Sabtu, 29 Juni 2013

Do'a Upacara Penyerahan Panji


Panyandra Srah-srahaning Panji Kitha Wonosobo

Pengetan ambal warsa kitha Wonosobo ingkang kaping 188 warsa 2013 samangke dhumawah ing tanggal 24 Juli 2013, grengseng pengetan punika sampun dipun melai wiwit dinten Setu Wage tanggal 29 Juni 2013 kanthi Panyandra Srah-srahan Panjining Kitha Wonosobo. Ewodenten Panjining Kitha Wonosobo punika wonten sekawan sepindhah Dwaja Gula Klapa (bendera Merah Putih), Songsong Agung Pangayoman (Songsong Tunggul Naga, Tumbak Karawelang, Panji Lambang Daerah) setunggal ingkang dados tiga punika minangka panji angka kalih tiga lan sekawan. Ing Upacara punika dipun tutup kanthi munajat, nyenyuwun dhateng Gusti Allah kanthi waosan do'a, ingkang kita serat ing ngandhap punika.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًايُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍوَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ.

Dhuh Gusti Pengeran ingkang nguwaosi sedaya alam, namung dhumateng Paduka kawula ngaturaken roas syukur lan mongkokipun penggalih, amargi namung saking kersa lan idi restu Paduka sahingga kita waget makempal ing ing sasana punika, saperlu kangge ndherek migatosaken, panyandra srah-srahan panjinging kitha Wonosobo. Mugi adikersa punika dados saperanganipun saking ngabektinipun kawula dhumateng Paduka.

Dhuh Gusti Allah, Pangeran ingkang maha mirah lan welas asih, mugi Paduka tansah ngluberaken kanugrahan dhumateng sedaya warga Wonosobo, anggenipun makarya ndherek sareng dhateng para pangembating negari. Mujudaken kitha Wonosobo ingkang Aman, Sehat, Rapi lan Indah, selaras kalian tanggap warsanipun kitha Wonosobo ingkang kaping 188 ing warsa 2013 punika.

Dhuh Gusti Ingkang Maha Wicaksana, mugi kanthi srah-srahan panjining kitha Wonosobo punika, mralambangaken saking semangat lan tanggel jawabipun para abdining negari anggenipun mengku jejibahan. Hamengku wajib minggah tata titi tentrem kerta raharjanipun, mujudaken masyarakat ingkang adi luhung, jer budi bawa laksana gemah ripah loh jinawe, kanthi ridha lan agenging sih pangapura.

Dhuh Gusti pangeran ingkang maha kuwaos, namung dhumateng Paduka kawula manuwun lan dhumateng Paduka kawula manembah. Mila kanthi mekaten dhuh Gusti, mugi Paduka kersa paring pitedah dhateng kita, kados tiyang-tiyang ingkang dipun paringi pitedah. Lan mugi Paduka kersa paring pitedah dhateng kita margi ingkang leres lan Paduka kersa maringi kekiatan anggen kita nindakaken.
Dhuh Gusti Allah mugi Paduka kersa nyembadani panuwun kita, amin.

رَبَّنَا اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْاٰ خِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Selasa, 25 Juni 2013

Aneka Macam Perilaku Mentalitas Manusia I


Kalimat thayyibah (la ilaha illallah) adalah inti dari idiologi Islam yang menjadi dasar seluruh amal perbuatan setiap muslim. Karena itu setiap muslim yang aqidahnya sudah lurus akan mendorong seluruh perbuatannya menjadi lebih baik. Sehingga ketika amal perbuatannya itu baik maka setiap muslim akan merasakan kedekatannya dengan Allah. Allah telah menyebutkan bahwa Allah lebih dekat dari pada urat leher. Karena itu banyak terjadi dirasakan, walaupun Allah itu dekat namun terasa jauh. Merasa do’anya tidak didengar oleh Allah, apalagi di kabulkan.

Mengapa bisa demikian, jawabnnya hendaknya setiap muslim untuk bermuhasabah apakah idiologinya sudah sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah. Maka bila idiologi telah lurus amal perbuatnya akan cenderung untuk melakukan perbuatan yang baik yang diridhai Allah SWT. Bila demikian maka pada akhir hayat akan termasuk golongan oarang yang mati khusnul khatimah, dapat mempertahankan kalimah thayyibah, sehingga kunci surga dipegang, dan diberi keleluasaan untuk masuk ke dalam surganya Allah SWT.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كان اخر كلامه لااله الاالله دخل الجنة (وراه احمد وابوداوود والحكم عن معاذ حديث صحيح)


“ Rasulullah SAW bersabda:”barangsiapa akhir kalimatnya (ucapannya/perkataannya) Laa Illallah, maka dia (akan) masuk surga.(HR. Ahmad, Abu Dawud dan Hakim, dari Mu’adz).

Perlu diketahui bahwa kata”perilaku” bisa bermakna perbuatan, tindakan dan ucapan. Sedangkan kata ”mentalis” bisa bermakna kepribadian, nurani dan hati yang menentukan perilaku.
Dalam konteks hati, Rasulullah bersabda:” ketahuilah sesungguhnya didalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, bila segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh. Ingat, daging itu ialah hati”.(HR.Buhari).

Hadits tersebut menunjukkan perilaku halus, yaitu setiap muslim supaya bisa membaca kalimat ”laa ilaaha Ilallah” setiap hari sesudah shalat fardhu sedikitnya lima kali atau beberapa kali semampunya asal dengan ikhlas. Membiasakan membaca demikian itu termasuk ibadah ‘Aammah. Dalam konteks “laa Ilaaha illallah” sebagai zikir, Rasulullah SAW bersabda:

افضل الذكرلااله الاالله وافضل الدعاء الحمد لله (وراه التر مذى عن جابرحديث صحيح)

“ Paling utamanya zikir ialah Laa ilaallah dan paling utamanya do’a ialah Alhamdulillah.(HR.Turmudzi,dari Jabir,).

Ketika membaca laa ilaaha illallah, muslim harus yakin dan mengerti / memahami maknanya lalu berdo’a kepada Allah SWT mohon semoga kalimat/ ucapan terakhir menjelang mati bisa membaca laa ilaaha illallah. Dengan demikian, kalau dia pada akhir hidupnya bisa membacanya, maka ia termasuk orang yang insya- Allah akan masuk surga.

Jadi, pembiasaan membaca Laa illaha illallah terserah berapa kali tiap hari itu merupakan perilaku, sedangkan pengertian/ pemahaman dan pengamalan makna laa ilaaha Illallah itu merupakan mentalitas pembaca yang menyadari. Dan itulah mentalitas yang baik yang timbul karena iman yang berfungsi.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليحسن الى جاره, ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه, ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيرا اوليسكت (وراه البخاري والنسائى واحمد عن ابى هريرة)

“ Rasulullah saw bersabda:”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaklah ia berbuat kebajikan kepada tetangganya.Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaklah dia menghormati tamu. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaklah dia berbuat baik atau hendaknya dia diam”.(HR.Bukhari,Nasaai,dan Ahmad,dari Abu Hurairah).

Hadits ini menunjukkan tiga perintah kepada muslim yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir/ kiamat supaya memiliki perilaku mentalitas yang baik Islami. Dan realisasi perintah tersebut akan menimbulkan pergaulan yang saling hormat-menghormati, toleransi, solidaritas, rasa kebersamaan dan kekompakan dan tiga perintah itu ialah:
Muslim supaya berbuat kebaikan Islami yang antara lain menghormati tetangga dengan tidak menggangu, memberi pertolongan, menengok kalau keluarga tetangga ada yang sakit atau lainnya.
Muslim supaya memuliakan/ menghormati tamu. Caranya antara lain: menyambut kedatangannya dengan ramah tamah/ sopan santun, segera menyilakan duduk di tempat yang sudah disediakan di ruang tamu yang tertata baik, rapi dan bersih, menghidangkan hidangan pertama ialah senyum. Rasulullah saw, bersabda: Senyummu pada muka saudaramu itu sedekah. (HR.Bukhari).

Tetangga dan tamu wajib di hormati, meskipun mereka non muslim selama mereka tidak berbuat buruk terhadap muslim.sebab, Allah SWT tidak melarang muslim untuk berbuat kebaikan dan adil kepada non muslim.

Selanjutnya dalam memuliakan/ menghormati tamu, kalau hidangan (minuman/ makan) memang sudah tersedia hendaknya dihidangkan dan bersemangat mempersilahkan tamunya untuk minum/ makan dengan penuh keakraban. Kalau tamu mempunyai maksud/ keinginan/ tujuan, hendaknya muslim memenuhinya, tetapi kalau muslim tidak mempunyai apa yang diinginkan tamunya, hendaknya menolak dengan kata-kata yang baik dan minta maaf.
Muslim supaya berkata/ berucap/ berbicara dengan perkataan/ ucapan/ bicara yang baik-baik atau diam saja sewaktu berkumpul.

