Jumat, 21 Februari 2014

Wujud Kekuasaan dan Kasih-Sayang Allah-Khutbah Jum'at


Musibah dan bencana yang ada di alam ini apakah kebetulan atau merupakan kehendak dari wujud kekuasaan Allah. Bagi orang yang beriman akan meyakini bahwa semua ini adalah merupakan kehendak Allah, karena dengan musibah dan bencana merupakan ujian bagi hamba-hamba-Nya. Setiap orang hidup pasti diberikan ujian dan cobaan, namun sesungguhnya disaat Allah menunjukkan kekuasaan dan kedigdayaan--Nya Allah mengiringi dengan kasih sayang kepada hamba-Nya. Hal ini karena sudah menjadi hak mutlak Allah yang telah menciptakan kemudian menjaga, melindungi dan memberikan kecukupan kepada hama-hamba-Nya. Allah berbeda dengan makhluknya dan tak ada satu zatpun yang setara dengan Allah.


أَلْحَمْدُلِلّٰهِ الَّذِى أَلَّفَ بِالْاِسْلَامِ بَيْنَ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ, وَالَّذِى اَوْجَبَ بِالْاِتِّحَادِ وَحَرَّمَ التَّفَرُّقَ فِى كِتَابِهِ الْمُبِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ هَدٰى مَنْ شَآءَ اِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ خَيْرُدَاعٍ اِلَى الطَّرِيْقِ الْقَوِيْمِ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّابَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, karena dengan iman dan taqwa itulah kita akan termasuk golongan yang akan di mulyakan oleh Allah, inna akramakum ‘inddallahi atqakum” sesungguh yang paling mulia disisi Allah adalah orang –orang yang bertaqwa.
Rasulullah SAW pernah bersabda,

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً (رواه مسلم)

"Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di antara kamu, niscaya hal tersebut tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin diantara kalian, semuanya seperti orang yang paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu tidak mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun juga. (HR. Muslim)

Bila kita cermati fenomena berkembang di alam ini, baru saja negeri ini menangis lantaran terjadinya banyak sekali musibah, angin puting beliung yang memporak-porandakan permukiman, tanah longsor dan banjir dibeberapa wilayah yang belum reda, dan pada hari Kamis 15 Februari terjadi musibah yang melanda tanah air. Gunung Kelut di Kediri Jawa Timur meletus.

Bila kita perhatikan dan kita hayati sedalam- dalamnya, dikala satu sisi manusia berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan, disi lain banyak umat manusia yang melakukan kemaksiatan. Disatu sisi umat manusia tidak lagi membedakan halal dan haram, disi lain banyak manusia yang amat berhati-hati dalam sikap dan perbuatan. Satu sisi banyak orang yang berhati-hati dalam hal makan, minum dan berpakaian, makanan dan minuman yang halal dan thayyib. Tak ingin sedikitpun harta yang haram masuk dalam jasatnya namun disisi lain banyak orang yang tidak meperdulikan halal-haram. Disatu sisi banyak umat manusia yang tidak meyakini akan adanya hari kebangkitan yang akan memberikan keadilan atas segala amal perbuatan mansia, disi lain banyak manusia yang amat yakin akan adanya hari kebangkitan, sehingga seluruh hidupnya dibaktikan untuk mewujudkan ketatan kepada Allah SWT.

Inilah dua macam peristiwa yang saling berlawanan yang tidak akan berakhir hingga berakhirnya alam dunia ini. Manusia yang beriman senantiasa memohon kepada Allah akan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada seluruh hamba-Nya, orang yang beriman selalu memohon kebaikan hidup di dunia dan di akhirat. Orang yang beriman meminta agar seluruh umat manusia dijauhkan dari segala macam bencana. Namun ternyata Allah berkehendak lain, Allah menunjukkan kekuasaannya, betapa banyak kerugian yang ditimbulkan dari kekuasaan dan kedigdayaan Allah. Banyak rumah yang hancur, hilangnya nyawa, rusaknya fasilitas umum, jalan, jembatan, gedung-gedung. Dan juga merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Matinya tanaman dan satwa. Banyak manusia yang kehilangan mata pencaharian dan pekerjaan.

