Saling Menghormati Anggota Keluarga



Setiap manusia tentu mempunyai keluarga, sebagai tempat berlindung, berkumpul, berbagi suka dan duka. Ada keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Dan keluarga yang besar terdiri dari ayah, ibu, dua anak atau lebih, kakek, nenek, pembantu. Keluarga adalah diibaratkan sebagai suatu bangunan. Kuatnya suatu bangunan bila semua unsur saling keterkaitan, saling berhubungan, saling menguatkan dan setiap unsur berada pada posisinya. Fondasi bangunan yang kuat akan menentukan kokohnya suatu bangunan, tiang menjadi penyangga bangunan, pagar atau tembok sebagai penutup dan pemisah antara satu bagian dengan yang lain. Glogor, blandar, usuk, reng sebagai kerangka kap suatu bangunan, atap sebagai penutup bangunan dari panas dan hujan.

Setiap bangunan sudah mempunyai fungsi yang berbeda, jangan sepelekan bagian yang kecil. Karena dia akan menjadi penopang kokohnya suatu bangunan. Demikian pula kerusakan betapapun kecilnya harus diperbaiki. Misalnya atap yang bocor walaupun kecil akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Keluarga diibaratkan suatu bangunan, kokohnya keluarga antara satu anggota dengan yang lain hendaknya saling terjalin untuk saling menghormati, menghargai, saling asah, asih dan asuh.

Karena itu Allah SWT berpesan:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al Hujurat: 11-12)

Merendahkan, menghina, mencela, memanggil dengan panggilan yang buruk, berburuk sangka, mencari kesalahan dan suka bergunjing hal ini adalah sikap dan perilaku yang merusak sendi-sendi untuk saling menghormati. Karena perlu disadari sesungguhnya andaikan yang dihina, dicela, diejek dicari-cari kesalahnnya adalah keluarganya pada dasarnya dia mencela dirinya sendiri. Rasul bersabda:

"الْمُؤْمنُ للْمُؤْمِن كَالْبُنْيَانِ يَشدُّ بعْضُهُ بَعْضاً " وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِه . متفق عليه .

Seorang mu'min terhadap mu'min yang lain itu adalah sebagai bangunan yang sebagiannya mengokohkan kepada bagian yang lainnya," dan beliau SAW merenggangkan antara jari-jarinya." (Muttafaq 'alaih)

مثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وتَرَاحُمِهِمْ وتَعاطُفِهِمْ ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَداعَى لهُ سائِرُ الْجسدِ بالسهَرِ والْحُمَّى " متفقٌ عليه .

"Perumpamaan kaum mu'minin dalam hal saling sayang-menyayangi, saling kasih mengasihi dan saling iba-mengiba itu adalah bagaikan sesosok tubuh. Jikalau salah satu anggota dari tubuh itu ada yang merasa sakit, maka tertarik pula seluruh tubuh, karena ikut merasakan sakitnya, dengan berjaga, tidak tidur, serta merasa panas." (Muttafaq 'alaih)

Sikap saling menghormati menjadi sarana kokohnya suatu keluarga, dan pembelajaran yang baik ini akan berpengaruh dalam pergaulan ditengah-tengah masyakat serta di segala komunitas senantiasa akan mengembangkan sikap saling menghormati. Ada beberapa model dan cara untuk mengembangakan sikap saling menghormati khususnya dalam keluarga:

