Melestarikan Ibadah Puasa Ramadhan Menuju Pribadi Muslim Kaffah



Ramadhan mubarak telah meninggalkan kita, bulan yang didalamnya Allah melimpahkan rahmat dan maghfirahnya, sehingga dengan demikian Allah memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada umat Islam untuk meraihnya. Bila dapat memanfaatkan kesempatan yang diberikan Allah tersebut, setiap muslim akan dapat dapat memasuki pintu surga dan dijauhkan dari siksa api neraka.

Karena itu barang siapa yang dapat melaksanakan ibadah dibulan puasa atas dasar iman dan mengharap ridha dari Allah, maka Allah akan mengapuskan dosa-dosanya yang telah dilakukan. Dengan bersihnya dari dosa tersebut maka akan mempercepat proses hisab atas amal perbuatan manusia. Pada bulan Ramadhan Allah juga memberikan kemurahan terhadap amal ibadah kita sekalian, karena setiap kebaikan yang kita lakukan akan dilipatgandakan antara 10 hingga 700 kali. Belumlah cukup bagi Allah memberikan kemurahan kepada hamba-Nya, masih ditambahkan lagi, bagi ahli ibadah yang sedang beribadah pada malam Lailatul Qadar maka akan disamakan dengan orang yang beribadah selama 1000 bulan.

Subhanallah, rasul mengambarkan, seandainya umatku mengetahui akan kemurahan yang ada di bulan Ramadhan, niscaya mereka akan meminta seluruh bulan dalam setahun agar dijadikan sebagai bulan Ramadhan. Namun kebanyakan dari kita tidak menyadari atau tidak mengetahui akan keutamaan tersebut. Karena memang hanya orang-orang tertentu yang dapat memahami keadaan yang demikian. Allah berfirman dalam surat Al Ashr:

" Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran".

Surat tersebut menggambarkan bahwa manusia dalam keadaan merugi, karena tidak bisa memanfaatkan waktu. Allah telah memberikan keadilan bagi semua hambanya dalam sehari semalam di beri waktu selama 24 jam. Dengan waktu tersebut ada yang terlena sehingga banyak menyia-nyiakan waktu sehingga digunakan secara tidak efektif dan efisien, sehingga baginya waktu adalah fitrah alamiyah yang harus dijalani apa adanya. Namun bagi orang-orang yang dapat memahami akan arti pentingnya waktu, memandang bahwa dengan waktu itu manusia dapat berkarya, berkresi, mengembangkan idealisme diri sehingga bisa mewujudkan manusai yang sempurna. Tiada hari yang digunakan kecuali untuk beribadah kepada Allah. Maka Allah menjelaskan kerugian dalam penggunaan terhadap waktu itu tidak berlaku bagi orang-orang yang yang suka beramal shaleh, berwasiat untuk menaati kebenaran dan berwasiaat untuk menetapi kesabaran.

Dengan berlalunya bulan Ramadhan, banyak orang yang merasa lega, ibarat binatang buas yang dikerangkeng kemudian dilepaskan dari kerangkengnya, maka akan dengan leluasa melaksanakan apapun yang dia suka. Demikian pula orang yang melaksanakan ibadah bulan puasa, selama satu bulan merasa dikekang, semuanya serba dipaksakan, begini tidak boleh, begitu tidak boleh karena bisa merusak kualitas ibadah puasa. Maka dengan masuknya bulan syawal waktunya untuk berbuka, kondisi kembali pada status quo, makan, minum tidur bebas dengan leluasa. Maka bila begini jadinya akan terjadi perbudakan hawa nafsu kembali. Oleh karena sebagai wuud bahwa orang yang melaksanakan ibadah puasa memperoleh derajat muttaqin, amal perbuatannya dari waktu kewaktu akan menunjukkan peningkatan:

1. Dengan selesainya ibadah bulan puasa Ramadhan maka akan dilanjutkan dengan melaksanakan puasa enam hari pada bulan Syawal.

من صام رمضان ثم اتبع ستا من شوال كان كصيام الدهر (رواه مسلم

" Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan kemudian diikuti enam hari pada bulan Syawal maka seperti orang yang berpuasa sepanjang masa (HR. Muslim)

Ibadah ditengah-tengah banyaknya godaan adalah mempunyai pahala yang lebih besar, maka alangkah baiknya dilaksanakan pada tanggal 2-7 Syawal, karena pada hari tersebut pada umumnya masih tersedia banyak makanan dan minuman yang kadang membuat manusia akan terlena, sehingga mendorong untuk mengumbar kemauan hawa nafsu.