Kalau tiga perintah tersebut dapat dilaksanakan dengan ikhlas demi hanya mengharap ridha Allah SWT, terwujudlah perilaku mentalitas Islami dalam pergaulan hidup bertetangga, berkeluarga dan bermasyarakat dan menimbulkan saling menghormati, keamanan dan kebersamaan.
Perilaku mentalitas Islami ialah mendirikan shalat (mentalitas ini prinsip dan wajib), memberikan/ mensedekahkan harta yang dicintai (ini berat dan sulit) kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, Ibnu sabil, orang meminta-minta, memerdekakan budak, mengeluarkan zakat, menepati janji, sabar menghadapi kesempitan/ kesusahan dan jujur

“ Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Baqarah: 177)


Selain itu, perilaku mentalitas Islami ialah bahwa bila muslim menerima kesulitan/ kesempitan/ kesusahan, dia sabar. Sebaliknya bila dai menerima kesenangan/ harta, dia bersyukur.(HR.Muslim dan Ahmad). Allah SWT berfirman :

انما الموء منون اخوة فاصلحوا بين اخويكم واتقواالله لعلكم ترحمون

 

“ Sesungguhnya orang-prang mukmin adalah bersaudara karena itu danaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya mendapat rahma )”.
Al Hujurat: 10)

Sesama mukmin harus ber-ukhuwah (bersaudara) berdasarkan iman. Ayat inilah sebagai argumentasi adanya penyebutan Ukhuwah Imaniyah sekaligus disebut Ukhuwah Imaniyah Islamiyah karena ukhuwah itu ajaran Islam. Maka ukhuwah Islamiyah Islamiyah (UII) menumbuhkan akhlaqul karimah yang puncaknya ikhlas demi mengharap ridha Allah SWT semata.

Minggu, 23 Juni 2013

Manfaat Bangun Pagi Lebih Awal


Kisah nyata perjalanan hidup bani Adam, ada seorang pelajar yang datang ke sekolah selalu telat. Ketika teman-temannya sudah berbaris untuk apel pagi bahkan kadang teman-temannya sudah memulai pelajaran, dia baru sampai sampai. Sehingga setiap guru yang memberikan pelajaran pada awal pelajaran tentu sudah paham, dia pasti terlambat. Bahkan cerita inipun sudah sampai ke wali kelas. Disekolah tentu yang paling bertanggung jawab atas bimbingan dan pengarahan adalah wali kelas. Sehingga dengan bahasa yang halus ditanyakan kepada anaknya yang sering telat. Mengapa selalu telat, dia manjawab bahwa bangunnya kesiangan. Lalu wali kelaspun mengejar jawaban siswanya dengan menyusul pertanyaan yang baru. Apakah setiap hari kesiangan, lalu kamu bangun pagi jam berapa? Dijawab dengan jawaban ringan tanpa beban. Kadang jam 05.30 kadang jam 06.00 atau kadang lebih dari itu. Wali kelas mengelus dada, sambil berkata, astaghfirullah, apakah kamu tidak menegakkan shalat Subuh? Bisa dibayangkan bila bangun pagi jam 5.30 atau jam 06.00 untuk wilayah Indonesia bagian barat apakah masih bisa?

Adalagi kisah seorang pegawai yang harus apel pagi pada jam 07.00, dia sama seperti pelajar diatas sering telatnya dari pada datang lebih awal. Bisa kita bayangkan bila setiap pagi selalu bangun pagi diwaktu akhir, niscya akan merasakan betapa singkatnya waktu yang dilalui, betapa banyak pekerjaan terbengkelai karena tidak membiasakan diri untuk bangun pagi. Karena itu bila diantara kita ada yang telah terbiasa bangun siang, maka berupayalah untuk merubah kebiasaan buruk tersebut. Mengapa bangun pagi disebut kebiasaan yang buruk:
1. Dengan bangun siang otomatis tidak dapat menegakkan shaat subuh, bila sekali atau dua kali bangunnya kesiangan tentu dimaklumi. Namun bila hal tersebut sudah menjadi kebiasaan, akan menimbulalkan preseden buruk. Orang Islam yang melupakan kewajiban teritama shalat lima waktu, dia artinya telah merobohkan agama. “ Shalat adalah tiangnya agama, barang siapa yang menegakkan shalat maka ia telah menegakkan shalat, namun barang siapa meninggalkan shalat berarti telah merobohkan agama. Karena itu orang tersebut hatinya akan menjadi keras, hatinya menjadi jauh kepada Allah. Sekalipun Allah telah menyatakan bahwa kedekatan Allah terhadap hambanya diibaratnya seperti urat pada lehernya. Namun sekalipun Allah telah menyatakan dekat dengan hambanya, tetapi ternyata hambanya merasa jauh dengan Allah. Bagaimana akan merasa dekat dengan Allah bila kewajiban yang telah diberikan Allah tidak pernah dihiraukan.

2. Akan tercatat sebagai ahli surga “ dari Abu Hurairah Berkta, Rasululah SAW bersabda, Malaikat malam dan siang silih berganti kepadamu, dan mereka berkumpul pada waktu shalat Subuh dan Asar. Kemudian Malaikat yang semalaman denganmu naik (ke langit) lalu Allah bertanya kepada mereka, sedang Allah yang lebih tahu tentang mereka, bagaimana kamu meningalkan hamba-hamba-Ku? Para malaikat berkata “ kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami juga datang kepada mereka dalam keadaan shalat “. (HR. Buchari Muslim).

Sungguh bahagianya bila pergantian sifnya para malaikat siang dan malam, hamba Allah dalam kondisi sedang shalat Subuh dan Ashar

3. Bangun pagi akan merasakan waktu yang panjang, apalagi bangun pagi dalam setiap waktu dilaksanakan sebelum ada panggilan menegakkan shalat. Lebih bagus lagi bila sebelum waktu subuh sudah menegakkan shalat Tahjjud. Dilanjutnya dengan tadarus Alquran, lebih bagus lagi dilanjutkan dengan membaca kitab.

4. Bangun pagi akan mengikis penyakit hati.

1.       Ingatlah bahwa penyakit hati yang lebih mengetahui lebih dahulu adalah orang lain, namun kadang bagi yang bersangkutan sekalipun sesungguhnya sakit tetapi tidak merasakan sakit.


5. Bangun pagi akan membuat tubuh sehat, karena disamping dapat menghirup udara segar di pagi hari juga dapat berolah-raga, jalan-jalan atau lari pagi. Tentu badan yang menjadi sehat, karena dengan olah membantu kelancaran metabolisme tubuh akan bekerja secara normal.

6. Bangun pagi akan memulai kegiatan baru, bila tiap hari telah membiasakan bangun lebih pagi, maka akan mempunyai sifat optimis dalam menghadapi hari esok. Sebaliknya bila bangunnya sampai siang maka semua kegiatan baru sudah didasari sifat terburu-buru. Maka tentu sampai siang bahkan sampai waktunya pulang. Nyaris menjadi hari yang kelam tidak mempunyai hasil.

Bila hari esok bercita-cita menjadi hari yang lebih baik, tiada pilihan kecuali bangun pagi, syukur diawali dengan shalat Tahjjud, dan empat rekaat untuk shalat fajar. Mulailah dari diri sendiri, dari hal yang kecil dan mulai dari sekarang.

Jumat, 21 Juni 2013

Istiqamah Istikharah Istighfar, Benteng Keamanan Diri


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.


Kaum Muslimin Jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Marilah kita senantiasa berupaya untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah, dalam arti kita berupaya untuk menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan iman dan taqwa inilah kita akan senatiasa siap siaga didalam menghadapi perubahan zaman. Dimana romantika kehidupan dunia ada siang dan ada malam. Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti. Kadang naik kadang turun. Ada suka ada duka. Ada senyum ada tangis. Kadangkala dipuji tapi pada suatu saat kita dicaci. Tidak ada keabadian didalamkehidupan dunia.namun sebaik-baik kita dengan amal shalih akan meraih keabadian kehidupan diakherat dalam naungan ridhaNya.
Ada bebarapa pegangan untuk meraih ketengan hidup didunia. Tiga amalan baik tersebut adalah Istiqamah, Istikharah dan Istighfar.
1. Istiqamah, yaitu kokoh dalam aqidah dan konsisten dalam beribadah. Keimanan menjadi dasar dalam setiap perbuatan iman yang lurus dan benar maka akan mengarahkan pelakunya pada amal ibadah yang baik.
Begitu pentingnya sifat istiqamah ini sehingga Rasulullah menyampaikan pesannya:

عَنْ أَبِيْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قُلْ لِيْ فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُهُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ. (رواه مسلم

“Dari Abi Sufyan bin Abdullah RA berkata: Aku telah berkata, “Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu bertanya kepada orang lain selain engkau. Nabi menjawab, ‘Katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah’.” (HR. Muslim).

