Doa untuk para pemimpin, hadapi pemilu serempak 9 Desember 2015



Doa adalah senjata bagi orang-orang Islam, karena itu doa menjadi kekuatan moril dan spiritual didalam melangkah, mengambil keputusan dan melaksakan keputusan. Orang yang patah semangat, dengan dorongan doa akan memperoleh kekuatan, walaupun baru ucapan di lisan saja orang sudah bertambah optimis. Namun jangan sepelekan ucapan di lisan walaupun dihatinya kadang tidak mendoakan bahkan kadang menghujat. Tetapi harus berjiwa besar dan berhusnudzan bahwa setiap ucapan adalah do’a, karena itu jangan sembarangan mengobral ucapan dan perkataan, karena sekalipun terhadap orang yang tidak disukai atau bahkan dibenci namun bila lisan sudah berucap maka bisa jadi akan menjadi kenyataan.

Ada do’a yang tulus ikhlas, bagaimana bila ada pengemis yang menengadahkan tangan, mengiba dan meminta sedekah, maka orang yang tergerak hantinya, tulus memberi karena berprinsip menolong kepada orang yang sedang menderita kesusahan. Tidak peduli uang yang diberikan akan dipergunakan untuk apa yang jelas niatnya semata-mata menolong, dan memberikan sesuatu kepada orang yang meminta. Bagaimanakah ekspresi pengemis tersebut,bila ternyata diberikan sejumlah uang, bahkan kadang uangnya banyak, maka spontan pengemis itu akan mendoakan. Bagaimanakah doanya?semoga tuan/ nyonya diberikan rizki yang banyak, diberikan kesehatan, terimakasih, terimakasih, terimakasih. Doanya diucapkan berulang-ulang seakan dia tidak mau beranjak dari hadapan dermawan tadi.

Demikian pula bila suatu saat bersedekah kepada fakir miskin, orang yang hidupnya serba kekurangan, orang itupun dengan tulus ikhlas mengeluarkan kata-kata indah, menyejukkan hati dan mendorong dermawan itu untuk gemar berinfaq, berbagi kasih kepada sesamanya. Menebar syukur yang akan menuai kemakmuran dalam hidup, karena Allah SWT telah berfirman, Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim ayat 7).

Bagaimanakah dengan doa dari teman, kerabat dan para aghniya’, adakah doa yang tulus. Tentu jawabnya ada dan yang tidak tulus juga ada. Namun sekalipun tidak tulus kalau sudah diucapkan maka akan menjadi doa. Ketidaktulusan mereka pada dasarnya karena ada harapan dibalik ucapan yang sudah diberikan. Demikian pula doa dan dukungan mengadapi pemilihan kepala daerah baik bupati atau gubernur ada yang tulus dan ada yang tamak penuh harap. Ternyata salah satu doa yang maqbul adalah doanya orang-orang yang didzalimi, orang-orang miskin dan yang hidupnya serba kesusahan.

Mencari doa
Menghadapi Pilkada para tokoh, baik tokoh masyarakat maupun tokoh agama mempunyai peran yang teramat penting. Karena itu mereka selalu dicari untuk dimintai doa dan sekaligus dukungannya. Apa yang dikatakan para tokoh itu, merekapun mendoakan kepada para calon yang meminta untuk didoakan. Untuk tidak menyakiti hati dan mengecewakan maka para tokoh tak jarang mengucapkan turut mendukung dan mendoakan. Dimanakah letak dukungan dan doa, untuk apa mendukung dan mendoakan pada calon yang jelas akan jadi. Perlukah mereka didukung dan didoakan? Sebaliknya untuk apa mendukung pada calon yang jelas tidak akan jadi. Sekalipun didukung dan didoakan mereka akan kecewa, bahkan bisa jadi mereka akan mengatakan dengan menuduh si A dukungannya palsu alias pura-pura saja, doanya tidak maqbul. Kemanakah mencari do’a?

Paranormal juga menjadi tempat tujuan para calon kepala daerah, sehingga laku tirakat dan persyaratan yang tidak bisa dinalar menjadi magnet untuk selalu datang guna meminta jampi-jampi agar bisa tercapai cita-citanya. Tak mau kalah dengan makam para wali, kyai dan ulama’ bahkan kadang makam yang dipandang keramat juga menjadi arah tujuannya.
Memang kadang usaha untuk meraih cita-citanya, mata hati kadang tertutup sehingga apapun dilakukan demi meraih harapannya. Sedangkan setiap calon merasa optimis akan memperoleh suara mayoritas dan menjadi pemenang. Mengapa masih mencari doa dan meminta untuk didoakan. Dan bagaimana pula para calon yang merasa memperoleh suara terbanyak namun fakta membuktikan suaranya minim dan dia berada dalam posisi kalah.