Ingatlah dengan sabda Rasul bahwa ketika masuk bulan Syawal maka kembali bani Iblis ingin menjerumuskan manusia ke jurang kesesatan

ان ابليس عليه اللعنة يصيح فى كل يوم عيد فيجتمع اهله عنده فيقولون: يا سيدنا من اغضبك انانكسره فيقول لا شىء واكن الله تعالى قد غفر لهذه الامة فى هذااليوم فعليكم ان تشغلوهم باللذات والثهوات وشرب الخمر حتى يبغضهم الله


" Sungguh, iblis yang terlaknat berteriak-teriak saat Idul Fitri tiba. Lalu berkumpullah anak buahnya dan bertanya, wahai tuanku, siapa gerangan yang membuat paduka marah-marah akan kami pecahkan kepalanya. Iblis menjawab, tidak ada apa-apa. Hanya saja Tuhan telah memberi ampun kepada umat manusia hari ini. Maka kalian harus menjadikan mereka sibuk dengan kesenangan, nafsu syahwat dan mabuk-mabukan, agar Tuhan murka".

2. Senantiasa berusaha untuk melaksanakan shalat malam dan shalat-shalat sunnah lainnya secara istiqomah. Shalat menurut bahasa berarti do'a, maka ingatlah bahwa Allah akan mengabulkan do'a kita sekalian apabila mau berdoa:



" Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS. Al Baqarah: 186)

3. Senantiasa melestarikan kegemaran untuk tadarus Alquran, diikuti dengan kegiatan mempelajari isi kandungannya, dan setelah mengetahuinya berusaha untuk mengamalkan ajarannya. Sehingga Alquran yang berarti bacaan, namun membacanya tidak sama dengan membaca bacaan-bacaan yang lain, karena membaca Alquran setiap hurufnya akan dinilai sebagi suatu kebaikan. Demikian pula Alquran hendaknya dipahami sebagai Hudan yaitu untuk memberi petunjuk, Addzikr untuk memberikan peringatan, Al Furqan pembeda dan Al Kitab yang ditulis. Sehingga nama-nama lain dari Alquran dapat diamalkan manakala mengetahui isi dan kandungannya.

4. Pada bulan Ramadhan menjadi kesempatan untuk memperbanyak shadaqah, menyantuni fakir miskin. Sehingga dengan demikian pada bulan itu Allah SWT memberikan kebaikan bagi orang-orang yang bershadaqah memberi makan untuk berbuka bagi orang yang melaksanakan puasa, maka pahalanya sama dengan orang yang melaksanakan puasa, hal ini bisa menajdi motovasi untuk memupuk amal kebaikan. Demikian pula mengakiri bulan Ramadhan diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah guna membersihkan jiwanya. Barang siapa yang melaksanakan puasa dan segera mengakhiri, tetapi tidak membayar zakat fitrah maka pahalanya menggantung antara bumi dan langit. Dengan kewajiban membayar zakat mudah-mudahan dapat menajdi motivasi untuk meningkatkan zakat, infaq dan shadaqah pada bulan-bulan yang lain.

5. Membiasakan diri untuk berperilaku yang shaleh, bila pada bulan puasa tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik, berkelahi dan perilaku jelek lainnya. Bagaimanakah bila perbuatan ini diterapkan pada bulan-bulan yang lain, niscaya ditengah-tengah masyarakat akan tercipta keharmonisan dan kedamaian. Semua orang dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Allah dan hamba Allah.

6. Ketika bulan Ramadhan banyak kegiatan majelis ta'lim, yasinan, TPQ, Madin dan kegiatan-kegiatan rutin dihentikan sebagai penyegaran pada bulan Ramadhan. Maka ketika masuk pada bulan Syawal hendaknya segera dilanjutkan, ditingkatkan baik secara kuantitas mapun kualitasnya.

Demikian untuk mewujudkan amaliyah pada bulan Ramadhan bukanlah hal yang mudah, akan tetapi membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, kesungguhan, kemauan yang kuat untuk memerangi hawa nafsu, mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan taufiq, hidayah serta inayahnya kepada kita sekalian, amin.

Anda sedang membaca artikel dari untajiaffan Terbaru hari ini. Mohon untuk membagikan artikel ini ke teman anda melalui sosial media dibawah ini.

Artikel Untajiaffan Lainnya:



Kotak Komentar