Senin, 26 Januari 2015

Sayyidul Istighfar, Do'a Menjauhkan Su'ul Khatimah Menuju Khusnul Khatimah



Manusia adalah salah satu makhluk Allah yang diciptakan dalam wujud yang sebaik-baik bentuk. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk Allah yang berpotensi untuk berbuat baik dan berbuat buruk. Perbuatan baik akan berdampak pada pemberian pahala oleh Allah, dengan pahala itu manusia akan diberikan keberkahan selama hidup didunia dan di akherat kelak akan mendapat syafa’at Allah melalui Rasulullah SAW.

Perbuatan dosa manusia merupakan fitrah insaniyah, karena manusia mempunyai sifat khata’ dan nisyan. Sekalipun sudah banyak diselenggarakan majlis taklim, majlis zikir dan beraneka macam jenis tausiyah. Namun sifat itu senantiasa melekat pada diri manusia. Lalu bagaimanakah kondisi manusia bila dalam setiap saat senantiasa dihadapkan dengan kematian/ ajal yang datangnya juga setiap saat, tidak bisa diharapkan, ditunda atau diajukan. Tentu saja bila dalam kondisi istiqomah melaksanakan perintah Allah maka kematian menjemput akan memperoleh derajat khusnul khatimah. Namun sebaliknya bila dalam kondisi sedang melaksanakan kemaksiatan maka akhir hayat akan menjadi suul khatimah.

Setiap muslim mengharapakan dalam hidupknya senantiasa istiqomah dalam menlaksanakan ketaatan dan pada akhir hayatnya akan khusnul khatimah. Karena itu Rasulullah SAW memberikan pedoman dengan zikir, khususnya zikir Sayyidul Istighfar, insya-Allah akan dijauhkan dari kematian yang suul khatimah.
Barangsiapa mengucapkannya disiang hari dalam keadaan yakin dengannya kemudian dia mati pada hari itu sebelum petang hari, maka dia termasuk penduduk syurga dan siapa yang mengucapkannya di waktu malam hari dalam keadaan dia yakin dengannya, kemudian dia mati sebelum shubuh maka dia termasuk penduduk syurga.” (HR. Bukhari – Fathul Baari 11/97). Berikut do’a/ zikirnya:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, خَلَقْتَنِي, وَأَنَا عَبْدُكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ, أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ, أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ, وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي, فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ


”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu (yaitu selalu menjalankan perjanjian-Mu untuk beriman dan ikhlas dalam menjalankan amal ketaatan kepada-Mu) dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni segala dosa kecuali Engkau”.

Tata Cara Tidur Menurut Rasulullah Muhammad SAW



Tidur adalah fitrah sebagai makhluk hidup, termasuk manusia. Bagaimanakah tidur yang benar? Ada yang mengatakan bahwa tidur yang baik adalah tidur yang berkualitas. Karena itu tidak ditentukan banyak sedikitnya waktu. Waktu yang sedikit namun dapat menghilangkan rasa kantuk dan letih. Ada yang tidur berjam-jam namun rasa kantuk tetap menghinggapi sehingga malas untuk segera bergegas dari tempat ridur.

Padahal orang tidur tidak dapat merasakan bahwa berapa waktu menjadi berlalu.
Karena tertidur banyak orang yang kehilangan kesempatan, kehilangan rizki. Pernah terjadi seorang teman yang karena sedang tugas dinas di luar negeri, suatu saat dia mau pulang ke kampung halaman. Untuk menyingkat waktu dia menempuh jalan udara yaitu dengan naik pesawat terbang, dia sampai di bandara lebih awal dari waktu yang ditentukan sehingga harus menunggu. Sambil menunggu dia membaca surat kabar sambil minum dan makan snack. Tak terasa surat kabar yang dibaca terjatuh, dia tidak bisa manahan rasa kantuk sehingga tertidur, bangun setelah pesawat yang akan dinaiki sudah take off dan yang naik pesawat hanya tas dan kopernya.

Karena itu ketika hendak tidur di rumah atau hotel atau tempat lainnya, Rasulullah Muhammad SAW memberikan tuntunan untuk mendapatkan tidur yang berkualitas:
1. Berwudhu, sebagaimana ketika akan menegakkan shalat.
2. Berbaring dengan posisi miring ke kanan.
3. Berdo’a dengan do’a berikut:

اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ (رواه البخاري


Ya Allah ya Tuhanku, aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dalam keadaan harap dan cemas, karena tidak ada tempat berlindung dan tempat yang aman dari azab-Mu kecuali dengan berlindung kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan aku beriman kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus. (HR. Buchari)

Adapun keutamaan membaca do’a ini adalah bila meninggal pada malam itu maka matinya dalam keadaan fitrah. Karena itu jadikanlah do’a ini sebagai penutup ucapan menjelang tidur.

Minggu, 25 Januari 2015

Majlis Taklim Tanbihul Ghafilin, Belajar Membaca Alquran



Dari manakah orang mengenal Islam, kebanyakan dari cerita orang lain. Termasuk perintah dan larangannya diterima secara turun temurun, hal ini bagi manusia yang dilahirkan dilingkungan masyarakat yang religious. Tetapi lain halnya dari masyarakat yang belum mendapat penerangan tentang agama maka hanya memperoleh ajaran budi pekerti dari nenek moyangnya termasuk kepada siapa menyembah dan bagaimanakah tata caranya.

