Hidupkan Hati Dengan Dzikir-Khutbah Bahasa Indonesia



Dengan dzikir hati akan menjadi tenang, diantara ketenangan hati akan diperoleh dengan melakukan dzikir yang banyak. Dzikir dengan lisan bila bibirnya senantiasa bergetar dengan mengucapkan asma Allah. Dzikir bil qalb bila didalam hati telah tertancam keyakinan akan adanya Allah, zat yang Maha Agung yang menguasai seluruh alam, menjadi tempat bergantung dan berlindung segala makhluknya. Dzikir bil hal adalah mengimplementasikan keyakinan dan ucapan lisannya. Dzikir bil mal adalah menyadari bahwa setiap harta yang dimiliki ada sebagian kecil yang menjadi hak orang lain. Harta bisa menciptakan hidup bahagia namun bukan bukan segala-galanya bahwa dengan harta hidup menjadi bahagia.


اَلْحَمْدُلِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا. وَاَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ وَجَعَلَهُ لِلنَّا سِ سَبِيْلًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اِتّقُوا اللهَ تَعَالَى فِي السِّرِّ وَ اْلعَلَنِ ، يَا أَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُّو اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَ لَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.


Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Pada kesempatan yang berbahagia ini marilah kita senantiasa berupaya meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT yaitu dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah.

Manusia merupakan makhluk istimewa yang diciptakan oleh Allah dengan derajat kemuliaan. Laqad khalaqnal insaana fi ahsani taqwim. Sesungguhnya kami (Allah) telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Kesempurnaan yang telah diberikan Allah baik dari segi wujudnya maupun dalam kelengkapan pribadi dan saranya penunjangnya. Coba bila kita renungkan, manusia tidak mempunyai cakar dan kuku yang tajam seperti harimau namun ternyata manusia dapat mengalahkan harimau, manusia tidak mempunyai sayap untuk terbang seperti burung tapi dapat menciptakan pesawat yang kecepatannya melebihi kecepatan burung. Manusia tidak mempunyai tanduk dan kulit yang tebal seperti badak namun manusia bisa lebih kebal dari pada badak. Jadi walaupun manusia diciptakan sebagai makhluk yang berjalan tegak dengan dua kaki dan tangan sebagai alat untuk berkreasi namun manusia dapat mengalahkan makhluk yang berkaki empat atau lebih. Hal ini karena manusia mempunyai kekuatan rohani baik dari unsur akal maupun hatinya.

Tubuh manusia bisa sehat dan hidup bila terpenuhi nutrisi yang diambil dari sari-sari makanan dan minuman yang masuk kedalam tubuhnya. Namun lain halnya dengan hati manusia yang dapat hidup dan sehat bila senantiasa dihiasai dengan perilaku dzikrullah, dzikir kepada Allah Karena itu tubuh yang sehat tidak menjamin rohaninya hidup dan sehat. Maka agar rohani manusia khususnya orang-orang yang beriman dapat hidup dan sehat, Allah memerintahkan agar memperbanyak dzikir kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:


“ Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. (QS. Al Ahzab: 41-42)

Ayat ini adalah merupakan salah satu ayat dari surat Madaniyah, yaitu surat yang di wahyukan setelah Rasulullah SAW hijrah dari Mekah ke Madinah, diantara tandanya diawali dengan “ya ayyuhallazina amanu” hai orang-orang yang beriman. Karena dzikir ini hanya diperintahkan kepada orang-orang yang beriman.

Setiap muslim diberikan ujian dan cobaan oleh Allah SWT, namun sekali-kali Allah tidak memberikan ujian dan cobaan kecuali berdasarkan kemampuan hamba-Nya. Bila ujian dan cobaan datang silih berganti, seakan-akan tidak ada ujung pangkalnya. Namun bagi orang-orang yang beriman senantiasa berupaya menyandarkan diri kepada Allah SWT. Orang beriman senantiasa berdzikir kepada Allah SWT, karena sesungguhnya dengan berzikir maka hati orang-orang yang beriman akan menjadi tenang. Sebagaimana firman Allah SWT:


….(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Arro’du: 28)

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah.
Setelah Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk berzikir, bagaimanakah cara melaksanakan dzikir, Allah memerintahkan “dzikran katsiran” yaitu dengan dzikir yang banyak. Adapun para mufassir berbeda pendapat tentang pengertian dzikran katsiran ini:
• Mujaahid mengartikan tidak melupakan Allah untuk selama-lamanya, jadi dimanapun tempatnya dan dimanapun berada, bagaimanapun keadananya hendaknya selalu mengingat Allah. Dalam keadaan sendiri maupun ketika bersama-sama dengan orang lain, sedang gembira atau susah dalam keadaan damai atau perang, hendaknya selalu mengingat Allah SWT.
• Ibnu Assaib mengartikan shalat 5 waktu, panggilan shalat adalah panggilan untuk mengingat Allah, setiap bacaan shalat adalah merupakan dzikir.
• Muqatil bin Hayyan mengartikan membaca tasybih, tahmid, takbir dan tahlil.

