Renungan Waktu Hindarkan Penyesalan



Pernahkan kita merenungkan dan memikirkan masa yang akan datang, dan apakah kita pernah menyesali peristiwa yang telah lalu? Dua hal ini tentu melingkupi seluruh peri kehidupan manusia. Masa yang akan datang adalah masa yang belum dilalui manusia, walaupun kadang kehidupan manusia dilakukan secara landai-landai saja, namun kadang ada hal-hal tertentu yang menyebabkan terjadinya kegagalan dalam meraih suatu tujuan. Karena itu selagi manusia bersikap biasa-bisa saja, atau terlalu bersemangat atau hanya pasrah saja ternyata terjadi suatu bencana atau musibah atau sesuatu yang tidak diinginkan tentu hal ini akan menimbulkan penyesalan.

Penyesalan memang tinggal penyesalan, karena waktu yang telah lalu tidak dapat diputar kembali. Ketika waktu berlalu, maka batas kontrak kehidupan manusia akan habis. Sampai berapa tahunkah batas kehidupan manusia? Bila dilihat dari jumlah angka mulai dari satuan menjadi puluhan bahkan ada yang sampai seratus tahun atau lebih. Usia manusia bila dilihat dari kreteria usia, ada usia balita, anak-anak, remaja, dewasa, tua. Mereka semua ini sudah mempunyai batas usia. Sehingga setiap hamba Allah yang ditakdirkan mati dalam usia satuan tidak bisa menawar menjadi puluhan tahun. Demikian pula anak manusia yang ditakdirkan berusia hingga tua maka tidak bisa memutuskan kematian pada masa anak-anak atau dewasa.

Semua orang tentu mengharapkan diberi usia panjang, yang tentu saja dengan derajat kesehatan. Karena apalah artinya umur yang panjang bila ternyata selalu sakit-sakitan, bahkan tidak bisa menikmati indahnya kehidupan dunia. Ingatlah bahwa segala kenikmatan, kesenangan dan kebahagian manusia ini, kadang melalaikan batas kehidupannya.

Bila para pegawai dan karyawan kantor selalu menunggu waktunya untuk menerima gaji, pada waktu itu kebahagiaan terpancar karena dapat memenuhi hajat hidupnya. Para petani, peternak dan perkebunan, setiap kali mau memulai usaha selalu mempersiapkan lahan dan bibitnya. Dari hari ke minggu dan bulan bahkan sampai tahunan usahanya mulai menampakkan hasilnya, ketika panen tiba dan manusia berbahagia karena merasakan jerih payahnya telah memperoleh ganti dengan segepok uang. Dengan uang dapat ditukar dengan barang lain untuk memenuhi hajat hidup dalam upaya mewujudkan kebahagiaannya.

Demikian pula para pelajar setelah lulus dari play grup akan masuk TK dari TK masuk SD/ MI, selanjutnya SMP/ MTs kemudian SMA/ SMK/ MA dan Pergurun Tinggi. Seandainya usia si ‘Fulan” ditakdirkan 63 tahun, ketika telah lulus SMA dan mau masuk ke Perguruan Tinggi telah berusia 18 tahun, maka si “ Fulan masih akan menikmati kehidupan 45 tahun. Demikian pula para petani yang bahagia dengan hasil panennya sebenarnya setiap memasuki panen tersebut usianya semakin berkurang. Karena itu bila dikatakan “Sungguh indahnya pada masa remaja”. Indah dalam hal apa? Apakah bebas melakukan dengan tidak memikirkan dosa? Bila hal ini yang dimaksudkan tentunya segera dikoreksi, untuk diarahkan bahwa masa remaja adalah masa belajar. Maka bagaimanakah selalu memanfaatkan waktu untuk mencari dan mengumpulkan bekal keilmuan dan ketrampilan dalam menyongsong masa yang akan datang.

Bila masa muda tidak dapat memanfaatkan waktu, yang terjadi adalah penyesalan di masa tua. Segala bekal akan diperoleh pada masa muda. Semua ilmu dan ketrampilan pasti suatu saat akan bermanfaat dan berguna. Ibarat orang yang mau bebergian jauh ke suatu tempat yang belum pernah didatangi, semakin banyak dan semakin lengkap perbekalan yang dibawa, maka resiko bencana yang diterima akan semakin kecil. Sebaliknya bila perbekalannya hanya sedikit maka resiko mendapat bencana akan semakin besar. Demikian pula perbekalan banyak namun hanya satu jenis, juga resiko bencana juga semakin besar. Misalnya bepergian dengan membawa bekal makanan yang banyak tetapi tidak membawa air minum, tentu akan mengalami kesulitan yang banyak.

Disinilah rahasia Allah tentang hidup dan mati manusia yang tidak diketahui. Ada yang mengakhiri hidupnya dalam kondisi sedang beribadah dan beramal shalih sehingga akhir hayatnya akan tercatat sebagai kematian yang khusnul khatimah. Namun bila diakhir hidupnya dalam kondisi sedang melakukan kemaksiatan, maka pada akhir hayatnya akan tercatat kematian yang suul khatimah.

Setiap perjalanan hidup manusia tidak akan dapat diulang kembali, manusia tidak dapat memutar ingin kembali pada masa yang lalu. Oleh karena itu sebelum terjadi penyesalan yang tidak dapat ditebus dengan amal shalih, tiada pilihan lain kecuali dalam kehidupan dunia ini selalu berupaya untuk menjadi insan yang lebih baik. Karena kelak di hari qiyamat, banyak orang yang berandai-andai bila dikembalikan hidup diduaia akan beramal shalih.

Keindahan, kesenangan dan kebahagiaan sering menipu manusia dalam menghayati hakekat dirinya sebagai hamba Allah. Sebaliknya kesengsaran dan sikap putus asa menjadikan manusia semakin jauh dari Tuhannya. Dua hal yang ini sudah menjadi hal yang melekat. Ada senang ada susah, ada indah ada buruk, ada bahagia ada susah. Karena itu sikap manusia sebagai hamba Allah ketika bahagia maka bersyukur dan ketika mendapat musibah bersabar.

Anda sedang membaca artikel dari untajiaffan Terbaru hari ini. Mohon untuk membagikan artikel ini ke teman anda melalui sosial media dibawah ini.

Artikel Untajiaffan Lainnya:



Kotak Komentar