Amaliyah Pasca Ramadhan Menuju Syawal Sebagai Peningkatan Ibadah-Bagian IV.



Untuk meraih derajad muttaqin, bukanlah hal yang mudah. Kerena setiap kebaikan pasti diiringi dengan keburukan, setiap niat baik selalu ada halangan, karena itu ada beberapa hal yang menjadi penghalang pencapaiannya:

  1. Tidak bisa melawan godaan syetan, biasanya diawali dengan memperbanyak makan dan minum yang menjadi langkah masuknya syetan. Syetan menggoda manusia dengan berbagai macam tipu muslihat, makan dan minum adalah pintu pertama yang menjadi gerbang jatuhnya derajat ketaqwaan. Kesederhanaan beralih dengan sikap berlebihan, apalagi pada yaumul futhur segala kesederhanaan beralih dengan sikap berlebihan, apalagi pada yaumul futhur segala macam bentuk makanan dan hidangan disediakan dengan gratis. Pernah terjadi pada tiga puluhan tahun yang lalu setelah selesai melaksanakan shalat Id dilanjutkan dengan perjalanan shilaturahim, berkunjung ke sanak-saudara, tetangga, bahkan semua orang kampung. Setiap kali masuk rumah selalu dipersilahkan untuk makan dan minum, maka dalam satu hari bisa sampai puluhan kali makan dan minum. Hal ini bisa terjadi sampai tujuh hari, karena itu dalam satu bulan berpuasa, kembali pada kebiasaan sebelumnya, dengan makan dan minum secara berlebihan. Pantas saja badan menjadi letih, mengantuk dan akhirnya banyak tidur. Tidur bukan suatu kebutuhan namun karena melakukan aktifitas fisik yang tidak baik.
  2. Munculnya sikap egoisme, karena merasa paling senior, paling berpengaruh, paling pintar, paling berkuasa sehingga bila telah melakukan perbuatan salah tidak mau mengakui bahwa dirinya bersalah dan harus meminta maaaf. Bahkan bisa jadi akan menyembunyikan kesalahan dan menumpahkan kesalahan pada yang lain. Adalah kewajiban orang yang bersalah yang terlebih dahulu untuk memohon maaf. Orang miskin, orang bodoh, orang lemah, rakyat jelata, bawahan bila mereka bersalah mereka segera memohon maaf. Ketika bersalah dan memohon maafpun seringkali mereka masih disalahkan. Karena itu tantangan terberat untuk melawan sikap egoisme yang bisa melumpuhkan sendi-sendi keberadaban dan kemanusiaan. Karena itu siapapun yang berkuasa, sedang berjaya, banyak harta dan teman, tetap sebagai manusia yang mempunyai jasad renik, suatu saat bisa jadi akan berbalik menjadi manusia lemah, miskin dan dikucilkan dari pergaulan. Manusia adalah makhluk sosial yang mempunyai sifat ketergantungan. Andaikan didunia tetap dibiarkan dalam kesombongan sesungguhnya ini merupakan ujian terhadap apapun yang sedang dimiliki. Namun bagi orang yang beriman segala yang dimiliki disadari sebagai satu anugerah yang harus disyukuri. Kehidupan manusia tidak akan abadi karena kelak akan beralih pada kehidupan akhirat, dimana manusia akan merasakan balasan atas semua perbuatan yang telah dilakukan.


3. Merasa cukup dengan ibadah fardhu, sehingga ibadah sunnah dipandang kurang penting. Ibadah fardhu hendaknya disertai dengan ibadah sunnah, karena dengan memperbanyak ibadah sunnah maka ibadah fardhu akan terasa lebih ringan, bahkan akan meningkatkan kualitas ibadah. Sehingga setiap ibadah akan mempunyai pengaruh, ibadah bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja namun sesungguhnya ibadah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah.

4. Kesibukan dalam hal urusan dunia sehingga banyak orang yang tidak sempat mengadakan tadarus Alquran secara rutin, bahkan segala bentuk kegiatan yang berhubungan dengan agama dipandang tidak penting. Karena ketika mengikuti kegiatan majlis taklim berpandangan bahwa hal yang demikian dapat diikuti dalam siaran radio atau TV yang bisa dilakukan sambil bekerja. Kegiatan majlis taklim sesungguhnya bukan saja sebagai media untuk menambah pengetahuan, namun terdapat faktor lain, karena dapat mengeratkan rasa ukhuwah, persatuan. Membiasakan diri untuk berinfaq dan shadaqah.

5. Merasa kebutuhan diri dari waktu kewaktu semakin banyak, sehingga timbul kekhawatiran, bahwa ketika berinfaq dan shadaqah akan menghambat untuk mendapat sesuatu yang diharapkan. Infaq dan shadaqah akan mengurangi harta, sehingga ketika mempunyai uang satu juta rupiah bila diinfaqkan lima puluh ribu rupiah menjadi tidak genap satu juta sehingga tidak dapat untuk membeli barang yang harganya satu juta. Dimana harga di toko sudah pas dan tidak bisa ditawar lagi. Sifat bakhil yang demikian inilah sehingga menjadi orang yang suka mengumpulkan dan menghitung-hitung harta yang dimiliki.
6. Permainan dan sendau gurau bisa melalaikan kehidupan akhirat. Banyak sekali ilmu pengetahuan dan teknologi yang diciptakan manusia, untuk memudahkan manusia meraih tujuan. Terknologi terkini adalah hand phone android, dengan berbagai macam fasilitas, mulai dari sekedar untuk sms, memanggil dan menerima panggilan, WhatsApp, email, games, twiter, bermain, game, bisnis dan sebagainya. Hal ini kadang telah banyak melalaikan, sehingga hal-hal yang bersifat ukhrawi banyak dikesampingkan.

