Larangan Berburuk Sangka Terhadap Sesama Makhluk Ciptaan Allah

Ada seorang tetangga desa, dia termasuk orang yang dalam aktifitas sehari-hari memang tergolong orang yang sangat rajin, ulet, cermat dan disiplin. Sebut saja namanya Fulan, dia adalah seorang pendatang yang menikah dengan penduduk desa tersebut. Sebelum orang-orang di desa beraktifitas dia sudah pergi ke sawah untuk mencangkul yang kelak akan disiapkan untuk menanam padi. Tanah yang dikelolapun adalah tanah yang dibeli dengan sistem kontrak.

Disamping bekerja dengan tekun, beliau juga bisa menerapkan panca usaha tani mulai dari pembibitan padi, dengan memilih biji yang berkualitas, pengolahan lahan yang bagus untuk pemenuhan unsur hara dan memperbaiki struktur tanah, pengairan yang cukup, pemupukan untuk pemenuhan unsur hara, pemberantasan hama/penyakit agar tidak mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Semua kegiatan ini dilakukan ini tidak biasa dilakukan oleh orang-orang desa pada umumnya. Karena orang-orang desa hanya melakukan secara tradisional.
Disamping bertani, dia bersama istrinya juga membuka warung kelontong, yang menyediakan segala kebutuhan masyarakat. Dan kiosnyapun selalu ramai dikunjungi orang-orang yang akan berbelanja. Pak Fulan belum puas dengan aktifitas yang dilakukan, dia tidak mau membiarkan waktu berlalu begitu saja, sehingga setiap waktu selalu dimanfaatkan untuk bekerja dan berkarya, pada waktu siang hingga petang dia berkeliling dari desa ke desa untuk menjual beraneka macam kain untuk bahan pakaian. Namun karena masyarakat desa yang terkadang tidak mempunyai dana tunai maka pembayaranpun dilakukan secara kredit.

Bisa kita bayangkan  kondisi ekonomi dia, sungguh berbeda dengan orang-orang desa pada umumnya, dia memiliki rumah yang besar, lantainya bersinar, halaman rumahnya luas serta memiliki dekorasi luar ruangan yang sangat indah. Pada tahun 1980 an TV adalah sesuatu yang sangat berharga, hanya orang-orang tertentu yang memiliki. Televisi pada waktu itu hanya mampu menangkap siaran TVRI, setiap sore hingga malam hari rumahnya selalu dikunjungi orang-orang yang bermaksud mau menonton acara TVRI.

Kisah yang berkembang ditengah-tengah masyarakat, bahwa dia melakukan usaha dengan melakukan kegiatan yang tidak wajar. Ada yang mengatakan bahwa dia mempunyai “prewangan”, dia memelihara tuyul, dia mengunakan guna-guna dan sebagainya. Begitulah terkadang orang tidak dapat belajar dari sekelilingnya. Bahwa untuk memahami ayat-ayat Allah manusia dapat belajar dari ciptaan Allah. Bagaimanakah tanaman pisang, bambu yang akan berkembang dengan baik dan memperoleh hasil yang memuaskan bila anakannya ditengkarkan atau dipisahkan dari induknya. Sehingga di tempat yang baru akan berkembang dengan baik. Pak Fulan adalah pendatang sehingga dia akan lebih maksimal bekerja di daerah yang baru.

Dari kisah itu terus berkembang, bisa jadi pak Fulan dan keluarganya telah mendengar desas-desus yang berkembang di masyarakat. Namun dia tidak ambil pusing, karena apa yang dilakukan tidak merugikan orang lain, dia berpandangan orang-orang banyak yang iri tetapi tidak mau mengaca diri dan tidak membandingkan kinerjanya dengan dirinya. Seandainya orang-orang desa dapat belajar darinya tentu akan memperoleh hasil yang lebih baik, bahkan kesejahteraan hidupnya akan semakin meningkat. Bukankah ahli hikmah pernah berkata “man jadda wajada” siapa yang bersungguh-sungguh akan memperoleh keberhasilan.

Masyarakat desa yang selalu berburuk sangka dalam kehidupan dunia tidak mengalami perubahan, bahkan sekalipun dia penduduk asli desa namun yang menjadi tuan adalah orang yang pendatang. Ekonominya lebih maju, status sosial semakin meningkat, prestise dan reward dari masyarakat semakin meningkat. Dari ini jelas terlihat balasannya bagi orang-orang yang suka menghibah, ucapannya justru kembali pada dirinya sendiri dan yang dihibah memperoleh pahala sehingga usahanya semakin meningkat.

Sesungguhnya sikap berburuk sangka ini adalah suatu perbutan yang dilarang oleh Allah, hal ini sesuai dengan QS Al Hujurat ayat 12 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”

Larangan Allah yang disampaikan pada ayat tersebut:
  1. Berburuk sangka karena hal ini termasuk dosa besar.
  2. Jangan mencari-cari kesalahan orang.
  3. Jangan menggunjing/ menghibah.
Larangan Allah ini disampaikan kepada orang-orang yang beriman, jadi bila mengaku dan mengikrarkan diri sebagai orang yang beriman hendaknya dapat menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tersebut. Dan bila terpaksa melakukan hal tersebut hendaknya bertobat kepada Allah. Dimensi tobat adalah merenungi perbuatan dosa yang telah dilakukan dan menyesali, tidak akan melakukan perbuatan dosa yang serupa pada kesempatan yang lain, tobat akan mengganti perbuatan salah dengan perbuatan yang baik.
Begitu besarnya dosa dari perbuatan berburuk sangka Rasulullah SAW mengatakan:

وَعَنْ أَبي هُريْرةَ رضي اللَّه عَنْهُ أنَّ رَسُوْلُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : " إيًاكُمْ والظَّنَّ ، فَإنَّ الظَّنَّ أكذَبُ الحَدِيثِ ، ولا تحَسَّسُوا ، ولا تَجسَّسُوا ولا تنافَسُوا ولا تحَاسَدُوا ، ولا تَباغَضُوا، ولا تَدابَروُا ، وكُونُوا عِباد اللَّهِ إخْواناً كَما أمركُمْ . اَلْمُسْلِمُ أخُو الْمُسْلِمِ ، لا يظلِمُهُ ، ولا يخذُلُهُ ولا يحْقرُهُ (رواه البخاري ومسلم)

"Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "jauhilah olehmu sekalian berprasangka, karena sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta pembicaraan, serta janganlah kamu sekalian meraba-raba dan mencari-cari kesalahan orang lain, janganlah kamu sekalian saling berdebat, saling menghasut, saling membenci dan saling membelakangi, tetapi jadilah kamu sekalian hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan kepadamu. Orang Islam yang satu adalah saudara orang Islam yang lain, ia tidak boleh menganiaya, menghinanya dan mengejeknya”. (HR.Buchari Muslim)

Abu Qilabah meriwayatkan bahwa telah sampai berita kepada Umar bin Khattab, bahwa Abu Mihjan As Saqafi minum arak bersama-sama dengan kawan-kawannya di rumahnya. Maka pergilah Umar hingga masuk ke dalam rumahnya, tetapi tidak ada orang yang bersama Abu Mihjan itu kecuali seorang laki-laki, Abu Mihjan sendiri. Maka berkatalah Abu Mihjan: "Sesungguhnya perbuatanmu ini tidak halal bagimu karena Allah telah melarangmu dari mencari-cari kesalahan orang lain". Kemudian Umar keluar dari rumahnya.

