Jumat, 31 Juli 2020

Seleksi Keimanan Dalam Menghadapi Cobaan, Musibah, Bencana dan Wabah, Khutbah Jum’at

Sesungguhnya musibah, bencana, wabah akan terus terjadi selagi dunia masih berputar, dan bagi masing masing orang musibah, bencana, wabah masih akan dialami didunia selagi masih diberikan kehidupan. Bahkan setelah berakhirnya kehidupan akan memasuki kehidupan yang lain dimana setiap manusia akan mempertanggungjawabkan setiap amal perbuatannya.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بنِعْمَةَ اْلِإيْمَانِ وَاْلإِسْلَامِ وَاْلِاسْتِقْلَالِ أَوِاْلحُرِّيَّةِ، وَأَفْهَمَنَا مِنْ عُلُوْمِ الدِّيْنِ وَاْلعَقِيْدَةِ، وَبَيَّنَ لَنَا وَأَرْشَدَنَا اْلأَخْلَاقَ الْكَرِيْمَةَ وَاْلأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ أَهْوَالِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَافِعُ اْلأُمَّةِ وَخَيْرُ اْلبَرِيَّةِ, اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ وَيَجْتَنِبُوْنَ اْلَمنْهِيَّاتِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ


Kaum muslimin jemaah jum’ah Rahimakumulah
Pada hari ini kita sekalian memperingati hari raya Idul Adha 1441 Hijriah atau tahun 2020 Masehi. Idul Adha pada tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana pada tahun sebelum ini. Umat Islam yang berada di tanah air ujian keimanannya untuk melakukan penyembelihan hewan qurban. Dan saudara-saudara kita yang seharusnya pada tahun ini telah mendapat kuota untuk melaksanakan ibadah haji ke tanah suci, akan tetapi pada tahun ini ibadah haji pada tahun ini terpaksa harus ditunda atau tidak dilaksanakan pada tahun ini. Hal ini karena dunia sedang yang mengalami pandemi atau wabah pandemi Covid- 19, suatu wabah penyakit yang belum pernah kita rasakan dan belum pernah kita alami, tetapi hal ini terjadi pada tahun ini. Karena itu pada tahun ini kita sekalian umat Islam khususnya benar-benar sedang diuji oleh Allah dengan berbagai macam musibah dan wabah. Allah menguji kesabaran kita dan mudah-mudahan dengan kesabaran itulah kita sekalian akan dinaikkan derajatnya oleh Allah SWT, amin.

Pandemi Covid- 19 sungguh merupakan wabah yang mengkhawatirkan seluruh umat manusia, dan sampai hari ini para ilmuan belum menemukan vaksin untuk menangkal adanya wabah tersebut dan berdasarkan protokol kesehatan kita hanya bisa menghindari mencegah agar tidak terkena wabah penyakit tersebut. Wabah penyakit yang bisa menyerang saluran pernafasan, sehingga nafas kemudian menjadi sesak dan akhirnya bila tidak bisa tertolong akan terjadi kematian.

Corona adalah suatu virus yang tidak bisa disaksikan dengan mata kepala, akan tetapi wujudnya ada dan siap untuk ke mana-mana. Oleh karena itu pada hari Raya Idul Adha tahun ini, marilah kita menyatukan persepsi dan melakukan tindakan bersama untuk menangkal adanya virus tersebut agar tidak merajalela.

gambar

Sesungguhnya musibah, bencana, wabah akan terus terjadi selagi dunia masih berputar, dan bagi masing masing orang musibah, bencana, wabah masih akan dialami didunia selagi masih diberikan kehidupan. Bahkan setelah berakhirnya kehidupan akan memasuki kehidupan yang lain dimana setiap manusia akan mempertanggungjawabkan setiap amal perbuatannya. Allah SWT berfirman:
“dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah: 155-156)

Cobaan, musibah, bencana, wabah senantiasa datang silih berganti, baik yang disebabkan karena alam maupun karena ulah tangan manusia, mengapa orang beriman senantiasa mendapat cobaan, musibah dan bencana? Dr. Yusuf Qardhawi menjawab minimal ada tiga hal:
1. Bentuk seleksi bagi orang-orang yang beriman. Hanyalah orang yang beriman yang dapat lolos dari proses seleksi itu, sedangkan orang yang dalam hatinya ada penyakit maka tidak akan bisa terpilih dari seleksi itu.



“dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah, dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya Kami adalah besertamu". Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia? dan Sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik”. (QS. Al Ankabut: 10-11)

2. Cobaan dari Allah, untuk membersihkan hati dari kotoran dan menyembuhkan jiwa mereka dari penyakit.


“jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. (QS. Ali Imran: 140-141)

3. Menambah bekal dan kedudukan mereka disisi Allah, karena hal ini dapat mengangkat derajat dan menambah kebaikan-kebaikan mereka.


مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَن وَلاَ أَذًى وَلاَ غمٍّ ، حتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُها إِلاَّ كفَّر اللَّه بهَامِنْ خطَايَاه"متفقٌ عليه.

Tidak suatupun yang mengenai seseorang muslim sebagai musibah, baik dari kelelahan, tidak pula sesuatu yang mengenainya yang berupa kesakitan, juga kesedihan yang akan datang ataupun yang lampau, tidak pula yang berupa hal yang menyakiti, yakni sesuatu yang tidak cocok dengan kehendak hatinya, ataupun kesedihan, segala macam dan segala waktunya, sampaipun sebuah duri yang masuk dalam anggota tubuhnya, melainkan Allah menutupi kesalahan-kesalahannya dengan sebab apa-apa yang mengenainya, yakni sesuai dengan mushibah yang diperolehnya itu." (Muttafaq 'alaih)

"مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ: {إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} اللَّهُمَّ أجُرني في مصيبتي واخلف لي خيرا منها، إلا آجَرَهُ اللَّهُ مِنْ مُصِيبَتِهِ، وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا"

Tidak sekali-kali seorang hamba tertimpa musibah, lalu ia mengucapkan, "Inna lillahi wainna ilaihi raji'un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami hanya kepada-Nyalah dikembalikan). Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini, dan gantikanlah kepadaku yang lebih baik daripadanya," melainkan Allah akan memberinya pahala dalam musibahnya itu dan menggantikan kepadanya apa yang lebih baik daripadanya." (HR. Muslim)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