulullah SAW:

اول رمضان رحمة واو سطه مغفرة واخره عتق من النار

“Puasa Ramadhan yang pertama adalah rahmat yang pertengahan adalah maghfirah dan yang terakhir adalah dihindarkan dari siksa neraka”.

Dari hadits tersebut dapat dipahamai bahwa pelaksanaan ibadah puasa bila satu bulan genap selama 30 hari maka awal yang pertama adalah tanggal 1 sampai 10, yang pertengahan adalah tanggal 11 sampai 20 dan yang terakhir adalah tanggal 21 sampai 30.
Pada tanggal yang pertama pelaksanaan ibadah dilaksanakan dengan rasa gembira dan penuh semangat, sehingga seluruh anggota keluarga terlibat dalam pelaksanaan ibadah mulai dari pelaksaaan shalat Isya’, Tarowih witir dan ceramah Ramadhan serta tadarus Alquran. Semangat ini adalah sangat baik dan sudah menjadi tradisi bila memasuki tanggal yang pertengahan hingga akhir bulan Ramadhan shaf shalat berjama’ah semakin maju yang artinya bahwa jama’ah semakin berkurang.

Mengapa semangat dan gairah orang didalam melaksanakan amalan ibadah pada bulan Ramadhan semakin menurun, bukankah semakin bertambahnya hari dan tanggal dan semakin mendekati berakhirnya bulan Ramadhan Allah akan melimpahkan maghfirahnya yaitu pada tanggal 11- 20 dan bahkan akan dihindarkan dari siksa api neraka. Belum lagi bahwa pada 10 hari yang tekhir Allah memberikan keistimewaan yaitu nilai ibadah yang dilipatgandakan menjadi ibadah seribu bulan. Tidak inginkah kita meraih semua ini. Tentu kita ingin memperolehnya namun semangat yang semakin mengendor, sehingga banyak waktu-waktu yang mempunyai keistimewaan di biarkan begitu saja tanpa kegiatan untuk peningkatan amal ibadah serta untuk melaksanakan seluruh amalam baik pada bulan Ramadhan.

Karena itu bila diantara kita mengalami kemunduran tersebut, kita harus muhasabah, mencari penyebabnya. Secara umum kemunduran tersebut disebabkan karena:
1. Wujud dari ujian keimanan, bahwa keimanan yang sempurna dari waktu kewaktu selalu mengalami peningkatan, adanya rintangan dan penghalang hendaknya dipandang sebagai seninya orang beribadah.
2. Kondisi tubuh lelah sehingga merasa tidak fit lagi.
3. Beribadah hanya sekedar coba-coba saja, anut grubyug ora ngerti rembug, sehingga ikut-ikutan ini bila mereka merasakan ada keuntungan dan kenikmatan maka akan diteruskan, namun bila hanya capek yang diperolehnya maka tidak akan diteruskan lagi.

Dari dua penyebab tersebut, sebab yang pertama hendaknya kita selalu melakukan muhasabah, menghitung-hitung kekurangan dan kelebihan pada dirinya, bila di dalam hidup ini merasa sudah terlalu banyak amal ibadah yang dilakukan, maka renungkanlah dengan segala macam kenikmatan yang telah diberikan Allah SWT, sudahkan sebandingkah antara kenikmatan Allah yang telah dilimpahakan dengan amal ibadah yang dijalankan. Bukankan seluruh yang telah dianugerahkan oleh Allah seluruh panca indra akal, hati dan nafsu adalah kenikmatan dari Allah, bahkan dengan kondisi sehat dan sempat adalah merupakan kenikmatan yang diberikan Allah SWT yang hendaknya diwujudkan dengan rasa syukur kepada Allah yaitu dengan banyak melaksanakan amal ibadah. Bahkan didalam hadits, Rasulullah SAW bersabda, untuk melihat orang lain dalam hal agama kepada orang yang berada diatasnya dan melihat kepada orang yang dibawahnya dalam hal urusan duniawi, bila dapat melaksankan kondisi ini maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang syukur dan sabar.