Orang yang istiqamah selalu kokoh dalam aqidah dan tidak goyang keimanan bersama dalam tantangan hidup. Sekalipun dihadapkan pada persoalan hidup, ibadah tidak ikut redup, dalam kondisi kaya atau miskin, tetap memperhatikan haram halal, dicaci dipuji, sujud pantang berhenti, sekalipun ia memiliki fasilitas kenikmatan, ia tidak tergoda melakukan kemaksiatan.
Orang seperti itulah yang dipuji Allah SWT dalam Alquran surat Fushshilat ayat 30:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatahkan): “Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

2. Istikharah, selalu mohon petunjuk Allah dalam setiap langkah dan berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Setiap orang mempunyai kebebasan untuk berbicara dan melakukan suatu perbuatan. Akan tetapi menurut Islam, tidak ada kebebasan yang tanpa batas, dan batas-batas tersebut adalah aturan-aturan agama. Maka seorang muslim yang benar, selalu berfikir berkali-kali sebelum melakukan tindakan atau mengucapkan sebuah ucapan serta ia selalu mohon petunjuk kepada Allah. Sebagai mana sabda rasul:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ. (رواه البخاري ومسلم

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah". (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika sekiranya ucapan itu tidak baik, apalagi sampai menyakitkan orang lain maka tahanlah, jangan diucapkan, sekalipun menahan ucapan tersebut terasa sakit. Akan tetapi jika ucapan itu benar dan baik maka katakanlah jangan ditahan. Rasul pernah bersabda:
قُلِ الْحَقُ وَلَوْ كَانَ مُرًّا
“ Katakanlah yang haq sekalipun pahit (pada akhirnya

Pernah Rasulullah SAW diberi tahukan oleh Malaikat Jibril tentang suatu hal, sebagaimana sabdanya:


أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدًا عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقٌ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ. (رواه البيهقي

“Jibril telah datang kepadaku dan berkata: Hai Muhammad hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau suatu saat akan mati, cintailah apa yang engkau sukai tapi engkau suatu saat pasti berpisah juga dan lakukanlah apa yang engkau inginkan sesungguhnya semua itu ada balasannya. (HR.Baihaqi)”.

Manusia diberi kebebasan dalam berbuat, namun manusia juga harus mempertanggungjawabkan segala perbuatnnya. Tak ada suatupun yang lepas dari pengawasan Allah, sehingga dihadapan Allah tidak ada orang yang merasa teraniaya, namun semuanya didasarkan atas perilakunya.
Karena itu dengan senantisa memohon petunjuk Allah (istikharah) dalam segala langkah kita, niscaya akan dijauhkan dari segala bentuk kekecewaan dan keputusasaan. Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ وَلاَ عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ


Tidak akan rugi orang yang beristikharah, tidak akan kecewa orang yang bermusyawarah dan tidak akan miskin orang yang hidupnya hemat. (HR. Thabrani dari Anas)

3. Istighfar, yaitu memohon ampun kepada Allah atas segala yang dilakukan. Karena sesungguhnya segala perbuatan manusia tidak akan lepas dari salah dan lupa yang akan menimbulkan dosa. Karena itu dengan menyadari bahwa dirinya orang yang dhoif akan menjad pribadi yang lebih baik bila dirinya adalah makhluh yang serba kurang. Tidak sedikit persoalan besar diawali dari hal yang kecil bahkan diakibatkan oleh dirinya sendiri.

Dalam persoalan ekonomi, jika rizki Allah tidak sampai kepada kita disebabkan karena kemalasan kita, maka yang diobati adalah sifat malas itu. Kita tidak boleh menjadi umat pemalas. Malas adalah bagian dari musuh kita. Jika kesulitan ekonomi tersebut, karena kita kurang bisa melakukan terobosan-teroboan yang produktif, maka kreatifitas dan etos kerja umat yang harus kita tumbuhkan. Namun lain halnya bila kehidupan sosial ekonomi sebuah bangsa mengalami kesulitan. Kesulitan itu disebabkan karena dosa-dosa masa lalu yang menumpuk yang belum bertaubat. Jika itu penyebabnya, maka obat satu-satunya adalah beristighfar dan bertobat.

Allah berfirman yang mengisahkan seruan Nabi Hud Alaihissalam, kepada kaumnya:
“Dan (Hud) berkata, hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS. Hud:52).

Kaum muslimin jema’ah Jum’ah Rahimakumullah
Gegap gempita dunia ini, berkembanganya IPTEK hendaknya diimbangi dengan IMTAQ, diantara dengan tiga hal istiqamah, istikharah dan istighfar akan membimbing manusia menjadi insan yang terpilih dan dimuliakan oleh Allah SWT, amin

أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


















Rabu, 19 Juni 2013

Do'a Malam Nisfu Sya'ban


Bulan Sya’ban adalah bulan dimana umat Islam mulai bersiap-siap untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Bulan dimana setiap muslim hendaknya mulai bersiap diri baik jasmani maupun rohani untuk menyambut datangnya bulan yang penuh keberkahan. Sehingga pada pertengahan bulan tersebut untuk memanjatkan do’a kepada Allah agar diberikan umur yang panjang dan baik amal perbuatannya, mohon agar diberi rizki yang halal dan thayyib dan memohon kepada Allah agar diberikan ketetapan iman dan Islam.

Do’a Nisfu Sya’ban dibaca pada tanggal 15 setelah selesai menegakkan shalat Maghrib, diawali dengan membaca surat Yasin 3 x. Setelah selesai membaca sekali berdo’a memohon kepada Allah agar diberikan panjang umur, kemudian setelah selesai membaca yang kedua berdo’a agar diberikan rizki yang banyak, halal dan thayyib, dan setelah selesai membaca yang ketiga berdoa agar selalu diberikan ketetapan iman dan Islam. Kemudian membaca do’a Nisfu Sya’ban sebagaimana teks di bawah ini:

اَللّهُمَّ يَاذَاالْمَنِّ وَلاَيُمَنُّ عَلَيْك يَاذَاالْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَاذَاالطَّوْلِ وَالْإِنْعَامِ لآ إِلهِ إِلاَّ أَنْتَ ظَهْرَ اللاَّجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ وَأَمَانَ الْخَائِفِيْنَ

اَللّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُوْمًا أَوْ مَطْرُوْدًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَىَّ فِي الرِّزْقِ فَامْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ فِى أُمِّ الْكِتَابِ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِيْ وَطَرْدِيْ وَاِقْتَارَ رِزْقِي وَأَثْبِتْنيْ عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِي كِتَاِبكَ الْمُنَزَّلِ عَلَى نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ يَمْحُواللهُ مَايَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

إِلَهِي بِالتَّجَلِّي الْأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ الَّتِي يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيْمٍ وَيُبْرَمُ اِصْرِفْ عَنِّى مِنَ الْبَلاَءِ مَاأَعْلَمُ وَمَا لَاأَعْلَمُ وَمَا أَنْتَ َعَلَّمُ الْغُيُوْبِ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ


Ya Allah, wahai pemilik karunia dan tak ada yang dapat memberi karunia kepada Engkau.
Wahai pemilik kebesaran dan kemuliaan, wahai pemilik anugerah dan kenikmatan.
Tak ada Tuhan selain Engkau, tempat bersandar bagi orang yang butuh pertolongan, tempat berlindung bagi orang yang butuh perlindungan, dan tempat yang aman bagi orang-orang yang takut.
Ya Allah, jika Engkau telah tulis aku dalam buku induk kesengsaraanku, keburukan nasibku, ketersingkiranku, dan kesempitan rizkiku, dan tetapkanlah aku dalam buku induk Engkau sebagai orang yang bahagia, diberi rizki, diberi petunjuk kebaikan. Karena sesungguhnya Engkau telah berkata, dan perkatanmu adalah benar, didalam kitab-Mu yang kau turunkan kepada nabi-Mu yang kau utus, yaitu Allah akan menghapus apa saja yang ia kehendaki dan menetapkannya, disisinyalah buku induk.
Ya Tuhanku dengan keagungan-Mu yang paling besar pada malam Nisfu Sya’ban yang mulia ini, yang pada malam ini setiap perkata yang pasti dibedakan dan ditetapkan, jauhilah aku dari bala’, yang kuketahui dan yang tak kuketahui, sedangkan Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang gaib, berkat rahmat-Mu wahai zat yag pengasih diantara para pengasih.

Selasa, 18 Juni 2013

Dahulu Gagah Sekarang Lemah


Dahulu ketika aku masih menempuh pendidikan di SD memandang beberapa orang muda-mudi, bergembira-ria layaknya orang yang sudah dewasa, kadang mereka berjalan berduaan kadang berkumpul bersama teman-temannya. Ketika telah sampai pada pendidikan SMP aku melihat mereka mulai nampak sebagai pribadi yang mulai nampak kematangan jiwanya, mental dan spiritualnya. Ketika aku SMA mereka telah mulai sibuk dengan urusannya masing-masing, karena mereka telah menemukan pasangan hidup masing-masing, mulai sibuk dengan urusan keluarganya masing-masing. Ketika aku selesai SMA dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi untuk kuliah, aku berada diluar kota sehingga mulai jarang bertemu dengan mereka dan aku mulai masuk dalam komunitas baru, sehingga ketika aku selesai kuliah mereka sudah nampak menjadi orang tua, bahkan ada yang sudah mempunyai cucu.

