Membaca Alquran Untuk Menangkal, Musibah, Wabah, Bencana



Alam berputar mengikuti Sunnatullah, ketika manusia dilanda berbagai bencana, manusia membutuhkan sesuatu yang mampu menentramkan jiwa. Demikian pula dengan berbagai bencana yang menimpa dewasa ini mulai dari musibah banjir, gunung meletus, tanah longsor, wabah pandemi Covid-19 adalah merupakan bencana yang perlu direnungkan. Agama mengajarkan agar umatnya senantiasa membaca fenomena yang terjadi, begitu pentingnya tugas membaca itu sehingga surat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wasallam adalah perintah untuk membaca.

Quraish Shihab dalam buku membumikan Alquran mengatakan, bahwa Alquran merupakan pelita kehidupan yang mampu menerangi jalan tatkala dilanda kegelapan. Membaca Alquran dengan penuh kekhusukan diyakini akan mampu menghilangkan berbagai kesusahan. Karena kemuliaan yang demikian, maka Alquran disebut sebagai mukjizat tertinggi bagi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wasallam. Kemuliaan dan keagungan Alquran itu tidak mengenal batas, artinya sampai kapanpun kemuliaan dan keagungan Alquran tidak akan luntur. Kalau saat ini masyarakat dilanda berbagai bencana, termasuk dengan wabah virus Corona yang sangat memprihatinkan, tampaknya ada relevansi jika dikaji dari dimensi Alquran.

Barangkali munculnya berbagai bencana akhir-akhir ini adalah karena manusia, bukankah terjadi berbagai bencana adalah karena ulah manusia itu sendiri dan tatkala bencana terjadi adalah sebagai peringatan atau ujian bagi manusia. Kealpaan manusia dalam membaca, memahami dan mengamalkan isi Alquran tampaknya sudah sampai pada titik yang memprihatinkan coba. Kita renungkan sebagian isi Alquran mengatakan agar manusia menegakkan keadilan, kejujuran, saling mengasihi. Tuhan sangat membenci kesombongan, ketidakadilan dan kesenjangan sosial. (Mukti Ali, Memahami beberapa aspek ajaran Islam tahun 1991).

Kealpaan membaca
Alquran diturunkan pertama kali pada tanggal 17 Ramadhan sebelum hijrah, berisi perintah untuk membaca kepada nabi Muhammad. Membaca disini adalah luas, yaitu tidak hanya membaca yang tersurat melainkan juga yang tersirat. Karena ayat-ayat Allah itu sendiri tidak hanya tersurat dalam 30 juz Aalquran, justru ayat-ayat Allah yang tersirat jauh lebih banyak dari yang tersurat. ayat-ayat Allah yang tersirat ini bisa dilihat di semua jagat raya ini, mulai dari bulan, bintang, matahari sampai pada diri setiap orang. Karena di dalam penciptaan benda benda itu terkandung kekuasaan Allah yang perlu untuk direnungkan. Itulah sebab jika lautan dijadikan tinta untuk menulis kekuasaan Allah, maka niscaya lautan itu akan kering sebelum selesai menulis semuanya kekuasaan Allah.

Ketika Alquran pertama kali diturunkan nabi sedang menyendiri di Gua Hira, beliau sengaja menjauhkan diri dari kaumnya karena tak tahan melihat peradaban jahiliyah yang melanda kaum Quraisy waktu itu. Nabi benar-benar sangat prihatin terhadap krisis moral yang melanda kaumnya, melakukan tindakan yang menghalalkan segala cara. ketika itu hukum yang berlaku adalah siapa yang kuat adalah yang berkuasa. Mereka menyembah berhala, berjudi, merampok, memperbudak manusia dan bahkan membunuh bayi wanita. Pendek kata mata dan telinga kaum Quraisy sudah buta, tuli pada nilai-nilai kebenaran. Di tengah krisis moral yang demikian ini maka turunlah wahyu pertama kepada nabi, kalau pengertian membaca dalam ayat pertama ini tidak hanya pada yang tertulis tetapi banyak masalah di sekeliling kita yang perlu dibaca sebagai bagian dari kekuasaan Allah dan pengertian membaca itu pun tidak hanya berlaku kepada nabi tetapi adalah kepada semua manusia dan pada setiap saat.

Dengan demikian tatkala saat ini kita dilanda berbagai bencana yang memprihatinkan maka kita pun perlu membaca dengan kacamata agama atau kekuasaan Allah kita perlu lebih dahulu mempertanyakan. Mengapa bencana begitu sering melanda? Apakah yang salah dalam tindakan manusia, sehingga Allah memberi peringatan dan ujian kepada hambaNya? Barangkali kalau kita mau membaca dengan jujur dan dengan merujuk pada ayat-ayat Alquran maka kita pun akan menemukan jawabannya dari segi kejujuran dan keadilan tampaknya sudah terlalu sering dipermainkan oleh umat manusia cara melakukan ketidakjujuran dan ketidakadilan sudah dianggap sebagai hal yang biasa.

Karena godaan hawa nafsu banyak orang yang suka berlaku tidak jujur dan tidak adil, padahal dari tindakan tersebut betapa banyak orang menderita dan bahkan menjadi kerugian besar bagi negara. Patut direnungkan bahwa terjadinya berbagai macam bencana akhir-akhir ini barangkali adalah karena kealpaan manusia. Dalam Peringatan Nuzulul Quran turunnya Alquran patut direnungkan makna membaca yang disebutkan dalam ayat tersebut, setiap muslim dianjurkan untuk membaca baik tertulis maupun yang tidak tertulis. Untuk ayat-ayat tertulis dalam Alquran hendaknya senantiasa dibaca, direnungkan dan diamalkan isi yang terkandung di dalamnya. Kemudian pada ayat-ayat tertulis di manapun dan kapanpun kita bisa menemukan dan membaca kekuasaan Allah dan bahkan di dalam diri setiap orang terdapat ayat-ayat Allah, sesungguhnya betapa angkuhnya manusia dan betapa Maha Agung nya Allah.

Tambahan:
1. Semua yang disampaikan merupakan refleksi diri sebagai bahan evaluasi menata hati untuk meraih ridha Ilahi Robby
2. Jangan lupa bagikan informasi ini ke rekan anda melalui WhatsApp dan Facebook, ingat "Semakin banyak anda berbagi maka semakin banyak anda akan menerima"

Artkel Lain:


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel