Kamis, 31 Juli 2014

Melestarikan Budaya Halal Bihalal



Di dalam agama Islam bagi orang yang merasa bersalah hendaknya cepat-cepat meminta maaf, tanpa menunggu datangnya Idul Fitri, begitu juga bagi orang yang dimintai maaf hendaknya mau memaafkan dan tidak merasa dendam, hal ini dilakukan untuk menjaga keutuhan persaudaraan dalam masyarakat, pepatah mengatakan tak ada gading yang tak retak, demikianlah perumpamaan keadaan manusia yang tak pernah luput dari salah dan dosa. Meskipun demikian, janganlah kesalahan dan dosa itu dijadikan hal yang wajar bahkan merupakan suatu kebiasaan.

Agar suatu kesalahan tidak berkepanjaangan dan tidak menimbulkan rasa dendam pada diri orang lain, di Negara Indonesia setiap hari raya Idul Fitri  terdapat budaya halal-bihalal. Biasanya dalam perayaan halal bihalal tidak hanya umat Islam saja yang memperingatinya/ mengadakannnya, tetapi umat yang lain juga ikut berpartisipasi dengan cara saling bersalam-salaman sebagi tanda saling memafkan.

Walaupun sudah ada tradisis halal bihalal tetapi alangkah baiknya bagi orang yang merasa bersalah hendaknya cepat-cepat meminta maaf tanpa menunggu datangnya Idul Fitri, sedangkan bagi orang yang dimintai maaf hendaknya mau memaafkan dan tidak merasa dendam, hal ini dilakukan untuk menjaga keutuhan persaudaraan dalam bermasyarakat sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran surat An-Nuur ayat 22:


Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,

Ayat ini berhubungan dengan sumpah Abu Bakar, bahwa beliau tidak akan memberi apa-apa kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri 'Aisyah. Maka turunlah ayat ini melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh mema'afkan dan berlapang dada terhadap mereka sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka itu.

Pemaaf adalah sifat yang terpuji dengan saling memaafkan akan melatih diri kita untuk menahan hawa nafsu dan amarah, serta mengingatkan diri kita terhadap kesalahan yang telah kita perbuat, sehingga kita tidak mengulanginya lagi demikian pula orang yang dimintai maaf jangan sampai tinggi hati, keras hati dan dendam sehingga tidak mau memaafkan, sebab orang yang saling memaafkan akan di senangi oleh Allah sedangkan orang yang tidak mau memaafkan kesalahan saudaranya akan cenderung timbul sifat sombong, orang yang sombong akan di benci oleh Allah, sombong merupakan sebagian sikap orang-orang bodoh sebagaimana firman Allah dalam surat Al-A’raf ayat 199 yang berbunyi :


"Jadilah Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh".

Perintah Allah di atas menganjurkan kepada kita untuk selalu berbuat kebajikan dengan cara suka memberi maaf dan berlapang dada.

Dua ayat di atas memberi pelajaran, bahwa sifat pemaaf  dianjurkan oleh agama, sedangkan sifat-sifat sombong harus ditinggalkan. Karena sifat sombong dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Firman Allah dalam surat Ali ‘Imran ayat 134 yang berbunyi :


"....(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan".

Begitu pula orang yang dapat menahan amarahnya, dan suka memaafkan kesalahan orang lain sangat terpuji di sisi Allah. Karena mereka termasuk orang yang suka berbuat kebajikan dan memaati perintah Allah SWT. Karena itu hendaklah kita memberi maaf dan meminta maaf kepada orang lain.

Saling memaafkan antar manusia memiliki peranan yang sangat penting. Apabila terjadi kesalahan antara satu orang dengan orang yang lainya, maka hubungan antara mereka akan menjadi rengang dan tidak harmonis
Untuk memulihkan keadaan yang demikian, maaf-memaafkan sangat besar peranannya, baik bagi yang berbuat kesalahan maupun bagi orang yang merasa disalahi.
Bagi orang yang merasa bersalah, jika ia sudah meminta maaf, maka ia akan mendapat beberapa manfaat antara lain sebagai berikut :
1. Hati akan menjadi tenang. Sebab ia merasa tidak punya beban berbuat salah pada orang lain.
2. Tidak akan merasa takut atau canggung apabila bertemu pada orang yang bersangkutan.
3. Sebagai peringatan bagi dirinya, untuk tidak lagi melakukan kesalahan pada orang lain.

Adapun bagi orang yang merasa disalahi atau disakiti, sikap memaafkan itu akan berperan sebagai berikut.
1. Menghilangkan rasa jengkel dan perasaan dendam.
2. Menyadari bahwa manusia itu tidak dapat lepas dari kesalahan dan dosa.
3. Melatih diri untuk menahan hawa nafsu yaitu amarah.
4. Merupakan pelajaran bagi diri sendiri untuk tidak mengikuti perbuatan salah yang telah dilakukan orang lain.Sebab bagaimanapun yang namanya kesalahan itu akan membawa kerugian pada orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرْعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِىْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ (رواه البخارى


“Bukan seorang yang kuat itu, yang kuat bergulat. Tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang dapat menahan hawa nafsunya ketika marah.” (H.R.Bukhari dan Muslim)

Apabila terjadi khianat, maka seseorang harus segera maminta maaf kepada orang yang dikhianati. Caranya bisa langsung di hadapan orang yang dikhianati, maupun lewat media seperti telpon, SMS, email dan surat. Permintaan maaf hendaknya dilakukan dengan sopan dan berjanji tidak mengulangi kesalahannya lagi di waktu yang lain.

Setiap manusia hendaknya selalu terbebas dari kesalahan dengan sesamanya. Sesungguhnya Allah tidak akan memaafkan kesalahan seseorang kepada sesamanya sebelum sesamanya member maaf kepadanya. Jadi permohonan maaf kepada Allah harus dilakukan setelah meminta maaf kepada manusia terlebih dahulu.
Permohonan Maaf  kepada Allah SWT

Setelah berhubungan dengan sesamanya,manusia juga berhubungan dengan Allah sebagai zat pencipta dan penguasa. Dalam berhubungan dengan Allah ini, manusia tidak akan terlepas dari perbuatan salah dan dosa.
Penyebab salah dan dosa kita kepada Allah itu adakalanya kita tidak menjalankan perintah-Nya, akan tetapi kita tahu bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang terhadap hamba-Nya yang mau bertaubat. Oleh karena itu Islam menganjurkan bagi setiap orang yang lalai sehingga ia berbuat dosa pada Allah agar cepat bertaubat. Maka hendaklah segera memohon ampunan kepada- Nya,niscaya Allah akan mengampuninya.

Semoga budaya halal bihalal yang merupakan ungkapan saling memafkan selalu menjadi kepribadian setiap muslim, hal ini  karena perintah agama yang sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia. Untuk menciptakan keharmonisan dan kedinamisan hidup.

Rabu, 30 Juli 2014

Melestarikan Ibadah Puasa Ramadhan Menuju Pribadi Muslim Kaffah



Ramadhan mubarak telah meninggalkan kita, bulan yang didalamnya Allah melimpahkan rahmat dan maghfirahnya, sehingga dengan demikian Allah memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada umat Islam untuk meraihnya. Bila dapat memanfaatkan kesempatan yang diberikan Allah tersebut, setiap muslim akan dapat dapat memasuki pintu surga dan dijauhkan dari siksa api neraka.

Karena itu barang siapa yang dapat melaksanakan ibadah dibulan puasa atas dasar iman dan mengharap ridha dari Allah, maka Allah akan mengapuskan dosa-dosanya yang telah dilakukan. Dengan bersihnya dari dosa tersebut maka akan mempercepat proses hisab atas amal perbuatan manusia. Pada bulan Ramadhan Allah juga memberikan kemurahan terhadap amal ibadah kita sekalian, karena setiap kebaikan yang kita lakukan akan dilipatgandakan antara 10 hingga 700 kali. Belumlah cukup bagi Allah memberikan kemurahan kepada hamba-Nya, masih ditambahkan lagi, bagi ahli ibadah yang sedang beribadah pada malam Lailatul Qadar maka akan disamakan dengan orang yang beribadah selama 1000 bulan.