Kita dibedakan dalam waktu dan kesempatan, mereka pernah merasakan muda sedang aku belum menjadi tua. Diantara mereka dalam usia senja ada yang telah merasakan hidup rukun, damai dan sejahtera dalam komunitas masyarakat desa dengan semboyan "mangan ora mangan sing penting kumpul", makan tidak makan yang penting bisa bersatu. Masyarakat desa berprinsip hidup yang praktis dan sederhana. Tidak terlalu berambisi dalam kemewaahan hidup didunia, yang penting adalah kehidupan yang rukun, tentran, damai, jiwa dan semangat kegotongroyongan senantiasa melekat pada pribadi mereka. Sehingga mereka hidup ditengah-tengah masyarakat tetap menjadi pepundhen, orang yang senantiasa dihormati. Bahkan ucapannya dipandang sebagai sabda pandhita ratu yang sentiasa di tunggu-tunggu sebagai nasehat hidup.

Kemudian aku terus melangkah menyusuri waktu, dalam meniti hidup untuk menjadi manusia yang mandiri dan berdikari. Didalam komunitas pekerjaan selalu ada perbedaan strata sosial, sebagai pegawai yang lebih berkecimpung dalam kegiatan public relation, dituntut untuk mempunyai sikap yang fleksibel dan dinamis dalam berinteraksi sosial., perbedaan status sosial, ekonomi, politik, berbedaan etnis, suku, bahasa dan agama. Sepuluh tahun yang lalu aku telah mengenal para manajer, pimpinan dan para stacholder aku berupaya untuk selalu menjaga sikap, tutur kata yang sopan, aku menyadari bahwa statusku berbeda jauh dengan mereka. Aku menyadari jika mereka tidak level untuk ngobrol dengan aku dan akupun menyadari yang demikian itu.

Ada bayak diantara mereka yang berupaya untuk menjaga emage. Sehingga walaupun mereka telah mengenal dan tahu tentang aku, namun mereka senantiasa menjaga jarak, cuek, tak acuk . Walaupun sudah mengenal sejak lama namun sikapnya masih terasa kaku, tidak ada canda tawa. Tidak seperti dengan mas Paimin, mas Sardi, mas Sapto, mbak Surti, mbak Kinah dan karyawan-karyawan yang berkerja tulus bukan untuk meraih jabatan dan kehormatan. Dengan mereka aku lebih lancar dalam berbicara, canda, tawa bahkan ketika suatu sasat diantara kita mendapat rizki tidak segan-segan untuk mentraktirnya. Makan bersama terasa tiada beban.

Waktu terus berlalu, tidak seperti dahulu mereka masih terlihat gagah, pakaian selalu necis, rambut tersisir rapi, banyaklah orang yang menaruh hormat kepada mereka. Ternyata waktu sekarang sudah berubah total, aku melihat diantara mereka yang dahulu gagah sekarang sedang berbaring lemah di rumah sakit. Ada pula yang dahulu gagah sekarang sering terlihat berjalan-jalan diwaktu pagi hari, sekarang mereka ingin mengenang kembali kegagahan pada 15 tahun yang lalu, namun ternyata otot-otot terasa lemah, kulit keriput, tulang keropos, tubuh sering terasa pegal dan linu, leher terasa kaku, mata berkunang-kunang, tangan dan kaki sering kesemutan, sering terasa mau kencing dan keluhan-keluhan lain yang dahulu tidak pernah dirasakan.

Kehormatan dan jabatan hanya tinggal kenangan. Aku melihat mereka hanya merasa iba, tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa, karena aku masih takut untuk menyapa diantara mereka yang dahulu gagah takut jika mereka tidak mengacuhkan. Sebenarnya aku tahu bahwa mereka butuh teman yang siap untuk menjadi pendengar tetapi aku masih teringat dahulu ketika diantara mereka masih gagah mereka tidak memperdulikan apa yang aku katakan.

Aku tahu diantara mereka ada yang telah berhasil mendidik dan membimbing putra-putrinya menjadi orang yang dapat mewarisi kesuksesan orang tuanya. Namun apa yang terjadi, ternyata anak-anak mereka telah sibuk dengan urusannya masing-masing, bahkan untuk bertemu dengan anaknya sangat sulit seperti ketika aku dadulu mencari untuk meminta tanda tangan.

Dahulu mereka gagah sekarang aku merasa lebih gagah. Sekarang mereka lemah, aku dan kawula muda yang lain suatu saat akan menjadi lemah. Kegagahan fisik suatu saat akan musnah dan tidak berguna, namun sikap, hati dan akhlaq yang bagus tidak akan pernah melemah. Sebagai tamsil biji padi semakin lama akan semakin menunduk dan berisi. Lain halnya pohon tebu, semakin banyak bunganya maka batangnya hilang air gulanya, batangnya juga kehilangan esensinya, akan digunakan untuk kayu bakarpun tidak bisa, akhirnya menjadi barang yang tidak berharga, karena dikumpulkan dengan sampah-sampah yang lain.

Rasulullah SAW pernah bersabda “Allah tidak akan melihat bentuk tubuh dan rupa seseorang tetapi Allah melihat hati dan amal perbuatnnya”.

Kamis, 13 Juni 2013

Mabuk Sinetron hati menjadi keras


Ingatkah kita dengan sinetron “Tersanjung, Mak Lampir” yang ditayangkan oleh stasiun TV Indosiar. Kisahnya selalu dinanti-nantikan oleh para pemirsa. Ini kami sebutkan karena dua sinetron yang mempunyai banyak penggemar. Nyaris tidak pernah akan berakhir. Sebut saja Mak Lampir yang selalu kalah dan menang. Ketika kalah suatu saat menang lagi, dikalahkan lagi dan seterusnya. Produser dan semakin kreatif untuk merangkai suatu cerita yang bisa membuat para pemirsa semakin penasaran dan semakin ketagihan untuk menyaksikan terus kisah-kisahnya. Tentu saja stasiun TV juga semakin menjadi TV yang mempunyai banyak penggemar.

Dari kisah sinetron masa yang lalu, sekarang berganti pada zaman sekarang, ternyata tayangan fiktif dan kontemporer tetap menjadi tontonan yang selalu dinantikan. Sebut saja sinetron “Raden Kian Santang di MNCTV, Tukang Bubur Naik Haji di RCTI”. Sampai kapankah kisah ini akan berakhir. Ternyata semakin lama justru kisahnya semakin berlika-liku. Muncul tokoh-tokoh baru yang juga membuat penasaran.
Apa yang bisa pemirsa harapkan dari kisah tersebut, kadang bagi penggemar yang sudah di mabuk sinetron malah kadang tidak bisa menjawab. Karena dengan tekun menyaksikan kisah tersebut tidak dapat memberikan solusi. Bila mempunyai hutang justru hutang semakin banyak, bila ingin menghibur diri mendapat ketenangan namun yang didapat hati malah semakin keras. Bagi pelajar dan mahasiswa PR atau tugas malah semakin menumpuk. Bila ibu rumah tangga malah lupa untuk menyiapkan sarapan pagi karena tidurnya sampai larut malam sehingga tidak bisa bangun pagi. Bila seorang pegawai maka bisa lalai dengan pekerjaannya. Bila ahli ibadah akan menjadikan jauh dari Allah, karena zikirnya tidak sampai hati. Ketika mau melaksanakan shalat menunggu waktu iklan, namun jeda waktu iklan dalam kondisi shalatpun pikirannya berada pada tontonan, bisa dikatakan shalatnya tidak khusuk.

Sadarkah berapa banyak waktu dihabiskan untuk menonton dan berapa waktu untuk menjalankan ibadah maghdhah. Berapapun lamanya waktu untuk menonton tidak terasa bahkan masih mera kurang, namun sedikit waktu untuk beribadah sudah merasa cukup. Loba adalah perilaku yang tidak baik, karena selalu merasa kurang, tetapi loba dalam hal ilmu dan ibadah sangatlah dianjurkan. Siapakah yang jadi teladan, tidak lain adalah Rasulullah SAW, beliau senantiasa menganjurkan kepada umatnya untuk mencari ilmu sejak dari buaian sampai ke liang lahat. Dan dalam hal beribadah diperintahkan agar melihat kepada orang yang lebih baik dan shalih. Karena ibadah yang dilakukan semata-mata untuk mewujudkan kesyukuran terhadap nikmat Allah. Sungguh Allah telah memberikan kenikmatan yang tidak dapat dihitung, dan manusia tidak akan dapat menghitung nikmat Allah. Maka sebagai wujud rasa syukur dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kepada Allah SWT.

