Shalat Mewujudkan Kedisiplinan


Shalat adalah ibadah yang harus dikerjakan oleh semua orang Islam, baik laki-laki maupun perempuan yang sudah mencapai usia baligh, karena itu menjalankan shalat hukumnya adalah fardhu ‘ain. Begitu pentingnya kewajiban menjalankan shalat, sehingga Allah SWT memerintahkan didalam Alquran:
Artinya:
Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Ankabut: 45)

Demikian pula Rasulullah menegaskan:

الصلاة عمادالدين فمن اقام فقد اقام الدين ومن تركها فقد هدام الد ين

Artinya:
Shalat itu adalah tiang agama, barang siapa yang mengerjakannya berarti ia telah menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkannnya, berarti ia telah merobohkan agama.

Pelaksanaan shalat bagi setiap muslim dengan menirukan tindakan Rasulullah SAW, sebagaimana sabdanya:

صلواكما رأيتمونى أصلى

Artinya:
Kerjakanlah shalat sebagaimana kamu lihat aku mengerjakannya.

Untuk mengetahui perilaku Rasulullah SAW ketika melaksanakan shalat yaitu dengan membaca dan mempelajari tarikh Islam dan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Sehingga tidak akan menambah atau mengurangi kaifiyah dan bacaan shalat, jumalh rakaat, untuk shalat Subuh 2 rakaat, Dhuhur 4 rakaat, Ashar 4 rakaat, Maghrib 3 rakaat, Isya’ 4 rakat.
Shalat merupakan ibadah harian yang menjadikan seorang Muslim selalu dalam perjanjian dengan Allah. Ketika ia tenggelam dalam bahtera kehidupan maka datanglah shalat untuk menerjangnya. Ketika dilupakan oleh kesibukan dunia maka datanglah shalat untuk mengingatkannya. Ketika diliputi oleh dosa-dosa atau hatinya penuh debu kelalaian' maka datanglah shalat untuk membersihkannya. Ia merupakan"kolam renang" ruhani yang dapat membersihkan ruh dan menyucikan hati lima kali dalam setiap hari, sehingga tidak tersisa kotoran sedikit pun.
Ibnu Mas'ud meriwayatkan dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Kamu sekalian berbuat dosa, maka kamu telah melakukan shalat subuh maka shalat itu membersihkannya, kemudian kamu sekalian berbuat dosa, maka jika kamu melakukan shalat zhuhur, maka shalat itu membersihkannya, kemudian berbuat dosa lagi, maka jika kamu melakukan shalat 'asar maka shalat itu membersihkannya, kemudian kamu berbuat dosa lagi, maka jika kamu melakukan shalat maghrib, maka shalat itu membersihkannya, kemudian kamu berbuat dosa lagi, maka jika kamu melakukan shalat isya', shalat itu akan membersihkannya, kemudian kamu tidur maka tidak lagi di catat dosa bagi kamu hingga kamu bangun." (HR. Thabrani)

Itulah pentingnya shalat bagi setiap muslim, namun setipa dosa yang telah dilakukan dapat dihapuskan dengan lantaran mau mengakkan shalat secar displin, namun sebaliknya bila melalaikan kewajiban shalat maka termasuk dalam kategori orang fasiq. Oeh karena itu sebagi muslim sejati yang mengahrapakan memperoleh keutamaan dalam mengegakkan shalat, maka tisa pilihan lain untuk mendisiplinkan diri dalam menegakkan shalat. Dan Allah akan memberikan balasan yang lebih baik dari setiap amalibadah yang telah dilakukan oleh hambanya.

Sesungguhnya shalat dapat membentuk karakter setiap muslim, baik buruknya bahkan segala perilaku umat Islam merupakan buah dari pelaksanaan shalat. Karena begitu luasnya dampakdari pelaksanaan shalat, berikut disampaikan bahwa shalat dapat membentuk kediplinan. Yang perlu diketahui bahwa kedisiplinan menjadi penentu suksesnya setiap muslim dalam meraih cita-cita. dan kebalikan dari disiplin adalah indisipliner, orang jawa mengatakan leda-lede atau mencle. Sifat ini tentu menjadi salah satu penyebab kegagalan, karena akan menimbulkan ketidakpercayaan orang lain bahkan akan menimbulkan antipati dan permusuhan.
1. Disiplin kebersihan.
Setiap muslim akan dibiasakan untuk hidup bersih, karena setiap kali akan menegakkan shalat diwajibkan untuk bersuci. Tidaklah syah shalat seseorang bila masih membawa hadat atau najis, baik dari badan tempat dan pakaiannya. Wudhu adalah upaya untuk menciptakan kebersihan diri, dalam sehari semalam minimal 5 kali tangan, kaki, muka, kepala, telinga dibasuh. Maka kotoran yang menempel pada anggota badan akan luruh bersama dengan bilasan air wudhu demikian pula dosa-dosa kecil yang sudah dilakukan. Karena itu bila dalam sehari makan sebanyak tiga kali dan sebelum makan agar mencuci tangan terlebih dahulu, ternyata dengan kebiasaan menegakkan shalat, tangan dicuci minimal 5 kali, bahkan yang dicuci tidak tangan saja.