Dan Allah melarang pula bergunjing atau mengumpat orang lain, dan yang dinamakan ghibah atau bergunjing itu ialah menyebut-nyebut suatu keburukan orang lain yang tidak disukainya sedang ia tidak di tempat itu baik sebutan atau dengan isyarat, karena yang demikian itu, menyakiti orang yang diumpatnya. Dan sebutan yang menyakiti itu ada yang mengenai, keduniaan, badan, budi pekerti, harta atau anak, istri atau pembantunya, dan seterusnya yang ada hubungannya dengan dia.

Sesungguhnya perbuatan, mengumpat, menghibah, menghasut, mencari-cari kesalahan orang lain adalah merupakan perbuatan yang tercela, akhlaqul madzmumah. Suatu perilaku yang hendaknya dijauhi, disingkirkan bahkan dibuang jauh-jauh. Perilaku tersebut disamping merugikan orang yang bersangkutan, yang karenanya nama baiknya akan hilang, dikucilkan orang lain bahkan usahanya kadang mengalami kendala. Ternyata perbuatan tersebut juga merugikan diri sendiri. Dari segi rohani berarti hatinya sakit dan harus diobati, karena bila tidak segera diobati akan menimbulkan penyakit-penyakit lainnya. Disamping itu doa orang yang dianiaya adalah salah satu doa yang maqbul. Perbuatan tersebut juga menyita waktu, tenaga dan fikiran sehingga kadang melalaikan perbuatan-perbuatan baik lainnya. Sekalipun orang tersebut senang mealukan amal perbuatan yang baik namun dia akan menjadi orang yang muflish (bangkrut), karena amal ibadahnya berkurang dan digantikan dengan dosa dari orang yang fitnah, digunjing, dianiaya dan sebagainya. Bahkan pahala bisa jadi akan hilang sama sekali. Bila sudah demikian tiada harapan lagi masuk ke dalam surga Allah SWT.
Selengkapnya...

Mewujudkan Generasi Mukmin Yang Kuat Dalam Iman dan Taqwa

Kita pernah bahkan sering mendengar orang mengatakan “jadilah pribadi yang kuat”, karena dengan pribadi yang kuat kelak akan meninggalan generasi yang kuat pula. Sekarang yang menjadi pertanyaan “kuat dalam bidang apakah itu”? Kuat dalam bidang fisik, rohani, materi, ekonomi, sosial, nafsu atau kekuatan-kekuatn yang lainnya.

Hukum alam telah membuktikan dalam usia kurang dari 40 tahun usia yang sangat membanggakan. Bagaimanakah setelah usia 40 tahun, seandainya masih perkasa tentu keperkasaannya sudah mulai berkurang, setelah usia 50 tahun ingin mengenang peristiwa-peristiwa di usia produktif, hasrat masih bergelora namun fisik kadang sudah tidak memungkinkan. Karena otot-otot yang dahulu kuat dan kencang sudah mulai mengendur dan berkurang kekuatannya. Apalagi bila usia 60 tahun keatas tentunya jangan berhayal untuk menjadi muda kembali.

Suatu perenungan, sering kita menyaksikan orang yang mempunyai tubuh yang kuat, atletis bahkan body language, kadang dengan tubuh yang kuat itu banyak orang yang menjadi kagum, segan, takut dan lainnya. Sampai umur berapa tahunkah tubuh yang perkasa itu akan tetap dibanggakan dan menjadi kebanggaan.

Usia-usia ini hanya bisa mengenang masa-masa yang lalu dengan membuka-buka album, tanda jasa, piagam dan sebagainya. Namun bersyukurlah menjadi pribadi yang mempunyai kenangan manis yang dapat dibanggakan dan anak cucunya dapat membanggakannya. Ternyata keperkasaan, kekuatan, kecantikan, ketampanan dan bentuk tubuh lainnya akan hilang seiring perjalanan waktu yang tidak bisa diundur kembali. Rasulullah SWT pernah mengatakan: “bukanlah keperkasaan itu orang yang dapat mengalahkan musuh-musuhnya tetapi keperkasaan itu orang yang dapat mengendalikan nafsunya ketika sedang marah”. Ternyata kekuatan fisik kelak akan menjadi lemah bahkan akan hilang sama sekali. Bagaimanakah bila kuat dalam bidang ekonomi dan harta. Allah telah mengatakan bahwa harta dan anak itu adalah merupakan perhiasan dunia, harta dan anak bisa menjadi anugerah dan kadang menjadi fitnah.

Setiap jasad yang masih bernyawa tidak akan pernah lepas dari masalah, dengan masalah hidup akan terasa lebih aktif dan dinamis. Tentunya bila dapat bersikap dewasa ketika menghadapi masalah. Dan bagi orang yang beriman akan yakin bahwa setelah kematianpun juga akan dihadapkan dengan masalah. Kehidupan di alam barzah adalah pengadilah dari Sang Khaliq yang tidak akan ada dusta dan kepalsuan, semua akan berjalan menurut amal yang telah dilakukan. Karena itu jadilah pribadi yang kuat.

Harta akan menjadi anugerah, bila dengan harta kekayaan yang dimiliki senantiasa bersyukur. Orang yang bersyukur disamping memegang teguh kaidah syar’i, bahwa dari sebagaian kecil harta yang dimiliki adalah terdapat hak-hak bagi orang-orang miskin. Sehingga dengan dasar syar’i muncul kesadaran untuk berzakat, infaq dan sedekah. Namun kadang juga bersyukur dengan munculnya getaran didalam hati untuk memberikan empati kepada siapapun yang kondisinya berada dibawah dirinya. Dengan mendermakan harta yang dimiliki ini justru akan semakin menambah kenikmatannya, namun demikian bersedekah itu tidak semata-mata melalui harta dan kekayaan, melainkan juga dapat dilakukan dengan memberikan teori-teori atau pengetahuan yang dapat bermanfaat positif bagi sesama, misalnya memberikan ide atau trik pada forum media sosial bagaimana cara sms gratis atau trik bagaimana cara facebookan gratis melalui komputer maupun handphone.

Dalam Qur’an Surat Ibrahim ayat 7 yang artinya“ Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Sebaliknya dengan harta akan menjadi bencana dan malapetaka, harta merupakan titipan, amanah dan anugerah.

Didalam Alquran telah disampaikan bagaimanakah Qarun yang hidup pada zaman nabi Musa. Dia mengatakan bahwa harta itu adalah segala-galanya, harta diperoleh karena usahanya sendiri, karena itu menjadi haknya sendiri. Tidak ada aturan harta adalah pemberian Allah dan terdapat hak bagi orang-orang miskin. Sehingga akhirnya harta membawa bencana bagi dirinya. Adakah pada zaman sekarang harta menjadi Tuhan. Apapun bisa diperoleh dengan harta, pangkat, jabatan, isteri, rumah, kendaraan mewah, perhiasan, melancong ke luar negeri dan sebagainya? Ternyata hal yang demikian terkadang tidak berlangsung lama. Bisa jadi kebahagiaan yang selalu diidam-idamkan setelah memperoleh alat untuk meraih kebahagiaan (harta) namun ternyata berakhir dengan penderitaan dan bencana.

Ingat bahwa ekonomi yang kuat tidak akan menjamin kebahagiaan yang abadi bila tidak menyandarkan pada aturan Ilahi. Dalam Islam ada amal yang akan menjamin kebahagiaan abadi yaitu shadaqah jariyah, sekalipun seseorang telah meninggal dunia tetapi tetap bisa menumpuk pahala. Amal yang demikian ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang mampu yang hatinya telah terbuka dan menyadari bahwa pada sebagian harta yag dimiliki terdapat hak-hak bagi orang-orang miskin.

اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan”. (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Nasai)

Dunia ini diciptakan oleh Allah dengan aneka warna, bentuk, wujud dan jenisnya. Ada besar ada kecil, ada panjang ada pendek, ada bulat ada lonjong, ada putih ada hitam, ada yang tinggi ada yang pendek, ada yang miskin ada yang kaya, ada yang pandai ada yang bodoh, ada yang bagus ada yang buruk dan sebagainya. Semua yang ada di alam merupakan Sunnatullah. Jika Rasul mengatakan bahwa mukmin yang kuat adalah lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah, namun bukan berarti bahwa mukmin yang lemah tiada berguna. Ternyata rasul mengatakan bahwa diantara keduanya ada baiknya.

Secara kasat mata bahwa orang yang kuat adalah para pejabat, pengusaha, para bos dan lainnya, dan yang lemah adalah rakyat jelata. Dari yang berpenghasilan pas-pasan sampai yang tidak berpenghasilan sama sekali. Orang yang berpenghasilan pas-pasan, bila disuruh bekerja apapun tentu mau (bagi yang mempunyai pemahaman dan kesadaran beragama pada hal-hal yang tidak bertentangan dengan agama). Dan pekerjaan ini tentu tidak dilakukan olah para aghniya’. Contohnya tukang sampah, buruh bangunan, tukang tambal ban, pemulung tentu hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu, dan keberadaan mereka dirasakan bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Jadilah mukmin yang kuat dalam iman, karena dengan iman dan keyakinan yang kuat dan teguh akan membentuk moralitas yang baik. Setiap mu’min dalam setiap gerak langkahnya akan disandarkan pada kekuasaan Allah, kapanpun dan dimanapun berada selalu berhati-hati dalam bertindak karena adanya keyakinan bahwa Allah selalu mengetahui segala geraak-gerik, amal perbuatan hamba-Nya. Bahkan dalam setiap amal perbuatan hambanya kelak akan dimintai pertanggungjawaban disisi-Nya. Karena itu dengan keyakinan ini akan memunculkan akhlaqul karimah dan amal perbutan terpuji.
Iman yang masih rapuh dalam kondisi apapun tidak pernah memperhatikan halal-haram, merugikan orang lain atau tidak yang penting menguntungkan diri-sendiri. Bahkan bila termasuk dalam kategori orang yang mendapat kemuliaan berupa harta, pangkat dan jabaan yang bagus tidak menyadari bahwa semua itu merupakan amanat sehingga banyak disalahgunakan. Apalagi orang-orang yang hidupnya selalu dalam kondisi kesulitan. Sesungguhnya kebahagian atau kesusahan, anugerah atau musibah merupakan ujian dari Allah. Dan Allah tidak akan menguji hamba-Nya kecualimenurut kesanguupannya.
Selengkapnya...

Waspada Terhadap Musibah dan Cobaan Duniawi

Musibah adalah suatu kejadian yang menimpa pada diri manusia yang tidak pernah dikehendaki. Dengan musibah,orang akan menjadi bersedih, namun musibah bagi orang-orang yang beriman akan menjadikan kadar keimanan semakin meningkat.

Orang yang beriman menyadari dengan sepenuh hati bahwa musibah itu terjadi atas qadha dan qadar Allah. Ketika bersabar dalam menerima musibah maka akan muncul keyakinan bahwa Allah SWT akan menggantikan dengan yang lebih baik.

عجبا للمؤمن لا يقضى الله له قضاء الا كان خيرا له ان أصابته ضراء صبر فكان خيرا له وان اصابته سراء شكر فكان خيراله وليس ذالك لاحد الا للمؤمن (متفق عليه)
Artinya:
Sungguh menakjubkan keadaan orang mukmin itu. Allah tidak menetapkan suatu keputusan baginya melainkan keputusan itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka yang demikian itu lebih baik baginya. Jika mendapat kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu adalah lebih baik baginya. Dan hal tersebut tidak akan menjadi milik seorangpun kecuali orang mukmin. (Muttafaqun “Alaihi)

Musibah yang menimpa manusia bisa bewujud kekurangan harta, kehilangan kesempatan, kehilangan jiwa. Sudah banyak terjadi ketika banyak orang sedang terlena dalam kesenangan dan kebahagian dunia yang penuh tipuan, berfoya-foya dengan mobil mewah, gadget canggih misalnya harga bb yang saat ini harganya mencapai jutaan rupiah atau sebaliknya, sedang murung karena keputusasaan. Disaat ini musibah datang, rumah, harta, jiwa bahkan keluarganya terpendam oleh longsoran tanah karena bendungan yang jebol. Atau tertimbun tanah yang longsor akibat lahan yang kritis.
Bisa jadi kehilangan jiwa, karena tertimbun reruntuhan bangunan akibat gempa bumi seperti yang belum lama ini dialami oleh saudara-saudara kita di Sumatera Barat. Akankah nyawa meninggalkan raga ketika diri kita jauh dari Allah, hanya Allah Maha Tahu, dan kita hanya berusaha selalu dalam keimanan.

Karena itu ketika musibah datang dan menghampiri kita sehingga mengakibatkan kematian, maka tiada lagi kesempatan untuk menambah amal ibadah. Karena itu kesempatan untuk melakukan amal ibadah mulailah dari sekarang, mulailah dari hal yang kecil dan mulailah dari diri sendiri.
Selengkapnya...

Rahasia Dibalik Peringatan Hari Besar Islam (PHBI)

Peringatan Hari Islam adalah suatu peringatan yang tidak asing lagi, baik dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Negara memfasilitasi pelaksanaan kegiatan tersebut, terbukti bahwa Negara menetapkan PBHI menjadi hari libur nasional. Sebagaimana hari besar nasional dan juga hari besar agama non Islam. Bagi umat Islam PHBI mempunyai peran yang strategis untuk meng-up grade kebiasaan pengamalan ajaran Islam yang kadang sudah mengalami kelesuan.

Kegiatan pembinaan dan penyuluhan agama Islam yang telah diselenggarakan secara rutin dan terjadwal serta sudah menjadi komitmen bersama ternyata dalam pelaksanaannya masih kurang istiqomah dan kurang ikhlas, kegiatan keagamaan masih kalah dengan program-program televisi, infotainment, berita olahraga seperti motogp, liga inggris ataupun berita liga spanyol. Ditandai dengan pasang surutnya jama’ah yang kadang membuat acara bertepatan dengan agenda taklim yang sudah berlangsung. Atau lebih memilih untuk melakukan kegiatan yang tidak begitu penting dan tidak terlalu mendesak untuk dilaksanakan. Apalagi kegiatan taklim yang dihubungkan dengan sikap dan perilaku serta urusan keduniawian. Mengikuti pengajian kok kelakuannya seperti ini dan seperti itu, atau ada yang menyingkat menjadi STMJ shalatnya terus maksiatnya tetap jalan.

Demikian pula bila dikaitkan dengan urusan keduniawian, sudah mengikuti pengajian secara rutin, ibadahnya juga menurut dirinya lebih baik dari yang lain, tetapi mengapa urusan perut saja susah untuk di cukupi, apalagi ketika sedang merenung seperti ini kemudian setan menghampiri, urusan menjadi semakin runyam, karena bisa jadi ahli ibadah akan berbalik menjadi ahli maksiat , bahkan berusaha untuk mempengaruhi yang lain. Sikap tepa slira akan berbalik menjadi sikap masa bodoh, semangat sosial berbalik menjadi rasa kedirian, sikap dermawan berbalik menjadi bakhil, rasa ikhlas manjadi tamak dan sebagainya. Hal seperti ini adalah menjadi problematika didalam menyampaikan syiar Islam di tengah-tengah masyarakat.

Penyelenggaraan PBHI walaupun untuk beberapa orang yang tidak begitu peduli terhadap PHBI berdampak positif dalam meng-up grade ghirah keagamaan. Secara swadaya dalam masyarakat, mereka dengan keikhlasan untuk mengeluarkan biaya penyelenggaraan PBHI apalagi bila telah di putuskan untuk mengahdirkan kyai yang tersohor demikian pula dengan menghadirkan kelopok kesenian tertentu. Tentulah biaya amat besar, namun mansyarakat sangat antusias. Bahkan kadang ide ini justru muncul dari jema’ah yang tidak pernah atau hanya kadang-kadang saja mengikuti kegiatan taklim yang telah diselenggarakan dengan rutin. Mereka tidak peduli soal tuasyiahnya dilaksanakan atau tidak, yang penting kyainya dapat membuat jema’ah menjadi takjub, lucu dan pengunjungnya banyak. Memang ada juga orang yang bersikap apriori bahkan skeptic, buat apa mengundang kyai jauh-jauh dengan biaya yang mahal, toh materinya sama dengan kyai-kyai lokal, bahkan sama saja dengan tausyi’ah ustadz yang sudah sering disampaikan. Demikian pula apalah artinya mengundang kyai yang jau-jauh dengan biaya yang banyak bila taushiyahnya tidak dilaksanakan.

Hikmah penyelenggaraan PHBI
Dibalik penyelenggaraan ini semangat ukhuwah, kedermawanan masyarakat mulai terasah kembali, rasa kebersamaan mendirikan panggung, menyiapkan perlengkapan semua merasa andharbeni. Berat sama di pikul ringan sama dijinjing. Pergaulan yang terasa kaku menjadi cair, bahkan kadang ada celetuk dari salah satu warga masyarakat, yang menyindir warga yang lain, namun karena yang menyampaikan teman sendiri atau ketika mengucapkan dengan canda. Mereka tidak marah bahkan kadang mereka secara sepontan menuturkan isi hatinya yang selama ini tidak pernah tersalurkan.
Maka segala ucapan, dan celetuk warga yang kadang disampaikan secara spontan, ini adalah aspirasi mereka yang dapat dijadikan sebagai referensi untuk menyusun rencana kegiatan yang akan datang demi kemanjuan dan meningkatnya syi’ar agama Islam. Skat-skat primordial dalam pengamalan ajaran agama Islam berbalik menjadi sikap ukhuwah. Demikian pula tumbuh kepeduliannya terhadap tempat ibadah. Sikap kedermawanan dari waga masyarakat juga meningkat terbukti bahwa disamping dengan iuran mereka juga dibebani untuk menyediakan konsumsi. Bahkan di rumahnya juga telah disiapkan aneka hidangan bagi tamu-tamu yang kemungkinan akan datang, baik itu teman, saudara, atau siapa saja yang mau mampir.

Di tengah-tengah masyarakat khususnya masyarakat desa setiap kegiatan PBHI, bagi semua jema’ah disediakan konsumsi, disamping snach juga makan besar yang di hidangkan dalam bentuk takir yang biasanya di bawa pulang. Bisa jadi ada jema’ah yang memperoleh takir lebih dari satu, bisa jadi mereka mintanya doble atau persediaan dari panitia yang lebih atau di beri oleh jema’ah yang lain. Karena ada saja jema’ah yang tidak mau membawa pulang biasanya karena malu atau bisa juga di rumah sudah ada, sehingga lebih baik diberikan pada orang lain yang mungkin lebih membutuhkan dan lebih bermanfaat.

Memang kadang bagi tuan rumah tidak akan bisa jenak untuk mengikuti taushiyah pengajian karena mereka sibuk untuk mengatur jema’ah, menjadi penerima tamu, menyediakan dan menyajikan konsumsi dan juga kadang menemani dan menjamu tamu di rumahnya. Semua anggota masyarakat terlibat dalam kegiatan ini. Bahkan sebelum pelaksanaan menjadi tradisi di masyarakat adanya punjung memunjung kepada orang tua, saudara yang berada di desa yang lain. Sehingga hal inipun dapat mengeratkan rasa ukhuwah dan dapat mengikis sifat bachil dan tak acuh terhadap orang lain.
Keramaian pasarpun menjadi meningkat, karena tingkat kebutuhan dalam masyarakat untuk berbelanja kebutuhan pokok, beras, minyak, sayuran dan lauk-pauk, walauapun harganya berbeda dari bulan sebelumnya mereka biasanya hanya mengikuti saja. Karena mereka sudah menyadari bahwa pada setiap bulan yang ada hari besarnya biasanya harga barang menjadi naik yang oleh pedagang dengan bahasa yang halus yaitu harganya berubah. Hari Besar Islam 1 Muharram yang pada tempo dulu belum mendapatkan tempat di masyarakat, sekarang sudah mulai gemanya. Dimana pada tanggal pergantian tahun digunakan untuk kegiatan, khatmil Qur’an, karnaval, pawai, pentas seni dan sebagainya.

Kuasa Allah
Dalam menyelanggarakan kegiatan PHBI misalnya maulid nabi Muhammad SAW, intinya adalah bagaimanakah untuk meneladhani nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah, sebagai pembawa risalah rahmatan lil ‘alamin, sebagai penerang ke jalan kebenaran. Riwayat beliau ketika masih kecil terkenal sebagai anak yang selalu jujur sehingga di sekitar teman-temanya di sebut sebagai Al Amin, setelah beliau dewasa dan diangkat menjadi rasul beliau mempunysi sifat-sifat terpuji shidiq, amanah, tabligh, fathanah. Sehingga dengan sifat-sifat ini beliau menjadi pribadi terhormat pada kaumnya dan pribadi yang disegani di kalangan musuhnya. Beliau adalah pribadi yang sempurna karena beliau adalah pemimpin Negara, pemimpin Negara, panglima perang, namun beliau selalu arif dan bijaksana, santun dan tegas (Lih. QS 48: 29), akhlaq beliau adalah Alquran.
Idul Adha 10 Zulhijah, ada moment untuk mengenang perjuangan, pengorbanan, ketaatan, ketawakalan, dan keikhlasan Bapak, Ibu dan anak. Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail, demi menjalankan perintah Allah apapun dijalankan. Sehingga pada bulan Zulhijjah ini ada dua moment besar yaitu Ibadah Haji yang dilaksanakan bagi orang-orang yang telah memenuhi syarat untuk memenuhi panggilan Allah, ibadah ini hanya dilaksanakan di tanahsuci. Sedang yang kedua adalah udhiyyah/qurban yang dilaksanakan di tanah air, bagi orang yang tidak berhaji dan mempunyai kemampuan untuk berqurban.

Haji merupakan ibadah yang terasa sangat istimewa, hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melaksanakan, secara umum bagi orang kaya tetapi ternyata tidak menjamin dengan kekayaannya akan dipanggil oleh Allah. Banyak orang dari kalangan ekonomi biasa-biasa saja namun mempunyai niat dan tekat yang kuat sehingga dapat memenuhi panggilan Allah. Begitu bahagia dan istimewanya akan melaksanakan haji sehingga setiap jama’ah biasanya menyelEnggarakan kegiatan walimatussafar atau muwadaah. Layaknya penyelenggaraan Hari Besar Islam yang lain, penyelenggaraan pengajian dengan susunan acara seperti penyelenggaraan pengajian akbar. Dengan mengundang qori’, da’i yang tersohor.

