Hebatnya Guru Untuk Digugu dan Ditiru



Kita jadi pintar menulis dan membaca karena siapa
Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu karena siapa
Kita jadi pintar dibimbing pak guru
Kita bisa pandai dibimbing bu guru

Guru bak pelita
Penerang dalam gulita
Jasamu tiada tara

Sair lagu “Jasamu guru” karya M, Isfahani, menggambarkan betapa hebatnya guru, walaupun dengan kehebatannya itu dia bergelar pahlawan tanpa tanda jasa. Maka siapakah orangnya bila dia seorang guru dia orang yang mulia dan hebat.

Pernah suatu saat ketika ketika ada seorang yang sedang bekerja sebut saja namanya Mas Amir, dia seorang pekerja keras, tiada waktu yang terluang dan tidak ada waktu yang dibiarkan berlalu saja. Bahkan di dalam keluarga dia tergolong sebagai orang yang terampil, cerdas dan cekatan. Waktu bekerja selalu berdisiplin namun tidak pernah melupakan aktifitas sosial, setiap ada kegiatan di kampung di selalu hadir dan berpartisipasi, bahkan dalam bidang keagamaan dia tergolong sebagai pribadi yang supel dan penggerak kegiatan keagamaan. Dan ketika sedang liburan dan berada di rumah tidak pernah berhenti kecuali untuk makan dan shalat saja. Dia suka berkebun, suka berternak dan terampil membuat beraneka macam kerajinan rumah.

Ketika mas Amir sedang bekerja, dia harus menghentikan pekerjaannya, karena mendengar suara yang diucapkan dengan berulang-ulang, hebat memang hebat, hebat memang hebat, memang hebat. Ternyata suara itu berasal dari temannya yang bernama Sani. Maka secara spontan terjadi percakapan:

Amir : hai Sani apa yang hebat.
Sani : itu lo mas, para guru itu memang hebat.
Amir : apanya yang hebat
Sani : itu lho mas kepedulian terhadap temannya, jiwa empati, kekeluargaan dan persatuannya sungguh luar    biasa, hebat, hebat. Memang patut ditiru dan saya salut, bukan satu jempol tapi dua jempol. Memang hebat.
Amir : O, itu? Apa tidak berlebihan pujianmu itu? Apa yang kamu saksikan sehingga kamu nampak kagum sekali.
Sani : itu lho mas, suami kakak saya kan baru saja sakit, bukan hanya teman-teman satu sekolah dengan kakak saya yang datang menjenguk dan mendoakan, turut berempati. Tetapi teman-teman dari sekolah yang lain juga lain juga turut berempati, sungguh luar biasa.

Ketika terjadi percakapan itu kemudian muncul istri mas Amir yang juga ikut berbicara.
Anis : benar itu mas, waktu saya menengok mbak Tanti (kakaknya dik Sani), teman-teman guru dari kakaknya mbak Tanti dan teman guru dari Pamannya mbak Tanti juga turut berempati.
Amir : masak ya, sampai begitu tha dik.
Anis : benar itu mas.
Sani : itulah mas mengapa saya katakana guru itu memang hebat.

Percakapan tiga orang manusia ini menunjukkan betapa mulianya guru, yang patut untuk digugu dan ditiru. Kekerabatan, kebersamaan yang senantiasa dipupuk tidak sebatas pada temannya yang kadang hanya terkesan formalitas saja, tapi kehadiran mereka sungguh menambah semangat dan menjadi obat bagi rekan guru atau keluarganya yang sedang mendapat ujian berupa sakit.
Selengkapnya...

Peran Zikir Untuk Menghidari Bangkrut



Bangkrut berarti menderita kerugian besar hingga jatuh biasanya berkaitan dengan usaha perusahaan atau toko misalnya belum sampai tiga tahun perusahaannya sudah bangkrut. Bangkrut juga berarti jatuh miskin, habis harta bendanya, gulung tikar, misalnya karena suka berjudi maka ia bangkrut (W.J. S. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1976, hal. 86). Lawan dari bangkrut adalah sukses, berhasil, beruntung, misalnya karena dia berusaha dengan sungguh-sungguh maka akhirnya dia sukses.

Tak seorangpun yang mengharapkan menjadi bangkrut sebaliknya selalu berharap agar menjadi orang yang sukses. Tetapi sukses itu bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba atau kebetulan saja tetapi harus diusahakan secara total sacara lahir dan batin melalui pendidikan, pelatihan secara terus menerus. Karena kesuksesan diupayakan secara jasmani dan rohani maka kesuksesan juga berdimensi dunia dan akhirat. Sukses di dunia mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup, sedangkan sukses di akhirat bisa menjadi penghuni surga.

