Sayyidul Istighfar, Do'a Menjauhkan Su'ul Khatimah Menuju Khusnul Khatimah



Manusia adalah salah satu makhluk Allah yang diciptakan dalam wujud yang sebaik-baik bentuk. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk Allah yang berpotensi untuk berbuat baik dan berbuat buruk. Perbuatan baik akan berdampak pada pemberian pahala oleh Allah, dengan pahala itu manusia akan diberikan keberkahan selama hidup didunia dan di akherat kelak akan mendapat syafa’at Allah melalui Rasulullah SAW.

Perbuatan dosa manusia merupakan fitrah insaniyah, karena manusia mempunyai sifat khata’ dan nisyan. Sekalipun sudah banyak diselenggarakan majlis taklim, majlis zikir dan beraneka macam jenis tausiyah. Namun sifat itu senantiasa melekat pada diri manusia. Lalu bagaimanakah kondisi manusia bila dalam setiap saat senantiasa dihadapkan dengan kematian/ ajal yang datangnya juga setiap saat, tidak bisa diharapkan, ditunda atau diajukan. Tentu saja bila dalam kondisi istiqomah melaksanakan perintah Allah maka kematian menjemput akan memperoleh derajat khusnul khatimah. Namun sebaliknya bila dalam kondisi sedang melaksanakan kemaksiatan maka akhir hayat akan menjadi suul khatimah.

Setiap muslim mengharapakan dalam hidupknya senantiasa istiqomah dalam menlaksanakan ketaatan dan pada akhir hayatnya akan khusnul khatimah. Karena itu Rasulullah SAW memberikan pedoman dengan zikir, khususnya zikir Sayyidul Istighfar, insya-Allah akan dijauhkan dari kematian yang suul khatimah.
Barangsiapa mengucapkannya disiang hari dalam keadaan yakin dengannya kemudian dia mati pada hari itu sebelum petang hari, maka dia termasuk penduduk syurga dan siapa yang mengucapkannya di waktu malam hari dalam keadaan dia yakin dengannya, kemudian dia mati sebelum shubuh maka dia termasuk penduduk syurga.” (HR. Bukhari – Fathul Baari 11/97). Berikut do’a/ zikirnya:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, خَلَقْتَنِي, وَأَنَا عَبْدُكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ, أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ, أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ, وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي, فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ


”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu (yaitu selalu menjalankan perjanjian-Mu untuk beriman dan ikhlas dalam menjalankan amal ketaatan kepada-Mu) dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni segala dosa kecuali Engkau”.
Selengkapnya...

Tata Cara Tidur Menurut Rasulullah Muhammad SAW



Tidur adalah fitrah sebagai makhluk hidup, termasuk manusia. Bagaimanakah tidur yang benar? Ada yang mengatakan bahwa tidur yang baik adalah tidur yang berkualitas. Karena itu tidak ditentukan banyak sedikitnya waktu. Waktu yang sedikit namun dapat menghilangkan rasa kantuk dan letih. Ada yang tidur berjam-jam namun rasa kantuk tetap menghinggapi sehingga malas untuk segera bergegas dari tempat ridur.

Padahal orang tidur tidak dapat merasakan bahwa berapa waktu menjadi berlalu.
Karena tertidur banyak orang yang kehilangan kesempatan, kehilangan rizki. Pernah terjadi seorang teman yang karena sedang tugas dinas di luar negeri, suatu saat dia mau pulang ke kampung halaman. Untuk menyingkat waktu dia menempuh jalan udara yaitu dengan naik pesawat terbang, dia sampai di bandara lebih awal dari waktu yang ditentukan sehingga harus menunggu. Sambil menunggu dia membaca surat kabar sambil minum dan makan snack. Tak terasa surat kabar yang dibaca terjatuh, dia tidak bisa manahan rasa kantuk sehingga tertidur, bangun setelah pesawat yang akan dinaiki sudah take off dan yang naik pesawat hanya tas dan kopernya.

