Membentuk Pribadi Yang Ikhlas


Ikhlas berarti melakukan pekerjaan semata-mata hanya karena Allah dengan tidak menyekutukan Allah. Lawan dari ikhlas adalah isyra’ yaitu berserikat atau berkumpul dengan yang lain, sehingga antara ikhlas dan isyra’ ini adalah dua buah sifat yang tidak akan pernah bisa bertemu, ibarat timur dan barat, utara dan selatan. Pekerjaan yang dilakukan dengan ikhlas atau isyra’, tidak membawa perbedaan dalam sisi lahir dari pekerjaan itu, tetapi dari segi nilai jelas jauh berbeda, karena itu yang paling tahu adalah pribadi orang yang bersangkutan karena antara ikhlas dan isyra’ sama-sama bertempat didalam hati.
Ada orang yang mempunyai dorongan ingin membantu kepada sesamanya, meringankan beban derita terhadap sesama hidup semata-mata karena Allah semata, disisi lain ada lagi yang melakukan kegiatan serupa namun mempunyai tujuan agar disebut sebagai seorang yang dermawan. Dari segi lahir nyaris tidak ada perbedaan namun dari segi nilai golongan yang pertama adalah yang lebih baik .

“ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (Al Bayinah: 5)
Rasululah SAW pernah bersabda:
لا يقبل الله من العمل الا كان له خالصا وابتغى به وجهه (رواه ابن ماجه)
“ Allah tidak menerima amal, kecuali amal yang dikerjakan dengan ikhlas karena karena dia semata-mata dan dimaksudkan untuk mencari keridhaannya”.

Ciri-ciri pribadi yang ikhlas adalah:

1. Tidak mengharapkan dari orang lain.
Sebagaimana sahabat Ali bin Abi Thalib dan Fatimah (Istrinya) yang bernazar karena Allah untuk kesembuhan putranya (Hasan dan Husen ) yang sedang sakit atas saran dari Rasulullah untuk berpuasa selama tiga hari. Ketika akan berbuka dengan hidangan yang telah disediakan ternyata datang pengemis yang meminta sedekah, maka diberikanlah roti yang akan digunakan untuk berbuka puasa. Sehingga selama tiga hari beliau hanya berbuka dengan air putih. Beliau dengan tulus ikhlas memberikan makanan karena Allah semata, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Insan ayat 9:

“ Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”.

Jadi orang yang mukhlis adalah orang yang tidak terpengaruh oleh pujian atau cercaan atau cemoohan masyarakat dalam menunaikan kewajibannya.

2. Yang utama adalah kewajiban bukannya status.
Seorang yang beramal mencari pekerjaan yang penting dan wajib dimuka bumi ini meskipun tidak menjanjikan uang, status dan ketenaran. Apakah pekerjaan itu menyediakan baginya kemewahan dan kesenangan serta status sosial dan penghasilan yang banyak, tidak menjadi perhatian utamanya. Misalnya mengadakan pengabdian dimasyarakat, sekalipun jauh dari harapan kejayaan dalam kehidupan dunia.

3. Tidak menyesal
Berbuat baik karena Allah dan tidak mengharapkan dari orang lain, sama sekali dan tidak pernah menyesali perbuatannya, lantaran dia bekerja karena Allah tentu sudah mendapatkan pahala, baik itu membuahkan hasil duniawi atau tidak. Contoh bersilaturahim ke saudara seiman dan tidak bertemu.

4. Tidak beda antara disambut atau tidak diacuhkan.
5. Gerak orang mukhlis karena kewajiban Ilahi, bukan karena situasi dan kondisi.
Gerakan orang mukhlis merupakan produk kewajiban dan taklifi, bukan karena produk situasi, kondisi. Karenanya mengerjakan kewajiban secara terus- menerus dan dia tidak merasa kecapaian dengan mengulangi seribu kali sebuah pekerjaan. Mungkin mengurangi amalannya lantaran melemahnya jasmani, namun semangat dan cita-citanya tidak pernah melemah bahkan senantiasa bertambah kuat.

6. Harta dan kedudukan tidak menghalangi.
Harta, kekayaan dan jabatan tidak menjadi pengahalang bagi individu tulus untuk melangsungkan kewajiban dan tugasnya, bahkan rela mengorbankan dirinya demi kewajiban.
“ Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (QS. Attaubah: 23)

7. Lahir dan batinnya adalah sama.
Melakukan pekerjaan karena tuntutan sosial, takut dan sebagainya, sehingga ketika sedang mengerjakan sesungguhnya hatinya tidak sejalan, perilaku yang demikian ini tidak ubahnya perilaku orang munafiq.
8. Tidak memiliki fanatisme golongan.
Bila terdapat kepentingan kelompok atau kekeluargaan maka akan bersemangat dan berkreatif, bila masalah keluar dari dirinya maka akan kehilangan semangat, bisa jadi akan menyendiri, menjauh bahkan akan menentang. Bila berafiliasi dengan partai atau ormas maka tidak dibenarkan melihat kebatilan sendiri sebagai hal yang benar dan melihat kebenaran golongan laian sebagi kebatilan.

9. Mencari pekerjaan yang belum dikerjakan.
Allamah Thabathaba’i ketika datang ke Qum dari Pesantren Ilmiah Najaf, beliau melihat kesemarakan pelajaran fiqih dan ushul fiqih, namun tafsir dan filsafat tidak diajarkan. Dia memulai mengajarkan ilmu tersebut walaupun banyak orang yang mengkritik bahwa tindakan tersebut tidak sesuai dengan marja’iyah masa depan .

Anda sedang membaca artikel dari untajiaffan Terbaru hari ini. Mohon untuk membagikan artikel ini ke teman anda melalui sosial media dibawah ini.

Artikel Untajiaffan Lainnya:



Kotak Komentar