Kisah Sukses Manusia Yang Bersungguh-sungguh, Akan Berpacu Meraih Keinginan Yang Lain



Kisah sukses dua orang Mahasiswa UIN Walisongo Semarang Zuama Dinal Maula. Pria kelahiran Kudus 5 Juni 1990, menjadi sarjana terbaik dengan predikat cum laude dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,93. Dia adalah salah seorang pribadi yang mandiri selama kuliah juga bekerja sebagai tenaga marketing motor. Kedua Siti Afidah, Gadis kelahiran Kendal, 3 Mei 1992 putri Bapak Baidhowi dan isterinya Aminah, warga Brangsong Kendal, Jawa Tengah. Sukses dengan mendapatkan gelar wisudawati cum laude dengan Indek Prestasi Komulatif 3,84.

Kesuksesan dua orang mahasiswa ini karena dapat menyelesaikan kuliah dengan predikat yang memuaskan dan mencengangkan semua orang. Ternyata kuliah dengan menanggung keterbatasan tetapi bisa meraih kesuksesan. Hal ini sangat berbeda dengan ratusan mahasiswa yang lain yang menyerahkan seluruh urusan perkuliahan kepada orang tuanya. Mulai uang kuliah, uang saku, uang kos, bahkan tak jarang untuk menentukan tempat kos, menentukan mata kuliah yang akan diambil diatur sepenuhnya oleh orang tuanya. Kebanggaan dua mahasiswa ini juga menorehkan sejarah padanya menjadi alumni pertama UIN Semarang dengan predikat terbaik.

Sejarah perjuangan dua mahasiswa UIN Semarang tersebut tentu juga ditemukan di Perguruan Tinggi yang lain. Seperti Raeni salah seorang wisudawati terbaik dari UNNES Semarang dengan IPK 3,96 adalah anak seorang pengayuh becak. Di salah satu Pergurunan Tinggi di Jogjakarta, mahasiswa yang berprofesi sebagai abang becak yang setiap hari mangkal di depan kampusnya tempat menimba ilmu. Dan tentunya masih banyak kisah hidup seorang pejuang dan seorang mujahid yang berupaya untuk melalui perjalanan hidupnya berakhir dengan kemulaiaan.

Jalan hidup adalah suatu proses yang harus ditempuh, bila selalu optimis menghadapi kehidupan maka akan berakhir dengan kebahagiaan. Allah tidak akan melupakan terhadap segala jerih payah hambanya:


“…barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
(QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Kesejahteraan dan kebahagian adalah sustu yang harus diupayakan, dalam kehidupan Jawa mempunyai peribahasa “adhigang adhigung adhiguna” yang maksudnya mengagungkan dan mengunggulkan kekayaan, jabatan, pangkat adalah tidak ada gunanya. Karena itu pembelajaran bahwa lebih baik menjadi dirinya sendiri dari pada menjadi orang tuanya atau orang lain. Boleh meraih cita-cita melebihi kemulian yang telah diperoleh oleh orang tuanya, namun saat ini dirinya adalah diri sendiri, seandainya orang tuanya adalah orang yang kaya, ibaratnya sebagai anak minta apapun akan diperolehnya karena orang tua amat sayangnya sehingga apapun yang diminta putra-putrinya akan dikabulkan.

Adalagi pribadi yang menjadi orang lain, hal ini karena tidak lepas dari pergaulan dengan teman-temannya yang nampak dari kalangan orang-orang kaya sehinga dirinya bersikap sebagai seorang perlente. Tidak tahunya bahwa gaya hidup selama kuliah menguras segala tenaga, fikiran orang tua bahkan harta yang dimiliki orang tua dijual hanya untuk menuruti kemamuannya. Hal ini berbalik dengan peribahasa Indonesia “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian” berbalik “menjadi berenang-renang ke hulu berakit-rakit ketepian”. Amatlah tragisnya bila kehidupannya demikian.

Memang sangat sulit untuk menjadi dirinya sendiri, karena dari sekian ribu atau juta civitas akademika hanya berapa orang yang dapat bertahan dengan dirinya sendiri. Orang jawa mengenal kata prihatin yaitu suatu sikap untuk menahan diri dari segala kemauan yang berlebihan. Seorang guru pernah bercerita tentang perjalanan hidup mencari ilmu di sebuah pesantren. Ternyata kebutuhan makan hanya sekedar dapat untuk menahan perut saja, sehingga kebutuhan makan hanya dengan menanak nasi diatas lampu teplok dengan panci yang digantungkan pada dinding padepokannya. Dan nasi yang dinanak hanya ditaburi sedikit garam sebagai lauknya.

Sungguh ajaib pada malam hari disaat semua santri sedang tidur, pada kegelapan malam karena belum ada listrik. Sang kyai melihat cahaya yang bersinar pada jasat yang sedang tidur, kyai tidak mau membangunkan dan ditariklah sarung santri tersebut kemudian disobek pada sisinya. Pada pagi harinya selesai menegakkan shalat subuh sang kyai bertanya pada santrinya siapakah diantara kalian yang sarungnya sobek, sungguh saya mohon maaf dan akan saya jahidkan kembali sarungnya. Ternyata sarungnya milik santri yang hidup dalam kekurangan dan keprihatinan. Ternyata memang benar bahwa santri tersebut mempunyai kepandaian yang lebih dibanding dengan para santri yang lain.

Kesuksesan adalah suatu proses meniti kehidupan, setelah menyelesaikaan satu pekerjaan segera beralih pada aktifitas yang lain. Setiap kesuksesan akan dihadapkan dengan beraneka macam cobaan, belum pasti setiap kesuksesan akan menyusul kesuksesan yang lain. Karena manusia hidup bergantung pula pada lingkungannya. Maka sejauh mana dapat berinteraksi kepada lingkungan dengan tetap memegang teguh pada prinsip moralitas maka akan menjadi pribadi yang beruntung.

Kesuksesan bagi pelajar bila dapat menyelesaikan proses pendidikan dengan baik dan prestasinya memuaskan. Setelah tamat dari pendidikan dasar dapat melanjutkan ke sekolah menengah menurut keiinginannya, setelah lulus sekolah menengah dapat melanjutkan ke sekolah menengah atas atau kejuruan sesuai dengan harapannya pula. Dan setelah lulus sekolah menengah atas atau kejuruan dapat melanjutkan ke jenjang Perguruana Tinggi atau bekerja sesuai dengan harapannya. Ketika menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi dapat memalui seluruh proses pendidikan termasuk mengikuti kegiatan-kegiatan lain, baik yang berhubungan dengan dunia kampus atau berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat.
Kesuksesan di bangku kuliah salah satunya ditandai dapat menempuh seluruh mata kuliah dengan baik dan lulus sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Lebih baik lagi bila mendapat IPK yang memuaskan. Dengan kesuksesan ini maka harapan untuk masuk pada bursa kerja akan terbuka luas, baik di perusahaan swasta atau di Instansi Pemerintah. Setelah bekerja tentu berharap dapat memperoleh penghasilan yang memuaskan, sehingga pada akhirnya akan menjadi insan mandiri untuk memasuki kehidupan berumah tangga.

Setelah masuk dalam kehidupan berumah tangga maka indikator kesuksesannya bila dapat membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Keluarga ini dapat mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi seluruh anggota keluarga. Kesejahteraan lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fa’ali yaitu kebutuhan primer, skunder dan tertiernya. Sedangkan kebahagiaan adalah urusan hati bahwa dengan segala fasilitas dan prestasi yang diperolehnya apakah bisa mendatangkan kebahagiaan. Karena itu banyaknya harta, tingginya pangkat dan jabatan tidak menjamin akan menjadikan dirinya berbahagia. Seandainya menjadi pejabat namun setiap kebijakannya selalu diintervensi pihak lain tentu bukan kebahagiaan yang diperoleh.

Demikian bahwa kesuksesan itu adalah suatu proses dalam meraih suatu tujuan. Karena manusia mempunyai keinginan yang banyak, keinginannya tidak akan pernah berakhir, setelah memperoleh yang, ini ingin mendapatkan yang lain dan seterusnya. Selagi darah masih mengalir, masih bisa bernafas dan ruh masih menyatu dengan jasat hasrat dan keiinginan tidak akan pernah berakhir. Karena itu kesuksesan pribadi muslim adalah “fiddun ya hasanah wafil aakhirati hasanah waqina ‘adzabannar” memperoleh kebaikan didunia dan diakhirat dan dijauhkan dari azab neraka.

Anda sedang membaca artikel dari untajiaffan Terbaru hari ini. Mohon untuk membagikan artikel ini ke teman anda melalui sosial media dibawah ini.

Artikel Untajiaffan Lainnya:



Kotak Komentar