Karena itu ketika hendak tidur di rumah atau hotel atau tempat lainnya, Rasulullah Muhammad SAW memberikan tuntunan untuk mendapatkan tidur yang berkualitas:
1. Berwudhu, sebagaimana ketika akan menegakkan shalat.
2. Berbaring dengan posisi miring ke kanan.
3. Berdo’a dengan do’a berikut:

اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ (رواه البخاري


Ya Allah ya Tuhanku, aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dalam keadaan harap dan cemas, karena tidak ada tempat berlindung dan tempat yang aman dari azab-Mu kecuali dengan berlindung kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan aku beriman kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus. (HR. Buchari)

Adapun keutamaan membaca do’a ini adalah bila meninggal pada malam itu maka matinya dalam keadaan fitrah. Karena itu jadikanlah do’a ini sebagai penutup ucapan menjelang tidur.

Selengkapnya...

Majlis Taklim Tanbihul Ghafilin, Belajar Membaca Alquran



Dari manakah orang mengenal Islam, kebanyakan dari cerita orang lain. Termasuk perintah dan larangannya diterima secara turun temurun, hal ini bagi manusia yang dilahirkan dilingkungan masyarakat yang religious. Tetapi lain halnya dari masyarakat yang belum mendapat penerangan tentang agama maka hanya memperoleh ajaran budi pekerti dari nenek moyangnya termasuk kepada siapa menyembah dan bagaimanakah tata caranya.

Karena itu sangat beruntung, bila dilahirkan dilingkungan masyarakat religious, karena hakekat manusia sebagai makhluk pribadi, masyarakat dan sebagai makhluk Tuhan secara langsung telah diterima dari para ulama’, kyai , ustadz, guru ngaji yang bersumber dari Alquran dan Hadits nabi Muhammad SAW. Dalam kondisi masyarakat yang demikian Islam sebagai sumber ilmu pengetahuan telah dikaji bukti-buktinya didalam Alquran. Sehingga manusia yang hidup pada lingkungan yang demikian ini, pengetahuan tentang Islam selalu ditingkatkan. Misalnya ketika membaca Alquran:

“Dan kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (QS. Al Isra’: 82)

Salah satu keutamaan Alquran bahwa membacanya saja terhitung sebagai suatu ibadah, bahkan Allah melipatgandakan pahalanya dimana dalam setiap hurufnya ketika dibaca maka yang membaca akan memperoleh pahala yang berlipat. Disamping itu efek nyata membaca Alquran dapat membuat hati menjadi tenang, emosi terkontrol. Ketika hatinya tenang maka kehidupan manusia akan dinamis dan stail. Karena itu Alquran bisa menjadi . Alquran juga bisa mendatangkan rahmat.

Kehidupan manusia yang tidak memperhatikan urusan agama, maka masyarakatnya dapat menerima penerangan agama hanya persifat secara parsial. Generasi yang hidup pada masa ini, sehingga sampai tua mereka tidak bisa membaca ayat-ayat Alquran. Dengan kondisi yang demikian maka maka syifa’ dan rahmat dengan sepenuhnya belum di haluskan. Beruntunglah mereka mempunyai teman yang ingin bisa membaca Alquran. Maka jadilah pembinaan baca Alquran, untuk jumlah usia seharusnya mereka menjadi pengajar bukan belajar atau diajar.

Karena usia mereka termasuk kategori tua, maka majlisi taklim ini berganti nama menjadi Majlis Taklim “Tanbihul Ghafilin”. Beruntunglah hati mereka terbuka sehingga bisa menerima saran dari para pendahulunya. Bahwa belajar tidak mengenal batas usia. Karena itu ada beberapa kiat sukses belajar Alquran:
1. Belajar secara rutin/ istiqomah.
2. Diselenggarakan setiap hari
3. Dilaksanakan step by step, jangan terburu-buru untuk pindah halam di belakannya sebelum dinyatakan benar dan lancar.
4. Jangan malu, lebih baik malu didunia dari pada di alhirat kelak.

