Agama Sebagai Landasan Moral


Semua manusia diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang paling sempurna, karena manusia dibedakan dari makhluk yang lain, dari fasilitas yang diberikan, berupa panca indra, insting, akal, emosi dan agama. Dengan kesempurnaan ini maka manusia diberi amanat sebagai khalifah Allah (wakil Allah ) di muka bumi, dengan tugas untuk menjaga, memelihara, melestarikan dan memanfaatkan.

Tetapi kesempatan yang telah diberikan oleh Allah ini menjadikan status manusia terhadap manusia yang lain dalam lingkup social, ekonomi, politik, budaya, agama berbeda. Sehingga ada orang yang kaya ada yang miskin, ada yang pandai ada yang bodoh, ada yang rajin ada yang malas, ada yang besar ada yang kecil, ada yang terhormat ada yang dikucilkan dan sebagainya. Padahal Allah telah memberikan kesempatan yang sama, masing-masing dalam sehari semalam diberi kesempatan 24 jam, tinggal manusia sendiri yang dapat memanfaatkan waktu tersebut. Maka didalam Alquran surat Al Asr Allah telah memberikan gambaran:
" Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran" (QS. Al ‘Asr: 1-3)

Kecenderungan manusia
Manusia secara umum menginginkan sesuatu yang serba praktis, makan enak, tidur nyenyak, kerja ringan penghasilan besar dan segala keinginan bisa terpenuhi. Dapatkah keinginan itu bisa diwujudkan? Saya mengambil simulasi seandainya kita diberi uang secara cuma-Cuma Rp. 100, tentu pada zaman sekarang sudah tidak berarti, mungkin kita akan memaki-maki orang yang memberi. Tidakkah terlintas dari benak kita sekalian, bagaimanakah jika didaerah anda sedang panen salak pondoh, lalu anda mendapat order dari teman yang berada diluar kota salah pondoh 1 ton dan keuntungan yang akan diberikan kepada anda jika setiap kilo gram Rp.100 tentu anda tidak akan menolak apalagi bila satu buah diberi keuntungan Rp.100,- tentu uang seratus akan bernilai banyak karena dilipatkan.

Ini adalah lambang ketekunan yang akan membuahkan hasil, bahkan kadang dengan ketekunan dan hasil yang diperoleh akan membuahkan rasa syukur yang tiada tara, karena dengan ketekunan itu, pertolongan dari Allah datang tiada pernah disangka-sangka, dalam hadits rasul disebutkan "man jadda wajada" barang siapa yang bersungguh-sungguh maka akan menuai hasil.

Lain lagi bila suatu saat kita mendapatkan uang hibah sebesar 10 juta rupiah, akan kita gunakan untuk apa uang tersebut. Diantara kita tentu mempunyai pandangan yang berbeda dengan uang yang dimilikinya itu. Maka bila boleh saya memberi usul, kiranya kita berfikir bagaimana agar uang tersebut bisa bermanfaat, bukankah kita ingin menjadi orang yang serba kecukupan atau menjadi orang yang kaya. Maka hal yang pertama kita lakukan adalah melakukan perencanaan, utamakan hati dan akal dalam mengambil keputusan. Jangan sekali-kali menuruti kemauan hawa nafsu, karena hawa nafsu itu akan mengarahkan pada tindakan-tindakan yang diluar kemampuan akal dan tuntunan agama. Akhirnya harapan bisa mamperoleh kabahagian justru yang terjadi adalah penyesalan yang tiada guna.

Tuntunan agama.
Agama menghendaki agar setiap manusia untuk meraih suatu kebahagiaan dimulai dengan proses. Doa orang muslim yang singkat Allahumma inni as-alukal huda wattuqa wal 'afafa wal ghina, Ya Allah berilah kepadaku petunjuk, ketaqwaan, kehormatan dan kekayaan.

Terakhir dari doa tersebut adalah al ghina yang berarti kaya, banyak orang yang memimpikan menjadi kaya, mengapa demikian, karena adanya pandangan bahwa dengan kekayaan yang dimiliki apapun bisa dilakukan, apapun bisa diperoleh. Makan enak tidur nyenyak, apapun dan kapanpun keinginan itu muncul langsung bisa diwujudkan. Rumah megah, kedaraan mewah, harta melimpah dan perhiasan serba wah, semuanya bisa diwujudkan bila dirinya menjadi orang kaya.

