Sehat mahal harganya sakit banyak duitnya

SEHAT MAHAL HARGANYA SAKIT BANYAK DUITNYA
Kesehatan adalah kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada makhluknya, khususnya yang diberikan kepada manusia merupakan anugerah yang teramat besar, sehingga tidak dapat diukur dengan apapun. Oleh karena itu hendaknya kita senantiasa mensukuri nikmat kesehatan yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita sekalian, dan kita do’akan semoga yang sedang sakit diberi kesabaran dan keikhlasan dalam menerima cobaan dan musibah itu dan kita do’akan semoga mereka diberi kesembuhan sesuai dengan do’a yang diajarkan oleh Rasulullah SAW:
اللهم اذهب البأس اشف انت الشافى لا شفاء الا شفاؤك, شفاء لايغادر سقما (متفق عليه)
Artinya: “ Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah, Engkaulah Tuhan yang menyembuhkan, tiada penyembuhan kecuali penyembuhan-Mu, penyembuhan yang tidak meninggalkan penyakit (penyembuhan total”. (HR. Buchari Muslim)
Begitu pentingnya kesehatan itu sehingga Rasulullah SAW memberikan pesan kepada kita sekalian untuk senantiasa memanfaatkan dan memperhatikan lima perkara sebelum datangnya lima perkara:
اغتنم خمسا قبل خمس: وحياتك قبل موتك وصحتك قبل سقمك وفراغك قبل سغلك وشبابك قبل هرمك وغناك قبل فقرك (رواه احمد وبيهقى).
Artinya: Ambillah lima perkara sebelum datangnya lima perkara, yaitu hidupmu sebelum datang ajalmu, jagalah kesehatanmu sebelum datang sakitmu, manfaatkan sebaik-baiknya kesempatanmu sebelum datang kesibukanmu, manfaatkan masa mudamu sebelum datang waktu tuamu, manfaatkanlah waktu kayamu sebelum datang waktu fakirmu. (HR. Ahmad dan Baihaqi)
Salah satu dari lima pesan Rasulullah SAW tersebut, ada satu hal yang perlu kita perhatikan sesuai dengan tema yang kita bahas pada kesempatan ini yaitu tentang kesehatan, kita gunakan waktu sehat sebelum datangnya waktu sakit.
Sehat itu mahal harganya dan sakit itu banyak duitnya, betapa banyak jalan yang diupayakan agar seseorang dapat memperoleh predikat sebagai orang yang sehat jasmani dan rohani. Beraneka macam jenis olah raga dan gerak badan yang diupayakan, dan banyak sekali sanggar senam dan olah raga yang ditawarkan kepada masyarakat, agar mereka memperoleh taraf kesehatan yang memadai. Ada senam pernapasan, senam jantung, senam aerobic, body language dan jenis olah raga yang lain seperti tennis meja, tennis lapangan, buku tangkis, sepak bola, dan segala macam jenis atletik. Baik jenis oleh raga itu menjadi hobi atau hanya sekedar untuk melemaskan otot-otot tubuh, sehingga banyak orang yang bersedia meluangkan waktu untuk berjalan sehat diwaktu pagi hari atau sore hari. Untuk memperoleh derajat kesehatan ini dilakukan dengan iltizam atau konsisten dan istiqomah, sehingga banyak menyita perhatian, waktu , uang dan kesempatan.
Disamping melakukan olah raga secara teratur, istirahat teratur, makanpun juga teratur. Bahkan dalam hal makan dan minum terkadang harus berpantang terhadap jenis makanan dan minuman tertentu, misalnya orang yang menderita hipertensi maka pantang baginya untuk makan-makanan yang mengandung kalori tinggi. Segala keinginan dan dorongan untuk mencicipi makanan atau minuman walaupun hanya sedikit haruslah senantiasa ditahan, janganlah hal yang sedikit akan mendatangkan malapetaka, kenikmatan hanya sebentar namun rasa sakit dan pedih akan berlama-lama, demikan pula mereka yang menderita penyakit gula, jantung, paru-paru, liver maka segala keterbatasan harus diterima dengan ikhlas.
Ingatlah, bahwa ketika sehat tentu kita bisa bekerja dengan leluasa bahkan dengan kerja lembur, maka sejak dini harus bisa mengatur waktu yang dalam bahasa populer disebut managemen waktu syukur dapat melakukan managemen qalbu sehingga segala macam jenis penyakit yang pernah bersarang ditubuhnya tidak akan kembali. Karena rasa sakit yang dapat merasakan adalah dirinya sendiri, maka pandai-pandailah mengatur dan mengetahui kondisi dirinya sendiri.
Rasa pedih, linu, pegal, mual-mual, perut kembung, pusing dan segala penyakit lain yang merasakan hanya dirinya sendiri, kecuali hanya keluarga dekat dan saudara yang senantiasa siap menemani dalam suka maupun duka, bahkan sepanjang waktu selalu dalam kesetiaan. Bahkan rasa empati yang dirasakan, mendatangkan sakit seperti masuk angin, kepala pusing, perut, kembung, mag dikarenakan pola hidup yang tidak teratur, makan minum, tidur sehingga penyakitpun akan menghinggapinya. Demikian pula rasa empati yang diapresiasikan oleh para teman, sahabat dan karib.
Empati munculnya dari dalam hati, suatu kesadaran yang tumbuh secara perlahan. Penyadaran tentang hakekat penciptaan manusia yang berasal dari satu keturunan yaitu dari nabi Adam AS yang kemudian berkembang biak menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Begitu banyaknya sehingga antara satu-orang dengan yang lain terasa tidak saling mengenal, sebagai orang lain yang tidak perlu diperhatikan. Perasaan ini bagi sebagian orang menimbulkan dorongan untuk hidup bermasyarakat dan lingkungan kerja, maupun perkumpulan atau organisasi lain yang menumbuhkan rasa solidaritas bersama. Empati bisa menembus ruang dan waktu, tidak peduli teman, saudara atau bukan, muslim atau non muslim, ketika terjadi musibah bencana alam berupa gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, badai tsunami dengan serta-merta rasa kemanusiaan muncul. Antar sesama warga negara maupun antar lintas negara, terbukti banyak negara yang memberikan andil dalam berempati untuk meringankan beban derita kemanusiaan yang disebabkan oleh adanya musibah. Sebagai wujud apresiasi dengan memberikan bantuan materiil maupun moril, sehingga kesadaran bahwa manusia berasal dari satu keturunan menjadi nyata ketika yang lain menderita sakit maka dirinya juga ikut merasakan sakit. Apalagi bagi muslim sejak 14 abad yang lalu Rasulullah telah mewartakan:
ترى المؤمنين فى تراحمهم وتوادهم وتعاطفهم كمثل الجسد اذااشتكى عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى (روا بخارى ومسلم)
“ Kamu akan melihat orang-orang beriman yang saling menyayangi, saling mencintai dan saling mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka bagian anggota tubuh yang lain ikut merasakan sakit, tidak dapat tidur, dan tubuhpun menjadi panas. (HR. Bukhari Muslim)”
Sesungguhnya pengorbanan untuk memperoleh derajat kesehatan ini adalah menjadi suatu yang sangat mahal, sebaliknya bahwa sakit itu banyak duitnya. Mungkinkah orang yang sakit itu banyak duitnya, sedang kondisi orang yang sakit, semuanya jadi serba berubah, dari kondisi yang produktif menjadi pasif, dari kondisi yang kuat menjadi lemah, dari pemberani menjadi takut. Apakah mungkin mereka itu banyak duitnya, tentunya orang yang sakit itu duitya semakin berkurang karena digunakan untuk berobat. Memanglah benar demikian tetapi yang kami maksudkan bahwa ketika orang itu sedang sakit, maka secara spontan ingin merubah kondisinya menjadi orang yang sehat. Dari sakit menjadi sehat diperlukan suatu usaha dan ikhtiar, melakukan pengobatan baik secara tradisional maupun secara moderen, baik pengobatan alternative maupun pengobatan secara medis. Banyak sedikitnya biaya yang dikeluarkan tergantung dari berat atau ringannya suatu penyakit. Bila itu sakit flu, demam, sakit kepala, maka cukup dilakukan pengobatan melalui dokter umum, akan tetapi bila sudah sampai pada penyakit yang kronis atau termasuk penyakit yang berat, seperti sakit liver, jantung, mata katarak, kangker, paru-paru dan penyalkit-penyakit lainnya maka pengobatan hanya dapat dilakukan memalui dokter spesialis. Sehingga dengan dokter spesialis, yaitu orang-orang yang sangat paham dengan jenis penyakit dan kondisi pasien maka dari dokter inilah yang selanjutnya memberikan rekomendarsi untuk melakukan tindakan medis yang lain, misalnya dengan pembedahan atau operasi. Maka jauh hari, bulan dan tahun, bahkan sejak 14 abad yang lalu Rasulullah SAW telah mewartakan bahwa suatu perkara itu yang paling mengetahui adalah orang yang menekuni bidang tersebut.
اذاوسدالامر الى غير اهله فانتظر الساعه (رواه البخارى)
Artinya: Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahli dibidangnya maka tunggulah saat kehancurannya (HR. Buchari)
Maka jelaslah bahwa sakit itu memang banyak duitnya, pengobatan yang dilakukan tidak akan diperoleh dengan cuma-cuma, akan tetapi memerlukan biaya, sekalipun ada fasilitas yang diberikan oleh pemerintah melalui Askes, baik itu askes PNS, BUMN, Kerjasama, Askin akan tetapi tentu masih ada suatu biaya yang harus ditanggung oleh dirinya, terutama biaya transportasi dan akomodasi baik untuk pasien sendiri maupun bagi keluarganya. Belum lagi pekerjaan yang harus ditinggalkannya, hal ini tentu akan mengurangi pemasukan. Oleh karena itu apakah yang harus dilakukan ketika kita sedang sakit, akan dibahas pada bab berikutnya

Anda sedang membaca artikel dari untajiaffan Terbaru hari ini. Mohon untuk membagikan artikel ini ke teman anda melalui sosial media dibawah ini.

Artikel Untajiaffan Lainnya:



Kotak Komentar