Pangkas Jam Karet Dari Keterlambatan Menuju Kesuksesan

Jam karet bukanlah merupakan hasil perkembangan teknologi, karena teknologi merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia untuk memecahkan problematika kehidupan. Coba sejenak kita renungkan, ketika pada zaman tahun 1970 an atau zaman sebelum itu, bagaimanakah umat Islam Indonesia yang akan melaksanakan rukun Islam yang kelima yaitu ibadah haji ke Mekah dan Madinah. Untuk bisa sampai ke tanah suci mereka melakukan perjalanan darat dan laut selama berbulan-bulan. Tetapi pada saat ini cukup bisa ditempuh pada tempo sehari atau dua hari. Mengapa demikian, karena manusia telah dapat menciptakan teknologi, yaitu perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang. Dan tentunya dari hasil teknologi ini ada yang berdampak positif dan juga negative. Yang positif bila hasil teknologi digunakan untuk mewujudkan keamanan, kedamaian dan kesejahteraan manusia. Namun bila teknologi itu disalahgunakan maka akan terjadi kehancuran dan akan menimbulkan malapetaka dan penderitaan umat manusia.

Jam karet merupakan kebiasaan yang sudah membudaya, adanya kebiasaan yang tidak menepati waktu yang telah ditentukan. Baik itu dalam kegiatan, rapat, diskusi, musyawarah, muktamar, upacara, peringatan hari besar Islam dan lain-lain. Misalnya kegiatan rapat dari panitia sudah mengantisipasi bahwa bila undangan jam 09.00, maka rapat akan dimulai jam 09.30-10.30. Dari panitia penyelenggarapun sudah mengatisipasi bahwa undangannya ada 2 macam, pertama untuk peserta umum dan kedua untuk para pejabat. Dengan kebiasaan ini, maka setiap orang ketika menerima undangan akan hadir melebihi dari waktub yang telah ditentukan. Bisa jadi seandainya rapat dimulai jam 09.00 maka berangkat dari rumah atau dari tempat kerja jam 09.00, jadi sampai tujuan pasti akan terlambat. Yang lebih aneh lagi ketika sudah sampai tujuanpun peserta yang lain juga belum hadir.

Inilah bahwa jam karet itu adalah budaya untuk mengulur-ulur waktu dan tidak menepati waktu yang telah ditentukan. Mengapa hal ini terus membudaya, apakah manfaatnya dan madharatnya? Untuk menjawab ini, pernah suatu saat ada rapat di suatu kantor pemerintahan, dimana peserta rapat adalah para pimpinan unit satuan kerja. Termasuk diundang pula seorang dokter kandungan, yang biasanya melakukan proses operasi, sudah berapa bayi dan ibunya yang diselamatkan dari maut. Pada waktu itu undangan rapat dimulai jam 09.00, pak dokter datang lebih awal dari waktu yang telah ditentukan, dan menunggu hingga jam 09.30 ternyata rapat belum ada tanda-tanda akan dimulai. Dokter bilang kepada peserta disebelahnya, “Bila operasi seperti ini maka sudah berapa nyawa melayang, berapa ibu dan anaknya yang tidak tertolong”.

Selain pak dokter ternyata masih ada keluh kesah peserta rapat yang lain, dia berkata “waktu menunggu ini seandainya saya gunakan untuk mengerjakan tugas saya yang lain tentu akan berkuranglah tugas saya, atau tugas saya yang hampir selesai jadi terbengkelai karena menunggu rapat ini”. Dan tentu saja masih banyak kisah-kisah yang lainnya. Memang dengan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan ini maka pekerjaan lain akan terbengkelai, pekerjaan akan sulit untuk diselesaikan sesuai dengan waktu yang tekah ditentukan.

Ternyata bahwa mengulur-ulur waktu menjadikan rapat tidak efektif lagi, karena undangan yang diharapkan para pimpinan satuan unit kerja, namun kemudian menugaskan kepada stafnya untuk mewakili. Bila jam karet banyak mendatangkan kerugian mengapa tetap dibudayakan. Karena itu sistemlah yang harus dirubah, disetiap pemerintahan atau swasta, kantor, dinas, instansi, badan dan lembaga serta satuan unit kerja memerlukan keteladanan. Maka kunci pokok penggerak system adalah para pimpinan itulah.

Pernah ada seorang pejabat pemerintah, seorang birokrat, beliau merupakan pribadi yang konsisiten terhadap waktu. Sehingga beliau selalu hadir sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Ternyata para pejabat yang di bawahnya dan juga para staf memahami kebiasan pejabat tersebut sehingga bisa mengikuti. Disinilah bahwa figur pemimpin yang dapat menjadi teladan bagi diri sendiri dan orang lain.