Problem mengajarkan iqra’ kepada kelompok tua:
1. Cepat paham tapi cepat lupa, hal ini adalah fitrah alamiyah. Tapi jangan lupa semakin sering dibaca maka bacaan akan benar. Tapi yakinlah nahwa dirinya akan dapat membaca Alquran dengan lancar dan benar.
2. Lidahnya masih kaku, sehingga bagi pengajar dan yang diajar harus sama-sama bersabar.
Mungkin orang tidak percaya, bahwa dia tidak bisa membaca Alquran. Tetapi realitasnya memang demikian, setelah bergabung dalam majlis taklim ketika harus membaca satu persatu reaksi pertama akan tegang, takut dan malu.ketika membaca huruf hijaiyah benar adanya bila mereka memang belum bisa membaca Alquran. Setiap membaca huruf yang seakan sama mereka masih kebingungan untuk membedakannya. Seperti membaca ja ha kho, ra za, da dza, shad lo, tha dha, ‘a gha, sa tsa sya dan lain-lainnya Jemaah harus selalu melatih diri sendiri.

Selamat belajar membaca Alquran, semoga senantiasa diberikan kemudahan oleh Allah SWT.
Selengkapnya...

Masalah Datang Silih Berganti



Selagi bumi masih berputar maka masalah akan selalu datang silih berganti, manusia secara pribadi adalah makhluk yang selalu dihadapkan dengan berbagai macam masalah. Semakin banyak masalah yang dihadapi dan dapat menyelesaikan masalah maka semakin dewasalah orang tersebut. demikian pula manusia sebagai makhluk sosial, budaya dan politik maka permasalahan yang dihadapi semakin kompleks.

Jum’at, 23 Januari jam 08.00 WIB publik diramaikan lagi dengan permasalahan yang dihadapi oleh para pemimpin di negeri ini, wakil ketua KPK Bambang Widjojanto ditangkap oleh Bareskrim Polri. Publik banyak yang bingung, bertanya-tanya dua institusi pemerintah penegak hukum di negeri ini. Yang sama-sama mempunyai kewenangan untuk menahan ternyata salah satu institusi ini menangkap yang lain. Ada apakah ini?

Banyak fihak yang mengaitkan dengan kasus-kasus sebelumnya seperti penundaan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai Kapolri yang ditetapkan oleh KPK sebagai pihak tersangka kepemilikan rekening gemuk. Padahal dia adalah salah seorang calon tunggal yang diajukan oleh Presiden Joko Widodo.
Ketika Presiden menetapkan Budi Gunawan sebagai calon Kapolri publik berkomentar, ketika Budi Gunawan di tunda untuk dilantik publik komentar dan ketika Bambang Widjojanto ditangkap publik lebih keras lagi komentarnya.

Setelah mendengar berita-berita hangat tersebut banyak fihak yang berupaya untuk mencari informasi dengan lengkap melalui media cetak atau elektronik. Dengan harapan akan memperoleh data yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun dibanding dengan orang yang seperti ini ternyata lebih banyak yang hanya mendengar informasi sepihak kemudian menyimpulkan dan berkomentar. Maka tentu saja komentarnya berbeda-beda, dan amat disayangkan bahwa kemudian muncul komentator-komentator amatir yang menghabiskan waktunya untuk memikirkan hal-hal yang berada diluar kemampuannya.
Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda:

 إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

 "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu." (HR. Buchari)

Karena itu lakukanlah sesuatu yang menjadi bidangnya, biarlah yang berwajib menangani dan menyelesaikan masalah tersebut. Kita do’akan agar semuanya dapat berfikir yang jernih, utamakan kepentingan bangsa dan negara, satukanlah semua anak bangsa ini untuk saling bersatu, membangun bangsa dan negara berupaya untuk menegakkan kadilan dan kejujuran. Sesungguhnya ketika bangsa ini tercabik-cabik dalam kepentingan pribadi dan golongan maka negara ini akan menjadi rapuh, dan akan semakin tertinggal dari negara-negara berkembang lainnya.
Selengkapnya...