Subhanallah, rasul mengambarkan, seandainya umatku mengetahui akan kemurahan yang ada di bulan Ramadhan, niscaya mereka akan meminta seluruh bulan dalam setahun agar dijadikan sebagai bulan Ramadhan. Namun kebanyakan dari kita tidak menyadari atau tidak mengetahui akan keutamaan tersebut. Karena memang hanya orang-orang tertentu yang dapat memahami keadaan yang demikian. Allah berfirman dalam surat Al Ashr:

" Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran".

Surat tersebut menggambarkan bahwa manusia dalam keadaan merugi, karena tidak bisa memanfaatkan waktu. Allah telah memberikan keadilan bagi semua hambanya dalam sehari semalam di beri waktu selama 24 jam. Dengan waktu tersebut ada yang terlena sehingga banyak menyia-nyiakan waktu sehingga digunakan secara tidak efektif dan efisien, sehingga baginya waktu adalah fitrah alamiyah yang harus dijalani apa adanya. Namun bagi orang-orang yang dapat memahami akan arti pentingnya waktu, memandang bahwa dengan waktu itu manusia dapat berkarya, berkresi, mengembangkan idealisme diri sehingga bisa mewujudkan manusai yang sempurna. Tiada hari yang digunakan kecuali untuk beribadah kepada Allah. Maka Allah menjelaskan kerugian dalam penggunaan terhadap waktu itu tidak berlaku bagi orang-orang yang yang suka beramal shaleh, berwasiat untuk menaati kebenaran dan berwasiaat untuk menetapi kesabaran.

Dengan berlalunya bulan Ramadhan, banyak orang yang merasa lega, ibarat binatang buas yang dikerangkeng kemudian dilepaskan dari kerangkengnya, maka akan dengan leluasa melaksanakan apapun yang dia suka. Demikian pula orang yang melaksanakan ibadah bulan puasa, selama satu bulan merasa dikekang, semuanya serba dipaksakan, begini tidak boleh, begitu tidak boleh karena bisa merusak kualitas ibadah puasa. Maka dengan masuknya bulan syawal waktunya untuk berbuka, kondisi kembali pada status quo, makan, minum tidur bebas dengan leluasa. Maka bila begini jadinya akan terjadi perbudakan hawa nafsu kembali. Oleh karena sebagai wuud bahwa orang yang melaksanakan ibadah puasa memperoleh derajat muttaqin, amal perbuatannya dari waktu kewaktu akan menunjukkan peningkatan:

1. Dengan selesainya ibadah bulan puasa Ramadhan maka akan dilanjutkan dengan melaksanakan puasa enam hari pada bulan Syawal.

من صام رمضان ثم اتبع ستا من شوال كان كصيام الدهر (رواه مسلم

" Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan kemudian diikuti enam hari pada bulan Syawal maka seperti orang yang berpuasa sepanjang masa (HR. Muslim)

Ibadah ditengah-tengah banyaknya godaan adalah mempunyai pahala yang lebih besar, maka alangkah baiknya dilaksanakan pada tanggal 2-7 Syawal, karena pada hari tersebut pada umumnya masih tersedia banyak makanan dan minuman yang kadang membuat manusia akan terlena, sehingga mendorong untuk mengumbar kemauan hawa nafsu.

Ingatlah dengan sabda Rasul bahwa ketika masuk bulan Syawal maka kembali bani Iblis ingin menjerumuskan manusia ke jurang kesesatan

ان ابليس عليه اللعنة يصيح فى كل يوم عيد فيجتمع اهله عنده فيقولون: يا سيدنا من اغضبك انانكسره فيقول لا شىء واكن الله تعالى قد غفر لهذه الامة فى هذااليوم فعليكم ان تشغلوهم باللذات والثهوات وشرب الخمر حتى يبغضهم الله


" Sungguh, iblis yang terlaknat berteriak-teriak saat Idul Fitri tiba. Lalu berkumpullah anak buahnya dan bertanya, wahai tuanku, siapa gerangan yang membuat paduka marah-marah akan kami pecahkan kepalanya. Iblis menjawab, tidak ada apa-apa. Hanya saja Tuhan telah memberi ampun kepada umat manusia hari ini. Maka kalian harus menjadikan mereka sibuk dengan kesenangan, nafsu syahwat dan mabuk-mabukan, agar Tuhan murka".

2. Senantiasa berusaha untuk melaksanakan shalat malam dan shalat-shalat sunnah lainnya secara istiqomah. Shalat menurut bahasa berarti do'a, maka ingatlah bahwa Allah akan mengabulkan do'a kita sekalian apabila mau berdoa:



" Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS. Al Baqarah: 186)

3. Senantiasa melestarikan kegemaran untuk tadarus Alquran, diikuti dengan kegiatan mempelajari isi kandungannya, dan setelah mengetahuinya berusaha untuk mengamalkan ajarannya. Sehingga Alquran yang berarti bacaan, namun membacanya tidak sama dengan membaca bacaan-bacaan yang lain, karena membaca Alquran setiap hurufnya akan dinilai sebagi suatu kebaikan. Demikian pula Alquran hendaknya dipahami sebagai Hudan yaitu untuk memberi petunjuk, Addzikr untuk memberikan peringatan, Al Furqan pembeda dan Al Kitab yang ditulis. Sehingga nama-nama lain dari Alquran dapat diamalkan manakala mengetahui isi dan kandungannya.

4. Pada bulan Ramadhan menjadi kesempatan untuk memperbanyak shadaqah, menyantuni fakir miskin. Sehingga dengan demikian pada bulan itu Allah SWT memberikan kebaikan bagi orang-orang yang bershadaqah memberi makan untuk berbuka bagi orang yang melaksanakan puasa, maka pahalanya sama dengan orang yang melaksanakan puasa, hal ini bisa menajdi motovasi untuk memupuk amal kebaikan. Demikian pula mengakiri bulan Ramadhan diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah guna membersihkan jiwanya. Barang siapa yang melaksanakan puasa dan segera mengakhiri, tetapi tidak membayar zakat fitrah maka pahalanya menggantung antara bumi dan langit. Dengan kewajiban membayar zakat mudah-mudahan dapat menajdi motivasi untuk meningkatkan zakat, infaq dan shadaqah pada bulan-bulan yang lain.

5. Membiasakan diri untuk berperilaku yang shaleh, bila pada bulan puasa tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik, berkelahi dan perilaku jelek lainnya. Bagaimanakah bila perbuatan ini diterapkan pada bulan-bulan yang lain, niscaya ditengah-tengah masyarakat akan tercipta keharmonisan dan kedamaian. Semua orang dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Allah dan hamba Allah.

6. Ketika bulan Ramadhan banyak kegiatan majelis ta'lim, yasinan, TPQ, Madin dan kegiatan-kegiatan rutin dihentikan sebagai penyegaran pada bulan Ramadhan. Maka ketika masuk pada bulan Syawal hendaknya segera dilanjutkan, ditingkatkan baik secara kuantitas mapun kualitasnya.

Demikian untuk mewujudkan amaliyah pada bulan Ramadhan bukanlah hal yang mudah, akan tetapi membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, kesungguhan, kemauan yang kuat untuk memerangi hawa nafsu, mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan taufiq, hidayah serta inayahnya kepada kita sekalian, amin.