  1. Bertutur kata yang baik, panggillah dengan panggilan yang baik, bila terhadap yang tua panggillah dengan kakek, nenek, ayah, ibu, bapak, papa, mama, abi umi, kakak, mbak, mas, om, tante. Dan panggilan dari orang tua kepada yang lebih muda dengan nak, dik, le, nang, gus dan lainnya. Sehingga panggilan yang baik ini akan berpengaruh terhadap orang yang dipanggil. Bandingkan bila memanggil langsung pada penyebutan namanya, tentu akan menimbulkan perasaan yang tidak baik.
  2. Jauhkan dari kata-kata yang kotor bila mendapati saudaranya melakukan kesalahan tetapi berilah dengan nasehat yang baik. Sesungguhnya kata-kata yang kotor akan membawa perubahan sikap dan perilakunya baik terhadap sesama keluarga maupun perilaku dalam beraktifitas. Bila sebagai pelajar atau santri akan menimbulkan kurang minat belajar dan bagai pegawai, karyawan dan pekerja akan menurunkan minat kerja serta sikap yang kurang simpatik.
  3. Tutur kata memegang peran penting dalam sikap dan perilaku, sehingga dalam bahasa jawa terdapat basa karma inggil, madya lan ngoko. Dengan basa jawa krama akan menjaga keharmonisan dan dapat mengindarkan percekcokan. Misalnya anak pada orang tua, istri dengan suami. Dan untuk melakukan pendidikan yang tuapun bisa berhasa jawa krama dengan yang lebih muda.
  4. Menjaga akhlaq, sopan-santun, perbuatan dan berusaha untuk memberikan teladan.
  5. Biasakan untuk memberikan pujian dan penghargaan bila yang lain telah pekerjaan yang mendatangkan kebaikan.
  6. Mendengarkan ketika dinasehati atau mendengarkan saat saudara yang lain bicara, tidak memotong atau meninggalkan pembicaraan sebelum semuanya jelas.
  7. Terdapat sikap saling bertegur sapa, menolong, setiap ada kesulitan akan ditanggung secara bersama.


Bila senantiasa dapat mengembangkan sikap demikian ini tentu akan dapat mewujudkan keluarga yang bahagia, sejahtera lahir dan batin, keluarga yang menjadi idaman setiap orang.
Selengkapnya...

Berkah Puasa dalam Keluarga



Puasa Ramadhan adalah perintah Allah yang ditujukan kepada orang-orang yang beriman, tujuan akhir puasa adalah untuk menjadi orang yang bertaqwa. Karena itu taqwa adalah suatu predikat yang yang harus diusahakan. Ingin menjadi orang yang taqwa diantaranya dengan meleksanakan puasa Ramadhan. Setiap perintah Allah akan membawa konsekwensi, hikmah, barakah dan keutamaan. Demikian pula puasa Ramadhan banyak membawa hikmah, rahmah dan berkah, bagaimanakah berkah puasa dalam keluarga?

Kata berkah berasal dari kata barakah menurut bahasa adalah azziyadah yang berarti tambahan, nilai tambah. Assa’adah kebahagiaan, addu’a doa, al manfaah kemanfaatan, al baqa’ kekal, attaqdis sesuatu yang suci. Adapun menurut istilah adalah tsubutul khairillahi fisy-syai yaitu Allah menetapkan kebaikannya itu di dalam sesuatu (yang telah ditentukan Allah). Dengan barakah itu pada mulanya orang tidak mempunyai apa-apa lalu Allah menetapkan keberkahannya, maka orang itu menjadi mulia. (Tafsir Mau’udhui, Pembangunan Ekonomi Umat, Kementerian Agama RI 2012: hal 145)
Jika dalam harta terdapat barakah, maka harta itu baik, bermanfaat dan mencukupi bahkan nilai kualitasnya melebihi nilai kuantitasnya. Keberkahan dari Allah kadang datang dari arah yang tidak di duga atau dirasakan secara materiil dan tidak pula dibatasi atau bahkan diukur. Rasulullah SAW pernah berdoa dan di baca berulang-ulang Allahummafirli dzanbi wawassi’li fi daari wa barikli fi rizki wahai Allah, ampunilah dosaku, lapangkanlah bagiku rumahku dan berkailah aku dalam rezkiku.
Keluarga menjadi pilar utama untuk meraih keberkahan:


“ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(QS. Attahrim: 6)

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan, bahwa menurut Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, makna “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Yakni amalkanlah ketaatan kepada Allah dan hindarilah perbuatan-perbuatan durhaka kepada Allah, serta perintahkanlah kepada keluargamu untuk berzikir, niscaya Allah akan menyelamatkan kamu dari api neraka.