Janganlah kita merasa sebagia muslim yang paling saleh dan paling taat ketika berada dalam komunitas masyarakat, namun lihatlah keluar carilah suasana baru, dimana banyak para abid, para shalihin yang bersunguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah, niscaya kita akan merasa kurang, sehingga segala macam penyakit hati, dari waktu kewaktu akan semakin berkurang. Hal ini merupakan upaya untuk berbenah diri dengan ekstrospeksi. Melihat diri sendiri namun melalui orang lain, baik melalui pengamatan langsung dengan membandingkan, menganalisis, mengevaluasi dan menyimpulkan.

Namun bila kendornya semangat bergama karena tubuh merasa kurang fit, capek ngantuk dan sebagainya, hal ini yang perlu dibenahi adalah proses metabolisme tubuh selaras dengan fungsinya, yaitu dengan melakukan olah raga, gerak badan, disamping gerak karena banyak melakukan aktifitas, namun hendaknya mengkhusukan melakukan gerak badan, misalnya dengan lari-lari kecil, jalan sehat, menggerakkan seluruh anggota badan, tangan, leher, kaki, pinggul, pergelangan tangan, mulut dan sebagainya. Maka bila kegitan ini dapat dilaksanakan secara rutin, kejenuhan yang disebabkan karena kondisi tubuh yang kurang fit akan dapat di hilangkan, sehingga setelah berolah raga tubuh akan terasa lebih segar, duduk, tidur dengan posisi apapun akan terasa nyaman. Karena itu walaupun berada dibulan Ramadhan olah raga atau gerak badan mutlak diperlukan, hanya saja bahwa proporsi waktu hendaknya disesuaikan dengan kemampuan diri agar kalori yang berada dalam tubuh akan terbuang seluruhnya.

Janganlah ketika melaksanakan puasa terlalu hemat dalam mengeluarkan energi, tidak mau beraktifitas karena takut akan semakin haus, lapar, lemas. Karena kondisi pasif akan memicu saraf dan proses metabolisme tubuh akan pasif juga, sehingga semangat beribadah akan beralih menjadi loyo dan kendor, sadarkah bahwa kelesuan dalam beribadah ini akan semakin mendorong keleluasaan syetan dalam menjerumuskan manusia ke jalan yang di murkai oleh Allah. Karena sifat syetan adalah minannuri iladz dzulumat, yaitu akan menunjukkan dari jalan yang benar ke jalan yang sesat.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Karena itu disamping berolah raga perlu juga diperhatikan dalam hal makan dan minum, hendaknya jangan berlebih-lebihan, karena rasul telah memberikan petunjuk dengan membagi menjadi tiga, sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk udara. Bila keseimbangan ini dapat terwujud maka terjaga kebugaran tubuh yang akan menunjang spiritual yang bersih. Karena puasa sebagai bulan pelatihan, pembersihan dan peningkatan akan terwujud dengan maksimal.

Bila semangat beribadah hanya karena ikut-ikutan saja, memang begitulah bahwa rasul mengambarkan umat Islam sebagaimana busa yang berada di air terjun, semakin jauh mengikuti aliran air maka akan semakin berkurang dan hanya tinggal sedikit. Karena itu tugas dakwah adalah bagi saluruh umat Islam karena itu rasul telah mengatakan “sampaikanlah olehmu walaupun hanya satu ayat”. Karena itu bulan Ramadhan adalah waktu untuk meng-up grade kembali ilmu, iman, Islamnya.

Karena itu berolah raga di bulan Ramadhan hendaknya tetap dilaksanakan, dengan disesuaikan dengan kondisi fisik, yang memang telah kekurangan energi. Dengan keseimbanagn itu akan diperoleh derajat kesehataan yang paripurna. Dan ibadahpun akan dilaksanakan dengan total serta dengan ketenangan, khusu’ dan khudhu’ .

Kamis, 11 Juli 2013

Puasa Membentuk Pribadi Yang Sehat


Siapakah yang tidak ingin memiliki pribadi yang sehat jasmani dan rohani, tentu kita semua menginginkannya, salah satu cara untuk memperolehnya adalah dengan melaksanakan ibadah puasa, dalam hal ini Rasulullah bersabda “shumuu tasihhuu”, berpuasalah kamu sekalian maka akan sehat. Perlu kita ketahui bersama bahwa sumbernya penyakit adalah dari perut, karena itu terlalu banyak makan baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya akan menyebabkan kelebihan berat badan, sehingga tubuh akan menjadi semakin gemuk, karena gemuk maka biasanya susah untuk beraktifitas dan bergerak. Dengan kondisi demikian maka penyakit akan mudah menghinggapinya, baik itu asam urat, jantung, diabetes dan penyakit-penyakit berat lainnya.

Makan dan minum yang berlebihan dari segi kuantitasnya, adalah makan minum yang melebihi ukuran, sehingga perut semakin buncit, tidak ada ruang bagi oksigen, sehingga setelah makan inginnya tidur dan bersantai-santai. Sedangkan makan dan minum yang berlebihan dari segi kualitasnya adalah mengkonsumsi makanan dan minuman yang banyak mengandung kolesterol tinggi, kalori tinggi, lemah jenuh yang tinggi. Inipun didalam tubuh akan terjadi ketidakseimbangan. Kelebihan kolesterol LDL akan menyebabkan penyakit jantung, tekanan darah tinggi, karena akan terjadi penyumbatan pembuluh darah, kekurangan gerak akan menyebabkan kadar gula naik. Demikian pula gaya hidup yang tidak sehat seperti kebiasaan merokok.

Banyak perokok yang mengatakan lebih baik tidak makan seharian daripada tidak merokok, tetapi nyatanya pada bulan puasa bisa tahan selama sehari tidak merokok. Adalagi yang bilang bila tidak merokok kasihan petani tembakau, pabrik rokok, dan para pegawainya yang kehilangan pekerjaan. Hal ini perlu disadari bahwa Allah menciptakan kita sekalian, Allah telah memberikan semua yang dibutuhkan manusia dan Allah akan mencukupi segala keperluan kita. Demikian pula bila sakit kemudian dirawat di rumah sakit, siapakah yang akan membantu pengobatan, patani tembakaukah atau pabrik rokok atau diri sendiri. Sakit sambil memikirkan dari mana biaya untuk membayar pengobatan, optimalkan berfikir ketika sakit, atau justru dengan banyak berfikir ketika sakit akan menambah sakit yang diderita. Ketika sakit semakin parah karena terjadi komplikasi, diri sendiri dan keluargalah yang paling dekat, penghibur ketika susah, teman ketika terasingkan, doa dan harapan, pemberi subsisi yang tidak pernah henti.

Kebiasaan-kebiasaan buruk yang telah dilakukan dengan penuh kesadaran itu akan mendatangkan penyakit dan dapat diatasi dengan melaksanakan ibadah puasa. Badan yang gemuk, dengan puasa maka suhu tubuh akan meningkat menjadi panas sehingga lemak yang mengendap didalam tubuh akan mencair sehingga akan membentuk tubuh yang ideal. Demikian pula kebiasaan merokok, dengan dalil apapun pemerintah telah mengeluarkan peringatan: merokok dapat mengganggu kesehatan, dapat menyebabkan serangan jantung, kangker dan impotensi”.