Pada suatu saat Rasulullah Muhammad SAW menguji para sahabat tentang siapa yang dinamakan orang bangkrut itu, dalam sabdanya:

“أَتَدْرُوْنَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟” قَالُوْا: اَلْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ “إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي، مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هٰذَا، وَقَذَفَ هٰذَا، وَأَكَلَ مَالَ هٰذَا، وَسَفَكَ دَمَ هٰذَا، وَضَرَبَ هٰذَا. فَيُعْطٰى هٰذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهٰذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ. فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ، قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ. ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ”.

“Tahukah kamu siapakah orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “orang yang bangkrut atau pailit yaitu orang yang jatuh bangkrut dagangannya hingga habis semua kekayaannya, baik uang maupun perkakasnya.
Rasulullah SAW bersabda, sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku yaitu orang yang datang pada hari qiyamat lengkap membawa (pahala) shalatnya, (pahala) puasanya, (pahala) zakatnya. Tetapi ia telah memaki seseorang, menuduh orang lain makan harta orang lain, membunuh orang lain dan memukul orang lain. Maka berikanlah kebaikan orang ini kepadanya dan kebaikan itu kepadanya. Jika telah habis kebaikannya, sedang belum terbayar semua tuntutan orang-orang lainnya, maka diambillah dosa-dosa dari orang yang pernah dianiaya untuk ditanggungkan kepadanya, kemudian dari itu ia dilemparkan kedalam neraka. (HR. Muslim)

Dari hadits tersebut mengatakan bahwa ketika para sahabat ditanyakan tentang orang yang muflis/ bangkrut, jawabannya berorientasi pada kehidupan dunia, sebagaimana yang sudah disaksikan dan bisa jadi pernah dirasakan atau juga sering mendengar orang mengatakan muflis. Karena itu Rasulullah menekankan pada jawaban kehidupan sesudah mati yaitu alam akhirat. Alam akhirat menjadi alam yang penuh dengan keadilan karena seluruh organ tubuh manusia akan menjadi saksi atas semua yang telah dilakukan, mata, telinga, hati bahkan seluruh organ tubuhnya kelak menjadi saksi atas perbuatan yang telah dilakukan. Tidak ada yang bisa menyangkal atas perbuatan yang telah dilakukan, karena itu dosa-dosa yang pernah dilakukan seperti menghibah, memfitnah, menyakiti orang lain dan membunuh orang tanpa sebab perbuatan-perbuatan ini akan menggerogoti seluruh amal perbuatan baik yang telah dilakukan.

Sekalipun dia rajin menegakkan shalat, menunaikan puasa, membayar zakat dan amal ibadah-ibadah lainnya. Amal ini akan berkurang karena orang-orang yang pernah dirugikan oleh dirinya kelak di akhirat akan menuntut untuk kembalikan. Karena banyak orang yang menuntut akhirnya amal perbuatan baik yang telah dijalankan akan berkurang bahkan menjadi habis dan yang lebih mengenaskan lagi dosa dari orang-orang yang pernah disakiti dan dirugikan akan diberikan kepadanya.

Manusia sebagai makhluk pribadi hendaknya selalu menghiasi diri dengan akhlak terpuji, sebagai makhluk sosial bahwa segala aktifitasnya selalu berkaitan erat dengan orang lain, sehingga segala perilaku akan berpengaruh dan mempengaruhi orang lain. Tidak semua perbuatan baik yang dilakukan akan diterima dengan sepenuhnya oleh semua orang, apalagi bila melakukan hal-hal yang tidak baik. Sebagai makhluk Tuhan manusia diciptakan oleh Allah dengan tugas ganda sebagai khalifatul ard dan sebagai ‘abdullah. Dua fungsi ini hendaknya dapat dilaksankan dengan seimbang agar manusia selama hidup di dunia senantiasa mendapat petunjuknya dan di akhirat memperoleh syafa’at-Nya.

Karena itu agar tidak menjadi orang yang bangkrut belajarlah dan berlatihlah untuk menahan hawa nafsu yang senantiasa menjerumuskan manusia pada perbuatan tercela. Hawa nafsu itu bedemensi pada perilaku syetan yang selalu mencintai perbuatan tercela. Orang-orang yang beriman senantiasa waspada bahwa dalam setiap saat tidak lepas dari godaan syetan, dengan demikian selalu membentengi diri dengan memperbanyak zikir. Kesadaran diri bahwa apapun yang dilakukan tidak bisa lepas dari pengawasan Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Selengkapnya...

