Perangi Hawa Nafsu Menuju Kesempurnaan Puasa Ramadhan



Ramadhan adalah bulan yang teramat istimewa, walaupun puasa setiap muslim dituntut untuk membatasi diri dari hal-hal yang tidak baik dan selalu memupuk perilaku terpuji untuk menjadi amal shalih . Secara fitrah manusia mempunyai kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang tidak baik, mengumbar nafsu, hal ini terbukti bila diantara kita ditanya “apakah mudah atau sulit untuk menjadi orang yang baik, maka tentu akan dijawab sulit”. Bulan puasa bernuansa rohani karena ingin merubah kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik agar menjadi baik.

Semarak Ramadhan pada siang hari dan pada malam yang lebih awal, tempat ibadah umat Islam, masjid, langgar, surau, musholla dipadati para jama’ah untuk menegakkan shalat tarowih. Mereka berpandangan seakan-akan shalat tarowih itu adalah wajib, seandainya hal ini terbina maka shalat tarowih menjadi tuntutan yang harus ditegakkan, bahkan yang terjadi pada sepuluh hari yang pertama. Hal ini telah difikirkan oleh Rasulullah SAW ketika beliau menegakkan shalat lail, pada malam yang pertama baru diikuti beberapa orang shalabat, namun pada hari kedua dan ketiga shalat lail Rasulullah tersiar di kalangan para shahabat, sehingga pada malam berikutnya banyak orang berbondong-bondong ingin menegakkan shalat bersama Rasulullah. Namun ketika banyak orang yang mengikuti, Rasulullah malah tidak datang ke masjid untuk meneruskan shalat pada bulan Ramadhan seperti pada hari-hari sebelumnya.

Apakah yag terjadi pada pribadi Rasululah, apakah beliau tidak bisa mengendalikan hawa nafsu, dan lebih mengutamakan kepentingan pribadi. Ternyata Rasululah khawatir bila dilaksanakan terus menerus akan menjadi ibadah wajib. Sedangkan ketika melaksanakan perjalanan mi’raj Rasulullah diperintahkan untuk menegakkan shalat lima puluh waktu. Beliau siap, beliau tidak membantah terhadap perintah Allah, namun kemudian ketika mendapat pesan dari ruh para rasul sebelumnya, yang diminta agar memohon keringanan. Dimana umat dari rasul sebelumnya diperintahkan namun banyak yang ingkar. Maka dikhawatirkan umat Muhammad juga tidak mampu untuk menegakkan.

Bila kita amati kehidupan umat Islam disekitar kita, ternyata Islam ada yang sekedar sebagai label untuk mendapatkan sesuatu, misalnya syarat pernikahan, mengikuti trend, ingin memperoleh dukungan dan masih banyak tendensi lain, perdikat muslim yang disandangnya hanya sekedar sebagai kulit dan hatinya jauh dari Islam. Sehingga ketika kita amati dalam kebiasaan sehari-hari, ketika bekerja,, bermain, pesta dan kegiatn-kegiatan lainnya, ketika mendengar panggilan adzan hingga iqomah tidak pernah dihiraukan, bahkan sampai berakhirnya waktu shalat hanya sedikit saja yang bergegas menghentikan aktifitas untuk segera menegakkan shalat, dan ternyata lebih banyak yang asyik dengan kegiatan yang sedang dijalani. Maka terbuktilah ketika Rasulullah memprediksikan bahwa umat Islam akan menjadi seperti busa yang berada disungai semakin lama mengikuti aliran sungai, hilanglah busa itu.

Karena itu bulan suci Ramadhan dengan berbagai macam amalan sunnah bila dilaksanakn dengan kontinu akan menjadikan kebiasaan positif yang berdampak pada mental spiritualnya. Bila suatu saat mengatakan bahwa shalat tarowih sangat melelahkan, shalat tarowih sangat menyenangkan, shalat tarowih membuat hati menjadi tenang, shalat tarowih akan merasakan kedekatan kepada Allah. Statemen yang demikian bisa benar dan bisa salah. Bila kewajiban shalat fardhu telah dilaksanakan dengan istiqomah bahka senantiasa menambah dengan shalat sunnah yang lain, bahkan shalat tahajjud senantiasa ditegakkan ,maka ibadah shalat tarowih amat menyenangkan, mengasyikkan dan menambah semangat. Namun bila ibadaha shalat fardhunya kadang sering ditinggalkan tentunya shalat tarowih menjadi beban yang memberatkan dan membuat capek.

Ketika menjalankan ibadah merasa malas itu adalah tantangan dan godaan, ketika menjalankan ibadah terasa berat, hal ini karena memandang bahwa perintah Allah sebagai tuntutan semata, bukan memandang menjalankan perintah Allah sebagi wujud rasa syukur kepada Allah. Ketika melaksanakan ibadah merasakan sulit ini artinya belum memahami fiqih Islam. Bila beribadah tidak mendatangkan ketenangan karena dalam beribadah tidak menghadirkan hati, ibadah hanya sekedar memenuhi syarat dan rukunnya saja.

Karena itu bila menahan makan, minum dan dorongan hawa nafsu pada siang hari sebagai wujud pamaksaan, maka akan memerlukan waktu yang lama untuk menemukan titik temu dapat dilaksanakan dengan sepenuh hati. Begitu juga melakukan amal shalih yang lain. Karena itu hendaknya puasa dipandang sebagai prinsip keseimbangan hidup. Ketika manusia hidup bebas seakan tanpa batas kemudian diingatkan dengan kesadaran diri bahwa dirinya berpuasa, sehingga tidak mau melakukan segala aktifitas yang membatalkan puasa. Ketika didalam tubuh manusia telah banyak tertimbun lemak,kolerterol, toksit, sehingga dengan puasa akan terjadi pembakaran. Sehingga akan terjamin keseimbangan hidup.

Puasa adalah upaya pengendalian nafsu, bila nafsu terjaga maka akan mengarahkan pada jalan yang diridhai Allah. Bertahan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah walaupun terasa banyak tantangan adalah upaya menahan hawa nafsu. Karena itu Rasulullah pernah mengingatkan bahawa banyak orang yang malaksanakan puasa tetapi tidak memperoleh apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja. Maka alangkah sayangnya sudah bersusah payah untuk tidak makan dan minum tetapi ternyata puasanya tidak diterima Allah, karena puasanya batal atau paling tidak menjadi rusak.

Anda sedang membaca artikel dari untajiaffan Terbaru hari ini. Mohon untuk membagikan artikel ini ke teman anda melalui sosial media dibawah ini.

Artikel Untajiaffan Lainnya:



Kotak Komentar