Ketika puasa bisa tidak merokok dalam sehari, dari itu marilah dirasakan apakah manfaatnya merokok, apa untungnya merokok dan apa ruginya untuk tidak merokok. Pada bulan yang penuh keberkahan dan ampunan Allah, hendaknya segala bentuk emosi, egoisme dan kehendak hawa nafsu, bersihkan hati dari sifat-sifaty tersebut, keluarkan bisikan dari lubuk hati yang terdalam. Hati kecil tidak bisa berbohong dan tidak bisa dibohongi. Apakah kata hati kecil itu, memerintahkan ataukah melarang, ataukah merasa masa bodoh. Niscaya hati kecil dari semua orang mempunyai persamaan, tidak perlu berfikir karena itu adalah salah satu wujud dari pancaran Nur Ilahi. Sehingga hasil yang dikeluarkan adalah bersifat universal yang berorientasi pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, social ekonomi. Hari ini adalah kesempatan yang paling baik untuk memunculkan kata hati jauhkan dari segala macam sifat dusta, karena dusta dapat merusak nilai ibadah puasa.

Hati adalah wujud dari segala macam keadaan pada diri manusia, bila hatinya baik maka baiklah seluruh tubuh.

الا وان فى الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله واذا فسدت فسدالجسد كله الا وهى القلب             رواه البخارى

" Ketahuilah bahwa didalam tubuh terdapat segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh dan apabila segumpal daging itu rusak, maka rusak pula seluruh tubuh, itulah yang dinamakan hati". (HR. Buchari)

Bagaimanakah seorang akan merasa iri terhadap orang lain yang diberikan rizki berlimpah, pangkat dan jabatan yang diinginkan. Sedangkan Allah telah menyediakan segala yang diperlukan oleh manusia, namun kebanyakan manusia mengingkarinya. Kini di bulan Ramadhan segala penyakit hati yang disebabkan oleh rasa iri, dengki, baru menyadari bahwa ketika berpuasa orang yang kaya juga merasakan lapar dan dahaga sama halnya orang-orang miskin. Allah telah memberikan waktu yang sama namun kenapa hasil dari penggunaan waktu itu berbeda.

Demikian pula para aghniya’ yang setiap hari selalu bergelimpang dengan harta kekayaan, kemewahan, dalam hari-harinya tidak pernah merasakan kekurangan. Karena segala keperluannya telah terpenuhi. Pernahkan mereka merasakan penderiaan para fuqara’ dan masakin, anak-anak yatim dan orang-orang terlantar, lapar dan dahaga senantiasa menjadi hidangannya. Dengan pelaksaan ibadah puasa sifat rakus, tamak, serakah dan sifat individualistic dapat dihilangkan mengapa demikian. Karena ketika puasa, segala macam makanan dan minuman yangs serba enak tidak akan pernah disentuh, pantang baginya pada siang hari makan dan minum, karena kesadaran diri sedang melaksanakan puasa, dan bila sedang berpuasa makan dan minum dengan sengaja maka batal puasanya. Sehingga merekapun juga merasa lapar dan dahaga sebagaimana keadaan yang dirasakan para fuqara’ dan masakin dalam setiap harinya.

Akan diamkah terhadap penderitaan orang lain ketika sedang diuji dengan harta, pangkat dan jabatan, bila memang diam maka penyakit hati masih menghinggapinya. Namun ketika puasa akan terjadi keharmonisan hubungan social, bangkitnya empati social. Sebagai wujudnya adalah keinginan untuk mengeluarkan zakatnya 2,5%, dan bila 2,5% merasa masih kurang bisa ditambah dengan gerakan infaq dan shadaqah. Harta ini secara materi berkurang namun secara hakiki akan bertambah kerena akan menjadi dana deposito disisi Allah SWT.

Keyakinan bahwa setiap kebaikan harus dilaksanakan dan kejelekan harus ditinggalkan dilaksanakan dengan tulus ikhlas maka akan mewujudkan jamani dan rohani yang sehat, puasa menuntunnya untuk mewujudkan menjadi akhsani taqwim. Puasa merupakan ibadah sirri, karena ketika melaksanakan puasa sesungguhnya tidak ada yang mengetahui kecuali hanya dirinya sendiri. Bagaimanakah dirumah ikut makan sahur namun diluar rumah makan dengan lahab. Dan sampai dirumah ketika datang waktu berbuka puasa ikut-ikutan sibuk seperti halnya orang yang berpuasa. Karena itu puasa juga melatih kejujuran. Jujur adalah perbuatan yang terpuji dengan jujur maka kebaikan, kemaslahatan akan diraihnya.