Setiap tayangan atau tontonan ibarat pisau bermata dua, dua sisi sama-sama tajamnya. Ketajaman suatu yang baik tentu akan berdampak pada perilaku hidup yang baik. Baik dalam bersikap, dalam bertutur kata, dalam beraktifitas. Niat lurus maka akan menghasilkan sikap dan perilaku yang tulus, antara hati, lisan dan perbuatan menjadi satu kesatuan. Ini tentu akan membentuk pribadi yang baik. Mereka ini jauh dari sikap munafik. Sikap yang tidak baik, merugikan diri sendiri, orang lain bahkan dapat merusak tatanan serta norma dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sebaliknya bila ketajaman itu mengarah pada perilaku yang tidak baik maka akan berdampak pada tutur kata, sikap, perilaku yang tidak baik. Karena itu pisau dengan dua sisi yang tajam itu hendaknya dapat disikapi dengan sikap yang arif. Semua bentuk hiburan, enternainment lebih berorientasi pada unsur profit. Semua yang terkait pada program tersebut, baik itu produser, para artis, selebritis, bintang film, penyanyi, lawak, para sponsor berharap mendapatkan nafkah dari program tersebut. Pada dasarnya semua program bila tidak ada yang menonton maka program tersebut akan berhenti. Pernahkan kita merenungkan bahwa ketika kita menyaksikan program tersebut pada dasarnya kita telah menggaji mereka. Lalu apakah yang dihasilkan dari program tersebut bagi kehidupan diri dan keluarga. Keteladanankan, jalan hidupkah atau hanya hiburan semata. Mereka hidup serba kecukupan namun para penggemar/ penonton ada yang sudah untuk mendapatkan kecukupan karena hidup serba kekurangan.

Berhati-hatilah dengan pisau bermata dua.

Rabu, 12 Juni 2013

Makna dan Keistimewaan Bulan Sya'ban


Bulan Sya’ban adalah merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan yang penuh dengan rahmat, maghfirah dan dijauhkan dari siksa api neraka. Tidak lain bulan itu adalah bulan Ramadhan, bulan yang selalu dinantikan oleh orang-orang yang beriman dan yang senantiasa mengharapkan ridha Allah SWT. Persiapan pada bulan Sya’ban adalah persiapan jasmani untuk berhati-hati dari godaan hawa nafsu, sehingga jasmani mempersiapkan diri dari segala yang dapat digunakan untuk menyongsong bulan suci Ramadhan, misalnya bersih-bersih ingkungan, tempat ibadah, mencuci tikar, karpet, sajadah, rukuh dan sarung serta segaa yang dapat menunjang kelancaran dalam menjalankan ibadah. Kesiapan yang bersifat rohani untuk mengasah kepekaan nurani menahan diri dari lapar dan dahaga serta dorongan hawa nafsu yang dapat merusak kualitas ibadah, hal ini dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, sehingga merasa selalu dekat dengan Allah.

Bulan Sya’ban merupakan bulan yang menjadi kesempatan bagi hamba Allah yang beriman dan bertaqwa, untuk menjadi orang yang diharamkan masuk ke dalam neraka “Barang siapa yang merasa senang akan datangnya bulan Ramadhan maka diharamkan jasadnya masuk ke dalam Neraka (Hadits)”. Baru saja merasa senang sudah demikian besar keutamaannya apalagi bila sampai pada amaliyah, tentu lebih besar lagi keutamaannya. Alangkah baiknya bila pada bulan ini untuk mengkadha puasa, bila ternyata pada tahun yang lalu pernah meninggakan puasa karena sakit, menjadi musyafir atau bagi wanita sedang melahirkan, menyusui atau sedang nifas maka masih ada kesempatan untuk mengqadhanya, agar bulan puasa nanti menjadi lebih ringan di dalam menjankan puasa karena merasa tidak mempunyai hutang puasa.

Menurut Yahya bin Mu’adz bahwa Sya’ban terdiri dari lima huruf yaitu syin, ‘ain, ba’, alif dan nun dan masing-masing bernakna sebagai berikut:
1. Syin : syarafatun atau syafa’atun yang berarti kemuliaan dan syafa’at.
2. ‘Ain : Al ’izzah wa karomah yang berarti kemenangan dan karomah.
3. Ba’ : Al Birru yang berarti kebaikan.
4. Alif : Ulfah yang berarti rasa belas kasihan.
5. Nun : Nur yang berarti cahaya.

Itulah sebabnya bulan Rajab menjadi bulan untuk mensucikan tubuh, bulan Sya’ban untuk mensucikan lubuk hati dan Ramadhan untuk mensucikan jiwa/ ruh. Maka barang siapa yang mensucikan tubuhnya di bulan Rajab, sucilah hatinya di bulan Sya’ban, dan siapa yang mensucikan lubuk hatinya di bulan Sya’ban, sucilah jiwanya di bulan Ramadhan (Durrotun Nashihin).

Rasuluah SAW sebagai pribadi yang maksum namun beliau berbeda yang hamba Allah yang lain, karena beliau tidak pernah mengandalkan kunci dan garansi, namun beliau sentiasa merasa kurang didalam melaksanan perintah Allah. Pada bulan Sya’ban Rasulullah selalu berupaya untuk menyempurnakan ibadahnya sehingga pada bulan Sya’ban berupaya untuk meraih keutamaan. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh istrinya Siti Aisyah.

“Dari Aisyah; Rasulullah tidak pernah puasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Sesungguhnya beliau berpuasa sebulan penuh pada bulan ini. (Hr. Bukhari Musim)

“ Dari Abu Hurairah  RA berkata, Rasulullah SAW bila pertengahan bulan Sya’ban telah dijumpai, maka janganlah berpuasa sunnah. (HR. Turmudzi).

Sungguh banyak amal ibadah yang dapat dilakukan, baik amalan jasmani maupun rohani. Mudah-mudahkan antara jasad dan ruh selalu berjalan untuk menuju pada ridha Allah SWT.

Senin, 10 Juni 2013

Pembentukan Karakter Manusia


Karakter adalah suatu sifat yang melekat pada diri manusia, ada yang berpendapat bahwa karakter adalah suatu yang sudah pasti dan tidak bisa dirubah. Benarkah demikian. Banyak teori yang menyampaikan tentang hal ini, tetapi yang perlu ditangkap bahwa ada suatu kisah yang berasal dari negeri India. Dua anak manusia yang bernama Kamala dan Amala, ditemukan di hutan Godamuri India pada tahun 1920. Bahwa dua bayi itu diasuh oleh kawanan serigala. Entah karena suatu sebab apa, bahwa bayi tersebut tersebut hidup bersama dengan kawanan serigala. Kemungkinan karena bayi tersebut di buang oleh orang tuanya. Kemudian diasuh oleh serigala bersama dengan anak serigala yang lain. Anak bayi berusia 3 dan 8 tahun ini setelah dipindahkan ke Panti Asuhan ternyata sulit untuk berkomunikasi, layaknya seperti anak manusia yang lain. Ia maunya berperilaku seperti serigala, merangkak, mengendus-endus dan bila mau makan dan minum yang disodorkan adalah mulutnya.

Ini adalah sifat dan karakter hewan namun mengapa melekat pada manusia. Hal ini tentu saja karena melalui proses belajar dan pelatihan secara terus-menerus. Dari sesuatu yang asing kemudian menjadi kebiasaan, bahkan hal ini sering disebut menjadi karakter manusia. Oleh karena itu sifat, watak dan karakter manusia selalu dipengaruhi oleh lingkungan, maupun proses pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu lingkungan yang baik cenderung akan membentuk karakter yang baik, lingkungan yang buruk demikian pula akan mencetak watak dan karakter yang buruk.

Hidup di zaman modern ini semua serba ada, baik dan buruk, halal haram, benar salah nyaris campur menjadi satu, sulit untuk dibedakan. Maka sebaik-baik orang yang dapat memilah dan memilih suatu perbuatan yang baik, karena perbuatan baik ini akan berdampak pada perilaku manusia, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membentuk karakter:

1. Pembiasaan tingkah laku sopan.
Sopan santun atau etiket adalah akhlak yang bersifat lahir. Ukuran sopan santun terletak pada cara pandang suatu masyarakat. Oleh karena itu cara pandang sopan-santun dan sikap suatu daerah mungkin berbeda dengan cara pandang masyarakat yang lain. Sopan santun diperlukan ketika sesorang berkomunikasi dengan orang lain, dengan penekanan utama pertama kepada orang yang lebih tua atau guru atau atasan, kedua kepada orang yang lebih muda, anah buah, anak, murid, bawahan dan sebagainya, ketiga kepada orang yang setingkat atau sebaya, seusia atau setingkat status sosial.