Oleh karena itu pada ayat ini pada dasarnya Allah menganjurkan kepada sekalian orang-orang yang beriman yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya supaya banyak zikir mengingat Allah dengan menyebut nama-Nya sebanyak-banyaknya dengan hati dan lidahnya pada setiap keadaan dan setiap waktu. Karena Allah-lah yang melimpahkan segala nikmat kepada mereka yang tidak terhingga banyaknya, maka diperintahkan bertasbih kepada-Nya dengan pengertian membersihkan dan menyucikan Allah dari segala sesuatu yang tidak pantas baginya.

Kemudian setelah melaksanakan dzikir yang banyak Allah memerintahkan


“Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang”. (QS. Al Ahzab: 41-42)

Berzikir dan bertasbih ini dilakukan di pagi hari ketika baru bangun dari tidur, sebab bangun dari tidur ini seakan-akan seseorang hidup lagi setelah ia mati, untuk menghadapi masa hidup yang baru. Dan diperintahkan bertasbih pada sore hari karena pada saat itu seseorang telah selesai mengerjakan bermacam-macam pekerjaan sepanjang hari, dan zikir pada waktu itu merupakan tanda bersyukur kepada Allah atas limpahan taufik dun hidayah Nya sehingga dapat melaksanakan amal perbuatannya dengan baik, dan dapat memperoleh rezeki Nya untuk keperluan hidupnya dan nafkah bagi keluarganya. Dengan banyak zikir itu ia dapat menghambakan diri kepada Allah dan untuk menghadapi alam akhirat. Di samping itu ia dapat pula meneliti amal perbuatannya yang sudah dilaksanakan sehingga dapat mengusahakan perbaikan-perbaikan yang diperlukan bagi hari-hari yang akan datang.

Dzikir akan membentuk pribadi yang ikhlas, sabar, sehat, tawakal, qana’ah, ridha bila dapat mengaplikasikan dzikir secara integral, yaitu dengan dzikir billisan, dzikir bil qalb, dzikir bil hal dan dzikir bil mal. Kita berharap semoga Allah senantiasa membimbing dan mengarahkan kita ke jalan yang diridhai-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّا كُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِى فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ, وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Selengkapnya...

Do'a Ziarah HUT ke-43 KORPRI, HUT ke-69 PGRI, HUT ke-15 Dharma Wanita



Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan. Indonesia adalah bangsa yang besar, masyarakat Indonesia adalah masyarakat religious. Setiap daya upaya manusia senantiasa ada kekuatan lain yang maha segalanya. Tanpa campur tangan Allah, kehidupan manusia akan berantakan. Karena itu Allah SWT memberikan petunjuk berupa wahyu yang diberikan kepada para rasul. Karena itu manusia secara pribadi maupun secara kelompok sangat tergantung kepada Allah SWT.

KORPRI, PGRI dan Dharma Wanita merupakan organisasi besar yang dirikan oleh para pendahulu yang mempunyai visi dam misi spektakuler sehingga sampai hari ini tetap eksis. Karena itu sudah sepantasnya bila pada HUT tersebut senantiasa mengingat para pendahulunya, mengenang jasa dan pengorbanannya serta mendoakan agar arwahnya dimuliakan oleh Allah SWT.


أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًايُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍوَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ.


Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat-Mu, atas segala kasih dan sayang-Mu, pada hari ini kami hadir dan bermunajat di pusara para pahlawan kusuma bangsa, dalam rangkaian kegiatan Hari Ulang Tahun ke- 43 Korpri, Hari Ulang Tahun ke-69 PGRI, Hari Ulang tahun ke-15 Dharma Wanita. Semoga kegiatan ini menjadi amal yang Engkau ridhai. Kegiatan yang dapat meningkatkan keimanan kepada-Mu.

Kami yakin dan sadar ya Allah, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Dan sesungguhnya setiap kematian akan memasuki alam pengadilan-Mu. Karena itu ya Allah. Ampuni dan kasih sayangilah para pahlawan kusuma bangsa kami, maafkanlah kesalahan mereka, hormatilah kedatangan mereka, luaskanlah tempat diam mereka, terangilah kuburnya, gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, gantilah keluarganya dengan lebih baik, jauhkanlah mereka dari huru-hara kubur dan siksaan api neraka.

Ya Allah ya Ghaffur, ampunan-Mu Maha Luas, kami yakin ya Allah tiada sedikitpun amal ibadah yang Engkau lalaikan, kecuali Engkau telah menyiapkan balasan dengan kebaikan yang melimpah. Karena itu lipatkanlah perjuangan dan pengorbanan para pahlawan menjadi amal jariyah. Kebaikannya akan menghapuskan dosa dan kesalahnnya, mereka menghadap-Mu dalam kondisi fitrah dan penuh dengan ampunan-Mu.

Ya Allah ya Tuhan kami.
Limpahkanlah taufiq dan hidayah-Mu, agar kami dapat menjadi pewaris yang mengemban amanat para pahlawan dan syuhada’ dalam mengisi kemerdekaan dan pembangunan, demi kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa serta terwujudnya kesejahteraan bangsa Indonesia. Jauhkanlah perpecahan dan permusuhan sesama putra bangsa.

Limpahkanlah rahmat dan kasih sayang-Mu kepada para pemimpin bangsa dan Negara kami, agar mampu mewujudkan kesejahteraan bangsa Indonesia sebagai negeri yang makmur, adil dan merata serta berada dalam ampunan dan ridha-Mu.


ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وقنا عذاب النار, وصل الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم والحمدلله رب العالمين

Selengkapnya...

Cari Muka Tetap Bahagia




Bila mendengar ucapan cari muka, mungkin yang terbersit dalam benak adalah seorang penjilat, pecundang, pengecut dan gelar-gelar negative lainnya. Mengapa hal ini terjadi, hal ini karena pemahaman yang sudah membekas pada otak bawah sadar yang sulit untuk dihilangkan. Misalnya ada seorang karyawan ketika tidak ada atasannya, bekerja dengan seenaknya, namun ketika atasannya datang secara terburu-buru seakan-akan sedang sibuk dan berusaha untuk menyibukkan diri, walaupun kadang ketika ditanyakan oleh atasannya. “Apa yang kamu kerjakan”, tidak bisa menjawab, karena dia melakukan secara sepontan. Bisa jadi ketika menjawab “sedang menulis” namun yang dipegang adalah sikat gigi atau yang lainnya. Maka bila hal ini terjadi, ruangan yang tadinya sepi menjadi gaduh karena ulah seorang pecundang yang sedang cari muka. Apakah dia bahagia, bila berhasil melakukan aksinya tentu akan bahagia dan merasa puas.

Dalam hal ini bukan itu yang akan saya bahas, namun cari muka yang bermakna positif. Hal ini terjadi ketika suatu saat saya sedang mengikuti kegiatan ceremonial pemerintahan. Waktu itu saya duduk berdampingan dengan seorang pegawai di pemerintah daerah. Teman saya itu sambil duduk sesekali memperhatikan aksi tukang foto yang berupaya mengabadikan moment penting pada kegiatan tersebut. Ketika sudah tiba waktunya istirahat tukang foto itu mendekat dan disapa oleh temanku itu. “Kamu masih tetap cari muka ya”, belum dijawab temanku sudah menimpali dengan pertanyaan lain “Sudah berapa tahun kamu menekuti profesi ini”.

Dengan jawaban yang singkat dia menjawab “Beginilah mas, kira-kira sudah 15 tahun, yang penting bahagia mas”. Tukang foto segera bergegas untuk mengabadikan moment lainnya. Begitulah bahwa kunci sukses orang bekerja adalah karena bahagia dan untuk mendapatkan kebahagian. Pangkat dan jabatan yang tinggi tidak menjamin hidup menjadi bahagia, harta melimpah, rumah megah kendaraan mewah dan semuanya serba wah tidak menjamin bahagia. Karena bahagia berada didalam hati. Karena itu sering kita bertanya, apakah yang dicari dalam hidup ini? Tentu semuanya akan memberikan jawaban yang berbeda-beda, dan jawaban yang sebenarnya adalah yang disampaikan secara spontanitas, bukan direkayasa apalagi difikirkan. Karena kerja hati adalah merenung untuk menemukan jati diri sebagai makhluk Tuhan.

Bila menyimak pendapat tentang perbedaan antara sejahtera dan bahagia. Sebagaimana pendapat HSM. Nasarudin Latif dalam buku Nasehat Perkawinan edisi 35, sejahtera lebih berorientasi pada aspek lahiriyah, yaitu terpenuhinya kebutuhan hidup berupa sandang, pangan dan papan. Bahkan disamping kebutuhan primer juga kebutuhan skunder maupun tertiernya. Namun dengan terpenuhinya itu tidak menjamin dirinya menjadi bahagia. Karena bahagia ukurannya adalah didalam hati. Karena itu orang yang tetap tekun dengan profesinya dengan pekerjaannya, walaupun kadang pekerjaan itu menurut orang lain tidak layak dan tidak pantas dilakukan, namun dia merasa bahagia. Karena itu banyak orang yang sukses meniti karir dalam pekerjaan karena bekerja dengan bahagia. Hati yang bahagia akan menjamin pekerjaan itu akan membuahkan hasil yang lebih baik.