Seberapa jauhkan mau’idzah hasanah yang disampaikan oleh mubalih dalam memberikan taushiyah dapat memenuhi harapan jema’ah dan dapat memenuhi harapan dari panitia penyelenggara. Idealisme dari penyelenggara dan juga dari para tokoh agama dan masyarakat, taushiyah itu dapat mengisi relung kalbu, sehingga dapat merubah kebiasaan buruk masyarakat menjadi hal yang lebih baik. Tempat ibadah semakin ramai dengan kegiatan ke-Islaman, majlis taklim dan majlis zikir semakin semarak dan bergairah. Sejauh itu harapan adalah suatu hal yang diperbolehkan, namun kenyataan akan berbicara lain karena manusia tidak kuasa untuk merubah, manusia hanya mampu memberikan peringatan, menyampaikan kebenaran dan memberikan petunjuk untuk memperoleh hidayah dan rahmat Allah.(QS 2: 6, Shad 38:70)
Tetapi yakinlah bahwa walaupun hanya sedikit pasti ada yang dapat ditangkap dan dapat dilaksanakan. Jangan berharap untuk mendapatkan yang banyak tentang perubahan sikap dan perilaku karena berkaitan dengan pribadi masing-masing orang, tingkat kematangan jiwa, apalagi sifat pengajian umum yang harus melayani jemaah yang berbeda baik dari jenis kelamin, taraf pendidikan, pekerjaan, usianya.

Namun ketika kuasa Allah telah ditampakkan makan segala kesulitan menjadi kemudahan, dari yang tidak mungkin menjadi mungkin. Bagaimanakah tipe masyarakat yang kadang menilai pribadi orang perorang, bahwa dia adalah orang yang introfet, dia bakhil, dia munafiq, kaburo maqtan, indiviadualistis namun dengan lantaran penyelenggaran PBHI kesulitan dan keruwetan dalam kehidupan masyarakat menjadi terbuka, semuanya dapat saling memahami. Menyadari bahwa masing-masing orang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Semangat gotong- royong, tolong menolong, ta’awun, ta’aruf secara langsung dapat diaplikasikan. Mubaligh atau kyai yang memberikan taushiyah secara tidak langsung masyarakat telah meneladhani akhlaq Rasulullah SAW.
Rangkaian penyelenggaraan Hari Besar Islam, dari pembentukan panitia adalah azas kebersamaan dan kepemimpinan yang diajarkan oleh Rasulullah. Mengundang kyai, mubaligh, ulama’, umarok adalah sesuatu yang mulia. Karena kejayaan negara sangat tergantung pada bersatuanya ulama’, umaro serta rakyat. Menyambut dan memuliakan tamau dan undangan adalah perintah Allah. Gotong-royong bersih-bersih lingkungan, tempat ibadah juga merupakan perintah Allah. Mengeluarkan infaq dan shadaqah untuk kegiatan syi’ar Islam adalah kegiatan mulia. Bertemu dan berkumpulnya orang-orang akan menambah keeratan tali shilarahim.

Inilah bahwa Penyelenggaraan Hari Besar Islam termasuk kegiatan majlis taklim hendaknya jangan menuntut taushiyah dari pembicara akan diterima seratus persen dan kemudian dilaksanakan. Namun yakinlah bahwa walaupun hanya sedikit pasti ada yang membekas dan pelan-pelan akan menjadi fondasi dalam menjaga dan meningkatkan keimanannya kepada Allah SWT. Bila dibalik musibah dan bencana pasti ada hikmahnya, maka dibalik kegiatan mulia ada rahmat dan kasih sayang Allah.
Untuk wujud kasih sayang Allah akan kita sampaikan pada materi selanjutnya. Terima Kasih
Selengkapnya...

Syukur Kanthi Shalat lan Qurban-Khutbah Shalat Idul Adha 1435 H-Bahasa Jawa



Manungsa dipun paringi mapinten-pinten kenikmatan dening Allah, kathah lan warninipun ingkang boten saget dipun etang dening manungsa. Kejawi Allah paring kenikmatan punika Allah SWT ugi paring jejibahan dhateng manungsa, agami Islam sampun paring piugeran inggih punikakewajiban ingkang kedah dipun tindakaken dening tiyang-tiyang Islam. Contonipun shalat minangka ibadah harian lan qurban ingkang dados ibadah tahunan. kewajiban saking ngarsa dalem Allah SWT punika badhe kraos awrat menawi boten dipun bandingaken kalian kenikmatanipun Allah ingkang sampun dipun paringaken lan badhe dipun paringaken. Kanthi nuladhani tindak lampahipun Rasulullah Nabiullah Ibrahim lan Muhammad SAW, sedaya dhawuh minangka kagem mujudaken raos syukur dhateng Allah SWT. Pramila mangga kita tuladhani supados kita saestu dados ahsani taqwim.

ألسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَللهُ أَكْبَرُ x كَبِيْرًا وَالْحَمْدُللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا. لآ إِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. أَلْحَمْدُلِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ, نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى اَلَّذِى جَعَلَ الْخَلِيْلَ إِبْرَاهِيْمَ إِمَامًالَنَا وَلِسآئِرِالْبَشَرِ. أَشْهَدُ أَنْ لآ اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعاَلَمِيْنَ . أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبِه وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ, إِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allahu akbar 3x walillahil hamdu
Kaum muslimin jema’ah shalat Id Rahimakumullah
Mangga kita sedaya sami ningkataken iman lan taqwa dhumateng Allah SWT, inggih punika kanthi nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan nilar saha nebihi sedaya awisanipun. Allah sampun paring janji dhateng tiyang ingkang iman lan taqwa, Allah badhe paring margi ingkang gampil dhateng kawulanipun, margi ingkang awrat badhe dipun ringanaken, margi ingkang sisah badhe dipun gampilaken, margi ingkang peteng dhedhet badhe dipun padhangi lan saterasipun.






“Sapa wonge kang taqwa marang Allah mesthi Panjenengane bakal dadekake kajembaran kanggo dheweke, lan maringi rizki saking jurusan kang ora den kira-kirakake. Lan sapa wonge tawakal marang Allah, mesthi Allah bakal nyukupi (kaperluwane) dheweke”. (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Allah SWT zat ingkang Maha Kuwaos nanging Allah ugi Maha Welas Asih, wujud saking kuwaosipun Allah, kanthi qodrat lan irodatipun sedaya ingkang dipun kersakaken dening Allah saget maujud:






“Satemene tindake pangeran yen ngersakake (dumadine) sawiji-wiji iku amung ndhawuhake marang sawiji-wiji mau “dumadiya sira” mula banjur dumadi”. (QS. Yasin: 82)

Kanthi welas-asihipun, Allah saget mulyakaken dhateng kawulanipun lan kanthi kuwasanipun ugi saget dadosaken kawulanipun dados ina lan ashor. Mekaten punika kasebat ing dalem Alquran:








“Dhawuha sira (Muhammad): “Dhuh Gusti Pangeran ingkang kagungan kraton, Panjenengan maringi kraton punika dhumateng tiyang ingkang Panjenengan kersakaken lan Panjenengan mundhut wangsul kraton punika dhumateng tiyang ingkang Panjenengan kersakaken. Panjenengan mulyakaken dhumateng tiyang ingkang Panjenengan kersakaken lan Panjenengan ngasoraken dhumateng tiyang ingkang Panjenengan kersakaken. Inggih namung wonten ngarsa Panjenengan kemawon sedaya kesahenan. Lan sayektosipun Panjenengan punika dhamateng sedaya perkawis, ingkang Maha Kuwaos”. (QS. Ali Imran: 28)

Allahu akbar 3x walillahil hamdu
Kaum muslimin jema’ah shalat Id Rahimakumullah
Allah zat ingkang Welas Asih lan Maha Wicaksana, sedaya kawulanipun Allah kepingin dados tiyang ingkang gesangipun mulya, dipun cekapi sedaya ingkang dipun seja. Boten wonten tiyang ingkang kersa dipun paringi sakit lan cilaka, bendu lan rubeda. Sedaya manungsa ngersakaken gesang ingkang sakinah, mawaddah, rohmah, istiqomah, sejahtera lahir lan batinipun. Mekaten punika boten saget dipun perkoleh kanthi gratis, nanging dados perkawis ingkang kedah dipun usahakaken.





“Satemene Gusti Allah ora ngowahi kahanane sawijine kaum
nganti kaum iku dhewe kang ngowahi marang kahanane “. (QS. Arro’du: 11).

Allah paring janji lan Allah boten badhe cidra kalian janjinipun, syarat dados kawula ingkang dipun mulyakaken inggih punika kedah iman lan taqwa. Salah satunggalipun wujud saking iman inggih punika nindakaken shalat lan qurban, Allah SWT nate ngendika:








“Daging-daging onta lan getihe iku babar pisan ora bisa merkoleh (karilane) Allah, ananging ketaqwaan kang saka sira kabeh iku kang bisa merkoleh karilane Allah”. (QS. Al Hajj: 37)

Wonten ing dalem Alquran surat Al Kautsar ayat 1-3 Allah ngendika:








“ Satemene Ingsun wus maringake marang sira nikmat kang akeh. Mula shalata sira kerana Pangeranira lan gaweha qurban sira. Satemene wong kang nyengiti sira, hiya iku wong kang cunthel”.

Allahu akbar 3x walillahil hamdu
Kaum muslimin jema’ah shalat Id Rahimakumullah
Allah SWT sampun paring mapinten-pinten kenikmatan lan kamulyan ingkang dipun paringaken dhumateng para manungsa, melai awal Allah sampun nitahaken manungsa dados makhluk ingkang mulya lan sak bagus-bagusipun rupa. Amargi manungsa dipun titahaken dados khalifah lan kawulanipun Allah ingkang ghadhahi tugas ganda, kanthi mekaten pas sanget menawi manungsa punika dipun dadosaken makhluk ingkang paling sempurna.

Sasampunipun kedadosanipun punika dipun sempurnakaken, tumuli Allah paring mapinten-pinten hidayah, arupi panca indra, akal, qalbu lan agami. Boten wonten makhluk ingkang dipun paringi hidayah mekaten punika kejawi manungsa. Ngengingi tanggel jawabipun manungsa punika langkung kathah lan awrat, Allah nyempunakaken malih kanthi paring mapinten-pinten kenikmatan, ing antawisipun:

Sepindhah arupi nikmat panjang yuswa, kanthi panjang yuswa, kita tasih saget nindadaken lan ningkataken amal ibadah dhateng Allah. Menawi ing sak lebetipun gesang punika rumaos lan ngrumaosi dados makhluk ingkang boten badhe uwal saking “khata’ lan nisyan” lepat lan supe ingkang badhe damel dosa sahingga tansah ngathah-ngathahaken istighfar. Lan menawi dosa ageng ingkang dipun tindakaken tumuli mertobat, boten badhe ngambali malih lan ugi badhe nggantos pedamelan awon kanthi pedamelan ingkang sae.

Amal ibadah punika ingkang badhe dados rencang lan sedherek sasampunipun seda, kita saget mendhet hikmah saking perjalanan ibadah haji, sedaya pangkat, jabatan, mas picis raja brana, kendaraan lan griya ingkang mewah dipun tilar kejawi namung iman ingkang tinancep ing salebetipun manah. Iman badhe dados semangat anggenipun nindakaken ibadah ing tanah suci.

Kaping kalih nikmat sehat, sehat punika reginipun awis, boten wonten tiyang ingkang kepingin sakit, amargi nalika sakit, dahar, ngunjuk, sare, lungguh lan jumeneng boten badhe sekeca. Dhaharan ingkang sarwa eco dados ical raosipun, unjukan ingkang seger inggih dados pahit lan saterasipun. Dereng malih menawi kedah mertamba ing griya sakit lan sanesipun, boten sekedhik biaya ingkang kedah dipun dalaken. Sehat lahir lan batos kedah dipun syukuri, syukur billisan kanthi maos Alhamdulillah. Syukur bil hal kanthi ningkataken amal ibadah, kaleres ibadah mahdhah lan ghoiru mahdhah. Ibadah spiritual, ritual lan sosialipun dipun wujudaken.

Kaping tiga sempat, wekdal sempat utawi longgar. Sedaya tiyang dipun paring wekdal sami inggih punika 24 jam ing setunggal dintenipun. Kanthi wekdal punika, wonten tiyang ingkang saget bagi wekdal lan merhatosaken wekdal. Sinaosa nembe kathah pakaryan nanging nalika pikantuk panggilan nindakaken shalat inggih cekat-ceket nindakaken shalat. Nanging wonten ugi kathah wekdalipun ingkang longgar, nanging nalika nampi panggilan nindakaken shalat, panggilan punika boten dipun gatosaken. Kita kedah enget bilih manungsa punika nate ribet, nanging sak ribet-ribetipun tiyang inggih punika, nalika kedah saget maos kalimat tauhid ing akhir hayatipun. Amargi Rasulullah nate ngendika “Sapa wonge kang ing akhir hayatipun bisa ngucap la Ilaha illaah daholal jannah”.

Kanthi mapinten-pinten kenikmatan ingkang dipun paringaken Allah dhumateng kita sedaya, saterasipun Allah paring dhawuh supados nindakaken shalat lan nindakaken qurban. Shalat dados pokokipun agami, sedaya tindak lampahipun tiyang Islam punika gumantung kalian shalatipun. Shalat ingkang khusuk lan berkualitas saget nedahaken sedaya pakertinipun dhateng kemaslahatan. Malah shalat saget nebihaken saking pedamelan keji lan munkar.

Shalat gangsal wekdal punika syari’at Allah ingkang dipun dhawuhaken dhateng Rasulullah Muhammad SAW, menawi qurban punika syariat Allah ingkang dipun paringaken dhumateng nabi Ibrahim nanging dipun terasaken wonten syari’at nabi Muhammad, semanten ugi ibadah haji. Rasulullah SAW sinaosa dados pribadi ingkang maksum, dipun jagi saking tumindak dosa lan dipun jamin mlebet ing suwarga, nanging tansah nindakaken shalat, amargi shalat punika semata-mata kagem mujudaken raos syukur dhumateng Allah SWT.

Nabi Ibrahim salah setunggalipun kekasihipun Allah, Ibrahim pribadi ingkang ikhlas, tawakal lan dermawan. Amargi sifat dermawanipun nate dipun uji, lantaran wonten malaikat ingkang nyimpe dados manungsa, kenging punapa tansah ngathah-ngathahaken anggenipun ngedalaken infaq lan shadaqah, Ibrahim ngendika, bandha punika dereng sak pintena, lamun ingsun diparingi putra lan didhawuhi ngurbanake yekti bakal ingsun qurbanake.

