Kiat Mengatasi Marah Sebagai Tanda Orang Yang Perkasa


Marah merupakan salah satu sifat manusia, marah biasanya mengarah pada hal-hal yang negatif, karena marah merupakan akhlaqul mazmumah. Didalam agama diajarkan bagaimana upaya untuk melawan marah, yaitu dengan berupaya untuk bersabar. Karena itu sabar merupakan akhlakul karimah, akhlaq terpuji. Didalam kehidupan sehari-hari orang yang sabar akan memperoleh banyak keuntungan. Mengapa? Kok bisa? Karena Allah mencintai orang-orang yang sabar. Dalam kehidupan bermasyarakat bagaimanakah bila ada orang yang suka marah-marah, tentu mereka akan dijauhi orang lain, baik dari kalangan anak-anak, remaja atau orang tua. Bahkan orang-orang akan cenderung untuk mengucilkannya. Sebagai atasan bila suka marah-marah, maka karyawan akan menjauh,guru yang suka marah-marah tidak disukai para peserta didik. Remaja yang suka marah-marah nyaris tidak akan mempunyai teman. Sudah tahu diantara dampak marah demikian sangat merugikan.
Mengapa orang cenderung marah, karena sifat manusia menginginkan segala terjadi sesuai dengan kemauannya. Bahkan sejak zaman dahulu kita mengenal otoriter, orang yang mempunyai sifat ini cenderung ingin memaksakan kehendak kepada orang lain. Bila kehendaknya tidak dituruti maka akan marah-marah. Memang satu sisi kadang dengan marah maka akan meningkatkan kinerja, seorang atasan yang bisanya selalu sabar. Ketika menyaksikan karyawan kinerjanya menurun,suka ngobrol, menunda-nunda pekerjaan,menyia-nyiakan waktu.Suatu saat kesabaran pimpinan tersebut meledak karena dampak perilaku para karyawan menurunkan, produktifitas menurun akhirnya perusahaan mengalami kerugian. Dengan kondisi ini, tentu saja yang paling terpukul adalah pimpinan, karena dampak dari menurunnya produksi maka nyaris penghasilan hanya untuk menggaji karyawannya saja.
Tidak seperti biasanya atasan menyelenggarakan meeting dengan muka yang masam, tidak familier, setiap ucapannya mengandung kekecewaan atas kinerja karyawannya, satu atau dua kalimat disampaikan dengan rasa marah, para karyawan sudah ketakutan dan berjanji tidak akan mengulang perilaku buruk yang merugikan perusahaan. Tanpa ditanyakan seluruh karyawan telah berjanji akan meningkatkan kinerja. Maka setelah meeting selesai para karyawan berkerja pada posnya masing-masing dengan semangat perubahan dan mengilangkan kebiasaan buruk. Inilah bahwa marah kadang membawa dampak positif. Tapi yang perlu diingat bahwa bila marah seperlunya saja. Karena biasanya ketika sedang marah, kata-kata asing yang tidak biasa diucapkan maka akan keluar, gelas piring yang biasanya untuk makan dan minum, kemudian tidak dapat digunakan lagi, karena telah terlanjur dilempar sehingga menjadi pecah.
Rasullah Muhammad SAW pernah berkata “ Bukanlah keperkasaan itu yang dapat mengalahkan musuh-musuhnya tetapi yang dimaksud perkasa adalah orang yang dapat mengendalikan nafsunya ketika sedang marah”. Bila marah tidak dapat dikendalikan maka akan menimbulakan penyesalan yang tidak ada gunanya. Bila marah baik dengan pasangan hidupnya, teman atau saudaranya, telah mengluarkan kata-kata yang tidak enak. Maka kata maaf tidak cukup untuk menghapuskan kemarahannya,sehingga yang ada adalah diam, bahkan saling mendiamkan, tidak ada yang mau mengawali untuk menyapa.
Karena marah, maka akan terjadi permusuhan sehingga menimbulkan perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Terjadinya perkelaian, pembunuhan. Karena itu demikian dampak negatifnya karena marah itu maka, diperlukan upaya untuk menahan diri ketika sedang marah.
Menurut Imam Al Ghozali, marah adalah nyala api yang bersumber dari api Allah, menyala berkobar-kobar sampai ke ulu hati dan akhirnya muncul dalam gejala-gejala fisik perubahan warna nuka, mata, telinga, sangat gugup, anggota badannya gemetar, giginya gemeretak, jalan mondar-mandir, lubang hidungnya membesar dan mengecil, mulut mengeluarkan kata-kata yang tak terkendali. Bila gejala semacam ini muncul pada pribadi muslim, maka agar mambaca istighfa “Astaghfirullahal azim”, minta ampun kepada Allah dan membaca ta’awudz “A’uzubillahiminasy-syaithanirrajim” saya berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Apabila sedang dalam posisi berdiri agar segera duduk, jika sedang duduk hendaknya segera berbaring, dan jika betul-betul sadar, hendaknya ia segera mangambil air wudhu. Kemarahan berasal dari bara api maka agar didinginkan dengan menggunakan air.
Demikian cara meredakan amarah dari segi perbuatan, adapun dalam segi keilmuan adalah hal yang dapat dilakukan adalah:
1. Berfikir secara mendalam dan menyadari betapa tinggi nilainya apabila kita mampu menahan amarah, menahan diri, mamapu memberi maaf dan akan memperoleh pahala dari Allah SWT.
2. Betapa akan memperoleh murka Allah, jika nafsu amarahnya diperturutkan secara meluap-luap tanpa berusaha menghentikannya.
3. Berfikir jauh kedepan, betapa akan muncul permusuhan, rasa dendam dari orang yang ia marahi, dan akan terjadi perbuatan disharmoni.
4. Coba ingat-ingat dan bayangkan betapa jeleknya rupa wajahnya ketika sedang marah, dan hentikan segera.
5. Harga diri akan naik dan dikagumi oleh orang, jika mampu menahan marah dan memberi maaf kepada si pelaku sesuai dengan agama Islam.
6. Harus diingat, meneruskan nafsu amarah, berarti kita mengikuti bujukan dan rayuan syetan yang berusaha menjerumuskan manusia ke jalan yang tidak diridhai Allah.
Begitulah, bahwa keluhuran budi setiap muslim ditentukan dari sikap pengendalian diri dan menahan diri dari kemarahan. Bila akan marah lalu bersabar dan ketika sedang marah kemudian tersadar kemudian beristighfar, itulah keluhuran, kemudlian bahkan merupakanwujud keperkasaan pribadi muslim.

Anda sedang membaca artikel dari untajiaffan Terbaru hari ini. Mohon untuk membagikan artikel ini ke teman anda melalui sosial media dibawah ini.

Artikel Untajiaffan Lainnya:



Kotak Komentar