Apakah kaya itu menjamin hidup bisa kecukupan, jawabannya tidak mesti karena kekayaan yang diinginkan tanpa batas akan menciptakan perilaku yang tanpa batas pula, bahkan bisa jadi ingin mendapatkan kepuasan, apapun dilakukan, tanpa memperdulikan batas-batas kewajaran. Perilaku yang demikian itu karena tidak diawali dengan proses untuk menjadi kaya, maka bila mencermati hadits diatas, proses menjadi kaya hendaknya diawali dengan do'a, memohon agar diberi hidayah (petunjuk).

Hidayah akan mengarahkan setiap aktifitas manusia, karena itu bagi orang Islam senantiasa meminta petunjuk kepada Allah, sebagaimana pada Ummul Kitab "Ihdinash shiratal mustaqim", tunjukilah kepada kami jalan yang lurus. Jalan lurus yang dimintakan tidak lain adalah jalannya orang-orang yang telah diberi petunjuk, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai oleh Allah. Maka orang yang hidup dengan bimbingan hidayah Allah akan selamat sejak didunia maupun diakherat, karena itu dengan kekayaan yang dimiliki adalah merupakan bentuk kenikmatan yang diberikan oleh Allah yang wajib disyukuri. Wujud syukur adalah dengan lisan, mengucapkan hamdalah. Lisan sudah mengucap hati menjadi bangga, dan akan lebih bangga lagi bila diaktualisasikan dengan amal perbuatan, diantaranya dengan harta yang dimilikinya untuk kepentingan dijalan Allah. Wujud kongkrit itu adalah mengeluarkan 2,5% dari harta yang dimiliki menjadi kewajiban zakat yang diperuntukkan bagi para dzu'afa' dan masakin.

Karena itu didalam berdo'a yang kedua minta untuk diberi ketaqwaan, yaitu rasa takut kepada Allah, bila tidak menjalankan perintah-Nya, karena akan menjadi orang yang celaka. Zakat menjadi salah satu rukun Islam yang lima yang tidak boleh ditinggalkan. Sebagaimana shalat menjadi wajib 'ain, bahkan dalam hadits disebutkan bahwa shalat menjadi tiang agama, barang siapa meninggalkan shalat maka berarti merobohkan agama. Dengan shalat akan dapat menciptakan kesalehan spiritual dan kesalehan sosial, karena shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Oleh karena itu shalat tidak boleh ditinggalkan, sekalipun dalam kondisi sakit dan sulit.

Demikian pula zakat juga tidak boleh ditinggalkan, mengapa enggan membayar zakat, apakah takut miskin, apakah takut hartanya akan berkurang, apakah tidak ingin melihat orang miskin bahagia, apakah belum tahu dasar hukumnya, apakah belum tahu kepada siapa harus membayar zakat, apakah merasa sudah cukup dengan mengeluarkan infaq dan shadaqah, maka bila dalam diri masih ada kekhawatiran tersebut perlu menerapi hati dari kebungkaman nilai-nilai Illahi. Hal ini ditandai dengan munculnya akhlaqul madzmumah, sucinya hati semakin hari semakin keruh, karena tidak berusaha untuk mendobrak kemauan hawa nafsu. Mengembangkan pandangan yang sempit, sikap skeptis sehingga yang muncul adalah sifat egoisme.

Ibnul Qoyyim Al Jauziyah dalam taushiyah membagi hati menjadi 3 macam. Pertama hati yang kosong dari iman dan seluruh kebaikan, hati yang demikian sudah dipenuhi dengan kegelapan, sehingga setan tidak perlu membisikkan kejahatan-kejahatan kepadanya. Pribadi manusia sudah menyatu dengan setan, sehingga dalam setiap perilaku selalu mengarah untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah dalam bahasa Alquran "minannuuri ila-dhulumaati". Kedua hati yang diterangi dengan cahaya keimanan, cahaya dalam hati tetap bersinar tetapi kadang tertutup oleh keinginan-keinginan hawa nafsu, rasul menandaskan "al imanu yazidu wan yan qushu" iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang. Bila cahaya iman sedang kuat maka setan tidak berani mendekat, tetapi bila cahaya iman sedang melemah maka setan kembali akan bersekutu dengan manusia. Ketiga hati yang penuh dengan keimanan dan diterangi dengan cahaya keimanan serta menerangi seluruh amal perbuatan manusia. Bila setan berusaha menggoda manusia maka akan terlempar dan terbakar. Hatinya dihiasi oleh tauhid, tasybih dan tahmid, sehingga kekuatan Allah menjadi pelindung bagi dirinya (Ali Muhammad Ad Dihamy, Majlis Penyubur Iman, Pustaka Syahadah: 49).

