Memaknai Tahun Baru, Muhasabah Untuk Menyongsong Hari Esok



Tahun baru merupakan peristiwa bersejarah dalam kehidupan manusia, baik sebagai umat beragama, suku bangsa atau sebagai warga negara. Dalam agama dikenal ada tahun baru Hijriyah yang oleh orang Jawa disebut dengan 1 Sura. Demikian pula umat Kristiani tahun baru Miladiyah 1 Januari, yang sudah menjadi kalender nasional bahkan internasional, tahun baru Saka, tahun baru Waisya’, tahun baru Imlek (tahun baru Cina). Pada waktu pergantian tahun, setiap penganut agama, suku bangsa atau sebagai warga negara mempunyai cara-cara yang berbeda untuk merayakan tahun baru.

Hakekat tahun baru adalah pergantian dari tahun lalu menjadi tahun sekarang yang ditandai dengan penanggalan awal dan bulan pertama. Sehingga bila melihat hakekat perjalanan hidup manusia dari waktu ke waktu menuju pada arah kesempurnaan baik dari cara berfikir maupun dalam hal bertambahnya usia. Dengan pergantian tahun kehidupan manusia mengalami siklus dari kehidupan seorang bayi menjadi anak-anak, dari anak-anak menjadi remaja, dari remaja menjadi dewasa dan dari orang dewasa menjadi tua dan dari orang tua bersiap-siap untuk memasuki alam Baqa. Hal ini bila menurut akal manusia, yang kadang suatu saat tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena sesungguhnya hidup dan mati manusia sudah ditentukan ajalnya (batasnya), kadang orang meninggal sudah tua, kadang masih dalam usia yang produktif (lima puluh tahun ke bawah), bahkan kadang masih dalam usia anak-anak. Apalagi kondisi zaman yang memungkinkan manusia tidak bisa memprediksikan batas kehidupannya. Hal ini karena disebabkan dari faktor alam, bencana alam, musibah, wabah suatu penyakit, kecelakaan lalu lintas, pembunuhan sehingga manusia menemui ajalnya.

Demikian pula dengan bergantinya tahun tentu terjadi perubahan pada sikap, mental, spiritual dan kepribadian manusia semakin matang, sehingga dengan kelengkapan ini problematika semakin rumit, tugas dan tanggung jawab semakin banyak dan berat. Mau diapakan dengan bertambahnya problema, tugas dan tanggung jawab itu. Dari itu tentu kehidupan manusia mengarah pada ahsani taqwim, bukan sebaliknya menuju pada “asfala safilin atau bahkan mengarah ahlalaq hayawani, ula ika kal ‘an’ami balhum adhallun”. (lih QS. Al A’raf: 178)

Mencari jati diri vs mengumbar nafsu
Pengertian tahun baru Hijriyah dan tahun baru Jawa, di sebagian orang melakukan perenungan, tidak sedikit umat Islam yang mengadakan do’a bersama ketika akan meninggalkan dan dan mengawali tahun baru kemudian dilanjutkan dengan kegiatan mujahadah, zikir bersama, pengajian, santunan fakir miskin, pawai santri TPQ, Madin, Pondok Pesantren dan sebagainya. Demikian pula dengan orang Jawa, mengawali dengan kegiatan ritual, tirakatan, yang menurut bahasa adalah perenungan untuk menemukan jati dirinya, dari mana, kemana dan apa yang hendak dilakukan. Dan yang memperingati adalah mayoritas umat Islam yang telah mengetahui cara memaknai tahun baru.

Model orang-orang Islam dan masyarakat Jawa benar-benar berupaya untuk memanfaatkan momentum penting datangnya tahun baru. Dimana bagi umat Islam yang menandai awal kebangkitan agama Tauhid (agama Islam) yang selama 13 tahun diperkenalkan dan diajarkan pada penduduk Mekah belum diterima sebagai agama yang benar. Bahkan selama kurun tersebut Rasulullah Muhammad SAW beserta para sahabatnya hidup dalam tekanan orang-orang kafir. Sehingga kemudian Rasulullah diperintahkan Allah untuk hijrah dari Mekah ke Yasrib (Madinah) dan ternyata di kota itu Muhammad beserta pengikutnya diterima dengan baik dan Islampun segera tersebar, dengan mengajarkan konsep-konsep kehidupan bermasyarakat, ekonomi, sosial politik dan budaya.