Sahingga nalika Ibrahim wonten yuswa sepuh dipun paring putra. Lan prasasat sampun supe kalian pangandikan ingkang sampun dipun ngendikakaken. Nalika dipun paringi putra kakung ingkang sanget dipun trisnanani. Allah paring dhawuh supados nyembelih dhateng putranipun, Ibrahim boten selak semanten ugi Islamil putranipun. Kekalihipun pribadi ingkang tawakal dhateng Allah. Kabukten belih dhawuhipun Allah punika namung kangge ujian dhateng kawulanipun. Lan Allah gantos kalian hewan domba.








“Mula rikala bocah iku wus tumeka (umur) bisa mlaku bebarengan karo Ibrahim, Ibrahim ngendika “He putraningsun, ngger satemene ingsun mirsani sajrone sare, menawa ingsung nyembelih marang kang salira. Mula coba pikiren kepriye mungguh kang salira? “ Dhuh rama, rama kawula aturi nindakaken punapa ingkang dipun dhawuhaken dhumateng panjenengan. Insya-Allah panjenenngan badhe manggihi ingkang putra kalebet tiyang-tiyang ingkang sabar”. (QS. Ash Shaffat: 102)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ


Selengkapnya...

Ikhlas, Dapat Menuntaskan Pekerjaan Melebihi Target



Pada suatu saat saya kedatangan seorang teman, pada hari itu mukanya tampak berseri-seri, nampak ada tanda-tanda kepuasan dalam dirinya. Memang pada hari itu tidak seperti biasanya dia curhat pada saya tentang suatu apapun, datang dengan muka masam, buram, seakan ada beban yang menghimpitnya. Belum sempat saya bertanya, ternyata teman saya itu mengawali ceritanya terlebih dahulu. Bahwa sejak pagi hingga siang dan petang, ketika berada ditempat kerja dirinya mau berbenah-benah rumah. Dimana rumahnya yang baru saja direhab, peralatan rumahnya banyak yang berantakan, ada almari pakaian, almari buku, rak sepatu, rak piring sampai pada bekas pintu dan jendela dan peralatan-peralatan lainnya.

Dari sekian banyak perlengkapan rumah yang disimpan dan akan digunakan lagi. Dia berharap dapat memindahkan almari pakaian atau membongkar papan dan pekas jendela dan pintu yang ditumpuk. Terasa pekerjaan itu sangat berat, dimana dalam sehari dia bekerja dan pulang sampai rumah pukul 17.00 baru saja istirahat dirumah, harus mandi dan segera berangkat ke musholla untuk shalat maghrib kemudian dilanjutkan mengajar anak-anak hingga waktu shalat Isya’. Selesai shalat Isya’ pulang ke rumah untuk makan dan bercengkrama dengan keluarga, walaupun pikirannya terpecah karena ada dua hal, menyelesaikan salah satu atau kedua-duanya. Mengajak anak-anaknya tidak mungkin karena mereka masih kecil-kecil, mengajak istrinya juga terasa tidak mungkin, disamping istrinya juga capek seharian telah bekerja dan biasanya istrinya susah untuk bersama-sama bekerja, biasanya ada alasan ini dan itu yang tidak logis.

Dengan perasaan yang terpaksa dan bekerja yang dipaksakan, dia berupaya untuk menahan diri untuk tidak banyak kata, tidak marah dan tidak tergesa-gesa. Dia berupaya menurut kemampuannya, bila dapat diselesaikan ya syukur kalau tidak bisa, besok masih ada waktu. Dalam hati dia meneguhkan, bahwa sesuatu yang besar itu berawal dari sesuatu yang kecil. Pekerjaan yang berat dan besar tidak akan dapat diselesaikan kalau hanya dipikirkan. Apalagi hanya marah-marah yang justru akan manghabiskan energy, bahkan kadang bisa menimbulkan penyakit yang sama sekali tidak disangka-sangka.

Dengan mengawali membaca “Bismillahirrahmanirrahim”, dia segera bergegas berganti pakaian kerja tak lupa memakai topi. Walaupun waktunya sudah cukup malam tetapi sekan-akan waktu pagi hari, dia bersemangat untuk bekerja, satu pekerjaan berupaya untuk diselesaikan. Dia mengatakan, pada waktu itu dia cukup terhibur dimana ketika sedang membongkar tumpukan papan jendela dan pintu, ditengah tengah terdapat cindil tikus, tidak tanggung-tangung jumlahnya ada sembilan. Dia berkata “masya-Allah” pantas saja cepat sekali perkembangannya. Dua minggu lagi dia pasti menjadi anak tikus yang siap bereaksi menjadi musuh para petani, termasuk ibu rumah tangga, karena sering merusak dan memangsa apapun yang dapat dimangsa.

Papan, bekas djendela dan pintu satu persatu diangkat ternyata tidak sampai hitungan jam dapat diselesaikan. Dalam hati dia berkata “ternyata hanya segini”, tidak ada perasaan capek sedikitpun. Begitu selesai dia segera membenahi dan membersihkan tempat sekelilingnya. Dalam hatinya lega ternyata pekerjaan yang tadinya hanya satu saja dapat diselesaikan ternyata telah siap untuk menyelesaikan pekerjaan yang lain.

Kaki segera melangkah pada almari pakaian, satu tumpukan demi tumpukan pakaian diangkat dan dikeluarkan untuk selanjutnya ditempatkan pada lantai yang telah digelar tikar terlebih dahulu. Setelah pakaian semua dikeluarkan. Dengan pelan dan pasti dia mengambil keset lalu diletakkan dua kaki alamari. Lalu almari didorong, pelan-pelan almari dapat pindah posisi masuk pada kamar tidur yang telah disiapkan. Setelah almari baju bertempat pada posisi yang dikehendaki, pakaian kembali diangkat dan dimasukkan kembali ke dalam alamari. Dua pekerjaan ternyata dapat diselesaikan, dia berfikir untuk dapat membersihkan atau mengepel lantai yang terasa benyak debunya. Tanpa berfikir terlalu lama kaki segera malangkah mengambil pel dan pembersih lantai berikut ember berisi air. Ternyata pekerjaan ini dapat diselesaikan. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, mengapa pekerjaan ini dapat diselesaikan bukan hanya satu atau dua pekerjaan yang dapat dieselesaikan, tetapi tiga pekerjaan secara berturut-turut dapat diselesaikan.

O, begitu, kataku kepadanya. Pantas saja kamu nampak puas dan bahagia. Saya kira kamu baru saja dapat bonus atau rapelan begitu. Dia berkata lagi, “tidak kawan, ternyata kebahagiaan, kepuasan itu kadang tidak karena uang dan tidak dapat diukur dengan uang, apakah ini namanya bekerja dengan ikhlas ya?

Itulah bahwa bekerja dengan ikhlas akan membuahkan kepuasan dan kebahagiaan. Yang berat akan terasa ringan, yang sulit akan terasa mudah. Karena itu seandainya kehidupan ini telah diwarnai dengan keikhlasan yakin akan penuh dengan ketenangan, kedamaian, kemakmuran dan kesejahteraan serta memperoleh ridha dari Allah. Walaupun sering kali keikhlasan itu harus dipaksakan, keikhlasan harus diperjuangkan, dan keikhlasan memerlukan pengorbanan.
Selengkapnya...

