12/25/2013

Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama



Toleransi atau sikap saling menghormati antar umat beragama menjadi modal dasar untuk menjamin pelakasanan pembangunan menuju manusia Indonesia seutuhnya. Agama menjadi kebutuhan pokok bagi manusia, dengan agama orang akan menjadi sabar, ikhlas, optimis, taat dan sifat sifat baik lainnya. Karena hanya agama yang menerangkan bahwa kehidupan manusia akan mencapai kesempurnaan hidup di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang sesungguhnya, disana kelak manusia akan menerima imbalan atas semua amalnya selama hidup di dunia ini. Amal baik akan memperoleh balasan berupa surga dan amal yang buruk akan di masukkan dalam neraka dengan segala macam siksaan dan penderian yang belum pernah dirasakan dalam kehidupan dunia ini.

Didalam agama terdapat konsep-konsep keyakinan atau aqidah yang tidak bisa disentuh oleh pemeluk agama lain, namun diyakini oleh penganutnya. Bila keyakinannya itu dilecehkan penganut agama lain. Maka yang terjadi adalah permusuhan yang berujung pada sikap saling menyerang, saling membunuh, sehingga kehidupan masyarakat menjadi terkoyak-koyak. Rasulullah Muhammad SAW, yang membawa ajaran Tauhid sebagaimana keyakinan Nabi Ibrahim, keyakinanya berbeda dengan keyakinan masyarakat Arab pada waktu itu yang menyembah berhala. Sedangkan berhala-berhala itu tidak bisa berbuat apa-apa. Melihat kondisi ini orang-orang Arab Kafir Quraisy, keyakinanya merasaterganggu. Maka para pembesar kafir Quraisy mengajak Rasulullah untuk bekerjasama dalam ibadah.

Imam Tabrani dan Imam Ibnu Abu Hatim, mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwasanya orang-orang Quraisy mengajak Rasulullah SAW supaya meninggalkan seruannya dengan imbalan, bahwa mereka akan memberikan kepadanya harta yang berlimpah, sehingga akan membuatnya menjadi lelaki yang terkaya di kota Mekah dan mereka akan menikahkannya dengan wanita-wanita yang disukainya. Untuk itu orang-orang Quraisy mengatakan, "Semuanya itu adalah untukmu, hai Muhammad, asal kamu cegah dirimu dari mencaci maki tuhan-tuhan kami dan jangan pula kamu menyebut-nyebutnya dengan sebutan yang buruk. Jika kamu tidak mau, maka sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun." Lalu Rasulullah SAW menjawab, "Tunggulah sampai ada wahyu yang turun kepadaku dari Rabku." Maka Allah menurunkan firman-Nya,

1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."

Abdul Razzaq mengetengahkan sebuah hadis melalui Wahab yang menceritakan, bahwasanya orang-orang Quraisy telah berkata kepada Nabi SAW, "Jika kamu suka kamu boleh mengikuti kami selama satu tahun dan kami akan mengikuti pula agamamu selama setahun." Maka Allah menurunkan surat Al Kafirun. Imam Ibnu Munzir mengetengahkan pula hadis yang serupa melalui Ibnu Juraij. Imam Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Said bin Mina yang menceritakan, bahwasanya Walid bin Mughirah, 'Ash bin Wa-il, Aswad bin Muttalib dan Umaiyah bin Khalaf mereka semuanya bertemu dengan Rasulullah saw. lalu mereka mengatakan, "Hai Muhammad! Kemarilah, mari kamu sembah apa yang kami sembah, maka kami pun akan menyembah Tuhan yang kamu sembah. Dan marilah kita bersama-sama bersekutu antara kami dan kamu di dalam perkara kita ini secara keseluruhan." Maka Allah menurunkan surat Al Kafirun tersebut.

Telah diriwayatkan bahwa Walid bin Mugirah, 'As bin Wail As Sahmi, Aswad bin Abdul Muttalib dan Umaiyah bin Khalaf bersama rombongan pembesar-pembesar Quraisy datang menemui Nabi SAW. menyatakan, "Hai Muhammad! Marilah engkau mengikuti agama kami dan kami mengikuti agamamu dan engkau bersama kami dalam semua masalah yang kami hadapi, engkau menyembah Tuhan kami setahun dan kami menyembah Tuhanmu setahun. Jika agama yang engkau bawa itu benar, maka kami berada bersamamu dan mendapat bagian darinya, dan jika ajaran yang ada pada kami itu benar, maka engkau telah bersekutu pula bersama-sama kami dan engkau akan mendapat bagian pula daripadanya". Beliau menjawab, "Aku berlindung kepada Allah dari mempersekutukan-Nya". Lalu turunlah surah Al Kafirun sebagai jawaban terhadap ajakan mereka.