Disamping itu sopan santun juga berlaku ketika berkomunikasi dengan kawan atau lawan. Komunikasi dengan lawan memerlukan kekuatan diplomatis yang lebih kuat dibandingkan dengan perilaku kasar. Kesopanan bisa menambat hati lawan, sebaliknya kekerasan akan menimbulkan dendam.

Sopan santun pada anak tertanam melalui kebiasaan sehari-hari di rumah. Apa yang diajarkan orang tua di rumah akan melekat pada diri anak. Sopan santun pada remaja tertanam disamping melalui kebisaan dalam rumah juga melalui proses pergaulan teman sebaya, di sekolah atau melalui suatu tontonan. Sedangkan sopan santun pada remaja disamping karena perbekalan pada masa anak-anak dan remaja terbentuk melalui perilalu para tokoh masyarakat, terutama tokoh yang dihormati dan diidolakan

2. Kebersihan, kerapian dan ketertiban
Pengetahua tentang hubungan kebersihan dengan lingkungan dibentuk melalui proses pendidikan, tetapi kepekaan terhadap kebersihan dibangun melalui proses pembiasaan sejak kecil. Konsisitensi orang tua terhadap keharusan anak untuk cuci tangan sebelum makan, cuci kaki sebelum tidur, mandi dan gosok gigi secara tertur, menyapu lantai dan halaman rumah, buang sampah di tempat sampah, menempatkan sepatu ditempatnya, merapikan baju dan buku dikamarnya. Merapikan tempat tidur setiap bangun tidur, adalah merupakan pekerjaan membiasakan anak pada hidup bersih hingga kedasaran akan kebersihan itu menjadi bagian dari kepribadiannya.

Pada usia remaja kebersihan harus didukung oleh pengetahuan empirik, misalnya melihat benda dan air kotor, tangan kotor dan sebagainya dengan mikroskup sehingga bisa menyaksikan sendiri kuman-kuman penyakit pada sesuatu yang kotor tersebut. Adapun perilaku bersih pada masyarakat diwujudkan dengan pengaturan yang bersistem, misalnya sistem pemeliharaan kebersihan umum lengkap dengan sarana yang tesedia, sistem sanitasi, sistem pembuangan limbah ditempat umum kemusian didukung dengan peraturan yang menjamin kelangsungan hidup bersih dan tertib. Singapura misalnya mengenakan denda sekitar lima ratus ribu rupiah bagi orang yang hanya membuang puntung rokok secara sembarangan.

3. Kejujuran
Kejujuran merupakan sifat terpuji. Dalam bahasa arab disebut dengan istiah siddq dan amanah. Siddiq artinya benar, amanah artinya dapat dipercaya, ciri orang jujur adalah tidak suka bohong, meski demikian jujur yang berkonotasi positif berbeda dengan jujur dalam arti lugu dan polos. Dalam sifat amanah mengandung arti cerdas, yakni kejujuran yang disampaikan dengan bertanggung jawab. Jujur bukan berarti mengatakan semua yang diketahui apa adanya, tetapi mengatakan apa yang diketahui sepanjang mengandung kebaikan dan tidak menyebutnya jika diperkirakan memabawa akibat buruk bagi dirinya dan orang lain.

4. Disiplin.
Tingkah laku disiplin dilakukan karena mengikuti suatu komitmen. Disiplin bisa berhubungan dengan kejujuran, bisa juga tidak. Kejujuran juga diwariskan oleh genetika orang tuannya, terutama ketika anak masih dalam kandungan, secara psikologis dapat menetas pada anaknya. Keharmonisan orang tua didalam rumah akan sangat berpengaruh dalam membentuk watak dan kepribadian anak-anak pada umur perkembangannya. Ketika anak masih kecil, pantang orang tua bebohong kepada anaknya, karena kebohongan yang diarasakan oleh anak akan menimbulkan kegelisahan serta merusak tatanan psikologi seorang anak.

Pada anak usia kelas IV SD hingga SLTP, kejujuran sebaiknya dibiasakan sejalan dengan kedisplinan hidup, disiplin belajar, disiplin ibadah, displin bekerja membantu orang tua di rumah, disiplin keuangan dan dan disiplin agenda harian anak. Pada anak usia SMA kejujuran dan kedisiplinan yang ditanamkan harus sudah disertai alasan yang rasional, baik dalam kehidupan dalam rumah tangga, sekolah maupun dilingkungan masyarakat. Sistem punishment dan reward sudah bisa diterapkan secara rasional.

Pada usia mahasiswa, kejujuran dan kedisiplinan dinisyakan melalui pemberian kepercayaan dalam berbagai tanggungjawab.kepada mereka sudah ditekankan komitmen dan substansi, sementara prosedur dan teknik mungkin harus sudah diserahkan kepada seni dan kreatifitas mereka.
Pada orang dewasa yang sudah bekerja, kejujuran dan kedisiplinan diterapkan melalui pelaksanaan sistem dimana peluang untuk berbuat tidak jujur dipersempit. Misalnya dengan pengawasan yang transparan. Betapapun orang jujur dapat berubah menjadi tidak jujur menakala peluang tidak jujur dan tidak disiplin terbuka tanpa pengawasan.

Ada suatu tamsil, orang yang mengeluhkan atas aroma wc yang baunya pesing dengan orang yang masuk ke kamar hotel yang baunya harum. Ketika mau masuk wc dengan penuh terpaksa, manahan bau yang tidak sedap, sambil menyiramkan air agar baunya hilang. Perasaan marah sambil mengomel siapa yang tidak menyiramkan air seninya setelah selesai kencing. Lama kelamaan hidung sudah terbiasa dengan bau yang tidak enak. Dikira baunya sudah hilang setelah selesai buang hajat segera keluar, dan diluar juga sudah menunggu orang yang mau buang hajat. Orang yang menunggu sama-sama mengeluhkan wc nya bau pesing. Kenapa orang yang baru keluar hajat merasakan sudah tidak berbau.

Lain masuk wc ternyata lain pula masuk ke kamar hotel yang berbau harum, sambil mensyukuri aduhai harumnya kamar ini, setelah tinggal beberapa saat bau harumnya sudah tidak begitu dirasakan lagi. Inilah tamsil bahwa perbuatan buruk atau baik itu kadang ditentukan oleh lingkungannya, oleh karena itu sebaik-baik orang yang menyadari bahwa kebaikan itu hakiki dan harus dipertahankan, demikian pula keburukan itu juga hakiki yang harus dihindarkan. Maka prinsip hidup amatlah penting, agar kehidupan tidak mudah terombang-ambingkan keadaan. Karena itu Rasulullah SAW pernah berpesan “ Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, dan balaslah perbuatan buruk dengan kebaikan, dan berbudilah dengan manusia dengan budi yang baik”. Insya-Allah bila dapat menerapkan konsep ini kita akan selamat didunia maupun di akherat kelak, amin.

Rabu, 05 Juni 2013

Riya' Hilangkan Pahala


Kisah seorang ahli ibadah, yang senantiasa mendarmabaktikan hidupnya untuk bersujud dan beribadah kepada Allah. Pada suatu malam setelah ahli ibadah tersebut makan sahur kemudian membaca Alquran surat Thaha, setelah selesai membaca surat tersebut dia terlelap tidur. Dalam tidurnya ia bermimpi didatangi oleh seseorang yang turun dari langit sambil membawa secarik kertas. Secarik kertas tersebut ternyata isinya sama dengan Alquran yang baru saja di baca yaitu surat Thaha. Diperhatikan ayat Alquran tersebut bahwa dalam setiap huruf dibawahnya tertulis sepuluh kebaikan. Karena begitulah sifat rahman dan rahim Allah selalu melipatgandakan semua amalibadah hambanya, termasuk ketika membaca ayat-ayat Alquran.

Namun sungguh terkejutnya bahwa ternyata dalam tulisan itu ada beberapa ayat yang kosong (terhapus) dan dibawahnya tidak terdapat apa-apa. Dengan serta merta ahli ibadah memprotes, “Sungguh kalimat itu sudah saya baca tetapi mengapa menjadi kosong dan tidak ada nilainya? Kemudian orang yang membawa kertas itu berkata “ Kamu memang benar telah membacanya, dan kami telah menulisnya, namun kami mendengar orang berteriak-teriak memanggil dari Arasy, hapuskan kalimat itu dan hilangkan pahala dari kalimat tersebut, oleh karena itu kamipun kemudian menghapusnya.