Disaat manusia banyak yang menjerit, karena menebarnya abu vulkanik yang mengganggu kesehatan manusia. Betapa banyaknya air yang dibutuhkan untuk membersihkan dan menjinakkan debu-debu yang berterbangan. Berapa ribu kubik air yang diperlukan untuk membersihkan jalan, jembatan, dermaga, bandara, dedaunan dan lain sebagainya. Namun kuasa Allah tidak menjadikan-Nya menjadi sewenang-wenang terhadap hamba-Nya. Allah memberikan kasih-sayang-Nya dengan turunnya hujan yang dapat membersihkan benda-benda yang terkena abu vulkanik, demikian pula menjernihan udara sehingga lingkungan menjadi segar kembali.

Karena itu ketika sedang terkena musibah Allah memerintahkan untuk bersabar.








“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (QS. Al Baqarah: 155-156)

Suatu saat Allah memberikan ujian dalam bentuk kebahagiaan dan pada sisi lain Allah memberikan ujian berupa kesusahan, seperti rasa takut dan kelaparan









“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (QS. Annahl: 112)

Ujian dari Allah dalam bentuk ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, bila disikapi dengan kesabaran, maka Allah akan memberikan pahala. Dan barang siapa yang berputus asa maka Allah akan menimpakan siksa. Karena itu Allah mengatakan wabassyirish-shabirin dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Demikian orang yang bersabar akan menyadari dengan sepenuh hati bahwa dirinya merupakan hamba Allah, Allah akan memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Namun dengan perlakuan Allah ini, Dia tidak akan menyia-nyiakan amal perbuatan hamba-Nya. Walaupun hanya sebesar biji sawi kelak di hari Qiyamat akan diberikan balasan oleh Allah. Tak ada manusia yang merasa di dhalimi, kecuali semua hamba Allah akan merasakan keadilan Allah SWT.
Dunia adalah merupakan lahan untuk beribadah, amal dunia tidak akan pernah dilalaikan kecuali akan menjadi bekal seluruh kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Segala bentuk perkataan, perbuatan dan tingkah laku yang lain akan mempengaruhi kebiasaan hidup. Kebiasaan baik akan mendatangkan kebaikan, kebiasaan buruk akan mendatangkan keburukan. Bila dalam waktu singkat nyaris sama saja antara ketaatan dan kedurhakaan, sesungguhnya Allah akan menguji hambanya dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya.

Akhirnya mudah-mudahan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang mendapat kenikmatan bukan jalannya orang-orang yang dimurkai oleh Allah SWT, amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّا كُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِى هٰذَا وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ, وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ



الخطبة الثانية

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


Jumat, 14 Februari 2014

Kekuasaan dan Kasih Sayang Allah



Allah SWT mempunyai nama dan sifat berkuasa dan kasih sayang. Kekuasaan kadang berkonotasi bisa melakukan suatu perbuatan sesuai dengan kehendaknya. Bila manusia sedang berkuasa maka mempunyai kesempatan untuk bertindak dengan kemauannya. Dalam batas-batas tertentu dan bagi orang-orang tertentu akan membatasi diri dengan norma-norma yang berlaku. Sehingga dalam kekuasaannya dibatasi oleh aturan sehingga bisa menghindarkan sifat kesewenang-wenangan yang akan merugikan kehidupan orang banyak.

Namun tak sedikit pula bahwa dengan kekuasaan yang dimiliki akan melakukan kesewenag-wenangan. Aturan tinggal aturan, aturan hanya untuk orang-orang tertentu dan tidak mengikat pada dirinya. Sudah banyak contohnya bahwa dengan kekuasaan yang seharusnya merupakan amanat yang harus dipertanggung jawabkan namun justru menjadi lahan untuk mendapatkan kepuasaan bagi diri, keluarga dan kelompoknya. Dampak dari tindakan ini akan kembali kepada dirinya baik akan dijumpai didunia maupun kelak diakhirat yang tidak ada kedustaan, setiap orang akan memperoleh keadilan.
 
Itulah sifat dari makhluk ciptaan Allah yang sama sekali berbeda dengan Sang Khalik yang mempunyai sifat “Mukhalafatuhu lil hawaditsi” tidak sama dengan makhluknya. Pada hari Kamis 13 Februari 2014 pukul 22.50 Gunung Kelud di Kediri Jawa Timur meletus. Dengan letusan yang amat dahsyat, sehingga abu vulkanik menyebar ke sebagian wilayah Jawa Tengah dan DIY. Subhanallah matahari tertutup oleh kabut asap, atap rumah dan bangunan penuh dengan abu, jalan-jalan, pohon dan semua ruangan terbuka penuh dengan abu vulkanik. Semua tempat terlihat berwarna putih, mobil dan setiap kendaraan yang berjalan juga ikut kena abu vulkanik dan berwarna putih. Lingkungan juga terasa amat menakutkan, langit menjadi gelap. Setiap orang merasa takut untuk bernafas seperti biasanya sehingga melindungi hidung dengan masker.

Baru sedikit saja Allah menunjukkan kekuasaannya amat besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Dari kekuasaan Allah tersebut, Dia menunjukkan kasih sayangnya dengan menurunkan air hujan, sehingga abu vulkanik yang menempel pada ruang terbuka hanyut terbawa oleh siraman air hujan demikian pula debu dan abu vulkanik yang berterbangan jatuh dijinakkan oleh air hujan. Suasana hidup dan kesegaran dapat dirasakan kembali oleh makhluk-makhluknya. Sadarkah manusia, bahwa hal ini merupakan kehendak Allah atau merupakan suatu kebetulan. Kasih sayang Allah tidak sebatas pada turunnya hujan, namun juga hanyutnya abu vulkanik akan mendatangkan kesuburan tanah. Berapa ribu hektar tanah yang tidak pernah dipupuk, karena jangkauannya yang sulit atau karena tidak adanya biaya pemupukan, ternyata dalam waktu sekejab telah diberi pupuk sehingga kelak tanahnya menjadi subur sehingga tanamannya akan menjadi lebih rindang lagi.

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS; 191-192)

Kepada masyarakat Kediri dan sekitarnya musibah ini tentu meninggalkan penderitaan, hilangnya nyawa, harta dan sumber mata pencaharian. Untuk penduduk diluar kediri gangguan mungkin akan segera hilang dengan turunnya hujan, namun bagi wilayah setempat dengan rusaknya bangunan dan faslitas yang lain tentu musibah ini perlu penanganan yang lebih lama. Rehabilitasi psicososial dan normalisasi keadaan,lingkungan dan masyarakat. Setiap musibah pasti ada hikmahnya, semoga kita diberi kesabaran dan diberikan jalan keluar atas segala masakah yang dihadapi.

Kamis, 06 Februari 2014

Rapat atau Debat



Bila kita lihat dari akar kata bahwa rapat bermakna sempit lawan dari kata longgar. Namun justru sebaliknya ketika mengadakan rapat sesuatu yeng terasa sempit kemudian menjadi longgar. Beban pikiran yang seakan tertumpu hanya pada satu atau dua orang kemudian merata pada semua orang, sehingga beban dan tanggung jawab akan menjadin ringan. Rapat biasanya diselengarakan dalam suatu kelompok, organisasi tentu. Kita sering mendengar bahkan sering pula mengikuti acara rapat. Walaupun kadang ada orang yang selalu disibukkan dengan kegiatan rapat-rapat yang tidak ada ujung pangkalnya.

Rapat berfungsi sebagai arena urun rembug atau tempat diadakannya tukar pikiran dalam menyelesaikan suatu persoalan. Dengan kata lain bahwa rapat bukan arena untuk mencari kalah dan menang atau adu pendapat (debat) akan tetapi sebagai ajang musyawarah untukmencari mufakat. Sebagai konsekwensinya hasil suatu rapat adalah merupakan keputusan bersama yang mengikat seluruh anggota dalam suatu kelompok atau organisasi. Bila anggota dalam suatu kelompok atau organisasi melanggar maka dikenai sangsi.