Disamping puasa lahir juga dituntut puasa batin, menahan segala bentuk perbuatan yang akan mengurangi kualitas ibadah puasa. Karena itu bila kebanyakan orang dapat menahan diri untuk tidak makan, minum dan hubungan suami istri setelah waktu imsak sampai terbenam matahari. Namun hanya beberapa orang yang dapat menahan pandangan, pendengaran, pemikiran yang negatif. Karena perlu diketahui bahwa segala obyek yang telah ditangkap oleh alat indra akan menjadi buah pikiran. Maka dari pemikiran ini akan didominasi dengan kemauan hawa nafsu. Kekuatan hawa nafsu ini akan berdampak pada kualitas kesehatan manusia. Bisa jadi jasmaninya sehat namun rohaninya kurang sehat. Maka dengan puasa akan membimbing setiap muslim untuk membiasakan hidup sehat baik secara lahir maupun batin.

Karena itu rasul memberikan peringatan bahwa banyak orang yang berpuasa namun yang diperoleh hanya lapar dan dahaga saja. Hal ini karena puasa lahir tidak diikuti dengan puasa batin. Karena itu ketika melaksanakan ibadah puasa prinsip-prinsip keyakinan harus selalu dipegang teguh. Dimanapun dan kapanpun manusia berada selalu dalam pengawasan Allah, akan dicatat seluruh amal perbuatannya, walaupun amal itu hanya seberat biji sawi. Dan seluruh amal itu pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawabannya disisi Allah. Amal baik dan ikhlas akan dibalas dengan surga, amal baik tetapi tidak ikhlas akan sia-sia, amal buruk tetapi ikhlas akan diazab.

Rabu, 10 Juli 2013

Puasa Adalah Benteng


الصيام جنة
Puasa adalah benteng (HR. Buchari Muslim).

Sepenggal hadits qutsi yang diriwayatkan oleh Imam Buchari dan Muslim mengatakan bahwa puasa adalah merupakan benteng. Didalam kamus besar Bahasa Indonesia benteng berarti dinding dari tembok (batu, tanah) untuk melindungi kota (tempat pasukan) dari serangan musuh. Bisa juga berarti tempat yang diperkuat dinding tembok dan sebagainya untuk kediaman prajurit.
Sedang puasa adalah merupakan benteng bagi orang-orang yang beriman, dari serangan yang maha dahsyat yaitu syetan yang membisikkan kepada manusia dengan bisikan yang menjerumuskan dari segala penjuru. Mengapakan manusia digoda oleh syetan, tidak lain karena syetan adalah musuh yang nyata bagi manusia, selama masih berada di alam dunia seluruh syetan akan selalu menggoda dan menjerumuskan manusia dari petunjuk kepada kesesatan.

Dapatkah manusia digoda oleh syetan, tentu saja bisa, karena manusia mempunyai sifat dan karakter yang ganda, yaitu:
1. Sifat hayawaniyah yang merupakan sifat kebinatangan. Bila kita tilik sifat binatang adalah berbuat menurut kehendaknya, tidak dapat membedakan yang baik dan yang buruk. Semua hal yang ada adalah sama. Boleh dimiliki dan dirasakan. Hal ini nampak jelas bila kita saksikan sekumpulan kerbau yang sedang digembalakan. Maka ketika terasa lapar, dan terlihat tanaman jagung yang masih segar, maka dengan serta-merta diterjang, tidak pernah memperdulikan sesuatu yang boleh diambil atau tidak semuanya adalah sama. Pantas saja karena binatang tidak dikenai taklif.

