Tampilkan postingan dengan label Khutbah Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

4/26/2022

Menjaga Kualitas Ibadah

Manusia diciptakan Allah dengan tujuan adalah untuk menjadi 'abdullah dan khalifatullah. Abdullah adalah manusia sebagai hamba Allah yang mempunyai kewajiban untuk bersujud dan menyembah kepada-Nya yang diimplementasikan dengan melaksanakan ibadah dan amaliyahnya. Sedangkan khlaifatullah adalah sebagai wakil Allah di muka bumi. dalam hal ini manusia diberi mandat untuk, mengatur, menjaga, melestarikan dan memanfaatkan sumber daya alam sesuai dengan petunjuk Allah yang disampaikan kepada para rasul dengan kitab suci-Nya.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بنِعْمَةَ اْلِإيْمَانِ وَاْلإِسْلَامِ، وَأَفْهَمَنَا مِنْ عُلُوْمِ الدِّيْنِ وَاْلعَقِيْدَةِ، وَبَيَّنَ لَنَا وَأَرْشَدَنَا اْلأَخْلَاقَ الْكَرِيْمَةَ وَاْلأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ أَهْوَالِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَافِعُ اْلأُمَّةِ وَخَيْرُ اْلبَرِيَّةِ, اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ وَيَجْتَنِبُوْنَ اْلَمنْهِيَّاتِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ 

 

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah 

 

Pertama dan yang paling utama khatib senantiasa berwasiat khususnya pada diri sendiri dan umumnya pada jamaah sekalian, marilah kita bersama-sama berupaya untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT, yaitu dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan sekaligus kita berupaya untuk menjauhi, menghindari apa yang dilarang oleh Allah SWT. Sesungguhnya melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah adalah merupakan salah satu tugas manusia dalam rangka untuk meningkatkan ibadah kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah:

 

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ 

 

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat: 45) 

 

 Dan di dalam Surat Attaubah ayat 31 Allah berfirman: 

 

 وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوْٓا اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ 

 

“Padahal, mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan”. 

 

Dari dua ayat tersebut Allah SWT menegaskan bahwa tujuan menciptakan jin dan manusia adalah untuk menyembah atau beribadah kepada-Nya. Dengan beribadah atau menyembah kepada Allah maka manusia akan memiliki kedekatan kepada Allah. Rasa ketergantungan kepada Allah akan menyadarkan bahwa seluruh daya upaya adalah atas kehendak Allah. Demikian pula di dalam melakukan peribadatan murni, semata-mata karena Allah sehingga manusia akan tetap dalam statusnya sebagai ahsani takwim yaitu manusia yang dalam sebaik-baik bentuk. 

 

 Karena itu di dalam melakukan peribadatan, bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah, dimana keduanya saling berkaitan. Bagaimana ibadah-ibadah yang sudah diperintahkan Allah dan telah dituntunkan oleh Rasulullah Muhammmad SAW dijalankan, baik itu berkaitan dengan ibadah yang fardhu atau ibadah yang sunnah. Dengan ketekunan dan kedisiplinan hamba Allah, dalam melaksanakan ibadah yang fardhu kemudian ditambah dengan meningkatkan kuantitas ibadah yang sunnah maka ibadah-ibadah yang fardhu akan terasa ringan dan mempunyai bobot yang lebih baik, ibadah yang akan bisa mencapai pada kualitas ibadah. 

 

Karena ibadah sesungguhnya adalah merupakan upaya hamba Allah untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka setelah tercapai rasa pendekatan diri kepada Allah, pada setiap ibadah akan menuai hasil. Ibadah shalat yang berkualitas akan dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah:

 

 اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ 

 

“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Alqur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar”. (QS. Al Ankabut: 45) 

 

Ibadah puasa sempurna, puasa yang berkualitas dan menghasilkan pribadi yang sukses akan dapat meningkatkan derajat muttaqien, sebagaimana firman Allah SWT:

 

 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ 

 

”Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al Baqarah: 183). 

 

Untuk bisa mewujudkan pribadi yang taqwa bukan hanya sekedar menahan diri untuk tidak makan dan minum sejak imsyak hingga terbenam matahari, tetapi harus bisa menghindarkan segala hal yang dapat membatalkan bahkan yang merusak ibadah puasa. Karena itu harus bisa menjaga hati dan perasaan negatif, menjaga akal dari pemikiran yang negatif, dapat menjaga mata dari penglihatan yang dapat mendatangkan syahwat, kebencian dan pemikiran, menjaga telinga dari pendangan yang tidak baik, menjaga lisan dari ucapan-ucapan negatif. Rasulullah SAW pernah bersabda:

 

 إِذا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحدِكُمْ ، فَلا يَرْفُثْ وَلا يَصْخَبْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ ، أَوْ قاتَلَهُ ، فَلْيَقُلْ : إِنِّي صائمٌ" متفقٌ عليه . 

 

"Rasulullah SAW bersabda: "Apabila pada hari seseorang di antara engkau semua itu berpuasa, maka janganlah ia bercakap-cakap yang kotor dan jangan pula bertengkar. Apabila ia dimaki-maki oleh seseorang atau dilawan bermusuhan, maka hendaklah ia berkata: "Sesungguhnya saya adalah berpuasa." (Muttafaq 'alaih) 

 

 مَنْ لَمْ يَدعْ قَوْلَ الزُّورِ والعمَلَ بِهِ فلَيْسَ للَّهِ حَاجةٌ في أَنْ يَدَعَ طَعامَهُ وشَرَابهُ " رواه البخاري

 

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan tidak pula meninggalkan berkelakuan dengan dasar dusta, maka tidak ada keperluannya bagi Allah dalam ia meninggalkan makan dan minumnya." Maksudnya: Di waktu berpuasa itu hendaknya meninggalkan hal-hal di atas, agar berpahala puasanya tadi. (Riwayat Bukhari) 

 

Kemudian zakat, sebagai ibadah sosial, akan bisa membentuk pribadi muslim yang senantiasa bersyukur dan bersabar. Bersyukur ketika diberikan rizki berupa harta benda, bahwa sesungguhnya harta benda yang dimiliki adalah merupakan titipan Allah, karena itu hendaknya, dari sebagian kecil harta yang dimiliki dikeluarkan haknya berupa zakat, infaq dan shadaqah yang diberikan kepada orang-orang yang memerlukan. Dan dalam mengeluarkan hak-haknya tersebut merasakan bahagia bisa berbagi dan mempunyai energi bahwa dengan berderma tidaklah akan mengurangi hartanya. Bahkan Allah akan menambah dengan cara yang tidak diketahui oleh makhluknya. 

 

Demikian pula ketika diberikan cobaan, berkurangnya harta benda senantiasa bersabar, bahwa rizki adalah pemberian Allah dan sebagai hamba Allah hanya mempunyai kewajiban untuk berusaha dan berikhtiar. Sehingga bila menyaksikan orang-orang yang sedang mendapatkan ujian dan cobaan akan mempunyai rasa empati. 