Menurut Qatadah makna “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” yaitu memerintahkan untuk taat kepada Allah dan mencegah dari perbuatan durhaka kepada Allah, menegakkan perintah Allah, menganjurkan melaksanakan dan membantu untuk mengamalkannya. Bila melihat perbuatan maksiat terhadap Allah berada disekitarnya, maka harus dicegah dan melarang untuk melakukannya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ad-Dahhak dan Muqatil, bahwa sudah merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim mengajarkan kepada keluarganya, baik dari kalangan kerabatnya ataupun budak-budaknya. hal-hal yang difardukan oleh Allah dan mengajarkan kepada mereka hal-hal yang dilarang oleh Allah yang harus mereka jauhi.

Dalam hadis Rasulullah SAW pernah bersabda:
مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ، فَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا رواه ابوا داوود)

“Perintahkanlah kepada anak untuk mengerjakan salat bila usianya mencapai tujuh tahun; dan apabila usianya mencapai sepuluh tahun, maka pukullah dia karena meninggalkannya”. (HR. Abu Dawud)

Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar memulai melakukan pendidikan, pelatihan dan sekaligus pembiasaan perbuatan baik, perbuatan yang diperintahkan Allah dan tidak dilarang oleh agama dimulai dari dirinya sendiri. Bila meneladani Rasulullah SAW bahwa apa yang beliau lakukan itulah yang telah beliau katakana, dan apapun yang beliau katakan tentu dilakukan. Karena itulah beliau menjadi figur uswatun hasanah/ suri tauladhan yang baik..

Setelah melakukan pembinaan terhadap dirinya sendiri dilanjutakan dengan pembinaan terhadap keluarga. Puasa Ramadhan menjadi mementum untuk melakukan pendidikan dan sekaligus ajang shilaturrahmi dalam keluarga. hal ini tentu saja tidak lepas dari perilaku hidup di zaman modern yang menuntut cepat, mudah bahkan kadang instan. Ketika masing-masing anggota keluarga sudah sibuk dengan urusannya masing-masing. Bahkan kadang-kadang hanya bisa bertemu pada waktu pagi hari dan malam hari saja, bahkan orang tua yang mempunyai anak masih kecil pagi hari melihat anaknya masih tidur, pulang kerja anaknya sudah tidur, setiap pribadi sudah menghabiskan waktu ditempat kerja.

Puasa bukan hanya upaya untuk menahan diri untuk tidak makan, minum dan berhubungan sex sejak waktu imsya’ hingga terbenam matahari. Ternyata diiringi dengan perilaku positif untuk menambah kuantitas ibadah, misalnya tentang shalat sunnah, tadarus Alquran, meningkatkan infaq, shadaqah, dan amaliyah ibadah lainnya. Sehingga diharapkan akan menjadi kebiasaan yang kelak akan dilaksanakan dengan ringan, mudah dan tanpa beban sehingga dari kuantitas ibadah akan beralih menjadi ibadah yang berkualitas.

Karena itu ternyata momentum puasa Ramadhan bisa mendatangkan keberkahan:

  1. Puasa Ramadhan menjadi langkah untuk mewujudkan kelurga sakinah, mawaddah dan rahmah. Dalam puasa akan menanamkan keyakinan yang mantap, sifat sabar, ikhlas, disiplin, menyadarkan sikap bertanggung jawab. Keluarga idaman bukan datang dengan sendiri namun harus diupayakan. Ibadah puasa menjadi salah satu media yang akan mendatangkan keberkahan. Bagaimana akan menjadi keluarga Samara bila dalam keluarga tidak tertanam sikap disiplin, ikhlas, sabar, keyakinan yang utuh terhadap janji dan ancaman Allah.
  2. Setiap keluarga bisa berkumpul disaat berbuka dan sahur. Berbuka puasa dan sahur menjadi momentum kebersamaan dalam keluarga. Bagaimanakah setiap diri bisa saling mengingatkan untuk meneladani cara makan yang dilakukan oleh Rasulullah, berdoa sebelum makan, mengambil yang terdekat, tidak berlebihan, tidak sambil bergurau, mengunyah tidak berbunyi, sambil duduk. Termasuk disaat berbuka dan sahur orang tua bisa menanyakan tentang segala hal yang berkaitan dengan putra-putrinya, misalnya tentang sekolahnya, temannya, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Inilah keberkahan yang dirasakan untuk saling asah, asih dan asuh dalam keluarga benar-benar bisa terwujud.
  3. Bersama-sama menyempunakan ibadah dengan menegakkan shalat tarowih. Ibadah shalat tarowih bisa saling memberi motivasi sesama muslim untuk berbondong-bondong ke tempat shalat. Karena ibadah yang dilaksanakan secara bersama-sama akan lebih semarak dan bergairah. Puasa Ramadhan menjadi keberkahan bahwa putra-putri dan keluarga akan turut mengikuti shalat Tarowih, disamping itu juga akan mengikuti siraman rohani berupa kultum dan kehiatan tadarus Alquran. Karena itu keberkahan yang berupa amaliyah ibadah, setiap diri dalam keluarga hendaknya bisa saling memotivasi. Sehingga motivasi secara jam’iyah akan memotivasi keluarga dan keluarga akan memotovasi setiap anggota. Karena itu keberkahan ini hendaknya selalu ditingkatkan dan diwujudkan. Sehingga ibadah shalat Tarowih yang biasanya sangat ramai pada 10 hari yang pertama, hal ini karena motivasi jam’iyah. Maka hendaknya pada 20 hari terakhir motivasi justru berasal dari tiap diri dan keluarga bisa saling memotivasi agar pelaksanaan shalat tarowih selama bulan Ramadhan akan tetap semarak dan bergairah.
  4. Makanan dan minuman yang enak. Pada bulan Ramadhan pada umumnya berupaya untuk menyediakan menu spesial untuk berbuka dan sahur, menu ini biasanya jarang ditemukan bila tidak sedang berpuasa. Sehingga saat berbuka menjadi saat yang dinantikan. Pada dasarnya di saat lapar dan dahaga, makan dan minum apapun tetap enak, namun tenyata saat berbuka sudah mengupayakan dengan hidangan yang berbeda.
  5. Pada saat akhir bulan Ramadhan akan diakhiri dengan Idul Fitri, saat itulah pada umumnya disaat shalat Id dan shilaturrahmi berupaya untuk mengungkapkan kegembiraan dengan mensyukuri atas nikmat Allah, bergembira merayakan Idul Fitri dengan makanan beraneka macam dan pakaian yang bagus-bagus. Bukan berarti berlebih-lebihan, namun tentu saja ketika semuanya ini tersedia maka orang lainpun akan turut merasa senang. Karena hal ini telah diantisipasi bagaimana agar disaat Idul Fitri semua umat Islam berada dalam kegembiraan. Sehingga bila ada diantara saudara-saudara muslim yang berada dalam kesedihan dan kekurangan maka Islam mengatasinya dengan memberikan zakat fitrah.
  6. Pada bulan Ramadhan nuansa syiar semakin jelas ketika didalam rumah banyak terdengar bacaan Alquran, siaran, ceramah Islam, musik dan sinetron religi.

Begitulah bahwa secara umum setiap perintah Allah pasti ada hikmahnya dan melaksanakan perintah Allah pasti akan mendatangkan keberkahan. Apalagi melaksnakan puasa maka doanya akan dikabulkan Allah, dan melaksanakan puasa Ramadhan maka pahalanya langsung akan diterima oleh Allah SWT. Dan bagi setiap muslim yang melaksanakan amal ibadah pada bulan Ramadhan maka pahalanya akan lipatgandakan oleh Allah, sehingga bila dapat menyempurnakan ibadah puasa maka Allah memberikan keluasan untuk memasuki surga-Nya.

Selengkapnya...

Menyambuat Ramadhan Hikmah, Barokah, Rahmat, Maghfirah dan Raih Surga.



Allah SWT berfirman “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. Al Baqarah: 183)

Sebentar lagi kita akan masuk pada bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh dengan hikmah, rahmat, barokah dan maghfirah. Bulan dimana seluruh amal ibadah umat Islam dilipatgandakan mulai dari 10 hingga 700 kali. Bulan dimana ketika umat Islam melaksanakan ibadah sunnah akan dicatat pahalanya sebagai ibadah yang wajib, bulan Ramadhan dimana pintu surga dibuka seluas-luasnya dan pintu neraka ditutup, bahkan untuk memberikan kesempatan bagi setiap muslim dengan keleluasaan masuk ke dalam surga, maka Allah membelenggu para syetan yang menjadi musuh hidup bagi manusia. Puasa akan menjadi benteng. Puasa akan membentuk pribadi yang sehat.

Pada bulam Ramadhan Allah SWT menurunkan Alquran sebagai petunjuk hidup umat manusia dan sebagai penjelas atas wahyu Allah yang diberikan kepada nabi Muhammad SAW. Bahkan dalam bulan tersebut Allah juga akan memberikan keutamaan beribadah dalam satu malam akan dicatat sebagaimana ibadah seribu bulan. Yaitu bagi muslim yang beribadah bertepatan dengan peristiwa lailatul qodar.

Karena itu dengan berbagai macam keutamaan dan kemurahan Allah, bagaimanakah sikap kita ketika akan memasuki bulan Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّ مَ اللهُ جَسَادَهُ عَلَى النِّيْرَانِ

“ Barang siapa yang merasa senang akan memasuki bulan Ramadhan maka Allah mengharamkan jasadnya masuk ke naraka (Hadits).

Bukti rasa senang diniatkan didalam hati kemudian dikuatkan dengan tekat dan diaktualisasikan dalam bentuk amal perbuatan. Imam Buchari meriwayatkan dari Abu Ishak bahwa dia pernah mendengar Al Barra’ bahwa ada seorang laki-laki bertopeng besi (kinayah dari muka yang ditutupi dengan baju perang) datang kepada Rasul. Lalu dia bertanya “Wahai Rasulullah, aku berperang dahulu atau masuk Islam dahulu? Nabi menjawab masuk Islam dahulu baru berperang. Setelah masuk Islam dia ikut berperang lalu terbunuh. Kemudian rasul bersabda Dia telah beramal sedikit tapi mendapat pahala yang berlimpah”.

Jadi sebelum masuk bulan suci Ramadhan marilah kita mengaktualkan niat dan cinta menyambut Ramadhan dengan membuat perencanaan-perencanaan baik secara individu maupun secara kolektif. Sehingga nantinya memasuki bulan Ramadhan berupaya untuk meraih keberkahan dari Allah sebanyak-banyaknya yaitu dengan memperbanyak amal ibadah.

Ibadah puasa Ramadhan adalah ibadah yang diulang-ulang dalam setiap tahun, setiap muslimpun juga akan mengulang-ulang ibadah puasa, sejauhmana ibadah puasa dengan segala ibadah sunnahnya dapat membentuk pribadi muslim yang mempunyai sifat dan karakter sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Bagaimanakan puasa akan membentuk pribadi yang ikhlas, karena puasa adalah ibadah yang sirri, nyaris tidak bisa dibedakan antara orang yang berpuasa dengan yang tidak puasa.
Bagaimanakah puasa dapat membentuk pribadi yang jujur hal ini dicontohkan karena orang yang berpuasa hanyalah kesadaran diri untuk tidak makan, minum dan berhubungan suami istri pada siang hari. Bagaimanakan jika tidak ada sifat jujur, maka akan makan dan minum bila tidak dilihat orang, dan berpura-pura puasa bila bersama dengan muslim yang lain.

Bagaimanakah puasa dapat membentuk pribadi yang dermawan, suka membantu dan meringankan beban dan penderitaaan bagi orang-orang miskin, tentu saja hal ini telah dirasakan, bahwa ketika berpuasa semua orang akan merasakan lapar dan dahaga. Dan ternyata lapar dan dahaga senantiasa dirasakan oleh para fuqara’ masakin yang setiap hari hidup dalam kekurangan.

Bagaimana puasa dapat membentuk pribadi yang sabar, hal ini telah dicontohkan ketika menanti waktu berbuka, tetap akan sabar menanti waktu berbuka walaupun hanya tinggal satu menit tetap dinanti untuk tidak berbuka dahulu.

Bagaimanakah puasa dapat menjadikan pribadi muslim yang merasa dekat dengan Allah. Karena puasa Ramadhan yang mempunyai berbagai macam keutamaan, akan dirasakan baik ketika masih hidup di dunia maupun akan diberikan besok di yaumil qiyamah. Ibadah puasa hendaknya dilakukan secara total. Puasa yang bermakna menahan diri untuk tidak makan, minum dan berhubungan suami istri sejak imsa’ hingga waktu berbuka, namun ketika berpuasa hendaknya berpuasa pula anggota tubuh yang lain.