Karena itu sangat beruntung, bila dilahirkan dilingkungan masyarakat religious, karena hakekat manusia sebagai makhluk pribadi, masyarakat dan sebagai makhluk Tuhan secara langsung telah diterima dari para ulama’, kyai , ustadz, guru ngaji yang bersumber dari Alquran dan Hadits nabi Muhammad SAW. Dalam kondisi masyarakat yang demikian Islam sebagai sumber ilmu pengetahuan telah dikaji bukti-buktinya didalam Alquran. Sehingga manusia yang hidup pada lingkungan yang demikian ini, pengetahuan tentang Islam selalu ditingkatkan. Misalnya ketika membaca Alquran:

“Dan kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (QS. Al Isra’: 82)

Salah satu keutamaan Alquran bahwa membacanya saja terhitung sebagai suatu ibadah, bahkan Allah melipatgandakan pahalanya dimana dalam setiap hurufnya ketika dibaca maka yang membaca akan memperoleh pahala yang berlipat. Disamping itu efek nyata membaca Alquran dapat membuat hati menjadi tenang, emosi terkontrol. Ketika hatinya tenang maka kehidupan manusia akan dinamis dan stail. Karena itu Alquran bisa menjadi . Alquran juga bisa mendatangkan rahmat.

Kehidupan manusia yang tidak memperhatikan urusan agama, maka masyarakatnya dapat menerima penerangan agama hanya persifat secara parsial. Generasi yang hidup pada masa ini, sehingga sampai tua mereka tidak bisa membaca ayat-ayat Alquran. Dengan kondisi yang demikian maka maka syifa’ dan rahmat dengan sepenuhnya belum di haluskan. Beruntunglah mereka mempunyai teman yang ingin bisa membaca Alquran. Maka jadilah pembinaan baca Alquran, untuk jumlah usia seharusnya mereka menjadi pengajar bukan belajar atau diajar.

Karena usia mereka termasuk kategori tua, maka majlisi taklim ini berganti nama menjadi Majlis Taklim “Tanbihul Ghafilin”. Beruntunglah hati mereka terbuka sehingga bisa menerima saran dari para pendahulunya. Bahwa belajar tidak mengenal batas usia. Karena itu ada beberapa kiat sukses belajar Alquran:
1. Belajar secara rutin/ istiqomah.
2. Diselenggarakan setiap hari
3. Dilaksanakan step by step, jangan terburu-buru untuk pindah halam di belakannya sebelum dinyatakan benar dan lancar.
4. Jangan malu, lebih baik malu didunia dari pada di alhirat kelak.

Problem mengajarkan iqra’ kepada kelompok tua:
1. Cepat paham tapi cepat lupa, hal ini adalah fitrah alamiyah. Tapi jangan lupa semakin sering dibaca maka bacaan akan benar. Tapi yakinlah nahwa dirinya akan dapat membaca Alquran dengan lancar dan benar.
2. Lidahnya masih kaku, sehingga bagi pengajar dan yang diajar harus sama-sama bersabar.
Mungkin orang tidak percaya, bahwa dia tidak bisa membaca Alquran. Tetapi realitasnya memang demikian, setelah bergabung dalam majlis taklim ketika harus membaca satu persatu reaksi pertama akan tegang, takut dan malu.ketika membaca huruf hijaiyah benar adanya bila mereka memang belum bisa membaca Alquran. Setiap membaca huruf yang seakan sama mereka masih kebingungan untuk membedakannya. Seperti membaca ja ha kho, ra za, da dza, shad lo, tha dha, ‘a gha, sa tsa sya dan lain-lainnya Jemaah harus selalu melatih diri sendiri.

Selamat belajar membaca Alquran, semoga senantiasa diberikan kemudahan oleh Allah SWT.

Jumat, 23 Januari 2015

Masalah Datang Silih Berganti



Selagi bumi masih berputar maka masalah akan selalu datang silih berganti, manusia secara pribadi adalah makhluk yang selalu dihadapkan dengan berbagai macam masalah. Semakin banyak masalah yang dihadapi dan dapat menyelesaikan masalah maka semakin dewasalah orang tersebut. demikian pula manusia sebagai makhluk sosial, budaya dan politik maka permasalahan yang dihadapi semakin kompleks.

Jum’at, 23 Januari jam 08.00 WIB publik diramaikan lagi dengan permasalahan yang dihadapi oleh para pemimpin di negeri ini, wakil ketua KPK Bambang Widjojanto ditangkap oleh Bareskrim Polri. Publik banyak yang bingung, bertanya-tanya dua institusi pemerintah penegak hukum di negeri ini. Yang sama-sama mempunyai kewenangan untuk menahan ternyata salah satu institusi ini menangkap yang lain. Ada apakah ini?

Banyak fihak yang mengaitkan dengan kasus-kasus sebelumnya seperti penundaan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai Kapolri yang ditetapkan oleh KPK sebagai pihak tersangka kepemilikan rekening gemuk. Padahal dia adalah salah seorang calon tunggal yang diajukan oleh Presiden Joko Widodo.
Ketika Presiden menetapkan Budi Gunawan sebagai calon Kapolri publik berkomentar, ketika Budi Gunawan di tunda untuk dilantik publik komentar dan ketika Bambang Widjojanto ditangkap publik lebih keras lagi komentarnya.

Setelah mendengar berita-berita hangat tersebut banyak fihak yang berupaya untuk mencari informasi dengan lengkap melalui media cetak atau elektronik. Dengan harapan akan memperoleh data yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun dibanding dengan orang yang seperti ini ternyata lebih banyak yang hanya mendengar informasi sepihak kemudian menyimpulkan dan berkomentar. Maka tentu saja komentarnya berbeda-beda, dan amat disayangkan bahwa kemudian muncul komentator-komentator amatir yang menghabiskan waktunya untuk memikirkan hal-hal yang berada diluar kemampuannya.
Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda:

 إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

 "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu." (HR. Buchari)

Karena itu lakukanlah sesuatu yang menjadi bidangnya, biarlah yang berwajib menangani dan menyelesaikan masalah tersebut. Kita do’akan agar semuanya dapat berfikir yang jernih, utamakan kepentingan bangsa dan negara, satukanlah semua anak bangsa ini untuk saling bersatu, membangun bangsa dan negara berupaya untuk menegakkan kadilan dan kejujuran. Sesungguhnya ketika bangsa ini tercabik-cabik dalam kepentingan pribadi dan golongan maka negara ini akan menjadi rapuh, dan akan semakin tertinggal dari negara-negara berkembang lainnya.

Kamis, 22 Januari 2015

Maling Bernasib Apes Ketika Beroprasi di Masjid, Ingin Mujur Jadi Ajur



Masjid adalah salah satu bangunan monumental bagi umat Islam, masjid menjadi sarana untuk membersihkan diri dari penyakit hati, tempat bersujud, masjid menjadi sarana pendidikan, tempat konsultasi, pelayanan/ santunan bagi fakir miskin, tempat musyawarah, penerangan agama, tempat untuk meraih kebahagiaan hidup didunia dan akhirat. Pada umumnya orang ke masjid mempunyai maksud dan tujuan yang mulia walaupun ada saja orang yang mengunjungi masjid karena mempunyai tujuan yang berbeda.

Bila khatib, mubaligh, da’i atau kyai mengatakan “ambillah yang baik-baik dan tinggalkanlah yang buruk-buruk”. Ada maling yang selalu menggunakan dalih yang telah disampaikan oleh para ulama tersebut diatas. Mereka datang ke masjid karena usaha untuk mendapatkan rizki dengan cara yang tidak wajar, karena berusaha merampas milik orang lain, atau menukar suatu barang dengan milik orang lain. Kita sering mendengar bahwa ketika sedang berada di masjid untuk shalat atau keperluan lainnya namun ternyata ketika mau kembali barang miliknya hilang. Bisa berupa tas, sepatu, helm, sepeda motor dan barang-barang lainnya.

Maling yang sukses karena telah melancarkan aksinya tanpa mengalami kendala, mengambil barang milik orang lain dengan mudah dan tidak ada orang yang mencurigai. Tentu mereka merasa puas, dan kesuksesan ini akan terus ditingkatkan untuk mengambil barang milik orang lain dari segi kuantitas maupun kualitas barangnya. Maling yang sukses mengambil sepatu atau sandal di masjid, suatu saat akan mengambil dalam skala besar dan berkeliling dari masjid-ke masjid.

Setelah barang didapat tentu akan mempertimbangkan nilai barang yang telah diambil, bila tidak sesuai dengan resiko yang akan ditanggung tentu akan meningkatkan kadar pencurian dengan mengincar barang-barang yang lebih berharga, misalnya membobol mobil dengan memecah kacanya, mencuri kendaraan bermotor dan lain sebagainya. Bahkan tidak sedikit maling yang mengincar kotak amal di dalam masjid.
Apakah maling tidak mempunyai perasaan, bagaimanakah rasanya bila barang miliknya hilang, apakah dia tidak akan merasa sedih, marah dan sebagainya. Saya yakin dia akan merasakan yang demikian itu. Tetapi mengapa dia mau melakukan suatu perbuatan yang membuat orang lain menjadi susah karena kehilangan barang berharga miliknya. Memang banyak faktor yang menjadi penyebabnya, bisa karena kebutuhan, tuntutan ekonomi, kebiasaan, hobi, menjadi profesi atau karena kecanduan minuman keras.

Pernah suatu saat ketika selesai menegakkan shalat dzuhur saya melihat orang telah kehilangan sepatu kesayangannya, suatu saat lagi ada jama’ah yang lain kehilangan sepeda motor, dalam waktu yang lain lagi mobilnya yang ditinggalkan untuk menegakkan shalat ternyata kacanya dipecah dan tas yang ada didalam mobil diambil. Mungkin maling tersebut merasa sangat beruntung karena didalam tas terdapat uang, laptop, kartu kredit dan barang berharga lainnya. Dan masih banyak kasus-kasus kehilangan lainnya di wilayah lokasi masjid.