Aktualisasi pencapaian derajat muttaqin
1. Menstabilkan pelaksanaan ibadah.
Pelaksanaan ibadah bukan temporer dan bukan insidental, ibadah hendaknya secara istiqomah atau terus menerus. Karena itu Rasullah pernah menyampaikan salah satu tanda orang yang beruntung adalah siapapun yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan beropsesi bahwa hari esok akan menjadi lebih baik. Namun sebaliknya bila hari ini lebih buruk dari hari yang kemarin maka termasuk orang yang celaka. Dan yang hari ini setaraf atau sama dengan hari yang kemarin saja termasuk kategori orang yang merugi. Karena itu dalam hal ibadah setiap muslim dianjurkan untuk melihat kepada orang yang lebih darinya, orang yang lebih shalih, orang yang alim, orang yang gemar berinfaq, bersedekah, orang yang rajin menegakkan shalat lail, puasa sunnah, mereka itulah yang dijadikan sebagai teladan, kita hendaknya merasa iri mengapa mereka bisa.

2. Meningkatkan kesyukuran dengan membandingkan atas segala kenikmatan yang telah diberikan Allah.
Bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan Allah, nikmat apakah yang telah diberikan dan dirasakan? Harta, pangkat dan jabatan adalah merupakan anugerah. Karena dengan semua ini manusia akan dapat meraih segala cita-cita bahkan ambisinya.

Pernahkan menyadari bahwa manusia diberikan organ yang lengkap adalah merupakan anugerah? Manusia diberikan akal, nafsu dan agama adalah merupakan anugerah? Pernahkan menyadari bahwa segala organ tubuh dapat berkerja sesuai dengan fitrahnya merupakan anugerah? Kerena itu kelengkapan organ tubuh manusia sebagai sebaik-baik makhluk adalah anugerah Allah yang harus selalu disyukuri. Manusia diberikan kesehatan adalah merupakan anugerah Allah yang harus disyukuri. Ketika sakit maka aktifitas manusia akan terganggu, pekerjaan banyak terbengkelai bahkan akan menjadi berantakan. Bahkan terkadang hubungan sosial akan menjadi kaku dan tidak harmonis lagi.

3. Menjadi pribadi yang loba terhadap ilmu.
Dengan ilmu maka hidup akan menjadi mudah, belajar terhadap ilmu tidak mengenal batas waktu. Karena itu setelah selesai mempelajari ilmu beralih pada ilmu yang lain, dengan ilmu akan membuka rahasia Allah atas penciptaan langit dan bumi silih bergantinya malam dan siang sesungguhnya terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Orang yang berakal senantiasa memadukan antara dzikir dan fikir. Dzikir tanpa fikir manusia akan statis sedang fikir tanpa dzikir manusia lalai terhadap kekuasaan Allah.

4. Menjadi pribadi muslim merasa iri terhadap orang lain yang giat dalam beramal ibadah.
Rasulullah adalah teladan bagi umat Islam, haqqul yakin kebenaran risalah dan keteladanannya. Banyak muslim yang berupaya meneladani walaupun tidak sepenuhnya, karena kemampuan umat Islam sangat terbatas. Apakah tindakannya sesuai dengan sunnah rasul atau sekedar mencari legitemet. Karena itu sikap khusnudhan hendaknya selalu ditanamkan bahwa pada setiap keburukan tetap ada mutiara, dan setiap kebaikan juga ada kekurangan. Karena itu sisi positif dan kebaikan hendaknya yang selalu berupaya untuk diberdayakan dan dibudayakan. Ketika melihat kebaikan ada pada orang lain berupaya untuk meraih kebaikan yang lebih baik lagi.


5. Melihat orang lain yang lebih shalih dalam hal ibadahnya dan melihat kepada yang lebih rendah dalam urusan dunia.
Melihat orang lain dalam urusan akhirat akan menimbulkan dorongan taat dan giat dalam beribadah sebaliknya melihat orang lain dalam urusan dunia akan menjadikan diri pribadi yang hina, rendah diri dihadapan manusia dan jauh dari petunjuk Allah. Karena itu bila ingin menjadi orang yang bersyukur dan bersabar maka lihatlah kepada orang yang dibawahnya dalam urusan dunia dan lihatlah kepada orang yang lebih atas dalam urusan akhiratnya.

6. Berniat untuk memulai melaksanakan kebaikan walaupun dari hal yang kecil, mulai dari sekarang dan mengawali dari diri sendiri.
Setiap kebaikan dimulai dari hal yang kecil, setiap keikhlasan dimulai dari pekerjaan yang dilaksanakan secara terus-menerus. Setiap negara dimulai dari kumpulan masyarakat dan setiap masyarakat dimulai dari kumpulan individu orang-perorang. Karena itu setiap kebaikan dalam suatu negara dimulai dari diri sendiri.