Lalu dalam mimpi ahli ibadah tersebut menangis dan menanyakan mengapa dihapuskan, karena pada waktu kamu membaca, kamu mengetahui ada orang yang lewat kemudian kamu mengeraskan bacaanmu karena dia, setelah itu terhapuslah pahala dari bacaan tersebut. (Abu Thalhah Muh. Yunus Abdu Sattar, Raih Surga dengan beberapa menit (trj): 109)
Karena itu Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya' kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan (QS. Al Anfal: 47)

Mengingat hal tersebut, bagaimanakah dengan ibadah-ibadah yang lain, ketika infaq ingin dilihat oleh orang lain, ketika shalat nampak bertambah khusuk ketika disaksikan oleh orang lain. Bekerja bertambah giat ketika disaksikan oleh atasannya. Dan masih banyak lagi ibadah-ibadah yang lain yang seharusnya ditujukan untuk pengabdian diri kepada Allah namun berbalik pada harapan untuk memperoleh pujian dari hamba Allah. Ibadah yang demikian ini sesungguhnya menjadi ibadah yang sia-sia. Pada suatu saat Rasulullah SAW pernah bersabda:

اِنَّ اَخْوَفَ مَا اَخَافُ عَليْكُمُ الشِّرْكُ الْاَصْغَرُ قَالُواْ وَمَا الشِّرْكُ الْاَصْغَرَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ الرِّيَاءُ

“ Sesungguhnya perbuatan yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah syirik kecil, lalu sebagian sahabat bertanya: Apakah yang dimaksudkan dengan syirik kecil wahai rasul? Rasul menjawab yang dimaksudkan syirik kecil adalah riya’ (pamer) (HR. Ahmad, Attabrani, Bahaihaqi).

Sifat riya’ datangnya dengan tiba-tiba, kadang tidak diketahui dan tidak disadari, karena perilaku riya’ ini melebihi dari adat kebiasaan. Bahkan kadang timbul kekuatan lain diluar kemampuannya. Sehingga bila tidak disadari dan tidak menyadarkan diri niscaya ibadah yang dilakukan akan musnah. Karena sekalipun riya’ itu termasuk dalam kategori syiri’ yang kecil namun kalau terus dibiarkan akan menjadi kekuatan yang melumpuhkan keikhlasan. Allah pernah mengingatkan:
Sebagaimana firman Allah dalam surat Annisa’ ayat 48:
" Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar".

Karena itu sebaik-baik hamba Allah yang selalu meluruskan niat, menguatkan tekad, dan banyak melakukan kegiatan ibadah. Dengan demikian ibadah yang dilakukan akan terasa lebih ringan tanpa beban. Bagaimanakah hamba Allah akan dapat melaksanakan shalat dengan ikhlas dan khusuk bila hanya mengandalkan shalat fardhu saja (shalat Isa, Subuh, Zuhur, Ashar dan Maghrib). Bukankah Allah telah memberikan tuntunan ibadah shalat sunnah, banyak fadhilahnya namun mengapa tidak pernah dihiraukan. Semakin banyak menjalankan ibadah shalat sunnah ini maka ringan dalam menegakkan shalat, sehingga shalat benar-benar akan menjadi kebutuhan hidup. Dimanapun dan kapanpun selalu berupaya untuk mengakkan shalat.

Demikian pula dalam hal zakat, infaq dan shadaqah, akan menuntun hamba Allah menjadi hamba yang berjiwa sosial. Mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, jiwa empati ketika melihat orang lain dalam kondisi kekurangan, kesempitan dan penderitaan maka akan muncul pada dirinya bagaimanakah bila menimpa pada dirinya. Mungkin bisa jadi akan sangat menderita, makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, tidak ada gairah kerja dal lainnya. Karena itu dia berupaya untuk menghindarkan diri dari segala balak, musibah dan malapetaka dengan memperbanyak shadaqah. Karena sesungguhnya hikmah dari shadaqah dapat meningkatkan kepekaan sosial, dan rasa empati. Demikian pula dengan shadaqah akan dapat menolak balak serta shadaqah tidak akan mengurangi rizki.

Banyak kejadian orang yang dermawan menjadi orang yang dihormati dan disegani oleh orang lain, dermawan dapat menjadikan orang yang sehat jasmani dan rohani. Orang yang dermawan justru mengalami peningkatan dalam status ekonomi dan sosialnya. Begitulah janji Allah yang akan diberikan kepada hamba-Nya yang senantiasa menegakkan perintah-perintah-Nya. Karena itu agar ibadah yang kita lakukan menjadi menjadi ibadah yang ikhlas dan terhindar dari sikap riya’. Hendaknya dimulai dari sekarang, dimulai dari diri sendiri dan dimulai dari hal yang kecil untuk selalu menjalankan perintah Allah hanya semata-mata beribadah kepada-Nya.

Selasa, 04 Juni 2013

Menjadi Wanita Idaman


Wanita adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT dalam bentuk yang indah, apapun yang ada pada diri wanita adalah sesuatu yang indah. Indah dipandang, indah dikhayalkan, indah dirasakan. Karena keindahan daya tarik wanita sehingga bisa memikat kaum Adam. Yang karenanya kaum Adam tanpa sadar rela mengorbankan waktu, tenaga, fikiran, harta, kadangkala jabatanpun dipartaruhkan demi untuk mendapatkan keindahan wanita, bahkan ada yang mengurbankan anak-istri dan keluarga demi meraih keindahan wanita. Betapa banyak orang yang akhirnya juga kecewa atas perilaku karena bermain atau mempermainkan wanita. Syair lagu Bimbo menggambarkan keindahan wanita.

Wanita ibarat biola
indah suaranya, menarik bentuknya
Gesek lemah lembut merdu suaranya
Salah gesek tak karuan bunyinya

Wanita ibarat komputer
makin banyak data, makin pintar dia
bila kurang cerdik, jangan coba-coba
sangat susah untuk dibohongi

Wanita ibarat pipa cangklong
kasihlah tembakau hisap pelan-pelan
hangat pipa cangklong amatlah nikmatnya
Tapi awas jangan dipinjamkan

Laki-laki tanpa wanita
Kenal dunia tidak kenal sorga
Laki-laki tanpa wanita
Mana bisa merasa perkasa
Laki-laki tanpa wanita
Bagi kopi tidak pakai gula
(sayur asam hambar bila lupa garam)
Hal ini jangan didengar wanita
(Ini rahasia kaum pria saja)
Nanti mereka jadi Gede Rasa

Kisah laki-laki mencari wanita idaman
Ada tiga orang wanita yang dicintai oleh seorang laki-laki, semuanya sama -sama menarik dan memikat hati laki-laki tersebut. Sehingga begitu terpikat dan terpesonanya laki-laki itu amat bimbang mau pilih yang mana. Dia tipe laki-laki setia, tidak mau menyakiti hati wanita, tapi fitrah laki-laki untuk mencari dan memilih. Laki-laki itu hanya mau memilih seorang untuk menjadi pendamping hidup, sehingga laki-laki tersebut berusaha membuka diri dengan memohon pertimbangan dari kawan, saudara sampai pada guru spiritual.

Namun itulah cinta tidak bisa dihalangi. Shalat istikharahpun senantiasa dijalankan, untuk semata-mata memperoleh isyarat mimpi yang merupakan petunjuk dari Allah SWT. Apa mau di kata ternyata Allah berkehendak lain, ingin menguji hamba-Nya, ilham tidak diberikan apalagi isyarat mimpi. Allah memberikan petunjuk dengan sesuatu yang tidak pernah disadari apalagi diketahui. Kebetulan gadis yang dicintainya lahir dalam bulan yang sama hanya berbeda tanggal, setelah mengetahui itu maka muncul niat pada laki-laki tersebut untuk memberikan hadiah ulang tahun. Namun apa yang akan diberikan pada wanita tersebut, ketika berkeliling di Supermarket, pilihan sangat banyak. Sepatu, sandal, baju, permata, jam dan masih banyak pilihan lain makin bingung.

Namun setelah capek berkeliling dia istirahat sambil makan bakso, o ya, dompet. Tiap wanita tentu butuh dompet dan dompet biasanya dibawa kemana-mana. Maka belilah dia tiga buah dompet yang indah dan harganyapun cukup lumayan mahal. Pada hari ulang tahunnya secara bergiliran diberikan:
• Gadis yang pertama merasa sangat berbahagia, sambil mengucapkan terimakasih dia mengucapkan belum pernah aku mempunyai dompet sebagus ini, maka ucapan terimakasihpun diulang-ulang sambil menciumi dompetnya.
• Gadis yang kedua juga mengucapkan terimakasih sambil berkata seandainya dompet ini berwarna coklat bukan warna hitam.
• Gadis yang ketiga, marasa tidak perlu dengan dompet itu, ambillah kembali dompet itu karena cintamu cukup bagiku.