Mujudaken Pasedherekan - Khutbah Bahasa Jawa


Sedaya umat manungsa ing alam dunya punika satuhunipun setunggal sedherek, amargi menawi dipun runtut asalipun manungsa punika saking setunggal tiyang, inggih punika nabi Adam, tumuli Gusti Allah dadosaken Siti Hawa ingkang dipun titahaken saking iga kiwanipun nabi Adam. Sapunika umat punika sampun berkembang dados kathah. Pramila saking kathahipun prasasat dados manungsa ingkang beda. Kanthi mekaten ing salebetipun Islam pasedherekan punika mengku tigang perkawis inggih punika mergi saking keturunan, agami lan papan panggenan. Tigang perkawis punika kedah dipun wujudaken supados gesang ing alam dunya punika pikantuk raos aman, ayem lan tentrem. Ing antawis setunggal lan setunggalipun tansah mujudaken raos katrisnan, mong tinemong, wasiyat winasiyatan lan saterasipun.

اَلْحَمْدُلِلّٰهِ الَّذِى يَهْدِى مَنْ يَشَاءُ اِلَى صِرَاطِ مُّسْتَقِيْمِ نَحْمَدُهُ سُبحَانَهُ وَهُوَ الْبَرُّالرَّحِيْمُ, أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْـدَهُ لاَشَـرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ . أَمَّا بَعْدُ.فَيَا عِبَادَ اللهِ, اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ .

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Mangga kita sami tingkataken iman lan taqwa kita dhateng Allah SWT, kita tindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan kita tilar saha kita awisi sedaya awisanipun Allah. Mugi kita pikantuk kamulyan lan kabegjan wiwit saking dunya dumugi akherat samangke, amin.

Gesang ing alam dunya punika, manusia ghadhahi tugas lan tanggel jawab minangka makhluk pribadi, sosial lan makhluk Allah. Mekaten punika amargi manungsa makhlukipun Allah ingkang dipun ciptakaken saking setunggal tiyang, inggih punika nabai Adam alaihi salam. Allah SWT ngendika:



“ He manungsa kabeh, satuhune Ingsun (Allah) wus dadekake sira kabeh saking wong lanang lan wadon siji, lan dadekake dadi berbangsa-bangsa lan bersuku-suku supayane sira kabeh padha saling kenal, satuhune kang paling mulya ing ngarsane Gusti Allah yaiku wong kang paling taqwa, satuhune Allah Maha Pirsa lan Maha waspadha”. (QS. Al Hujurat: 13)

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Ayat punika nedahaken dhateng manungsa supados sami saling kenal, sinaosa sapunika sampun dados masyarakat kanthi maneka warna budaya, bahasa, seni, ras lan agami, semanten ugi sapunika dipun bedakaken kanthi wilayahipun, wonten masyarakat Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya, lan wonten ing manca negari kados ing Malaysia, Singapura, Thailan, Brunai Darusalam, Banglades, Arab Saudi, Mesir, Amerika lan saterasipun. Sajatosipun menawi dipun runtut inggih tasih sedherek.

Kanthi mekaten menawi kita gatosaken pasedherekan punika saget kaiket kanthi tigang perkawis:
Sepindhah: Pasedherekan ingkang dipun iket kanthi sebab garis keturunan, Allah SWT ngendika:


“ Diharamake ing atase sira kabeh (ngrabeni) ibu-ibunira, anak-anakira kang wadon, sedulur-sedulur ira kang wadon, sedulur-sedulure bapakira kang wadon, sedulur-sedulur ibunira kang wadon, anak-anak wadon saka sedulur-sedulurira kang lanang, anak-anak wadon saka sedulur-sedulurira kang wadon, ibu-ibunira kang nusoni sira kabeh, sedulur wadon tunggal susu, ibu-ibune bojo wadonira (anak kuwalon) kang sajrone pawengkonira saka bojo wadon kang wis sira kumpuli, ananging kalamun sira durung ngumpuli bojo wadonira (ibune anak kuwalonira) iku (lan wis sira pegat) mula sira ora dosa ngrabeni anake (lan diharamake tumrap sira) bojo-bojo wadone anak kandhungira (mantu wadon) lan ngumpulake (wayuh) sedulur wadon loro, kajaba kang wus kalakon ana ing mangsa ndhisik (jaman jahiliyah). Satuhune Allah iku zat kang agung pangapurane tur agung welase” (QS. Annisa’: 23)

Pasedherekan punika dipun landasi amargi saking keturunan ingkang sami, sahingga saking sebab punika wonten hak waris lan boten dipun parengaken sami nikah kalian sedherekipun. Ananging amargi penduduk tambah kathah sahingga lajeng benten suku, adat seni, budaya lan bahasa satemah ingkang mekaten punika tasih kalebet sedherek, Allah SWT ngendika:


“ Lan ing antarane tandha-tandha kekuwasaane, hiya iku Panjenengane nitahake langit lan bumi lan beda-bedane basanira kabeh lan warnane kulit ira kabeh. Satemene ana mengkono iku yekti ana tandha-tanndha tumrap wong-wong kang padha ngerti”. (QS. Arrum: 22)

“ Lan (Ingsun wus ngutus) marang kaum ‘Ad sadulure dheweke, hiya iku Hud. Dheweke dhawuh: He kaum Ingsun padha nyembaha sira kabeh marang Allah, temenan ora ana Pangeran tumrap sira kejaba mung Panjenengane. Mangka kenapa sira ora padha taqwa marang Panjenengane”. (QS. Al A’rof: 65)

Kaping tiga: Pasedherekan ingkang dipun iket kanthi agama, Allah SWT ngendika:


“ Satemene wong-wong mukmin iku seduluran jalaran sangka iku gaweha pirukunan ing antarane rong golongan iku lan padha taqwaha marang Allah supaya sira intuk rahmat”. (QS. Al Hujurat: 10)

Sinaosa agami lan keyakinan kita benten nanging kita dipun dhawuhi supados tansah paring pikurmatan, Allah SWT ngendika:

“ Allah ora nyegah sira kabeh kanggo nglakoni kabejikan lan tumindak adil marang wong-wong kang ora nyatroni sira kabeh kerana agama lan (uga) ora nundhung sira kabeh saking Negara ira kabeh. Satemene Allah remen marang wong-wong kang tumindak adil”. (QS. Al Mumtahanah: 8)


“ Dhawuha sira (Muhammad): He wong-wong kafir! Ingsun ora bakal nyembah apa kang sira sembah, lan sira dudu wong kang nyembah Pangeran kang Ingsun sembah. Lan Ingsun ora bakal pernah dadi wong kang nyembah apa kang sira sembah, lan sira (uga) ora bakal pernah dadi wong kang nyembah Pangeran kang Ingsun sembah. Tumrap sira, agamanira dhewe, lan tumrap Ingsun agama Ingsun dhewe”. (QS. Al Kafirun: 1-6)

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Islam boten namung paring dhawuh dhateng umatipun supados tansah mujudaken pasedherekan lan welas asih, ananging kedah kados pundi supados pasedherekan punika tambah raket lan kiat. Kanthi mekaten kedah dipun tebihaken sedaya sikap ingkang saget ngrisak pasedherekan, contonipun ngina dhateng tiyang sanes, nyana ala, paring laqab utawi gelar ingkang awon, ngrasani, pados-pados awon lan cacatipun tiyang sanes. Menawi perkawis punika saget kita singkiri insya-Allah pasedherekan gesang punika saget kasembadan kanthi sae, amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Selengkapnya...

Kotak Komentar