Imam Ghozali pernah menyampaikan 6 pesan kepada murid muridnya:

  1. Di dunia ini apa yang paling dekat dengan diri kita, murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman dan kerabatnya. Imam Ghozali membenarkan tatapi sesungguhnya yang paling dekat adalah kematian. Kematian adalah rahasia Ilahi, tak seoarang makhlukpun yang bisa mengetahui kapan ajalnya itu tiba. Karena itu sebaik-baik manusia yang siap dengan datangnya kematian dengan mencari bekal akherat yaitu dengan memperbanyak amal ibadah kepada Allah SWT.
  2. Di dunia ini apakah yang paling jauh dengan diri kita. Para muridnya ada yang menjawab negeri cina, bulan, matahari dan bintang bintang. Beliaupun membenarkan, tetapi sesungguhnya yang paling jauh dari diri kita adalah masa lalu. Karena masa lalu adalah masa yang tidak akan dapat kembali semakin lama maka akan semakin jauh. Karena itu apapun yang telah diukir pada masa sekarang dan waktu kemarin adalah masa yang amat jauh. Masa yang tidak akan dapat diraihnya kembali.
  3. Di dunia ini apakah yang paling besar. Para muridnya ada yang menjawab gunung, bumi dan matahari. Beliau membenarkan tetapi sesungguhnya yang paling besar adalah hawa nafsu. Hawa nafsu yang tidak bisa dikendalikan maka akan menjerumuskan dirinya ke azab siksa api neraka. Hawa nafsu ibarat api yang membakar kayu bakar, semakin lama dibiarkan maka akan semakin memabara dan akan mengabiskan seluruh kayu bahkan yang ada disekelilingnya akan menjadi rusak bahkan bisa menjadi musnah.
  4. Di dunia ini apakah yang paling berat. Para murusnya ada yang menjawab baja, besi dan gajah. Beliau membenarkan tetapi sesungguhnya yang paling berat adalah mengemban amanah. Mengapa karena amanat adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.
  5. Di dunia ini apakah yang paling ringan. Para muridnya menjawab kapas, angin, debu dan dedaunan. Beliau membenarkan tetapi sesungguhnya yang paling ringan adalah meninggalkan shalat. Karena sedikit mempunyai kesibukan, sedikit menirima nikmat, sedikit menerima cobaan lalu lupa dengan kewajiban menegakkan shalat. Pada shalat adalah penentu segala amal perbuatan manusia, bila shalatnya baik maka yang lain akan menjadi baik, bahakan amal yang kelak akan ditanyakan oleh Allah di hari qiyamat adalah amal shalatnya.
  6. Di dunia ini apakah yang paling tajam. Para muridnya serentak menjawab pedang. Beliau membenarkan tetapi sesungguhnya yang paling tajam adalah lidah. Pepatah mengatakan lidah lebih tajam daripada pedang. Sekali salah bicara maka akan terjadi mala petaka. Ada adu domba, hasat, fitnah adalah pekerjaan lidah yang tidak bisa terkendali.
Jadi jelaslah bahwa bila mengingat pesan Imam Ghazali ini amanat adalah sesuatu yang berat. Menjadi pemimpin berkaitan erat dengan amanat dan setiap amanat akan dimintai pertanggungjawaban, baik oleh yang memberikan amanat di dunia maupun besok di hari qiyamat. Karena itu bila ingin menjadi pemimpin maka siaplah untuk menjadi contoh dan di contoh. Siapa yang akan merubah sistem kalau bukan komitmen bersama yang diawali dari keteladanan para pemimpin.

Sebenarnya pengharagaan terhadap waktu adalah karena motivasi yang teramat besar untuk meraih kesuksesan, pelaksanaan peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang lain akan berakses positif bila semua kegiatan dapat dilaksanakan secara sistematis. Karena begitu pentingnya penghargaan terhadap waktu, maka Allah SWT sebagai pencipta, pemelihara, pengatur, penguasa seluruh alam bersumpah dengan waktu.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al Ashr: 1-3)

Pernahkah kita merenungkan bahwa semua makhluk Allah diberikan waktu yang sama sehari semalam 24 jam. Mengapa kondisinya berbeda-beda, ada yang sangat menghargai waktu sehingga kehidupannya Nampak lebih sejahtera dan bahagia. Namun ada juga yang membiarkan waktu berlalu begitu saja sehingga kondisi kehidupannya amat memprihatinkan, jangankan untuk makan besok untuk hari ini saja merasa kesulitan untuk memperolehnya. Mengapa bisa demikian, diantaranya karena waktu yang tidak diefektifkan.
Selengkapnya...

Melaksanakan Hak Seorang Muslim Yang Tidak Dapat Diwakilkan

Manusia merupakan makhluk dua dimensi yaitu dimensi lahir dan dimensi batin sehingga setiap usaha manusia juga berorientasi pada dua hal yaitu duniawi dan ukhrowi. Kehidupan dunia adalah merupakan lahan untuk meraih kehidupan abadi di akhirat. Karena kehidupan dunia adalah fana, kehidupan dunia penuh dengan tipu muslihat, sehingga Allah SWT melalui para rasulnya memberikan petunjuk pada manusia untuk meraih kesempurnaan hidup. Tanpa petunjuknya kehidupan manusia akan mengalami kehancuran. Kebenaran dan kesalahan akan dikalahkan dengan kekuatan, dan dengan kekuatan ini akan berkuasa. Karena itu dengan kekuasaan itu terjadi pertumpahan darah, siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Bila hal ini terjadi maka tidak ada keadilan. Yang salah bisa menjadi benar yang benar bisa menjadi salah. Campur-aduk kehidupan manusia kebenaran dan kebatilan bercampur.

Setelah para rasul menyampaikan risalahnya, mengatur tata kehidupan manusia, memberikan petunjuk, penerangan, janji dan ancaman atas segala perbuatan manusia. Bagaimanakah seharusnya manusia berbuat dan apa dampaknya kelak di akhirat. Namun ternyata kehidupan manusia sering menuruti kemauannya sendiri, menuruti hawa nafsu. Dengan demikian bagi orang-orang salih yang tdak merasakan keadilan di dunia, tidak mendapatkan kebahagiaan di dunia dia masih mempunyai harapan untuk memperoleh keadilan kelak di hari qiyamat.

Untuk mendapatkan ini manusia melakukan hak dan kewajibannya sebagai makhluk Tuhan, makhluk pribadi dan makhluk sosial. Dalam kehidupan di dunia manusia secara pribadi menjadi bagian dari masyarakat, karena itu tidak ada manusia yang hidup hanya tergantung pada dirinya sendiri. Kehidupan manusia adalah merupakan rantai kehidupan, yang antara bagian-bagiananya saling membutuhkan, saling menguatkan dan saling ketergantungan. Untuk mewujudkan kesempurnaan hidup ini, Rasulullah Muhammad SAW memberikan pedoman tentang hak-hak yang harus dipenuhi oleh manusia selaku makhluk sosial.

وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ قَالَ : " حَقُّ الْمُسلِمِ عَلَى الْمُسلِمِ خَمْسٌ ، رَدُّ السَّلامِ، وَعِيادَةُ الْمَرِيْضِ، وَاِتْبَاعُ الْجَنَاِئِز، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ" متفق عليه.

“Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Hak seorang muslim atas muslim lainnya itu ada lima perkara yaitu menjawab salam, menengok orang sakit, mengikuti janazah-janazah yang akan dimakamkan, memenuhi undangan dan menjawab doa orang yang bersin." (Muttafaq 'alaih)

Dari kelima hal ini ada beberapa hak yang membutuhkan kehadiran secara pribadi dan ada yang dapat diwakilkan. Perlu kita ketahui bahwa hubungan sosial didalam masyarakat dapat diimplementasikan sebagai wujud rasa empati atau sebagai wujud rasa syukur turut berbahagia. Terhadap saudara-saudara yang membutuhkan empati seperti menengok dan mendoakan orang yang sedang sakit, bertakziyah terhadap keluarga yang meninggal, berempati ketika saudaranya terkena musibah tanah longsor, banjir, kecelakaan lalu lintas dan lain-lainnya. Hal ini merupakan wujud rasa empati yang membutuhkan kehadiran secara pribadi. Karena kehadiran ini bermakna untuk meringankan beban atau menghibur kepada orang-orang yang baru saja terkena musibah.

Disamping itu dengan kehadiran secara langsung akan bermanfaat untuk menjernihkan emosi, meluluhkan hati yang keras, dan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT. Ketika menengok orang yang sedang sakit, seseorang akan merenungi betapa besarnya nikmat sehat yang sedang dirasakan, menambah rasa syukurnya kepada Allah. Karena sesungguhnya ketika salah seorang anggota keluarga sakit maka seluruh keluarga juga akan merasakan sakit. Dari hidup yang teratur menjadi berantakan, makan, minum, tidur yang teratur menjadi menjadi tidak teratur. Ketika sehat dapat tidur bersama-sama dalam satu rumah, namun ketika sakit harus dirawat di rumah sakit dan salah satu atau seluruh keluarga harus berjaga di rumah sakit. Demikian pula dalam bekerjapun menjadi tidak fokus.

Inilah sekelumit tentang hal-hal yang berkenaan dengan orang yang sakit. Belum lagi sakit secara ekonomi, karena betapa besar dana yang dikeluarkan untuk pembiayaan dalam rangka untuk meraih kembali predikat sebagai pribadi yang sehat. Hal-hal yang demikian dapat dirasakan ketika mau menengok orang yang sakit. Karena itu ketika mendengar teman atau saudara yang sakit, apakah menengoknya dapat diwakili?

Yang kedua bertakziyah dari keluarga yang meninggal dunia. Kematian adalah rahasia Allah, kematian akan menjemputnya baik ketika sakit atau sehat, ketika tua maupun muda, susah atau senang, sedang sendiri atau bersama-sama orang lain, sedang beribadah atau sedang maksiat. Kematian adalah suatu batas manusia untuk beramal ibadah kepada Allah secara langsung. Karena itu ketika bertakziah akan merenungi, tentang makna hidup dan kehidupan yang sedang dijalani. Apakah dengan umur yang panjang itu telah digunakan untuk menambah ketaatannya kepada Allah SWT atau justru sebaliknya.

Demikian pula ketika bertakziah akan menemui keluarga yang ditinggalkan, dalam kondisi berduka. Bagaimanakah keadaannya orang yang ditinggalkan oleh orang yang dicintai dan mencintai. Sungguh hal ini akan menjadi pemandangan yang memilukan. Sehingga hati orang yang tertakziah akan menjadi luluh, yang keras menjadi lunak, yang takabur akan menjadi tawadhuk dan kondisi-kondisi positif lain yang akan diperoleh bila benar-banar ikut bertakziyah. Apakah hal ini dapat diwakilkan?

Masih sama untuk mewujudkan rasa empati, yaitu menengok kepada orang-orang yang terkena musibah. Musibah adalah suatu keadaan yang tidak diinginkan kehadirannya namun tetap datang menghampiri. Dan musibah akan mengenai siapapun, bila menengok orang yang terkena kecelakan lalu lintas maka akan menumbuhkan sikap berkati-hati dijalan raya, bila melihat orang yang tekena banjir dan tanah longsor maka akan muncul kesadaran untuk tidak membuang sampah disembarang tempat dan melakukan penebangan secara liar. Kondisi inipun juga akan dirasakan bila menengok secara langsung. Lalu apakah dapat diwakilkan?

Didalam kehidupan masyarakat ada tuntunan untuk saling mengunjungi diantara teman atau saudara, misalnya membangun rumah, baru mendapatkan anak, melangsungkan pernikahan, khitan. Ini menjadi hak bagi setiap muslim untuk merasakan turut berbahagia. Kondisi mereka bahagia maka menjadi hak untuk menghadirinya namun bila mempunyai kegiatan yang lain bisa jadi diwakilkan. Dengan mengucapkan selamat melalui ucapan selamat atau dengan lainnya. Dari itu musibah dan anugerah adalah sesuatu yang melekat pada diri manusia, terhadap musibah kita berempati dan terhadap anugerah kira turut berbahagia.

Pernah kita menjumpai, ketika mendengar atau melihat teman atau saudara terkena musibah, kematian dan sakit tidak datang menjenguknya. Namun hanya berempati dengan menitipkan amplop berisi uang empati atau bila berada dalam komunitas desa, kantor, kota, RT, RW dan organisasi mengatakan cukup perwakilan saja. Apakah rasa empati dan duka dapat diwakilkan? Bagaimanakah bila hal ini menimpa pada dirinya sendiri. Ikhlaskah bila dalam kehidupan masyarakat termasuk orang yang supel, gaul dan merasa dekat dengan semua orang. Namun ketika menerima musibah dan cobaan ternyata hanya beberapa orang saja, cukup diwakilkan oleh ketua atau pimpinannya saja. Sungguh setiap kehadiran dalam suatu kedukaan akan menjadi obat bagi orang-orang yang terkena musibah. Hanya diri sendirilah yang merasakan demikian. Tentunya tidak ada orang yang mengharapkan empati dari orang lain, karena lebih baik memberi empati dari pada diberi, lebih baik menengok dari pada ditengok, lebih baik membantu dari pada dibantu, lebih baik menyumbang dari pada disumbang.
Selengkapnya...

Larangan Berburuk Sangka Terhadap Sesama Makhluk Ciptaan Allah

Ada seorang tetangga desa, dia termasuk orang yang dalam aktifitas sehari-hari memang tergolong orang yang sangat rajin, ulet, cermat dan disiplin. Sebut saja namanya Fulan, dia adalah seorang pendatang yang menikah dengan penduduk desa tersebut. Sebelum orang-orang di desa beraktifitas dia sudah pergi ke sawah untuk mencangkul yang kelak akan disiapkan untuk menanam padi. Tanah yang dikelolapun adalah tanah yang dibeli dengan sistem kontrak.

Disamping bekerja dengan tekun, beliau juga bisa menerapkan panca usaha tani mulai dari pembibitan padi, dengan memilih biji yang berkualitas, pengolahan lahan yang bagus untuk pemenuhan unsur hara dan memperbaiki struktur tanah, pengairan yang cukup, pemupukan untuk pemenuhan unsur hara, pemberantasan hama/penyakit agar tidak mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Semua kegiatan ini dilakukan ini tidak biasa dilakukan oleh orang-orang desa pada umumnya. Karena orang-orang desa hanya melakukan secara tradisional.
Disamping bertani, dia bersama istrinya juga membuka warung kelontong, yang menyediakan segala kebutuhan masyarakat. Dan kiosnyapun selalu ramai dikunjungi orang-orang yang akan berbelanja. Pak Fulan belum puas dengan aktifitas yang dilakukan, dia tidak mau membiarkan waktu berlalu begitu saja, sehingga setiap waktu selalu dimanfaatkan untuk bekerja dan berkarya, pada waktu siang hingga petang dia berkeliling dari desa ke desa untuk menjual beraneka macam kain untuk bahan pakaian. Namun karena masyarakat desa yang terkadang tidak mempunyai dana tunai maka pembayaranpun dilakukan secara kredit.

Bisa kita bayangkan  kondisi ekonomi dia, sungguh berbeda dengan orang-orang desa pada umumnya, dia memiliki rumah yang besar, lantainya bersinar, halaman rumahnya luas serta ornamen yang sangat indah. Pada tahun 1980 an TV adalah sesuatu yang sangat berharga, hanya orang-orang tertentu yang memiliki. Televisi pada waktu itu hanya mampu menangkap siaran TVRI, setiap sore hingga malam hari rumahnya selalu dikunjungi orang-orang yang bermaksud mau menonton acara TVRI.

Kisah yang berkembang ditengah-tengah masyarakat, bahwa dia melakukan usaha dengan melakukan kegiatan yang tidak wajar. Ada yang mengatakan bahwa dia mempunyai “prewangan”, dia memelihara tuyul, dia mengunakan guna-guna dan sebagainya. Begitulah terkadang orang tidak dapat belajar dari sekelilingnya. Bahwa untuk memahami ayat-ayat Allah manusia dapat belajar dari ciptaan Allah. Bagaimanakah tanaman pisang, bambu yang akan berkembang dengan baik dan memperoleh hasil yang memuaskan bila anakannya ditengkarkan atau dipisahkan dari induknya. Sehingga di tempat yang baru akan berkembang dengan baik. Pak Fulan adalah pendatang sehingga dia akan lebih maksimal bekerja di daerah yang baru.

Dari kisah itu terus berkembang, bisa jadi pak Fulan dan keluarganya telah mendengar desas-desus yang berkembang di masyarakat. Namun dia tidak ambil pusing, karena apa yang dilakukan tidak merugikan orang lain, dia berpandangan orang-orang banyak yang iri tetapi tidak mau mengaca diri dan tidak membandingkan kinerjanya dengan dirinya. Seandainya orang-orang desa dapat belajar darinya tentu akan memperoleh hasil yang lebih baik, bahkan kesejahteraan hidupnya akan semakin meningkat. Bukankah ahli hikmah pernah berkata “man jadda wajada” siapa yang bersungguh-sungguh akan memperoleh keberhasilan.

Masyarakat desa yang selalu berburuk sangka dalam kehidupan dunia tidak mengalami perubahan, bahkan sekalipun dia penduduk asli desa namun yang menjadi tuan adalah orang yang pendatang. Ekonominya lebih maju, status sosial semakin meningkat, prestise dan reward dari masyarakat semakin meningkat. Dari ini jelas terlihat balasannya bagi orang-orang yang suka menghibah, ucapannya justru kembali pada dirinya sendiri dan yang dihibah memperoleh pahala sehingga usahanya semakin meningkat.

Sesungguhnya sikap berburuk sangka ini adalah suatu perbutan yang dilarang oleh Allah, hal ini sesuai dengan QS Al Hujurat ayat 12 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”

Larangan Allah yang disampaikan pada ayat tersebut:
  1. Berburuk sangka karena hal ini termasuk dosa besar.
  2. Jangan mencari-cari kesalahan orang.
  3. Jangan menggunjing/ menghibah.
Larangan Allah ini disampaikan kepada orang-orang yang beriman, jadi bila mengaku dan mengikrarkan diri sebagai orang yang beriman hendaknya dapat menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tersebut. Dan bila terpaksa melakukan hal tersebut hendaknya bertobat kepada Allah. Dimensi tobat adalah merenungi perbuatan dosa yang telah dilakukan dan menyesali, tidak akan melakukan perbuatan dosa yang serupa pada kesempatan yang lain, tobat akan mengganti perbuatan salah dengan perbuatan yang baik.
Begitu besarnya dosa dari perbuatan berburuk sangka Rasulullah SAW mengatakan:

وَعَنْ أَبي هُريْرةَ رضي اللَّه عَنْهُ أنَّ رَسُوْلُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : " إيًاكُمْ والظَّنَّ ، فَإنَّ الظَّنَّ أكذَبُ الحَدِيثِ ، ولا تحَسَّسُوا ، ولا تَجسَّسُوا ولا تنافَسُوا ولا تحَاسَدُوا ، ولا تَباغَضُوا، ولا تَدابَروُا ، وكُونُوا عِباد اللَّهِ إخْواناً كَما أمركُمْ . اَلْمُسْلِمُ أخُو الْمُسْلِمِ ، لا يظلِمُهُ ، ولا يخذُلُهُ ولا يحْقرُهُ (رواه البخاري ومسلم)

"Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "jauhilah olehmu sekalian berprasangka, karena sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta pembicaraan, serta janganlah kamu sekalian meraba-raba dan mencari-cari kesalahan orang lain, janganlah kamu sekalian saling berdebat, saling menghasut, saling membenci dan saling membelakangi, tetapi jadilah kamu sekalian hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan kepadamu. Orang Islam yang satu adalah saudara orang Islam yang lain, ia tidak boleh menganiaya, menghinanya dan mengejeknya”. (HR.Buchari Muslim)

Abu Qilabah meriwayatkan bahwa telah sampai berita kepada Umar bin Khattab, bahwa Abu Mihjan As Saqafi minum arak bersama-sama dengan kawan-kawannya di rumahnya. Maka pergilah Umar hingga masuk ke dalam rumahnya, tetapi tidak ada orang yang bersama Abu Mihjan itu kecuali seorang laki-laki, Abu Mihjan sendiri. Maka berkatalah Abu Mihjan: "Sesungguhnya perbuatanmu ini tidak halal bagimu karena Allah telah melarangmu dari mencari-cari kesalahan orang lain". Kemudian Umar keluar dari rumahnya.

Dan Allah melarang pula bergunjing atau mengumpat orang lain, dan yang dinamakan ghibah atau bergunjing itu ialah menyebut-nyebut suatu keburukan orang lain yang tidak disukainya sedang ia tidak di tempat itu baik sebutan atau dengan isyarat, karena yang demikian itu, menyakiti orang yang diumpatnya. Dan sebutan yang menyakiti itu ada yang mengenai, keduniaan, badan, budi pekerti, harta atau anak, istri atau pembantunya, dan seterusnya yang ada hubungannya dengan dia.

Sesungguhnya perbuatan, mengumpat, menghibah, menghasut, mencari-cari kesalahan orang lain adalah merupakan perbuatan yang tercela, akhlaqul madzmumah. Suatu perilaku yang hendaknya dijauhi, disingkirkan bahkan dibuang jauh-jauh. Perilaku tersebut disamping merugikan orang yang bersangkutan, yang karenanya nama baiknya akan hilang, dikucilkan orang lain bahkan usahanya kadang mengalami kendala. Ternyata perbuatan tersebut juga merugikan diri sendiri. Dari segi rohani berarti hatinya sakit dan harus diobati, karena bila tidak segera diobati akan menimbulkan penyakit-penyakit lainnya. Disamping itu doa orang yang dianiaya adalah salah satu doa yang maqbul. Perbuatan tersebut juga menyita waktu, tenaga dan fikiran sehingga kadang melalaikan perbuatan-perbuatan baik lainnya. Sekalipun orang tersebut senang mealukan amal perbuatan yang baik namun dia akan menjadi orang yang muflish (bangkrut), karena amal ibadahnya berkurang dan digantikan dengan dosa dari orang yang fitnah, digunjing, dianiaya dan sebagainya. Bahkan pahala bisa jadi akan hilang sama sekali. Bila sudah demikian tiada harapan lagi masuk ke dalam surga Allah SWT.
Selengkapnya...

Mewujudkan Generasi Mukmin Yang Kuat Dalam Iman dan Taqwa

Kita pernah bahkan sering mendengar orang mengatakan “jadilah pribadi yang kuat”, karena dengan pribadi yang kuat kelak akan meninggalan generasi yang kuat pula. Sekarang yang menjadi pertanyaan “kuat dalam bidang apakah itu”? Kuat dalam bidang fisik, rohani, materi, ekonomi, sosial, nafsu atau kekuatan-kekuatn yang lainnya.

Hukum alam telah membuktikan dalam usia kurang dari 40 tahun usia yang sangat membanggakan. Bagaimanakah setelah usia 40 tahun, seandainya masih perkasa tentu keperkasaannya sudah mulai berkurang, setelah usia 50 tahun ingin mengenang peristiwa-peristiwa di usia produktif, hasrat masih bergelora namun fisik kadang sudah tidak memungkinkan. Karena otot-otot yang dahulu kuat dan kencang sudah mulai mengendur dan berkurang kekuatannya. Apalagi bila usia 60 tahun keatas tentunya jangan berhayal untuk menjadi muda kembali.

Suatu perenungan, sering kita menyaksikan orang yang mempunyai tubuh yang kuat, atletis bahkan body language, kadang dengan tubuh yang kuat itu banyak orang yang menjadi kagum, segan, takut dan lainnya. Sampai umur berapa tahunkah tubuh yang perkasa itu akan tetap dibanggakan dan menjadi kebanggaan.

Usia-usia ini hanya bisa mengenang masa-masa yang lalu dengan membuka-buka album, tanda jasa, piagam dan sebagainya. Namun bersyukurlah menjadi pribadi yang mempunyai kenangan manis yang dapat dibanggakan dan anak cucunya dapat membanggakannya. Ternyata keperkasaan, kekuatan, kecantikan, ketampanan dan bentuk tubuh lainnya akan hilang seiring perjalanan waktu yang tidak bisa diundur kembali. Rasulullah SWT pernah mengatakan: “bukanlah keperkasaan itu orang yang dapat mengalahkan musuh-musuhnya tetapi keperkasaan itu orang yang dapat mengendalikan nafsunya ketika sedang marah”. Ternyata kekuatan fisik kelak akan menjadi lemah bahkan akan hilang sama sekali. Bagaimanakah bila kuat dalam bidang ekonomi dan harta. Allah telah mengatakan bahwa harta dan anak itu adalah merupakan perhiasan dunia, harta dan anak bisa menjadi anugerah dan kadang menjadi fitnah.

Setiap jasad yang masih bernyawa tidak akan pernah lepas dari masalah, dengan masalah hidup akan terasa lebih aktif dan dinamis. Tentunya bila dapat bersikap dewasa ketika menghadapi masalah. Dan bagi orang yang beriman akan yakin bahwa setelah kematianpun juga akan dihadapkan dengan masalah. Kehidupan di alam barzah adalah pengadilah dari Sang Khaliq yang tidak akan ada dusta dan kepalsuan, semua akan berjalan menurut amal yang telah dilakukan. Karena itu jadilah pribadi yang kuat.

Harta akan menjadi anugerah, bila dengan harta kekayaan yang dimiliki senantiasa bersyukur. Orang yang bersyukur disamping memegang teguh kaidah syar’i, bahwa dari sebagaian kecil harta yang dimiliki adalah terdapat hak-hak bagi orang-orang miskin. Sehingga dengan dasar syar’i muncul kesadaran untuk berzakat, infaq dan sedekah. Namun kadang juga bersyukur dengan munculnya getaran didalam hati untuk memberikan empati kepada siapapun yang kondisinya berada dibawah dirinya. Dengan mendermakan harta yang dimiliki ini justru akan semakin menambah kenikmatannya, namun demikian bersedekah itu tidak semata-mata melalui harta dan kekayaan, melainkan juga dapat dilakukan dengan memberikan teori-teori atau pengetahuan yang dapat bermanfaat positif bagi sesama, misalnya memberikan ide atau trik pada forum media sosial atau sejenisnya.

Dalam Qur’an Surat Ibrahim ayat 7 yang artinya“ Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Sebaliknya dengan harta akan menjadi bencana dan malapetaka, harta merupakan titipan, amanah dan anugerah.

Didalam Alquran telah disampaikan bagaimanakah Qarun yang hidup pada zaman nabi Musa. Dia mengatakan bahwa harta itu adalah segala-galanya, harta diperoleh karena usahanya sendiri, karena itu menjadi haknya sendiri. Tidak ada aturan harta adalah pemberian Allah dan terdapat hak bagi orang-orang miskin. Sehingga akhirnya harta membawa bencana bagi dirinya. Adakah pada zaman sekarang harta menjadi Tuhan. Apapun bisa diperoleh dengan harta, pangkat, jabatan, isteri, rumah, kendaraan mewah, perhiasan, melancong ke luar negeri dan sebagainya? Ternyata hal yang demikian terkadang tidak berlangsung lama. Bisa jadi kebahagiaan yang selalu diidam-idamkan setelah memperoleh alat untuk meraih kebahagiaan (harta) namun ternyata berakhir dengan penderitaan dan bencana.

Ingat bahwa ekonomi yang kuat tidak akan menjamin kebahagiaan yang abadi bila tidak menyandarkan pada aturan Ilahi. Dalam Islam ada amal yang akan menjamin kebahagiaan abadi yaitu shadaqah jariyah, sekalipun seseorang telah meninggal dunia tetapi tetap bisa menumpuk pahala. Amal yang demikian ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang mampu yang hatinya telah terbuka dan menyadari bahwa pada sebagian harta yag dimiliki terdapat hak-hak bagi orang-orang miskin.

اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan”. (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Nasai)

Dunia ini diciptakan oleh Allah dengan aneka warna, bentuk, wujud dan jenisnya. Ada besar ada kecil, ada panjang ada pendek, ada bulat ada lonjong, ada putih ada hitam, ada yang tinggi ada yang pendek, ada yang miskin ada yang kaya, ada yang pandai ada yang bodoh, ada yang bagus ada yang buruk dan sebagainya. Semua yang ada di alam merupakan Sunnatullah. Jika Rasul mengatakan bahwa mukmin yang kuat adalah lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah, namun bukan berarti bahwa mukmin yang lemah tiada berguna. Ternyata rasul mengatakan bahwa diantara keduanya ada baiknya.

Secara kasat mata bahwa orang yang kuat adalah para pejabat, pengusaha, para bos dan lainnya, dan yang lemah adalah rakyat jelata. Dari yang berpenghasilan pas-pasan sampai yang tidak berpenghasilan sama sekali. Orang yang berpenghasilan pas-pasan, bila disuruh bekerja apapun tentu mau (bagi yang mempunyai pemahaman dan kesadaran beragama pada hal-hal yang tidak bertentangan dengan agama). Dan pekerjaan ini tentu tidak dilakukan olah para aghniya’. Contohnya tukang sampah, buruh bangunan, tukang tambal ban, pemulung tentu hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu, dan keberadaan mereka dirasakan bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Jadilah mukmin yang kuat dalam iman, karena dengan iman dan keyakinan yang kuat dan teguh akan membentuk moralitas yang baik. Setiap mu’min dalam setiap gerak langkahnya akan disandarkan pada kekuasaan Allah, kapanpun dan dimanapun berada selalu berhati-hati dalam bertindak karena adanya keyakinan bahwa Allah selalu mengetahui segala geraak-gerik, amal perbuatan hamba-Nya. Bahkan dalam setiap amal perbuatan hambanya kelak akan dimintai pertanggungjawaban disisi-Nya. Karena itu dengan keyakinan ini akan memunculkan akhlaqul karimah dan amal perbutan terpuji.
Iman yang masih rapuh dalam kondisi apapun tidak pernah memperhatikan halal-haram, merugikan orang lain atau tidak yang penting menguntungkan diri-sendiri. Bahkan bila termasuk dalam kategori orang yang mendapat kemuliaan berupa harta, pangkat dan jabaan yang bagus tidak menyadari bahwa semua itu merupakan amanat sehingga banyak disalahgunakan. Apalagi orang-orang yang hidupnya selalu dalam kondisi kesulitan. Sesungguhnya kebahagian atau kesusahan, anugerah atau musibah merupakan ujian dari Allah. Dan Allah tidak akan menguji hamba-Nya kecualimenurut kesanguupannya.
Selengkapnya...

Waspada Terhadap Musibah dan Cobaan Duniawi

Musibah adalah suatu kejadian yang menimpa pada diri manusia yang tidak pernah dikehendaki. Dengan musibah,orang akan menjadi bersedih, namun musibah bagi orang-orang yang beriman akan menjadikan kadar keimanan semakin meningkat.

Orang yang beriman menyadari dengan sepenuh hati bahwa musibah itu terjadi atas qadha dan qadar Allah. Ketika bersabar dalam menerima musibah maka akan muncul keyakinan bahwa Allah SWT akan menggantikan dengan yang lebih baik.

عجبا للمؤمن لا يقضى الله له قضاء الا كان خيرا له ان أصابته ضراء صبر فكان خيرا له وان اصابته سراء شكر فكان خيراله وليس ذالك لاحد الا للمؤمن (متفق عليه)
Artinya:
Sungguh menakjubkan keadaan orang mukmin itu. Allah tidak menetapkan suatu keputusan baginya melainkan keputusan itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka yang demikian itu lebih baik baginya. Jika mendapat kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu adalah lebih baik baginya. Dan hal tersebut tidak akan menjadi milik seorangpun kecuali orang mukmin. (Muttafaqun “Alaihi)

Musibah yang menimpa manusia bisa bewujud kekurangan harta, kehilangan kesempatan, kehilangan jiwa. Sudah banyak terjadi ketika banyak orang sedang terlena dalam kesenangan dan kebahagian dunia yang penuh tipuan, berfoya-foya dengan mobil mewah, gadget canggih dan bermerk yang saat ini harganya mencapai jutaan rupiah atau sebaliknya, sedang murung karena keputusasaan. Disaat ini musibah datang, rumah, harta, jiwa bahkan keluarganya terpendam oleh longsoran tanah karena bendungan yang jebol. Atau tertimbun tanah yang longsor akibat lahan yang kritis.
Bisa jadi kehilangan jiwa, karena tertimbun reruntuhan bangunan akibat gempa bumi seperti yang belum lama ini dialami oleh saudara-saudara kita di Sumatera Barat. Akankah nyawa meninggalkan raga ketika diri kita jauh dari Allah, hanya Allah Maha Tahu, dan kita hanya berusaha selalu dalam keimanan.

Karena itu ketika musibah datang dan menghampiri kita sehingga mengakibatkan kematian, maka tiada lagi kesempatan untuk menambah amal ibadah. Karena itu kesempatan untuk melakukan amal ibadah mulailah dari sekarang, mulailah dari hal yang kecil dan mulailah dari diri sendiri.
Selengkapnya...

Kotak Komentar