Selasa, 29 Juli 2014

Makna Lebaran, Idul Fitri, Syawal



Ada tiga nama yang sering kita dengar, ketika orang-orang merayakan kemenangan setelah mengakhiri puasa Ramadhan, tiga nama itu adalah Lebaran, Idul Fitri dan Syawal. Apakah makna yang terkandung didalam kata tersebut:

1. Lebaran.
Lebaran merupakan ungkapan yang berasal dari bahasa jawa, yaitu kata lebar dan berakhiran an. Lebar berarti telah berakhir dan lebaran berarti berakhir dari. Kata lebaran ini sering digunakan karena telah mengakhiri ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan. Sehingga umat Islam memasuki hari kemenangan. Menang dapat melawan godaan hawa nafsu demikian pula dapat menyelesaikan ibadah puasa selama satu bulan. Dalam kontek pengamalan ajaran agama Islam, bahwa pada bulan Ramadan terlihat semaraknya kehidupan beragama. Di masjid, mushola dan langgar, perkantoran dan di lingkungan masyarakat. Alquran menjadi bacaan rutin setiap hari, kajian Islam. Bahkan di lingkungan masyarakat bacaan Alquran/ tadarus Alquran dipancarkan lewat pengeras suara, sehingga setiap malam bulan Ramadhan terdengar bacaan Alquran secara bersahutan.

Kini telah memasuki hari berlebaran, tidak terdengar lagi bacaan Alquran, masjid, langgar musholla mulai ditinggalkan jama’ahnya. Nampaknya kesemarakan kehidupan umat beragama mulai berganti dengan aktifitas makan, minum, merokok, sepuasnya, menyalakan mercon dan kembang api, bahkan untuk daerah-daerah tertentu seperti di Kabupaten Wonosobo beramai-ramai membuat balon udara yang dibuat dari bahan kertas atau plastik yang dinaikkan dengan sumbu api.

Pesta kemenangan ini biasanya dilakukan selama satu minggu. Kegiatan shilaturahimpun dilakukan, saling berkunjung kesesama sanak-famili, handai taulan. Ini adalah kegiatan positif. Namun setiap aktifitas tahunan tentu terdapat dampak negative, capek, lelah, ngantuk. Hal ini bisa dimaklumi karena perjalanan yang cukup jauh kemudian menyantap setiap hidangan yang disuguhkan oleh tuan rumah. Dengan kondisi ini maka nampaknya lebaran benar-benar telah bar-baran, telah berakhir waktu pelatihan selama satu bulan. Makan dan minum yang teratur kembali menjadi tak beraturan, pengendalian hawa nafsu menjadi nafsu yang tidak terkendali. Maka bila lebaran dimaknai demikian ini maka celaka dan merugilah manusia itu.

2. Idul fitri
Idul Fitri berarti kembali kepada kesucian, hal ini karena prestasi yang telah diperoleh dari puasa selama satu bulan. "Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan atas dasar iman dan taqwa, Allah mengampuni dosa-dosa yang telah dilakukan”. (HR. Buchari Muslim). Pada hari raya Idul Fitri ini Allah telah mengampuni dosa-dosa hambanya yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Pada bulan Ramadhan umat Islam telah melakuan kegiatan takholli, tahalli dan tajalli.

Takholli yang merupakan metode para sufi didalam melepaskan dan mengeluarkan segala bentuk perilaku dan akhlaq yang tidak terpuji. Segala perilaku yang sangat merugikan karena semakin menjauhkan diri dirinya dari petunjuk Allah. Seperti ghadhab, ujub, kibir, riya’, tamak, su’udhan, suka memfitnah, adu domba, sum’ah dan segala perilaku buruk dikeluarkan.

Setelah melakukan proses pelatihan ini kemudian berupaya untuk menggantinya dengan akhlaqul karimah, mengisi dan menghiasi dengan perilaku terpuji, ini merupkan tahapan tahalli, seperti membiasakan diri untuk membaca Alquran/ tadarus Alquran, banyak melakukan shadakah, mengikuti kajian Islam, malakukan shalat tarowih dan shalat-shalat sunnah dan melakukan kegitan-kegitan sosial lainnya. Bila umat Islam berhasil merubah segala perilaku yang tidak baik menjadi perbuatan baik, sehingga pada hari raya Idul Fitri umat Islam benar-benar fitrah, semangat cinta-kasih, rasa bersaudara ini menunjukkan keberhasilan ibadah pada bulan Ramadhan. Setelah kondisi kejiwaannya menjadi fitrah tinggallah mengisi dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Ibarat kertas putih, akan diberi bentuk apa lagi tergantung pribadi muslim sendiri.

Baik dan buruknya perbuatan manusia, diri sendirilah yang akan menentukan. Baik buruknya akan kembali kepada dirinya sendiri. Karena itu surga dan neraka adalah ciptaan Allah, manusia diberikan kebebasan untuk menentukan pilihannya. Surga menjadi tempat bagi orang-orang yang menaati dan menjalankan perintah Allah bukan orang-orang yang semena-mena terhadap perintah dan larangan Allah. Bila aktifitas tahalli terus dilakukan maka tidak akan ada halangan untuk mencapai ridha Allah. Karena manusia akan merasakan tajalli, yaitu kondisi kejiwaan yang telah dinaungi oleh petunjuk Allah SWT. Segala aktifitasnnya merasakan selalu berada dalam bimbingan pertolongan dan pengawasan Allah.

3. Syawal
Syawal berarti meningkat, yaitu meningkat ibadah dan amaliyah-Nya kepada Allah. Bila selama saatu bulan umat Islam telah dilatih berjuang mengendalikan hawa nafsu. Jiwa yang telah fitrah tidak disia-siakan lagi, namun berupaya untuk ditingkatkan. Tadarus Alquran, kajian Islam, gemar bershadaqah, shalat berjama’ahnya, shalat lailnya, pengendalian hawa nafsunya. Maka disinilah bahwa bulan Syawal menjadi bulan peningkatan seluruh amal-ibadah-Nya kepada Allah SWT. Kehidupan setiap muslim ternyata berbeda beda, ada yang diberikan kesempatan hidup lebih lama atau pendek. Sehingga dengan demikian setiap orang akan dihadapkan dengan kondisi alam yang berbeda-beda, dengan demikian akan berdampak pada perilaku hidup yang berbeda-beda pula.

Kondisi yang demikian inilah rasul pernah berkata “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari yang kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan hari yang kemarin maka dia termasuk golongan orang yang merugi dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari yang kemarin maka dia termasuk golongan orang-orang yang dilaknat” (Hadits).

Manusia akan mengukir setiap amalnya dan setiap amal akan kembali kepada dirinya sendiri: “ Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula. (QS. Al Zalzalah: 6-8)

Jumat, 25 Juli 2014

Melestarikan Ibadah Bulan Ramadhan Untuk Menyongsong Keberkahan Hidup Manusia- Khutbah Shalat Idul Fitri



Berakhirnya bulan Ramadhan ditandai dengan selesainya pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan yang akan masuk tanggal 1 Syawal. Syawal berarti peningkatan, tentu saja yang meningkat adalah kualitas iman dan taqwanya kepada Allah. Hal ini setelah jiwa manusia disucikan oleh Allah. Dengan selesainya ibadah dan memperoleh predikat muttaqin, muslim tertantang dengan kehidupan hari esok yang penuh dengan tantangan.

اَللهُ أَكْبَرُ ×٩ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا . لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَ حْزَابَ وَحْدَهُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. أَلْحَمْدُ لِلَّهِ جَعَلَ أَيَّامَ الْأَعْيَادِ ضِيَافَةً لِعِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَسُرُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ َأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. َأمَا بَعدُ: فَيَاأَيُّهَاالنَّاسُ, فَأُوِصْيكُمْ وَاِيَّاىَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ .


Kaum muslimin jema’ah shalat Id Rahimakumullah
Tanggal 1 Syawal adalah hari yang sangat istimewa, dimana pada hari ini hati dan pikiran seluruh umat Islam terbuka untuk mengakui kesalahan dan dosa-dosa yang telah dilakukan. Terhadap kenikmtan Allah, telah berusaha untuk menyukurinya. Selama satu bulan berupaya untuk menjalankan perintah Allah dengan menunaikan puasa Ramadhan. Puasa yang dilandasi dengan iman dan taqwa maka Allah mengampuni dosa dan kesalahan hamba-hamba-Nya:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه البخارى ومسلم

“Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan atas dasar iman dan taqwa, Allah mengampuni dosa-dosa yang telah dilakukan”. (HR. Buchari Muslim)

Pada hari ini Allah menjadikan jiwa manusia fitrah, suci, bersih, bagaikan bayi lahir yang baru lahir dari kandungan ibu.

Ya Allah Engkau telah menjadikan hari ini, menjadikan hati yang fitrah, namun kami senantiasa memohon kepada-Mu agar kami diberikan umur yang panjang, umur yang dapat memberikan kemanfaatan kepada orang lain, umur yang berguna bagi kehidupan masyarakat, bangsa, negara dan agama.

Kami juga memohon kepada-Mu agar Engkau berkenan memberikan kesehatan lahir dan batin. Kami menyadari bahwa dalam kehidupan ini, banyak sekali cobaan dan rintangan, maka berilah petunjuk dan bimbingan-Mu, untuk senantiasa berpegang teguh pada sunnah-Mu, agar segala amal ibadah yang kami lakukan akan selaras dengan kehendak-Mu.

Terhadap perintah-perintah-Mu, berikanlah kekuatan dan kemampuan untuk menjalankannya. Dan terhadap larangan-Mu kami memohon diberikan kekuatan dan kemampuan untuk menghindarinya.

Jadikanlah ya Allah Islam sebagai agama bagiku untuk kami laksanakan perintah-perintahnya. Jadikanlah Alquran sebagai penerang, pedoman hidup dan petunjuk yang senantiasa menerangi kami hati dan fikiran kami. Berilah bimbingan kepada kami, untuk senantiasa meneladani kehidupan Rasulullah SAW, sekalipun dari masyri’ hingga maghrib, wilayah timur hingga barat berada dalam kekuasaananya namun beliau senantisa bersifat sederhana.

Sekalipun beliau tercacat sebagai pribadi yang maksum, terjaga dari perbuatan dosa namun beliau senantiasa menegakkan shalat, bahkan shalat Lail beliau tegakkan sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Allah. Karena itu jadikanlah shalat sebagai kebutuhan hidup kami, agar kami senantiasa merasa dekat kepada-Mu.

Ya Allah jadikanlah umat Islam sebagai saudara kami, wujudkanlah pribadi yang senantiasa saling memaafkan, saling menasehati, saling menghargai, saling menghormati, saling asah, asih dan asuh.

Ya Allah sesungguhnya Engkau telah memaksa kami untuk meninggalkan bulan Ramadhan, bulan yang dipenuhi dengan kasih sayang, sehingga kami akan masuk kembali pada bulan-bulan yang dipenuhi dengan hingar-bingar kehidupan dunia dan tipu muslihat kehidupan dunia. Kemaksiatan dan kemungkaran akan berlawanan dengan kebaikan dan ketaatan, permusuhan akan berlawann dengan perdamaian, percekcokan akan berlawanan dengan persaudaraan, keingkaran akan berlawanan dengan ketaatan, kekerasan akan berlawanan dengan kelembutan dan kasih sayang.

Dua sifat kehidupan dunia ini adalah ketentuan Allah. Menjadi Sunnatullah yang akan menjadi perilaku dan keputusan manusia untuk memilih dan membiasakan diri pada perbuatan tersebut. Bila cenderung pada sifat negative ini artinya manusia akan terjerumus pada perbudakan hawa nafsu dan penjajahan para iblis. Sebaliknya bila pada hari ini seluruh jiwa manusia disucikan oleh Allah yang ditandai dengan kewajiban membayar zakat fitrah bagi orang-orang yang mampu. Kemudian muncul kesadaran untuk senantiasa melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya artinya sifat-sifat para malaikat akan diikuti. Rasulullah SAW bersabda:

اِنَّ اِبْلِيْسَ عَلَيْهِ اللَّعْنَةُ يَصِيْحُ فِى كُلِّ يَوْمِ عِيْدٍ فَيَجْتَمِعُ اَهْلُهُ عِنْدَهُ فَيَقُوْلُوْنَ: يَا سَيِّدَنَا مَنْ اَغْضَبَكَ اِنَّانَكْسُرُهُ فَيَقُوْلُ لَا شَىْءَ وَلَكِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ غَفَرَ لِهَذِهِ الْاَمَّةِ فِى هَذَاالْيَوْمِ فَعَلَيْكُمْ اَنْ تَشْغُلُوْهُمْ بِاللَّذَّاتِ والشَّهَوَاتِ وَشُرْبِ الْخَمْرِ حتَّى يَبْغَضَهُمُ اللهُ

" Sungguh, iblis yang terlaknat berteriak-teriak saat Idul Fitri tiba. Lalu berkumpullah anak buahnya dan bertanya, wahai tuanku, siapa gerangan yang membuat paduka marah-marah akan kami pecahkan kepalanya. Iblis menjawab, tidak ada apa-apa. Hanya saja Tuhan telah memberi ampun kepada umat manusia hari ini. Maka kalian harus menjadikan mereka sibuk dengan kesenangan, nafsu syahwat dan mabuk-mabukan, agar Tuhan murka".

Karena itu seburuk apapun yang ada pada kehidupan dan perilaku manusia pasti ada nilai kebaikannya, sedikit kebaikan yang dilaksanakan secara terus menerus akan menjadi kekuatan yang maha dahsyat, apalagi kebaikan yang besar bila dapat dipertahankan, bahkan dapat ditingkatkan sehingga dapat menjadi teladan yang diteladani orang lain. Karena itu sebaik-baik orang beriman yang dapat melestarikan nilai-nilai baik pada bulan Ramadhan. Lebih baik lagi dapat menjadikan seluruh bulan seperti pada bulan Ramadhan. Tentu saja dalam hal pengendalian diri terhadap hembusan dan dorongan hawa nafsu yang akan menjerumuskan diri pada perilaku yang dimurkai oleh Allah SWT.

Kebiasaan menegakkan shalat lail, tadarus Alquran, kajian Alquran-Hadits, menyantuni fakir-miskin dan anak yatim, memperbanyak sedekah, menahan nafsu, melatih untuk bersikap ikhlas dan sabar. Sifat-sifat mulia ini yang akan menjamin kebahagiaan hidup pribadi muslim di dunia dan akhirat. Perlu kita ketahui, bila ketaatan pribadi muslim yang demikian ini dapat dilaksanakan dan dilestarikan oleh seluruh penduduk desa atau kota, maka Allah akan menjamin kemakmuran suatu masyarakat:
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf: 96)

Kita sekalian tentu menginginkan hidup dimasyarakat yang aman, damai sejahtera dan makmur, terpenuhi segala kebutuhan hidupnya, baik jasmani maupun rohani. Kebutuhan jasmani yang berupa sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan serta pelayanan kehidupan umat baragama. Niscaya akan terwujud keselarasan hidup. Maka untuk bisa mencapai tujuan tersebut Allah memberikan syarat yaitu iman dan taqwa kepada Allah SAW.

Dengan iman dan taqwa itu yang ditandai dengan kesadaran untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing, sebagai makhluk pribadi, makhluk sosial dan makhluk Tuhan. Maka Allah akan menurunkan berkahnya bagi segenap alam. Dengan berkah Allah sesuatu yang sulit akan dimudahkan, segala yang kurang akan dicukupkan, segala yang berat akan diringankan, segala bentuk kegundahan hati akan menjadi ketenangan hidup, segala bentuk permusuhan akan menjadi persaudaraan.