Ada siswa kelas 2 madrasah Ibtidaiyah, pada bulan Ramadhan ikut melaksanakan puasa, ada yang kuat sampai waktu maghrib ada yang setengah hari. Kedua-duanya adalah merupakan suatu kebaikan. Mereka mau melaksanakan karena lingkungan dan pembiasaan. Bandingkan dengan mereka yang lingkungannya tidak mendukung baik keluarga maupun masyarakatnya. Sampai dewasapun mengatakan tidak kuat berpuasa, menahan tidak makan dan minum selama sehari. Karena itu perlunya pembiasaan sejak dini agar erasa lebih mudah dan ringan.

Selengkapnya...

Amaliyah Pasca Ramadhan Menuju Syawal Sebagai Peningkatan Ibadah-bagian III




6. Meningkatkan pembelajaran dan kajian Islam.

Pembelajaran dan kajian Islam adalah sebagai kelanjutan dari tadarus Alquran, dimana Alquran bukan saja dipandang sebagai suatu yang mendatangkan pahala semata. Namun bagaimanakah mengetahui bahwa didalam Alquran terdapat petunjuk bagi manusia untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, bagaimanakah mengetahui bahwa setiap amal perbuatan manusia akan dimintai pertanggunganjawaban. Kelak akan ada hari pembalasan dimana tak seorangpun yang akan dapat menyembunyikan, amal baik akan diberikan balasan surga dan amal yang buruk akan dimasukkan ke dalam neraka.

Semua ini hanya dapat diketahui manakala diadakan kajian secara rutin terhadap isi dan kandungan Alquran. Sehingga pada tahap awal Alquran sebagai bacaan namun untuk selanjutnya ditingkatkan lagi, mengarah pada perintah dan larangan Allah yang tersebut di dalam Alquran. Karena itu membaca Alquran saja belumlah cukup bila tidak diikuti dengan pengamalan nilai-nilai Alquran . Dan dalam pengamalan diawali dengan pemahaman dan penghayatan dengan disertai dengan petunjuk sunnah Rasulullah SAW.

Karena itu pembelajaran dan kajian terhadap nilai-nilai Alquran tidak akan pernah bisa berakhir. Seberapa banyak ilmu pengetahuan yang telah dimiliki dibandingkan dengan ilmunya Allah yang meliputi langit dan bumi, bahkan bumi dan langit dihamparkan untuk menuliskan ilmunya Allah dan air laut sebagai tintanya niscaya tidak akan selesai menuliskan ilmunya Allah. Bahkan ditambahkan lagi ilmu Allah tetap terbentang luas tidak akan ada habisnya. Sungguh Allah Maha Luas tak ada satupun yang setara dengannya. Rasullullah memerintahkan kepada umatnya untuk mencari ilmu sejak dari buaian hingga sampai ke liang lahad.

7. Meningkatkan infaq dan shadaqah.

Berbagai upaya untuk menambah amaliyah pada bulan Ramadhan dengan memperbanyak infaq dan shadaqah, bahkan pelaksanaan pembayaran zakat mal juga dilaksanakan pada bulan puasa. Kegiatan ini hendaknya dapat diimplementasikan pada bulan-bulan lain selain bulan Ramadhan. Rasa empati, lapar dan dahaga ketika sedang berpuasa ternyata dirasakan oleh para fakir miskin sepanjang masa. Karena itu dalam setiap penghasilan dapat menyisihkan bagi kepentingan fuqarak dan masakin.

Gerakan berinfaq dan shadaqah bisa diberdayakan melalui Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah (LAZIS) yang berada dibawah takmir masjid. Masjid Jogokariyan Jogjakarta menjadi simbol kesuksesan pengumpulan dana infaq warga. Diawali dengan penghitungan riil pengeluaran masjid dalam setiap bulan. Misalnya untuk bayar air, listrik, petugas kebersihan, membeli alat-alat kebersihan, petugas khatib dan ustadz dan kyai dan pengeluaran lain-lain. Bila jumlah pengeluaran dengan pemasukannya ternyata sama, berarti ibadah di masjid baru impas saja. Bila pengeluaran yang lebih besar maka ibadah di masjid masih dibantu oleh orang lain. Dari hal inilah kemudian dikomunikasikan kepada seluruh warga untuk mengadakan infaq. Dari itulah terkumpul dana infaq yang cukup besar, sehingga Masjid Jogokariyan menjadi masjid yang mandiri. Antusias warga untuk berinfaq lebih besar. Sehingga kegiatan-kegiatan masjid dapat ditopang darai dana infaq, bahakan dapat memberikan santunan kepada warga sekitar.

Dari pengalaman penggalangan dan pengelolaan LAZIS melalui takmir masjid, sehingga masjid ini menjadi masjid percontohan, yang karenanya dari berbagai wilayah mengadakan studi utuk mencontoh system pengelolaan masjid. Salah satu contoh Masjid Baitul Mizan Kampung Serang Kelurahan Kalikajar Kecamatan Kalikajar Kabupaten Wonosobo, juga telah membentuk LAZIS Baitul Mizan. Hal ini dilatarbelakangi karena pemasukan dana masjid yang sangat minim, dimana kas masjid diperoleh dari kotak amal shalat Jum’at dan iuran insidental ketika ada hari besar Islam. Sementara itu fasilitas masjid yang meliputi ketersediaan tanah wakaf cukup luas mencapai 1000 M² lebih. Minimnya dana kas ini maka untuk ustadz-uztadzah TPQ dan imam masjid kurang diperhatikan, mereka berjuang tanpa pernah mendapatkan reward.