 

Ibadah haji sebagai rukun Islam kelima, merupakan perjalanan ke tanah suci, ketika mendapat predikat haji mabrur, maka semangat spiritual dan sosialnya akan semakin meningkat. Karena haji mabrur tidak lain balasannya adalah surga. Karena itu predikat haji mabrur untuk bisa dipertahankan yaitu dengan meningkatkan amal ibadah dan kegiatan sosial. Dan sebagai muslim marilah kita berupaya untuk melaksanakan ibadah baik yang fardhu atau yang sunnah. Agar Ibadah akan terasa mudah dan ringan sehingga akan memperoleh hasil yang maksimal dan menjadi ibadah yang berkualitas, amin.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

1/14/2022

Tanda-Tanda Orang Beriman - Khubah Jum'at

Mendengar kata jihad, kebanyakan orang merasa miris, takut dan khawatir. Mereka beranggapan jihad adalah p*rang, sehingga kata itu banyak orang yang menjadi sinis dan menjauh.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بنِعْمَةَ اْلِإيْمَانِ وَاْلإِسْلَامِ، وَأَفْهَمَنَا مِنْ عُلُوْمِ الدِّيْنِ وَاْلعَقِيْدَةِ، وَبَيَّنَ لَنَا وَأَرْشَدَنَا اْلأَخْلَاقَ الْكَرِيْمَةَ وَاْلأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ أَهْوَالِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَافِعُ اْلأُمَّةِ وَخَيْرُ اْلبَرِيَّةِ, اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ وَيَجْتَنِبُوْنَ اْلَمنْهِيَّاتِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنٰفِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْۗ وَمَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ. فَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَجَاهِدْهُمْ بِهٖ جِهَادًا كَبِيْرًا. وَمَنْ جَاهَدَ فَاِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهٖ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ 

 

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah 

 

Pertama dan yang paling utama khatib senantiasa berwasiat khususnya pada diri sendiri dan umumnya pada jamaah sekalian, marilah kita bersama-sama berupaya untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala, yaitu dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan sekaligus kita berupaya untuk menjauhi, menghindari apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Mudah-mudahan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang senantiasa mendapat petunjuk dari Allah sehingga kita akan menjadi orang yang selamat fiddini waddunya wal akhirat, amin Allahumma amin. 

 

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah 

 

Dalam buku Ensiklopedia Pengetahuan Alquran dan Hadist, merangkum ayat-ayat dalam Alquran yang menerangkan tentang ciri-ciri orang yang beriman ada lima . 1) taat, 2) jihad, 3 hijrah, 4) memberi pertolonga dan kedamaian, 5) mengakui kebenaran Alquran. Pada kesempatan khutbah ini, khatib akan menyampaikan tentang jihad. Kata jihad disebutkan di dalam Alquran surat Al Anfal ayat 74:

 وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْٓا اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ 

 

“ Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, serta orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang mukmin yang sebenarnya. Bagi mereka ampunan (yang besar) dan rezeki yang mulia. 

 

Kata jihad merupakan salah satu dari sekian banyak kata dalam bahasa Arab yang kadang disalahartikan atau disalahpahami. Jihad berasal dari jahada yang berarti bersungguh-sungguh atau usaha keras. Dari kata ini selanjutnya ada tiga kata jadian yang maknanya sering dipisahkan dan seakan tidak memiliki kaitan. Tiga kata tersebut adalah 1) jihad, 2) mujahadah, 3) ijtihad

 

Kata jihad sering dipahami secara terburu-buru sebagai sungguh-sungguh dengan otot, sehingga sering diartikan dengan perang fisik. Mujahadah berarti sungguh-sungguh dengan hati sehingga sering dipakai oleh para sufi . Adapun ijtihad diartikan sungguh-sungguh dengan pikiran. Orang yang melakukan ijtihad disebut mujahid. Orang yang melakukan mujahadah disebut salik atau sufi yaitu orang yang menempuh jalan. Orang yang melakukan ijtihad disebut mujtahid

 

Dari kata jahada, jihad, mujahadah dan ijtihad memang dapat dibedakan, tetapi ketiganya memiliki makna integral dan tidak dapat dipisahkan. Sebab otot hati dan pikiran adalah tiga hal yang membentuk kepribadian manusia secara sempurna, karena itu mendifinisikan jihad dengan perang fisik semata sangatlah tidak tepat; Kekurangtepatan jihad diartikan dengan p*rang fisik tampak jelas ketika nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pulang dari P*rang Badar dan bersabda: 

 رجعت من الجهاد الأصغار الى الجهاد الأكبار فقيل وما جهاد الأكبار يارسول الله؟ فقال الجهاد النفس 

“Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar. Lalu sahabat bertanya, “Apakah jihad akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab, “jihad (memerangi) hawa nafsu.”. (HR, hadis riwayat Baihaqi. 

 

Yang dimaksud dengan perang kecil dalam sabdanya itu adalah P*rang Badar, yang untuk ukuran perang fisik pada waktu itu sangat besar. Sedangkan yang dimaksud p*rang besar adalah memerangi hawa nafsu. Memerangi hawa nafsu jelas bukan p*rang fisik tetapi memerangi nafsu itu sendiri. Memerangi nafsu sendiri bukan berarti bunuh diri misalnya dengan menembak atau menggantung diri. Memerangi diri justru dengan membangun kesadaran diri melalui proses mujahadah. Dalam Alquran kata jahada yang derivasinya disebut sebanyak 41 kali dari penyebutan sebanyak itu pengungkapan jihad sebagai perang melawan orang kafir QS At Tahrim 9, Al-Furqon 52 lebih sedikit dibanding dengan jihad dalam pengertian seperti jihad dengan pikiran dan jihad melawan hawa nafsu. 

 

Seperti disebutkan arti jihad pada hakekatnya adalah memerangi diri sendiri seperti yang tersebut dalam Al Quran surat Al Ankabut ayat 6. Alquran menegaskan demikian karena tidak sedikit di antara kita yang kalah dan tidak berhasil dalam membentuk nafsu kedirian kita. Jihad karenanya menjadi sebuah kewajiban. Kewajiban jihad itu meliputi pembelaan terhadap kebebasan beragama, Alquran surat Al Hajj ayat 39-41, membela diri Alquran surat Albaqarah ayat 190 dan membela orang-orang yang tertindas yang membutuhkan pertolongan surat Annisa’ ayat 75. 

 

Selain itu jihad juga dapat menjadi tolak ukur untuk menguji tinggi rendahnya keimanan dan komitmen seseorang Alquran surat Muhammad ayat 31, Ali Imran ayat 142, dengan jihad bisa dibedakan mana yang benar-benar sabar dan beriman dan mana yang tidak. Alquran berkali-kali menegaskan bahwa jihad bisa dilakukan dengan berbagai cara namun Intinya bisa dengan jiwa dan harta surat Al Imron ayat 142 Al Anfal ayat 72 Taubat 88 dan lainnya karenanya kedudukannya yang penting itu Alquran juga menjelaskan posisi jihad sejajar dengan iman kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan sebagainya jelas bahwa jihad tidak identik dengan perang yang karenanya pula jihad tidak dapat berarti menghalalkan segala bentuk perilakunya memiliki kelebihan dibanding mereka yang tidak melakukannya.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

12/11/2021

Musibah dan Perenungan - Khutbah Jum'at

Pandemi Covid-19 belum tuntas, pada bulan ini dibeberapa daerah terjadi musibah bencana alam. Banjir dan tanah longsor, pohon tumbang dan luapan lahar panas gunung Semeru di Jawa Timur. Sungguh hal ini menambah derita dan malapetaka.