Maling Bernasib Apes Ketika Beroprasi di Masjid, Ingin Mujur Jadi Ajur



Masjid adalah salah satu bangunan monumental bagi umat Islam, masjid menjadi sarana untuk membersihkan diri dari penyakit hati, tempat bersujud, masjid menjadi sarana pendidikan, tempat konsultasi, pelayanan/ santunan bagi fakir miskin, tempat musyawarah, penerangan agama, tempat untuk meraih kebahagiaan hidup didunia dan akhirat. Pada umumnya orang ke masjid mempunyai maksud dan tujuan yang mulia walaupun ada saja orang yang mengunjungi masjid karena mempunyai tujuan yang berbeda.

Bila khatib, mubaligh, da’i atau kyai mengatakan “ambillah yang baik-baik dan tinggalkanlah yang buruk-buruk”. Ada maling yang selalu menggunakan dalih yang telah disampaikan oleh para ulama tersebut diatas. Mereka datang ke masjid karena usaha untuk mendapatkan rizki dengan cara yang tidak wajar, karena berusaha merampas milik orang lain, atau menukar suatu barang dengan milik orang lain. Kita sering mendengar bahwa ketika sedang berada di masjid untuk shalat atau keperluan lainnya namun ternyata ketika mau kembali barang miliknya hilang. Bisa berupa tas, sepatu, helm, sepeda motor dan barang-barang lainnya.

Maling yang sukses karena telah melancarkan aksinya tanpa mengalami kendala, mengambil barang milik orang lain dengan mudah dan tidak ada orang yang mencurigai. Tentu mereka merasa puas, dan kesuksesan ini akan terus ditingkatkan untuk mengambil barang milik orang lain dari segi kuantitas maupun kualitas barangnya. Maling yang sukses mengambil sepatu atau sandal di masjid, suatu saat akan mengambil dalam skala besar dan berkeliling dari masjid-ke masjid.

Setelah barang didapat tentu akan mempertimbangkan nilai barang yang telah diambil, bila tidak sesuai dengan resiko yang akan ditanggung tentu akan meningkatkan kadar pencurian dengan mengincar barang-barang yang lebih berharga, misalnya membobol mobil dengan memecah kacanya, mencuri kendaraan bermotor dan lain sebagainya. Bahkan tidak sedikit maling yang mengincar kotak amal di dalam masjid.
Apakah maling tidak mempunyai perasaan, bagaimanakah rasanya bila barang miliknya hilang, apakah dia tidak akan merasa sedih, marah dan sebagainya. Saya yakin dia akan merasakan yang demikian itu. Tetapi mengapa dia mau melakukan suatu perbuatan yang membuat orang lain menjadi susah karena kehilangan barang berharga miliknya. Memang banyak faktor yang menjadi penyebabnya, bisa karena kebutuhan, tuntutan ekonomi, kebiasaan, hobi, menjadi profesi atau karena kecanduan minuman keras.

Pernah suatu saat ketika selesai menegakkan shalat dzuhur saya melihat orang telah kehilangan sepatu kesayangannya, suatu saat lagi ada jama’ah yang lain kehilangan sepeda motor, dalam waktu yang lain lagi mobilnya yang ditinggalkan untuk menegakkan shalat ternyata kacanya dipecah dan tas yang ada didalam mobil diambil. Mungkin maling tersebut merasa sangat beruntung karena didalam tas terdapat uang, laptop, kartu kredit dan barang berharga lainnya. Dan masih banyak kasus-kasus kehilangan lainnya di wilayah lokasi masjid.

Mengapa begitu seringnya terjadi pencurian di lokasi masjid, hal ini karena sifat mulianya umat Islam, tidak merasa curiga terhadap siapapun yang berdiam di lokasi masjid seakan-akan mereka adalah orang yang baik. Dengan demikian malingpun, seakan dia orang baik. Ketika dia sedang duduk dikiranya sedang istirahat, masuk ke masjid dikiranya sedang shalat atau sedang i’tikaf. Sehingga kebaikan orang terhadap pribadi maling, ternyata justru digunakan untuk melancarkan aksinya. Dia mencari kesempatan, bila pemilik barang lengah maka dengan segera akan diambilnya.

Pernah suatu saat ada seorang laki-laki, ketika waktunya shalat dzuhur dia duduk-duduk di teras masjid. Tak ada yang mencurigai bahwa dia seorang maling, namun terbukti suatu saat ada seorang sopir taksi yang pada waktu siang hari dia menegakkan shalat dzuhur, dia yakin bahwa sepatu baru yang baru saja dipakai akan aman. Namun ternyata sepatunya hilang diambil orang. Dia marah namun kepada siapa. Karena itu dia memutuskan setiap saat memasuki shalat dzuhur dia akan mengintainya dengan memarkir mobil di depan masjid. Entah sampai berapa kali dia mengintai. Ternyata usahanya membuahkan hasil, pada waktu kumandang shalat dzuhur dia memarkir kendaraan di depan masjid.

Pada waktu para jama’ah berbondong-bondong memasuki masjid, dia melihat seoarang laki-laki datang dengan mengendarai sepeda motor, laki-laki tersebut tanpa mengenakan sepatu atau sandal. Laki-laki tersebut kemudian memasuki masjid, ketika para jama’ah shalat dzuhur dua rekaat laki-laki tersebut keluar lalu mengambil sepatu, dibawanya sepatu lalu disimpan diantara semak-belukar. Dia beraksi tidak menyadari bahwa perbuatannya sedang diamati oleh seseorang. Sopir taksi keluar mobil lalu memanggil Satpam masjid. Sambil menunggu maling itu kembali, sepeda motornya dipindah dan ban sepeda motor digemboskan.

Tak begitu lama pemilik motor yang tidak lain adalah si maling, dia nampak bingung, dimanakah motornya. Ditanya oleh Satpam, “cari motor ya pak” dijawab “ya”. Lalu ditanya laki tidak pakai sandal ya? Dijawab “ tidak”. Lalu ditanya kamu maling ya? Dia menjawab “bukan”. Namun dia Nampak bingung dan gugup, lalu disuruh menunjukkan dimanakah menyimpan sepatu. Setelah ditujukkan dan diambil terbukti dia memang maling. Setalah mengaku dan ada bukti, maka orang-orang yang pernah dirugikan, tanpa pikir panjang menghantamkan bogem mentah, pada tubuh, kepala dan lehernya. Untung polisi segera datang dan mengamankan.

Begitu apesnya, seorang maling yang beraksi di siang bolong itu. Apesnya masih bertambah lagi ternyata yang dicuri sepatu milik seorang anggota polisi. Akhirnya maling yang sudah ditangkap diamankan di pos Satpam dan menjadi tontonan para jama’ah. O itu ya malingnya, ternyata sudah tua, kasihan ya. Itu diantara pembicaraan para jama’ah seusai menegakkan shalat, mereka menyaksikan kerumunan orang-orang yang menyaksikan maling tertangkap basah. Sering terjadi pencurian di lokasi masjid. Semoga dengan tertangkapnya maling itu akan membuat jera, dan maling-maling yang lain akan segera insaf untuk mencari rizki dengan cara yang baik.

Dan kiranya perlu diingat bahwa harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar, kelak akan mendatangkan bencana. Bila dalam waktu singkat mungkin akan biasa-biasa saja atau aman-aman saja namun sesungguhnya musibah dan bencana akan menanti. Kalau tidak mengenai dirinya maka akan mengenai suami/ istri, anak-anak dan keluarganya. Bila di dunia nampak selamat, maka diakhirat akan memperoleh balasan berupa siksa api neraka. Insaf dan sadarlah para maling, bertobatlah, Allah akan menerima tobatmu, teman, saudara dan orang-orang yang pernah kamu rugikan akan memaafkanmu. Kembalilah ke jalan yang benar, karena Allah akan memberikan keberkahan atas segala rizki yang kau dapatkan dengan cara yang benar. Astaghfirullahal ‘adzim , astaghfirullahal ‘adzim, astagfirullahal adzim, innallaha ghafururrahim.
Selengkapnya...

Kotak Komentar