Adapun diselenggarakan rapat mengandung maksud dan tujuan tertentu, adapun untuk mendapatkan hasil sesui dengan tujuan rapat maka ditentukan etika rapat sebagai berikut:
1. Suasana rapat terbuka.
Suasana rapat hendaknya diawali dengan sikap keterbukaan, dihindari dari sikap saling mencurigai. Setiap peserta harus bicara dengan obyektif, jujur, jangan berprasangka kepada peserta lainnya. Suasana rapat terbuka sehingga akan menumbuhkan rasa cinta kasih, saling menghargai, menghormati. Rapat dapat berjalan dengan luwes, tidak kaku dan dapat memberikan motivasi kepada peserta yang lain.
2. Tiap peserta rapat hendaknya berpartisipasi aktif.
Setiap rapat dikatakan hidup bila para pesertanya ikut aktif, ambil bagian dalam memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi.
3. Selalu mendapat bimbingan dan pengawasan.
Pimpinan rapat hendaknya dapat memberikan bimbingan, arahan dan kemudahan terhadap para peserta rapat. Pemimpin ratat juga dapat memberika pengawasan terhadap jalannya rapat sejauhmana peseta rapat ikut aktif. Pembicaraan harus diawasi oleh pemimpin rapat, agar pembicaraan tidak melenceng dari agenda rapat.
4. Hidari perdebatan.
Suatu rapat tidak akan berjalan dengan sukses bila terjadi perdebatan yang berkepanjangan, tanpa arah, masin-gmasing berupaya mempertahankan pendapatnya. Suasana rapat menjadi tegang, panas dan kaku. Akhirnya pebicaaraan hanya dimonopoli oleh peserta yang terlibat dalam perdebatan dan peserta lainnya pasif.
5. Pertayaan singkat dan jelas.
Pertanyaan yang diajukan hendaknya singkat dan jelas agar mudah dipahami oleh peserta lainnya, demikian pula menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh peserta lainnya.
6. Hindari terjadinya monopoli.
Pembicaaran jangan hanya dimonopoli oleh salah seorang saja, apalag oleh pemimpin rapat. Berilah kesempatan pada peserta untuk menyampaikan pendapatnya.

Jika kondisi rapat telah terbina seperti diatas maka tujuan rapat akan mudah dicapai, hal ini karena rapat mempunyai tujuan yang mulai. Adapun tujuannya antara lain:
1. Rapat penjelasan ialah rapat yang bertujuan untuk memberikan penjelasan kepada anggota, tentang kebijkan yang diambil oleh pimpinan organisasi tentang prosedur kerja baru, untuk mendapat keseragaman kerja.
2. Rapat pemecahan masalah: bertujuan untuk mencari pemecahan suatu masalah, dikatakan sebagai problem solving apabila masalah itu pemecahannya berhubungan dengan masalah-masalah yang lain yang saling berkaitan. Masalah itu demikian sulitnya karena keputusan yang akan diambil mempunyai pengaruh atau akibat terhadap masalah yang lain.
3. Rapat perundingan: yaitu rapat yang bertujuan menghindari timbulnya suatu perselisihan, mecari jalan tengah agar tidak merugikan kedua belah pihak. (Basrah Lubis, Drs. H, Retorika Da’wah, CV Primadinar, Jakarta, 1993: 30-35)

Belajar dari kegiatan rapat akan membimbingan menjadi pemimpin yang bijak. Menghargai setiap pembicaraan, belajar santun dalam bersikap, tutur kata yang baik. Belajar untuk menjadi pendengar yang baik. Kebaikan bersumber dari segala arah demikian pula keburukan. Anak kecil bisa saja menampilkan kata dan perbuatan yang bijak. Orang dewasa tidak selamanya mengeluarkan kata dan perbuatan yang baik.

Kata dan perbuatan yang bijak tidak selamanya disikapi dengan baik, apalagi yang jelas tidak baik tentu akan menimbulkan problematika yang tidak akan pernah berakhir. Biasakan untuk memahami orang lain dengan memahami dirinya sendiri. Setiap diri ingin dipuja, dihargai dan tidak ingin dipojokkan, dihina dan disakiti. Memahami diri sendiri dengan baik akan membimbing dapat memahami orang lain.

