Aneka Macam Perilaku Mentalitas Manusia I


Kalimat thayyibah (la ilaha illallah) adalah inti dari idiologi Islam yang menjadi dasar seluruh amal perbuatan setiap muslim. Karena itu setiap muslim yang aqidahnya sudah lurus akan mendorong seluruh perbuatannya menjadi lebih baik. Sehingga ketika amal perbuatannya itu baik maka setiap muslim akan merasakan kedekatannya dengan Allah. Allah telah menyebutkan bahwa Allah lebih dekat dari pada urat leher. Karena itu banyak terjadi dirasakan, walaupun Allah itu dekat namun terasa jauh. Merasa do’anya tidak didengar oleh Allah, apalagi di kabulkan.

Mengapa bisa demikian, jawabnnya hendaknya setiap muslim untuk bermuhasabah apakah idiologinya sudah sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah. Maka bila idiologi telah lurus amal perbuatnya akan cenderung untuk melakukan perbuatan yang baik yang diridhai Allah SWT. Bila demikian maka pada akhir hayat akan termasuk golongan oarang yang mati khusnul khatimah, dapat mempertahankan kalimah thayyibah, sehingga kunci surga dipegang, dan diberi keleluasaan untuk masuk ke dalam surganya Allah SWT.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كان اخر كلامه لااله الاالله دخل الجنة (وراه احمد وابوداوود والحكم عن معاذ حديث صحيح)


“ Rasulullah SAW bersabda:”barangsiapa akhir kalimatnya (ucapannya/perkataannya) Laa Illallah, maka dia (akan) masuk surga.(HR. Ahmad, Abu Dawud dan Hakim, dari Mu’adz).

Perlu diketahui bahwa kata”perilaku” bisa bermakna perbuatan, tindakan dan ucapan. Sedangkan kata ”mentalis” bisa bermakna kepribadian, nurani dan hati yang menentukan perilaku.
Dalam konteks hati, Rasulullah bersabda:” ketahuilah sesungguhnya didalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, bila segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh. Ingat, daging itu ialah hati”.(HR.Buhari).

Hadits tersebut menunjukkan perilaku halus, yaitu setiap muslim supaya bisa membaca kalimat ”laa ilaaha Ilallah” setiap hari sesudah shalat fardhu sedikitnya lima kali atau beberapa kali semampunya asal dengan ikhlas. Membiasakan membaca demikian itu termasuk ibadah ‘Aammah. Dalam konteks “laa Ilaaha illallah” sebagai zikir, Rasulullah SAW bersabda:

افضل الذكرلااله الاالله وافضل الدعاء الحمد لله (وراه التر مذى عن جابرحديث صحيح)

“ Paling utamanya zikir ialah Laa ilaallah dan paling utamanya do’a ialah Alhamdulillah.(HR.Turmudzi,dari Jabir,).

Ketika membaca laa ilaaha illallah, muslim harus yakin dan mengerti / memahami maknanya lalu berdo’a kepada Allah SWT mohon semoga kalimat/ ucapan terakhir menjelang mati bisa membaca laa ilaaha illallah. Dengan demikian, kalau dia pada akhir hidupnya bisa membacanya, maka ia termasuk orang yang insya- Allah akan masuk surga.

Jadi, pembiasaan membaca Laa illaha illallah terserah berapa kali tiap hari itu merupakan perilaku, sedangkan pengertian/ pemahaman dan pengamalan makna laa ilaaha Illallah itu merupakan mentalitas pembaca yang menyadari. Dan itulah mentalitas yang baik yang timbul karena iman yang berfungsi.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليحسن الى جاره, ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه, ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيرا اوليسكت (وراه البخاري والنسائى واحمد عن ابى هريرة)

“ Rasulullah saw bersabda:”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaklah ia berbuat kebajikan kepada tetangganya.Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaklah dia menghormati tamu. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaklah dia berbuat baik atau hendaknya dia diam”.(HR.Bukhari,Nasaai,dan Ahmad,dari Abu Hurairah).