 

 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَخْلاَقَ مِنَ الدِّيْنِ، وأَعْلَى بِهَا شَأْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن وَقالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah. 

 

Pertama dan yang paling utama khatib berwasiat khususnya pada diri sendiri dan umumnya pada jamaah sekalian, marilah bersama-sama kita meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan sekaligus kita berupaya untuk menjauhi semua larangan Allah. Mudah-mudahan kita sekalian senantiasa diberikan taufik, hidayah, inayah untuk bisa mengikuti jejak, langkah dan keteladanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya sehingga kita menjadi orang yang beruntung sejak hidup di dunia sampai besok di yaumil qiyamah, amin. 

 

Kaum muslimin jamaah shalat Jum’at Rahimakumullah. 

 

Akhir-akhir ini ada berita yang menyedihkan, yaitu dengan adanya perstiwa alam, gunung Semeru di wilayah Jawa Timur yang mengalami erupsi dengan memuntahkan awan panas pada Sabtu 4 Desember 2021 aliran panas itu mengarah ke Kabupaten Lumajang dan sekitarnya menerjang pemukiman warga. Setiap musibah pasti membawa derita dan malapetaka bagi manusia. Berdasarkan laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai hari yang ke-5, Kamis 9 Desember 2021 korban yang meninggal sebanyak 43 orang, luka-luka 104 orang, 32 orang mengalami luka berat dan 82 orang lainnya luka sedang. 

 

Sementara data perkembangan Covid 19 di Indonesia menurut Kantor Berita Antara sampai saat ini yang terkonfirmasi sebanyak 4.258.780, sembuh 4.109.364 meninggal 143.918 orang. Jawa Tengah yang dirawat 1.303 terkonfirmasi 486.567 sembuh 455.027 orang meninggal 30. 237 orang. Dimana Covid-19 yang menjalar ke Indonesia pada bulan Februari 2020, mencapai puncak pada bulan Juli 2021 karena ada varian baru virus delta dan akhir-akhir ini di negara tetangga sudah ada varian baru omicron, karena itu sekalipun Wonosobo sudah pada level 2 namun hendaknya tetap waspada dan berhati-hati. 

 

Dengan musibah dan bencana yang melanda dunia termasuk negara Indonesia, hal ini menunjukkan kekuasaan Allah yang tidak bisa dilawan oleh manusia. Sekuat apapun, sepintar apapun manusia tidak ada bandingannya dengan kekuasaan dan ilmu Allah. Oleh karena itu dengan kondisi musibah yang datang silih berganti semuanya adalah merupakan Sunatullah karena itu sebaik-baik orang yang beriman adalah untuk selalu menyiapkan diri dengan iman dan takwa kepada Allah. 

 

Iman meyakini keberadaan Allah dengan sepenuh hati, bahwa Allah yang telah menciptakan manusia, Allah memberikan perlindungan kepada manusia, Allah yang memberikan kecukupan kepada manusia, Allah yang menyediakan segala yang dibutuhkan manusia, Allah tempat kita bergantung, maka kepada siapa manusia harus menyembah kalau bukan kepada Allah. 

 

Maka bulatkanlah keimanan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, bila manusia masih mengingkari terhadap kekuasaan Allah maka dia termasuk orang yang tidak bersyukur. Orang yang tidak syukur akan mendekatkan diri kepada kekufuran. Dosa apa lagi yang akan dilakukan, musibah apa pula yang akan didatangkan Allah. 

 

Karena itu dengan berbagai macam ujian dan bencana yang telah Allah tunjukkan, marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah. Kita bersiap-siap, karena ajal selalu mengintai kehidupan manusia, bila ajal menemui orang yang dalam kondisi sedang melaksanakan ibadah kepada Allah maka dia akan termasuk dalam kategori husnul khotimah. Sebaliknya ketika dia manusia menemukan ajalnya ketika sedang melaksanakan perbuatan maksiat, apalagi sampai melakukan perbuatan kekufuran maka akhir hayatnya itu adalah suul khotimah. 

 

Karena itu hendaknya setiap diri senantiasa ingat kepada Allah, sehingga bila musibah datang sewaktu-waktu, manusia akan selalu dalam kondisi iman dan taqwa kepada Allah. Ingatlah bahwa Allah pernah merasa berfirman:

 

 وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ ٣٤ 

 

“Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan. (QS.Al A’rof: 34) 

 

Dalam KBBI V ajal berarti batas hidup yang telah ditentukan Allah, saat mati, batas waktu tertentu berlakunya sesuatu. Maka ketika ajal telah tiba maka berakhirlah hidup di alam dunia dan akan berganti masuk ke alam barzah. Entah sampai berapa tahun berada di alam barzah sampai datangnya hari qiayamat, yaitu hari hancur leburnya alam semesta dan berganti dengan alam yang baru. 

 

Di alam baru atau yang dikenal dengan alam akhirat manusia akan mendapatkan pangadilan Allah. Tidak ada kebaikan yang terlupakan untuk mendapatkan balasan, walaupun sebesar atom seberat kapas yang berterbangan. Demikian pula tidak ada setiap keburukan yang dilakukan juga akan mendapatkan balasan, berupa siksa. Di alam barzah manusia masih bisa mengharapkan bantuan, untuk mendapat keringanan dari siksa kubur sebagimana sabda rasul:

 

 إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثَةِ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ 

 

“Apabila manusia meninggal, maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali 3 perkara, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak yang salih yang mendoakan kepada kedua orang tuanya. (HR. Muslim) 

 

Di alam akhirat orang hanya mengandalkan perbuatan selama hidup di dunia, tidak ada teman dan saudara kecuali amalnya. Maka di alam akhirat anak akan lupa kepada orang tua dan orang tua lupa kepada anaknya.