Karena itu keberkahan bukan datang dengan tiba-tiba namuan sesuatu yang harus diusahakan, menahan diri akan tidak terjadi penyesalan. Menata hati agar selalu menjadi hamba Allah yang selalu dekat kepada-Nya. Di hari yang fitri ini marilah kita awali dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil dan tidak akan menunda berlomba-lomba dalam melaksanakan kebaikan. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai kita bersama, amin.

جَعَلْنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَاَدْ خِلْنَا وَاِيَّاكُمْ مِنْ زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصّٰلِحِيْنَ . وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ




الخطبة الثنية

اَللهُ اَكْبَرُ ×٧ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ. اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. اَلْحَمْدُلِلّٰهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْدًالِلْمُؤْمِنِيْنَ وَخَتَمَ بِهِ شَهْرَ الصِّيَامِ لِلْمُخْلِصِيْنَ . اَشْهَدُ اَنْ لَا ِالٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَشْهُوْرُ بِفَطَانَتِهِ وَاَمَانَتِهِ وَصِدْقِهِ وَتَبْلِيْغِهِ وَصَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ وَحَذَرَ. فَقَاَلَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللّٰهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ

Rabu, 23 Juli 2014

Njagi Fitrahing Qalbu - Khutbah Shalat Idul Fitri Basa Jawa


Sampun kita mangertosi bilih wulan Ramadhan punika dados wulan pelatihan, wulan penyucian, wulan keberkahan, wulan ampunan, wulan muhasabah, wulan pesta ibadah. Kanthi mekaten menawi saget nindakaken shiyam Ramadhan kanthi dasar iman lan taqwa yektos ing tanggal setunggal Syawal kawontenanipun manungsa dados fitrah. Nanging amargi gesangipun manungsa punika kathah cobinipun sahingga kita kedah ngantos-antos supados jiwa ingkang witrah punika tansah kajagi.

اَللهُ أَكْبَرُ ×٩ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا . لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَ حْزَابَ وَحْدَهُ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. أَلْحَمْدُ لِلّٰهِ اَّلذِى جَعَلَ أَيَّامَ الْأَعْيَادِ ضِيَافَةً لِعِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَسُرُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ َأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّابَعْدُفَيَآعِبَادَاللهِ, اِتّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ لَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.


Kaum muslimin jema’ah shalat Id Rahimakumullah
Alhamdulillah sedaya puji kagunganipun Gusti Allah, Pangeran ingkang ngratoni sedaya alam, namun dhumateng Allah kita manembah lan dhumateng Allah kita nyuwun pitulungan. Kanthi kuasa lan welas asihipun Allah ing dinten punika kita sampun tingkas anggenipun nindakaken shiyam Ramadhan, mugi-mugi sedaya amal ibadah ingkang sampun kita tindakaken ing sak lebetipun wulan Ramadhan temen saget mujudaken pribadi muslim ingkang ningkat iman lan taqwanipun dhateng Allah.

Allah SWT sampun paring pangapunten dhateng sedaya kalepatan, sahingga ing dinten punika kita dados pribadi ingkang fitrah. Allah dadosaken pribadinipun tiyang-tiyang ingkang iman lan Islam kawontenanipun kados bayi ingkang nembe lahir saking gua gharbanipun ibu.
Dinten punika dados dinten ingkang istimewa, jalaran ing dinten punika Allah SWT sampun ngluberaken welas asih lan maghfirahipun, sahingga ing dinten punika sedaya tiyang sami ngrumaosi dados tiyang ingkang gadhahi sifat khata’ lan nisyan, lepat lan supe, sahingga kanthi sifat punika sami ngrumaosi bilih sifat-sifat punika tansah manggen ing pribadinipun manungsa sahingga saget nyebabaken dosa. Dosa dhateng Allah amargi nindakaken perkawis ingkang dipun awisi dening Allah.

Pramila kangge nglebur dosa lan kesalahan punika margi ingkang gampil inggih punika kanthi nyuwun pangapunten dhateng tiyang-tiyang ingkang nate dipun dhalimi, tiyang-tiyang ingkang nate dipun pilara, tiyang-tiyang ingkang nate dipun fitnah lan saterasipun. Allah zat ingkang paring pangapunten, dosa alit kanthi maos istighfar lan dosa ageng kanthi mertobat dhateng Allah. Nanging dosa dhateng sesami gesang inggih kedah nyuwun pangapunten dhateng sesaminipun.

Nyuwun pangapunten punika pedamelan lisan ingkang awrat dipun ngendikaken, lan kosok wangsulipun kathah tiyang ingkang gampil lan ringan ngaturaken nyuwun pangapunten. Satuhunipun ringan lan awrat punika gumatung kalian manahipun. Ati ingkang peteng, ingkang sampun katutup hawa nafsu panci awrat, namung ati ingkang sampun padhang pikantuk pitedah sahingga kathah ingkang sami mendhet wulan Syawal kangge shilaturahim, sowan-pisowanan ing sesami sedherekipun.

Allahu Akbar 3x Walillahil hamd
Kaum muslimin jema’ah shalat Id Rahimakumullah
Menawi kita muhasabah, ngitung-ngitung dhateng amal ibadah kita dipun bandingaken kalian nikmatipun Allah. Wekdal 24 jam ingkang dipun paringaken Allah namun pinten jam kita ginakaken kangge ngibadah, umur ingkang panjang, sehat lan sempatipun napa sampun kita ginakaken kangge ningkataken ibadah. Kalebet sedaya sumber daya alam arupi oxygen, toya, siti, wit-witan, lan sedaya gegremetan ing darat lan samudra, sedaya punika dipun sediakaken dening Allah kangge mujudaken pribadi muslim ingkang tansah syukur dhateng Allah.

Kathah para manungsa ingkang dereng ngrumaosi bilih sedaya peparingipun Allah punika, sawekdal-wekdal badhe dipun pundhut malih dening Allah. Sedanipun manungsa boten nenggo nalika nembe sakit, wonten kawontenan mlarat, nalika yuswa sampun sepuh lan nalika nembe repot. Nanging kathah tiyang dipun pundhut nyawanipun, ing wekdal enjang tasih sehat, wekdal sonten sampun seda, wekdal dalu tasih sehat wekdal siang sampun dipun tumpakaken kreta jawa. Kanthi mekaten Rasulullah SAW nate paring pemut:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ سُغْلِكَ وَ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ (رواه البيهقى)


“Gunakna limang perkara sak durunge tumeka limang perkara, uripira sadurunge temeka patinira, gunakna wektu sehatira sadurunge tumeka laranira, gunakna wektu longgarira sadurunge tumeka wektu rupekira, gunakna wektu nomira sadurunge tumeka wektu tuanira, gunakna wektu sugihira sadurunge tumeka wektu mlaratira”. (HR. Baihaqi)

Mila mekaten nalika kita mlebet ing wulan Syawal punika, mangga kita pendhet hikmah wulan Ramadhan, wulan kangge ningkataken amal ibadah kaleres ing kuantitas lan ugi kualitasipun, jumlahipun lan ugi mutunipun. Umpami ing sak jawinipun wulan Syawal, sedaya tiyang tansah ngumbar nebar sih katrisnan lan paring pangapunten, yektos Allah tansah badhe ngluberaken sih katrisnanipun dhateng kawulanipun. Sedaya tiyang sami gemregah ningkataken ibadhahipun, yektos Allah badhe nurunaken rahmatipun. Allah SWT ngendika:


“Menawa sekirane para pendhudhuke negara-negara padha iman lan taqwa, wus mesthi Ingsun bakal nurunake marang dheweke mau berkah sangka langit lan bumi, ananging dheweke padha anggorohake (marang ayat-ayat Ingsun) kuwi, akhire Ingsun siksa wong-wong mau amarga lelakone dheweke” (QS. Al A’raf: 96)