Hadits ini menunjukkan tiga perintah kepada muslim yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir/ kiamat supaya memiliki perilaku mentalitas yang baik Islami. Dan realisasi perintah tersebut akan menimbulkan pergaulan yang saling hormat-menghormati, toleransi, solidaritas, rasa kebersamaan dan kekompakan dan tiga perintah itu ialah:
Muslim supaya berbuat kebaikan Islami yang antara lain menghormati tetangga dengan tidak menggangu, memberi pertolongan, menengok kalau keluarga tetangga ada yang sakit atau lainnya.
Muslim supaya memuliakan/ menghormati tamu. Caranya antara lain: menyambut kedatangannya dengan ramah tamah/ sopan santun, segera menyilakan duduk di tempat yang sudah disediakan di ruang tamu yang tertata baik, rapi dan bersih, menghidangkan hidangan pertama ialah senyum. Rasulullah saw, bersabda: Senyummu pada muka saudaramu itu sedekah. (HR.Bukhari).

Tetangga dan tamu wajib di hormati, meskipun mereka non muslim selama mereka tidak berbuat buruk terhadap muslim.sebab, Allah SWT tidak melarang muslim untuk berbuat kebaikan dan adil kepada non muslim.

Selanjutnya dalam memuliakan/ menghormati tamu, kalau hidangan (minuman/ makan) memang sudah tersedia hendaknya dihidangkan dan bersemangat mempersilahkan tamunya untuk minum/ makan dengan penuh keakraban. Kalau tamu mempunyai maksud/ keinginan/ tujuan, hendaknya muslim memenuhinya, tetapi kalau muslim tidak mempunyai apa yang diinginkan tamunya, hendaknya menolak dengan kata-kata yang baik dan minta maaf.
Muslim supaya berkata/ berucap/ berbicara dengan perkataan/ ucapan/ bicara yang baik-baik atau diam saja sewaktu berkumpul.

Kalau tiga perintah tersebut dapat dilaksanakan dengan ikhlas demi hanya mengharap ridha Allah SWT, terwujudlah perilaku mentalitas Islami dalam pergaulan hidup bertetangga, berkeluarga dan bermasyarakat dan menimbulkan saling menghormati, keamanan dan kebersamaan.
Perilaku mentalitas Islami ialah mendirikan shalat (mentalitas ini prinsip dan wajib), memberikan/ mensedekahkan harta yang dicintai (ini berat dan sulit) kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, Ibnu sabil, orang meminta-minta, memerdekakan budak, mengeluarkan zakat, menepati janji, sabar menghadapi kesempitan/ kesusahan dan jujur

“ Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Baqarah: 177)


Selain itu, perilaku mentalitas Islami ialah bahwa bila muslim menerima kesulitan/ kesempitan/ kesusahan, dia sabar. Sebaliknya bila dai menerima kesenangan/ harta, dia bersyukur.(HR.Muslim dan Ahmad). Allah SWT berfirman :

انما الموء منون اخوة فاصلحوا بين اخويكم واتقواالله لعلكم ترحمون

 

“ Sesungguhnya orang-prang mukmin adalah bersaudara karena itu danaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya mendapat rahma )”.
Al Hujurat: 10)

Sesama mukmin harus ber-ukhuwah (bersaudara) berdasarkan iman. Ayat inilah sebagai argumentasi adanya penyebutan Ukhuwah Imaniyah sekaligus disebut Ukhuwah Imaniyah Islamiyah karena ukhuwah itu ajaran Islam. Maka ukhuwah Islamiyah Islamiyah (UII) menumbuhkan akhlaqul karimah yang puncaknya ikhlas demi mengharap ridha Allah SWT semata.

Anda sedang membaca artikel dari untajiaffan Terbaru hari ini. Mohon untuk membagikan artikel ini ke teman anda melalui sosial media dibawah ini.

Artikel Untajiaffan Lainnya:



Kotak Komentar