Mengapa si Fulan seorang tukang cukur yang sudah bertahun-tahun tetap bertahan dengan pekerjaannya. Bahkan banyak sekali pelanggannya. Hal ini tidak lain karena dilakukan dengan bahagia, hatinya tenang, maka didalam melakukan aksi potong rambut nampak trampil dan hasilnya lebih rapi sehingga dia mempunyai pelanggan yang benar-benar mania kepadanya. Demikian pula seorang pegawai yang sudah bertahun-tahun duduk dalam posisi kehumasan yang diberi tugas oleh atasan yang menangani di bidang dokumentasi. Karena ketekunannya itu diluar tugas kedinasan dia melakukan kegiatan sebagai tukang foto.

Pekerjaan ini dilakukan dengan bahagia, karena telah merasa nyaman dan cocok dengan profesinya itu. Sehingga ketika melihat teman seangkatan telah beralih profesi dia tetap merasa bahagia dengan profesinya itu. Ternyata hasil kinerjanya menunjukkan hasil yang memuaskan. Hal ini menurut dirinya sendiri juga menurut orang lain yang telah menggunakan jasanya.

Orang kadang menilai terhadap dirinya sendiri tidak bisa melakukan pekerjaan ini atau itu. Mungkin hal ini akan terpatahkan ketika ada seorang teman. Dia seorang Sarjana Agama namun dia sukses meniti karir sebagai pengusaha konfeksi. Kesuksesan ini bukan tanpa usaha, tetapi pekerjaan ini diawali dengan mengikuti kursus menjahid, kemudian mencoba membuka usaha sebagi penjahit. Pada awalnya dia melayani teman-temannya kemudian karena ketekunannya mulai dikenal dimasyarakat sehingga banyak orang yang ingin menjahitkan kain untuk pakaian anak-anaknya, suami, istri dan anggota keluarga yang lain.

Perkembangan usahanya ditingkatkan lagi sehingga mencoba membuat seragam sekolah yang dititipkan di toko-toko pakaian, pada awalnya hanya sedikit. Dari usaha sebagai tukang jahit kecil-kecilan sekarang menjadi pengusaha konveksi. Karyawannya banyak, mempunyai rumah sendiri, kendaraan dan kebutuhan-kebutuhan lain bisa tercukupi. Mengapa seorang Sarjana Agama bisa menjadi pengusaha konfeksi. Dia pernah berkata “Barang keton kuwi ora ana kang ora iso”, sesuatu yang kelihatan itu tidak ada yang tidak bisa dilakukan. Memang benar sesuatu yang kelihatan itu bisa dipelajari karena ketekunan, pelatihan secara terus-menerus, ulet, tidak patah semangat. Dan ternyata banyak lagi kisah orang sukses yang berlatar belakang pendidikan dan akademis yang berbeda. Kelihatannya tidak konek, namun bila dipelajari bahwa pendidikan adalah suatu proses membentuk pola fikir yang runtut, ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ternyata pekerjaan yang dilakukan dengan tekun akan membuahkan hasil, cita-citanya bisa terwujud.

Dengan banyaknya pelanggan dia merasa bahagia, pelanggan merasa puas dengan hasil kerjanya dia juga merasa bahagia, dia mendapatkan uang jasa juga merasa bahagia. Dia dapat membangun keluarga yang sakinah mawaddah dan rohmah juga bahagia, dia dapat membeli rumah, kendaraan, menyekolahkan anak-anaknya, dapat membantu lingkungan sekitar yang membutuhkan bantuan dia merasa bahagia. Bila bekerja, berkarya dan berpenghasilan sudah merasa bahagia mengapa meriasaukan dengan pekerjaannya itu. Coba bandingkan orang yang berganti-ganti pekerjaan, pekerjaan ini dan itu merasa tidak cocok, tentu tidak akan bahagia. Begitu pula tukang foto yang yang menurut temanku, dia seharusnya sudah dipromosikan menjadi pejabat namun dia tidak patah semangat karena dia merasa bahagia.

Dimanakah letak kebahagiaan tukang foto si tukang cari muka? Temanku sempat nyletuk, dia bahagia, karena dapat memperhatikan orang-orang cantik, dia pura-pura memfoto namun sejatinya dia sedang memperhatikan dan mengagumi kemolekannya. Dia kan bebas untuk melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki, tidak ada yang mengahalanginya. Apakah mungkin seperti ini, yang mungkin saja, karena manusia mempunyai nafsu, namun bahagaimanakah bila bekerja itu menggunakan nafsu, yang terjadi akan berantakan.

Bagaimanakah bila dia memperhatikan aurat orang lain apakah tidak menambah dosa? Semua tergantung dari niatnya. Dan setiap amal itu tergantung dari niatnya, niat yang baik menjadikan usahanya akan tetap berkembang dan mendapatkan hasil yang barokah. Penghasilannya akan mendatangkan kebahagiaan, baik untuk diri sendiri maupun keluarganya. Inilah bahwa perlunya berprasangka baik terhadap orang lain, bila hal itu profesi yang jelas baik mengapa mencari-cari kesalahannya. Hal ini akan merugikan diri sendiri.
Selengkapnya...

Pangkas Jam Karet Dari Keterlambatan Menuju Kesuksesan

Jam karet bukanlah merupakan hasil perkembangan teknologi, karena teknologi merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia untuk memecahkan problematika kehidupan. Coba sejenak kita renungkan, ketika pada zaman tahun 1970 an atau zaman sebelum itu, bagaimanakah umat Islam Indonesia yang akan melaksanakan rukun Islam yang kelima yaitu ibadah haji ke Mekah dan Madinah. Untuk bisa sampai ke tanah suci mereka melakukan perjalanan darat dan laut selama berbulan-bulan. Tetapi pada saat ini cukup bisa ditempuh pada tempo sehari atau dua hari. Mengapa demikian, karena manusia telah dapat menciptakan teknologi, yaitu perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang. Dan tentunya dari hasil teknologi ini ada yang berdampak positif dan juga negative. Yang positif bila hasil teknologi digunakan untuk mewujudkan keamanan, kedamaian dan kesejahteraan manusia. Namun bila teknologi itu disalahgunakan maka akan terjadi kehancuran dan akan menimbulkan malapetaka dan penderitaan umat manusia.

Jam karet merupakan kebiasaan yang sudah membudaya, adanya kebiasaan yang tidak menepati waktu yang telah ditentukan. Baik itu dalam kegiatan, rapat, diskusi, musyawarah, muktamar, upacara, peringatan hari besar Islam dan lain-lain. Misalnya kegiatan rapat dari panitia sudah mengantisipasi bahwa bila undangan jam 09.00, maka rapat akan dimulai jam 09.30-10.30. Dari panitia penyelenggarapun sudah mengatisipasi bahwa undangannya ada 2 macam, pertama untuk peserta umum dan kedua untuk para pejabat. Dengan kebiasaan ini, maka setiap orang ketika menerima undangan akan hadir melebihi dari waktub yang telah ditentukan. Bisa jadi seandainya rapat dimulai jam 09.00 maka berangkat dari rumah atau dari tempat kerja jam 09.00, jadi sampai tujuan pasti akan terlambat. Yang lebih aneh lagi ketika sudah sampai tujuanpun peserta yang lain juga belum hadir.

Inilah bahwa jam karet itu adalah budaya untuk mengulur-ulur waktu dan tidak menepati waktu yang telah ditentukan. Mengapa hal ini terus membudaya, apakah manfaatnya dan madharatnya? Untuk menjawab ini, pernah suatu saat ada rapat di suatu kantor pemerintahan, dimana peserta rapat adalah para pimpinan unit satuan kerja. Termasuk diundang pula seorang dokter kandungan, yang biasanya melakukan proses operasi, sudah berapa bayi dan ibunya yang diselamatkan dari maut. Pada waktu itu undangan rapat dimulai jam 09.00, pak dokter datang lebih awal dari waktu yang telah ditentukan, dan menunggu hingga jam 09.30 ternyata rapat belum ada tanda-tanda akan dimulai. Dokter bilang kepada peserta disebelahnya, “Bila operasi seperti ini maka sudah berapa nyawa melayang, berapa ibu dan anaknya yang tidak tertolong”.

Selain pak dokter ternyata masih ada keluh kesah peserta rapat yang lain, dia berkata “waktu menunggu ini seandainya saya gunakan untuk mengerjakan tugas saya yang lain tentu akan berkuranglah tugas saya, atau tugas saya yang hampir selesai jadi terbengkelai karena menunggu rapat ini”. Dan tentu saja masih banyak kisah-kisah yang lainnya. Memang dengan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan ini maka pekerjaan lain akan terbengkelai, pekerjaan akan sulit untuk diselesaikan sesuai dengan waktu yang tekah ditentukan.

Ternyata bahwa mengulur-ulur waktu menjadikan rapat tidak efektif lagi, karena undangan yang diharapkan para pimpinan satuan unit kerja, namun kemudian menugaskan kepada stafnya untuk mewakili. Bila jam karet banyak mendatangkan kerugian mengapa tetap dibudayakan. Karena itu sistemlah yang harus dirubah, disetiap pemerintahan atau swasta, kantor, dinas, instansi, badan dan lembaga serta satuan unit kerja memerlukan keteladanan. Maka kunci pokok penggerak system adalah para pimpinan itulah.