Maka hasil akhir dari menegakkan shalat, setiap muslim akan terbiasa untuk peduli terhadap kebersihan, dari kebersihan pribadi yang menyangkut kebersihan fisik menuju pada kebersihan rohani. Kebersihan rohani akan membimbing untuk perduli terhadap kebersihan lingkungan, sehingga ketika berada dalam kawasan umum yang disediakan tempat sampah akan terbiasa membuang sampah pada tempatnya. Demikian pula di lingkungan kerja juga sangat peduli terhadap kebersihan, ditempat ibadah juga peduli terhadap kebersihannnya. Karena kedisiplinan ini telah dilatih dan dibina dalam menegakkan shalat.

2. Terbina disiplin waktu.
Shalat adalah merupakan ibadah mghdzah, ibadah yang sudah ditentukan waktunya. Shalat subuh dilaksanakan pada waktu subuh, zuhur pada waktu siang, asar pada waktu sore, maghrib diwaktu terbenanmnya matahari, shalat isa pada waktu malam hari. Karena itu shalat subuh tidak boleh dilaksanakn pada waktu setelah matahari terbit atau pada waktu zuhur, dan seterusnya. Karena itu bila telah terdengar seruan azan agar segera bergegas untuk menuju tempat shalat untuk menegakkan shalat. Banyak terjadi bahwa ketika mendengar panggilan azan, bila sebelumnya semangat kerja sudah menurun, namun ketika seudah mendengar pangilan azan energi seperti bertambah sehingga semangatnya semakin membara. Bila demikian sebenarnya harus waspada, karena tentu ada kekuatan lain yang membisikkan untuk menunda-nunda waktu shalat, dengan alasan tanggung atau pekerjaan hampir selesai. Menurut Ibnul Qayyim bahwa setan selalalu menggoda bani Adam sejak memulai niat untuk menjalankan ibadah. Bahkan ketika mau membulatkan niat untuk shalat syetan sudah menebarkan bisikannya agar jangan dahulu dilaksanakan.
Maka setelah mengetahui hal ini sebaiknya jadikanlah panggilan azan untuk mengusir bisikan syetan, segera tinggalkan pekerjaan untuk memenuhi panggilan untuk menegakkan shalat. Ingatlah bahwa menunda-nunda waktu shalat itu digolongkan dalam orang-orang yang celakan karena mendustakan agama:
“ Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS. Al Ma’un: 1-5)

Waktu adalah sangat berharga, setiap waktu yang sudah berlalu tidak akan dapat kembali lagi. Karena itu menunda-nunda pekerjaan, biasanya diawali karena tidak disiplin ketika menegakkan shalat. Karena bila mempunyai kebiasaan suka menunda-nunda pekerjaan, awalilah dengan berdisplin dalam menegkkan shalat. Sehingga begitu berharganya waktu, Allah besumpah:
“ Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Al Asyr: 1-3)

3. Akan terbina disiplin kerja.
Bekerja biasanya dikendalikan oleh pemimpin, setiap pekerja harus taat pada peraturan yang telah ditetapkan oleh para pimpinan. Pekerja yang bekerja tidak memenuhi aturan yang telah ditetapkan akan jauh dari harapan, yang semestinya pekerjaan itu selasai dengan baik, justru menjadi perkerjaan yang sia-sia. Hal ini telah dikondisikan ketika menegakkan shalat berjama’ah, setiap makmum harus mengikuti gerakan dari imam, tidak boleh mendahuli imam atau terlalu akhir dari imam. Ketika imam takbiratul ihlam, makmum segera mengikuti, ketika imam, ruku’, sujud, i’tidal dan seterusnya makmum segera mengikutinya. Kedidiplinan ini dilatih ketika telah terbiasa menegakkan shalat berjama’ah.

4. Akan terbina disiplin pikir.
Shalat yang baik adalah shalat yang dilaksanaan dengan khusu’. Tanpa khusu’ diibaratkan bahwa manusia hidup punya jasat namun tidak mempunyai ruh. Khusu’ yang akan menentukan kualitas ibadah seseorang, karena dengan khusu’ tersebut pada akhirnya dapat menempatkan kondisi shalat diluar shalat. Sehingga ketika dalam kondisi shalat setiap muslim rmerasa selalu dalam pengawasan Allah, karena itu setiap amal baik dan buruk akan dicatat dan kelak akan dimintai pertanggungan jawaban. Maka jika diluar shalat dapat merasakan hal yang demikian ini niscaya shalat akan dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.
Karena itu khusu’ merupakan sikap berkonsentrasi, fokus pada suatu tujuan. Orang yang sedang memikirkan sesuatu fokus pada bidang tersebut, niscaya akan mudah didapatkan solusi. Namun bila tidak konsentrasi, bahkan pikiran bercabang-cabang, ketika dihadapakan dengan suatu masalah justru akan memunculkan maslah yang lain. Bahkan kadang masalah dari efek maslah itu menjadi lebih besar. Karena itu untuk melatih agar dapat berfikir lebih fokus, berupayalah untuk senantiasa menegakkan shalat dengan menyempurnakan syarat, rukun dan mewujudkan shalat yang khusu’.