Awal kebangkitan ini diabadikan oleh khalifah Umar bin Khatab sebagai kalender Hijriyah dan menetapkan 1 Muharram sebagai awal tahun. Walaupun pada zaman rasul tidak diadakan peringatan secara spesifik, namun jelas pada bulan itu adalah merupakan momentum bersejarah bagai perkembangan agama Islam. Akhirnya bulan ini ditetapkan sebagi salah satu hari besar Islam. Seiring dengan semangat mendakwahkan agama Islam, maka pada bulan ini diselenggarakan pengajian dalam rangka peringatan tahun baru Hijriyah.

Demikian pula tanggal 1 Sura yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram, orang Jawa banyak yang melakukan perenungan untuk mencari jati dirinya. Sekalipun proses Islamisasi telah dilakukan oleh para wali, namun masyarakat Jawa yang masih kental dengan tradisi dan budaya Hindhu Budha. Terdapat kelompok Islam Kejawen yang terus melestarikan warisan leluhurnya, sehingga walaupun mereka beridentitas penduduk beragama Islam, mereka melakukan sinkritisme agama dan budaya. Sehingga semakin lengkap ketika mereka mengeramatkan suatu benda atau tempat tertentu, dan pada malam tersebut mereka berupaya untuk ngalap berkah. Kegiatan ini dilakukan semata mata untuk mengadakan perenungan, dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dalam sisi rohani mereka berusaha menahan gejolak hawa nafsu, namun dalam sisi aqidah dan syari’at perlu diluruskan dengan ajakan bil hikmah dan mau’zah hasanah serta uswatun hasanah. Hal ini semata-mata agar ibadah yang mereka lakukan tidak sia-sia.

Lain halnya dengan peringatan tahun baru Miladiyah, dari waktu kewaktu dilakukan dengan kegiatan yang bernuansa berhura-hura dan berfoya-foya. Karena peringatan tahun baru ini nyaris telah menjadi milik bersama, dari semua kalangan, bahkan diantara mereka tidak mengetahui hakekat memasuki tahun baru Masehi 1 Januari. Kebanyakan diantara mereka hanya ikut-ikutan, menghabiskan waktu malam dengan berkeliling kota sambil meniup terompet. Bahkan ada yang menghabiskan waktu di puncak, hotel, pantai sambil menunggu pergantian tahun pada pukul 00.00 yang ditandai dengan menyalakan kembang api. Sehingga tidak menutup kemungkinan pada tahun baru, jalan- jalan menjadi semakin ramai dengan kendaraan berlalu lalang, hotel penuh, pantai ramai, demikian pula tempat -tempat hiburan, tempat ibadah sepi.

Keramaian yang demikian ini dalam setiap tahun meninggalkan permasalahan, dengan munculnya beraneka macam kerawanan sosial, tindakan kriminal dan perbuatan asusila. Seperti pencurian, penjambretan, perkosaan, minum-minuman keras, persebaran obet-obatan terlarang, pergaulan muda-mudi yang tidak mengenal batas halal dan haramnya. Dan masih banyak lagi perilaku umat manusia yang jauh dari petunjuk Allah. Demikain pula dampak lingkungan, adanya sampah berceceran dimana-mana, bahkan terjadi kecelakaan lalu lintas. Dari itu dimanakah dan bagaimana pula upaya perenungan dilakukan. Hal ini bisa jadi hanya merupakan ajang meluapkan kegembiraan untuk mengumbar kehendak hawa nafsu.

Memaknai tahun baru.
Setiap pergantian tahun hendaknya setiap insan dapat merenungkan kenyataan, dengan adanya kesempatan, kesehatan, dan kehidupan. Apakah sudah berupaya untuk memaksimalkan diri dalam tiga hal yang saling berkaitan tersebut, yaitu hidup, sehat dan sempat. Kalau ditanyakan apa bedanya antara hidup dengan mati. Pada hakekatnya hidup adalah masih menyatunya antara jasad dengan ruh. Walaupun kadang hidup yang demikian ini bukan kehidupan yang paripurna, banyak orang yang masih diberikan kehidupan, namun sudah tidak merasakan nikmatannya hidup. Semua sudah serba terbatas dan di batasi oleh keadaan, seperti orang yang hidup namun menderita penyakit kronis, seperti jantung, paru-paru, liver, ginjal, diabetes, penyakit pembuluh darah, kangker dan sebagainya.

Orang yang sakit sering kali membayangkan ketika mereka masih muda dan dalam kondisi sehat, mereka dapat melakukan aktifitas apapun yang diinginkan. Namun ketika sakit mereka hanya mengeluh dan putus asa. Kondisi ini tentu akan menambah bebas sakit sehingga menjadi komlipkasi, karena hati dan rasa belum siap menerima keadaan.