Sulitnya Untuk Berbuat Jujur-Berdampak Pada Perilaku Buruk



Jujur adalah salah satu perbuatan terpuji yang sulit untuk di wujudkan. Seandainya dunia ini dihuni oleh orang-orang yang semua senantiasa menegakkan kejujuran, niscaya tidak akan ada permusuhan, kerusakan, pertikaian dan peperangan. Jujur terhadap dirinya sendiri, kepada orang lain dan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dengan jujur kehidupan manusia akan istiqomah dan khusnul khatimah, jika menjadi pemimpin maka sejak dilantik hingga akhir masa jabatan dapat dilalui dengan baik, tidak pernah bersentuhan dengan para penegak hukum. Bahkan setelah selesai dengan masa jabatan, senantiasa istiqomah, karena pangkat dan jabatan adalah amanah, dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban. Di dunia oleh yang mengangkat dan di akhirat oleh Allah SWT. Jika menjadi pedagang adalah pedagang yang jujur tidak pernah mengurangi timbangan, tidak suka mengoplos barang yang asli dengan imitasi, tidak suka menimbun barang dan sebagainya maka hasilnya akan lebih barakah sehingga hidupnya semakin tenang.

Jika menjadi petani tidak pernah mengambil tanah orang lain dengan cara yang tidak benar, menjadi pegawai, buruh, pelajar, mahasiswa, dokter, tentara, polisi, jaksa, hakim dan sebagainya. Jika semuanya senantiasa menegakkan kejujuran maka ditemukan kehidupan yang aman, damai dan sejahtera. Tapi mungkinkah bahwa semua orang itu akan berbuat jujur? Orang mungkin akan melihat orang-orang yang tidak jujur melalui media masa, elektronik atau bisa juga secara langsung menyaksikan perbuatan ketidakjujuran.

Pernah suatu saat pada sebuah angkutan umum mikro bus yang padat dengan penumpang, terlihat kondektur bus maju mundur menarik ongkos para penumpangnya. Menurut sang kondektur semuanya telah dimintai ongkos, dan bila uangnya lebih maka uang pengembaliannya juga sudah dikembalikan. Ternyata ada seorang penumpang yang sudah mengeluarkan uang dan siap untuk dibayarkan, namun karena terhalang oleh penumpang yang lain akhirnya dia terlewatkan. Untuk sementara uang masih dipegang. Mungkin didalam hati ada perasaan senang karena uangnya bisa untuk kebutuhan yang lain namun bisa juga dia berjanji nanti akan membayar sambil turun. Ternyata orang tersebut lebih memilih yang pertama, uang dimasukkan kembali ke dalam saku celananya, dan dia turun dari bus seakan tidak membawa beban apapun.

Inilah kejujuran pada rakyat biasa saja juga sulit untuk diwujudkan, padahal nominalnya hanya sedikit. Bagaimanakah jika dia diberikan amanat untuk mengelola keuangan yang lebih besar, mungkin dia akan menjadi koruptor. Karena gaya hidup yang belum memenuhi standar, bila belum mempunyai mobil, rumah, tanah, dan sebagainya maka sesuatu yang belum ada akhirnya diada-adakan. Demikian pula pasangan hidup yang dimiliki akan merasa berkurang, sehingga terjadi nikah siri, perzinaan dan sebagainya. Tenangkah hidupnya? Walaupun kebutuhan materi terpenuhi? Semua akan kembali pada pribadinya masing-masing.

Sesungguhnya harta yang diperoleh dengan cara yang tidak wajar dan tidak benar maka maka menjadi rizki yang haram. Karena itu keharaman suatu barang tidak hanya dilihat dari wujudnya barang, namun sifat dan cara memperolehnya. Sebagai contoh dari segi zatnya Narkoba adalah haram, namun ternyata semua hal yang berkaitan dengan Narkoba dan sejenisnya adalah haram.

