Belajar di Usia Tua Ibarat Melukis di Atas Air Belajar di Waktu Muda Ibarat Melukis di Atas Batu



Betapa sulitnya belajar mengingat, menghafal ketika usianya sudah tua. Perlu kesabaran dan pelatihan secara terus menerus. Kesabara menjad kunci sukses, tidak patah semangat dan tidak merasa sudah cukup. Banyak orang yang baru mencoba satu atau dua kali tetapi mengatakan bahwa dirinya tidak bisa, pikirannya tidak memadai. Tidak ada kesempatan waktu dan lainnya menjadi sebab penghalang untuk meraih suatu kesuksesan.

Pernah seorang teman bercerita bahwa dia hidup serumah dengan kakak kelasnya, walaupun usianya masih muda namun dipanggil Abah. Dua orang sahabat ini sama-sama seoarang lulusan Institut Agama Islam Negeri yang telah menyandang gelar Sarjana Agama. Seorang teman (Abah) berprofesi sebagai seorang penjahid, memang kalau dibilang sangat melenceng dengan disiplin ilmu yang telah ditekuninya. Tapi tidak mengapa karena mentalitas dan kepribadian seorang alumni sebuah perguruan tinggi tentu mempunyai visi dan pandangan hidup yang lebih optimis. Dari waktu kewaktu menyadari bahwa kehidupan manusia adalah sebuah proses yang harus dijalankan. Tidak selamanya bahwa kesuksesan diperoleh dengan menekuni bidang keahlian dan disiplin keilmuannya.

Abah adalah seorang penjahid mempunyai visi ingin merubah kondisinya menjadi lebih baik sehingga profesi seorang penjahid ingin berubah menjadi konveksi. Hal ini karena skala produksinya lebih besar dari penjahid, disamping itu laba yang sedikit tetapi karena jumlahnya banyak maka hasilnya akan lebih besar. Ketekunan dan kesabaran untuk menjualhasil produksi pada beberapa pertokoan akhirnya menjadi lahan penjualan hasil produksi.

Abah adalah seorang teman yang telah menemukan jati dirinya, seorang teman yang merupakan zuniornya mencoba-coba mencari pekerjaan, dan suatu saat belajar pola dan berlatih menjahid. Teman zunior ini mengatakan tidak bisa. Apa kata Abah, dia mengatakan “sesuatu yang Nampak itu pasti bisa dipelajari”. Kata-kata yang singkat namun mengandung pelajaran yang amat berharga. Sesungguhnya sesuatu yang ada di alam ini, tidak ada yang tidak dapat dipelajari. Semuanya dapat diteliti, dipelajari, dikembangkan sebagai sarana untuk mendapatkan kesejahteran dan kebahagiaan di usia tua.

Kata-kata singkat Abah berdampak luas dan positif sebagai motivasi bagi orang-orang tua yang berniat berlajar membaca Alquran. Sulit untuk dibayangkan ketika usianya sudah tua, lidah sudah kaku, lisan sudah tidak fleksibel lagi. Sekali dua kali dan di diulang-ulang dari pengenalan huruf hijaiyah, berupaya untuk diingat-ingat dengan dibaca terus menerus maka otak kiri bekerja lebih optimal, satu persatu huruf sudah bisa dibedakan. Setiap huruf yang diacak dapat dibedakan dan dibaca dengan benar. Pada awalnya Nampak kaku namun kemudian menjadi lancar dan mantap dalam membaca tiap-tiap huruh hijaiyah.

Memang tidak menutup kemungkinan ada saja orang-orang yang memang sulit untuk mengingat dan membacaanya dengan benar. Sesungguhnya hal ini dapat diatasi dengan ketekunan, kesabaran, istiqomah dan tentu saja dilandasi dengan niat yang ikhlas. Sebagaimana kisah Ibnu Hajar Al Asqalani yang berguru sampai bertahun-tahun, tetapi seakan tidak ada peningkatan, dibanding dengan teman-teman yang belajar kemudian setelah dirinya, namun dia selalu tertinggal dalam tingkat pembelajaran. Dia berputus- asa dan memohon diri kepada gurunya untuk pulang. Dengan berat hati guru mengikhlaskan dan berpesan jangan berhenti untuk belajar.

Dalam keadaan putus- asa dia mengembara dan sampai pada sebuah gua, karena hujan dia berteduh didalannya. Terdengarlah suara dentuman keras, lembut dan menyeramkan. Dicarilah sumber suara itu, ternyata air yang menetes pada lubang sebuah batu besar. Didekatilah batu, diraba-raba dan kemudian dipukul, ternyata batu tersebut keras dan ketika dia mengambil batu kemudian dipukulkan pada batu besar ternyata batu besar itu sedikitpun tidak retak. Dalam dirinya timbul pemikiran, mengapa tetesan air itu dapat melubangi batu yang besar tersebut. Tidak mungkin lubang yang besar itu terjadi dalam waktu yang singkat, tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun. Karena itulah bahwa belajar itu memerlukan waktu, bila memang tergolong orang yang cerdas, maka akan cepat menerima dan menyerap ilmu yang telah diterimanya. Namun bila termasuk dalam kategori keterlambatan dalam fungsi fikir tentu memerlukan waktu yang panjang. Akhirnya Ibnu Hajar meneruskan belajar dan berkat ketekunan dan kesabaranya jadilah dia ulama yang mashur.

Rasulullah Muhammad pernah mengatakan “carilah ilmu melai dari buaian hingga ke liang lahat” yang artinya bahwa belajar itu tidak mengenal batas usia. Dalam ungkapan kata hikmah bahwa belajar di usia tua ibarat melukis diatas air dan belajar diwaktu anak-anak ibarat melukis diatas batu. Bagaimana mungkin melukis diatas batu, begitulah gambaran bahwa orang tua secara umum mudah untuk menerima dan menyerap ilmu tetapi mudah sekali lupa, apalagi yang berkaitan dengan ilmu alat yang cenderung untuk dihafalkan. Berbeda dengan anak-anak baru mendengar satu atau dua kali bila disuruh menghafal maka akan dapat mengingat dengan sempurna. Tetapi tentu saja fungsi otaknya juga berbeda, bila orang dewasa akan dapat mengklasifikasikan, menganalisis dan mengembangkan. Tetapi anak-anak baru bisa mengingat dan menghafalkan saja.

Anda sedang membaca artikel dari untajiaffan Terbaru hari ini. Mohon untuk membagikan artikel ini ke teman anda melalui sosial media dibawah ini.

Artikel Untajiaffan Lainnya:



Kotak Komentar