 

 فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ ۖ ٣٣ يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ ٣٤ وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ ٣٥ وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ ٣٦ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِۗ ٣٧ 

 

 “Maka, apabila datang suara yang memekakkan (dari tiupan sangkakala), pada hari itu manusia lari dari saudaranya, (dari) ibu dan bapaknya serta (dari) istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. (QS. Abasa: 33-37)

 

 مَنِ اهْتَدٰى فَاِنَّمَا يَهْتَدِيْ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَاۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا ١٥ 

 

“Siapa yang mendapat petunjuk, sesungguhnya ia mendapat petunjuk itu hanya untuk dirinya. Siapa yang tersesat, sesungguhnya (akibat) kesesatannya itu hanya akan menimpa dirinya. Seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kami tidak akan menyiksa (seseorang) hingga Kami mengutus seorang rasul”. (QS. Al Isro’: 15)

 

 وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى ۗوَاِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ اِلٰى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَّلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰىۗ اِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ ۗوَمَنْ تَزَكّٰى فَاِنَّمَا يَتَزَكّٰى لِنَفْسِهٖ ۗوَاِلَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ ١٨

 

 “Orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Jika seseorang yang (dibebani dengan) dosa yang berat (lalu) memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu tidak akan dipikulkan sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat engkau beri peringatan632) hanya orang-orang yang takut kepada Tuhannya (sekalipun) tidak melihat-Nya dan mereka yang menegakkan salat. Siapa yang menyucikan dirinya sesungguhnya menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Hanya kepada Allah tempat kembali. (QS. Al Fathir: 18)

 

 وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا 

 

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya”. (QS. Al Isro’: 36)

 

 

أَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ , اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ ١ وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ ٢ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا ࣖ ٣وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

9/23/2021

Syarat-Syarat Terkabulnya Do’a, Perkuat Amal Ibadah– Khutbah Jum’at Bahasa Indonesia

Masa tenang dalam kondisi pandemi Covid-19, adalah masa yang dinanti-nantikan. Namun bila telah sampai hendaknya selalu hati-hati dan waspada. Musibah dan bencana datang secara tiba-tiba, mausia tidak berkehendak namun kadang terjadi. Karena itu tolaklah dengan doa dan dengan meningkatkan amal ibadah semata-mata karena Allah.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَخْلاَقَ مِنَ الدِّيْنِ، وأَعْلَى بِهَا شَأْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن وَقالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah. 

 

Pertama dan yang paling utama khatib berwasiat khususnya pada diri sendiri dan umumnya pada jamaah sekalian, marilah bersama-sama kita meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan sekaligus kita berupaya untuk menjauhi segala yang dilarang Allah. Mudah-mudahan kita sekalian senantiasa diberikan taufik, hidayah, inayah untuk bisa mengikuti jejak, langkah dan keteladanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya sehingga kita menjadi orang yang beruntung sejak hidup di dunia sampai besok di yaumil qiyamah, amin. 

 

Kaum muslimin jamaah shalat Jum’at Rahimakumullah. 

 

Sudah dua tahun lebih kita sekalian bangsa Indonesia dan khususnya umat Islam hidup dalam suasana pandemi Covid-19, suatu wabah penyakit yang mengglobal hingga seluruh dunia, tidak ada dunia yang bebas dari pandemi Covid-19. Karena walaupun masih dalam Suasana PPKM namun sudah mendapatkan kelonggaran dalam beraktivitas dan beribadah. Bahkan para pelajar dan mahasiswa sudah dapat melakukan pembelajaran melalui tatap muka. 

 

Selama dua tahun lebih anak anak-anak atau adik-adik kita yang sedang mengenyam pendidikan di tingkat PAUD, sekolah dasar, menengah, sekolah atas hingga perguruan tinggi proses belajar mengajar diselenggarakan dengan daring atau secara online. Proses pendidikan dan pengajaran ini banyak sekali mengalami kekurangan, kendala baik teknis pada jaringan atau karena belum terbiasa. 

 

Karena itu transfer ilmu pengetahuan dari para pendidik kepada para pelajar banyak sedikitnya mengalami penurunan. Kini sejak tanggal 8 September 2021 telah dilakukan pembelajaran secara tatap muka walaupun belum secara penuh, karena harus tetap menerapkan protokol kesehatan. Walaupun belum penuh tentunya sudah bisa mengobati kerinduan, memberikan harapan dan rasa bangga para siswa dapat menerima materi secara langsung demikian pula dapat berinteraksi dengan teman-temannya. 

 

Walaupun penyebaran Covid-19 sudah mengalami penurunan, hendaknya kita tetap hati-hati dan waspada, jangan sampai lengah, kejadian pada bulan Juli tahun 2021 hendaknya dijadikan pembelajaran. Dimana pada saat itu banyak orang yang terpapar hingga bangsal rumah sakit penuh, demikian juga tempat karantina. Sehingga orang yang terpapar kemudian melakukan Isoman dan akhirnya bisa sembuh. Namun pada bulan Juli kemarin juga banyak orang yang tidak bisa tertolong. Bila di antara kita ada sudah terpapar dan sekarang sudah sehat hendaknya tetap waspada dan selalu meningkatkan rasa syukur kepada Allah. Dan bagi jamaah yang selamat dari Pandemi Covid- 19 hendaknya lebih meningkatkan rasa syukurnya. Karena sungguh menderitanya orang yang terpapar, rasa sakit dari beberapa organ tubuh, dan terpapar Covid-19 menjadi orang yang terasing dan diasingkan oleh masyarakat. 

 

Karena itu pulau Jawa dan Bali yang semula berada pada level 3 atau 4 sekarang dalam kondisi membaik berada pada level 2 atau 3. Ingatlah bahwa manusia ingin sehat, selamat dan sejahtera. Manusia ingin terhindar dari balak, musibah dan bencana. Namun semuanya ini hanyalah upaya dan harapan manusia, ketentuan akhir ada di tangan Allah. Oleh karena itu agar harapan-harapan yang kita memohonkan kepada Allah bisa dikabulkan hendaknya kita sekalian senantiasa memanjatkan doa kepada-Nya, sebagaimana firman Allah:

 

 وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ 

 

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al Baqarah: 186) 

 

Dalam ayat terbut Allah SWT memberikan khabar, bahwa bila mempunyai keinginan dan harapan, mintalah kepada Allah, maka Allah akan mengabulkan. Tetapi jangan sampai lengah bahwa Allah memberikan syariat pada manusia untuk dijadikan pedoman hidup. Karena itu laksanakan syari’at, adanya perintah agar dilaksanakan dan larangan ditinggalkan. Dengan demikian Allah akan mudah mengabulkan doa hamba-Nya. Rasulullah SAW menyampaikan bahwa ada tiga golongan yang doanya akan dikabulkan:

 

 ثَلاَثَـةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: اَلإِمَامُ الْعَاِدلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ (رواه مسلم) 

 

“Tiga macam orang doanya tidak ditolak, yaitu Imam yang adil, orang yang sedang berpuasa hingga ia berbuka dan doa seorang yang teraniaya. (Riwayat Muslim).

 

 لاَ يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَالَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ مَالَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا اْلاِسْتِعْجَالُ؟ قَالَ: يَقُوْلُ قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يُسْتَجَابُ لِي فَيَحْسِرُ عِنْدَ ذٰلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ (رواه أحمد والترمذي والنسائي وابن ماجه) 

 

“Senantiasa diterima permohonan setiap hamba, selama ia tidak mendoakan hal-hal yang menimbulkan dosa atau memutuskan hubungan silaturrahim (dan) selama tidak meminta agar segera dikabulkan. Rasulullah ditanya, Apakah maksud segera dikabulkan ya Rasulullah? Beliau menjawab, Maksudnya ialah seorang hamba yang berkata, Saya sesungguhnya telah berdoa, tetapi saya lihat belum diperkenankan, karena itu ia merasa kecewa lalu tidak berdoa lagi . (Riwayat Aḥmad, at-Tirmiżī, an-Nasā′ī dan Ibnu Mājah). 