Mengapa begitu seringnya terjadi pencurian di lokasi masjid, hal ini karena sifat mulianya umat Islam, tidak merasa curiga terhadap siapapun yang berdiam di lokasi masjid seakan-akan mereka adalah orang yang baik. Dengan demikian malingpun, seakan dia orang baik. Ketika dia sedang duduk dikiranya sedang istirahat, masuk ke masjid dikiranya sedang shalat atau sedang i’tikaf. Sehingga kebaikan orang terhadap pribadi maling, ternyata justru digunakan untuk melancarkan aksinya. Dia mencari kesempatan, bila pemilik barang lengah maka dengan segera akan diambilnya.

Pernah suatu saat ada seorang laki-laki, ketika waktunya shalat dzuhur dia duduk-duduk di teras masjid. Tak ada yang mencurigai bahwa dia seorang maling, namun terbukti suatu saat ada seorang sopir taksi yang pada waktu siang hari dia menegakkan shalat dzuhur, dia yakin bahwa sepatu baru yang baru saja dipakai akan aman. Namun ternyata sepatunya hilang diambil orang. Dia marah namun kepada siapa. Karena itu dia memutuskan setiap saat memasuki shalat dzuhur dia akan mengintainya dengan memarkir mobil di depan masjid. Entah sampai berapa kali dia mengintai. Ternyata usahanya membuahkan hasil, pada waktu kumandang shalat dzuhur dia memarkir kendaraan di depan masjid.

Pada waktu para jama’ah berbondong-bondong memasuki masjid, dia melihat seoarang laki-laki datang dengan mengendarai sepeda motor, laki-laki tersebut tanpa mengenakan sepatu atau sandal. Laki-laki tersebut kemudian memasuki masjid, ketika para jama’ah shalat dzuhur dua rekaat laki-laki tersebut keluar lalu mengambil sepatu, dibawanya sepatu lalu disimpan diantara semak-belukar. Dia beraksi tidak menyadari bahwa perbuatannya sedang diamati oleh seseorang. Sopir taksi keluar mobil lalu memanggil Satpam masjid. Sambil menunggu maling itu kembali, sepeda motornya dipindah dan ban sepeda motor digemboskan.

Tak begitu lama pemilik motor yang tidak lain adalah si maling, dia nampak bingung, dimanakah motornya. Ditanya oleh Satpam, “cari motor ya pak” dijawab “ya”. Lalu ditanya laki tidak pakai sandal ya? Dijawab “ tidak”. Lalu ditanya kamu maling ya? Dia menjawab “bukan”. Namun dia Nampak bingung dan gugup, lalu disuruh menunjukkan dimanakah menyimpan sepatu. Setelah ditujukkan dan diambil terbukti dia memang maling. Setalah mengaku dan ada bukti, maka orang-orang yang pernah dirugikan, tanpa pikir panjang menghantamkan bogem mentah, pada tubuh, kepala dan lehernya. Untung polisi segera datang dan mengamankan.

Begitu apesnya, seorang maling yang beraksi di siang bolong itu. Apesnya masih bertambah lagi ternyata yang dicuri sepatu milik seorang anggota polisi. Akhirnya maling yang sudah ditangkap diamankan di pos Satpam dan menjadi tontonan para jama’ah. O itu ya malingnya, ternyata sudah tua, kasihan ya. Itu diantara pembicaraan para jama’ah seusai menegakkan shalat, mereka menyaksikan kerumunan orang-orang yang menyaksikan maling tertangkap basah. Sering terjadi pencurian di lokasi masjid. Semoga dengan tertangkapnya maling itu akan membuat jera, dan maling-maling yang lain akan segera insaf untuk mencari rizki dengan cara yang baik.

Dan kiranya perlu diingat bahwa harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar, kelak akan mendatangkan bencana. Bila dalam waktu singkat mungkin akan biasa-biasa saja atau aman-aman saja namun sesungguhnya musibah dan bencana akan menanti. Kalau tidak mengenai dirinya maka akan mengenai suami/ istri, anak-anak dan keluarganya. Bila di dunia nampak selamat, maka diakhirat akan memperoleh balasan berupa siksa api neraka. Insaf dan sadarlah para maling, bertobatlah, Allah akan menerima tobatmu, teman, saudara dan orang-orang yang pernah kamu rugikan akan memaafkanmu. Kembalilah ke jalan yang benar, karena Allah akan memberikan keberkahan atas segala rizki yang kau dapatkan dengan cara yang benar. Astaghfirullahal ‘adzim , astaghfirullahal ‘adzim, astagfirullahal adzim, innallaha ghafururrahim.