2. Sifat syaithaniyah, yaitu sifat setan yang selalu menjunjukkan jalan kesesatan dan selalu benci dengan petunjuk dan segala macam ketaatan pada sang Khaliq. Perintah Allah dijauhi namun bila ada larangan Allah justru didekati, perintah Allah ditinggalkan larangan Allah dilaksanakan. Ada manusia yang berusaha melaksanakan ketaatan kepada Allah selalu digoda dan diajak untuk melaksanakan perbuatan yang sesat dan terlarang.
3. Sifat malakut, yaitu sifat ketaatan seorang hama kepada sang Khaliq yang tidak pernah membantah dan lalai akan perintah Allah. Semua perintah Allah dilaksanakan dengan penuh ketaatan.

Dari tiga macam karakter sifat dan watak hamba Allah itu semua dimiliki oleh manusia, dominasi watak tersebut tergantung dari pemahaman diri sebagai khalifatullah dan 'abdulah. Untuk itu pada bulan Ramadhan ini, dimana berdasarkan hadits Rasulullah SAW Bahwa para syetan dibelanggu:

اِذَاجَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ اَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِقَتْ اَبْوَابُ النَّارِ وَسُلْسِلَةِ الشَّيَاطِيْنُ. رواه البخارى

" Jika bulan Ramadhan datang pintu surga dibuka pintu neraka ditutup dan para syetan dibelenggu oleh Allah". (HR. Buchari).

Hadits tersebut mengandung pengertian:
1. Terbuka pintu surga, bermakna bagi mereka yang puasanya dapat merubah daya nafsu syetaniyah menjadi yang murni yang menimbulkan niat murni, ikhlas perbuatan yang membawa kemaslahatan. Terhadap mereka yang puasanya seperti ini maka pintu surga dibuka baginya.
2. Tertutup pintu neraka, orang yang benar-benar melaksanakan perintah untuk berpuasa, sehingga berhasil memadamkan nafsu jahatnya berarti dia berhasil menyelamatkan dirinya dari api neraka, sehingga dengan demikian pintu neraka tertutup baginya.
3. Syetan-syetan dibelenggu, mereka yang berpuasa dengan tekun dan melaksanakan amalan-amalan pada bulan tersebut, yang hanya ditujukan semata-mata karena Allah, sehingga daya ruhaninya berhasil menaklukkan daya-daya syetan. Ini yang dimaksud dengan membelenggu syetan (Bahaudin Mudhary, KH, Esensi Puasa Kajian Metafisik: 59)

Kita rasakan bahwa ketika waktu siang hari pada bulan Ramadhan semua terasa indah dilihat, enak dirasakan bila melihat makanan. Pada hal ini adalah suatu yang dilarang oleh manusia, seperti memandang lawan jenis pada waktu puasa disiang hari, sungguh bila dorongan yang demikian ini terus diprogram sehingga menjadi rencana, sungguh akan mengurangi kualitas nilai puasa. Karena syetan akan terus membisikkan dorongan nafsu syahwat yang bermacam-macam. Karena itu puasa menjadi benteng ketika menyadari, bila disaat berpuasa melakukan perbuatan keji dan munkar maka akan merusak pahala puasa.

Oleh karena itu puasa adalah kegiatan totalitas untuk mahan diri dari segala yang membatalkan dan yang merusak puasa. Puasa bukan hanya sekedar menahan makan dan minum. Tapi puasa menjadi sarana spiritualitas untuk meraih derajat yang tertinggi yaitu derajadnya sebagai orang yang bertaqwa.
Apakah diluar bulan Ramadhan pintu surga tidak di buka? Tidak demikian, pintu surga tetap dibuka, namun bila pada bulan Ramadhan dibukanya dengan selebar-lebarnya. Hal ini mengingat pada hadits Rasulullah SAW bahwa setiap amal ibadah dilipatgandakan antara 10 sampai 700 tingkatan. Bila selain bulan Ramadhan hanya sampai 10 tingkatan saja. Semakin banyak aktifitas amal ibadah maka akhumulasi pahala juga semakin berlipat-lipat sehingga sangat mudah untuk masuk ke dalam surganya Allah. Namun bila Allah telah memberikan keutamaan pada bulan tersebut tetapi tidak memanfaatkan keutamaan ini maka artinya enggan masuk ke dalam surga, yang artinya walaupun pintu neraka sudah ditutup namun tetap berupaya untuk memasukinya. Hal ini karena dorongan untuk menjalankan ketaatan lebih didominasi oleh kemauan hawa nafsu.