 

Apabila ternyata doanya belum dikabulkan, hendaknya jangan putus asa, dalam Tafsir Alquranul Karim menyebutkan mengapa doa belum dikabulkan, hal ini karena: 

 

  1. Syarat-syarat berdoa belum dipenuhi.
  2. Terkabulnya doa kadang tidak sama dengan yang diminta, karena kadang akan digantikan atau dialihkan dengan yang lain, akan ditunda hingga waktu yang lama bahkan bisa saja akan dikabiulkan kelak di hari qiyamat. 
  3. Tidak khusuk atau tidak bersungguh-sungguh dalam berdoa. Allah berkuasa karena telah menciptakan, dan akan terus mengatur, menjaga dan melindungi alam semesta seisinya. Karena itu jagalah keseimbangan kebutuhan jasmani dan rohani, agar kita selamat selama hidup di dunia hingga besok di hari qiyamat, amin. 
 
  1.  أَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ , اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ ١ وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ ٢ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا ࣖ ٣وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

8/19/2021

Aktualisasi Peringatan Tahun Baru Hijrah, HUT RI Ke-76 Dan Peristiwa 10 Muharram- Khutbah Jum'at

Tahun Baru Hijriyah, HUT RI adalah peristiwa yang terjadi secara berulang-ulang, walaupun dalam setiap tahun masyarakat dan umat Islam mempunyai cara yang berbeda dalam mengungkapkan kegembiraan dan rasa syukurnya. Mungkin ada yang mengatakan bahwa kegiatan tersebut adalah rutinitas kegiatan, namun pada tahun ini tentu berbeda, karena negara dan umat manusia sedang berhadapan dengan pandemi Covid-19.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ اَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهُ عِوَجًا,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِءُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاءُالْحُسْنَى, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: اَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنُ رَحِمَكُمُ اللهُ, اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ رَبُّكُمْ فِى الْقُرْانِ الْكَرِيْمِ اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوا اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُوااللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah 

Pertama dan yang paling utama khatib senantiasa berwasiat khususnya pada diri sendiri dan umumnya pada jamaah sekalian, marilah bersama-sama kita berupaya untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala yaitu dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan kasih sayangnya, sehingga kita selamat di dunia dam akhirat , amin. 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah 

 

Tidak terasa bahwa pada bulan ini kita sekalian baru saja memperingati tahun baru hijriyah 1 Muharram 1443 H, kemudian dilanjutkan dengan peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-76. Dan pada bulan ini pula kita diingatkan dengan peristiwa-peristiwa besar yang telah terjadi yaitu khususnya pada tanggal 10 Muharram. 

 

Peristiwa tahun baru Hijriyah adalah merupakan tonggak perjuangan perjalanan hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam melaksanakan syiar agama Islam dari Mekah yang merupakan tanah kelahiran Rasulullah. Tapi beliau berdakwah selama 13 tahun nyaris tidak membuahkan hasil, kemudian Allah memerintahkan kepada Rasulullah untuk berhijrah ke Yatsrib atau ke Madinah. Disanalah Rasulullah disambut oleh masyarakat Yatsrib atau Madinah sehingga disana Rasulullah meletakkan sendi-sendi ajaran agama Islam yang berkaitan dengan habluminannas. 

 

Kemudian peristiwa nasional bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah momen bersejarah bagi bangsa Indonesia untuk menapaki kehidupan baru, setelah selama 3,5 abad negara Indonesia dijajah oleh Belanda, Jepang, Perancis, Inggris, Portugis, Portugal. Mereka senang menjajah negara Indonesia karena Indonesia adalah negara yang gemah ripah loh jinawi, negara yang makmur, kaya dengan sumber daya alam. Dan negara Indonesia adalah negara kepulauan, dengan budaya, etnis, suku dan bahasa yang unik sehingga memungkinkan bagi para penjajah untuk melakukan politik adu domba. Mereka dapat mengalahkan musuh dengan kekuatan musuh. 

 

Karena itu dengan momen tahun baru Hijriyah dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-76 marilah kita teguhkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa, sebagaimana firman Allah:

 

 وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ 

 

“ Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran: 103) 

 

Kaum muslimin jemaah shalat Jum’at Rahimakumullah 

 

Pada saat Indonesia berada dalam suasana kemerdekaan, dimana-mana terlaksana pembangunan, namun ditengah kemerdekaan negara Indonesia kembali dijajah oleh makhluk Allah yang teramat kecil yang membahayakan, dan mengancam kehidupan manusia. Pandemi Covid-19 telah merusak sendi-sendi kehidupan manusia, karena itu marilah bersama-sama kita berupaya untuk melepaskan pandemi. Kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah disertai dengan melaksanakan amal shalih.

 

 مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ 

 

“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS. Annahl: 97). 

 

Setelah melewati tanggal 10 Muharram 1443 marilah kita tingkatkan kualiatas amal ibadah kepada Allah, marilah kita kuatkan tekad dan semangat untuk bersama-sama memenangkan pertarungan melawan pandemi Covid-19. Dengan peringatan tahun baru hijriyah, kita aktualisasikan nilai-nilai 10 Muharram menjadi amaliyah setiap saat. Pada tanggal 10 Muharram Allah menunjukkan keajaiban kepada hambanya, pada tanggal tersebut Allah menciptakan nabi Adam, dan menerima tobatnya, Nabi Yunus selamat dari perut ikan, Nabi Ibrahim selamat dari kobaran api, nabi Ayub sembuh dari penyakit kudis, Allah mengembalikan penglihatan nabi Ya’qub, Allah menyelamatkan nabi Musa dari kejaran Fir’aun, nabi Sulaiman mendapat kerajaan dari ratu Bilqis, nabi Daud diterima dosa-dosanya, nabi Yusuf dikeluarkan dari penjara dan keajaiban-keajaiban lainnya. 

 

Mengapa terjadi keajaiban, Allah yang Maha Tahu, namun tentu kita ingin meraih keajaiban, riyadhah dan amal shalih akan membuka pintu makrifat. Maka dalam menghadapi pandemic Covid-19 setelah melakukan upaya lahir, yaitu dengan melaksanakan gerakan 5 M, marilah kita ikuti dengan berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan.

 

 وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 

 

“Bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap ke arahnya. Maka, berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al Baqarah: 148)

 

 اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ 

 

“Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri”. (QS. Al Isra’: 7) 

 

Semoga ikhtiar lahir dengan mengikuti himbauan pemerintah dan ikhtiar batin dengan mengikuti perintah agama, akan semakin mempermudah terkabulnya doa, amin.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ .وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

4/15/2021

Reaktualisasi Puasa Ramadhan, antara Rencana dan Aplikasi

Puasa adalah salah satu ibadah, dari pengulangan itu hendaknya mempunyai perbedaan dalam peningkatan amaliyah ibadah, sehingga dapat membentuk pribadi yang kuat dalam iman, selalu bergairah dalam peningkatan ubudiyah dan berakhlaq mulia.

َأَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بنِعْمَةَ اْلِإيْمَانِ وَاْلإِسْلَامِ وَاْلِاسْتِقْلَالِ أَوِاْلحُرِّيَّةِ، وَأَفْهَمَنَا مِنْ عُلُوْمِ الدِّيْنِ وَاْلعَقِيْدَةِ، وَبَيَّنَ لَنَا وَأَرْشَدَنَا اْلأَخْلَاقَ الْكَرِيْمَةَ وَاْلأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ أَهْوَالِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَافِعُ اْلأُمَّةِ وَخَيْرُ اْلبَرِيَّةِ, اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ وَيَجْتَنِبُوْنَ اْلَمنْهِيَّاتِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ 

Kaummuslimin Jemaah Jum’ahRahimakumullah 

 

Pada kesempatan yang mulia ini kami mengajak jemaah sekalian marilah bersama-sama kita meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Yaitu dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Untuk selanjutnya kita akan menjadi hamba Allah yang paling beruntung sejak kita hidup di alam dunia hingga di alam akhirat kelak Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang lima, karena Islam ditegakkan atas lima dasar dan puasa Ramadhan adalah salah satu kewajiban yang bagi setiap muslim, menjadi kewajiban karena diperintahan oleh Allah dan dikuatkan dengan perintah Rasulullah SAW. 

 

Puasa Ramadhan adalah merupakan perintah tahunan yang dilaksanakan selama sebulan penuh khusus bagi hamba Allah yang beriman. Puasa adalah kewajiban bagi setiap muslim yang dilaksanakan secara berulang-ulang. Karena itu ada yang sudah mengulang dalam hitungan satuan, ada yang sudah belasan dan ada yang sudah puluhan kali terhitung setelah mencapai usia baligh. Banyak sedikitnya pengulangan bukan menjadi standar meningkatnya iman dan taqwa kepada Allah. Karena ibadah puasa dilihat dari hasilnya atau ending pelaksanaan ibadah puasa adalah la’allakum tattaqun, agar menjadi orang yang bertakwa.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Al Baqarah: 183) 

 

Puasa adalah salah satu ibadah, dari pengulangan itu hendaknya mempunyai perbedaan dalam peningkatan amaliyah ibadah, sehingga dapat membentuk pribadi yang kuat dalam iman, selalu bergairah dalam peningkatan ubudiyah dan berakhlaq mulia. Puasa Ramadhan dapat menjadi media penghapus dosa-dosa yang telah dilakukan, sebagimana sabda rasul:

 

 مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً ، غُفِرَ لَهُ ما تَقَدَّمَ مِنْ ذنْبِهِ " متفقٌ عليه

 

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena didorong oleh keimanan dan mengharapkan keridhaan Allah, maka diampunkanlah untuk dosa-dosanya yang terdahulu." Ketika dosa-dosa telah dihapus, maka menjadi kesempatan untuk mengukir ibadah dan menambah pahala, karena pada bulan Ramadhan, setiap ibadah akan dilipatgandakan pahalanya.

 

 كُلُّ عَمَلِ بْنِ اَدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا اِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفِ, قَال اللهُ تَعَالَى اِلَّا الصَّوْمَ فَاِنَّهُ لِى وَاَنَا أَجْزِى بِهِ (رواه مسلم) 

“Setiap amal baik Bani Adam akan dilipatgandakan 10 hingga 700 kali kebaikan, Allah berfirman kecuali puasa, maka sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberi balasan terhadapnya”. (HR. Muslim) 

 

Ada beberapa amalaiyah pada bulan Ramadhan, seperti shalat tarowih, tadarus Aquran, mengikuti kajian Islam, menghafalkan Alquran, melaksanakan i’tikaf, shalat tasbih, menyediakan makan bagi orang yang berpuasa, memberikan santunan pada fakir-miskin dan lainnya. 

 

Kegiatan-kegiatan ini memerlukan sikap istiqomah, karena dengan istiqomah insya-Allah akan membentuk pribadi yang ikhlas, dengan ikhas insya-Allah akan dijauhkan sikap riya’, kibr, ujub. Setiap ibadah yang dilandasi karena lillah/ karena Allah dan tidak ada yang diharapkan kecuali untuk mendapatkan ridha Allah ta’ala, maka ibadah akan membentuk perilaku yang shalih. Bila shalatnya telah berkualitas maka akan dapat menghindarkan dari perbuatan keji dan munkar. Bila puasanya sukses dan berkualitas maka akan tertanan rasa ikhlas, sabar dan selalu berhati-hati dalam bertindak. 

 

Pada bulan Ramadhan juga sebagai media untuk meraih memperbaiki budi perkerti yang baik. Namun puasa Ramadhan juga mempunyai rintangan dan hambatan untuk mencapai kesempurnaan, Rasulullah SAW bersabda: 

 

 والصِّيام جُنَّةٌ فَإِذا كَانَ يوْمُ صوْمِ أَحدِكُمْ فلا يرْفُثْ ولا يَصْخَبْ ، فَإِنْ سابَّهُ أَحدٌ أَوْ قاتَلَهُ ، فَلْيقُلْ : إِنِّي صَائمٌ .متفقٌ عليه

 

“ Puasa adalah sebagai perisai atau benteng dari kemaksiatan dan dari neraka. Maka dari itu, apabila pada hari seseorang di antara engkau semua itu berpuasa, janganlah ia bercakap-cakap yang kotor dan jangan pula bertengkar. Apabila ia dimaki-maki oleh seseorang atau dilawan bermusuhan, maka hendaklah ia berkata, sesungguhnya saya adalah berpuasa”. (Mutafaqun alaih)

 

 Karena itu ibadah puasa yang sudah dilakukan secara berulang-ulang tersebut sudahkah menjadi bulan untuk meningkatkan amal ibadah, yang artinya bahwa dari tahun-ketahun, dari proses pengulangan ibadah tersebut memang nyata telah menjadi media untuk meningkatkan amal ibadah. Sehingga ibadah puasa Ramadhan dengan segala amal ibadah pendampingnya, baik yang bersifat wajib maupun sunnah selalu mengalami peningkatan. 

 

Puasa Ramadhan juga sebagai media bermuhasabah, bahwa geliat ibadahanya mengalami peningkatan, setara atau malah menurun. Semua ini tergantung pada diri masing-masing dalam upaya untuk memperbaharui kualitas dan kesadaran diri. Akan lebih baik bila setiap diri mempunyai obsesi untuk menjadi muslim yang terbaik dalam pengamalan ajaran Islam. 

 

Puasa Ramadhan pada tahun 1442 H/ 2021 M ini masih dalam kewaspadaan pandemi Covid-19. Karena itu di dalam melaksanakan amaliyah pada bulan Ramadhan di samping mengikuti atau melaksanakan keutamaan ibadah pada bulan Ramadhan hendaknya juga mematuhi himbauan pemerintah untuk senantiasa menerapkan protokol kesehatan. Pemerintah melalui Menteri Agama Republik Indonesia telah mengeluarkan Surat Edaran nomor 04 tahun 2021 tentang Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri tahun 1442 H/ 2021 M. 

 

1. Umat Islam, kecuali bagi yang sakit wajib menjalankan puasa Ramadan sesuai hukum syariah dan tata cara ibadah yang ditentukan agama. 