5. Akan terbina disiplin mental.
Shalat akan menumbuhkan kesadaran tentang Allah, karena itu dengan shalat yang baik akan membunyai kekuatan rohani, sehingga tidak mudah terbujuk rayuan untuk berpaling dari Allah. Dengan demikian hati akan menjadi bersih, jiwapun menjadi sehat. Dengan sehatnya mental ini, maka semua perintah Allah akan dilaksanakan dengan senang hati. Ibadah shalat dilaksanakan dengan senang bahkan masih ingin menambah dengan shalat sunnah yang lain. Karena itu dengan shalat, semua pekerjaan akan dilaksanakan dengan senang hati, bekerja bukan karena seseorang, atau karena ingin memperoleh sesuatu, berupa penghargaan, pujian dari teman atau atasan. Namun berkerja semata-mata untuk memperoleh ridha Allah. Sehingga setiap reward yang diperoleh dipandang sebagai amanah yang harus dilaksankan dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban baik oleh pejabat yang mengangkat, masyarakat yang dilayani dan Allah SWT.

6. Akan terbina disiplin moral.
Shalat yang dijalankan dengan baik akan mewujudkan perilaku yag baik, karena output dari pelaksanaan shalat adalah “…sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar (QS. Al Ankabut: 45).

Firman Allah ini mutlak kebenarannya, teruji dan dapat dibuktikan. Namun bila ternyata banyak orang yang menegakkan shalat namun perbuatan keji dan munkar masih merajalela, hal ini hendaknaya setiap pribadi untuk bermuhasabah, introspeksi, apakah shalat yang ditegakkan sudah seuai dengan aturan syariat Islam atau sekedar menggugurkan kewajiban saja. Karena banyak terjadi ketika sedang shalat pikirannya tidak fokus, jasadnya shalat namun ruhnya sedang pergi.
Karena setiap permasalahan umat kembalikan pada diri sendiri dahulu, baru melihat para ulama’, shalihin yang konsisiten didalam menjalankan syari’at agama Islam. Bila atsar mereka baik, itulah yang harus diteladani, namun bila atsarnya buruk, karena rohaninya sedang melayang. Sehingga shalat yang hendaknya menjadi mi’rajul minal muslimin ternyata belum dapat dimaksimalkan.

7. Akan terbina disiplin persatuan dan ukhuwah.
Shalat jama’ah merupakan media persatuan dan ukhuwah, setiap suku, ras dan suku dan bahasa akan menyatu dalam komando seorang pemimpin yaitu imam. Sehingga dalam shalat jama’ah setiap jama’ah akan merasakan pesaudaraan muslim, bahkan setiap shaf shalat dapat ditempati oleh siapa saja yang tidak membedakan status, ekonomi, sosial, penddikanya. Namun yang datang lebih awal berhak untuk berada pada shaf depan.

Ketika menegakkan shalat berjama’ah setiap muslim merasakan bahwa ternyata dirinya memeluk agama Islam tidaklah sendiri, namun banyak saudaranya. Karena itu patut untuk berbangga diri bahwa orang-orang yang menegakan shalat jama’ah akan dilipatgandakan pahalanya hingga 27 derajad.
Sudah tidak diragukan lagi bahwa shalat berjama`ah itu mengandung faidah yang sangat banyak dan maslahat yang sangat jelas di antaranya adalah saling mengenal (ta`aruf ), saling menolong dalam kebajikan dan ketaqwaan, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, memberi dorongan kepada orang yang lalai, mengajar orang yang bodoh, membongkar kemarahan orang-orang munafiq dan menjauhi jalan mereka, menampakkan syi`ar-syi’ar agama kepada segenap hamba-hamba-Nya, berdakwah di jalan Allah dengan lisan amal, dan faidah lain yang masih banyak.


Agama Islam menuntun pengikutnya untuk meraih kebahagiaan hidup yang sempurna, karena itu tidaklah ada artinya kesempurnaan syari’at agama Islam bila pengikutnya tidak mau meraih kesempurnaan. Islam agama rahmatan lil ‘alamin, maka jadilah pribadi muslim sebagai pelopor penegakan syari’at Islam. Agar menjadi pribadi muslim yang bisa memberikan kemanfatan bagi diri sendiri, orang lain, bangsa, negara dan agama. Karena Rasulullah pernah bersabda “ Khairun nas anfa’ahum linnas”, sebaik-baik manusia adalah yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

Anda sedang membaca artikel dari untajiaffan Terbaru hari ini. Mohon untuk membagikan artikel ini ke teman anda melalui sosial media dibawah ini.

Artikel Untajiaffan Lainnya:



Kotak Komentar