Selasa, 20 Januari 2015

Menjaga dan Melestarikan Haji Mabrur, Dalam penegakan Syari'at Islam



Haji Mabrur adalah suatu predikat dan prestasi ibadah haji yang diidam-idamkan setiap muslim yang telah melaksanakan ibadah haji. Harapan dari haji yang mabrur adalah surga. Sudah tahukah surga yang diidam-idamkan bagi setiap muslim? Berdasarkan pengamatan panca indra tak seorangpun yang sudah mengetahui tentang surga. Surga kebalikannnya adalah neraka, surga menjadi tempat yang diharapkan bagi seluruh penganut agama dan neraka adalah suatu tempat yang tidak diharapkan. Tak seorangpun yang menginginkan menjadi penghuni neraka. Sekalipun orang belum pernah mengetahui surga dan neraka, namun agama telah mengajarkan tentang adanya surga dan neraka. Keduanya adalah merupakan ranah keyakinan yang tidak dapat dilogikakan. Walaupun demikian Allah memberikan akal kepada manusia untuk memahami tentang sesuatu yang bersifat gaib.

Orang yang melaksanakan ibadah haji berharap akan memperoleh balasan berupa surga, dan surga adalah suatu tempat yang diperuntukkan bagi orang yang mempunyai jiwa yang bersih. Karena itu setiap orang sebelum orang memasuki surga akan dibersihkan terlebih dahulu dosa-dosanya dalam siksaan api neraka. Sebelum habis dosanya maka tidak akan dimasukkan ke dalam surga, karena itu agar kelak tidak terlalu lama menjadi penghuni neraka maka diupayakan untuk selalu melaksanakan dan meningkatkan amal shalih.

Ada suatu lompatan peningkatan ibadah yaitu setelah menajalankan ibadah haji bila memperoleh predikat haji mabrur. Reflektifitas semangat spiritualitas religious akan mewarnai dalam setiap kehidupan. Selalu merindukan untuk menegakkan shalat dengan berjama’ah, gemar bersedekah, gemar menuntut ilmu dan mengajarkan, selalu berupaya untuk menjadi teladan, selalu bermuka manis kepada sesama, komunikatif dan kehadirannya selalu dirindukan bagi orang lain. Lompatan peningkatan kwalitas ibadah tidak selamanya berjalan dengan mulus dan lancar, karena akan selalu dihadapkan dengan kondisi kehidupan. Ada suka, ada duka, ada kesalihan ada kemaksiatan, ada suka ada benci, ada makruf ada munkar dan sebagainya. Dengan kondisi kehidupan manusia yang demikian ini maka memungkinkan kwalitas ibadah haji menjadi semakin surut.

Mempertahankan kesalihan menjadi pekerjaan yang berat dan harus selalu dipertahankan, karena “Al Imanu yazidu wayanqushu” iman kadang bertambah dan kadang berkurang. Ketika keimanan seorang hamba Allah sedang mengalami peningkatan bisa mengungguli kesalihan malaikat yang selalu taat kepada perintah Allah, namun ketika keimanannya sedang menurun atau hilang maka kualitas keimanannnya menjelma menjadi perilaku yang lebih rendah dari binatang ternak.

“ Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai”. (QS. Al A’rof: 44)

“ Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”. (QS. Al Furqon: 44)

Pernah suatu saat salah seorang teman pernah merasakan tentang kenikmatan ibadah di tanah suci, bagaimanakah dalam setiap hari ingin selalu memenuhi panggilan Allah. Setiap saat akan selalu mendatangi masjid, takut didahuli oleh orang lain. Apa yang dilakukan dalam setiap saat adalah ibadah. Setelah beberapa saat pulang ke tanah air dia masih merasakan kehidupan beragama seperti di tanah suci, tetapi keindahan kehidupan beragama yang demikian itu terasa semakin hari bukannya semakin meningkat tetapi justru merasakan adanya penurunan. Dia seoarang anak muda, usianya masih di bawah tiga puluh tahun. Mungkin diantara kita masih memaklumi, walaupun sesungguhnya Allah akan melebihkan bagi generasi muda yang taat beragama.

Bila orang tua taat beragama hal ini adalah hal yang wajar namun bila anak-anak muda senantiasa giat dan istiqomah didalam menjalankan perintah agama dialah pemuda yang luar biasa. Banyaknya godaan justru menyadarkan dirinya sedang diuji oleh Allah, semakin kuat iman dan semakin banyak ilmu, semakin tinggi pangkat dan jabatan, semakin banyak materi yang ditumpuk maka ujiannya akan semakin kuat. Satu masalah belum dapat diselesaikan sudah datang permasalahan yang lainnya. Bila adanya ujian dibiarkan, diberikan harta yang banyak dan melimpah bukannaya semakin dermawan namun semakin bakhil dan membiarkan kebakhilannya terus dikembangkan. Ketika mendengar seruan adzan tetap asik dengan aktifitas dan pekerjaaanya. Apalagi diwaktu pagi hari, udara yang dingin, rasa kantuk ingin tetap berleha-leha di tempat tidur. Mendatangi menjalis taklim semakin turun, apalagi mengajarkannya.

Bila kondisi ini dibiarkan secara tidak sadar sesungguhnya dirinya sedang membiarkan penguasaan hawa nafsu yang berusaha untuk menggerogoti keimananya. Sangat disayangkan bila keimanan yang dahulu telah tertancap didalam qalbu yang kemudian membuahkan amal shalih tidak diupayakan untuk ditancapkan lagi, dimanakah letak kesempurnaan manusia.

“ Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya”? (QS. Ath-Thin: 4-8)

Upaya mengembalikan keimanan.
Keimanan bukan merupakan khayalan atau cita-cita atau sebagai perhiasaan saja, namun keimanan itu sesuatu yang telah tertanam di dalam hati diucapkan dengan lisan dan di amalkan dengan amal perbuatan. Karena itu iman harus dengan amal shalih bahkan selalu berwasiat dalam perbuatan yang hak dan kesabaran. Mempertahankan, menjaga dan meningkatkan keimanan yang diantaranya untuk menjaga kemabruran haji hal yang harus selalu diupayakan:

1. Berupaya untuk memaksakan diri dalam menegakkan ajaran agama.
Tidak ada paksaan dalam beragama, orang tidak bisa memaksakan keyakinan kepada orang lain. Namun ketika dirinya telah beragama, berarti telah memperoleh hidayah (petunjuk). Maka agar beragama dapat mewujudkan keindahan, keharmonisan bahkan dapat mendatangkan rahmat bagi sekalian alam. Tidak ada keikhlasan, kesabaran dan istiqomah yang diperoleh dengan tiba-tiba. Semua ini harus dipupuk dan selalu diberdayakan. Bahkan ikhlas kadang harus dipaksakan, bagaimanakah orang akan merasakan indahnya shalat berjama’ah bila tidak membiasaakan diri meninggalkan segala aktifitas ketika mendengar seruan adzan dan segera menegakkan shalat. Bagaimanakah akan merasakan indahnya shalat lail, puasa sunnah bila tidak mau menjalankan. Sesungguhnya sesuatu yang berat akan menjadi ringan bila dilaksanakan secara terus menerus, keikhlasan akan tumbuh bila dilaksanakan secara terus menerus.

Seorang teman pernah bercerita bahawa dirinya dahulu selalu dapat bangun pagi, sebelum shalat subuh dia sudah bangun. Bahkan lebih hebatnya dia berkisah bahwa sekalipun pada malam hari dia tidur sampai larut malam, tetapi ketika didalam hati berikrar akan bangun pagi sebelum subuh, ternyata pada pagi hari seakan ada yang membangunkan. Hati yang bersih, ikhlas dan istiqomah, sabar membangunkan tubuh yang sedang berbaring dalam tidur yang nyenyak. Namun mengapa sekarang keadannya jauh berbeda, sudah beberapa bulan dirinya tidak mendengar panggilan shalat subuh. Malam hari berniat akan bangun pagi ternyata tidak bisa bangun pagi, sekalipun pada malam hari selelu tidur lebih awal dengan harapan dapat bangun lebih pagi, ternyata tidak bisa terlaksana. Walaupun dia seorang mubaligh, yang ditingkat kampung dia di sebut seorang ustadz, pada pergaulan dipanggil dengan sebutan haji, di tempat kerja ada beberapa teman yang memanggil dengan sebutan kyai. Gelar terhormat dalam bidang agama ini ternyata belum bisa mewarnai kepribadian seorang yang alim yang mempunyai jiwa integritas.

Sebenarnya dengan kondisi yang demikian dirinya merasa malu, mengapa bila disebut, ustadz, kyai, haji namun belum bisa menjadi teladan bagi orang lain? Ternyata dengan niat yang ikhlas, Allah memberikan petunjuk kepadanya, melalui perjalann hidup sebagai seorang ustadz. Ketika dirinya menyampaikan taushiyah keagamaan, ada salah seorang jama’ah yang minta diajari untuk belajar membaca Alquran. Niat ini sebenarnya telah disampaikan pada istrinya tentang keinginannya untuk mengajar iqro’ kepada jama’ah pada pagi hari, setelah shalat subuh, dia berharap agar bisa bangun pagi. Tetapi didaalm hatinya ada kekhawatiran kalau sudah merencanakan dan melaksanakan apakah dirinya bisa istiqomah. Kekhawatiran ini terjawab ketika justru ada jama’ah yang menginginkan. Maka dimulailah mengajar iqro’ pada pagi hari, yang tadinya dalam satu minggu sekali yaitu pada hari Ahad, kemudian berkembang dan dilaksanakan setiap pagi hari. Mengapa dapat dilaksanakan, ibadah kepada Allah dimulai dengan tuntutan kewajiban untuk melayani orang lain, rasa tanggung jawab terhadap manusia akan mendorong konsistensi dan aktifasi kegiatan.

2. Mengaca kepada orang yang lebih shalih.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi Rasulullah SAW pernah berkata bahwa Allah akan mencatat menjadi pribadi yang syukur dan sabar, bila didalam urusan agama senantiasa melihat kepada orang yang diatasnya, kebalikannya dalam urusan dunia melihat kepada orang yang dibawahnya. Setiap muslim dalam menegakkan dan menjalankan perintah agama mempunyai spesifikasi sendiri-sendiri, setelah menjalankan ibadah maghdhah, ibadah yang bersifat wajib dan fardhu ada yang lebih menekankan pada ibadah sosial misalnya infaq dan shadaqah, ada yang menekankan pada puasa sunnah, shalat sunnah, shalat berjama’ah, mencari ilmu, zikir dan amalan amalan Islam lainnya. Dengan demikian kesalihan akan terpancar pada pribadi masing-masing orang tersebut.

3. Mengajar adalah salah satu upaya untuk.
Mengajar adalah menjadi guru dan guru berarti digugu dan ditiru. Guru yang bijak adalah yang dapat menjadi teladan, dapat mencontohkan, memberi contoh dan dapat dicontoh. Sehingga seorang guru hendaknya mempunyai jiwa integritas dimana antara keyakinan, ucapan lisan dan keilmuannya membentuk suatu perilaku yang shalih. Maka dengan mengajar akan mengingatkan pada diri sendiri bahwa dalam setiap gerak-geriknya akan diawasi oleh orang lain, sehingga bila pada suatu saat mengajarkan untuk berbuat baik namun karena sedang khilaf sehingga terjerumus pada perilaku yang tidak baik, maka orang lain atau anak asuh atau para jamaahnya akan menjadi pengerem dalam perbuatan yang tidak baik.

4. Berupaya untuk mengamalkan ajaran agama dimulai dari dirinya bsendiri, dimulai dari hal-hal yang kecil dan dimulai dari sekarang.
Diri sendiri menjadi pangkal dan motivasi untuk mengajak pada orang lain, setiap hal yang besar dimulai dari hal-hal yang kecil, dan waktu sekarang adalah pangkal untuk mengawali setiap perbuatan. Ingatlah bahwa orang akan melihat apa yang telah dilakukan bukan apa yang dikatakan. Perilaku akan mempunyai peran yang besar dari pada perkataan. Karena banyak orang yang pandai berkata namun sedikit karya. Bahkan dalam setiap hal dalam menyelesaikan masalah yang penting bicara, bukannya bicara yang penting-penting saja.

5. Selalu bergaul dengan orang-orang yang shalih.
Bila berada ditanah suci selalu termotivasi untuk beribadah karena tujuan utama adalah untuk beribadah. Begitu pula perkumpulannya bersama-sama orang yang sedang merindukan untuk beribadah secara maksimal. Maka bila ditanah air dapat berkumpul dengan orang shalaih niscara akan terdorong untuk meningkatkan ibadah.

Begitulah bahwa penyandang haji mabrur akan menjadi kenyataan bila dapat mengimplementasikan ajaran Islam secara kaffah. Imannya iman yang sudah tertanam senantiasa dihiasi dengan amal ibadah.

Jumat, 09 Januari 2015

Meneladani Sifat Wajib Rasulullah Muhammad SAW Khutbah Maulid Nabi



Setiap memasuki bulan Rabiul Awal kita diingatkan kembali dengan peristiwa besar yaitu kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kalehiran nabi Muhammad SAW ini menjadi salah satu Hari Besar Islam, dan pemerintah menjadikan hari tersebut sebagai hari libur nasional. Peringatan kelahiran nabi Muhammad SAW di beberapa daerah di Indonesia menjadi momentum untuk mengagairahkan kemabali semangat jihad dan perjuangan. Dimana peringatan ini diselenggarakan selama pada bulan Rabiul Awal bahkan hingga samapai Rabiul akhir.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.


Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Mengawali tahun baru 2015 yang sekaligus bertepatan dengan tanggal 3 Januari 2015 kita diingatkan kembali dengan peristiwa besar. Yaitu kelahiran nabi Muhammad SAW, sebagai juru penerang, suri tauladhan yang baik, tokoh revolusi aqidah dan moral umat manusia dari zaman jahiliyah menuju ke alam yang penuh dengan hidayah Allah SWT. Oleh kerena itu mengenang kelahiran Rasulullah SAW tersebut marilah bersama-sama kita berupaya untuk meneladani Rasulullah SAW yang tercantum dalam hadits Rasululah SAW baik dalam ucapan beliau, perbuatan dan tingkah laku beliau karena dengan meneladani-Nya kita akan selamat di dunia hingga alam akhirat kelak.

Mengapa Rasulullah SAW perlu diteladani? Hal ini karena Allah SAW telah mewartakan bahwa pada pribadhi Rasulullah SAW terdapat suri tauladhan yang baik:


“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al Ahzab: 21)

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Allah SWT sebagai Sang Khaliq telah mewartakan kepada umat manusia, bahwa pada diri nabi Muhammad SAW terdapat suri tauladan yang baik. Sesungguhnya keteladanan Rasulullah ini telah terbina dan terjaga sejak beliau masih kecil. Dimana beliau dilahirkan sebagai seorang anak yang yatim kemudian pada usia 6 tahun ibunya (Siti Aminah) meninggal, lalu diasuh oleh kakeknya (Abdul Muthalib) hingga beliau berusia 8 tahun, karena kakeknya meninggal, dan mengasuh cucunya hanya 2 tahun saja. Yang akhirnya beliau diasuh oleh pamannya (Abu Thalib). Keadaan Rasulullah yang demikian ini telah menerpa jiwa dan kepribadiannya sebagai pribadi yang tangguh.

