Zikir Sembuhkan Sakit III


Kesehatan adalah merupakan bagian dari kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT, sebaliknya sakit adalah merupakan musibah. Karena itu bila kita mempunyai tubuh yang sehat dan jiwa yang sehat pula sehingga karena dapat melakukan segala aktifitas, tiba-tiba menjadi sakit, sungguh merupakan pukulan yang berat, sehingga bila sakit yang diderita tidak pernah kunjung sembuh, maka akan menjadi kondisi baru yang menyebabkan pikiran menjadi tegang dan hati tidak tenang.
Oleh karena itu ketika sehat perbanyaklah mengucapkan rasa syukur kepada Allah, syukur dengan hati senantiasa mengingat dan menyadari bahwa suatu saat dirinya akan sakit, syukur dengan perkataan dengan mengucapkan Alhamdulillah, syukur dengan amal perbuatan senantiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya serta menggunakan segala hasil daya upaya untuk beribadah kepada Allah. Dari kondisi sehat beralih menjadi sakit, maka ketika sakit perbanyaklah untuk membaca istighfar, dengan ucapan yang ikhlas, jauhkan dari rasa kesal, amarah bahkan janganlah menjadikan Kalimatullah sebagai sarana pelampiasan wujud kekesalan. Misalnya mengucapkan kalimat tashbih "Subhanallah", tahmid "Alhamdulillah" dan takbir "Allahu Akbar" yang diucapkan dengan rasa kekesalan, mengucapkan istighfar "Astaghfirullahal 'Adzim" namun dengan emosi, mengeraskan suara, bila orang lain mendengar yang didapat bukan menikmati bacaan namun menjadi bacaan yang mengganggu ketenangan orang lain, apalagi di suatu bangsal di Rumah Sakit, akan menimbulkan rasa iba, takut, gelisah dan lainnnya baik terhadap sesama pasien maupun terhadap para penunggu atau pengunjung. Karena perasaan kekesalan menjadikan orang lain tidak berempati namun akan menjadi kesal.
Sebaliknya bila zikir diucapkan dengan ikhlas dan hati yang tenang, memusatkan konsentrasi pada bacaan dan ingat kepada Allah, tumbuhkan keyakinan bahwa Allah mendengarkan permohonan hamba-Nya dan Allah akan mengabulkan permohonannya.
Artinya: "Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina"". (QS. Al Mu'min: 60).

Selanjutnya memperbanyak zikir untuk menjadi amalan atau wirid, karena dalam setiap detak jantung dijadikan untuk memperbanyak zikir kepada Allah, maka hati akan menjadi tenang. Istighfar menjadi ucapan lisan bahwa dirinya benar-benar bertobat kepada Allah. Tobat tidak akan mengulang kembali perbutan maksiat serupa pada kesempatan yang lain dan tobat akan senantiasa memperkuat iman dan selalu berupaya untuk meningkatkan amal shaleh. Ikrar didalam hati dilandasi dengan keikhlasan. Dari waktu-kewaktu pada awalnya akan merupakan tekanan, namun karena selalu diupayakan untuk dilaksanakan, akhirnya akan menjadi amalan hati yang dilaksanakan setiap saat. Bila amalan yang demikian senantiasa dilakukan, sungguh akan menjadikan bahwa kondisi sakit dapat menebus dosa-dosa yang telah dilakukan.
Ingatlah bahwa setiap manusia tidak bisa lepas dari dosa, karena dalam setiap aktifitas ada sesuatu yang dilaksanakan dengan kesengajaan atau direncanakan namun ada juga yang tanpa perencanaan. Dibalik perbuatan manusia itu ada bisikan dari setan yang selalu menghembuskan amal kejahatan. Ketika melaksanakan suatu perbuatan shaleh secara sembunyi, tidak ingin diketahui oleh orang lain, namun suatu saat orang lain melihat maka setanpun datang memerintahkan untuk menambah takaran, dalam hati muncul rasa biar dikatakan bahwa dirinya adalah orang alim. Allah SWT mewartakan dalam Alquran surat Al Hajj ayat 53:
Artinya: "Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat,

Maka dari kondisi amal yang ikhlas ditumpangi dengan perbuatan riya' maka jadilah amal ikhlas tersebut menjadi rusak, bahkan hilang sama sekali pahalanya disisi Allah SWT.
Artinya: " Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Al Baqarah: 264)
Oleh karena itu dengan memperbanyak dzikir, insya-Allah akan menjernihkan niat dan akan membaguskan amal perbuatan, sehingga sebagaimana yang diwartakan oleh Rasulullah bahwa sakit akan dapat menebus perbuatan dosa, maka kedudukan manusia juga akan meningkat, dengan sakit Allah akan mengangkat derajad hambanya. Bisa jadi non muslim menjadi muslim atau dari muslim yang tidak pernah menghiraukan perintah dan larangan menjadi muslim yang selalu taat kepada Allah SWT.

Kecuali amalan istighfar kepada Allah, sakit juga menjadi media muhasabah, menghitung-hitung kesalahan yang telah dilakukan. Bila mengingat kondisi sehat, betapa banyak mempunyai teman dan saudara, dimana dengan mereka selalu bersama, makan, minum selalu bersama namun mengapa ketika sakit dirinya merasakan kesepian, tiada teman yang dapat merasakan penderitaan. Ketika mereka datang menjenguk, mungkin hanya sekedar menghibur. Bisa jadi ketika teman-teman atau saudaranya datang secara bersamaan, sedikit bisa mengurangi rasa sepi dan dapat menghibur hatinya. Bahkan mungkin juga ada teman, saudara yang tidak pernah memberikan empati, ada apa dengan dirinya. Bisa jadi hal yang demikian akan menadi beban pikiran, hati akan tertekan dan tidak tenang. Mengapakah sahabat karib, saudara dekat terasa banyak namun ketika sakit dimanakah mereka.
Mungkinkah hal ini adalah kesalahan diri sendiri yang tidak pernah memberikan atensi, berempati terhadap teman atau sudara yang kesusahan. Bahkan ketika sehat, bergelimpang dengan harta dan kemewahan, hidup dalam suka dan bahagia, lupa terhadap kesusahan dan kekurangan teman dan saudara yang membutuhkan bantuan. Namun mengapa diri pura-pura tidak tahu, mempunyai mata seakan tidak melihat, mempunyai telinga pura-pura tidak mendengar, hati membisikkan kebaikan namun hawa nafsu membelokkan pada perbuatan yang tidak baik. Hal yang demikan ini telah di wartakan oleh Allah SWT dalam Alquran surat Al A’rof ayat 179:
Artinya: Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah), mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.

Hidup dalam ketamakan, mengharapkan pujian, mengharapkan bantuan orang lain, maka kesadaran diri yang tidak pernah disadari ketika sehat, bahkan menganggap diri sebagai pribadi yang sempurna dalam iman dan amal. Ada saran dari orang tidak pernah diperhatikan, ada kritikan tidak pernah dihiraukan, maka datanglah peringatan dari Allah. Sakit menyadarkan diri, bahwa manusia adalah makhluk yang lemah yang selalu membutuhkan bantuan orang orang lain. Manusia tidak dapat hidup sendiri namun membutuhkan bantuan orang lain untuk selalu mengembangkan sikap hidup, saling menolong dalam melakukan perbuatan baik dan berwasiat untuk melakukan perbuatan yang haq dan sabar.
Allah mengingatkan hambanya didalam Alquran bahwa tidak cukup seseorang mengatakan bahwa dirinya adalah beriman, kecuali Allah memberikan kepadanya cobaan:

Artinya: "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?(Al Ankabut: 2)

Artinya: "Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat". (Al Ahzab: 11).
Oleh karena itu sebaik-baik kita sebagai orang yang beriman adalah yang selalu berupaya untuk meningkatkan kualitas iman dengan memperbanyak dan memperbaharui setiap amal shaleh.
Artinya: "Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al A'rof: 153)

Kesadaran yang demikian ini akan mengembalikan kondisi fitrah manusia, bahwa pada awal penciptaan manusia adalah suci, kemudian Allah akan mengangkat derajat kemanusiaannya sebagai akhsani taqwim. Oleh karena itu ketika manusia melakukan muhasabah, untuk selalu giat dalam bertaqarrub ketika mendekatkan diri kepada Allah, jauhkan diri dari perbudakan hawa nafsu sehingga dengan sakit manusia akan dinaikkan derajad basyariyahnya menjadi derajad insaniyah dengan predikat sebagi akhsani taqwim.

Anda sedang membaca artikel dari untajiaffan Terbaru hari ini. Mohon untuk membagikan artikel ini ke teman anda melalui sosial media dibawah ini.

Artikel Untajiaffan Lainnya:



Kotak Komentar