Dengan ekspresi spontanitas dari masing-masing gadis itu, akhirnya laki-laki tersebut menentukan pilihannnya pada gadis yang pertama karena ia adalah gadis berakal, ridha dan merasa bahagia terhadap pemberian. Sedang gadis yang kedua tidak dipilih karena gadis itu gadis yang selalu akan kurang terhadap pemberian, tidak bisa berterimakasih bahkan tidak segan-segan untuk mencela suatu pemberian. Dan gadis yang ketiga tidak dipilih juga karena seakan-akan gadis itu hidup di alam mimpi, bahkan tidak layak menanggung beban kehidupan berumah tangga. Telah banyak terjadi pada masa berta’aruf (berpacaran) karena sudah dimabuk cinta, seakan-akan hidup hanya dengan cinta saja sehingga hal-hal lain yang lebih orgen untuk menunjang kelanjutan dari cinta tidak dipertimbangkan. Hal yang demikian ini tidak menutup kemungkinan bila cinta akhirnya sampai pada jenjang pernikahan, maka pernikahan hanya seumur jagung atau hanya seumur jamur tiram

Figur wanita idaman
Wanita dari isteri nabi Ibrahim Siti Sarah dan Siti Hajar adalah simbol wanita yang tegar yang senantiasa setia dalam kondisi senang dan susah, begitu pula isteri-isteri nabi Muhammad menggambarkan wanita yang tegar setia dalam kondisi apapun. Wanita-wanita dari keluarga ini tidak sama dengan wanita dari isteri Abu Lahab yang senanatiasa bersepakat kepada suaminya untuk berbuat maksiat bahkan diabadikan didalam Alquran sebagai orang yang celaka. Wanita dari isteri nabi Luth dan nabi Nuh, simbol wanita yang tidak bisa dijadikan sebagai teladan, karena tidak taat pada suaminya bahkan meninggalkan suaminya ketika suaminya sedang membutuhkan bantuan. Wanita dari Istri Fir’aun walaupun berupaya untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah namun akan terganggu karena suaminya tidak percaya adanya Allah bahkan memproklamirkan diri sebagai Tuhan.

Itulah gambaran keindahan wanita, namun sudahkan menjadi wanita idaman.
1. Idaman dalam kiprahnya.
Idaman dalam pengertian yang luas, bahwa didalam keluarga, bagi anak dan suaminya. Wanita didalam keluarga dituntut untuk berperan ganda sebagai ibunya anak-anak, sebagai istrinya suami, sebagai pengatur dalam urusan rumah tangga. Hal seperti ini bila dipilah-pilah nampak semakin banyak dan seakan berat dan tidak dapat dijalankan. Namun hal seperti ini bila dibiasakan dari hal yang kecil dan terus membiasakan diri sehingga menjadi kebiasaan. Contohnya bangun pagi pada setiap pagi hari pada awalnya adalah berat, apalagi bila kebiasaan dalam keluarganya setiap pagi hari anak dibiasakan bangun sesadarnya saja.

Orang tua bila shalat tidak pernah mengingatkan anaknya agar bangun untuk shalat. Maka setelah berumah tangga wanita seperti ini akan selalu membawa kebiasaan lama. Padahal banyak wanita-wanita karier, wanita pekerja, wanita PNS yang terbiasa bangun pagi, bahkan sebelum masuk waktu subuh, karena mereka sudah bangun untuk menegakkan qiyamul lail. Pada pagi hari telah terbiasa menyiapkan hidangan untuk anak-anak, suami, pakaian anak-anak. Bila ditanyakan kepada mereka akan dijawab dengan ringan, kebiasaan ini kalau diniatkan karena ibadah maka akan terasa ringan. Balik kita bertanya kok bisa ringan, mereka menjawab “kita seperti ini kan dilakukan ketika sehat, kalau sakit tidak bisa, sehat itu mahal harganya, kenapa ketika sehat tidak diimbangi dengan meningkatkan rasa syukur kepada Allah dengan meningkatkan ibadah, diantaranya mengurus rumah tangga seperti ini. Ternyata wanita seperti ini seakan tidak pernah merasa capek.

Didalam masyarakatpun aktif dalam kegiatan sosial, aktif di Ormas, PKK, Dharma Wanita, Majlis Taklim dan sebagainya. Mereka ringan membantu terhadap saudara-saudara yang tidak mampu dan membutuhkan pertolongan. Bahkan dalam kegiatan keagamaan selalu aktif dan memotifasi kepada anak-anaknya untuk menjalankan shalat jama’ah di masjid, menggalang dana zakat dan dana sosial lainnya untuk kepentingan agama, sehingga patut baginya menjadi teladhan dalam kehidupan masyarakat. Wanita ini tidak ada puasnya untuk selalu belajar dan tidak ada bosannya untuk mengajarkan ilmunya.

Begitu banyak kiprahnya dalam kehidupan masyarakat, tidak pernah memperhitungkan untung dan ruginya, tidak pernah pilih-pilih dalam memberikan pertolongan. Dan bila ada kegiatan sosial selalu tampil didepan. Maka dialah wanita yang selalu dicari oleh kaumnya karena keteladanan dalam menjalankan kebaikan. Maka wanita ini akan selalu bahagia sepanjang hayatnya, dimana-mana terdapat saudara. Segala ucapan dan curahan hati serta buah pikiran menjadi sumber nasehat dan penuh bagi kaumnya.

2. Idaman dalam usia.
Usia tidak menjamin seseorang dipandang dewasa. Sifat suka meniru, ketergantungan, manja, malas adalah merupakan sifat kekanak-kanakan. Sehingga walaupun dari segi usia dipandang sudah dewasa namun ketika dihadapkan dengan suatu permasalahan tidak bisa mencari solusi.
Karena kedewasaan seseorang bisa diterpa karena proses pendidikan, karena dengan pendidikan seseorang akan dilatih untuk berfikir kritis, realistis, runtut dan ilmiah. Karena itu biasanya orang yang tidak mengenyam pendidikan maka cara berfikir amat praktis, dangkal dan sporadis. Karena itu amat rugi bagi anak-anak dan remaja yang tidak mau mengenyam pendidikan padahal kesempatan terbuka dengan lebar. Tapi enggan mengenyam pendidikan. Mereka kadang berfikir sempit, bahwa sekolah tidak menjamin hidupnya kelak akan bahagia, contohnya dia dan dia berpendidikan tinggi tapi juga akhirnya menganggur. Untuk mencari makan sehari-hari saja susah. Bandingkan dengan dia dan dia tidak pernah sekolah bahkan tidak bisa baca tulis tapi ternyata hidupnya lebih mapan, punya usaha dan karyawan, rumah dan kendaraan mewah. Mengapa harus sekolah.

Orang yang demikian tidak melihat prosentase, hanya melihat sesuatu yang ada satu atau dua orang menjadi konklusi. Tidak sadar bahwa sesungguhnya rizki, jodoh dan mati adalah sudah menjadi qodrat dan irodat Allah. Manusia hanya bisa mengupayakan, keputusan di tangan Allah. Orang yang berpendidikan bila menghadapi masalah akan mencari penyelesaian dikaji dalam beberapa sektor, selalu mempertimbangkan akibatnya. Mendahulukan akal dari pada otot, mendahulukan hati dari pada nafsu.

Disamping proses pendidikan, orang yang sering diterpa masalah, bahkan satu masalah belum selesai sudah muncul masalah yang lain. Hal ini akan membuat seseorang lebih dewasa. Rasulullah Muhammad SAW sejak kecil sudah terbiasa menghadapi masalah, sehingga beliau teruji. Ketika orang-orang Qurais berbeda pendapat, bahwa semua merasa berhak untuk meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya, maka Rasulullah menyampaikan usulnya dengan menggelar kain lalu Hajar Aswad diletakkan ditengahnya. Semua orang memegang dan mengangkat kain sehingga semua orang merasa mengangkat bersama, maka pertikaian dapat dihindarkan.

3. Idaman dalam menerapkan moralitas Islam.
Dalam bersikap, bertutur kata serta berbuat dengan berdasarkan pada syari’at Islam. Islam baginya menjadi way of life, Islam sebagai petunjuk, jalan dan solusi atas segala masalah kehidupan manusia. Tidak ada aturan yang lengkap, dinamis, aktual kecuali Islam. Bagaimanakah pergaulan muda- mudi yang kadang berhadapan dengan dua pilihan yang sulit untuk diputuskan. Maka keyakinan tetap terpatri bahwa Allah yang menciptakan masalah, dan memberikan masalah, dan hanya dengan memohon kepada Allah maka masalah akan teratasi.

Moralitas memang harus berpangkal dari tauhid yang lurus, tanpa idiologi yang kuat maka moral mudah terombang-ambingkan. Ada sedikit masalah sudah lupa ingatan, melihat perilaku para artis dan selebritis akan berupaya untuk meniru bagaimanakah bila yang ditiru itu berjalan pada koridor moralitas Islam tentu dapat diteladani, namun bila melenceng dari rel yang benar maka tidak harus ditiru bahkan harus dijauhkan. Namun bila hantaman pengaruh makin kuat tidak diimbangi dengan aqidah yang kuat maka akan hanyut, seperti sebatang kayu yang hanyut pada arus sungai. Semakin kuat melawan maka semakin berat beban yang ditanggung. Wanita idaman selalu menerapkan idiologi yang lurus sehingga menjadi moralitas yang baik, enak dirasakan, sedap dipandang, bagus untuk diteladani.