Karena itu perjuangan takmir masjid, kemudian mengadakan sosialisai kepada warga untuk memberikan infaqnya dalam setiap bulan minimal seribu rupiah. Dana infaq ini tidak boleh dibayarkan setahun sekali, namun harus setiap bulan yang akan didatangi amil zakat dengan ditulis dikartu infaq. Kartu ini sebagai bahan evaluasi diri, sudah pantaskan dalam setiap bulan memberikan infaq seribu rupiah. Ternyata setiap laporan setiap bulan tidak ada yang berinfaq seribu rupiah. Mereka lebih dari itu bahkan ada yang secara rutin sepuluh ribu rupiah, atau bila sedang memperoleh rizki akan memberikan yang lebih banyak lagi.

Ada hal yang mendasari mengapa infaq minimal seribu rupiah, takmir masjid ingin mengukur tingkat keikhlasan dan kesadaran warga, bukan dengan paksaan dan tekanan. Mengapa harus dibayarkan setiap bulan karena takmir ingin membuktikan bahwa infaq tidak akan mengurangi rizki, tetapi rizki semakin banyak dan lancar. Mengapa para munfiq diberikan kartu infaq karena untuk bahan evaluasi diri khususunya bagi munfiq dan bagi pengurus untuk pengadakan administrasi yang transparan, akuntabel dan amanah.

Dari pengumpulan dana tersebut dalam setengah tahun pertama bisa dijadikan sebagai penunjang kegiatan takmir masjid, seperti penyediaan sarana pendidikan TPQ memalui pembelian karpet, pembuatan meja, kursi, papan tulis, pengadaan alat-alat kebersihan, memberikan honor petugas kebersihan, memberikan bisaroh pada ustadz TPQ dan imam masjid. Karena itu gerakan infaq dan shadaqah pada bulan Ramadhan perlu terus ditingkatkan pada bulan-bulan yang lain. Karena setiap amal akan kembali kepada dirinya sendiri.


8. Menahan diri dan segala bentuk ucapan dan perbuatan yang tidak baik.

Sering terdengar orang berkata, jangan berbohong sedang berpuasa, jangan membicarakan orang lain karena sedang berpuasa, jangan melakukan maksiat karena sedang berpuasa dan lainnya. Seakan bahwa meninggalkan perbuatan tidak baik itu hanya pada buan Ramadhan. Padahal berkata kotor, berdusta, berbohong, menghibah, memfitnah, berjudi, minum minuman keras, durhaka pada orang tua adalah perbuatan buruk yang harus dihindarkan, bila dilakukan berdosa.

Hanya saja bila perbuatan tersebut dilakukan ketika sedang berpuasa maka disamping berdosa, maka puasanya akan sia-sia atau paling tidak puasanya akan menjadi rusak. Puasa yang tidak berkualitas sehingga pasca Ramadhan tidak bisa membentuk pribadi yang bertaqwa.

Kendala pencapaian.
Bersambung, pada Amaliyah Pasca Ramadhan menuju Syawal sebagai peningkatan ibadah-bagian IV.
Selengkapnya...

Amaliyah Pasca Ramadhan menuju Syawal Sebagai Peningkatan Ibadah-Bagian II




2. Mengadakan shilaturahim.
Berawal pada tanggal 1 Syawal, seiring dengan ucapan takbir, tahlil dan tahmid, setiap muslim telah menyadari bahwa dirinya adalah makhluk kecil dan lemah. Karena pada yaumul futhur setiap muslim mengumandangkan takbir, memuji keagungan dan kebesaran Allah, Dialah yang Maha Agung, Dialah Yang Maha Besar, tidak ada satupun makhluk yang menyamai Allah, Dia maha segalanya. Karena itu pada hari Id setiap muslim membersihkan diri dari segala bentuk kemusyrikan. Karena hanya Dia yang Maha Agung. Hanya kepada Allah kita memuji, dan Allahlah yang berhak untuk mendapatkan pujian.

Pada hari Id, bahwa untuk mewujudkan kesucian diri, maka setiap muslim menyampaikan ucapan permohonan maaf kepada orang tua, saudara, tetangga, teman dan orang-orang yang pernah bersinggungan dengannya. Dengan permohonana maaf ini menandakan upaya menghilangkan sekat-sekat yang menyebabkan hubungan persaudaraan renggang, selanjutnya untuk dikuatkan. Yang sudah putus untuk disambung kembali. Akhirnya terwujudlah rasa persaudaraan yang ikhlas, sehingga siap untuk menghadapi hari esok dengan penuh optimis, hati yang telah bersih akan menjadi hamba Allah yang merasa selalu dekat dengan Allah.

Pada akhir bulan Ramadhan telah membersihkan jiwanya dengan mengeluarkan zakat fitrah, sungguh menjadi simbol kemuliaan, kesadaran diri untuk berbagi rasa suka kepada saudara-saudara yang sedang kurang beruntung. Disaat hari yang berbahagia namun mereka berada dalam kesedihan, entah karena kondisi kefakiran, kemiskinan atau mereka sedang terkena musibah dan bencana. Karena itu sesama muslim untuk berbagi rasa suka cita kepada sauara-saudara yang lain.

3. Menegakkan shalat Idul Fitri
Shalat Id adalah sebagai ibadah simbul persatuan dan persaudaraan, hanya shalat Id yang menjadi mahnet setiap muslim untuk berduyun-duyun mendatangi kegiatan shalat Id, baik di masjid maupun di lapangan terbuka. Ibadah shalat ini sebagai ibadah tahunan, maka amat disayangkan bila tidak mengikuti, hal lain akan bertemu dengan orang lain dalam komunitas lebih banyak, bahkan teman dan saudara yang sudah lama tidak berjumpa akan bertemu dalam majlis mubarok. Dalam shalat Id akan dengan mudah mengungkapkan permohonan maaf dan bersalam-salaman.
Majlis shalat Id juga menjadi media untuk memberikan taushiyah kepada umat Islam dengan penyampaian khutbah shalat Id. Karena itu mendengarkan khatib sedang berkhutbah adalah menjadi satu paket rangkaian menegakkan shalat Idul Fitri. Karena itu bagi wanita yang sedang berhalangan karena sedang datang bulan tetap dianjurkan untuk mendatangi shalat Id, bukan untuk mengikuti shalat namun untuk mendengarkan khutbah shalat Id.

4. Melestarikan puasa Ramadhan
Ibadah puasa Ramadhan dengan segala keutamaanya, telah berlalu dan akan kembali pada satu tahun yang akan datang. Apakah setiap muslim akan menunggu satu tahun lagi untuk meraih keutamaan. Keutamaan ibadah pada bulan Ramadhan memang hanya terjadi pada bulan Ramadhan, namun Allah menebarkan rahmatnya dengan memberikan keutamaan lain dalam bentuk puasa sunnah, seperti enam hari pada bulan Syawal, puasa Senin Kamis, puasa tengah bulan, puasa nabi Dawud, puasa hari Tarwiyah, Arofah, puasa Asyura. Setiap Allah menurunkan syariat pasti mempuyai nilai dan keutamaan. Dan keutamaan ini akan diraih bila dapat diimplemantasikan, bukan dalam nilai dana norma.

Karena itu untuk mencari keutamaan ibadah tidak harus menunggu pada bulan Ramadhan yang akan datang. Spirit Ramadhan hendaknya dapat menjadi dasar untuk meraih keutamaan merebut rahmat, ridha dan ampunan Allah SWT. Dengan demikian akan menjadi hamba yang merasa adanya kedekatan diri kepada Allah. Tidak bisa melihat Allah namun tumbuh dalam dirinya suatu perasaan bahwa Allah melihat, mengawasi, membimbing dan mengarahkan pada jalan yang diridainya.

5. Merutinkan mengadakan tadarus Alquran.
Secara bahasa Alquran berarti bacaan, namun Alquran bukan hanya sebagai bacaan saja. Alquan dianjurkan untuk dibaca secara rutin, karena membaca Alquran tidaklah sama dengan membaca buku, kitab, majalah, koran dan bacaan-bacaan lainnya. Karena membaca Alquran adalah merupakan ibadah. Sebagai wujud rasa cinta kasihnya Allah kepada hambanya dalam setiap huruf dinilai sebagai suatu ibadah, bahkan dalam setiap huruf akan dilipatgandakan pahalanya.

Tetapi walaupun Allah telah menjanjikan untuk menebarkan rahmatnya bagai sekalian alam dan menjanjikan pahala kepada orang-orang yang beiman, Namun ternyata hanya sedikit diantara hambanya yang mau menggapainya. Seakan tadarus hanya tradisi pada bukan Ramadhan, seandainya Alquran adalah makhluk hidup, niscaya dia akan menangis, dan kita akan mendengar tangisan Alquran. Selama bulan Ramadhan dibuka, dibaca, dikaji, dipahamai makna dan kandungannya. Namun setelah selesai puasa Ramadhan, di manakah terdengar lantunan ayat-ayat suci Alquran dibaca. Bahkan yang lebih tragis lagi pada setiap masjid, langgar dan musholla serta tempat ibadah lainnya, Alquran dibiarkan berserakan.
Demikian pula masjid, langgar, musholla sebagai majlis tadarus Alquran sepi dengan kegiatan tadarus Alquran dan syi’ar kegiatan Islam. Sesungguhnya hal yang demikian ini terjadi secara terus- menerus dan hanya orang-orang yang khusuk yang dapat menyadari bahwa tradisi harus dilanjutkan pasca Ramadhan. Mereka akan memulai dari dirinya sendiri, ibdak binnafsi, memberikan keteladanan dimulai dari dirinya sendiri.

Alquran bisa menjadi petunjuk, pemberi peringatan, menjadi pembeda antara yang haq dan batil, menjadi obat karena Alquran dapat mendatangkan ketenangan jiwa, Alquran akan mendatangkan keberkahan baik yang membaca atau mendengarkan. Siapakah yang akan mendapatkan semua ini. Tidak lain adalah orang-orang yang mau membaca, memahami, mengahayati dan mengamalkan ayat-ayat Allah.