لَعِنَ اللهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَبَائِعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُوْلَةَ اِلَيْهَا (رواه ابوداوود وابن ماجه عن ابن عمر)

“Allah melaknat (mengutuk) khamar, peminumnya, penyajinya, pedagangnya, pembelinya, pemeras bahannya, penahan atau penyimpannya, pembawanya dan penerimanya”. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar)

Akibat harta yang haram
Makanan yang haram akan menyebabkan do’anya ditolak atau tidak maqbul. Karena itu janganlah berprasangka buruk terhadap Allah, ketika merasa ujub bahwa ibadahnya sudah berlebihan namun penderitaan, musibah dan bencana senantiasa datang silih berganti.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى يَاَيُّهَالرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صٰلِحً

وَقاَلَ تَعَالَى:يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اٰمَنُوُا كُلُوْامِنْ طَيِّبٰتِ مَارَزَقْنٰكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ياَ رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ. [رواه مسلم]

“Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firman-Nya: Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalihlah. Dan Dia berfirman: Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian. Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalan jauh dalam keadaan kusut dan berdebu. Dia mengangkatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata: ya Tuhanku, ya Tuhanku, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan”. (Hadits riwayat Muslim).

Kemudian bila dikorelasikan mengapa doanya menjadi doa yang ditolak, karena kewajiban pokok yaitu shalat lima waktunya, sebagai wujud hablun minallah, ternyata selagi makanan haram yang masih mengalir pada darahnya maka shalatnya tidak diterima oleh Allah. Dan dia akhirat akan di masukkan ke dalam neraka:

كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ حَرَامٍ فَالنَّارُ اَوْ لَى بِهِ (رواه الترمذى)

“Semua daging yang tumbuh dari harta yang haram, maka api neraka adalah utama untuk menyiksanya (HR. Tirmidzi)

Demikian bahwa kejujuran itu akan menuntun pada berbuatan baik dan sebailiknya lacut atau ketidakjujuran akan berdampak untuk cenderung melakukan perbuatan yang tidaak baik. Karena itu kejujuran harus dibiasakan. Karena kebaikan dan kejujuran yang telah menjadi kebiasaannya tidak akan bersikap lacut. Sebaliknya kebiasaan lajut bila tidak lacut maka mulutnya terasa gatal. Falsafah Jawa mengatakan “Ngapusi sepisan sak lawase bakal dhepus” sekali berbohong maka selamanya akan menjadi pembohong.
Selengkapnya...

Akibat Ninggalaken Kuwajiban Zakat-Khutbah Basa Jawa



Lan wong-wong kang kang padha nyimpen emas lan perak lan ora padha nafkahake marang dalan Allah, mula dhawuhna marang dheweke kabeh (yen dheweke kabeh bakal nampa) siksa kang lara, ana ing dina mas perak dipanasake ing geni neraka Jahannam,nuli dicosake ing bathuke dheweke kabeh, lempengane lan gegere dheweke kabeh (banjur diunekake) marang dheweke kabeh: “hiya iki bandha- bandha ira kang sira simpen kanggo kepentingan ira dhewe, mula rasakna sak iki (akibat saka) apa kang sira simpen iku. (QS. Attaubah: 35-36)


اَلْحَمْدُلِلّٰهِ اْلوَاحِدِ الْقَهَّارِ الْعَظِيْمِ الْجَبَّارِ. أَحْمَدُهُ سُبْحَاَنُه وَتَعَالىَ اَنَاءَ اللَّيْلِ وَاَطْرَفَ النَّهَارِ. وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ قَبْلَ انْقِضَاءِ الْاَعْمَارِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةَ تُنَجِّيْنَا مِنْ جَمِيْعِ الْاَهْوَالِ وَالْمَشَاكِلَةِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ رَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ اللهُ بِالرَّحْمَةِ وَالرَّأْفَةِ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّابَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Minangka dados tiyang Islam kita dipun dhawuhaken dening Allah supados nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan nilar sedaya awisanipun. Kewajiban utami ingkang dipun dhawuhaken inggih punika nindakaken rukun Islam ingkang cacahipun wonten gangsal. Inggih punika ngucapaken kalimat syahadatain, nindakaken shalat, bayar zakat, nglampahi shiyam Ramadhan lan haji. Inti saking rukun Islam inggih punika ngucapaken Syahadatain, jalaran shadatain punika minangka dados fondasinipun, menawi tiyang Islam ngakeni bilih Allah punika Pangeranipun lan Muhammad punika dados utusanipun. Sahingga sasampunipun ngucapaken inggih kedah nindakaken dhawuh-dhawuhipun, kanthi amal ibadah. Rasulullah SAW nate ngendika:

لَيْسَ الْاِيْمَانُ بِالتَّمَنِّى وَلَا بِالتَّحَلِّى وَلَكِنْ مَا وَقَرَ فِى القَلْبِ وَصَدَقَهُ الْعَمَلُ (رواهابن النجاروالديلمي

“Iman iku ora mung angen-angen lan pepahesan (ing lambe), nanging apa kang manggon ana ing ati lan di lakoni nganggo amal ibadah”.(HR. Ibnu Najar lan Dailami)

Allah paring dhawuh lan sampun nyiapaken piwalesipun, kagem tiyang ingkang taat lan mituhu dhateng dhawuhipun Allah yektos badhe dipun paringi kamulyan gesang ing dunya lan akhirat. Lan kagem tiyang ingkang ingkar dhateng dhawuhipun Allah, yektos sampun dipun siapaken piwales, kanthi wujud siksa ing alam akhirat samangke. Contonipun kagem tiyang ingkang boten purun ngedalaken zakat ing mangka bandhanipun sampun langkung saking setunggal nishab lan haulipun ugi sampun cekap, Allah sampun paring pemut:


“Babar pisan aja nganti wong-wong kang padha medhiti bandha kang wis kaparingake dening Allah marang dheweke kabeh saka kanugrahane iku padha ngira yen kamedhitan iku apik tumrap dheweke kabeh. Sajatine kamadhitan iku ala tumrap dheweke kabeh. Sejatine kamaditan iku ala tumrap dheweke kabeh. Bandha kang di medhiti dening dheweke kabeh iku bakal dikalungake ana ing gulune mbesuk ing dina qiyamat”. (QS. Ali Imran: 180)

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Mekaten punika satuhune sifat bakhil utawi medhit punika asring dhatengaken musibah lan bencana. Kanthi mekaten Allah mastani tiyang bakhil punika kados tiyang ingkang musyri’, kados pangendikanipun:

“Lan kacilakan kang gedhe tumrap wong-wong kang padha nyekuthokake (Panjenengane), (hiya iku) wong-wong kang ora pada ngetokake zakat lan dheweke kabeh kafir marang wujude (panguripan) akhirat”. (QS. Fush-Shilat: 6-7)

Satuhune ing dalem bandha punika wonten hak-hakipun kagem para fakir:


“Lan ing ndalem bandha-bandhane dhewekne kabeh ana hake kanggo wong miskin kang nyuwun lan wong miskin kang ora oleh bagian”. (QS. Adz-dzariyat: 19)

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Zakat punika dados ibadah sosial, amargi hasilipun saget langsung dipun raosaken dening tiyang sanes, khususipun tiyang fakir miskin, para yatim, musafir, gharim lan sanesipun. Kanthi zakat saget nuwuhaken raos welas asih dhateng tiyang sanes, khususipun tiyang-tiyang miskin. Sahingga piyambakipun rumaos dipun tulung dening para aghniya’, sak terasipun para aghiniya’ ugi rumaos aman kanthi bandha ingkang dipun miliki. Para fakir miskin punika ugi badhe ndherek ngamanaken bandhanipun, semanten ugi doa saking para fakir miskin lan tiyang-tiyang ingkang dipun dhalimi punika do’anipun mustajabah.

Nanging kosok wangsulipun menawi para aghniya’ punika bakhil, malah gesangipun tansah was-was, khawatir badhe ical, malah doa saking para fakir miskin lan tiyang-tiyang ingkang dipun dhalimi punika ndonga ingkang boten sae. Mekaten punika piwales wonten ing alam dunya, lan tentunipun tasih kathah piwales-piwales sanes ingkang sampun kasunyatan lan dipun raosaken dening para aghniya’.
Ing alam akhirat samangke, sedaya bandha dunya arupi mas picis raja brana ingkang boten dipun dalaken zakatipun, badhe dipun panasaken lan dipun gosokaken wonten badanipun.