Pernah ada seorang pejabat pemerintah, seorang birokrat, beliau merupakan pribadi yang konsisiten terhadap waktu. Sehingga beliau selalu hadir sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Ternyata para pejabat yang di bawahnya dan juga para staf memahami kebiasan pejabat tersebut sehingga bisa mengikuti. Disinilah bahwa figur pemimpin yang dapat menjadi teladan bagi diri sendiri dan orang lain.

Imam Ghozali pernah menyampaikan 6 pesan kepada murid muridnya:

  1. Di dunia ini apa yang paling dekat dengan diri kita, murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman dan kerabatnya. Imam Ghozali membenarkan tatapi sesungguhnya yang paling dekat adalah kematian. Kematian adalah rahasia Ilahi, tak seoarang makhlukpun yang bisa mengetahui kapan ajalnya itu tiba. Karena itu sebaik-baik manusia yang siap dengan datangnya kematian dengan mencari bekal akherat yaitu dengan memperbanyak amal ibadah kepada Allah SWT.
  2. Di dunia ini apakah yang paling jauh dengan diri kita. Para muridnya ada yang menjawab negeri cina, bulan, matahari dan bintang bintang. Beliaupun membenarkan, tetapi sesungguhnya yang paling jauh dari diri kita adalah masa lalu. Karena masa lalu adalah masa yang tidak akan dapat kembali semakin lama maka akan semakin jauh. Karena itu apapun yang telah diukir pada masa sekarang dan waktu kemarin adalah masa yang amat jauh. Masa yang tidak akan dapat diraihnya kembali.
  3. Di dunia ini apakah yang paling besar. Para muridnya ada yang menjawab gunung, bumi dan matahari. Beliau membenarkan tetapi sesungguhnya yang paling besar adalah hawa nafsu. Hawa nafsu yang tidak bisa dikendalikan maka akan menjerumuskan dirinya ke azab siksa api neraka. Hawa nafsu ibarat api yang membakar kayu bakar, semakin lama dibiarkan maka akan semakin memabara dan akan mengabiskan seluruh kayu bahkan yang ada disekelilingnya akan menjadi rusak bahkan bisa menjadi musnah.
  4. Di dunia ini apakah yang paling berat. Para murusnya ada yang menjawab baja, besi dan gajah. Beliau membenarkan tetapi sesungguhnya yang paling berat adalah mengemban amanah. Mengapa karena amanat adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.
  5. Di dunia ini apakah yang paling ringan. Para muridnya menjawab kapas, angin, debu dan dedaunan. Beliau membenarkan tetapi sesungguhnya yang paling ringan adalah meninggalkan shalat. Karena sedikit mempunyai kesibukan, sedikit menirima nikmat, sedikit menerima cobaan lalu lupa dengan kewajiban menegakkan shalat. Pada shalat adalah penentu segala amal perbuatan manusia, bila shalatnya baik maka yang lain akan menjadi baik, bahakan amal yang kelak akan ditanyakan oleh Allah di hari qiyamat adalah amal shalatnya.
  6. Di dunia ini apakah yang paling tajam. Para muridnya serentak menjawab pedang. Beliau membenarkan tetapi sesungguhnya yang paling tajam adalah lidah. Pepatah mengatakan lidah lebih tajam daripada pedang. Sekali salah bicara maka akan terjadi mala petaka. Ada adu domba, hasat, fitnah adalah pekerjaan lidah yang tidak bisa terkendali.
Jadi jelaslah bahwa bila mengingat pesan Imam Ghazali ini amanat adalah sesuatu yang berat. Menjadi pemimpin berkaitan erat dengan amanat dan setiap amanat akan dimintai pertanggungjawaban, baik oleh yang memberikan amanat di dunia maupun besok di hari qiyamat. Karena itu bila ingin menjadi pemimpin maka siaplah untuk menjadi contoh dan di contoh. Siapa yang akan merubah sistem kalau bukan komitmen bersama yang diawali dari keteladanan para pemimpin.

Sebenarnya pengharagaan terhadap waktu adalah karena motivasi yang teramat besar untuk meraih kesuksesan, pelaksanaan peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang lain akan berakses positif bila semua kegiatan dapat dilaksanakan secara sistematis. Karena begitu pentingnya penghargaan terhadap waktu, maka Allah SWT sebagai pencipta, pemelihara, pengatur, penguasa seluruh alam bersumpah dengan waktu.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al Ashr: 1-3)

Pernahkah kita merenungkan bahwa semua makhluk Allah diberikan waktu yang sama sehari semalam 24 jam. Mengapa kondisinya berbeda-beda, ada yang sangat menghargai waktu sehingga kehidupannya Nampak lebih sejahtera dan bahagia. Namun ada juga yang membiarkan waktu berlalu begitu saja sehingga kondisi kehidupannya amat memprihatinkan, jangankan untuk makan besok untuk hari ini saja merasa kesulitan untuk memperolehnya. Mengapa bisa demikian, diantaranya karena waktu yang tidak diefektifkan.
Selengkapnya...