Bersambung, pada Amaliyah Pasca Ramadhan menuju Syawal sebagai peningkatan ibadah bagian III.
Selengkapnya...

Amaliyah Pasca Ramadhan Menuju Syawal Sebagai Peningkatan Ibadah.




Tidak diragukan lagi bahwa Ramadhan adalah bulan pelatihan dan penggembelengan diri menuju pada perbaikan mentalitas, spiritual dan amaliyah Islami. Setiap muslim mengharapkan dapat memetik hasil dari ibadah Ramadhan, tidaklah berlebihan bila setiap muslim menginginkan menjadi pribadi yang muttaqin. Karena segala daya upaya dilakukan untuk mewujudkan tercapainnya pemenuhan syarat sebagai orang yang bertaqwa. Mulai dari ibadah shalat sunnah tarowih dan witir, tadarus Alquran, mengadakan dan mengikuti kegiatan majlis taklim, mengikuti kajian Alquran dan kitab-kitab klasik, mengikuti atau menyelenggarakan kuliah subuh, mengurangi waktu tidur, menahan diri dari tidak makan minum dan berhubungan seksual suami isteri pada siang hari. Menahan diri dari perkataan kotor, perbuatan tidak baik dan membiasakan diri untuk melakukan sunnatullah dan sunnah nabi Muhammad SAW. Waktu tidur berusaha untuk bangun untuk mempersiapkan hidangan atau makan sahur.

Sungguh kegiatan-kegiatan ini diarahkan agar kebiasan baik pada buan Ramadhan teraktualkan pada bulan pasca Ramadhan. Sesungguhnya harapan meraih derajat muttaqin bisa diperoleh karena pembiasaan pada bulan Ramadhan. Walaupun terkadang terjadi bahwa semua amalan pada bulan Ramadhan adalah suatu yang dipaksakan. Mengikuti kebiasaan masyarakat yang juga mempunyai kebiasaan baik pada bulan Ramadhan. Karena sesuatu yang asing akan menjadi terbiasa bila sering dilaksanakan, sesuatu yang terasa berat akan terasa ringan , sesuatu yang sulit akan mudah, dari itu semua akan menumbuhkan sikap ikhlas.

Pasca Ramadhan adalah kebiasan yang muncul dari dalam hati karena dirinya telah sukses melaksanakan puasa Ramadhan. Sebagaimana ending orang menegakkan shalat adalah dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar, ini artinya bila ibadah shalat yang dilakukan tetap masih mempunyai kebiasaan dengan perbuatan keji dan munkar bisa dikatakan telah mengalami kegagalan dalam menegakkan shalat.

Bagaimana jika banyak orang Islam, yang terbiasa dengan melaksanakan kewajiban shalat tetapi perilakunya banyak yang melenceng dari ketentuan syariat. Kembalilah menengok bahwa ibadah shalat ternyata hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban saja, shalat belum dapat menghadirkan hati, shalat hanya merupakan aktifitas gerakan-gerakan fisik yang bisa membuat bosan, capek malas dan sebagainya. Sehingga bila godaan yang demikian muncul, selalu diupayakan untuk dilawan dan dikalahkan, maka didalam shalatpun hanya sampai pada tingkatan berupaya melawan godaan-godaan syetan. Maka pantas saja bila negara Indonesia yang mayoritas beragama Islam, namun banyak yang berurusan dengan penegak hukum karena melanggar aturan masyaraat dan negara. Minuman keras merajalela, perjudian, penganiayaan, perampokan, pemerkosaan dan sebagainya dilakukan oleh orang-orang yang notabene beragama Islam. Mengapa demikian hal ini jelaslah bahwa shalat belum bisa menghadirkan hati.

Ketika shalat jasad, hati dan pikiran belum bisa menyatu bahwa dirinya sedang menghadap Allah. Karena itu segala bentuk ucapan, perbuatan dan bayangan sedang terfokus sedang menghadap Allah. Ketika sedang menegakkan shalat merasa sedang diawasi Allah. Maka shalat yang telah mencapai pada derajat khusuk dimanapun dan kapanpun akan merasa selalu diawasi Allah, amalnya akan dicatat dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban olah Allah. Amal sekecil apapun akan dikembalikan kepada dirinya, amal shalih akan diberi balasan surga Firdaus, Bahkan untuk meraih kenikmatan sejati dalam surga maka seluruh amal umat Islam akan dilipatgandakan oleh Allah.

Demikian pula orang yanag melaksanakan ibadah haji. Predikat meraih derajat haji mabrur akan menjadi harapan setiap mslim. Dengan haji mabrur maka amal ibadahnya akan mengalami peningkatan atau paling tidak stabil. Peningkatan ibadah ini akan terwujud untuk selamanya, bukan hanya pada hari tanggal bulan pertama. Kesadaran bahwa ibadah adalah sepanjang masa, ibadah dan amal shalih adalah suatu kebutuhan. Karena itu kemabruran ibadah haji dilihat dari aktualisasi peningkatan amal ibadah, kemakbulan puasa Ramadhan akan memperoleh derajat taqwa dan kekhusukan shalat akan memperoleh taufiq dan hidayah Allah dalam setiap langkah perbuatannya selalu dibimbing oleh Allah, sehinggga dapat menghindarkan atau mencegah dari pernbuatan keji dan maungkar.