“Lan wong-wong kang kang padha nyimpen emas lan perak lan ora padha nafkahake marang dalan Allah, mula dhawuhna marang dheweke kabeh (yen dheweke kabeh bakal nampa) siksa kang lara, ana ing dina mas perak dipanasake ing geni neraka Jahannam,nuli dicosake ing bathuke dheweke kabeh, lempengane lan gegere dheweke kabeh (banjur diunekake) marang dheweke kabeh: “hiya iki bandha- bandha ira kang sira simpen kanggo kepentingan ira dhewe, mula rasakna sak iki (akibat saka) apa kang sira simpen iku”. (QS. Attaubah: 35-36)

Saterasipun wonten hadits ingkang dipun riwayataken dening imam Buchari lan Muslim nerangaken bilih bandha ingkang boten dipun dalaken zakatipun badhe dipun wujudaken dados seterika ingkang sampun dipun panasi 50 ewu tahun. Menawi sampun adhem teras dipun panasi malih. Semanten ugi ingkang kagungan kewan ternak ingkang sampun langkung setunggal nishab boten dipun dalaleken zakatipun, benjang wonten akhirat kewanipun badhe ngidak-idak.
Semanten ugi kagem sedaya bandha lan kasil sanesipun, kados tanem-taneman, woh-wohan lan ugi penghasilan (gaji) ingkang boten dipun dalaken zakatipun, benjang bandha punika badhe dipun kalungaken wonten jangganipun ingkang arupi sawer. Rasulullah SAW ngendika:

مَنْ أَتَاهُ اللهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيْبَتَانِ يُطَوِّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ (اَىْ شِدْ قَيْهِ) ثُمَّ يَقُوْلُ: أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ (رواه البخارى)

“Sapa wonge diparingi bandha dening Allah, nuli ora ngetokake zakate, mangka bandha iku bakal didadekake ula kang ndase plontos, duweni racun werna loro kang bakal dikalungake marang wong kang duwe bandha kang ora di tokaken zakate ing dina qiyamat. Nuli ula iku nyokot karo kanda “aku iki bandhamu akau iku simpenanmu”. (HR. Buchari)

Mekaten punika ing antawis piwales kagem tiyang ingkang boten nindakaken dhawuhipun Allah, khususipun kagem tiyang ingkang boten purun ngedalaken zakat, saking bandha lan kasilipun. Akhiripun mugi-mugi kita dipun tebihaken saking sifat bakhil, amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّا كُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِى هٰذَا وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ, وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Selengkapnya...

Doa Pencanangan Bulan Dana PMI



PMI adalah lembaga nasional yang bergerak dibidang sosial dan kemanusiaan. PMI dituntut untuk mempunyai kemandirian walaupun di Indonesia Pemerintah masih mengalokasikan anggaran untuk kegiatan dimaksud. Karena itu dalam setiap tahun PMI senantiasa mengadakan pencanangan bulan dana PMI untuk menghimpun dana dari masyarakat, guna membantu kegiatan kemanusiaan. Sebagai makhluk sosial manusia tidak dapat hidup sendiri, oleh karena itu antara yang satu orang dengan yang lain saling ketergantungan.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًايُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍوَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ.يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيِنِكَ وَ عَلَى طَاعَتِكَ


Ya Allah. Tuhan yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati hamba-Mu di atas agama dan ketaatan kepada-Mu.
Palingkanlah hati kami dari segala sifat kikir, bahil dan tamak. Karena sungguh anugerah-Mu yang Maha Luas yang tak dapat kami menghitungnya.

Kami sadar ya Allah bahwa umur yang Engkau berikan, kesehatan yang Engkau limpahkan, kesempatan yang Engkau tebarkan menjadi sumber kenikmatan dan rizki yang tidak terhingga.
Karena itu ya Allah, jadikanlah kami untuk menjadi hamba-Mu yang pandai bersyukur yang karenanya akan bertambahlah kenikmatan yang kami dapatkan.

Ya Allah lapangkanlah hati kami untuk mendermakan sebagian kecil dari rizki yang Engkau titipkan kepada kami untuk mendukung dan menyukseskan pencanangan bulan dana PMI  tahun 2015.

Sesungguhnya hidup kami senatiasa dihadapkan dengan musibah dan bencana karena itu persiapkan hamba-Mu untuk ikhlas beramal guna membantu saudara-saudara kami yang dilanda musibah.

Kami yakin ya Allah setiap infaq yang kami keluarkan akan menambah rizki kami, akan menjauhkan kami dari musibah dan balak serta Engkau yang Maha Melipatgandakan amal kami.
Karena itu ya Allah dengan sepenuh hati, kami memohon rahmat dan Rahim-Mu, amin.

رَبِّ أَوِزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلٰى وَالِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صٰلِحًا تَرْضٰهُ وَأَدْخِلْنِىْ بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَالصّٰلِحِيْنَ

Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni`mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.

رَبَّنَا اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْاٰ خِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.



Selengkapnya...

Kotak Komentar