Kemudian Nabi SAW pergi ke Masjidilharam menemui orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul di sana dan membaca surah Al Kafirun ini, maka mereka berputus asa untuk dapat bekerja sama dengan Nabi SAW. Sejak itu mulailah orang-orang Quraisy meningkatkan permusuhan mereka ke pada Nabi dengan menyakiti beliau dan para sahabatnya, sehingga tiba masanya hijrah ke Madinah.

Dalam ayat-ayat ini Allah memerintahkan nabi-Nya agar menyatakan kepada orang-orang kafir, bahwa "Tuhan" yang kamu sembah bukanlah "Tuhan" yang saya sembah, karena kamu menyembah "tuhan" yang memerlukan pembantu dan mempunyai anak atau ia menjelma dalam sesuatu bentuk atau dalam sesuatu rupa atau bentuk-bentuk lain yang kau dakwakan.
Sedang saya menyembah Tuhan yang tidak ada tandingan-Nya dan tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak mempunyai anak, tidak mempunyai teman wanita dan tidak menjelma dalam sesuatu tubuh. Akal tidak sanggup menerka bagaimana Dia, tidak ditentukan oleh tempat dan tidak terikat oleh masa, tidak memerlukan perantaraan dan tidak pula memerlukan penghubung.
Maksudnya; perbedaan sangat besar antara "tuhan" yang kamu sembah dengan "Tuhan" yang saya sembah. Kamu menyakiti tuhanmu dengan sifat-sifat yang tidak layak sama sekali bagi Tuhan yang saya sembah.
sifat-sifat-Nya dari sifat-sifat "tuhan" yang kamu sembah berbeda dan tidak mungkin dipertemukan antara kedua macam sifat tersebut. Kemudian sesudah Allah menyatakan tentang tidak mungkin ada persamaan sifat antara Tuhan yang disembah oleh Nabi SAW, dengan yang disembah oleh mereka, maka dengan sendirinya tidak ada pula persamaan tentang ibadat. Mereka menganggap bahwa ibadat yang mereka lakukan di hadapan berhala-berhala atau di tempat-tempat beribadat lainnya, atau di tempat-tempat sepi, bahwa ibadat itu dilakukan secara ikhlas untuk Allah, sedangkan nabi tidak melebihi mereka sedikitpun dalam hal itu, maka dalam ayat-ayat ini Allah memerintahkan nabi-Nya agar menjelaskan bahwa, "Saya tidak beribadat sebagai ibadatmu dan kamu tidak beribadat sebagai ibadatku". Ini adalah pendapat Abu Muslim Al Asfahani.

Maksud keterangan di atas menjelaskan bahwa hal tersebut menjadi jelas dengan adanya perbedaan apa yang disembah dan cara ibadat masing-masing. Oleh sebab itu tidak mungkin sama menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan cara beribadat kepada-Nya, karena Tuhan yang saya sembah maha suci dari sekutu dan tandingan, tidak menjelma pada seseorang atau memihak kepada suatu bangsa atau orang tertentu. Sedang "tuhan" yang kamu sembah itu berbeda dari Tuhan yang tersebut di atas. Lagi pula ibadat saya hanya untuk Allah saja, sedang ibadatmu bercampur dengan syirik dan dicampuri dengan kelalaian dari Allah, maka yang demikian itu tidak dinamakan ibadat.
Kemudian dalam ayat ini Allah mengancam orang-orang kafir dengan firman-Nya yaitu, "Bagi kamu balasan atas amal perbuatanmu dan bagiku balasan atas amal perbuatanku".
ÙˆَÙ„َÙ†َا Ø£َعْÙ…َÙ„ُÙ†َا ÙˆَÙ„َÙƒُÙ…ْ Ø£َعْÙ…َالُÙƒُÙ…ْ

"Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu".
(QS.Al Baqarah: 139).