Melaksanakan Hak Seorang Muslim Yang Tidak Dapat Diwakilkan

Manusia merupakan makhluk dua dimensi yaitu dimensi lahir dan dimensi batin sehingga setiap usaha manusia juga berorientasi pada dua hal yaitu duniawi dan ukhrowi. Kehidupan dunia adalah merupakan lahan untuk meraih kehidupan abadi di akhirat. Karena kehidupan dunia adalah fana, kehidupan dunia penuh dengan tipu muslihat, sehingga Allah SWT melalui para rasulnya memberikan petunjuk pada manusia untuk meraih kesempurnaan hidup. Tanpa petunjuknya kehidupan manusia akan mengalami kehancuran. Kebenaran dan kesalahan akan dikalahkan dengan kekuatan, dan dengan kekuatan ini akan berkuasa. Karena itu dengan kekuasaan itu terjadi pertumpahan darah, siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Bila hal ini terjadi maka tidak ada keadilan. Yang salah bisa menjadi benar yang benar bisa menjadi salah. Campur-aduk kehidupan manusia kebenaran dan kebatilan bercampur.

Setelah para rasul menyampaikan risalahnya, mengatur tata kehidupan manusia, memberikan petunjuk, penerangan, janji dan ancaman atas segala perbuatan manusia. Bagaimanakah seharusnya manusia berbuat dan apa dampaknya kelak di akhirat. Namun ternyata kehidupan manusia sering menuruti kemauannya sendiri, menuruti hawa nafsu. Dengan demikian bagi orang-orang salih yang tdak merasakan keadilan di dunia, tidak mendapatkan kebahagiaan di dunia dia masih mempunyai harapan untuk memperoleh keadilan kelak di hari qiyamat.

Untuk mendapatkan ini manusia melakukan hak dan kewajibannya sebagai makhluk Tuhan, makhluk pribadi dan makhluk sosial. Dalam kehidupan di dunia manusia secara pribadi menjadi bagian dari masyarakat, karena itu tidak ada manusia yang hidup hanya tergantung pada dirinya sendiri. Kehidupan manusia adalah merupakan rantai kehidupan, yang antara bagian-bagiananya saling membutuhkan, saling menguatkan dan saling ketergantungan. Untuk mewujudkan kesempurnaan hidup ini, Rasulullah Muhammad SAW memberikan pedoman tentang hak-hak yang harus dipenuhi oleh manusia selaku makhluk sosial.

وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ قَالَ : " حَقُّ الْمُسلِمِ عَلَى الْمُسلِمِ خَمْسٌ ، رَدُّ السَّلامِ، وَعِيادَةُ الْمَرِيْضِ، وَاِتْبَاعُ الْجَنَاِئِز، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ" متفق عليه.

“Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Hak seorang muslim atas muslim lainnya itu ada lima perkara yaitu menjawab salam, menengok orang sakit, mengikuti janazah-janazah yang akan dimakamkan, memenuhi undangan dan menjawab doa orang yang bersin." (Muttafaq 'alaih)

Dari kelima hal ini ada beberapa hak yang membutuhkan kehadiran secara pribadi dan ada yang dapat diwakilkan. Perlu kita ketahui bahwa hubungan sosial didalam masyarakat dapat diimplementasikan sebagai wujud rasa empati atau sebagai wujud rasa syukur turut berbahagia. Terhadap saudara-saudara yang membutuhkan empati seperti menengok dan mendoakan orang yang sedang sakit, bertakziyah terhadap keluarga yang meninggal, berempati ketika saudaranya terkena musibah tanah longsor, banjir, kecelakaan lalu lintas dan lain-lainnya. Hal ini merupakan wujud rasa empati yang membutuhkan kehadiran secara pribadi. Karena kehadiran ini bermakna untuk meringankan beban atau menghibur kepada orang-orang yang baru saja terkena musibah.

Disamping itu dengan kehadiran secara langsung akan bermanfaat untuk menjernihkan emosi, meluluhkan hati yang keras, dan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT. Ketika menengok orang yang sedang sakit, seseorang akan merenungi betapa besarnya nikmat sehat yang sedang dirasakan, menambah rasa syukurnya kepada Allah. Karena sesungguhnya ketika salah seorang anggota keluarga sakit maka seluruh keluarga juga akan merasakan sakit. Dari hidup yang teratur menjadi berantakan, makan, minum, tidur yang teratur menjadi menjadi tidak teratur. Ketika sehat dapat tidur bersama-sama dalam satu rumah, namun ketika sakit harus dirawat di rumah sakit dan salah satu atau seluruh keluarga harus berjaga di rumah sakit. Demikian pula dalam bekerjapun menjadi tidak fokus.

Inilah sekelumit tentang hal-hal yang berkenaan dengan orang yang sakit. Belum lagi sakit secara ekonomi, karena betapa besar dana yang dikeluarkan untuk pembiayaan dalam rangka untuk meraih kembali predikat sebagai pribadi yang sehat. Hal-hal yang demikian dapat dirasakan ketika mau menengok orang yang sakit. Karena itu ketika mendengar teman atau saudara yang sakit, apakah menengoknya dapat diwakili?

Yang kedua bertakziyah dari keluarga yang meninggal dunia. Kematian adalah rahasia Allah, kematian akan menjemputnya baik ketika sakit atau sehat, ketika tua maupun muda, susah atau senang, sedang sendiri atau bersama-sama orang lain, sedang beribadah atau sedang maksiat. Kematian adalah suatu batas manusia untuk beramal ibadah kepada Allah secara langsung. Karena itu ketika bertakziah akan merenungi, tentang makna hidup dan kehidupan yang sedang dijalani. Apakah dengan umur yang panjang itu telah digunakan untuk menambah ketaatannya kepada Allah SWT atau justru sebaliknya.

Demikian pula ketika bertakziah akan menemui keluarga yang ditinggalkan, dalam kondisi berduka. Bagaimanakah keadaannya orang yang ditinggalkan oleh orang yang dicintai dan mencintai. Sungguh hal ini akan menjadi pemandangan yang memilukan. Sehingga hati orang yang tertakziah akan menjadi luluh, yang keras menjadi lunak, yang takabur akan menjadi tawadhuk dan kondisi-kondisi positif lain yang akan diperoleh bila benar-banar ikut bertakziyah. Apakah hal ini dapat diwakilkan?

Masih sama untuk mewujudkan rasa empati, yaitu menengok kepada orang-orang yang terkena musibah. Musibah adalah suatu keadaan yang tidak diinginkan kehadirannya namun tetap datang menghampiri. Dan musibah akan mengenai siapapun, bila menengok orang yang terkena kecelakan lalu lintas maka akan menumbuhkan sikap berkati-hati dijalan raya, bila melihat orang yang tekena banjir dan tanah longsor maka akan muncul kesadaran untuk tidak membuang sampah disembarang tempat dan melakukan penebangan secara liar. Kondisi inipun juga akan dirasakan bila menengok secara langsung. Lalu apakah dapat diwakilkan?

Didalam kehidupan masyarakat ada tuntunan untuk saling mengunjungi diantara teman atau saudara, misalnya membangun rumah, baru mendapatkan anak, melangsungkan pernikahan, khitan. Ini menjadi hak bagi setiap muslim untuk merasakan turut berbahagia. Kondisi mereka bahagia maka menjadi hak untuk menghadirinya namun bila mempunyai kegiatan yang lain bisa jadi diwakilkan. Dengan mengucapkan selamat melalui ucapan selamat atau dengan lainnya. Dari itu musibah dan anugerah adalah sesuatu yang melekat pada diri manusia, terhadap musibah kita berempati dan terhadap anugerah kira turut berbahagia.

Pernah kita menjumpai, ketika mendengar atau melihat teman atau saudara terkena musibah, kematian dan sakit tidak datang menjenguknya. Namun hanya berempati dengan menitipkan amplop berisi uang empati atau bila berada dalam komunitas desa, kantor, kota, RT, RW dan organisasi mengatakan cukup perwakilan saja. Apakah rasa empati dan duka dapat diwakilkan? Bagaimanakah bila hal ini menimpa pada dirinya sendiri. Ikhlaskah bila dalam kehidupan masyarakat termasuk orang yang supel, gaul dan merasa dekat dengan semua orang. Namun ketika menerima musibah dan cobaan ternyata hanya beberapa orang saja, cukup diwakilkan oleh ketua atau pimpinannya saja. Sungguh setiap kehadiran dalam suatu kedukaan akan menjadi obat bagi orang-orang yang terkena musibah. Hanya diri sendirilah yang merasakan demikian. Tentunya tidak ada orang yang mengharapkan empati dari orang lain, karena lebih baik memberi empati dari pada diberi, lebih baik menengok dari pada ditengok, lebih baik membantu dari pada dibantu, lebih baik menyumbang dari pada disumbang.
Selengkapnya...

Kotak Komentar