Selasa, 09 Juli 2013

Puasa Menurut Ahli Tasyawuf


Bulan Ramadhan adalah merupakan bulan penggemblengan diri untuk meraih terajad muttaqin, kedatangan Bulan Ramadhan sangat dinanti-nantikan kedatangannnya. Sehingga disana-sini banyak sekali rencana kegiatan menyambut Ramadhan dan aktutualisasi kegiatan pada bulan Ramadhan. Hitungan tanggal pada bulan Ramadhan mempunyai keutamaan, dan tentu saja keutamaan itu akan dapat dirasakan bila diantara kaum muslimim juga berupaya untuk melaksanakan. Rasulullah SAW menegaskan:

اوله رحمة واوسطه مغفرة واخره عتق من النار


“ Awal dari puasa Ramadhan adalah rahmat yang pertengahan adalah maghfirah dan yang terakhir adalah dihindarkan dari siksa neraka”.

Bila kita lihat dari hadits tersebut ada tiga kelompok yaitu yang pertama, pertengahan dan yang terakhir. Yang pertama bila kita hubungkan dengan tanggal dalam satu bulan ada 29 atau tiga puluh hari. Bila itu 30 hari maka yang pertama adalah tanggal 1-10, yang pertengahan adalah 11-20 dan yang terakhir adalah 21-30. Jadi pada tanggal 1-10 pada bulan Ramadhan Allah SWT melimpahkan seluruh rahmatnya bagi hamba-hambanya utamanya adalah orang-orang yang sedang melaksanakan ibadah puasa, dan pada tanggal 11-20 Allah melimpahkan maghfirahnya bagi seluruh alam dan yang terakhir tangal 21-30 karena umat Islam telah memperoleh rahmatnya maka secara otomatis akan diampuni segala kesalahannya kepada Allah SWT, maka tanggal yang 21-30 umat Islam tinggal mengharapkan surganya Allah SWT karenanya disingkirkan dari siksa neraka.

Harapan ibadah setiap muslim pada dasarnya dari ketiga hal tersebut rahmat, maghfirah dan khusnul khatimah. Namun harapan ini bukan diperoleh dengan cara yang mudah tetapi membutuhkan upaya yang sungguh-sungguh dan istiqomah dalam menegakkan dan menjalankan ajaran Islam. Berkaitan dengan hal tesebut untuk meraihnya, para ahli tasawuf menempuh tiga jalan yaitu takhalli, tahalli dan tajalli.
Takhalli adalah mengeluarkan segala macam perilaku yang tidak terpuji, sebagaimana ketika sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan tidak diperbolehkan berkata kotor, membuat gaduh, berkelahi, Rasulullah SAW bersabda:

والصيام جنة فاذا كان يوم صوم احدكم فلا يرفث ولا يصحب فان سابه احد او قاتله فليقل: انى صائم 

متفق عليه

“ Puasa adalah perisai (dari api neraka dan perisai dari perbuatan yang jelek). Bila hari berpuasa seseorang diantara kamu, maka janganlah berkata kotor atau berbuat gaduh (sebab orang yang berpuasa biasanya mudah marah, oleh karena itu dilarang marah dan berkata jelek). Bila ada orang yang mencacinya atau mengajak berkelahi, maka katakanlah: sesungguhnya aku sedang berpuasa”.

Menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan yang dapat merusak ibadah puasa serta mengeluarkan segala perbuatan jelek tersebut, hal ini adalah perilaku yang amat terpuji. Maka bila dapat menempuh jalan tersebut niscaya akan memperoleh Rahmat Allah SWT dan ini diupayakan pada sepuluh hari yang pertama pada bulan Ramadhan.

Setelah dapat melampui sepuluh hari yang pertama dengan usaha yang sungguh-sungguh mengeluarkan segala perilaku yang tidak baik, maka kemudian masuk pada tahapan yang kedua yaitu tahalli, yaitu menghiasi diri dengan perilaku yang terpuji. Segala bentuk perbuatan yang tidak baik diganti dengan perbuatan yang terpuji. Yang tadinya mempunyai kebiasaan berkata kotor diganti dengan kata-kata yang indah, ucapan dusta diganti dengan yang jujur, sifat tamak diganti dengan ikhlas, sifat su’uzan diganti dengan khusnuzan, sifat kibir diganti dengan tawadhu’, dan sifat-sifat baik lainnya selaras dengan akhlaq nabawiyah dapat direalisasikan dalam sepuluh hari yang kedua pada bulan Ramadhan. Maka bila dapat menempuh jalan tersebut niscaya akan diberikan ampunan oleh Allah SWT. Dan bila telah dapat menempuh dua tahapan sepuluh hari yang pertama dan yang kedua, maka akan memperoleh kenyataan kedekatan dengan Alah SWT atau yang dikenal dengan tajalli.

Tajalli bila dalam ilmu tasyawuf dimaksudkan adalah menyatunya kehendak Allah pada hambanya, sehingga segala yang dilakukan hamba adalah selaras dengan kehendak Allah SWT. Setiap ‘abid ketika melaksanakan ibadah puasa sudahkan terasa dekat kepada Allah, ataukah ibadah khususnya ibadah shalat hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja. Tentunya setiap ‘abid menginginkan bahwa pelaksanaan ibadah dari waktu-kewaktu akan menunjukkan rasa kedekatan diri kepada sang Khaliq. Karena Allah SWT itu dekat bahkan kedekatan Allah kepada hambanya lebih dekat dari urat leher, sudahkah merasakan yang demikian. Bila sudah, berarti tinggal mempertahankan, namun bila belum harus dapat mengupayakannya.
Karena apalah artinya ibadah seribu tahun bila terasa jauh dari Tuhannnya, karenanya ibadah tidak dapat menjadi landasan amal perbuatan manusia yang dari waktu-kewaktu ingin meraih tingkatan kebaikan. Karena itu momen 10 hari yang terakhir pada bulan Ramadhan adalah merupakan hasil dari kedekatan diri kepada Allah SWT, karenanya ibadah pusa Ramadhan dengan segala amalan baiknya, baik itu shalat tarowih, tadarus Alquran, shadaqah, pengajian dan sebagainya dilakukan dengan perasaan senang, tak pernah ada rasa bosan bahkan enggan untuk melakukannya. Apalagi motivasi yang telah diberikan oleh Rasulullah SAW, bahwa pada malam-malam yang terakhir pada bulan Ramadhan, Allah akan melipatkan pahala seorang abid yang bernilai dengan ibadah 1000 bulan. Karena itu para ‘abid tidak pernah meluangkan waktunya kecuali untuk sepenuhnya meningkantkan ibadah kepada Allah SWT sehingga terasa sekali kedekatannnya kepada Allah SWT.

Untuk meraih dari semua itu maka mulai hari ini, akan kita bahas tentang perilaku yang tidak baik yang harus dikeluarkan dari dalam diri kita, kemudian dilanjutkan dengan upaya untuk menghiasi diri dengan perilaku yang baik. Keistiqamahan, keikhlasan dan kesungguhan dalam melaksanakan ibadah ini, pada akhirnya akan memperoleh hasil yang baik. Dari pemahaman syariat dan akhlaq menuju pada hakekat makrifatullah. Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq, hidayah dan inayahnya kepada kita sekalian, amin.