Pramila sasampunipun kita mlebet ing dinten riyadi, dinten fitrah, Allah SWT boten jamin kawulanipun saget njagi kawontenan fitrah punika. Amargi ningali ing tahun-tahun ingkang sampun dipun tindakaken. Budaya lan adhatipun kaum muslimin punika badhe kondur kados wekdal saderengipun Ramadhan. Malah ngraosaken bilih puasa Ramadhan lan sedaya amal ibadah ing wulan Ramadhan punika dados beban. Mekaten punika amargi pribadinipun manungsa punika wonten kalih panthan, inggih punika jasmani lan rohani utawi lahir lan batin. Lan ing sak dangunipun nindakaken pakaryan tansah dipun adhepaken kalian goda lan cobi. Kanthi mekaten, wonten ingkang kiat ngadhepi goda lan cobi punika, sahingga derajatipun saget ningkat dados akhsani taqwim lan jiwanipun dados mutmainnah. Nanging ugi kanthi goda lan cobi punika kathah ingkang boten kiat sahingga derajatipun manungsa dados langkung ashor. Allah SWT ngendika:


“ Satemene Ingsun wus nitahake manungsa kanthi wangun kang saapik-apike. Banjur Ingsun balikake dhewekne marang panggonan kang luwih endhek-endheke panggonan endhek (neraka), kejaba wong-wong kang padha iman lan padha ngamal shalih, mula tumrap dhewekne kabeh ganjaran kang ora ana pedhote” (QS. Attin:4-6)

Kanthi punika kangge njagi kawontenan fitrah punika, mangga kita tansah ngudi ilmu sak kathah-kathahipun, margi kanthi ilmu badhe mujudaken tiyang ingkang wicaksana. Kita tingkataken amal ibadah, kita tingali tiyang sak nginggilipun sahingga badhe nuwuhaken raos ikhlas lan ngicalaken sifat ujub. Kita wujudaken shilaturahim, kanthi pasedherekan setunggal iman Islam, pasedherekan ing masyarakat punapa malih pasedherekan kelawan setunggal keturunan. Kita jumbuhaken sifat wasiyat-winasiyatan, nasehat-winasehatan, tulung-tinulung ing margi ingkang leres lan taqwa. Insya-Allah sedaya tumindak sae lan lepat punika amargi saking pakulinan.

Pedamelan sae menawi dipun tindakaken kanthi istiqomah yektos badhe mujudaken raos ikhlas. Sinaosa pedamelan sae punika dhawuhipun Allah nanging menawi boten dipun kulinakaken inggih badhe awrat, sahingga syari’at agami Islam namung dados norma-norma. Satuhunipun Islam punika sampun dipun tentukaken dening Allah minangka Rahmatan lil ‘alamin, nanging jumbuhipun punika dipun tentukaken dening para manungsa khususipun tiyang-tiyang Islam.
Akhiripun kita tansah nyuwun kekiatan dhateng Allah supados saget pribadi ingkang saget bekda rahmat dhateng sedaya alam. Kanthi nyuwun pitedah datang Allah lan nyuwun pangapunten dhateng Allah kita aturaken.

اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمُ, الَّذِى لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَعَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ. وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ


Kamis, 10 Juli 2014

Nggayuh Lailatul Qadar-Ibadah Sewu Wulan-Khutbah Bahasa Jawa



Sinten tiyangipun ingkang saget nindakaken ibadah sewu wulan, anatare inggih punika 83 tahun? Yekti abot bisa mujudake ibadah sewu wulan, napamalih zaman sapunika umuripun manungsa punika rata-rata pinten tahun. Ewodene nabi Muhammad mawon namung 63 tahun, dadi ya wis kemurahan banget lamun duweni umur 83 tahun tur kapitung dadi wong kang ahli ibadah. Kang mangka lamun saiki umure 40 tahun, iku wus kepotong umur anak-anak, yaiku wiwit bayi nganti umur 12 tahun. Durung maneh saben-saben wong ngalami zaman sulit, sahingga ngibadahe dadi kendor.

Nanging ampun kuatir merga Allah paring kelonggaran kanggo wong-wong Islam bakal oleh derajat ibadah 83 tahun, yaiku ngibadah ing lailatul qadar, mila mangga sami usaha nggayuh lailatul qadar iku.

اَلْحَمْدُلِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتِ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الدَّيَّانُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ خَيْرُ مُعَلِّمٍ وَاِمَامٍ, اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ عَلَى مَنْهَجِهِمِ السَّلِيْمِ أَمَّابَعْدُفَيَآعِبَادَ اللهِ, أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِىْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَالْمُتَّقُوْنَ

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Allah SWT sampun paring dhawuh dhateng tiyang ingkang iman, ngemutaken bilih tiyang Islam sami mujudaken iman lan taqwa dhateng Allah kanthi sak leres-leresipun, lan ing akhir hayatipun seda kanthi bekta iman lan Islam sahingga dipun cathet seda ingkang khusnul khatimah. Tentunipun sedaya tiyang tansah ngrumaosi bilih ing sedaya wekdal tansah damel tumindak dosa, tumindak ingkang nerak dhateng wewaleripun syara’, kaleres punika dipun sengaja utawi boten sengaja. Menawi tumindak awon punika dipun sengaja tegesipun dados tiyang fasiq lan mekaten punika dados tumindak awon ingkang sak mesthine dipun tilar. Ewadenten tumindak awon punika boten dipun sengaja, amargi khilaf temtu Allah tansah paring pangapunten lan kelebet dosa alit lan kawulanipun cekap maos istighfar, Gusti Allah zat ingkang tansah paring pangapunten dhateng sedaya kawulanipun.
Kanthi wujud kesadaran bilih sampun nindakaken perkawis ingkang awon lan dosa, sumangga kita kiyataken ngibadah ing wulan Ramadhan punika kangge nglebur dosa-dosa ingkang nate dipun tindakaken. Punapa malih ing akhir wulan Ramadhan punika Allah paring kautaman kanthi tumurunipun Alqur’an lan dalu punika kawastanan wengi lailatul qadar. Allah SWT nate ngendika:


“Satemene Ingsun wus nurunake (Alquran) ana ing wengi kamulyan. Lan apa sira ngerti, apa toh (sejatine) wengi kamulyan iku? Wengi kamulyan iku luwih bagus katimbang sewu wulan. Ana ing wengi iku padha mudhun malaikat-malaikat lan Jibril kanthi (nggawa) ijin Pangerane kanggo ngatur sekabehane urusan. Wengi iku para malaikat padha uluk salam (marang wong-wong mukmin lanang wadon) nganti tumeka mletheke fajar”. (QS. Al Qadar: 1-5)

Ing surat punika Allah SWT paring warta bilih wengi lailatul qadar punika salah satunggaling wengi ingkang langkung utami tinimbang ing wengi-wengi sasanesipun. Allah paring pirsa bilih saenipun wengi punika langkung utami menawi dipun bandingaken kalian ibadah sewu wulan utawi 83 tahun. Ing wengi punika Gusti Allah nurunaken Allah saking Louhul Mahfudz dumugi Baitul Izzah (langit dunya) kedadosan mekaten punika ing wulan Ramadhan, Allah SWT ngendika:


“ Wulan Ramadhan, kang diturunake Alqur’an kanggo pituduh tumrap manungsa lan aweh katerangan saking pituduh lan pembeda”. (QS.Al Baqarah; 185)

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Ing wengi punika para Malaikat kalebet malaikat Jibril tumurun ing bumi, sami ngreksa dhateng perkawisipun piyambak-piyambak. Kagem tiyang ingkang pinanggih malam lailatul qadar punika badhe dipun gampilaken urusanipun, amargi daya upayanipun dipun tulung dening para malaikat. Amargi sedaya harapan badhe dipun laporaken dhateng Allah. Rasul nate ngendika:

يَا غُلامُ إِنِّي أُعلِّمكَ كَلِمَاتٍ :احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَل اللَّه ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ (رواهُ التِّرمذيُّ

“He pemuda, satemene Ingsun bakal paring piwulang marang sira, pirang-pirang hikmah: jaganen Allah, kelawan nuruti dhawuh-dhawuhe, lan dohana larangane, mesthi Allah bakal jaga awakmu, jaganen Allah, mesthi sira bakal nemoni Allah ing sak sandingira. Lamun sira jelaluk, jaluka marang Allah lan lamun sira jaluk pitulungan, jaluka marang Allah”. (HR. Turmudzi)

Ing pundhi papan lan panggenan Allah tansah pirsa dhateng sedaya tumindak kita, kaleres ingkang manggen ing ati punapa malih ingkang kita lahiraken. Sedaya punika wonten dalem pengawasanipun Allah. Sinaosa Gusthi Allah paring dhawuh dhateng para malaikat supados nyathet sedaya amal kita, boten ateges Allah boten pirsa, ananging ingkang mekaten punika nedahaken bilih Allah punika Maha Agung, Maha Kuwaos, Maha Wicaksana lan sak sanesipun. Sahingga ing saben dintenipun Allah nyuwun tanggel jawabipun saking para malaikat, lan nalika malaikat paring laporan, Gusti Allah badhe nyembadani dhateng sedaya kawulanipun ingkang nyenyuwun.

Menawi tiyang-tiyang Islam sami mangertosi bilih ing saben-saben panggenan kangge shalat dipun rawuhi dening para Malaikat yektos ibadahipun boten badhe pedhot, sedaya tiyang Islam badhe enggal-enggal nindakaken ibadah. Mekaten punika sampun pranyata bilih ibadah menawi dipun kantheni kalian tiyang kathah badhe tambah giat. Kaifiyahipun shalat dipun sempurnakaken, shalatipun sunnah dipun tindakaken. Benten menawi shalat dipun tindakaken piyambakan.

Kanthi punika, sasampunipun mengertosi kautaman ibadah ing wulan Ramadhan, bilih ing awalipun wulan Ramadhan Allah SWT ngluberakan rahmatipun. Mangga kita giyataken sedasa dinten ingkang sepindhah punika kangge nindakaken takholli inggih punika kita dalaken sedaya sifat lan perilaku ingkang boten sae. Kita perangi hawa nafsu ingkang tansah jlomprongaken dhateng margi ingkang sasar, kita kiyataken manah kita supados dados sopiripun sedaya tumindak. Sahingga ing sedaya dinten ingkang kaping kalih sasampunipun sifat lan perilaku boten sae punika kita dalaken, lajeng nindakaken tahalli inggih punika kita isi kanthi sifat-sifat ingkang sae. Sahingga ing sangang dinten utawi sedaya dinten ingkang terakhir tiyang Islam badhe ngraosaken tajjalli, inggih rumaos sedaya tumindakipun dipun bimbing dening Allah. Manungsa sampun angghadhahi sifat-sifat Ilahiyah, sahingga ing tembe wingkingipun tiyang Islam badhe katebihaken saking geninipun neraka.

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Akhiripun mugi-mugi ing wulan Ramadhan punika kita dipun paring kekiyatan ningkasaken shiyam Ramadhan kanthi tansah nyempurnakaken syarat lan rukunipun. Nilaraken sedaya ingkang batalaken lan ngrisak ibadah puasa. Lan tansah nindakaken amal-amal sunnah sanesipun.

Puasa Wujudkan Manusia Sempurna



Manusia merupakan makhluk berdemensi lahir dan batin, jasmani dan rohani. Lahir atau jasmani manusia merupakan hal yang dapat ditangkap oleh panca indra, sehingga cantik, gagah, baik buruk segala sesuatu dapat dinilai dari bentuk lahir. Namun kesempurnaan manusia tidak hanya ditentukan oleh bentuk lahirnya saja, karena itu banyak orang yang tertipu dengan penampilan dan bentuk lahir. Kecantikan, kegagahan tidak menjamin hidup bahagia bila rohaninya buruk. Karena itu manusia selalu mencari kesempurnaan diri dengan mewujudkan keseimbangan antara aspek jasmani dan rohani.

Puasa Ramadhan menjadi media untuk membentuk rohani, mental spiritualnya lebih bagus. Karena rohani manusia tidak diketahui sedangkan ibadah puasa adalah ibadah sirri, ibadah yang tidak diketahui oleh orang lain. Makan, minum dan hubungan suami istri pada siang hari, bisa saja tidak diketahui oleh orang lain karena tidak dilaksanakan didepan umum. Namun diri sendirilah yang mengetahui, karena itu puasa mempunyai demensi rohani untuk melatih kejujuran, kesabaran, keikhlasan. Sifat-sifat mulia ini dapat dilatih dan dibiasakan, apalagi pada Bulan Ramadhan Allah melebihkan atas bulan-bulan yang lain " Jika bulan Ramadhan datang pintu surga dibuka pintu neraka ditutup dan para syetan dibelenggu oleh Allah".(HR. Buchari)

Terbuka pintu surga, bermakna bagi mereka yang puasanya dapat merubah daya nafsu syetaniyah menjadi niat murni, ikhlas, perbuatannya membawa kemaslahatan. Terhadap mereka yang puasanya seperti ini maka pintu surga dibuka baginya. Tertutup pintu neraka, orang yang benar-benar melaksanakan perintah untuk berpuasa, sehingga berhasil memadamkan nafsu jahatnya berarti dia berhasil menyelamatkan dirinya dari api neraka, sehingga dengan demikian pintu neraka tertutup baginya. Syetan-syetan dibelenggu, mereka yang berpuasa dengan tekun dan melaksanakan amalan-amalan pada bulan tersebut, yang hanya ditujukan semata-semata karena Allah, sehingga daya ruhaninya berhasil menaklukkan daya-daya syetan. Ini yang dimaksud dengan membelenggu syetan.

Bulan Ramadhan yang membawa keberkahan, tetapi tidak berpuasa, atau dengan sengaja tidak berpuasa tanpa udzur maka pintu surga tertutup baginya dan pintu neraka terbuka baginya dan syetan bertebaran dimana-mana mengajak pada perbuatan yang tidak baik, jadi umat Islam tidak merantai syetan tetapi justru syetan yang menguasai manusia.

Agar selamat maka daya kekuatan syetan harus dilawan dengan sinar Ilahiyah. Karena syetan menurut kejadiannya berasal dari elektron hidup berujud dari daya-daya elektro magnetic seperti zat pembunuh (dodende straal) yang mempunyai gelombang lebih pendek dari arus listrik bolak-balik, lebih pendek dari gelombang radio, lebih pendek dari sinar cahaya, bahkan lebih pendek dari sinar ultra violet. Oleh karena itu barang siapa yang tidak dapat mengendalikan diri akan menjadi korban sinar iblis, sehingga pikiran dan perbuatanya dikendalikan oleh iblis. Dan yang bisa melepaskan adalah nur Allah, karena gelombang pendek yang merasuki pikiran manusia akan hancur dengan sinar Allah yang mempunyai gelombang paling pendek dari semua gelombang (KH Bahaudin Mudhary: Esensi Puasa Kajian Metafisika).

Agar ibadah kita semakin meningkat hendaknya berupaya untuk meningkatkan kualitas ibadah, KH Toto Tasmara mengatakan bahwa kualitas suatu ibadah tidak bisa diibaratkan waktu yang 24 jam, 12 untuk ibadah dan 12 jam untuk mu’amalah, tetapi bagaimana agar ibadah itu dapat dilaksanakan dengan khusuk dan khudhu’. Sehingga dari setiap ibadah itu dapat menjiwai seluruh amal perbuatan, menuju pada kesempunaan manusia.


Selasa, 08 Juli 2014

Rendah Hati Dihadapan Allah




وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ: الذاريات: ۵۶

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku) QS. Al Dzariyat: 56)

Ada pengertian yang dapat kita tangkap dari makna ayat tersebut yaitu Aku (Allah) sebagai khaliq, sedangkan jin dan manusia adalah sebagai makhluk. Manusia dan jin adalah dua makhluk Allah yang berbeda dari penciptaan dan sifatnya. Manusia adalah makhluk berjisim dan bernyawa (ruh) adapun jin adalah makhluk Allah yang tidak mempunyai jisim, karena merupakan makhluk gaib. Dari dua makhluk yang berbeda bentuk dan sifatnya, ternyata Allah menciptakannya bukan tanpa tujuan. Karena Allah menciptakannya agar mau beribadah kepada Allah.

Mengapa Allah memerintahkan untuk menyembah dan beribadah bahkan memurnikan ibadahnya hanya kepada Allah. Apakah Allah sangat berhajat terhadap manusia dan jin, Rasulullah SAW pernah bersabda, seandainya seluruh isi alam termasuk jin dan manusia semuanya memuji dan mengagungkan nama-Nya sekali-kali tidak akan menambah kekuasaannya. Dan bila seluruh alam termasuk dari golongan jin dan manusia semua ingkar kepada Allah maka tidak akan mengurangi keagungannya.

Dari ini jelaslah bahwa sebenarnya yang sangat berhajat adalah manusia, karena manusia adalah makhluk yang amat bergantung kepada Allah. Allah telah menciptakan manusia, memberikan rizki, melindungi bahkan memberikan kecukupan atas segala keperluannya. Bagaimanakah dalam setiap saat kita diberikan kesehatan, yang karena dengan sehat manusia dapat melakukan perbuatan apapun. Perbuatan yang dilarang atau perbuatan yang wajibkan atau dianjurkan.

Ketika sehat manusia mempunyai pilihan secara sempurna bahkan dapat merealisasikan pilihannya. Siapakah yang memberikan kesehatan, siapakah yang dapat memfungsikan organ tubuh manusia dapat bekerja pada bidangnya masing-masing, sesungguhnya semua ini tidak terjadi secara kebetulan dan pasti ada pengendali dari Yang Maha Agung, Maha Sempurna dan maha-maha yang lain yang tidak dimiliki oleh manusia.
Bila manusia menyadari akan kelemahannya, justru Allah akan menunjukkan bahwa tidak ada yang Maha Sempurna, Maha Agung, Maha Kaya, Maha Suci kecuali hanya Allah, pencipta seluruh alam semesta dan alam akhirat. Manusia adalah ciptaan Allah, Allah telah menciptakan manusia dalam wujud yang paling sempurna, namun manusia bisa lebih buruk daripada hewan ternak. Hal ini bila manusia tidak dapat menggunakan fungsi dari mata, hidung telinga dan hatinya untuk mengenal Allah SWT.

Dengan kelemahannya ini, manusia akan menjadi makhluk yang lebih baik dan akan mendekatkan pada insanul kamil (manusia yang sempurna) bila mau mendekat kepada Allah, Allah dekat kepada hambanya, dan Allah akan mengabulkan permohanan hambanya bila mau berdo’a kepada-Nya. Allah dekat kepada hambanya, karena itu bila dalam menjalankan perintah Allah masih takut dengan azab Allah, ini artinya dalam melaksanakan perintah Allah masih dalam taraf tuntutan, namun bila merasa malu untuk tidak melaksanakan perintah Allah ini menunjukkan bahwa ibadah yang dilakukan meningkat pada taraf kesadaran, sehingga akan membuahkan keikhlasan.

Ketika hamba Allah semakin mempunyai rasa ketergantungan kepada Allah, hal ini menunjukkan tingkat kesadaran dalam beragama semakin tinggi. Karena dengan tingkat ketergantungan ini manusia akan semakin khusu’ dan khudhu’, sehingga dirinya akan selalu merasakan kehadiran Allah pada dirinya. Dimanapun berada selalu merasa kehadiran Allah, walaupun tidak mengetahui Allah namun tetap yakin bahwa Allah senantiasa mengawasi hamba-hambanya. Dengan keridhaan-Nya sehingga hamba Allah akan digolongkan sebagai ahli jannah dan diharamkan masuk ke dalam neraka Allah.

Sudah berapa banyak kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya. Manusia tidak akan mampu menghitungnya, bila satu kenikmatan dicabut oleh Allah, manusia akan kalang kabut, contoh bagaimana bila mata kita tidak bisa berkedip, tentulah bila terkena ada debu, air bahkan benda-benda berbahasa akan diterima langsung oleh mata, maka yang terjadi lensa mata akan cepat rusak dan menjadi buta. Bagaimana bila mata kita tidak mempunyai air, maka setiap kotoran yang masuk ke mata akan mengendap dan matapun akan menjadi rusak dan buta. Bagaimana bila mata kita tidak dilindungi dengan bulu mata dan alis, niscaya mata akan rusak karena terkena air dan keringat, bahkan tanpa kita sadari ternyata bulu mata juga sebagai pelindung dari sinar matahari secara langsung, sehingga sekalipun terkena terik matahari tetapi mata tetap dalam kondisi redup.
Karena itu manusia yang telah memahami hakekat dirinya sebagai hamba Allah, manusia selalu menyembah Allah, menggunakan seluruh, hidup mati semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Allah memerintahkan:



قل ان صلا تى و نسى ومحياى ومماتى لله رب العالمين

 


“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (QS.Al An’am: 162)

Manusia khususnya orang Islam yang mau menegakkan shalat menunjukkan dirinya orang yang khudhu’ rendah hati dihadapan Allah, sebaliknya orang Islam yang tidak mau menegakkan shalat menjadi bukti sebagai seorang pembangkang. Tidak mau menyukuri atas kenikmatan yang telah diberikan kepadanya. Rasululullah Muhammad SAW sebagai pribadi yang maksum senantiasa menegakkan shalat, bahkan shalat-shalat sunnahpun selalu ditegakkan. Mengapa rasul melakukan ini, hal ini tidak lain karena shalat adalah wujud rasa syukurnya kepada Allah SWT.

Karena itu orang Islam yang ingin meningkat statusnya menjadi mukhlis dan muttaqin, didalam menjalankan perintah Allah bukan hanya gerakan-gerakan fisik namun hatinya benar-benar tunduk kepada ketentuan Allah SWT. Sekalipun tidak dapat melihat Allah tetapi yakin bahawa Allah senantiasa mengawasinya.
Dalam setiap saat manusia selalu tawadhuk kepada Allah, rendah hati kepada Allah. Maka rasul memberikan tuntunan ketika memanjatkan do’a kepada Allah, hendaknya diawali dengan kalimat pujian dan sanjungan kepada Allah serta membaca shalawat, hal ini menunjukkan kelemahan manusia sebagai hamba Allah. Hanya Allah yang berhak menerima pujian dan sanjungan, hanya Alah yang akan mengabulkan permohonan hamba-hamnya.
Rendah hati kepada Allah merupakan wujud dari penghambaan diri kepada Allah, menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Setiap organ tubuh diwujudkan untuk mewujudkan penghambaan kepadanya, lisan digunakan untuk mengucapkan kata-kata yang baik, selalu menjaga diri dari kata-kata kotor yang akan memperkeruh hati nuraninya. Telinganya digunakan untuk mendengarkan yang baik, menghindarkan segala bentuk ghibah, dan mengintip pembicaraan orang. Akalnya digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, karena dengan akal manusia akan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Maka setelah mengetahui kebaikan berupaya untuk dijalankan, dan bila mengetahui keburukan berupaya untuk dihindarkan. Ini semua merupakan perwujudan sikap tawadhuk kepada Allah.

وَمَااٰتٰكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَانَهٰكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا. الحشر: ۷


“Apa yang diberikan rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah” (Al Hasr: 7)