Upaya pencapaian predikat muttaqin
1. Mensucikan hati dengan membayar zakat fitrah.
Sebelum pergi untuk melaksanakan sahalat Id atau mengikuti khutbah Shalat Id setiap muslim telah mensucikan hati dengan mengeluarkan zakat fitrah. Zakat ini merupakan kewajiban untuk turut berbagi suka kepada orang lain. Idul Fitri adalah hari yang membahagiakan, janganlah kebahagiaan ini ternodai karena melihat orang lain tidak bisa turut merasakan bahagia, karena ketiadaan makanan pada hari itu. Karena itu bila ibadah puasa telah dilaksanakan namun belum membayar zakat fitrah maka nilai pahalanya masih menggantung. Hal ini tentu saja bagi orang yang mampu untuk mengeluarkan zakat, bukan termasuk dalam kategori fakir miskin, karena mereka yang berhak untuk memperoleh zakat.

Bersambung, pada Amaliyah Pasca Ramadhan menuju Syawal sebagai peningkatan ibadah.

Selengkapnya...

Dasaring Shilaturahim -Khutbah Jum'at Basa Jawa



Sedaya tiyang boten saget gesang piyambakan kemawon, sedaya tiyang betahaken tiyang sanes. Nanging sadangunipun gesang ing alam dunya punika, tentu kemawon antawis tiyang setunggal kalian tiyang sanes mesthi wonten perkawis, sahingga pasederekan dodos boten sae, waunipun sami tulung tinulung tumunten dados mengsah. Waunipun purun gumujeng dados besengut, waunipun purun gegojekan dados mendel-mendelan. Pramila ing wulan Syawal punika sedaya perkawis dipun udhari, sesami tiyang sami paring pangapunten . prasasat boten wonten ingkang rumaos leres, sedaya sami ngrumaosi lepat.

أَلْحَمْدُ لِلَّهِ جَعَلَ أَيَّامَ الْأَعْيَادِ ضِيَافَةً لِعِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَسُرُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ َأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. َأمَا بَعدُ: فَيَاأَيُّهَاالنَّاسُ, فَأُوِصْيكُمْ وَاِيَّاىَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ .

Kaum muslimin Jemaah jum’ah Rahimakumullah
Sasampunipun kita tingkas nindakaken shiyam Ramadhan, sapunika kita mlebet ing wulan Syawal, wulan peningkatan amal ibadah dhateng Allah SWT, selami setunggal wulan kita ngginakaken wekdal kagem ngibadah. Prasasat boten wonten wekdal ingkang dipun sia-siakaken amargi sampun mangertosi kautaman ing salebetipun wulan Ramadhan. Kejawi sedaya amal ibadah dipun tikelaken, ing wulan punika wonten Lailatul Qadar, inggih punika setunggaling wengi ingkang langkung utami tinimbang nindakaken ibadah salami 1000 wulan. Kanthi punika melai ing wulan Syawal, mangga kita jumbuhaken sedaya ibadah punika kanthi ningkataken iman lan taqwa dhateng Allah SWT.

Tasih wonten swasana Idul Fitri, kawula aturaken “ja’alanallahu minal ‘aidin wal faizin, taqabbalallahu, minna waminkum taqabbal ya karim”. Sampun dados kodratipun Allah bilih manungsa punika dipun titahaken dados makhluk ingkang paling sempurna, ananging manungsa dipun paring sifat khata’ lan nisyan, lepat lan supe . Langkung utami menawi nyuwun lan paring pangapunten punika prayoginipun dipun tindakaken sawekdal-wekdal, kalepatan dhateng Allah kita aturaken kanthi maos istighfar “Astaghfirullaahal ‘adzim”, menawi nindakaken perkawis ingkang nyebabken dosa ageng kita enggal-enggal mertobat dhateng Allah.

Semanten ugi menawi kita rumaos damel lepat dhateng sesaminipun supados enggal-enggal nyuwun pangapunten dhateng sesaminipun. Amargi kelepatan punika saget dadosaken pasederekan ing antawis kita dados boten sae, gesangipun kathah dipun ginakaken kagem nindakaken perkawis-perkawis ingkang boten penting, kados nindaaken adu domba, mitnah, ngapusi, nyana ala dhateng tiyang sanes, semanten ugi fikiranipun dipun gunakaken kagem mikiraken perkawis ingkang boten penting. Menawi kawontenan mekaten dipun terasaken saget nuwuhaken penyakit lahir, kados mag, darah tinggi, diabetes lan penyakit-penyakit sanesipun.