Selasa, 04 Februari 2014

Syukur Utawi Kufur Dhateng Kanugrahanipun Allah, Khutbah Bahasa Jawa


Syukur lan kufur punika satemah dados sifatipun ati. Nanging syukur punika dados sifat sae ingkang kedah dipun bangun., menawi kufur dados sifat awon ingkang kedah dipun tilar. Syukur lan kufur punika dados sifat sae lan awon menawi dipun gandengaken kalian peparingipun Allah arupi putra-wayah, bandha lan kahanan sanesipun.

اَلْحَمْدُلِلّٰهِ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ خَالِقُ الْبَرِّوَالْبَحْرِ وَالْعَلَمِ, وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ رَسُوْلُه السِّرَاجُ الْمُنِيْرُ الْبَشِيْرُ وَالنَّذِيْرُ, اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ عَلَى سَبِيْلِهِ اِلَى اللهِ يَسِيْرِ. أَمَّابَعْدُفَيَآعِبَادَ اللهِ, أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَالْمُتَّقُوْنَ

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Mangga kita sami budidaya ningkataken iman lan taqwa dhateng Allah, inggih punika kanthi nindakaken dhawuh-dhawuhipun Allah lan nebihi saha nilar sedaya awisanipun Allah. Antawis dhawuh kalian awisan Allah punika, satemah sampun nyata jelas kasebat ing dalem Alquran lan hadits nabi Muhammad SAW. Sedaya dhawuh menawi dipun tindakaken badhe nuwuhaken raos tentremipun jiwa, semanten ugi sedaya awisanipun Allah menawi dipun tindakaken tentu badhe bekto dhateng sengsaraning gesang, melai saking dunya dumugi ing akherat samangke.

Kathah tiyang iman nanging piyambakipun tansah nampi mapinten-pinten cobi, malah menawi dipun raos selami gesangipun tansah nandang perkawis ingkang boten wonten akhiripun. Kosok wangsulipun tiyang ingkang fasiq, kufur lan syirik dhateng Allah, nanging ing perkawis kadunyan tansah pikantuk kabegjan. Sahingga kawontenan punika kagem saperangan tiyang Islam saget dadosaken kemerenm malah saget ugi dadosaken saperangan tiyang sami fasiq lan murtad. Allah SWT sampun ngendika:



“ Apa toh manungsa iku padha ngira yen dheweke kabeh iku diumbarake (wae) sebab dheweke kabeh wis padha nyatakake kanthi pengucape: “ingsun kabeh wis padha iman”, (banjur) ora dicoba? (QS. Al Ankabut: 2)

Kanthi mekaten perkawis mindakipun kasil, minggahipun pangkat, kedah dipun konduraken dhateng hakekat kanugrahan punika satemah salah satunggal saking peparingipun Allah ingkang kedah dipun syukuri. Bandha punika namung titipan, pangkat lan jabatan punika amanat ingkang badhe dipun suwuni tanggel jawab. Dipun paringi sekedhik tansah syukur lan dipun tambah kanugrahanipun inggih tambah anggenipun syukur dhateng Allah, mekaten kasebat ing dalem Alquran:




“ Lan (elinga uga), arikalane Pangeran ira kabeh mbiwarakake (kang surasane): “Sayekti kalamun sira kabeh padha syukur, mesthi Ingsun bakal paring tambahan (nikmat) marang sira kabeh, lan kalamun sira kabeh padha ngingkari (nikmat Ingsun) mula satemene siksa Ingsun iku banget larane”. (QS. Ibrahim: 7)

Syukur punika raos bingah lan marem wonten ig sak lebeting manah, sahingga kanthi syukur badhe nuwuhaken pakerti sae. Ibaratipun sasampunipun nampi kanugrahan badhe tabah iman lan amalipun, dados tiyang ingkang saget migunani dhateng sedaya umat manungsa. Kosok wangsulipun sifat kufur punika badhe nutup sedaya nikmat lan kanugrahan, amargi sedaya peparing punika dados perkawis ingkang sampun biasa lan boten migunani.

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Midherek Rasulullah SAW wonten gangsal perkawis ingkang kedah kita syukuri:
1. Wekdal nem sak derengipun dumugi wekdal sepuh.
Wekdal nem punika wekdal ingkang sarwo ngremenaken, nanging ampun ngantos raos remen punika nilaraken kewajiban. Kanthi mekaten wekdal nem, wekdalipun kagem ngudi ilmu lan agami. Kanthi ilmu saget kangge bekal gesang ing wekdal ingkang badhe dhateng pikantuk kamulyan. Kanthi agami badhe paring pitedah dhateng sedaya perkawis ingkang kedah dipun tindakaken lan kedah dipun tilar. Jalaran agami sampun paring paugeran kangge gesaningipun para manungsa.