Sejak kecil beliau tidak pernah ikut-ikutan dalam pergaulan teman-temannya yang tidak bermanfaat seperti menyembah berhala, membuat sesaji, meminum-minuman keras dan perbuatan-perbuatan tercela lainnya. Dilingkungan pergaulan teman-temannya beliau terkenal sebagai pribadi yang jujur sehingga oleh masyarakat diberi gelar Al Amin, gelar yang mulia dan hanya diberikan kepada orang-orang yang melakukan kebaikan pada orang lain.

Bahkan ketika beliau menginjak usia dewasa, melihat kondisi masyarakat yang penuh dengan kemaksiatan beliau beruzlah di gua hira’. Sehingga disanalah beliau menerima wahyu yang pertama yang menandai beliau diangkatnya menjadi Rasulullah. Rasul terakhir penutup para rasul, penyempurna ajaran rasul, dan pembawa rahmat bagi sekalian alam.

Kaum muslimin Jema’ah Jum’at Rahimakumullah.
Nabi Muhammad SAW mempunyai sifat wajib, dari sifat wajib tersebut menjadi sumber keteladhan-Nya:
1. Siddiq maknanya benar. Apa yang disabdakan oleh rasul adalah benar dan dibenarkan kata-katanya. (siddiq dan sadiqul masduq). Rasul tidak berkata-kata melainkan apa yang telah diwahyukan oleh Allah SWT. Mustahil rasul bersifat dengan sifat kizzib (dusta). Mustahil rasul mengatakan sesuatu yang tidak dia ketahui dan tidak diwahyukan Allah kepadanya.



“ Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (An-Najm: 3-4).

2. Amanah ialah rasul akan melakukan sesuatu serta melaksanakan hukum-hukum Allah dengan benar dan tepat sebagaimana yang diwahyukan Allah SWT. Dan juga rasul tidak memungkiri janji.

مَنْ كَذب عليا متعمدا فليتبوأ مقعده من النار


“Barangsiapa yang berdusta atas nama-Ku, siapkanlah tempatnya di dalam api neraka “ (Bukhari, Muslim )

Maka mustahil Rasul bersifat khianat yaitu tidak amanah dan mungingkari janji.

3. Tabligh yaitu menyampaikan. Rasul menyampaikan risalah Allah yang telah diwahyukan untuk selanjutnya untuk disampaikan kepada umat-Nya. Mustahil rasul bersifat dengan sifat khitman yaitu menyembunyikan, risalah Allah yang telah disampaikan kepada-Nya.

4. Fathanah yaitu cerdas dan bijaksana. Rasul mampu memahami perintah-perintah Allah dengan betul dan tepat. Mampu pula berhadapan dengan penentang-penentangnya dengan bijaksana dengan bukti-bukti yang kukuh. Mustahil Rasul bersifat dengan sifat Jahlun yaitu bodoh. Andaikan rasul bukan seorang yang fathanah, maka beliau akan gagal dalam menyampaikan risalah Allah. Karena di dalam sejarah bahwa dakwah di tanah kelahiran yaitu di Mekah selama 13 tahun selalu berhadapan dengan para penentang. Orang-orang kafir, musyrik yang selalu mengahalngi dakwah-Nya bahkan samapai pada tindakan rencana pembunuhan terhadap Rasulullah SAW. Namun karena beliau pribadi yang fathanah sehingga dakwahnya disampaikan dengan hikmah dan mau’izah hasanah.

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Sungguh empat sifat rasul bila dapat diimplementasikan oleh setiap muslim niscaya akan ditemukan kedahsyatan, perubahan yang signifikan dalam tata aturan kehidupan, yang pada akhirnya akan dapat diwujudkan kehidupan yang bahagia didunia maupun diakherat.

Seringkali kita bingung dan dibingungkan oleh pemberitaan media masa dan elektronik yang menyempaikan berita tentang seseorang atau kelompok orang yang dituduh sebagai pihak yang salah. Ternyata yang terduduh juga menyampaikan kepada media bahwa dia tidak bersalah. Seandainya pihak terdakwa, penuntut dan penegak hukum dapat mewarisi sifat-sifat rasul sebagaimana diatas niscaya tidak akan ada dusta yang pada akhirnya tidak akan ada permusuhan. Jika hal yang demikian ini dapat diwujudkan, sejak 14 abad yang lalu melalui berita didalam Alquran, Allah akan melimpahkan keberkahan-Nya.


“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’rof: 96)

Sekarang tugas siapa, ketika antara kebaikan dan keburukan, yang makruf dan yang munkar, yang benar dan yang salah saling berhadapan, saling menyerang, saling mengalahkan. Tidak lain adalah merupakan tugas dari masing-masing pribadi muslim, pembinaan terhadap dirinya sendiri dengan jalan mengarahkan hawa nafsu yang mengajak pada perbuatan kemungkaran menuju pada perbuatan menurut panggilan hati nurani dan petunjuk agama. Setelah pembinaan diri dapat diwujudkan sehingga menjadi pribadi yang menjadi teladan, maka tularkanlah keteladanan pada keluarganya. Karena keluarga adalah negara dalam lingkup paling kecil. Maka suatu negara akan diawali dari keluarga. Pembinaan yang baik terhadap keluarga akan menunjang perwujudan negara yang baik.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّا كُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِى هٰذَا وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ, وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.