Karena itu walaupun hidup ini pada awalnya sesuatu yang tidak diminta, sebagaimana menurut Muhammad Immaduddin Abdurahim, PH.D, dalam buku Islam konsep nilai terpadu mengatakan bahawa 1) Hidup itu diberikan dengan cuma-cuma (gratis) tanpa diminta bahkan tanpa usaha, 2) Hidup diberikan kepada makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan, 3) Dengan hidup manusia diberikan alat-alat kelengkapan demi kelangsungan hidupnya.

Namun setelah hidup tidak bisa menolak kehidupan dan berharap segera ditiadakan (dimatikan) lagi. Karena ketika hidup dan diberikan kesehatan sehingga dapat merasakan nikmatnya hidup didunia, maka banyak orang yang enggan mati. Walaupun dengan amal shalih yang telah dilakukan akan dilipatgandakan balasannya, sehingga menjadi lebih baik dari yang dilakukan. Niscaya kebanyakan manusia menginginkan kehidupan yang indah didunia ini, dunia nyata yang dapat dilihat dengan panca indra.

Demikian pula keadaan sempat adalah berkaitan dengan waktu, yang tidak akan pernah terulang lagi, maka orang yang menyia-nyiakan waktu adalah orang yang merugi. Menyia-nyiakan waktu bisa jadi karena berupaya untuk mengulur-ulur waktu, memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang kurang bermafaat atau bahkan merugikan, bisa jadi tidak pernah menghiraukan waktu. Baginya sesuatu mengalir apa adanya, tanpa usaha yang maksimal. Kelompok ini sama sekali tidak diharapkan bagi setiap muslim, karena itu tiada pilihan lagi, bila ingin menjadi orang yang beruntung, hargailah waktu dan gunakan setiap kesempatan yang ada, kesempatan digunakan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah dengan meningkatkan amaliahnya.

Rasul pernah mengatakan bahwa “ barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari yang kemarin maka termasuk orang yang beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka dia termasuk orang yang rugi, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka termasuk orang yang dilaknat”. Ulang tahun menjadi tradisi dari tahun yang lalu diulang-ulang lagi pada tahun sekarang dan yang akan datang, akankah menjadi orang yang rugi atau dilaknat oleh Allah. Karena sebagai muslim hendaknya lebih korektif, dalam menghadapi kondisi zaman. Betapa beratnya menjadi pengikut yang tidak mempunyai prinsip, tidak mengetahui dasar, maksud dan tujuannya. Janganlah upaya kesalihan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun menjadi hancur lebur dalam satu malam karena dampak dari perilaku yang tidak berdasar. “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka”.(QS.26: 205,206)

Karena itu Allah mengingatkan pada hambanya agar memikirkan apa yang telah dilakukan untuk masa yang akan datang (wal tanzur nafsun ma qaddamat lighad QS. Al Hasyr: 18)). Ketika perbuatan yang dilakukan berlandaskan pada aturan syariat Allah, maka akan termasuk golongan orang yang beruntung, memperoleh petunjuk dan tidak disesatkan Allah SWT.

Karena itu dengan bergantinya tahun, hendaknya menjadi media muhasabah, menghitung-hitung betapa besarnya nikmat dan karunia Allah yang telah diberikan secara gratis. Setiap detak jantung, tarikan nafas dan gerak langkah yang dilakukan dengan reflek menjadi irama kehidupan yang tidak dapat di nilai dengan uang.
Tahun baru hendaknya menjadi event introspeksi yang mempertinggi nilai-nilai keluhuran budi, menata masa depan yang cerah dan mempertajam mata hati. Tahun baru bukan dilihat dari kemeriahannya, orang-orang berlalu-lalang sedang mencari kepuasan diri. Tapi bagaimanakah menutup lembaran-lembaran hidup yang telah dilakukan, kemudian membukanya kembali, yang baik untuk ditingkatkan lagi dan yang buruk dikubur dalam-dalam. Karena sesungguhnya tahun baru bisa terjadi kapan saja, pergantian waktu dari siang ke malam, tempat dari tidur sampai bangun kembali, kedaan dari sakit kemudian menjadi sehat. Ini semua peristiwa baru yang tidak dapat dilupakan begitu saja tanpa makna yang berarti.

Anda sedang membaca artikel dari untajiaffan Terbaru hari ini. Mohon untuk membagikan artikel ini ke teman anda melalui sosial media dibawah ini.

Artikel Untajiaffan Lainnya:



Kotak Komentar