اذا صمت فليصم سمعك وبصرك ولسانك عن الكذب والمحارم ودع اذى الجار

“Apabila kamu berpuasa maka berpuasalah telingamu, matamu, mulutmu dari bohong dan melihat perkara yang diharamkan”. (Al Hadits)

من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاخة فى ان يدع طعامه وشرابه (روا البخاري)

“ Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan yang mengundang kedurhakaaan, maka Allah tidak butuh terhadap orang yang meningalkan makan dan minum”. (HR. Buchari)

Karena itu bila ibadah puasa tidak bisa meninggalan hal-hal yang demikian itu maka puasa kita akan sia-sia.

(كم من صائم ليس له من صيامه الا الجوع وكم قاسم ليس له قيامه الا السهر (روا احمد

“ Betapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar, dan betapa banyak orang yang menghidupkan malam tidak mendapat apa-apa kecuali begadang saja (HR. Ahmad)

Karena itu agar ibadah puasa kita kelak akan lebih bemakna, lebih berbobot, maka kita rencanakan bulan Ramadhan, kita isi dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, seperti shalat tarowih dan shalat-shalat sunnah lainnya, tadarus Alquran, i’tikaf, mengadakan atau mengikuti kajian Islam, memperbanyak shadaqah dan lainnya. Selamat menjalankan ibadah puasa, selamat untuk berlomba dalam kebaikan, beruasaha untuk menahan diri dari segala hal yang tidak bermanafaat. Semoga puasa kelak akan menjadikan pribadi yang bertaqwa.


Selengkapnya...

Hikmah Kelahiran Nabi Muhammad SAW - khutbah Jum'at

Nabi Muhammad SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun gajah, 14 abad yang lalu umat manusia hidup dalam zaman jahiliyah. Zaman dimana budaya masyarakat berkembang pesat namun peradaban mengalami kemerosotan. Karena Allah SWT sebagai pencipta, pengatur dan pemelihara alam semesta justru disisihkan. Karena berhala yang tidak mempunyai kekuatan justru yang disembah dan dipuja-puja. Karena itu dengan diutusnya nabi Muhammad, memperjelas siapa pencipta alam semesta dan kepada siapa kita menyembah dan memujanya.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Pada bulan ini sudah masuk tanggal 5 Rabiul Awal, dengan ini kita diingatkan kembali dengan sejarah kelahiran nabi Muhammad SAW, dimana beliau lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun gajah. Dengan kelahiran beliau dan diangkatnya menjadi Rasullulah dan sekaligus sebagai khatamul anbiyak, memberikan penerangan pada jalan yang benar, jalan yang diridhai Allah serta pribadi yang dapat dijadikan teladan, sebagaimana firman Allah:



“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Allah SWT sebagai Sang Khaliq telah mewartakan kepada umat manusia, bahwa pada diri nabi Muhammad SAW terdapat suri tauladan yang baik. Sesungguhnya keteladanan Rasulullah ini telah terbina dan terjaga sejak beliau masih kecil. Dimana beliau dilahirkan sebagai seorang anak yang yatim kemudian pada usia 6 tahun ibunya (Siti Aminah) meninggal, lalu diasuh oleh kakeknya (Abdul Muthalib) hingga beliau berusia 8 tahun, karena kakeknya meninggal, dan mengasuh cucunya hanya 2 tahun saja. Yang akhirnya beliau diasuh oleh pamannya (Abu Thalib). Keadaan Rasulullah yang demikian ini telah menerpa jiwa dan kepribadiannya sebagai pribadi yang tangguh.

Sejak kecil beliau tidak pernah ikut-ikutan dalam pergaulan teman-temannya yang tidak bermanfaat seperti menyembah berhala, membuat sesaji, meminum-minuman keras dan perbuatan-perbuatan tercela lainnya. Di lingkungan pergaulan teman-temannya beliau terkenal sebagai pribadi yang jujur sehingga oleh masyarakat diberi gelar Al Amin, gelar yang mulia dan hanya diberikan kepada orang-orang yang melakukan kebaikan pada orang lain.