Kalimat ketiga dalam berdo'a agar diberi kehormatan, kehormatan didapat bukan dengan cara dipaksakan, akan tetapi melalui proses yang panjang, malalui pelatihan, berusaha untuk mengaktualisasikan diri akhlaq nabawi. Akhlaq nabi meliputi shidiq (benar, jujur), amanah (dapat dipercaya), tablig (menyampaikan), fathonah (cerdas dan bijaksana), dan juga membiasakan diri untuk bersikap ihsan. Rasul melaksanakan semua yang dikatakan, dan rasul melaksanakan secara istiqomah, ikhlas, tegas tetapi besikap kasih sayang. Ketaatan dan keteguhan itu dalam segala kondisi, baik dalam kondisi ramai maupun sepi, baik sendirian maupun bersama-sama, baik daam kondisi sempit maupun lapang, dan dalam kondisi sehat atau sakit. Karena demikian mulianya akhlaq rasul maka beliau menjadi suri tauladan bagi seluruh umat manusia. Dari kebiasaan-kebiasan yang dilakukan setiap hari maka beliau menjadi figur yang disegani dan dihormati baik oleh umat Islam maupun oleh musuh-musuh Islam.

Kalimat yang keempat dari do'a diatas adalah memohon agar diberi kekayaan, meminta dirinya menjadi orang kaya. Karena menjadi kaya harus mempersiapkan terlebih dahulu. Apakah dengan banyaknya harta akan menjadikan seseorang menjadi kaya. Sebagai bahan i'tibar, berapa banyaknya para TKI yang bekerja diluar negeri, mereka memperoleh gaji yang berlipat ganda di banding dengan bekerja didalam negeri. Dalam jangka waktu satu tahun bisa memperoleh uang puluhan juta rupiah, dan setelah beberapa tahun bekerja diluar negeri uang semakin banyak dan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Untuk apakah uang sebanyak itu, target utamanya biasanya membangun rumah, beli kendaraan, perabotan rumah yang serba lux. Sampai berapa bulan bisa bertahan dengan gaya hidup yang demikian padahal pekerjaan tidak punya, bisa jadi uang akan habis dan kembali pada status quo. Mengapa harta yang demikain tidak membuat dirinya menjadi kaya, melihat pada runtutan hadits diatas karena tidak dipersipan dengan kata yang pertama, kedua dan ketiga. Sehingga apapun yang diperolehnya selalu merasa kurang, karena tergiur dengan keinginan-keinginan indrawi sehingga melupakan perlunya perencanaan yang matang terhadap apa yang dimiliki untuk kesejahteraan masa yang akan datang.

Salah satu kunci agar harta itu menjadi keket adalah dikeluarkan zakat, infaq dan shadaqah. Begitu pula dengan zakat yang menjadi indikator ketaatan terhadap syari'at Islam, sehingga dengan ketaatan itu akan membuahkan amal shaleh, menjadikan pribadi yang mempunyai kepekaan sosial, untuk mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan sosial. Sehingga kekayaan yang dimiliki menjadikan dirinya pribadi yang terhormat ditengah masyarakat dan dihadapan Allah SWT. Barang siapa yang menghilangkan kesedihan seorang muslim didunia maka Allah akan melenyapkan kesedihannya didunia dan dihari qiyamat. Barang siapa membuat mudah kepada orang yang tidak dapat membayar hutang maka Allah akan mempermudah (kesulitannya) didunia dan akherat (HR. Muslim).

Kewajiban membayar zakat sudah ada ketentuan nishab dan haulnya, adapun infaq dan shadaqah berdasar ada kelapangannya. Semua ini akan membuat hidup menjadi tenang, merasa cukup dengan yang dimiliki dan selalu optimis menghadapi masa yang akan datang. Anda belum mengeluarkan zakat padahal sudah mencapai nishab dan haul, sekarang mengambil keputusan untuk menjadi muzakki, itu adalah keputusan yang paling tepat. Karena bila ingin menjadi orang yang dicukupkan oleh Allah mengapa tidak mau?

Anda sedang membaca artikel dari untajiaffan Terbaru hari ini. Mohon untuk membagikan artikel ini ke teman anda melalui sosial media dibawah ini.

Artikel Untajiaffan Lainnya:



Kotak Komentar