2. Wekdal gesang sak derengipun pati.
Gesang punika kesempatan ingkang dipun paringaken Allah kagem sedaya manungsa. Kanthi gesang manungsa tasih saget nindakaken amal ibadah, nambah amal salih lan kesempatan kangge mertobat. Kanthi mekaten kesyukuran kita tingkataken kanthi nambah amal ibadah dhateng Allah SWT. Jalaran gantosipun dinten lan tanggal, wulan lan tahun satemah yuswo kita malah kirang, mekaten punika amargi yuswanipun manusngsa sampun kacathet wonten ing Louhul Mahfudz, sampun dipun tetepaken dening Allah. Ngantos pinten tahun manungsa dipun paringi gesang ing alam dunya, namung allah ingkang pirsa lan kita sedaya namun nindakaken gesang.

3. Wekdal sehat sak derengipun dumugi sakit.
Kanthi sehat manungsa badhe ngraosaken nikmatipun tiyang gesang, dhahar, ngunjuk, sare, lungguh, jumeneng lan sak terasipun. Kawontenan punika dados kenikmatan ingkang asring dipun lirwakaken. Kathah-kathahipun ngraosaken nikmat sehat nalika nembe sakit, kanthi mekaten nalika nembe sakit asring ngghadahi harapan menawi sehat badhe infaq, shadaqah, olah raga, dhahar lan ngunjuk ingkang beraturan lan sak sanes-sanesipun. Ananging nalika sehat sedaya cita-cita punika dipun tutup kanthi kekiatan hawa nafsu.

4. Wekdal longgar sak derengipun dumugi wekdal rupek.
Allah SWT paring wekdal ingkang sami dhateng kawulanipun, sedinten sedalu inggih 24 jam. Wonten tiyang ingkang rumaos kirang kalian wekdal ingkang dipun paringaken punika, wonten ingkang cekap lan wonten ingkang kathah wekdal longgaripun. Kanthi mekaten wujud syukuripun dipun paringi wekdal longgar punika dipun ginakken kangge ngudi kaweruh, moas buku, kitab, utawi pados wejangan saking para penggedhe. Jalaran boten saget ngginakaken wekdal punika badhe beta dhatengaken kapitunan.

5. Wekdal sugih sak durunge temeka wektu kere.
Abu Dzar Radhiallahu ‘anhu nate nyriosaken bilih Rasulullah SAW ngendika:

يَا أَبَا ذَر، أَتَرَى كَثْرَةَ الْمَالِ هُوَ الْغِنَى؟ قُلْتُ : نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ : أَفَتَرَى قِلَّةِ الْمَالِ هُوَ الْفَقْرُ؟ قُلْتُ : نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قال : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ
“ Abu Dzar, apata sira ningali akehe bandha iku dadi kesugihan?”. Aku (Abu Dzar) ngucap: “Inggih dhuh Rasul”. Rasulullah ngendika: “Apata sira ningali maring sithike bandha iku dadi mlarate?” Aku (Abu Dzar) ngucap, Leres dhuh rasul”. Rasulullah ngendika “sak temene kesugihan iku sugihe ati, lan kemiskinan iya iku mlarate ati”. (HR. Ibnu Hiban)

Sugih bandha menawi boten dipun kantheni kalian sugih ati, badhe dados bencana. Margi kathahipun bandha punika boten badhe dados cekap nanging tansah kirang.





“Lan ngertenana, yen bandhanira lan anakira kuwi namung minangka pacoban lan satemene ing Ngarsane Allah ana ganjaran kang gedhe”. (QS. Al Anfal: 28)

Supados gesang kita tambah sae lan kraos sakinah kedah dipun usahakaken supados kita dados tiyang ingkang saget syukur dhateng Allah. Mugi-mugi Allah tansah paring pitedah dhateng kita sedaya, amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّا كُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِى هٰذَا وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ, وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.