2. Buka puasa hendaknya dilakukan di keluarga inti masing-masing 

3. Apabila melaksanakan buka puasa bersama maka diadakan pembatasan kehadiran paling banyak 50% dari kapasitas ruangan. 

4. Shalat fardhu 5 waktu, shalat tarawih, witir, tadarus Alquran dan itikaf dengan pembatasan jumlah kehadiran paling banyak 50% dari kapasitas masjid atau mushola dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, menjaga jarak aman 1 meter antar jamaah dan setiap jamaah membawa sajadah atau mukena masing-masing. 

5. Pengajian ceramah tausiah kultum Ramadhan dan kuliah subuh paling lama dengan durasi 15 menit. 6. Untuk Peringatan Nuzulul Quran di masjid atau mushola dilaksanakan dengan pembatasan jumlah audiens paling banyak 50% dari kapasitas ruangan. 

7. Shalat tarowih, witir, tadarus Alquran, i’tikaf, peringatan Nuzulul Qur’an tidak boleh dilaksanakan di daerah yang termasuk zona merah (risiko tinggi) dan zona orange (risiko sedang). 

8. Pengurus Masjid dan musholla memastikan tempat ibadah diadakan penyemprotan secara rutin, menyediakan tempat untuk cuci tangan sabun hand sanitizer. 

 

Mudah-mudahan dengan puasa Ramadhan akan mewujudkan pribadi muslim yang bertaqwa, sehat jasmani dan rohani, selamat dan bahagia dunia dan akhirat, amin.

 

 بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

10/23/2020

Usaha Wujudkan Anak Shalih, Identifikasi Kebutuhan -Khutbah Jum'at Bahasa Indonesia

 Setiap orang hidup tentu menginginkan mempunyai keturunan, sebagai aset dirinya untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Keturunan yang berupa anak shalih selalu menjadi idaman bagi setiap orang, sehingga setelah setelah membangun rumah tangga ingin segera mendapatkan momongan sehingga dalam doanya selalu meminta agar diberikan keturunan yang shalih dan shalihah. Sejak bayi dalam kandungan selalu diajari untuk mengenal Tuhannya dengan membiasakan berperilaku yang baik dan juga makan minum yang khalal dan thayyib. Demikian setelah lahir dijaga, dibimbing, didik, dilindungi agar menjadi generasi Qur'ani.



اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ تَعَالَى مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللهُ لَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْرٍ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَةً ضِعَافًا.اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ. وَأَحْيِنَا اَللّٰهُمَّ عَلَى سُنَّتِهِ وَأَمِتْنَا عَلَى مِلَّتِهِ. وَبَعْدُ

 

 Marilah kita bertakwa kepada Allah kapanpun dan di manapun kita berada. Yaitu, senantiasa mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah. Sebab, hanya dengan taqwa manusia memiliki derajat nilai di sisi Allah. Ketahuilah, sesungguhnya budi pekerti mulia merupakan buah taqwa dan sumber kebaikan ummat manusia. Anak adalah buah hati bagi kedua orang tuanya yang sangat disayangi dan dicintainya. Sewaktu bahtera rumah tangga pertama kali diarungi, maka pikiran pertama yang terlintas dalam benak suami istri adalah berapa jumlah anaknya kelak akan mereka miliki, serta kearah mana anak tersebut akan dibawa. 

 

Namun yang menjadi masalah adalah kemana anak akan kita arahkan setelah mereka terlahir. Umumnya orang tua menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi anak yang shalih, agar setelah dewasa mereka dapat membalas jasa kedua orang tuanya. Namun obsesi orang tua kadang tidak sejalan dengan usaha yang dilakukannya. Padahal usaha merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan bagi terbentuknya watak dan karakter anak. Obsesi tanpa usaha adalah hayalan semu yang tak akan mungkin dapat menjadi kenyataan. 

 

Bahkan sebagian orang tua akibat pandangan yang keliru menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi bintang film (artis), bintang iklan, fotomodel dan lain-lain. Mereka beranggapan dengan itu semua kelak anak-anak mereka dapat hidup makmur seperti kaum selebritis yang terkenal itu. Padahal dibalik itu semua mereka kering akan informasi tentang perihal kehidupan kaum selebritis yang mereka puja-puja. Hal ini terjadi akibat orang tua yang sering mengkonsumsi berbagai macam acara-acara hiburan diberbagai media cetak dan elektronik, karena itu opininya terbangun atas apa yang mereka lihat selama ini. Apakah kita menginginkan anak-anak kita menjadi orang yang jauh dari agamanya, yang kelihatannya bahagia di dunia namun menderita di akhirat? Tentu tidak. Allah Subhannahu wa ta'ala berfirman:

“ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. Annisa: 9). 

 

Pengertian lemah dalam ayat ini adalah lemah iman, lemah fisik, lemah intelektual dan lemah ekonomi. Oleh karena itu selaku orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, maka mereka harus memperhatikan keempat hal ini. Pengabaian salah satu dari empat hal ini adalah ketimpangan yang dapat menyebabkan ketidak seimbangan pada anak. Imam Ibnu Katsir dalam mengomentari pengertian lemah pada ayat ini memfokuskan pada masalah ekonomi. Beliau mengatakan selaku orang tua hendaknya tidak meninggalkan keadaan anak-anak mereka dalam keadaan miskin. Dan terbukti berapa banyak kaum muslimin yang rela meninggalkan aqidahnya (murtad) di era ini akibat keadaan ekonomi mereka yang dibawah garis kemiskinan. 

 

Banyak orang tua yang mementingkan perkembangan anak dari segi intelektual, fisik dan ekonomi semata dan mengabaikan perkembangan iman. Orang tua terkadang berani melakukan hal apapun, yang penting kebutuhan pendidikan anak-anaknya dapat terpenuhi, sementara untuk memasukkan anak-anak mereka pada TK-TPQ terasa begitu enggan. Padahal aspek iman merupakan kebutuhan pokok yang bersifat mendasar bagi anak. 

 

Ada juga orang tua yang menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan bagi anak-anak mereka dari keempat masalah pokok di atas, namun usaha yang dilakukannya kearah tersebut sangat diskriminatif dan tidak seimbang. Sebagai contoh: Ada orang tua yang dalam usaha mencerdaskan anaknya dari segi intelektual telah melaksanakan usahanya yang cukup maksimal, segala sarana dan prasarana kearah tercapainya tujuan tersebut dipenuhinya dengan sungguh-sungguh namun dalam usahanya memenuhi kebutuhan anak dari hal keimanan, orang tua terlihat setengah hati, padahal mereka telah memperhatikan anaknya secara bersungguh-sungguh dalam segi pemenuhan otaknya. 

 

Jemaah Jum’at Rahimakumullah. 