Pernahkan meminta didoakan agar diberikan kekuatan mental spiritual, sehingga ketika menang tidak umuk dan ketika kelak kalah tidak akan ngamuk? Banyak terjadi ketika menang maka akan meluapkan kegembiraan hingga melupakan sendi-sendi kemanusiaan. Terlalu menampakkan kegembiraan pada calon yang kalah. Sehingga yang kalah akan merasa hidupnya seakan tidak berarti, tidak ada teman yang setia, semuanya munafiq, bahkan dia akan menghilang dari pergaulan. Hari-harinya akan diselimuti rasa kecewa dan malu.

Doa sebenarnya ada pada dirinya sendiri, bagaimanakah membangun kesadaran diri bahwa pemilihan kepada daerah adalah seperti sebuah pertandingan, maka ada yang menang dan ada yang kalah. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya bergitu juga menang dan kalah. Sebagaimana kisah perjalanan nabi Musa yang mengikuti nabi Khidzir, nabi Musa ingin menggali ilmu dan hikmah dari nabi Khidzir. Namun nabi Khidzir berpesan jangan sekali-kali menanyakan sesuatu yang belum diketahui, walaupun pada kenyataannya nabi Musa tidak bisa berdiam diri ketika melihat suatu kejanggalan yang Nampak di depan mata.

Kejadian pertama ketika menaiki sampan kemudian atap sampan itu dirusak, mengapa atap samapan itu dirusak? kedua ketika melihat anak kecil yang sedang bermaian tiba-tiba dibunuh, mengapa dibunuh, bukankah itu termasuk perbuatan dosa? ketiga ketika melihat rumah yang hampir roboh ternyata kemudian dibangun, mengapa membangun rumah yang bukan miliknya dan tidak dengan seiizin pemiliknya? Ternyata perbuatan itu mengandung makna bahwa sampan yang dinaiki adalah milik orang miskin yang hidup dalam pemerintahan yang dzalim, raja akan mengambil sampan yang paling bagus dan kuat, sehingga ketika atap sampan kelihatan rusak, maka raja tidak mau merampasnya.

Kemudian mengapa anak kecil yang sedang main-main lalu dibunuh karena anak itu kelak bila dewasa akan menjadi orang yang jahat, bahkan ayah dan ibunya akan menjadikan kafir atau akan dibunuh. Dan pagar yang hampir roboh dibangun karena dibawah pagarr itu tersimpan harta karun, sehingga bila diketahui orang-orang kafir maka akan dirampasnya. Jadi itulah bahwa suatu kejadian dan peristiwa tentu ada hikmahnya. Keputusan untuk mencalonkan atau siap untuk dicalonkan sebagai kepala daerah baik itu Bupati dan wakilnya, Gubernur dan wakilnya serta pemimpin-pemimpin yang lain, sesungguhnya manusia bisa memprediksi segala kemungkinan yang akan terjadi dalam perspektif keilmuan yang bisa diuji secara ilmiah. Misalnya calon pemimpin yang sudah dikenal masyarakat, dekat dengan masyarakat, peduli dengan kepentingan masyarakat. Calon pemimpin yang mempunyai basis masa yang riil, calon pemimpin yang kaya atau minimal mempunyai harta yang cukup.

Terlepas dari prediksi, manusia hanya bisa berusaha dan ikhtiar sedangkan keputusan akhir adalah merupakan pilihan Allah SWT. “Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Ali Imran: 26).

Seandainya terpilih menjadi yang pertama, itu adalah pilihan rakyat dan Allah memutuskan dialah pemimpin pada masa lima tahun kedepan. Rakyat hanya akan menunggu janji, visi dan misi yang disampaikan saat kampanye. Setiap ucapan adalah janji yang harus di wujudkan, karena janji adalah hutang. Karena itu semoga pemimpin yang akan akan datang adalaah pemimpin yang amanah, jujur, cerdas dan berani menegakkan kejujuran dan kebenaran ditengah-tengah masyarakat, serta mampun menyejahterakan masyarakat.

Anda sedang membaca artikel dari untajiaffan Terbaru hari ini. Mohon untuk membagikan artikel ini ke teman anda melalui sosial media dibawah ini.

Artikel Untajiaffan Lainnya:



Kotak Komentar