Kaum muslimin Jemaah jum’ah Rahimakumullah
Wonten sekawan perkawis ingkang dados dasar nindakaken shilaturahim, inggih punika:
Sepindhah: Sedherek margi keturunan utawi ukhuwah dzurriyah inggih punika amargi saking nikah. Sak derengipun nikah antawis fulan kalian fulanah inggih tiyang sanes, ananging sasampunipun dipun nikahaken mila dados sedherek, malah ing antawis bapa, ibu, kadang nem lan sepuh ingkang waunipun tiyang sanes dados sedherek. Selaras kalian pangandikanipun Allah wonten Alquran Surat Annisa’ ayat 1:


“ He kabeh para manungsa, padha taqwaha sira kabeh marang Panjenenganira kang wus nitahake sira kabeh saka wong ijen, lan saka wong ijen iku Allah nitahake bojone lan saka dene loro-lorone Allah nitahake pirang-pirang lanang lan wadon kang akeh. Lan padha taqwaha sira kabeh marang Allah, kang kanthi (nganggo) asmane sira kabeh padha jaluk jinaluk ing antarane siji lan sijine, lan padha (reksanen) seambungan shilaturahim. Satemene Allah tansah ngjaga lan ngawasi sira kebeh.

Kaping Kalih: Sedherek marga saking agama utawi ukhuwah Islamiyah, sesami tiyang Islam punika sedherek, margi sampun dipun ngendikakaken dening Rasullulah SAW bilih antawis setunggal muslim kalian muslim sanesipun punika sedherek:

اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ

“ Wong Islam siji karo sijine iku dadi sedulur”.

Ing hadits sanesipun Rasulullah ngendika bilih raos welas asihipun tiyang Islam dipun ibarataken setunggal badan:

مثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وتَرَاحُمِهِمْ وتَعاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَداعَى لهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمَّى " متفقٌ عليه

“Pralambang, wong Islam ing sak jroning padha sesenengan lan melas asihi, lan padha trenyuh-trenyuhan iku kaya awak siji. Lamun salah sijine bagian saka awak lara, mangka sakabehane awak ngrasakake lara, melek, ora bisa turu lan krasa panas”.
(HR. Buchari Muslim).

Wonten hadits sanesipun Allah ngumpamakaken kados setunggaling bangunan:

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشدُّ بَعْضُهُ بَعْضاً متفق عليه

“ Wong mukmin sji kelawan liyane kaya dene bangunan, kang padha nguwatake”.(HR. Buchari Muslim)

Makaten pentingipun pasederekean ingkang dipun landasi kalian agami sehingga dereng dipun wastani tiyang iman menawi dereng trisna dhateng sederekipun:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ " متفقٌ عليه

“ Ora sempurna iman salah sijine wong ing antarane sira kabeh, sahingga trisna karo sedulure kaya kaya anggone trisna marang awake dhewe” (HR. Buchari Muslim)

Kaping tiga: Sedherek margi sami-sami manungsa utawi ukhuwah insaniyah utawai bashariyah. Allah SWT ngendika:


“ He manungsa, satuhune Ingsun (Allah) dadekake sira kabeh saka pawongan lanang lan wadon lan wus dadekake Ingsun ing sira kabeh pira-pira bangsa lan pira-pira suku supaya sira kabeh siji lan sjine bisa kenal. Satemene wong kang paling mulya ing dalem antarane sira kabeh iku wong kang paling taqwa. Satemene Allah iku Maha Pirsa lan Maha Niteni”. (QS. Al Hujurat: 13)

Pasedherekan punika dipun raketaken kalian raos welas asih, sahingga nalika mirsani tiyang sanes ingkang nandang cilaka badhe ndherek ngraosaken sakitipun sahingga sami paring pambiyantu. Kados menawi setungal wilayah kenging musibah lan bencana, griyanipun ical, kendaraanipun ical, kekuarganipun sami seda lan piyambakipun nandang sakit. Mila ing salebetipun manah nggadhahi raos trenyuh sahingga paring pambiyantu, sinaosa benten agami, kabilah lan bangsa.

Kaping sekawan: Sedherek margi sami setunggal daerah, utawi ukhuwah Wathaniyah. Sahingga nalika kita gesang wonten ing satengahing kampung, desa utawi kitha, tiyang-tiyang ing wilayah punika dados sedherek. Tiyang-tiyang punika sinaosa tiyang sanes ananging amargi asring pinanggih, sahingga prasasat kados sedherek mawon. Malah raosipun langkung caket, dipun bandhing kalian dzhurriyah ingkang boten nate pinanggih.

Kaum muslimin Jemaah jum’ah Rahimakumullah
Sekawan perkawis ingkang dados mahnet utawi lem kangge sarana ngraketaken ing antawis sesami tiyang gesang. Kanthi punika kita melai ing wuan Syawal, ingkang prasasat boten wonten tiyang ingkang rumaos leres, sedaya ngraosaken kathah lepatipun. Sahingga kalepatan kalian Gusti Allah, melai rina malem riyaya dumugi akhir nindakaken shalat Id kita sampun ngalembana dhateng Agengipun Allah, nyucikaken Allah dan memuji dhateng asama dalem Allah SWT. Semanten ugi kalepatan dhateng sesaminipun dipun tindakaken kanthi muhasafah lan sami shilaturahim, sami sowan pisowanan sahingga ketingal welas-asihipun dhateng sesaminipun.

Mugi-mugi raos pasederekan punika saget dipun lestantunipun, amin ya Robbal ‘alamin.

جَعَلْنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَاَدْ خِلْنَا وَاِيَّاكُمْ مِنْ زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصّٰلِحِيْنَ . وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْن



Selengkapnya...

Kotak Komentar