Bahkan ketika beliau menginjak usia dewasa, melihat kondisi masyarakat yang penuh dengan kemaksiatan beliau beruzlah di gua hira’. Sehingga disanalah beliau menerima wahyu yang pertama yang menandai beliau diangkatnya menjadi Rasulullah. Rasul terakhir penutup para rasul, penyempurna ajaran rasul, dan pembawa rahmat bagi sekalian alam.

Kaum muslimin Jema’ah Jum’at Rahimakumullah.
Nabi Muhammad SAW mempunyai sifat:

  1. Siddiq maknanya Benar. Apa yang disabdakan oleh Rasul/Nabi adalah benar dan dibenarkan kata-katanya. (Siddiq dan sadiqul masduq). Rasul/Nabi tidak berkata-kata melainkan apa yang telah diwahyukan oleh Allah SWT. Mustahil Rasul/Nabi bersifat dengan sifat KIZZIB (Dusta). Mustahil Rasul/Nabi mengatakan sesuatu yang tidak dia ketahui dan tidak diwahyukan Allah kepadanya.


“ Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (An-Najm: 3-4).

2. Amanah ialah Rasul akan melakukan sesuatu serta melaksanakan hukum-hukum Allah dengan benar dan tepat sebagaimana yang diwahyukan Allah SWT. Dan juga Rasul/Nabi tidak memungkiri janji.
من كذب عليا متعمدا فليتبوأ مقعده من النار
“Barangsiapa yang berdusta atas nama ku, siapkanlah tempatnya di dalam api neraka “ (Bukhari, Muslim )

Maka mustahil Rasul bersifat KHIANAT iaitu tidak amanah dan mungkir janji.

3. TABLIGH yaitu menyampaikan. Rasul/Nabi menyampaikan kepada umatnya apa yang Allah wahyukan kepadanya. Mustahil Rasul/Nabi bersifat dengan sifat KITMAN yaitu menyembunyikan.

4. FATANAH yaitu bijaksana. Rasul/Nabi mampu memahami perintah-perintah Allah dengan betul dan tepat. Mampu pula berhadapan dengan penentang-penentangnya dengan bijaksana dengan bukti-bukti yang kukuh. Mustahil Rasul/Nabi bersifat dengan sifat Jahlun yaitu bebal.

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Sungguh empat sifat rasul bila dapat diimplementasikan oleh setiap muslim niscaya akan ditemukan kedahsyatan, perubahan yang signifikan dalam tata aturan kehidupan, yang pada akhirnya akan dapat diwujudkan kehidupan yang bahagia didunia maupun diakherat.

Seringkali kita bingung dan dibingungkan oleh pemberitaan media masa dan elektronik yang menyempaikan berita tentang seseorang atau kelompok orang yang dituduh sebagai pihak yang salah. Ternyata yang terduduh juga menyampaikan kepada media bahwa dia tidak bersalah. Seandainya pihak terdakwa, penuntut dan penegak hukum dapat mewarisi sifat-sifat rasul sebagaimana diatas niscaya tidak akan ada dusta yang pada akhirnya tidak akan ada permusuhan. Jika hal yang demikian ini dapat diwujudkan, sejak 14 abad yang lalu melalui berita didalam Alquran, Allah akan melimpahkan keberkahan-Nya.



“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’rof: 96)

Sekarang tugas siapa, ketika antara kebaikan dan keburukan, yang makruf dan yang munkar, yang benar dan yang salah saling berhadapan, saling menyerang, saling mengalahkan. Tidak lain adalah merupakan tugas dari masing-masing pribadi muslim, pembinaan terhadap dirinya sendiri dengan jalan mengarahkan hawa nafsu yang mengajak pada perbuatan kemungkaran menuju pada perbuatan menurut panggilan hati nurani dan petunjuk agama. Setelah pembinaan diri dapat diwujudkan sehingga menjadi pribadi yang menjadi teladan, maka tularkanlah keteladanan pada keluarganya. Karena keluarga adalah negara dalam lingkup paling kecil. Maka suatu negara akan diawali dari keluarga. Pembinaan yang baik terhadap keluarga akan menunjang perwujudan negara yang baik.
Kurang apalagi ketika Allah mengutus nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah dari kaumnya sendiri yang sudah dikenal pribadinya sejak kecil, keluarga dan kebiasaanya. Sehingga kebaikan dan kemulyaananya memang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.



“ Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), Maka Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung". (QS. Attaubah: 128-129)

Akhirnya, dengan mengenang sejarah kelahiran nabi Muhammad kita dapat meneladaninya sehingga menjadi muslim yang senantiasa mendapat petunjuk selama hidup di dunia dan mendapat syafaat di hari qiamat, amin.

بارك الله لى ولكم فى القران الكريم ونفعنى واياكم بما فيه من الايت والذكر الحكيم وتقبل منى ومنكم تلا وته انه هو السميع العليم.


Selengkapnya...

Doa Penutupan Bulan Dana PMI Tahun 2017



Adalah suatu hal yang sangat menggembirakan bila target penggalangan dana sosial yang dilakukan oleh PMI bisa tercapai. Cukup mencengangkan bila target 1 milyard dapat terpenuhi sebelum alokasi waktu yang ditentukan selesai. Hal ini mendakan bahwa tingkat kepedulian sosial semakin meningkat. Namun sisi lain juga bukan hal yang mengherankan karena pengumpulan dana bisa dilakukan dengan sukarela atau disertakan pada kegiatan pelayanan sosial, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Dari hal yang kecil menjadi besar, sedikit menjadi banyak. Kita hanya bisa berdoa semoga penggunaan dana bisa sesuai dengan sasaran, bermanfaat bagi yang ditolong, dan bermanfaat pula bagi yang menolong.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًايُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍوَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ, اَللَّهُمَّ أَخْرِجْنَا مِنْ ظُلُمَاتِ الْوَهْمِ وَأَكْرِمْنَا بِنُوْرِ الْفَهْمِ, وَافْتَحْ عَلَيْنَا بِمَعْرِفَةِ الْعِلْمِ وَسَهِّلْ لَناَ أَبْوَابَ فَضْلِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.


Ya Allah, ya Rahman ya Rahim, ditangan-Mu segala puji, maka hanya kepada-Mu kami mengucapkan pujian dan menumpahkan rasa syukur. Disebagian dari kenikmatan yang Engkau berikan sehingga kami dapat mengikuti kegiatan penutupan Bulan Dana PMI tahun 2017, dalam keadaan tenteram, damai dan sejahtara.

Ya Allah, berkailah setiap usaha dan ikhtiar kami dalam penggalangan dana PMI, berikanlah kemanfaatan kepada mereka yang membutuhkan. Dan jadikanlah setiap usaha adalah doa bagi kami, usaha dan ikhtiar kami menjadi penghalang datangnya musibah dan bencana, setiap usaha usaha dan ikhtiar kami akan memudahkan setiap urusan kami, setiap usaha dan ikhtiar kami menjadi jalan dibukanya pintu rezki-Mu, setiap usaha dan ikhtiar kami menjadi jalan untuk mencapai ridha dan ampunan-Mu.

Ya Allah, jadikanlah nikmat sehat dan sempat yang telah Engkau berikan, menjadi kesempatan kepada kami untuk bersyukur. Karena itu ya Allah jadikanlah penutupan bulan dana PMI ini sebagai media introspeksi. Sungguh kenikmatan yang Engkau berikan belum sebanding dengan infaq kami keluarkan, karena itu bukakanlah hati dan pikiran kami untuk berderma bagi kepentingan umat manusia, mensyukuri nikmat dan karunia-Mu.

Ya Allah, kami menyadari bahwa kenikmatan-Mu yang Engkau berikan kepada kami sungguh teramat banyak, Engkau telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menikmati kehidupan kepada kami, waktu sehat kami sebelum waktu sakit, waktu muda kami sebelum waktu tua, waktu luang kami sebelum waktu sempit, waktu kami berkecukupan sebelum menjadi fakir, waktu hidup kami sebelum datangnya ajal. Jagalah keikhlasan kami dalam beribadah, hidup dan mati semata-mata untuk mendapat ridha dan ampunan-Mu.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ


"Ya Tuhan kami terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

رَبَّنَا اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْاٰ خِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Selengkapnya...

Kotak Komentar