Karena itu sebagian orang tua yang bijaksana, mesti mampu memperhatikan langkah-langkah yang harus di tempuh dalam merealisasikan obsesinya dalam melahirkan anak yang shalih. Di bawah ini akan kami ketengahkan beberapa langkah yang cukup representatif dan membantu mewujudkan obsesi tersebut: 

 

1. Opini atau persepsi orang tua atau anak yang shalih tersebut harus benar-benar sesuai dengan kehendak Islam berdasarkan Alqur’an dan sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam, bersabda:

 

 إِذَا مَاتَ بْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

 

“Jika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: sadaqah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim) 

 

Dalam hadits ini sangat jelas disebutkan ciri anak yang shalih adalah anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Sementara kita telah mengetahui, bahwa anak yang senang mendoakan orang tuanya adalah anak sedari kecil telah terbiasa terdidik dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan, melaksanakan perintah-perintah Allah Subhannahu wa ta'ala , dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Anak yang shalih adalah anak yang tumbuh dalam naungan dien-Nya, maka mustahil ada anak dapat bisa mendoakan orang tuanya jika anak tersebut jauh dari perintah-perintah Allah SWT dan senang bermaksiat kepada-Nya. Anak yang senang bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala, jelas akan jauh dari perintah Allah dan kemungkinan besar senang pula bermaksiat kepada kedua orang tuanya sekaligus. 

 

Dalam hadits ini dijelaskan tentang keuntungan memiliki anak yang shalih yaitu, amalan-amalan mereka senantiasa berkorelasi dengan kedua orang tuanya walaupun sang orang tua telah wafat. Jika sang anak melakukan kebaikan atau mendoakan orang tuanya maka amal dari kebaikannya juga merupakan amal orang tuanya dan doanya akan segera terkabul oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala . Jadi jelaslah bagi kita akan gambaran anak yang shalih yaitu anak yang taat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala , menjauhi larangan-larangan-Nya, selalu mendoakan orang tuanya dan selalu melaksanakan kebaikan-kebaikan. 

 

2. Menciptakan lingkungan yang kondusif ke arah tercipta-nya anak yang shalih. 

Lingkungan merupakan tempat di mana manusia melaksana-kan aktifitas-aktifitasnya. Secara mikro lingkungan dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu: 

a. Lingkungan keluarga. 

Keluarga merupakan sebuah institusi kecil dimana anak mengawali masa-masa pertumbuhannya. Keluarga juga merupakan madrasah bagi sang anak. Pendidikan yang didapatkan merupakan pondasi baginya dalam pembangunan watak, kepribadian dan karakternya. Jika anak dalam keluarga senantiasa terdidik dalam warna ke-Islaman, maka kepribadiannya akan terbentuk dengan warna ke-Islaman tersebut. Namun sebaliknya jika anak tumbuh dalam suasana yang jauh dari nilai-nilai ke-Islaman, maka jelas kelak dia akan tumbuh menjadi anak yang tidak bermoral. Seorang anak yang terlahir dalam keadaan fitrah, kemudian orang tuanyalah yang mewarnainya, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

 

 كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ. (رواه البخاري)

 

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan yang fitrah (Islam), maka orang tuanya yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari) 

 

 Untuk itu orang tua harus dapat memanfaatkan saat-saat awal dimana anak kita mengalami pertumbuhannya dengan cara menanamkan dalam jiwa anak kita kecintaan terhadap diennya, cinta terhadap ajaran Allah Subhannahu wa ta'ala dan rasul-Nya Shallallaahu alaihi wa salam, sehingga ketika anak tersebut berhadapan dengan lingkungan lain anak tersebut memiliki daya resistensi yang dapat menangkal setiap saat pengaruh negatif yang akan merusak dirinya. Agar dapat memudahkan jalan bagi pembentukan kepribadian bagi anak yang shalih, maka keteladanan orang tua merupakan faktor yang sangat menentukan. 

 

Oleh karena itu, selaku orang tua yang bijaksana dalam berinteraksi dengan anak pasti memperlihatkan sikap yang baik, yaitu sikap yang sesuai dengan kepribadian yang shalih sehingga anak dapat dengan mudah meniru dan mempraktekkan sifat-sifat orang tuanya 

 

b. Lingkungan Sekolah. Sekolah merupakan lingkungan di mana anak-anak berkumpul bersama teman-temannya yang sebaya dengannya. Belajar, bermain dan bercanda adalah kegiatan rutin mereka di sekolah. Sekolah juga merupakan sarana yang cukup efektif dalam membentuk watak dan karakter anak. Di sekolah anak-anak akan saling mempengaruhi sesuai dengan watak dan karakter yang diperolehnya dalam keluarga mereka masing-masing. 

 

Anak yang terdidik secara baik di rumah tentu akan memberi pengaruh yang positif terhadap teman-temanya. Sebaliknya anak yang di rumahnya kurang mendapat pendidikan yang baik tentu akan memberi pengaruh yang negatif menurut karakter dan watak sang anak. Oleh sebab itu orang tua seharusnya mampu melihat secara cermat dan jeli sekolah yang pantas bagi anak-anak mereka. Orang tua tidak harus memasukkan anak mereka di sekolah-sekolah favorit semata dalam hal intelektual dan mengabaikan faktor perkembangan akhlaq bagi sang anak, karena sekolah tersebut akan memberi warna baru bagi setiap anak didiknya. Keseimbangan pelajaran yang diperoleh murid di sekolah akan lebih mampu menyeimbangkan keadaan mental dan intelektualnya. 

 

Karena itu sekolah yang memiliki keseimbangan kurikulum antara pelajaran umum dan agama akan lebih mampu memberi jaminan bagi seorang anak didik. 

 

c. Lingkungan Masyarakat. 

Masyarakat adalah komunitas yang terbesar dibandingkan dengan lingkungan yang kita sebutkan sebelumnya. Karena itu pengaruh yang ditimbulkannya dalam merubah watak dan karakter anak jauh lebih besar. Masyarakat yang mayoritas anggotanya hidup dalam kemaksiatan akan sangat mempengaruhi perubahan watak anak kearah yang negatif. Dalam masyarakat seperti ini akan tumbuh berbagai masalah yang merusak ketenangan, kedamaian, dan ketentraman. Anak yang telah di didik secara baik oleh orang tuanya untuk selalu taat dan patuh pada perintah Allah Subhannahu wa Ta'ala dan RasulNya, dapat saja tercemari oleh limbah kemaksiatan yang merajalela disekitarnya. 

 

Oleh karena itu untuk dapat mempertahankan kwalitas yang telah terdidik secara baik dalam institusi keluarga dan sekolah, maka kita perlu bersama-sama menciptakan lingkungan masyarakat yang baik, yang kondusif bagi anak. Jika setiap orang merasa tidak memiliki tanggung jawab dalam hal beramar ma’ruf nahi munkar, maka segala kemunkaran bermunculan dan merajalela di tengah masyarakat kita dan lambat atau cepat pasti akan menimpa putra dan putri kita. Padahal kedudukan kita sebagai umat yang terbaik yang dapat memberikan ketentraman bagi masyarakat kita hanya dapat tercapai jika setiap individu muslim secara konsisten menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, karena Allah Subhannahu wa ta'ala berfirman:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah...” (QS. Ali Imran: 110). 

 

 Untuk itu di akhir khutbah ini marilah kita bersama-sama merasa peduli terhadap kelangsungan hidup generasi kita, semoga dengan kepedulian kita itulah Allah Subhannahu wa Ta'ala akan senantiasa menurunkan pertolonganNya kepada kita dan memenangkan Islam di atas agama-agama lainnya. Marilah kita berdo’a kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala .

 

 رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ.